Ki Ageng Tarup
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Ki Ageng Tarup
usim kemarau panjang. Desa itu terlihat sangat gersang, pohon-pohon meranggas,
tanah kering, retak-retak, dan terik matahari membakar kulit manusia. Kondisi
mengenaskan tersebut rupanya tidak membuat penduduk gelisah dan khawatir.
bekerja. Dalam kesehariannya, mereka suka bermain judi.
Pada saat itulah datang seorang pengelana ke desa tersebut. Dia adalah Ki Ageng Tarub.
Dia mendapat tugas dari gurunya untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan. Ki Ageng
Tarub terkenal karena kecerdikannya. Dia juga teguh pendiriamdan memiliki kemauan yang
keras. Dia ingin tugas yang diembannya dapat terlaksana dengan baik. Setiap detik, menit,
jam, dan hari Ki Ageng Tarub tak henti-hentinya mengamati keadaan alam dan kebiasaan
masyarakat di daerah itu. Siang malam, ia berjalan mengitari daerah tandus dan gersang
tersebut sambil memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Ketika sedang asyik berjalan mengamati keadaan alam, Ki Ageng Tarub melihat
seorang penduduk setempat sedang menebang pohon. Ki Ageng Tarub hanya tersenyum lalu
bertanya, “Untuk apa kamu tebang pohon itu?”
Penduduk tersebut tidak menjawab, dia hanya menatap Ki Ageng Tarub beserta
pengikutnya dengan pandangan penuh keheranan. Pakaian yang dikenakan Ki Ageng Tarub
tidak selayaknya penduduk di dusun setempat. Ki Ageng Tarub mengenakan jubah putih
layaknya seorang ulama muslim. Padahal, mayoritas penduduk di dusun tersebut beragama
Budha.
Melihat kondisi semacam itu, Ki Ageng Tarub merasa prihatin. Akhirnya ia
memutuskan tinggal di daerah yang tandus dan gersang tersebut. Menanggapi keputusan Ki
Ageng Tarub, pengikutnya merasa aneh, lalu bertanya:
“Apa yang akan kita kerjakan di sini, Ki Ageng?”
“Pekerjaan mencari kayu bakar nampaknya telah menjadi mata pencaharian mereka.
Aku menduga bahwa pekerjaan ini mempunyai hubungan erat dengan malapetaka yang
melanda dusun ini, terutama kekeringan ini,” tegas Ki Ageng,
“Kami belum memahami maksud Ki Ageng?
“Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Ia ciptakan alam ini dalam keadaan seimbang.
Ia pun anugerahkan alam ini untuk kehidupan manusia. Tetapi, manusia tidak boleh serakah
dan rakus. Karena itu, aku memutuskan untuk tinggal di sini, Aku ingin penduduk di daerah
ini mengembalikan pohon-pohon yang telah mereka tebang.”
“Bukankah hal ini bertentangan dengan pekerjaan penduduk di dusun ini, Ki Ageng?”
tukas salah seorang pengikutnya.”
Ternyata benar apa yang telah dikatakan oleh pengikut Ki Ageng Tarub. Usaha untuk
mengembalikan pohon-pohon di desa itu mendapat tantangan berat dari masyarakat. Mereka
menganggap Ki Ageng Tarup telah merampas mata pencahariannya. Namun, Ki Ageng
Tarub pantang menyerah. Salah satu cara yang pertama kali dia lakukan adalah dengan
217
menanam pohon di sekitar pesanggrahannya, termasuk menanam pohon bambu. Selain itu,
Ki Ageng Tarub juga terus berdakwah tentang manfaat pohon dalam keseimbangan
lingkungan.
Seiring berjalannya waktu, pohon-pohon yang ditanam oleh Ki Ageng telah berubah
menjadi hutan. Pada suatu malam, Ki Ageng Tarub mendapat petunjuk agar menggali tanah
di sekitar pohon yang telah ditanamnya. Tanpa berpikir lama, Ki Ageng Tarub
memerintahkan pengikutnya untuk menggali tanah tepat di bawah pohon yang paling besar.
Pada saat galian yang terakhir, sambil berdoa Ki Ageng Tarub menancapkan tongkatnya di
tempat tersebut. Ketika tongkat yang ia tancapkan dicabut kembali, maka keluarlah air ddrt
tempat tersebut. Semburan air itu semakin besar, dan selang beberapa waktu kemudian
tempat tersebut berubah menjadi sebuah telaga. Telaga yang bersih dan sangat jerih. Air
telaga itulah yang pada akhirnya menjadi penghidupan bagi penduduk di Dusun Pacanan,
dusun tempat tinggal Ki Ageng Tarub beserta pengikutnya.
Pada kesempatan emas itu pula, Ki Ageng Tarub mulai menyampaikan ajaran-ajarannya
termasuk ajaran agar tetap menjaga keseimbangan alam semesta. Perlahan-lahan masyarakat
setempat mulai menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat. Akhirnya mereka pun
menjadi pengikut Ki Ageng Tarub yang setia.
