Asal Usul Nama Majapahit
by Balai Bahasa Surabaya

The Bitter Fruit Kingdom
Once, a young prince lived in a big kingdom. His name was Wijaya. The kingdom was called Singosari. Its king was kind and wise.
One day, a king from a new place came. He took over the kingdom. The old king had to go away.
Prince Wijaya ran to a safe place. He went to an island called Madura. A wise man there gave him advice.
"Make a plan to be friends," the wise man said.
So, Wijaya made a plan. He went to the new king. He became friends with him.
"Can I have some land?" asked Wijaya. "I want to build a new home."
The new king said yes. He gave Wijaya the Tarik forest to clear.
Wijaya and his friends worked hard. They cut down trees in the forest. Many trees had big, round fruits.
They got very thirsty. A soldier tasted a fruit. "Pah!" he said. "It is so bitter!"
Wijaya tasted it too. It was very bitter. "We will name this place Majapahit," he said. "It means bitter fruit."
The new place grew big and happy. Many people came to live there. Traders brought many things.
One day, helpers from China came in big boats. They were looking for work.
Wijaya had a clever idea. He asked the helpers to work with him. They helped the other king go away.
Then, Wijaya said goodbye to the helpers. They went back home.
Now, Wijaya was the king. He made his new home a kingdom. It was called the Majapahit Kingdom.
Being clever and working hard can help you build something new and wonderful. And so, Wijaya became the king of Majapahit, a new kingdom named after a bitter fruit, where everyone was happy.
Original Story
Asal Usul Nama Majapahit ada suatu masa yang telah silam, ada sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Singosari. Raja yang bertahta adalah Prabu Krtanagara. Di bawah pemerintahan Prabu Krtanagara, erajaan Singosari sangat disegani oleh negeri-negeri tetangga, bahkan negeri di seberang lautan. Ketika itu, kerajaan Singosari mampu mewujudkan diri sebagai kerajaan yang kuat di bidang kemiliteran. Bahkan, kerajaan Singosari telah bercita-cita mewujudkan Nusantara sebagai — kesatuan. Prabu — Krtanagara mengirimkan bala tentarannya ke Semenanjung Melayu dengan tujuan menaklukkan kerajaan Melayu sebagai wujud awal menjadikan Singosari sebagai kekuatan utama di Nusantara. Saat tentara Singosari dikonsentrasikan di Melayu, tiba-tiba Raja Jayakatwang dari Kediri menyerbu istana Singosari. Dalam suatu serangan yang mendadak, Singosari lumpuh dan Prabu Krtanagara tewas. Keluarga kerajaan yang berhasil selamat, antara lain menantu Prabu Krtanagara yang bernama Raden Wijaya. Ia menyelamatkan diri bersama putri-putri Krtanagara dan mencari perlindungan ke Pulau Madura. Di Madura, rombongan dari Singosari diterima dengan baik oleh Arya Wiraraja. Atas nasihat Arya Wiraraja pula, Raden Wijaya akhirnya mengabdi kepada Raja Jayakatwang. Setelah menunjukkan kesetiaannya, Raja Jayakatwang mengizinkan Raden Wijaya membuka hutan sebagai permukiman baru di daerah Tarik. "Prabu Jayakatwang, penduduk kerajaan Kediri semakin banyak sehingga memerlukan lahan baru untuk permukiman. Izinkan hamba membuka daerah baru,” kata Raden Wijaya ketika sudah menjadi orang kepercayaan Prabu Jayakatwang. “Rupanya kau sangat memperhatikan rakyat Kediri, Raden Wijaya. Semula aku curiga kau hanya berpura-pura mengabdi agar dapat membalaskan dendam mertuamu Prabu Krtanegara,” kata Prabu Jayakatwang memuji dengan tulus tanpa rasa curiga. "Bukankah kerajaan Singosari sudah Paduka kalahkan. Sekarang seluruh rakyat Singosari mengabdi untuk kerajaan Kedin. Sekarang hamba juga menjadi kawula Kediri, jadi sudah seharusnya hamba ikut memikirkan masa depan Kediri,” jawab Raden Wijaya dengan penuh hormat. "Ohh, baik, baik sekali ucapanmu. Aku senang mendengarnya. Baiklah,” kata Prabu Jayakatwang