Asal Usul Desa Diponggo
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Asal Usul Desa Diponggo
berkuasa di Surabaya. Kiai itu bemama Kiai Ageng Bungkul dan lebih dikenal
dengan sebutan Ki Ageng Bungkul. Ki Ageng Bungkul mempunyai seorang anak
perempuan bernama Dewi Wardah. Dewi Wardah memiliki paras yang sangat cantik dan
berperilaku baik dan hormat kepada orang tua. Karena suatu hal, Ki Ageng Bungkul
mengadakan sayembara.
“Barang siapa bisa menjatuhkan buah delima dengan kepalanya, jika ia seorang
perempuan akan dijadikan saudara dan jika seorang laki-laki akan dijodohkan dengan Dewi
Wardah.”
Pada suatu hari, dalam perjalanannya ke Pesantren Sunan Ampel di Surabaya, Raden
Paku melewati rumah Ki Ageng Bungkul. Tanpa sengaja kepala Raden Paku menyentuh
buah delima yang tumbuh di halaman rumah Ki Ageng Bungkul sampai terjatuh
“He Kisanak, siapa kamu? Karena sudah menjatuhkan buah delima itu, engkau harus
menikah dengan putriku, Dewi Wardah.”
“Hamba adalah Raden Paku, hamba hendak berkunjung ke pesantren Sunan Ampel.
Mengapa hamba harus menikah dengan perempuan yang tidak hamba kenal?”
“Karena kami sedang mengadakan sayembara.”
“Tuan, maafkan, karena aku sudah bertunangan dengan Dewi Muntisiah, putri Sunan
Ampel di Surabaya.”
Dalam perjalanan menuju Pesantren Sunan Ampel, Raden Paku memikirkan peristiwa
yang dialaminya dan berpikir bagaimana menyampaikannya kepada Sunan Ampel. Tanpa
disadari akhirnya ia tiba di pesantren.
“Anakku apa ada yang mengganjal pikiranmu?”
“Ya Kiai, dalam perjalanan ke sini, hamba mengalami peristiwa yang kurang
menyenangkan.”
“Apa yang kamu alami, sudah saya ketahui, Raden.”
"Apa? Kia sudah tahu?”
“Nikahilah gadis itu.”
“Kiai, bagaimana hamba menikahi perempuan yang tidak hamba kenal.”
“Percayalah kepadaku Raden, kamu bisa menikahi dua gadis dalam hari yang sama.”
“Baiklah Kiai, nasihat Kiai akan hamba patuhi.”
Pemikahan pun berlangsung dengan hikmatnya. Raden Paku menikahi dua orang gadis
sekaligus, yaitu Dewi Murtasiah putri Kiai Sunan Ampel dan Dewi Wardah putri Ki Ageng
Bungkul. Masa-masa pernikahan yang mereka lalui sangat menyenangkan. Walaupun
memiliki dua istri, Raden Paku dapat memperlakukan kedua istrinya tersebut secara adil.
Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, Dewi Wardah merasa tidak mendapat
kebahagiaan sebagaimana orang lain, apalagi posisinya hanya sebagai istri kedua dan
pemikahannya pun tidak didasari saling mengenal dan mencintai. Dengan bekal ilmu agama,
A Ikisah, pada zaman dahulu hiduplah seorang Kiai keturunan kerajaan Majapahit yang
203
Dewi Wardah memutuskan meninggalkan Pesantren Giri dengan segala atribut yang sudah
melekat dalam dirinya. la mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lusuh dekil
sebagaimana rakyat jelata. Agar tidak dikenali, Dewi Wardah pun mengganti namanya
menjadi Siti Zainab.
Dengan beberapa pengikutnya, Siti Zainab meninggalkan Giri menggunakan perahu
menuju Pulau Bawean, tepatnya di Tanjung Ghe”en. Kedatangannya membuat kaget
penduduk desa.
“Siapa gerangan kisanak, dengan pakaian yang lusuh dekil, tidak selayaknya kamu
tinggal di daerah ini, sebaiknya tinggalkan tempat ini.”
“Saya adalah Siti Zainab, perkenankanlah saya untuk tinggal dan istirahat barang sejenak
di tempat ini.”
“He kamu orang dekil, segera tinggalkan tempat ini. Pakaianmu yang kotor ini bisa
Masyarakat Komalasa pun beramai-ramai mengusir Siti Zainab dan rombongannya.
Rombongan Siti Zainab melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pedalaman
Pulau Bawean. Pada waktu itu, Pulau Bawean masih dikelilingi hutan belantara sehingga
perjalanannya menjadi sangat berat. Menjelang malam, mereka pun berhenti untuk
melepaskan lelah dan menghindari binatang buas dalam perjalanan.
