Asal Usul Nama Majapahit

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 1178 words 6 min read
Cover: Asal Usul Nama Majapahit
Original Story 1178 words · 6 min read

Asal Usul Nama Majapahit

ada suatu masa yang telah silam, ada

sebuah kerajaan besar bernama

Kerajaan Singosari. Raja yang bertahta

adalah Prabu Krtanagara. Di bawah

pemerintahan Prabu Krtanagara, erajaan

Singosari sangat disegani oleh negeri-negeri

tetangga, bahkan negeri di seberang lautan.

Ketika itu, kerajaan Singosari mampu

mewujudkan diri sebagai kerajaan yang kuat di

bidang kemiliteran. Bahkan, kerajaan Singosari

telah bercita-cita mewujudkan Nusantara

sebagai — kesatuan. Prabu — Krtanagara

mengirimkan bala tentarannya ke Semenanjung

Melayu dengan tujuan menaklukkan kerajaan

Melayu sebagai wujud awal menjadikan

Singosari sebagai kekuatan utama di Nusantara.

Saat tentara Singosari dikonsentrasikan di

Melayu, tiba-tiba Raja Jayakatwang dari Kediri

menyerbu istana Singosari. Dalam suatu

serangan yang mendadak, Singosari lumpuh

dan Prabu Krtanagara tewas.

Keluarga kerajaan yang berhasil selamat, antara lain menantu Prabu Krtanagara yang

bernama Raden Wijaya. Ia menyelamatkan diri bersama putri-putri Krtanagara dan mencari

perlindungan ke Pulau Madura. Di Madura, rombongan dari Singosari diterima dengan baik

oleh Arya Wiraraja. Atas nasihat Arya Wiraraja pula, Raden Wijaya akhirnya mengabdi

kepada Raja Jayakatwang. Setelah menunjukkan kesetiaannya, Raja Jayakatwang

mengizinkan Raden Wijaya membuka hutan sebagai permukiman baru di daerah Tarik.

"Prabu Jayakatwang, penduduk kerajaan Kediri semakin banyak sehingga memerlukan

lahan baru untuk permukiman. Izinkan hamba membuka daerah baru,” kata Raden Wijaya

ketika sudah menjadi orang kepercayaan Prabu Jayakatwang.

“Rupanya kau sangat memperhatikan rakyat Kediri, Raden Wijaya. Semula aku curiga

kau hanya berpura-pura mengabdi agar dapat membalaskan dendam mertuamu Prabu

Krtanegara,” kata Prabu Jayakatwang memuji dengan tulus tanpa rasa curiga.

"Bukankah kerajaan Singosari sudah Paduka kalahkan. Sekarang seluruh rakyat

Singosari mengabdi untuk kerajaan Kedin. Sekarang hamba juga menjadi kawula Kediri, jadi

sudah seharusnya hamba ikut memikirkan masa depan Kediri,” jawab Raden Wijaya dengan

penuh hormat.

"Ohh, baik, baik sekali ucapanmu. Aku senang mendengarnya. Baiklah,” kata Prabu

Jayakatwang mengangguk-anggukkan kepala.

"Paduka Prabu mengizinkan hamba membuka wilayah baru?” tanya Raden Wijaya

menyakinkan.

"Bukankah itu yang kau minta. Aku sudah melihat pengabdianmu untuk Kediri. Aku

izinkan kau membuka hutan di wilayah Tarik,” kata Prabu Jayakatwang yang disambut

gembira dan senyum kemenangan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya merasa siasatnya untuk

membalas dendam akan berhasil karena Prabu Jayakatwang tidak menaruh curiga sedikit pun:

“Terima kasih, Paduka. Hamba akan segera menyiapkan segala sesuatunya. Hamba

mohon diri,” kata Raden Wijaya sambil mengundurkan diri dari hadapan Prabu Jayakatwang.

Atas kepercayaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya akhirnya membuka lahan di daerah

Tarik. Ratusan warga Madura dari daerah Sumenep bahu membahu dengan pengikut setia

Raden Wijaya membabat hutan untuk dijadikan daerah permukiman baru. Di wilayah Hutan

Tarik, banyak tumbuh pohon maja. Pohon maja ini seolah menjadi ciri khas tumbuhan di

Hutan Tarik.

”Banyak sekali pohon maja di sini, Raden,” kata salah seorang prajurit saat pertama kali

tiba di Hutan Tarik.