Selain memelihara pepohonan, Ki Ageng Tarub juga penyayang binatang. Beliau
memelihara berbagai jenis binatang yang jumlahnya cukup banyak. Binatang-binatang
tersebut sangat setia sehingga mereka dianggap sebagai sahabat Ki Ageng Tarub. Tugas
binatang tersebut tidak lain menjaga telaga, pohon, dan pesanggrahan milik Ki Ageng Tarub.
Pada suatu malam tepatnya pada bulan pumama, air telaga begitu jemih. Pada saat itu,
datang seorang gadis cantik untuk mengambil air. Direndamnya gentong yang ia bawa ke
dalam telaga sambil menikmati keindahan malam. Seteguk demi seteguk ia mulai minun air
telaga sambil mengusap-usapkan air ke wajah cantikya. Saking asyiknya bermain-main di
telaga, dia tidak sadar bahwa ada seekor ular yang sedang mengintainya.
Setelah gadis itu merasa puas bermain-main di telaga, ia mengangkat gentong yang
sudah terisi air. Tetapi ketika kakinya hendak melangkah, denyut jantungya mulai berdetak
kencang. Kaget bukan kepalang yang ia rasakan, begitu melihat seekor ular sedang
menjulurkan lidahnya, siap untuk mematuk tubuhnya. Dia merasa gemetar dan ketakutan.
Bersamaan dengan waktu salat isya, Ki Ageng Tarub keluar hendak mengambil wudu. Ki
Ageng Tarub sangat terkejut saat mendengar suara tangisan seorang gadis dari arah telaga.
Ki Ageng bergegas menuju telaga. Di pinggir telaga, ia melihat gadis yang sedang
menangis ketakutan karena ulah sahabatnya, seekor ular. Sahabatnya tersebut seolah-olah
mempermainkan sang gadis.
“Hai ular, mengapa engkau mengganggu orang yang sedang mengambil air di tempatku.
Pulanglah ke tempatmu!” perintah Ki Ageng penuh persahabatan.
Ular itu seolah-olah mengerti ucapan Ki Ageng. Secara perlahan-lahan ular tersebut
mulai meninggalkan telaga. Suaranya mendesis-desis di balik pepohonan.
“Terima kasih, Ki. Aki sangat baik hati,” ucap sang gadis.
“Berterimakasihlah kepada Tuhan, Penciptamu!” balas Ki Ageng Tarub, sebab-hanya
karena kehendakNya-lah semua terjadi.
“Aki seorang budiman!" puji sang gadis
“Mengapa malam-malam begini berada di tempat ini?”
218
. “Seperti yang Ki Ageng lihat,” ucap sang gadis sambil memperlihatkan gentong yang
dipegangnya.
“Bolehkah aku membantumu?” tanya Ki Ageng Tarub.
“Saya bisa melakukannya sendiri, Ki,” jawab sang gadis malu-malu.
Tanpa berpikir panjang akhirnya Ki Ageng membantu gadis itu. Gadis itu bernama
Nawang Wulan.
Seiring berjalanya waktu, akhirnya Nawang Wulan menjadi istri Ki Ageng Tarub.
Keduanya hidup bahagia. Sejak itu pula usaha Ki Ageng Tarub semakin berhasil. Dia
semakin berhasil membangun desanya menjadi daerah yang sangat subur dan makmur, Setiap
tahun hasil pertanian berlimpah ruah, seperti jagung, padi, dan buah-buahan. Kebahagiaan
semakin lengkap tatkala Ki Ageng Tarub mendapatkan seorang anak perempuan cantik
bernama Nawangsari. Namun, dibalik kebahagiaan itu, rupanya takdir berkata lain. Nawang
Wulan, istrinya meninggal karena sakit. Ki Ageng sangat terpukul hatinya. Tetapi, ia tetap
tegar. Ia sadar bahwa kejadian itu merupakan ujian baginya. Akhirnya, Ki Ageng Tarub tetap
melanjutkan usahanya, mengajarkan budi pekerti, membangun desa, dan mengasuh putrinya
yang masih kecil.
Ki Ageng Tarub memang telah tiada. Tetapi, hingga kini warisannya masih bertahan,
seperti surau, rumah, dan hutan yang masih terawat kelestariannya. Hutan terlihat masih
terjaga karena Ki Ageng pernah melarang penduduk menebang hutan, terutama pohon
bambu. Ki Ageng juga meminta agar manusia menyayangi binatang, terutama lembu yang
menjadi sahabat para petani.
219
BANGSACARA DAN RAGAPADMI
Ikisah, pada zaman dahulu di Pulau Madura ada sebuah kerajaan besar dan
berwibawa. Rajanya bernama Widarba. Ia dikenal sebagai raja yang adil, bijaksana,
dan sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Oleh karena itu, rakyat di kerajaan
itu hidup makmur, damai, dan sejahtera. Tidak ada rakyat yang kekurangan sandang, pangan,
atau papan. Masalah-masalah besar yang membuat resah warga juga hampir tidak ada. Setiap
ada masalah, raja akan menyelesaikannya dengan bijaksana sehingga tidak sampai mengusik
ketenteraman warganya.