“Paman dan Bibi, kita istirahat saja di tempat ini.
“Baiklah Nyai.”
Di tempat yang sunyi dan gelap, Siti Zainab memikirkan nasibnya dan perlakuan
masyarakat terhadapnya. Ia menangis dan berdoa. Tangisan Siti Zainab menembus kegelapan
malam dan terdengar sampai ke desa yang ada di sekitar hutan Pulau Bawean tersebut.
Masyarakat di sekitar itu pun ke Juar rumah untuk mencari asal suara tangisan yang
memilukan itu. Semakin dikejar tangisan itu semakin jelas, sampai akhirnya mereka
berkumpul pada suatu tempat.
“Siapa gerangan yang menangis malam-malam begini, sungguh mengharukan.”
“Ya, rupanya ia mengadu kepada Allah. Betapa malang orang itu."
“Sepertinya tangisan itu berasal dari bukit sebelah sana.”
“Ah bukan, sepertinya dari gunung yang di sebelah sana.”
Masyarakat Pulau Bawean yang mendengarkan tangisan Siti Zainab menjadi semakin
terharu. j
“Bagaimana kalau kita beri nama bukit itu dengan nama Gunung Menangis?”
“Tya...iya....aku setujuuuu.”
Setelah beristirahat, Siti Zainab dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan
menuju ke arah utara. Tibalah mereka di tepi pantai yang dipenuhi pohon kelapa. Tempat ini
sekarang dikenal dengan Desa Tambak. Di tepi pantai ada sebuah gubuk yang dihuni oleh
sepasang suami istri yang sudah tua renta. Mereka bertahan hidup dari hasil mengumpulkan
kelapa tua yang sudah jatuh dari pohonnya. Kelapa-kelapa itu diolah menjadi minyak dan
dijual ke pasar.
Melihat kondisi pasangan suami istri ini, Siti Zainab tidak tega minta bantuan
kepadanya. Akan tetapi, karena rasa lapar dan haus yang amat sangat, terpaksa Siti Zainab
tetap minta pertolongan kepada kakek nenek tersebut.
“Saya dan rombongan sudah beberapa hari tidak makan dan minum, kiranya ibu sudi
204
“Saya tidak memiliki beras untuk dimasak, namun apabila mau makan ubi dan
singkong, akan saya rebuskan. Tunggulah sejenak, Nak.”
“Ubi dan singkong adalah makanan kesukaan kami. Ibu tinggal tunjukkan tempatnya,
biarlah kami yang memasaknya.”
Mereka pun sibuk bekerja, mengupas, mencuci singkong, dan merebusnya. Tidak lama
kemudian, singkong pun siap dimakan. Rombongan Siti Zainab dengan lahapnya menikmati
hidangan singkong itu karena sudah beberapa hari menahan lapar.
Selesai makan, rombongan pun berpamitan melanjutkan perjalanan. Tanpa disadari oleh
pasangan kakek nenek itu, setiap hari rezekinya semakin bertambah. Hampir setiap saat ada
saja penduduk desa yang membutuhkan minyak olahannya.
Siti Zainab terus melanjutkan perjalanan, akhirnya rombongan pun tiba di tepi sebuah
tanjung di sisi utara Pulau Bawean. Menjelang malam mereka memutuskan istirahat di tempat
itu. Pengikut Siti Zainab tidur pulas karena kelelahan.
Dalam keheningan malam, Siti Zainab kembali memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.
Siti Zainab mengadukan permasalahan yang dihadapinya dengan menangis. Tangisannya
pun terdengar oleh penduduk yang ada di perkampungan sekitar tanjung itu. Tangisan
seorang wanita tengah malam kembali membangunkan masyarakat dari tidurnya. Mereka pun
berbondong-bondong mencari asal suara tangisan itu.
Di antara penduduk yang mencari asal muasal tangisan itu, tersebutlah seorang wanita
berambut panjang hingga menyentuh tanah. Wanita itu mendaki bukit tempat Siti Zainab
melakukan munajatnya. Dengan panduan suara tangisan, wanita berambut panjang yang
kemudian dikenal dengan nama Embah Rambut itu menemukan Siti Zainab. Ia melihat Siti
Zainab sedang bermunajat dengan mengangkat kedua tangannya menghadap ke langit di
tengah orang-orang yang tertidur pulas.
“Permisi Nyai, bolehkah saya bertanya, mengapa Nyai ada di tengah hutan ini?”