mengangguk-anggukkan kepala. "Paduka Prabu mengizinkan hamba membuka wilayah baru?” tanya Raden Wijaya menyakinkan. "Bukankah itu yang kau minta. Aku sudah melihat pengabdianmu untuk Kediri. Aku izinkan kau membuka hutan di wilayah Tarik,” kata Prabu Jayakatwang yang disambut gembira dan senyum kemenangan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya merasa siasatnya untuk membalas dendam akan berhasil karena Prabu Jayakatwang tidak menaruh curiga sedikit pun: “Terima kasih, Paduka. Hamba akan segera menyiapkan segala sesuatunya. Hamba mohon diri,” kata Raden Wijaya sambil mengundurkan diri dari hadapan Prabu Jayakatwang. Atas kepercayaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya akhirnya membuka lahan di daerah Tarik. Ratusan warga Madura dari daerah Sumenep bahu membahu dengan pengikut setia Raden Wijaya membabat hutan untuk dijadikan daerah permukiman baru. Di wilayah Hutan Tarik, banyak tumbuh pohon maja. Pohon maja ini seolah menjadi ciri khas tumbuhan di Hutan Tarik. ”Banyak sekali pohon maja di sini, Raden,” kata salah seorang prajurit saat pertama kali tiba di Hutan Tarik. “Benar, Paman. Banyak pula yang sedang berbuah,” kata Raden Wijaya membenarkan. Matanya memandang ke segala penjuru hutan itu dan sejauh mata memandang selalu tampak pohon maja tumbuh dengan subur. Daunnya yang hijau membuat hutan itu tampak menghijau dan mempesona. Para prajurit yang sudah siap dengan parang untuk membabat tanaman pun terpaku memandangi hutan sekeliling mereka yang indah oleh tanaman maja itu. Tidak henti-hentinya mereka mengagumi hutan itu. Mereka merasa, Hutan Tarik yang akan mereka buka ternyata sangat indah, tempatnya pun berada di dataran yang rata sehingga relatif mudah meratakannya. “Paman-paman prajurit, mari kita mulai membabat hutan ini selagi masih pagi. Udara masih sejuk,” kata Raden Wijaya memberi komando. Seketika para prajurit mengayunkan parangnya mulai membabat tanaman dan menebang pohon-pohonan. Tanpa banyak bicara, masing-masing bekerja keras dengan semangat tinggi. Raden Wijaya berbaur dengan para prajuritnya berpeluh keringat menahan sengatan matahari yang kian terik. Meskipun seorang menantu raja dan seorang panglima, Raden Wijaya tidak segan-segan berbaur dan bekerja bersama-sama dengan para prajurit yang menjadi bawahannya, Ia tidak hanya memerintah, tetapi juga memberi contoh dengan tindakan nyata ikut bekerja sehingga para prajuritnya semakin bersemangat. ”Paman...Paman, sebaiknya kita beristirahat dulu. Sedari tadi kita terus bekerja tanpa henti, nanti kita lanjutkan lagi,” kata Raden Wijaya disambut gembira para prajuritnya yang tampak sudah bercucuran keringat. "Iya, istirahat dulu. Saya haus sekali,” kata seorang prajurit sambil merebahkan diri di bawah pohon maja yang belum ditebang. ”Saya juga, tenggorokan ini rasanya sudah kering,” kata prajurit lain menimpali sambil merebahkan diri di sampingnya. - ”Minum...minum...apa ada yang membawa minuman?” kata prajurit yang rebahan itu. "Tadi ada yang membawa, tapi entahlah...mungkin sudah habis,” sahut prajurit yang berbaring di sampingnya. 84 "Aku juga. Coba kulihat...barangkali ada yang membawa minuman dan makanan.” "Cepatlah, nanti kau bawa kemari.” "Baiklah, tunggulah sebentar.” Prajurit itu berjalan menemui teman-temannya yang tengah beristirahat bergerombol- gerombol di bawah pohon. Tampaknya perbekalan sudah habis. Teman-temannya pun sedang kehausan, sedangkan di sekitar hutan itu tidak ada mata air. Ia melihat sekeliling mencari-cari kalau ada sumber air, tapi ternyata tidak ada. Tiba-tiba melintas dalam pikirannya untuk memetik buah maja, siapa tahu dapat mengurangi dahaga dan lapar. Ia pun memberi tahu prajurit lain untuk memetik buah maja. Para prajurit yang sedang beristirahat karena kehausan dan kepanasan itu pun