Dalam menjalankan kerajaan, Raja Widarba didampingi Patih Bangsapati, para menteri,
dan seorang abdi yang sangat setia bemama Bangsacaft. Meskipun sudah berusaha
memerintah dengan adil dan bijaksana, Raja Widarba tidak dapat mengetahui secara pasti
perasaan para pejabat di sekelilingnya, terutama Patih Bangsapati. Di hadapan raja, Patih
Bangsapati selalu memperlihatkan sikap seorang pemimpin yang memperhatikan anak
buahnya dan patuh pada raja. Akan tetapi, diam-diam Patih Bangsapati merasa iri pada
Bangsacara yang sangat dekat dengan Raja Widarba.
Raja Widarba mempunyai empat permaisuri, salah satunya bernama Ragapadmi. Di
antara empat permaisurinya itu, Ragapadmi memang permaisuri yang paling cantik. Akan
tetapi, pada suatu ketika Raden Ayu,Ragapadmi tiba-tiba diserang penyakit kulit yang
menjijikkan. Seluruh tubuhnya dipenuhi koreng yang melepuh bemanah hingga
menimbulkan bau amis, Kecantikannya rusak seketika, bahkan tubuhnya yang berbau amis
membuat orang tidak tahan berada di dekatnya.
Raja sangat sedih menyaksikan permaisuri tercantiknya menjadi buruk rupa dan berbau.
Segala tabib dari berbagai penjuru negeri telah didatangkan untuk mengobatinya, tetapi tidak
ada satu pun yang berhasil. Bahkan, kian hari penyakitnya kian parah hingga Raja Widarba
tidak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya Raja Widarba memberikan Raden Ayu
Ragapadmi kepada abdi setianya, Bangsacara, untuk diperistri. Sebagai abdi setia, Bangsacara
tidak dapat menolak pemberian rajanya. Ia pun mengajak Raden Ayu Ragapadmi pulang ke
rumah ibunya di desa.
Ibunya sangat terkejut dan marah saat melihat Bangsacara pulang dengan seorang
perempuan yang berpenyakit kulit. Kemarahan ibunya mereda saat Bangsacara memberi tahu
bahwa perempuan yang pulang bersamanya adalah permaisuri Raja Widarba yang diberikan
padanya untuk diperistri. Bahkan, saat Bangsacara bersumpah tidak akan menikahi Raden
Ayu Ragapadmi, ibunya melarang dan menyuruhnya mencabut sumpah itu.
”Jangan, Anakku. Jangan bersumpah seperti itu, itu tidak baik,” kata ibunya
mengingatkan,
"Tapi, bu... mana mungkin aku menikah dengan perempuan yang berpenyakit seperti
itu...,” jawab Bangsacara beralasan.
"Siapa tahu dia memang jodohmu...kau tidak boleh melawan kehendak Yang Kuasa.”
221
”Maksud Ibu, Raja Widarba. Paduka memang menyuruh aku untuk menikahinya, tapi
”Bukan...bukan...Paduka Raja Widarba, tetapi Gusti Allah. Dia yang mengatur hidup
manusia. Dia yang paling tahu apa yang terbaik bagi ciptaannya.”
”Apa Ibu mau punya menantu yang penyakitan?”
"Kalau itu memang kehendak Gusti Allah, Ibu ikhlas.”
”Tapi...mengapa tadi Ibu marah-marah?”
”Karena kau kan tidak memberi tahu Ibu sebelumnya, jadi Ibu terkejut dan merasa tidak
”Jadi...sekarang bagaimana? Aku menurut pada Ibu saja.”
”Nah, begitu. Kau memang anak yang baik," kata sang ibu sambil menepuk-nepuk
pundak Bangsacara. "Kembalilah ke istana, barangkali Paduka Raja membutuhkanmu lagi.
Raden Ayu Ragapadmi biar tinggal bersamaku. Ibu akan mencoba mengobatinya. Kasihan,
tentu dia sangat menderita. Sudah berpenyakit, dibuang pula.”
”Baiklah, Bu. Aku berangkat dulu,” kata Bangsacara sambil mencium tangan ibunya.
Setelah Bangsacara #embali ke istana, ibunya segera merawat dan mengobati
Ragapadmi dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu merawat anaknya. Setiap hari
Ragapadmi dimandikan dengan ramuan daun-daunan obat untuk mengeringkan koreng yang
bernanah. Selanjutnya, untuk menghilangkan bau amis, Ragapadmi dimandikan dengan air
kembang setaman. Pengobatan itu dijalani Ragapadmi selama berbulan-bulan. Berkat
ketekunan dan kesabaran ibunya Bangsacara itulah, penyakit Ragapadmi pelan-pelan
menghilang. Ragapadmi sembuh dan kembali cantik seperti semula. Ragapadmi pun sangat
Ketika pulang untuk menengok ibunya di desa, Bangsacara sangat terkejut melihat
Raden Ayu Ragapadmi sudah cantik kembali seperti ketika tinggal di istana. Ia hampir tidak
percaya pada penglihatannya seandainya ibunya tidak memberitahunya bahwa perempuan itu
benar-benar Raden Ayu Ragapadmi yang sudah sembuh dari penyakitnya. Seketika ia jatuh
cinta dan lupa pulang kembali ke istana. Ragapadmi pun menerima cinta Bangsacara dengan
tulus. Apalagi, hubungan mereka telah direstui sang ibu.
