Asal Usul Nama Majapahit
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Asal Usul Nama Majapahit
ada suatu masa yang telah silam, ada
sebuah kerajaan besar bernama
Kerajaan Singosari. Raja yang bertahta
adalah Prabu Krtanagara. Di bawah
pemerintahan Prabu Krtanagara, erajaan
Singosari sangat disegani oleh negeri-negeri
tetangga, bahkan negeri di seberang lautan.
Ketika itu, kerajaan Singosari mampu
mewujudkan diri sebagai kerajaan yang kuat di
bidang kemiliteran. Bahkan, kerajaan Singosari
telah bercita-cita mewujudkan Nusantara
sebagai — kesatuan. Prabu — Krtanagara
mengirimkan bala tentarannya ke Semenanjung
Melayu dengan tujuan menaklukkan kerajaan
Melayu sebagai wujud awal menjadikan
Singosari sebagai kekuatan utama di Nusantara.
Saat tentara Singosari dikonsentrasikan di
Melayu, tiba-tiba Raja Jayakatwang dari Kediri
menyerbu istana Singosari. Dalam suatu
serangan yang mendadak, Singosari lumpuh
dan Prabu Krtanagara tewas.
Keluarga kerajaan yang berhasil selamat, antara lain menantu Prabu Krtanagara yang
bernama Raden Wijaya. Ia menyelamatkan diri bersama putri-putri Krtanagara dan mencari
perlindungan ke Pulau Madura. Di Madura, rombongan dari Singosari diterima dengan baik
oleh Arya Wiraraja. Atas nasihat Arya Wiraraja pula, Raden Wijaya akhirnya mengabdi
kepada Raja Jayakatwang. Setelah menunjukkan kesetiaannya, Raja Jayakatwang
mengizinkan Raden Wijaya membuka hutan sebagai permukiman baru di daerah Tarik.
"Prabu Jayakatwang, penduduk kerajaan Kediri semakin banyak sehingga memerlukan
lahan baru untuk permukiman. Izinkan hamba membuka daerah baru,” kata Raden Wijaya
ketika sudah menjadi orang kepercayaan Prabu Jayakatwang.
“Rupanya kau sangat memperhatikan rakyat Kediri, Raden Wijaya. Semula aku curiga
kau hanya berpura-pura mengabdi agar dapat membalaskan dendam mertuamu Prabu
Krtanegara,” kata Prabu Jayakatwang memuji dengan tulus tanpa rasa curiga.
"Bukankah kerajaan Singosari sudah Paduka kalahkan. Sekarang seluruh rakyat
Singosari mengabdi untuk kerajaan Kedin. Sekarang hamba juga menjadi kawula Kediri, jadi
sudah seharusnya hamba ikut memikirkan masa depan Kediri,” jawab Raden Wijaya dengan
penuh hormat.
"Ohh, baik, baik sekali ucapanmu. Aku senang mendengarnya. Baiklah,” kata Prabu
Jayakatwang mengangguk-anggukkan kepala.
"Paduka Prabu mengizinkan hamba membuka wilayah baru?” tanya Raden Wijaya
menyakinkan.
"Bukankah itu yang kau minta. Aku sudah melihat pengabdianmu untuk Kediri. Aku
izinkan kau membuka hutan di wilayah Tarik,” kata Prabu Jayakatwang yang disambut
gembira dan senyum kemenangan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya merasa siasatnya untuk
membalas dendam akan berhasil karena Prabu Jayakatwang tidak menaruh curiga sedikit pun:
“Terima kasih, Paduka. Hamba akan segera menyiapkan segala sesuatunya. Hamba
mohon diri,” kata Raden Wijaya sambil mengundurkan diri dari hadapan Prabu Jayakatwang.
Atas kepercayaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya akhirnya membuka lahan di daerah
Tarik. Ratusan warga Madura dari daerah Sumenep bahu membahu dengan pengikut setia
Raden Wijaya membabat hutan untuk dijadikan daerah permukiman baru. Di wilayah Hutan
Tarik, banyak tumbuh pohon maja. Pohon maja ini seolah menjadi ciri khas tumbuhan di
Hutan Tarik.