“Benar, Paman. Banyak pula yang sedang berbuah,” kata Raden Wijaya membenarkan.

Matanya memandang ke segala penjuru hutan itu dan sejauh mata memandang selalu

tampak pohon maja tumbuh dengan subur. Daunnya yang hijau membuat hutan itu tampak

menghijau dan mempesona. Para prajurit yang sudah siap dengan parang untuk membabat

tanaman pun terpaku memandangi hutan sekeliling mereka yang indah oleh tanaman maja

itu. Tidak henti-hentinya mereka mengagumi hutan itu. Mereka merasa, Hutan Tarik yang

akan mereka buka ternyata sangat indah, tempatnya pun berada di dataran yang rata sehingga

relatif mudah meratakannya.

“Paman-paman prajurit, mari kita mulai membabat hutan ini selagi masih pagi. Udara

masih sejuk,” kata Raden Wijaya memberi komando.

Seketika para prajurit mengayunkan parangnya mulai membabat tanaman dan

menebang pohon-pohonan. Tanpa banyak bicara, masing-masing bekerja keras dengan

semangat tinggi. Raden Wijaya berbaur dengan para prajuritnya berpeluh keringat menahan

sengatan matahari yang kian terik. Meskipun seorang menantu raja dan seorang panglima,

Raden Wijaya tidak segan-segan berbaur dan bekerja bersama-sama dengan para prajurit

yang menjadi bawahannya, Ia tidak hanya memerintah, tetapi juga memberi contoh dengan

tindakan nyata ikut bekerja sehingga para prajuritnya semakin bersemangat.

”Paman...Paman, sebaiknya kita beristirahat dulu. Sedari tadi kita terus bekerja tanpa

henti, nanti kita lanjutkan lagi,” kata Raden Wijaya disambut gembira para prajuritnya yang

tampak sudah bercucuran keringat.

"Iya, istirahat dulu. Saya haus sekali,” kata seorang prajurit sambil merebahkan diri di

bawah pohon maja yang belum ditebang.

”Saya juga, tenggorokan ini rasanya sudah kering,” kata prajurit lain menimpali sambil

merebahkan diri di sampingnya. -

”Minum...minum...apa ada yang membawa minuman?” kata prajurit yang rebahan itu.

"Tadi ada yang membawa, tapi entahlah...mungkin sudah habis,” sahut prajurit yang

berbaring di sampingnya.

84

"Aku juga. Coba kulihat...barangkali ada yang membawa minuman dan makanan.”

"Cepatlah, nanti kau bawa kemari.”

"Baiklah, tunggulah sebentar.”

Prajurit itu berjalan menemui teman-temannya yang tengah beristirahat bergerombol-

gerombol di bawah pohon. Tampaknya perbekalan sudah habis. Teman-temannya pun

sedang kehausan, sedangkan di sekitar hutan itu tidak ada mata air. Ia melihat sekeliling

mencari-cari kalau ada sumber air, tapi ternyata tidak ada. Tiba-tiba melintas dalam

pikirannya untuk memetik buah maja, siapa tahu dapat mengurangi dahaga dan lapar. Ia pun

memberi tahu prajurit lain untuk memetik buah maja.

Para prajurit yang sedang beristirahat karena kehausan dan kepanasan itu pun akhirnya

mengikuti memetik buah maja. Akan tetapi, mereka semua memuntahkan kembali buah

tersebut karena rasanya sangat pahit.

"Uhhhh, pahiiiiiit,” kata seorang prajurit sambil mengusap-usap mulutnya.

"Pahiiiit sekali...aku tidak tahan."

"Aku juga, lebih baik kehausan."

Melihat dan mendengar para prajuritnya beramai-ramai memuntahkan buah maja dan

mengusap-usap mulutnya karena kepahitan, Raden Wijaya segera mendekat dan mencoba

mencicipinya. Raden Wijaya pun seketika melakukan hal yang sama. Pohon maja yang

buahnya berbentuk bulat menyerupai buah kelapa itu ternyata rasanya sangat pahit.

Pahut...pahit...sekali, bahkan pahitnya tidak kalah dengan buah mahoni yang terkenal pahit itu.