“Saya pengembara dari Pulau Jawa, saya tidak punya sanak saudara untuk tempat
menumpang walau hanya semalam sehingga saya beristirahat di tempat ini.”
“Tempat ini sungguh tidak aman, sering terjadi perampokan oleh bajak laut di perairan
Bawean. Jika Nyai tidak memiliki maksud jahat kepada kami, akan lebih baik Nyai beserta
rombongan tinggal di kampung dan beristirahat di rumah saya.”
“Sungguh mulia hati Ibu, apakah kehadiran kami tidak merepotkan Ibu?”
“Sama sekali tidak Nyai, kami selalu baik pada orang yang datang dengan maksud baik.
Saya melihat Nyai beserta pengikut Nyai tidak memiliki maksud jahat. Jadi mangga 'silakan”
Nyai dan rombongan ikut ke rumah saya.”
Percakapan Siti Zainab dan Embah Rambut cukup lama. Salah seorang pengikut Siti
Zainab terbangun dari tidurnya. Ia tampak kaget ketika melihat seorang wanita berambut
panjang sampai tanah berdiri di hadapannya sambil memegang obor. Setelah memastikan
yang diajak bicara tuannya adalah seorang manusia, dibangunkannya kawan-kawannya satu
per satu.
“Paman, Embah yang berada di hadapan kita ini minta kita beristirahat di rumahnya
yang berada di sebelah bukit tanjung ini”
“Benarkah Nyai?” v
Kegembiraan terpancar dari wajah mereka. Kegembiraan atas diterimanya mereka oleh
masyarakat. Selama berhari-hari menjelajahi Pulau Bawean tidak seorang pun yang mau
menerima mereka. Akhirnya, mereka semua berangkat menuju rumah Embah Rambut.
205
Berkat akhlak mulia yang ditunjukkan, Siti Zainab dan pengikutnya pun diterima untuk
menetap di kampung itu. Dengan semangat gotong-royong, bersama-sama penduduk
kampung didirikanlah rumah untuk Siti Zainab dan rombongan. Penduduk kampung juga
mulai tertarik dengan agama Islam yang dibawa oleh Siti Zainab dan pengikutnya. Satu per
satu mereka melafalkan dua kalimat syahadat sebagai ikrar masuk ke agama Islam.
Karena keterbukaan masyarakat kampung itu menyilakan Siti Zaenab dan
rombongannya menetap dan menjadi bagian mereka, desa itu kemudian diberi nama
Diponggo yang berasal dari kata mangga yang berarti silakan. Jadilah hingga kini desa
tersebut bernama Diponggo yang berarti disilakan.
206
NAMA DESA BRINGKONING
istri yang sangat cantik rupawan. Mereka hidup bahagia, Setiap detik, menit, dan jam
mereka lalui bersama dengam penuh rasa cinta. Kehidupan rumah tangganya berjalan
harmonis hingga pada suatu ketika maut memisahkan mereka. Kebahagiaan yang dirajut
bersama sang istri tidak berlangsung lama. Istri yang sangat dicintainya meninggal ketika
melahirkan putri pertamanya. Saat itu, sang suami hendak mencari kayu bakar di hutan.
Melihat perut sang istri yang semakin hari semakin membesar, sang suami sebenarnya tidak
tega meninggalkannya seorang diri. Apalagi, rumah yang mereka tempati sangat jauh dari
rumah penduduk. Tempat itu terlihat sunyi dan sepi. Hanya suara binatang dan semilir angin
dari pepohonan yang menemani mereka setiap hari.
Sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya, "Istriku, jagalah bayi kita. Jangan
sampai kamu merasa lelah.”
"Iya Suamiku...kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti menjaga bayi kita dengan baik,”
jawab sang istri. Tidak lama kemudian, sang suami pergi ke hutan.
Sementara sang suami sedang sibuk mencari kayu, sang istri menunjukkan tanda-tanda
akan melahirkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Ia meronta-ronta
menahan rasa sakit seorang diri. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali ia memanggil
suaminya. "Ya Tuhan, kuatkan hamba...selamatkanlah bayiku," ucapnya sambil menahan
rasa sakit.
Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas sebuah balai tua yang ada di sampingnya. Demi
anak yang ada dalam rahimnya, ia berusaha dengan sekuat tenaga melahirkan bayi itu seorang
diri. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Otot-otot sudah mengeras. Selang beberapa
waktu kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi. Tangisan bayi perempuan yang
seharusnya dapat membuat seorang ibu bahagia.
Melihat kayu yang terkumpul sudah banyak, sang suami memutuskan untuk kembali ke
rumah. Sesampainya di depan pintu, ia memanggil istrinya,
"Istriku...aku sudah pulang.”