Di istana, Raja Widarba mengutus Patih Bangsapati untuk menyusul Bangsacara ke
desanya karena ada tugas penting, Patih Bangsapati sangat murka saat melihat Bangsacara
ternyata sedang berduaan dengan Raden Ayu Ragapadmi di samping rumahnya. Menurutnya,
Raden Ayu Ragapadmi yang sudah kembali cantik, lebih pantas menjadi istri Raja Widarba
kembali daripada menjadi istri Bangsacara. Sebelum Bangsacara menyadari kehadirannya,
Patih Bangsapati pun pulang ke istana untuk melapor. Raja Widarba teringat kembali pada
kecantikan Ragapadmi dan seketika ingin Ragapadmi dibawa kembali ke istana.
Kesempatan itu digunakan Patih Bangsapati untuk menyingkirkan Bangsacara selama-
lamanya, apalagi raja mengizinkan untuk melakukan segala cara asalkan Raden Ayu
Ragapadmi bisa diboyong kembali ke istana. Patih Bangsapati kembali ke desa Bangsacara
dan memberi tahu bahwa Raja Widarba menyuruh Bangsacara berburu rusa di Pulau
Mendangil. Sebagai abdi setia, tanpa rasa curiga, Bangsacara pun berangkat ke Pulau
Medangil ditemani dua ekor anjingnya. Patih Bangsapati pura-pura kembali ke istana. Di
tengah jalan, ia berbalik menyusul Bangsacara yang sudah sampai di Pulau Medangil. Saat
sedang mengejar rusa, tanpa disadarinya Patih Bangsapati sudah berada di belakang dan
menghunuskan kerisnya. Bangsacara jatuh tersungkur dan meninggal seketika.
2
Patih Bangsapati segera kembali ke istana untuk melaporkan kematian Bangsacara,
Mendapat laporan Patih Bangsapati, Raja Widarba sangat bersukacita. Ia pun memerintahkan
para pembantu dan rakyatnya untuk menghias kota raja guna menyambut kepulangan Raden
Ayu Ragapadmi. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Patih Bangsapati, dua ekor anjing
Bangsacara berenang menyeberangi lautan dan berhasil pulang ke rumah. Ragapadmi sangat
terkejut saat melihat anjing Bangsacara pulang sambil melolong-lolong. Dengan mulutnya,
anjing itu menarik-narik kain Ragapadmi seakan mengajaknya pergi. Ragapadmi menyadari
bahwa anjing itu hendak mengatakan sesuatu sehingga Ragapadmi pun mengikutinya dari
belakang.
Dengan susah payah, Ragapadmi akhirnya sampai di Pulau Medangil. Ia sangat terkejut
saat melihat Bangsacara sudah terbujur kaku bersimbah darah di tanah. Tanpa berpikir lagi,
Ragapadmi segera mengambil keris yang terselip di pinggang Bangsacara dan
menghunjamkan ke tubuhnya, Seketika ia jatuh tertelungkup di atas jasad Bangsacara.
Caplok dan Tanduk melolong-lolong minta pertolongan, tetapi karena jarang ada perahu
melewati lautan di sekitar pulau itu, tidak satu pun orang datang menolong. Caplok dan
Tanduk menunggui jasad Bangsacara dan Ragapadmi hingga kedua anjing itu pun ikut
meninggal, -
& Di kota raja, Raja Widarba sudah tidak sabar menunggu kepulangan permaisurinya.
Bersama dengan para menterinya, Raja Widarba duduk gelisah di singgasana, sedangkan
rakyat sudah menunggu di sepanjang jalan. Betapa terkejutnya Raja Widarba saat melihat
Patih Bangsapati datang bersama para pengawal dengan wajah sedih dan tanpa iring-iringan
kereta yang membawa permaisuri. Dengan wajah tertunduk malu dan takut, Patih Bangsapati
menyampaikan kematian Raden Ayu Ragapadmi. Seketika Raja Widarba sangat murka
karena merasa dipermainkan oleh patihnya. Patih Bangsapati pun mendapat hukuman mati
atas kejahatannya. z
Konon, tidak berapa lama kemudian ada sebuah perahu seorang pedagang yang hendak
berdagang ke Palembang kekurangan air sehingga singgah di Pulau Medangil. Saat sedang
mencari sumber air, sang pedagang melihat jasad Ragapadmi dan Bangsacara serta kedua
anjing setianya tergeletak di tanah. Ia segera kembali ke kapal untuk mengambil peralatan.
Dengan bantuan beberapa awak kapal, pedagang itu membuat dua liang kubur. Liang kubur
yang pertama untuk menguburkan jasad Ragapadmi dan Bangsacara, sedangkan liang kubur
yang kedua untuk menguburkan Caplok dan Tanduk. Setelah menandainya dengan nisan dan
membersihkan tempat di sekelilingnya, pedagang itu meneruskan perjalannya ke Palembang.
Konon, setelah menguburkan jasad Ragapadmi dan Bangsacara serta kedua anjingnya,
sang pedagang mendapat banyak keberuntungan. Sesampainya di Palembang, dagangannya
menjadi sangat laris dan dalam waktu singkat habis terjual dengan keuntungan yang besar.