Banyaknya pohon maja yang tumbuh di hutan tersebut dengan buahnya yang rasanya

sangat pahit itu mengilhami penamaan daerah baru itu. Permukiman baru di Hutan Tarik

tersebut akhirnya diberi nama Majapahit. Nama Majapahit berasal dari nama pohon maja dan

rasa buah maja yang sangat pahit. Kata maja digabung dengan kata pahit akhirnya lahirlah

nama Majapahit. Sejak itu, warga menyebut permukiman baru mereka Majapahit.

Seiring bergulirnya waktu, permukiman baru di Hutan Tarik dari hari ke hari kian

bertambah ramai. Banyak orang dari kampung terdekat yang akhirnya menetap di Majapahit.

Para pedagang dari daerah-daerah yang cukup jauh banyak yang mulai mengenal Majapahit.

Mereka tidak segan-segan berdagang di Majapahit. Meski termasuk baru, Majapahit ternyata

menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi para pedagang. Selain sebagai daerah baru

yang giat berbenah, Majapahit ternyata juga menghasilkan berbagai hasil pertanian yang

berlimpah. Tidak mengherankan kiranya karena Majapahit merupakan daerah yang subur

yang sangat cocok sebagai lahan pertanian.

Pada suatu hari, datanglah serombongan pasukan dari kekaisaran Cina. Bala tentara Cina

dalam jumlah besar itu mendarat di pelabuhan yang tidak jauh dari Majapahit. Pasukan Cina

itu bertujuan menghancurkan Singosari sebagai balasan atas sikap Raja Krtanagara yang

dianggap telah menghina Kaisar Cina dengan melukai utusan kaisar yang datang ke Singosari

beberapa tahun silam.

Kedatangan bala tentara Cina itu akhirnya dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk balas

dendam terhadap Raja Jayakatwang. Tentara Cina itu dijamu di Majapahit, sebelum akhirnya

dimanfaatkan untuk menyerbu kerajaan Kediri. Tanpa berpikir panjang, bala tentara Cina itu

segera menuju Kediri. Mereka berhasil meluluh-lantakkan kekuatan Kediri. Akhirnya

kerajaan Kediri pun tumbang. Dalam masa kekosongan kekuasaan itulah, Raden Wijaya

kemudian memproklamirkan diri sebagai penguasa di wilayah yang baru dibukanya dan

8s

menamai kerajaannya kerajaan Majapahit, setelah sebelumnya berhasil mengusir bala tentara

Cina dari Yumi Jawa 8

86


Story DNA

Moral

Resourcefulness and strategic thinking, even through deception, can lead to the fulfillment of one's goals and the establishment of a new order.

Plot Summary

After the Singosari Kingdom falls and his father-in-law is killed by Raja Jayakatwang, Raden Wijaya feigns loyalty to the new ruler. He gains trust and permission to clear a forest for a new settlement, which he names Majapahit after the bitter 'maja' fruits found there. When a Chinese expeditionary force arrives seeking revenge on Singosari, Raden Wijaya cunningly allies with them to defeat Jayakatwang. Once Jayakatwang is vanquished, Wijaya turns on the Chinese, expelling them from Java, and then establishes his own powerful Majapahit Kingdom.

Themes

revengeresourcefulnessfounding of a kingdomdeception

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of etymology

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: moral justice
the 'maja' fruit (symbolizing the origin and name of the kingdom)the Tarik forest (representing a new beginning)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial

This story is a foundational legend for the Majapahit Empire, one of the largest and most powerful thalassocratic empires in Southeast Asian history. It reflects the historical events surrounding the fall of Singosari, the rise of Kediri, and the subsequent establishment of Majapahit by Raden Wijaya, often involving the Mongol invasion of Java. The story provides an etymological origin for the name 'Majapahit'.

Plot Beats (14)