Sambil menurunkan kayu dari pundaknya, ia memanggil sang istri untuk kedua kalinya,
“Istriku....aku sudah pulang. Kamu sedang apa?”
Dua kali tidak ada jawaban, sang suami merasa ada sesuatu yang aneh. "Tidak biasanya
istriku begini, biasanya ia selalu menungguku di depan pintu,” ucapnya sambil berulang-
ulang mengetuk pintu.
Ia semakin khawatir dan risau, lalu dibukanya pintu itu secara paksa. Setelah masuk ke
dalam rumah, bagai disambar petir di siang bolong. Ia sangat terkejut ketika melihat istrinya
terbaring lemas tak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku dan berlumuran darah. Melihat kondisi
istrinya, ia sangat terpukul. Ia menangis sambil merangkul erat sang istri.
"Istriku, jangan tinggalkan aku...,” ucapnya sambil berteriak.
b 1 sebuah desa hiduplah seorang pertapa. Konon, pertapa tersebut mempunyai seorang
207
Ia membelai rambut sang istri dan mencium keningnya sebagai tanda perpisahan, Isak
tangisnya mulai berhenti tatkala ia melihat bayi mungil yang tergeletak di samping istrinya. Ia
lalu menggendong bayi mungil itu. "Derni kamu putriku, aku harus tegar,” ucapnya dengan
penuh semangat. Bayi tersebut kemudian ia beri nama Sri Anjani.
Sejak kecil, Sri Anjani hanya diasuh dan dibesarkan oleh sang ayah. Ia tidak pernah
merasakan sentuhan kasih dan belaian seorang ibu. Dengan penuh kasih sayang, sang ayah
merawat putrinya seorang diri. Kini, Sri Anjani tumbuh menjadi gadis dewasa. Usianya
memasuki delapan belas tahun. Sri Anjani merupakan gadis yang berwajah sangat cantik
jelita, memesona. Tubuhnya gemulai, kulitnya kuning langsat, dan rambutnya hitam terurai.
Jika melihatnya, tidak ada satu laki-laki pun yang mampu mengedipkan pandangannya.
Kecantikan Sri Anjani mampu mengobati rasa sedih dan kesepian sang ayah sejak
ditinggalkan oleh istrinya,
Pertapa itu tidak hanya menjadi seorang ayah bagi Sri Anjani, tapi menjadi ibu sekaligus
kawan. Setiap hari, Sri Anjani menghabiskan waktu bersama sang ayah. Ia merasa sangat
kesepian, manakala sang ayah mulai bertapa. Hanya alam yang mampu bercengkerama
dengannya. Dalam kesendiriannya itu, dia mulai termenung. Sambil menikmati kicauan
burung, ia mulai memikirkan tentang kehidupan orang-orang yang ada di luar sana.
"Pasti di luar sana sangat menyenangkan...tidak sunyi sepi seperti di sini,” ucap Sri
Anjani sambil melamum.
Sri Anjani benar-benar merasa jenuh dengan kesendiriannya. Oleh karena itu, ia
meminta izin pada ayahandanya untuk berkeliling sejenak menikmati alam sekitar.
"Ayah, Anjani sangat bosan sendiri di sini...bolehkan Anjani sejenak berkeliling mencari
udara segar?” tanya Anjani dengan manja.
”Boleh anakku, tapi ingat jangan terlalu jauh. Kamu belum tahu jalan di hutan ini. Ayah
takut nanti kamu tersesat,” jawab sang ayah. 2:
Sri Anjani mulai berkeliling menikmati alam. Dia terpesona oleh berbagai keindahan
yang dilihatnya. Saking asyiknya, Sri Anjani lupa waktu. Sementara hari sudah mulai sore.
Hutan terlihat gelap. Jalan-jalan setapak sudah mulai tidak tampak. Hanya suara binatang
malam dan angin kencang dari pohon-pohon yang tertiup angin yang mampu didengar. Sri
Anjani mulai merasa ketakutan. Ia tidak tahu lagi harus kemana.
"Ya Tuhan, dimana aku...? Bagaimana caranya aku pulang?” tanya Sri Anjani
kebingungan.
Ia melanjutkan perjalanannya. Ia menyusuri setiap jalan di hutan, melewati semak-
semak belukar dan menyeberangi sungai. Hingga pada akhirnya, ia sampai di suatu tempat,
tempat itu kini dikenal dengan sebutan Kamal. Di sanalah Sri Anjani melihat perahu. Tanpa
berpikir panjang, ia menaiki perahu tersebut. Ia mengayuh dayung sampai ke tengah lautan.