Sejak itu, konon para pedagang yang melewati perairan Pulau Medangil akan singgah dan
berziarah ke makam Bangsacara dan Ragapadmi di pulau itu.
223
ASAL USUL “API TAK KUNJUNG PADAM”
Moko. Penduduk sangat menghormati sosok Ki Moko yang baik hati dan suka
menolong. Dia memiliki kegemaran memancing, tetapi ikan hasil tangkapannya selalu
dibagikan kepada para santri dan penduduk sekitar. Dia hanya mengambil mata ikan dan
kemudian disimpan di dalam bumbung bambu.
Suatu hari, ketika sedang memancing, tiba-tiba dia melihat sebuah kapal terdampar tepat
di hadapannya. Kapal itu ternyata milik seorang saudagar dari Palembang. Saudagar itu
menjelaskan bahwa sudah beberapa hari dia terombang-ambing oleh badai di tengah laut.
Persediaan makanannya lenyap ditelan ombak.
Mendengar penjelasan tersebut, Ki Moko membawa saudagar dan rombongan ke
pondok pesantrennya. Mereka disuguhi makanan dan dipersilakan istirahat sambil menunggu
kapalnya selesai diperbaiki oleh para santri Ki Moko. Setelah kapal selesai diperbaiki,
saudagar itu pun berpamitan pada Ki Moko. Dia hendak melanjutkan perjalanannya ke
Palembang untuk menjual kopra dagangan mereka. Ki Moko dengan berat hati melepas
kepergian mereka yang sudah sekitar seminggu tinggal di pesantrennya.
Jalinan persaudaraan di antara mereka semakin erat. Saudagar itu merasa sangat
berhutang budi pada Ki Moko karena berkat bantuannya, dia bisa bertahan hidup. Usaha
dagangnya mengalami perkembangan yang pesat. Barang dagangannya, baik yang dikirim ke
Palembang maupun yang berasal dari Palembang selalu laris terjual. Saudagar itu pun tak
pernah lupa memenuhi permintaan Ki Moko untuk selalu mampir ke pondok pesantrennya.
Suatu hari, saudagar tersebut mampir ke pesantren Ki Moko. Ia membawa berita bahwa
putri Raja Palembang sedang sakit keras. Para tabib kerajaan tidak ada yang mampu
menyembuhkan penyakit putrinya. Sampai pada akhirnya Raja mengadakan sayembara. Raja
berjanji, "barang siapa mampu menyembuhkan penyakit Putri Dewi Suminten akan dijadikan
menantu oleh Raja Palembang jika kebetulan penolongnya adalah seorang laki-laki, namun
jika perempuan akan dijadikan anak angkat.” Mendengar berita tersebut Ki Moko merasa iba.
la sangat prihatin pada derita yang dialami oleh putri Raja Palembang. Ki Moko terkenang
persahabatannya dengan Raja Palembang ketika ia masih berada di kampung halamannya, di
Palembang.
Ki Moko mengutus putranya untuk pergi ke Palembang, "Putraku, sembuhkanlah putri
Raja Palembang.”
“Ta..ta...pi Ayahanda, dengan cara apa aku dapat membantu kesembuhannya? Aku
bukanlah seorang tabib, sedangkan tabib-tabib saja tidak ada yang mampu,” jawab putra Ki
Moko penuh keraguan.
“Dengan izin Allah SWT, Anakku. Atas izin-Nya, kamu pasti dapat
menyembuhkannya,” kata Ki Moko penuh keyakinan.
”Bagaimana bisa hanya dengan bekal izin Allah, Ayahanda?” tanya putra Ki Moko tidak
mengerti.
P ada zaman dulu ada seorang ulama terkenal dari Desa Larangan Tokol. Dia adalah Ki
225
"Percayalah Anakku, tidak ada di dunia ini yang terjadi tanpa izinnya. Asalkan kau
yakin pada kebesaran-Nya, kau pasti bisa,” kata Ki Moko menyakinkan putranya.
”Tapi......” Belum selesai putranya bicara, Ki Moko sudah memotongnya.
”Aku akan membekalimu dengan aji-aji agar dapa menyembuhkan Dewi Suminten."
"Terima kasih Ayah.” kata putra Ki Moko
”Tetapi ingat, aji-aji ini tidak ada artinya tanpa izen Allah, Jadi, kau harus tetap yakin
pada kebesaran-Nya. Aji-aji ini hanyalah sarana, Allahlah yang akan menyembuhkannya,”
kata Ki Moko mengingatkan putranya.
“Baiklah Ayahanda. Kapan aku harus berangkat?” maa panya
”Secepatnya saja, kasihan Dewi Suminten,” jawab Ki Moko. "Oh iya, putraku. Bawalah
bumbung-bumbung bambu yang berisi mata ikan ini dan kau serahkan kepada Raja
Palembang."
"Baik, Ayahanda. Aku akan membawanya dengan baik supaya sampai ke tangan
Paduka Raja Palembang dalam keadaan baik,” janji putra Ki Moko.
"Ingat Anakku, jangan sekali-kali kau buka bumbung bambu itu kecuali di hadapan Raja
Palembang,” pesan Ki Moko.