  1. Singosari Kingdom, under Prabu Krtanagara, is powerful but attacked by Raja Jayakatwang of Kediri.
  2. Prabu Krtanagara is killed, and Singosari falls; his son-in-law, Raden Wijaya, escapes with royal family members.
  3. Raden Wijaya seeks refuge in Madura, where Arya Wiraraja advises him to feign loyalty to Jayakatwang.
  4. Raden Wijaya gains Jayakatwang's trust and asks for land to establish a new settlement for Kediri's growing population.
  5. Jayakatwang grants Raden Wijaya permission to clear the Tarik forest, unaware of Wijaya's true intentions.
  6. Raden Wijaya and his followers, including people from Madura, begin clearing the dense Tarik forest.
  7. During a break, thirsty soldiers try eating the abundant 'maja' fruits, but find them extremely bitter.
  8. Raden Wijaya also tastes the bitter fruit, and this characteristic inspires the name 'Majapahit' (bitter maja) for the new settlement.
  9. The Majapahit settlement grows and prospers, attracting traders and becoming an agricultural hub.
  10. A large Chinese expeditionary force arrives in Java, intending to punish Singosari for an old insult to their emperor.
  11. Raden Wijaya sees an opportunity and hosts the Chinese forces, convincing them to attack Jayakatwang's Kediri kingdom instead.
  12. The Chinese forces successfully defeat and destroy Kediri, fulfilling Raden Wijaya's revenge.
  13. Raden Wijaya then turns on the Chinese forces, driving them out of Java.
  14. With Kediri destroyed and the Chinese gone, Raden Wijaya declares himself ruler and establishes the Majapahit Kingdom.

Characters

👤

Prabu Krtanagara

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Royal attire, befitting a King of Singosari.

A king's crown, symbolizing his rule over Singosari and his ambition to unite Nusantara.

Ambitious, powerful, expansionist.

👤

Raden Wijaya

human young adult male

None explicitly mentioned, but implied to be strong and capable.

Attire: Initially simple clothing as a refugee, then more formal attire as a trusted subordinate, eventually royal garments as a king. Likely Javanese noble attire.

A parang (machete) in hand, symbolizing his role in clearing the forest and his readiness for battle, or a bitter Maja fruit, representing the origin of his kingdom's name.

Resourceful, strategic, vengeful, charismatic, hardworking.

👤

Prabu Jayakatwang

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Royal attire, befitting a King of Kediri.

A king's crown, slightly askew, symbolizing his temporary power and eventual downfall.

Trusting (to his detriment), easily flattered, somewhat naive.

👤

Arya Wiraraja

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Noble attire, likely Madurese or Javanese style.

A hand extended in welcome, symbolizing his role in offering refuge and advice to Raden Wijaya.

Wise, helpful, strategic.

👤

Prajurit (Soldier)

human adult male

Sweaty, tired.

Attire: Simple soldier's uniform, likely Javanese style, with a parang.

A soldier spitting out a bitter maja fruit, representing the discovery of the fruit's taste and the naming of Majapahit.

Hardworking, obedient, easily fatigued, expressive about discomfort.

👤

Bala Tentara Cina (Chinese Army)

human adult male

Large in number.

Attire: Chinese military armor and uniforms.

A large fleet of Chinese ships arriving at a harbor, symbolizing their foreign intervention.

Disciplined, vengeful (on behalf of their emperor), easily manipulated by Raden Wijaya.

Locations

Kerajaan Singosari (Istana)

indoor night implied sudden, chaotic

The grand kingdom of Singosari, once powerful and respected, where Prabu Krtanagara reigned.

Mood: Once majestic, now fallen and chaotic

The sudden attack by Raja Jayakatwang, leading to the fall of Singosari and the death of Prabu Krtanagara.

palace throne room royal chambers

Pulau Madura

outdoor implied calm, safe

An island where Raden Wijaya and Krtanagara's daughters sought refuge, known for its hospitality.

Mood: Safe haven, welcoming, strategic

Raden Wijaya finds refuge and receives counsel from Arya Wiraraja, leading to his plan against Jayakatwang.

island shelter Arya Wiraraja's residence

Hutan Tarik

outdoor morning to afternoon warm, sunny, humid

A dense, lush forest with many maja trees, some bearing fruit, located on flat, fertile land. Initially beautiful and green.

Mood: Initially beautiful and promising, then arduous and challenging, ultimately foundational

Raden Wijaya and his followers clear the forest to establish a new settlement, discover the bitter taste of maja fruit, and name the area Majapahit.

dense forest maja trees (many, with round fruits) parangs (machetes) flat land sweat no water source

Permukiman Majapahit (Hutan Tarik after clearing)

outdoor fertile, productive

A new, growing settlement in the cleared Hutan Tarik, becoming increasingly busy with residents and traders, known for its fertile land and agricultural produce.

Mood: Developing, prosperous, strategic

The settlement grows, attracting people and trade, and becomes the base for Raden Wijaya's final move against Kediri and the establishment of the Majapahit Kingdom.

new houses agricultural fields marketplaces (implied) maja trees (as a namesake)