akhirnya mengikuti memetik buah maja. Akan tetapi, mereka semua memuntahkan kembali buah tersebut karena rasanya sangat pahit. "Uhhhh, pahiiiiiit,” kata seorang prajurit sambil mengusap-usap mulutnya. "Pahiiiit sekali...aku tidak tahan." "Aku juga, lebih baik kehausan." Melihat dan mendengar para prajuritnya beramai-ramai memuntahkan buah maja dan mengusap-usap mulutnya karena kepahitan, Raden Wijaya segera mendekat dan mencoba mencicipinya. Raden Wijaya pun seketika melakukan hal yang sama. Pohon maja yang buahnya berbentuk bulat menyerupai buah kelapa itu ternyata rasanya sangat pahit. Pahut...pahit...sekali, bahkan pahitnya tidak kalah dengan buah mahoni yang terkenal pahit itu. Banyaknya pohon maja yang tumbuh di hutan tersebut dengan buahnya yang rasanya sangat pahit itu mengilhami penamaan daerah baru itu. Permukiman baru di Hutan Tarik tersebut akhirnya diberi nama Majapahit. Nama Majapahit berasal dari nama pohon maja dan rasa buah maja yang sangat pahit. Kata maja digabung dengan kata pahit akhirnya lahirlah nama Majapahit. Sejak itu, warga menyebut permukiman baru mereka Majapahit. Seiring bergulirnya waktu, permukiman baru di Hutan Tarik dari hari ke hari kian bertambah ramai. Banyak orang dari kampung terdekat yang akhirnya menetap di Majapahit. Para pedagang dari daerah-daerah yang cukup jauh banyak yang mulai mengenal Majapahit. Mereka tidak segan-segan berdagang di Majapahit. Meski termasuk baru, Majapahit ternyata menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi para pedagang. Selain sebagai daerah baru yang giat berbenah, Majapahit ternyata juga menghasilkan berbagai hasil pertanian yang berlimpah. Tidak mengherankan kiranya karena Majapahit merupakan daerah yang subur yang sangat cocok sebagai lahan pertanian. Pada suatu hari, datanglah serombongan pasukan dari kekaisaran Cina. Bala tentara Cina dalam jumlah besar itu mendarat di pelabuhan yang tidak jauh dari Majapahit. Pasukan Cina itu bertujuan menghancurkan Singosari sebagai balasan atas sikap Raja Krtanagara yang dianggap telah menghina Kaisar Cina dengan melukai utusan kaisar yang datang ke Singosari beberapa tahun silam. Kedatangan bala tentara Cina itu akhirnya dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk balas dendam terhadap Raja Jayakatwang. Tentara Cina itu dijamu di Majapahit, sebelum akhirnya dimanfaatkan untuk menyerbu kerajaan Kediri. Tanpa berpikir panjang, bala tentara Cina itu segera menuju Kediri. Mereka berhasil meluluh-lantakkan kekuatan Kediri. Akhirnya kerajaan Kediri pun tumbang. Dalam masa kekosongan kekuasaan itulah, Raden Wijaya kemudian memproklamirkan diri sebagai penguasa di wilayah yang baru dibukanya dan 8s menamai kerajaannya kerajaan Majapahit, setelah sebelumnya berhasil mengusir bala tentara Cina dari Yumi Jawa 8 86
Moral of the Story
Resourcefulness and strategic thinking, even through deception, can lead to the fulfillment of one's goals and the establishment of a new order.
Characters
Prabu Krtanagara ◆ supporting
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire, befitting a King of Singosari.
Ambitious, powerful, expansionist.
Raden Wijaya ★ protagonist
None explicitly mentioned, but implied to be strong and capable.
Attire: Initially simple clothing as a refugee, then more formal attire as a trusted subordinate, eventually royal garments as a king. Likely Javanese noble attire.
Resourceful, strategic, vengeful, charismatic, hardworking.
Prabu Jayakatwang ⚔ antagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire, befitting a King of Kediri.
Trusting (to his detriment), easily flattered, somewhat naive.
Arya Wiraraja ◆ supporting
None explicitly mentioned.
Attire: Noble attire, likely Madurese or Javanese style.
Wise, helpful, strategic.
Prajurit (Soldier) ○ minor
Sweaty, tired.