”Aku berjanji akan memegang pesan ayahanda dengan baik. Kalau begitu, aku mohon
pamit dan mohon doa Ayahanda,” kata putra Ki Moko.
”Baiklah, Anakku. Hati-hati dan ingatlah pesan Ayah," jawab Ki Moko.
Tanpa sepengetahuan putranya, secara diam-diam Ki Moko menyertai perjalanan
putranya menuju Palembang dengan mengendarai sebuah pelepah pohon kelapa mengarungi
laut lepas.
Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya putra Ki Moko sampai di kerajaan
Palembang. Dalam perjalanan menuju istana, semua rakyat Palembang terlihat muram.
Mereka turut berduka atas penyakit putri rajanya yang tidak kunjung sembuh.
Sayembara pun dimulai. Banyak putra mahkota dari kerajaan-kerajaan seberang
mengikuti sayembara tersebut. Para dukun dan tabib sakti pun tidak ketinggalan. Namun,
tidak seorang peserta pun berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Suminten. Raja semakin
khawatir. Ia tak kuasa melihat putrinya terbaring lemas. Pada kesempatan itu, putra Ki Moko
menghadap Raja Palembang. Ia mengutarakan maksud kedatangannya.
”Paduka Raja, hamba datang dari jauh untuk mengikuti sayembara ini. Hamba bukan
seorang pangeran, hamba hanyalah rakyat biasa. Izinkan hamba membantu menyembuhkan
penyakit Tuan Putri,” kata putra Ki Moko sambil menghaturkan sembah.
”Tidak mengapa anak muda. Aku tidak peduli asal-usulmu, yang penting kamu dapat
menyembuhkan putriku. Segeralah periksa dan sembuhkan putriku. Oh, kasihan putriku,”
jawab Paduka Raja sambil meratap mengingat keadaan putri tercintanya.
Putra Ki Moko melangkah menuju kamar Dewi Suminten. Di kamar yang begitu luas,
Dewi Suminten terkulai ditemani para inangnya. Tubuhnya kurus kening. Penyakit kulit yang
meyerupai borok-borok itu menjalari sekujur tubuhnya. Keadaannya benar-benar
mengenaskan. Hanya sinar matanya yang indah yang masih mampu memancarkan
kecantikannya.
Putra Ki Moko segera mengeluarkan beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibawa
dari Madura. Beberapa ajian dan doa dibacakan untuk kesembuhan sang putri. Namun
anehnya, obat-obatan, ajian, serta doa yang dibacakannya tidak memberikan reaksi apa pun.
Putra Ki Moko mulai berkeringat dingin. Ia khawatir usahanya akan gagal.
226
Ki Moko mengamati gerak-gerik putranya tersebut. Ki Moko hanya tersenyum melihat
kekhawatiran putranya. Tanpa sepengetahuan putranya, Ki Moko meniupkan aji pamungkas
yang dimilikinya ke tubuh sang putri. Seketika itu pula keajaiban terjadi. Penyakit yang
- menyelimuti kulit sang putri sedikit demi sedikit terkelupas. Kulitnya kembali seperti semula,
halus, dan kuning langsat. Putra Ki Moko takjub melihat putri cantik berdiri di hadapannya.
Dewi Suminten menghadap ayahandanya seraya berkata, "Ayahanda, lihatlah. Lihatlah
Ayahanda. Kulitku sudah kembali seperti semula. Tidak ada bekas lukanya dan aku tidak
merasakan sakit lagi."
"Oh, putriku, Benar...benar...benarkah kamu sudah sembuh? Oh, benarkah kamu
kembali seperti semula, Anakku,” tanya Paduka Raja sambil mengamati putrinya dengan
wajah berseri-seri dan terheran-heran karena gembira dan hampir tidak percaya.
"Benar Ayahanda. Aku sudah tidak merasakan sakit lagi, kulitku juga kembali halus,
tidak ada bekas lukanya. Ini semua berkat pertolongan pemuda itu, Ayahanda,” kata sang
putri sambil memperlihatkan tangannya.
Sang paduka sangat bahagia melihat kesembuhan putrinya. Sang raja memanggil
pemuda yang telah menolong putrinya tersebut. Sang raja menanyakan siapa sebenarnya anak
muda tersebut, "Wahai anak muda, saya sungguh berterima kasih kepadamu. Kamu sudah
berhasil menyembuhkan putriku. Kamu tentulah bukan pemuda biasa, Siapa sebenarnya
dirimu, wahai anak muda?” tanya Paduka Raja kagum dan ingin tahu.
Anak muda tersebut menjelaskan bahwa dia adalah putra Ki Moko dari tanah seberang,
tepatnya Madura yang sengaja diutus ayahandanya untuk membantu menyembuhkan putri
raja.
"Ayahanda juga menyuruh hamba menghaturkan barang ini untuk Paduka," jawab putra
Ki Moko sambil menyerahkan bumbung bambu.
Raja Palembang segera membuka bumbung bambu tersebut untuk melihat isinya. Ketika
tutup bumbung dibuka maka keluarlah sinar kemilau dari dalam. Raja Palembang, putra Ki
Moko, dan semua hadirin yang berada di balairung istana tersebut sangat terkejut melihat
intan berlian yang sangat banyak dan berkilauan keluar dari dalam bumbung bambu. Itulah
tanda mata yang diberikan Ki Moko untuk melamar putri Raja Palembang sebagai
menantunya.”