Di tengah laut, ia melihat suatu daratan. Ia mengayuhkan dayungnya lebih cepat lagi ke arah
daratan yang ia lihat.
Sesampainya di daratan itu, ia turun dari perahu. Ia merasa kebingungan. Ia tidak tahu
harus kemana lagi melangkahkan kakinya. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan. Apalagi,
tempat itu sangat asing baginya. Tidak lama kemudian, datang seorang laki-laki berkuda
menghampirinya.
”Siapakah Tuan Putri ini. Jika tidak keberatan, maukah Tuan Putri ikut hamba ke
keraton?” tanya laki-laki itu.
208
Mendengar pertanyaan tersebut, Sri Anjani sangat terkejut, ”Sa...saya Sri Anjani. Anda
siapa?” kata Sri Anjani ketakutan.
”Tuan Putri tidak perlu takut, ikutlah dengan hamba ke keraton,” ucap laki-laki itu.
”Baiklah, saya akan ikut dengan Tuan,” sahut Sri Anjani.
Mendengar jawaban Sri Anjani, laki-laki itu lalu menyuruh Sri Anjani naik ke atas kuda.
”Silakan Tuan Putri,” ucap laki-laki itu sambil membungkukkan badan dan membantu
menaikkan Sri Anjani ke atas kuda.
”Terima kasih...,” sahut Sri Anjani.
Selang beberapa waktu, Sri Anjani tiba di sebuah keraton. Laki-laki yang bertemu Sri
Anjani tadi ternyata adalah seorang adipati kerajaan. Laki-laki itu lalu mempertemukan Sri
Anjani dengan sang raja. Tak lama kemudian, sang raja datang menemui Sri Anjani.
“Siapakah putri ini?” tanya Sang Raja.
”Hamba hanyalah gadis desa yang tersesat di hutan. Nama hamba Sri Anjani, Tuanku,"
jawab Sri Anjani.
”Di mana tempat tinggalmu?" tanya Sang Raja lagi.
Sri Anjani menjawab, "Hamba sendiri tidak tahu di mana tempat tinggal hamba...”
Mendengar pengakuan Sri Anjani, sang raja mengajak Sri Anjani untuk menginap di
keraton.
Kecantikan Sri Anjani rupanya membuat sang raja terpikat. Hanya beberapa hari sejak
Sri Anjani tinggal di keraton, ternyata telah menumbuhkan benih-benih cinta dalam hati sang
raja. Gerak-gerik Sri Anjani selalu diperhatikan, Tanpa menunda-nunda waktu, sang raja
akhirnya memanggil Sri Anjani.
"Maukah kamu menjadi istriku...?" tanya Raja.
Sri Anjani terkejut mendengar pertanyaan Sang Raja.
"Maafkan hamba Tuanku, hamba hanyalah gadis desa. Rasanya tidak pantas jika hamba
bersanding dengan Tuanku,” jawab Sri Anjani.
"Wajahmu yang cantik dan sikapmu yang ramah membuatku sangat terpesona. Aku
ingin kamu menjadi permaisuriku,” tegas Raja.
Mendengar ketulusan sang raja, Sri Anjani dengan senang menerima ajakan tersebut.
Beberapa hari kemudian, sang raja menggelar resepsi pernikahan yang megah dan
meriah. Hadir dalam acara tersebut para petinggi kadipaten. Sejak saat itu, kehidupan Sri
Anjani berubah drastis. Seorang gadis desa yang tinggal di dalam hutan, kini menjadi istri
seorang raja yang hidup di keraton. Ia sangat senang. Ia sangat mencintai sang raja yang baru
resmi menjadi suaminya. Hari demi hari, kebahagiaan mulai terajut. Kehidupan rumah
tangganya sangat harmonis. Tiga bulan menikah, Sri Anjani mulai menunjukkan gejala
kehamilan. Kabar itu tak pelak membuat sang raja sangat bahagia.
Suatu hari, sang raja meminta izin kepada Sri Anjani. Ia merindukan hobinya yang
selama ini sudah ditinggalkan, yaitu berburu. Ia berpamitan untuk pergi berburu ke dalam
hutan. Setelah memperoleh izin, sang raja pergi berburu bersama para pengawalnya.
Setibanya di tempat perburuan, raja mendapat sedikit masalah. Kuda yang ditungganginya
mengalami kecelakaan. Raja terjatuh dan tak sadarkan diri. Ketika itu, ada seseorang yang
datang menolongnya. Orang tersebut membantu membangunkan sang raja. Saat raja mulai
tersadar, ia bertanya,
“Siapakah Nyai. Kenapa menolong saya?"