”Banyak sekali pohon maja di sini, Raden,” kata salah seorang prajurit saat pertama kali
tiba di Hutan Tarik.
“Benar, Paman. Banyak pula yang sedang berbuah,” kata Raden Wijaya membenarkan.
Matanya memandang ke segala penjuru hutan itu dan sejauh mata memandang selalu
tampak pohon maja tumbuh dengan subur. Daunnya yang hijau membuat hutan itu tampak
menghijau dan mempesona. Para prajurit yang sudah siap dengan parang untuk membabat
tanaman pun terpaku memandangi hutan sekeliling mereka yang indah oleh tanaman maja
itu. Tidak henti-hentinya mereka mengagumi hutan itu. Mereka merasa, Hutan Tarik yang
akan mereka buka ternyata sangat indah, tempatnya pun berada di dataran yang rata sehingga
relatif mudah meratakannya.
“Paman-paman prajurit, mari kita mulai membabat hutan ini selagi masih pagi. Udara
masih sejuk,” kata Raden Wijaya memberi komando.
Seketika para prajurit mengayunkan parangnya mulai membabat tanaman dan
menebang pohon-pohonan. Tanpa banyak bicara, masing-masing bekerja keras dengan
semangat tinggi. Raden Wijaya berbaur dengan para prajuritnya berpeluh keringat menahan
sengatan matahari yang kian terik. Meskipun seorang menantu raja dan seorang panglima,
Raden Wijaya tidak segan-segan berbaur dan bekerja bersama-sama dengan para prajurit
yang menjadi bawahannya, Ia tidak hanya memerintah, tetapi juga memberi contoh dengan
tindakan nyata ikut bekerja sehingga para prajuritnya semakin bersemangat.
”Paman...Paman, sebaiknya kita beristirahat dulu. Sedari tadi kita terus bekerja tanpa
henti, nanti kita lanjutkan lagi,” kata Raden Wijaya disambut gembira para prajuritnya yang
tampak sudah bercucuran keringat.
"Iya, istirahat dulu. Saya haus sekali,” kata seorang prajurit sambil merebahkan diri di
bawah pohon maja yang belum ditebang.
”Saya juga, tenggorokan ini rasanya sudah kering,” kata prajurit lain menimpali sambil
merebahkan diri di sampingnya. -
”Minum...minum...apa ada yang membawa minuman?” kata prajurit yang rebahan itu.
"Tadi ada yang membawa, tapi entahlah...mungkin sudah habis,” sahut prajurit yang
berbaring di sampingnya.
84
"Aku juga. Coba kulihat...barangkali ada yang membawa minuman dan makanan.”
"Cepatlah, nanti kau bawa kemari.”
"Baiklah, tunggulah sebentar.”
Prajurit itu berjalan menemui teman-temannya yang tengah beristirahat bergerombol-
gerombol di bawah pohon. Tampaknya perbekalan sudah habis. Teman-temannya pun
sedang kehausan, sedangkan di sekitar hutan itu tidak ada mata air. Ia melihat sekeliling
mencari-cari kalau ada sumber air, tapi ternyata tidak ada. Tiba-tiba melintas dalam
pikirannya untuk memetik buah maja, siapa tahu dapat mengurangi dahaga dan lapar. Ia pun
memberi tahu prajurit lain untuk memetik buah maja.
Para prajurit yang sedang beristirahat karena kehausan dan kepanasan itu pun akhirnya
mengikuti memetik buah maja. Akan tetapi, mereka semua memuntahkan kembali buah
tersebut karena rasanya sangat pahit.
"Uhhhh, pahiiiiiit,” kata seorang prajurit sambil mengusap-usap mulutnya.
"Pahiiiit sekali...aku tidak tahan."
"Aku juga, lebih baik kehausan."