Perkawinan Dewi Suminten dengan putra Ki Moko segera dilangsungkan. Pesta
perkawinan tersebut dilaksanakan dengan sangat meriah. Gending-gending dan tarian dari
beberapa daerah bawahan ikut memeriahkan suasana. Rakyat Palembang benar-benar
bersukacita. Paduka Raja sangat gembira karena penyakit putrinya telah sembuh dan telah
mendapatkan jodoh seorang pemuda yang sangat sakti dan baik budi.
Ki Moko berencana mengadakan acara undang mantu sehingga dia segera kembali ke
Madura untuk mempersiapkannya. Akan tetapi, Ki Moko mendadak merasa sedih karena
ingat bahwa di desa tempat tinggalnya sangat sulit mendapatkan air bersih dan kayu bakar.
Padahal, untuk melangsungkan sebuah pesta diperlukan air dan kayu bakar yang cukup
banyak. Selain itu, ia memerlukan sungai untuk lalu lintas perahu jika nanti para tamu
berkunjung ke daerahnya.
Beberapa hari Ki Moko berpikir, memohon pertolongan Allah SWT. Pada suatu malam,
Ki Moko mendapat petunjuk. Dia berjalan ke arah barat laut pesantrennya. Di daerah yang
cukup berbukit dan tanahnya yang retak-retak tersebut, dia menancapkan daur pancingnya
seraya berdoa, “Ya Allah dengan kuasa-Mu keluarkanlah dari bekas pancing ini sumber api
227
ini."
Tidak lama kemudian, atas kehendak Allah SWT keluarlah semburan api dari bekas
tancapan tersebut. Ki Moko sangat senang melihatnya. Ia bersujud syukur dan berdoa agar
apinya menjadi api yang tak kunjung padam. Doa Ki Moko dikabulkan Allah SWT. (Api itu
tidak penah padam hingga kini dan masyarakat Pamekasan biasanya menyebut Api Tak
Kunjung Padam ini dengan sebutan Jhengkah).
Setelah itu, Ki Moko berjalan lagi ke arah barat daya. Untuk kedua kalinya ia
menancapkan daur pancingnya sambil memohon agar dari bekas tancapan daur pancingnya
keluar sumber air panas yang bisa digunakan untuk menanak nasi. Keajaiban kedua pun
terjadi, Dari bekas tancapan daur pancing tersebut tiba-tiba meluap-luap sumber air panas
yang sangat besar. Air tersebut sedikit berbau belerang.
Kekhawatiran Ki Moko kini mulai berkurang. Kini hanya tinggal satu masalah yang
belum teratasi, yaitu masalah lalu lintas air jika nantinya para tamu akan berlabuh mendekati
pedukuhannya. Sebab, jika para tamunya hanya berlabuh di perairan Selat Madura di Branta
Pesisir, tentunya tamu-tamu tersebut masih harus menempuh perjalanan darat. Padahal, yang
akan hadir pada pestanya adalah sang Maha Raja Palembang sendiri.
Ki Moko kembali menancapkan daur pancingnya ke tanah. Tancapan tersebut dimulai
dari dekat sumber air panas. Diiringi dengan doa, Ki Moko menorehkan tancapan tersebut
menuju pantai. Keanehan pun terulang, bekas torehan daur pancing tiba-tiba berubah menjadi
sungai yang cukup lebar. Sungai tersebut menghubungkan pedukuhan Ki Moko dengan
Pelabuhan Branta Pesisir. Setelah itu, Ki Moko memohon kepada Allah agar pedukuhannya
berubah menjadi istana-istana megah menyerupai istana di kerajaan Palembang.
Undang mantu pun terlaksana sesuai dengan keinginan Ki Moko. Setelah empat puluh
hari pesta berlangsung, keadaan pun berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Istana Ki
Moko berubah ke wujud semula, sebuah pedukuhan kecil dengan gubuk-gubuk yang
ditempati para santri. Dewi Suminten dan putra Ki Moko terheran-heran melihat perubahan
itu. Ki Moko berpesan kepada putranya bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini.
Selang beberapa tahun setelah Dewi Suminten dan suaminya menetap di pedukuhan Ki
Moko, akhirnya Raja Palembang memanggil mereka kembali ke Palembang untuk
menggantikannya memimpin rakyat Palembang. Putra Ki Moko dinobatkan sebagai Raja
Palembang.
228
Story DNA
Moral
True wisdom and leadership involve harmonizing with nature, serving the community, and understanding that worldly possessions are fleeting.
Plot Summary
In a drought-ridden village, Ki Ageng Tarub arrives to teach environmental stewardship, eventually creating a life-giving lake and fostering prosperity. He marries Nawang Wulan, and their legacy of wisdom endures. Separately, Ki Moko's son cures a princess with his father's secret help, leading to a grand wedding. For the celebration, Ki Moko miraculously creates an eternal fire, a hot spring, and a river, and his humble home transforms into a palace, only to revert, teaching humility. Ultimately, Ki Moko's son becomes king, continuing a lineage of wise leadership.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story blends elements of pre-Islamic animistic beliefs (respect for nature, divine intervention through natural phenomena) with Islamic concepts (Allah SWT, ulama, dakwah), reflecting the syncretic nature of Javanese/Madurese culture. The character of Ki Ageng Tarub is a legendary figure in Javanese folklore, often associated with the lineage of Mataram kings. The 'Api Tak Kunjung Padam' (Eternal Flame) is a real natural gas phenomenon in Pamekasan, Madura, which this story provides an origin for.