209
Orang itu lalu menjawab, “Nama hamba Nyai Anggrowati. Hamba hanyalah seorang
rakyat jelata. Hamba melihat Tuan terluka.”
"Terima kasih, kamu sudah menolong saya,” lanjut Sang Raja.
Ketulusan Nyai Anggrowati membuat sang raja merasa berhutang budi. Melihat
kecantikan dan kebaikan hati Nyai Anggrowati, rupanya sang raja mulai jatuh hati. Sebagai
tanda terima kasih, Raja mengajak Nyai Anggrowati ke keraton, Sang raja juga meminta Nyai
Anggrowati bersedia menjadi selirnya. Tanpa berpikir lama, ajakan tersebut langsung
diterima oleh Nyai Anggrowati. Dia bersedia menjadi selir raja.
Setibanya di keraton, Sri Anjani terkejut melihat sang suami merangkul gadis lain. Sang
raja lalu menjelaskan tentang kejadian di dalam hutan. Ia juga menjelaskan niatnya untuk
menikahi Nyai Anggrowati. Mendengar pengakuan sang suami, Sri Anjani merasa sakit hati.
Ia menilai suaminya sudah berpaling kepada wanita lain. Kondisi yang dialaminya sekarang,
mengingatkan Sri Anjani akan ucapan ayahnya bahwa seorang laki-laki akan berpaling dikala
kasih sayang mulai merabun dari pandangan. Sambil mengelus perutnya yang semakin
membesar, Sri Anjani meratapi nasibnya. Kekecewaan Sri Anjani semakin memuncak. Ia
meminta agar raja segera menceraikannya. Mendengar permintaan istrinya yang tidak masuk
akal itu, sang raja sangat terkejut. Dia tidak mungkin menceraikan istri yang di rahimnya kini
mengalir darah Raja Zainal Fatah. Sri Anjani tetap bersikukuh minta untuk diceraikan.
Namun, sang raja tetap saja menolak permintaan istrinya. Akhirnya raja memutuskan untuk
menghanyutkan Sri Anjani ke sebuah sungai dengan menggunakan tiga buah pohon pisang
yang sudah diikat. Sri Anjani menerima keputusan sang raja.
Di atas ikatan pohon pisang itu, Sri Anjani dihanyutkan menyusuri aliran sungai. Ia tidak
tahu akan berhenti di mana. Pada akhirnya, pohon pisang tersebut kandas di sebuah daratan,
tepatnya di sebuah desa bernama Desa Nepah. Kondisi Sri Anjani sudah terbujur kaku. Pada
saat itu, datang seorang pertapa menolongnya. Setelah beberapa hari Sri Anjani dirawat,
akhirnya ia tersadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika terbangun sudah berada di suatu gubuk
yang sudah tidak asing baginya. Ia pun menangis ketika melihat ada seorang pertapa yang
sedang bersemedi di sampingnya. Perlahan-lahan Sri Anjani mulai teringat bahwa kini ia
berada di sebuah gubuk, tempat ia lahir dan dibesarkan. Ia lalu memeluk pertapa itu dan
bersujud memohon ampun.
”Ayah, maafkan Anjani...maafkan kesalahan Anjani,” ucap Sri Anjani sambil menangis
terisak-isak.
"Kesenangan tiada yang abadi Nak,” jawab pertapa itu, Sambil meneteskan air mata,
pertapa itu bertanya, "Sudah berapa bulan usia kandunganmu Nak?"
Anjani menjawab, "Sekitar empat bulan Yah.”
Pertapa itu lalu menyuruh Anjani beristirahat, "Tidurlah Anakku, jaga dan rawatlah anak
yang ada di dalam rahimmu itu!”
Enam bulan kemudian, lahirlah bayi laki-laki dari rahim Sri Anjani. Bayi mungil itu
« diberi nama Aji Paningrat Neng Zainali. Sama halnya dengan apa yang telah dialami oleh
sang ayah, kini Sri Anjani seorang diri merawat dan membesarkan putra semata wayangnya.
tanpa kehadiran suami di sampingnya.
Ketika Aji Paningrat Neng Zainali sudah berusia tujuh belas tahun, Ia tumbuh menjadi
pria yang gagah berani. Wajahnya sangat tampan dan tubuhnya sangat kekar.
Di keheningan malam yang begitu menyejukkan hati, tiba-tiba terdengar suara Aji
Paningrat. "Ibu siapakah ayah Aji?”
210
Sri Anjani menjawab, “Ayahmu adalah seorang raja. Ia bernama Raden Zainal Fatah.”
Lalu Aji Paningrat bertanya kembali, “Di mana ayah sekarang berada?”