Attire: Simple soldier's uniform, likely Javanese style, with a parang.
Hardworking, obedient, easily fatigued, expressive about discomfort.
Bala Tentara Cina (Chinese Army) ◆ supporting
Large in number.
Attire: Chinese military armor and uniforms.
Disciplined, vengeful (on behalf of their emperor), easily manipulated by Raden Wijaya.
Locations

Kerajaan Singosari (Istana)
The grand kingdom of Singosari, once powerful and respected, where Prabu Krtanagara reigned.
Mood: Once majestic, now fallen and chaotic
The sudden attack by Raja Jayakatwang, leading to the fall of Singosari and the death of Prabu Krtanagara.

Pulau Madura
An island where Raden Wijaya and Krtanagara's daughters sought refuge, known for its hospitality.
Mood: Safe haven, welcoming, strategic
Raden Wijaya finds refuge and receives counsel from Arya Wiraraja, leading to his plan against Jayakatwang.

Hutan Tarik
A dense, lush forest with many maja trees, some bearing fruit, located on flat, fertile land. Initially beautiful and green.
Mood: Initially beautiful and promising, then arduous and challenging, ultimately foundational
Raden Wijaya and his followers clear the forest to establish a new settlement, discover the bitter taste of maja fruit, and name the area Majapahit.

Permukiman Majapahit (Hutan Tarik after clearing)
A new, growing settlement in the cleared Hutan Tarik, becoming increasingly busy with residents and traders, known for its fertile land and agricultural produce.
Mood: Developing, prosperous, strategic
The settlement grows, attracting people and trade, and becomes the base for Raden Wijaya's final move against Kediri and the establishment of the Majapahit Kingdom.
Story DNA
Moral
Resourcefulness and strategic thinking, even through deception, can lead to the fulfillment of one's goals and the establishment of a new order.
Plot Summary
After the Singosari Kingdom falls and his father-in-law is killed by Raja Jayakatwang, Raden Wijaya feigns loyalty to the new ruler. He gains trust and permission to clear a forest for a new settlement, which he names Majapahit after the bitter 'maja' fruits found there. When a Chinese expeditionary force arrives seeking revenge on Singosari, Raden Wijaya cunningly allies with them to defeat Jayakatwang. Once Jayakatwang is vanquished, Wijaya turns on the Chinese, expelling them from Java, and then establishes his own powerful Majapahit Kingdom.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
This story is a foundational legend for the Majapahit Empire, one of the largest and most powerful thalassocratic empires in Southeast Asian history. It reflects the historical events surrounding the fall of Singosari, the rise of Kediri, and the subsequent establishment of Majapahit by Raden Wijaya, often involving the Mongol invasion of Java. The story provides an etymological origin for the name 'Majapahit'.
Plot Beats (14)
- Singosari Kingdom, under Prabu Krtanagara, is powerful but attacked by Raja Jayakatwang of Kediri.
- Prabu Krtanagara is killed, and Singosari falls; his son-in-law, Raden Wijaya, escapes with royal family members.
- Raden Wijaya seeks refuge in Madura, where Arya Wiraraja advises him to feign loyalty to Jayakatwang.
- Raden Wijaya gains Jayakatwang's trust and asks for land to establish a new settlement for Kediri's growing population.
- Jayakatwang grants Raden Wijaya permission to clear the Tarik forest, unaware of Wijaya's true intentions.
- Raden Wijaya and his followers, including people from Madura, begin clearing the dense Tarik forest.
- During a break, thirsty soldiers try eating the abundant 'maja' fruits, but find them extremely bitter.
- Raden Wijaya also tastes the bitter fruit, and this characteristic inspires the name 'Majapahit' (bitter maja) for the new settlement.
- The Majapahit settlement grows and prospers, attracting traders and becoming an agricultural hub.
- A large Chinese expeditionary force arrives in Java, intending to punish Singosari for an old insult to their emperor.
- Raden Wijaya sees an opportunity and hosts the Chinese forces, convincing them to attack Jayakatwang's Kediri kingdom instead.
- The Chinese forces successfully defeat and destroy Kediri, fulfilling Raden Wijaya's revenge.
- Raden Wijaya then turns on the Chinese forces, driving them out of Java.
- With Kediri destroyed and the Chinese gone, Raden Wijaya declares himself ruler and establishes the Majapahit Kingdom.