Plot Beats (15)
- A village is plagued by drought and its inhabitants are ignorant and addicted to gambling.
- Ki Ageng Tarub arrives, sent by his teacher to educate the people and restore environmental balance.
- Ki Ageng Tarub begins planting trees and preaching about nature's importance, facing initial resistance from the villagers.
- Guided by a divine sign, Ki Ageng Tarub digs and creates a clean lake, providing water for the village and gaining followers.
- Ki Ageng Tarub saves a beautiful maiden, Nawang Wulan, from a snake at the lake, and they eventually marry, bringing prosperity to the village and having a daughter, Nawangsari.
- Nawang Wulan dies, leaving Ki Ageng Tarub to continue his work and raise his daughter.
- Ki Ageng Tarub's legacy of environmental care and community building endures even after his death.
- Separately, in Madura, Ki Moko sends his son to Palembang to cure a princess, Dewi Suminten.
- Ki Moko's son struggles to cure the princess, but Ki Moko secretly intervenes with his 'aji pamungkas' (powerful spell), healing her instantly.
- The cured Princess Dewi Suminten marries Ki Moko's son, and a grand wedding is planned.
- Ki Moko, concerned about resources for the wedding, receives divine guidance.
- Ki Moko uses his fishing rod to miraculously create an eternal fire, a hot spring, and a wide river connecting his village to the sea.
- Ki Moko's humble dwelling temporarily transforms into a magnificent palace for the wedding feast.
- After the 40-day feast, the palace reverts to its original humble state, teaching a lesson about impermanence.
- Years later, Ki Moko's son and Dewi Suminten are called to Palembang, where the son is crowned king, continuing a lineage of wise rule.
Characters
Ki Ageng Tarub
None explicitly mentioned, but implied to be distinct from local villagers.
Attire: White robe, like a Muslim scholar.
Wise, persistent, compassionate, clever.
The Villager
None explicitly mentioned.
Attire: Common villager attire, distinct from Ki Ageng Tarub's white robe.
Curious, initially resistant.
The Girl
Beautiful.
Attire: Simple attire suitable for fetching water from a lake.
Frightened, grateful.
The Snake
None explicitly mentioned, but capable of intimidating a human.
Mischievous, obedient to Ki Ageng Tarub.
Ki Moko
None explicitly mentioned.
Attire: Implied to be a respected figure, perhaps traditional Madurese attire.
Wise, resourceful, devout, loving father.
Dewi Suminten
Beautiful, initially afflicted with a skin disease, then restored to smooth, yellowish-white skin.
Attire: Royal attire, befitting a princess.
Vulnerable, grateful, joyful.
Son of Ki Moko
None explicitly mentioned.
Attire: Implied to be a respected young man, perhaps traditional Madurese attire.
Determined, skillful, humble, eventually becomes a king.
King of Palembang
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire, befitting a king.
Concerned, grateful, joyful, appreciative.
Locations
The Arid Village (Dusun Pacanan)
A very arid village with withered trees, dry, cracked earth, and scorching sun. Initially, it was a place where people gambled and cut down trees.
Mood: desolate, harsh, initially carefree (for the villagers), later hopeful
Ki Ageng Tarub arrives and observes the villagers' destructive habits, deciding to stay and teach them.
Ki Ageng Tarub's Hermitage (Pesanggrahan)
The area around Ki Ageng Tarub's dwelling, where he began planting trees, including bamboo. It eventually transformed into a lush forest.
Mood: hopeful, industrious, later peaceful and natural
Ki Ageng Tarub begins his mission by planting trees, demonstrating sustainable practices to the villagers.
The Lake (Telaga)
A clean and very clear lake that emerged from the ground after Ki Ageng Tarub dug and planted his staff. Surrounded by trees, especially after the hermitage became a forest.
Mood: magical, serene, vital, later tense (with the snake)
The lake is created, providing life to the village. A beautiful girl encounters a snake here, leading to Ki Ageng Tarub's intervention.
Ki Moko's Hilly, Cracked Land (Madura)
A hilly area with cracked earth, located northwest of Ki Moko's pesantren. This is where he sought divine guidance for resources.
Mood: desperate, prayerful, miraculous
Ki Moko prays and creates a never-ending fire source and a hot water spring by planting his fishing rod.
Ki Moko's Hamlet/Temporary Palace (Pedukuhan)
Initially a small hamlet with huts for students, it temporarily transforms into a magnificent palace resembling the Palembang kingdom's palace for the wedding feast. It is connected to Branta Pesisir by a newly formed river.
Mood: humble, then grand and festive, then returns to humble
Ki Moko's hamlet transforms into a palace for his son's wedding, showcasing his power, and then reverts to its original form, teaching a lesson about impermanence.