Melihat dan mendengar para prajuritnya beramai-ramai memuntahkan buah maja dan
mengusap-usap mulutnya karena kepahitan, Raden Wijaya segera mendekat dan mencoba
mencicipinya. Raden Wijaya pun seketika melakukan hal yang sama. Pohon maja yang
buahnya berbentuk bulat menyerupai buah kelapa itu ternyata rasanya sangat pahit.
Pahut...pahit...sekali, bahkan pahitnya tidak kalah dengan buah mahoni yang terkenal pahit itu.
Banyaknya pohon maja yang tumbuh di hutan tersebut dengan buahnya yang rasanya
sangat pahit itu mengilhami penamaan daerah baru itu. Permukiman baru di Hutan Tarik
tersebut akhirnya diberi nama Majapahit. Nama Majapahit berasal dari nama pohon maja dan
rasa buah maja yang sangat pahit. Kata maja digabung dengan kata pahit akhirnya lahirlah
nama Majapahit. Sejak itu, warga menyebut permukiman baru mereka Majapahit.
Seiring bergulirnya waktu, permukiman baru di Hutan Tarik dari hari ke hari kian
bertambah ramai. Banyak orang dari kampung terdekat yang akhirnya menetap di Majapahit.
Para pedagang dari daerah-daerah yang cukup jauh banyak yang mulai mengenal Majapahit.
Mereka tidak segan-segan berdagang di Majapahit. Meski termasuk baru, Majapahit ternyata
menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi para pedagang. Selain sebagai daerah baru
yang giat berbenah, Majapahit ternyata juga menghasilkan berbagai hasil pertanian yang
berlimpah. Tidak mengherankan kiranya karena Majapahit merupakan daerah yang subur
yang sangat cocok sebagai lahan pertanian.
Pada suatu hari, datanglah serombongan pasukan dari kekaisaran Cina. Bala tentara Cina
dalam jumlah besar itu mendarat di pelabuhan yang tidak jauh dari Majapahit. Pasukan Cina
itu bertujuan menghancurkan Singosari sebagai balasan atas sikap Raja Krtanagara yang
dianggap telah menghina Kaisar Cina dengan melukai utusan kaisar yang datang ke Singosari
beberapa tahun silam.
Kedatangan bala tentara Cina itu akhirnya dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk balas
dendam terhadap Raja Jayakatwang. Tentara Cina itu dijamu di Majapahit, sebelum akhirnya
dimanfaatkan untuk menyerbu kerajaan Kediri. Tanpa berpikir panjang, bala tentara Cina itu
segera menuju Kediri. Mereka berhasil meluluh-lantakkan kekuatan Kediri. Akhirnya
kerajaan Kediri pun tumbang. Dalam masa kekosongan kekuasaan itulah, Raden Wijaya
kemudian memproklamirkan diri sebagai penguasa di wilayah yang baru dibukanya dan
8s
menamai kerajaannya kerajaan Majapahit, setelah sebelumnya berhasil mengusir bala tentara
Cina dari Yumi Jawa 8
86
Story DNA
Moral
Resourcefulness and strategic thinking, even through deception, can lead to the fulfillment of one's goals and the establishment of a new order.
Plot Summary
After the Singosari Kingdom falls and his father-in-law is killed by Raja Jayakatwang, Raden Wijaya feigns loyalty to the new ruler. He gains trust and permission to clear a forest for a new settlement, which he names Majapahit after the bitter 'maja' fruits found there. When a Chinese expeditionary force arrives seeking revenge on Singosari, Raden Wijaya cunningly allies with them to defeat Jayakatwang. Once Jayakatwang is vanquished, Wijaya turns on the Chinese, expelling them from Java, and then establishes his own powerful Majapahit Kingdom.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
This story is a foundational legend for the Majapahit Empire, one of the largest and most powerful thalassocratic empires in Southeast Asian history. It reflects the historical events surrounding the fall of Singosari, the rise of Kediri, and the subsequent establishment of Majapahit by Raden Wijaya, often involving the Mongol invasion of Java. The story provides an etymological origin for the name 'Majapahit'.