“Ayahmu telah mati,” jawab ibunya.
Mendengar jawaban itu, Aji menangis. Ia lalu berkata "Bohong, Ibu pasti bohong. Ayah
pasti masih hidup. Besok Aji akan pergi mencarinya.”
Sambil memeluk putranya Sri Anjani berkata, "Kamu harus menerimanya putraku,
ayahmu memang telah tiada,”
Jawaban ibunya tidak lantas membuat Aji percaya. Ia yakin bahwa ayahnya masih
hidup. Ia bertekad untuk mencari ayah yang selama ini ia rindukan. Keesokan harinya, tanpa
sepengetahuan sang ibu, Aji yang memakai baju berwama kuning berjalan ke arah timur
Desa Nepa. Di tengah perjalanan, ibunya berteriak memanggil Aji, "Jika kamu tidak menuruti
perintah Ibu, Ibu akan mengutukmu!"
“Ah, tidak peduli dengan kutukan, aku tidak percaya!” jawab Aji sambil berjalan dan
seolah-olah acuh kepada ibunya.
Melihat putranya tidak menghiraukan ucapannya, ia merasa kecewa. Sambil menangis,
ia lalu memohon kepada yang kuasa, "Ya Allah jadikanlah anakku sebuah pohon sehingga ia
tidak bisa ke mana-mana.”
Maha Suci Allah, Allah Maha Mendengar. Doa sang ibu didengar oleh Allah SWT.
Tidak lama kemudian bertiup angin kencang, awan menebal hitam pekat, dan petir
menyambar. Bersamaan dengan itu, Aji Paningrat berubah menjadi pohon beringin berwama
kuning, Melihat kejadian itu, Sri Anjani hanya menyesal dan menangis.
"Maafkan ibu Nak...maafkan ibu telah mengutukmu menjadi begini. Ibu lakukan ini
demi kebaikanmu,” ucap Anjani sambil menangis dan memeluk pohon beringin itu.
Semenjak kejadian itulah tempat Aji Paningrat dikutuk menjadi pohon beringin diberi
nama Desa Bringkoning (dalam bahasa Madura, bring berarti pohon beringin dan koning
berarti kuning). Kuning melambangkan baju Aji yang dikenakan pada saat itu. Bringkoning
bermakna pohon beringin yang berwarna kuning. Desa Bringkoning berada di utara kota
Sampang. Nama itu masih diabadikan oleh masyarakat sekitar hingga kini meskipun pohon
beringin kuningnya telah punah dimakan usia.
211
Story DNA
Moral
The choices we make, even when driven by good intentions, can have unforeseen and lasting consequences, and sometimes, fate is unavoidable.
Plot Summary
Raden Paku is forced to marry Dewi Wardah after an accidental encounter, despite being betrothed to another. Feeling unloved, Dewi Wardah leaves, changes her name to Siti Zainab, and embarks on a difficult journey across Bawean Island, where her prayers and tears lead to the naming of places. Later, as Sri Anjani, she marries a king and becomes pregnant, but is abandoned when the king takes a concubine. Rescued by her hermit father, she raises her son, Aji Paningrat, who, upon learning of his royal father, disobeys his mother and sets out to find him. In a fit of despair, Sri Anjani curses Aji, transforming him into a yellow banyan tree, a place now known as Bringkoning, forever marked by her regret.
Themes
Emotional Arc
innocence to suffering to regret
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story references historical figures like Ki Ageng Bungkul and Sunan Ampel, who were significant in the spread of Islam in Java, grounding the tale in a historical-religious context, even if the events are legendary. The naming of places (etiological elements) is a common feature of Indonesian folklore.
Plot Beats (15)
- Ki Ageng Bungkul holds a contest: whoever knocks down a pomegranate with their head will marry his daughter, Dewi Wardah (if male).
- Raden Paku, on his way to Sunan Ampel, accidentally fulfills the condition and is compelled to marry Dewi Wardah, despite being betrothed to Dewi Murtasiah.
- Sunan Ampel advises Raden Paku to marry both women, which he does, treating them equally.
- Dewi Wardah, feeling unfulfilled as a second wife and in a marriage without love, leaves, changes her name to Siti Zainab, and travels to Bawean Island.
- Siti Zainab and her followers face rejection from villagers but continue their journey, her cries at night leading to the naming of 'Gunung Menangis'.
- They are helped by an old couple who become prosperous after Siti Zainab's visit, and she continues her journey, her prayers again drawing attention.
- Siti Zainab, now Sri Anjani, is found by Embah Rambut, who offers her shelter, and she eventually becomes a respected spiritual leader.