Plot Beats (14)
- Singosari Kingdom, under Prabu Krtanagara, is powerful but attacked by Raja Jayakatwang of Kediri.
- Prabu Krtanagara is killed, and Singosari falls; his son-in-law, Raden Wijaya, escapes with royal family members.
- Raden Wijaya seeks refuge in Madura, where Arya Wiraraja advises him to feign loyalty to Jayakatwang.
- Raden Wijaya gains Jayakatwang's trust and asks for land to establish a new settlement for Kediri's growing population.
- Jayakatwang grants Raden Wijaya permission to clear the Tarik forest, unaware of Wijaya's true intentions.
- Raden Wijaya and his followers, including people from Madura, begin clearing the dense Tarik forest.
- During a break, thirsty soldiers try eating the abundant 'maja' fruits, but find them extremely bitter.
- Raden Wijaya also tastes the bitter fruit, and this characteristic inspires the name 'Majapahit' (bitter maja) for the new settlement.
- The Majapahit settlement grows and prospers, attracting traders and becoming an agricultural hub.
- A large Chinese expeditionary force arrives in Java, intending to punish Singosari for an old insult to their emperor.
- Raden Wijaya sees an opportunity and hosts the Chinese forces, convincing them to attack Jayakatwang's Kediri kingdom instead.
- The Chinese forces successfully defeat and destroy Kediri, fulfilling Raden Wijaya's revenge.
- Raden Wijaya then turns on the Chinese forces, driving them out of Java.
- With Kediri destroyed and the Chinese gone, Raden Wijaya declares himself ruler and establishes the Majapahit Kingdom.
Characters
Prabu Krtanagara
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire, befitting a King of Singosari.
Ambitious, powerful, expansionist.
Raden Wijaya
None explicitly mentioned, but implied to be strong and capable.
Attire: Initially simple clothing as a refugee, then more formal attire as a trusted subordinate, eventually royal garments as a king. Likely Javanese noble attire.
Resourceful, strategic, vengeful, charismatic, hardworking.
Prabu Jayakatwang
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire, befitting a King of Kediri.
Trusting (to his detriment), easily flattered, somewhat naive.
Arya Wiraraja
None explicitly mentioned.
Attire: Noble attire, likely Madurese or Javanese style.
Wise, helpful, strategic.
Prajurit (Soldier)
Sweaty, tired.
Attire: Simple soldier's uniform, likely Javanese style, with a parang.
Hardworking, obedient, easily fatigued, expressive about discomfort.
Bala Tentara Cina (Chinese Army)
Large in number.
Attire: Chinese military armor and uniforms.
Disciplined, vengeful (on behalf of their emperor), easily manipulated by Raden Wijaya.
Locations
Kerajaan Singosari (Istana)
The grand kingdom of Singosari, once powerful and respected, where Prabu Krtanagara reigned.
Mood: Once majestic, now fallen and chaotic
The sudden attack by Raja Jayakatwang, leading to the fall of Singosari and the death of Prabu Krtanagara.
Pulau Madura
An island where Raden Wijaya and Krtanagara's daughters sought refuge, known for its hospitality.
Mood: Safe haven, welcoming, strategic
Raden Wijaya finds refuge and receives counsel from Arya Wiraraja, leading to his plan against Jayakatwang.
Hutan Tarik
A dense, lush forest with many maja trees, some bearing fruit, located on flat, fertile land. Initially beautiful and green.
Mood: Initially beautiful and promising, then arduous and challenging, ultimately foundational
Raden Wijaya and his followers clear the forest to establish a new settlement, discover the bitter taste of maja fruit, and name the area Majapahit.
Permukiman Majapahit (Hutan Tarik after clearing)
A new, growing settlement in the cleared Hutan Tarik, becoming increasingly busy with residents and traders, known for its fertile land and agricultural produce.
Mood: Developing, prosperous, strategic
The settlement grows, attracting people and trade, and becomes the base for Raden Wijaya's final move against Kediri and the establishment of the Majapahit Kingdom.