- Sri Anjani is found by a king while in the forest, marries him, and becomes pregnant.
- The king, after a hunting accident, takes a concubine, Nyai Anggrowati, causing Sri Anjani immense pain and a demand for divorce.
- The king, refusing to divorce his pregnant wife, sets Sri Anjani adrift on a raft of banana trees.
- Sri Anjani is rescued by a hermit, who is revealed to be her father, and she gives birth to her son, Aji Paningrat.
- Aji Paningrat, at 17, learns his father is a king and, disbelieving his mother's claim of his father's death, sets out to find him.
- Sri Anjani curses Aji for his disobedience, transforming him into a yellow banyan tree.
- Sri Anjani deeply regrets her curse, mourning her son.
- The place is named Bringkoning (yellow banyan tree) in memory of Aji Paningrat and his yellow attire.
Characters
Kiai Ageng Bungkul
None explicitly mentioned, but implied to be a respected Kiai (religious leader) and former Majapahit royalty.
Attire: None explicitly mentioned, but would likely wear traditional Javanese religious attire (e.g., sarong, Baju Koko, peci).
Authoritative, traditional, protective of his daughter.
Dewi Wardah
Very beautiful, later described as wearing dirty, shabby clothes.
Attire: Initially implied to be fine clothing befitting a Kiai's daughter, later changes to shabby, dirty clothes of a commoner. She also changes her name to Siti Zainab.
Beautiful, well-behaved, respectful, later becomes determined, resilient, and deeply religious.
Raden Paku
None explicitly mentioned.
Attire: None explicitly mentioned, but would likely wear traditional Javanese attire suitable for a noble on a journey to a pesantren.
Pious, respectful, initially hesitant but obedient.
Sunan Ampel
None explicitly mentioned, but implied to be a wise and respected religious leader.
Attire: None explicitly mentioned, but would likely wear traditional Javanese religious attire (e.g., sarong, Baju Koko, peci).
Wise, insightful, authoritative, spiritual.
Dewi Murtasiah
None explicitly mentioned.
Attire: None explicitly mentioned, but would likely wear traditional Javanese attire befitting a Kiai's daughter.
None explicitly detailed, but implied to be a suitable wife.
Sri Anjani
Pregnant, later described as being rigid (terbujur kaku) when found.
Attire: Implied to be royal attire, later simple clothes when found by the hermit.
Emotional, heartbroken, stubborn, regretful, loving mother.
Aji Paningrat Neng Zainali
Grew into a brave, very handsome man with a strong physique. Wore a yellow shirt.
Attire: A yellow shirt when he leaves his mother.
Brave, determined, curious, disobedient (to his mother), stubborn.
Raja Zainal Fatah
None explicitly mentioned, but implied to be a king.
Attire: Royal attire, likely for hunting.
Fickle, easily swayed by beauty, somewhat cruel (banishing his pregnant wife), but also grateful.
Locations
Halaman Rumah Ki Ageng Bungkul
The yard of Ki Ageng Bungkul's house, where a pomegranate tree grows.
Mood: Initially ordinary, then becomes a place of unexpected encounter and a pivotal moment for a marriage proposal.
Raden Paku accidentally knocks down a pomegranate, leading to his forced engagement with Dewi Wardah.
Hutan Belantara Pulau Bawean
A dense, wild forest on Bawean Island, making travel difficult and dangerous.
Mood: Desolate, dangerous, melancholic, spiritual.
Siti Zainab and her followers rest here, and her cries of despair lead to the naming of 'Gunung Menangis'.
Tepi Pantai yang Dipenuhi Pohon Kelapa (Desa Tambak)
A coastline abundant with coconut trees, where an old couple lives in a hut, making a living from fallen coconuts.
Mood: Humble, simple, a place of temporary refuge and sustenance.
Siti Zainab and her group find shelter and food (cassava and sweet potatoes) with an elderly couple here.
Gubuk di Desa Nepah
A familiar hut in Desa Nepah, where Sri Anjani was born and raised, now inhabited by a hermit.
Mood: Safe, nostalgic, spiritual, a place of healing and reunion.
Sri Anjani, after being cast adrift, washes ashore and is nursed back to health in her childhood home by her father, the hermit.
Lokasi Kutukan Aji Paningrat (Desa Bringkoning)
The specific spot where Aji Paningrat, wearing a yellow shirt, is transformed into a yellow banyan tree by his mother's curse.
Mood: Tragic, powerful, supernatural, a place of divine intervention and sorrow.
Aji Paningrat is cursed by his mother and turns into a yellow banyan tree, giving the village its name.