Perjalanan Sunan Giri

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend transformation hopeful Ages 8-14 1739 words 8 min read
Cover: Perjalanan Sunan Giri
Original Story 1739 words · 8 min read

Perjalanan Sunan Giri

Ikisah, pada zaman dahulu, kerajaan Blambangan diperintah oleh seorang raja

bernama Prabu Menak Sembuyu, Ia adalah keturunan Prabu Hayam Wuruk dari

kerajaan Majapahit. Raja dan rakyat kerajaan Blambangan memeluk agama Hindu

dan Budha.

Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya gelisah karena putrinya yang

bernama Dewi Sekardadu menderita sakit parah. Tidak seorang tabib atau dukun pun yang

sanggup mengobatinya. Pada saat itu pula, kerajaan Blambangan sedang dilanda musibah

yang namanya penyakit pagehlug. Hampir setiap hari ada korban yang meninggal dunia.

Pada saat itu, datanglah seorang penyebar Islam bernama Maulana Ishak. Prabu Menak

Sembuyu meminta tolong padanya dengan janji akan menjadikannya menantu jika berhasil

menghilangkan wabah. Maulana Ishak berjanji akan membantu dengan tambahan satu syarat

mereka harus masuk Islam. Prabu Menak Sembuyu menyetujui. Dengan izin Allah, Maulana

Ishak berhasil menghilangkan wabah penyakit dari bumi Blambangan. Ia pun segera

dinikahkan dengan Dewi Sekardadu.

Maulana Ishak semakin giat berdakwah menyebarkan agama Islam. Semakin lama

semakin banyak rakyat Blambangan mengikuti Maulana Ishak dan masuk agama Islam

sehingga membuat resah Prabu Menak Sembuyu dan para pembesar kerajaan. Atas hasutan

Patih Bajul Sengara, Prabu Menak Sembuyu semakin membenci Maulana Ishak. Melihat

keadaan yang tidak aman, Maulana Ishak pun minta izin Dewi Sekardadu yang sedang hamil

untuk kembali ke Samudra Pasai agar tidak jatuh korban orang lain. Dengan berat hati

Maulana Ishak meninggalkan istri tercinta yang lagi mengandung.

Sebelum kembali ke Pasai, Maulana Ishak menyempatkan diri singgah di Ampel

menceritakan perjalanannya selama di Blambangan dan berpesan jika bertemu dengan

anaknya dengan ciri-ciri yang disebutkan, supaya dididik dan diberi nama Raden Paku.

Kemudian Maulana Ishak meninggalkan Pulau Jawa kembali ke Pasai. Kepergiari Maulana

Ishak membuat geger rakyat Blambangan dan demi keselamatan janin yang ada dalam

kandungan, Dewi Sekardadu pun diboyong ke istana Blambangan.

Tidak lama kemudian Dewi Sekardadu melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan.

Prabu Menak Sembuyu dan permaisuri sangat senang atas kehadiran cucunya. Akan tetapi,

Prabu Menak Sembuyu termakan oleh hasutan Patih Bajul Sengara untuk membuang bayi itu

ke laut. Dewi Sekardadu sangat sedih mengetahui bayinya dihanyutkan ke laut. Dewi

Sekardadu mengikuti arus yang membawa peti sampai keberadaan peti itu hilang dari

pandangannya.

Peti berisi bayi itu ditemukan oleh sebuah kapal dagang yang sedang berlayar menuju

Selat Bali. Kapal itu mendadak tidak dapat bergerak karena terhalang oleh sebuah peti. Peti

itu diangkat dan setelah dibuka ternyata berisi bayi laki-laki yang sangat tampan. Ketika

hendak melanjutkan perjalanan, kapal tetap tidak bergerak sehingga mereka berbalik arah

199

kembali ke Gresik. Di luar dugaan, ternyata kapal dapat berjalan dengan lancar menuju

pelabuhan Gresik.

Pemilik kapal itu adalah Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya raya di Gresik. Semula

ia marah karena kapalnya berbalik, tetapi setelah mengetahui apa yang terjadi, ia justru sangat

senang. Kebetulan ia tidak mempunyai putra sehingga bayi yang ditemukan oleh nakhoda

kapalnya itu diangkat menjadi putranya dan dinamai Jaka Samudra.

Nyai Ageng Pinatih adalah seorang muslimah yang baik. Walaupun Jaka Samudera

bukan anak kandungnya, dia merawat dan membesarkan Jaka Samudra dengan penuh kasih

sayang, terlebih lagi Jaka Samudra memiliki sifat yang saleh dan berbakti kepada ibunya.

Terhadap semua orang, Jaka Samudra selalu menunjukkan sikap baik.

Ketika berusia sebelas tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Jaka Samudra untuk

berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta di Surabaya.

Setiap hari, Jaka Samudra melakukan perjalanan dari Gresik menuju Ampel di Surabaya

dengan tekun dan penuh kesabaran. Sunan Ampel merasa kasihan melihat Jaka Samudra

setiap hari melakukan perjalanan jauh, maka Sunan Ampel menyarankan untuk tinggal di

Pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi pada pelajaran.

Beberapa minggu tinggal di pesantren, Sunan Ampel sudah dapat mengetahui bahwa

Jaka Samudra bukanlah anak sembarangan. Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata santri

lainnya. Semua pelajaran yang diberikan, mampu ia serap dengan cepat.

Pada suatu malam, ketika hendak mengambil air wudu untuk melaksanakan salat

tahajud, Sunan Ampel melihat para santrinya yang tidur di asrama. Salah satu tubuh santrinya

memancarkan sinar terang dan mengejutkan Sunan Ampel. Sunan Ampel segera mengikat

ujung kain santri tersebut.

Keesokan harinya, Sunan Ampel memanggil para santrinya.

”Murid-muridku, ketika kalian bangun pagi, siapa kain sarung kalian yang terikat?”

Setelah lama terdiam, tiba-tiba Jaka Samudera mengacungkan tangannya sambil berkata,

“Hamba Kiai.”

Sunan Ampel semakin yakin kalau Jaka Samudra bukanlah anak sembarangan.

Kebetulan saat itu Nyai Ageng Pinatih datang menjenguk Raden Jaka Samudra. Kesempatan

itu digunakan Sunan Ampel untuk menanyakan siapa sebenarnya Jaka Samudra.

Nyai Ageng Pinatih menceritakan dengan jujur bahwa Jaka Samudra bukan anak

kandungnya melainkan anak yang dipungut oleh awak perahu kapalnya di tengah Selat Bali.

Mendengar cerita Nyai Ageng, Sunan Ampel datang ke Gresik untuk melihat peti yang dulu

digunakan membuang Jaka Samudra. Melihat peti tersebut Sunan Ampel semakin yakin

kalau Jaka Samudra adalah putra Syekh Maulana Ishak. Sesuai pesan Syekh Maulana Ishak,

nama Jaka Samudra pun diganti menjadi Raden Paku.

Beberapa tahun kemudian, Raden Paku atau Jaka Samudra tumbuh menjadi seorang

temaja yang sangat tampan dan berhati baik. Dia sangat akrab dengan teman-temannya,

lebih-lebih dengan putra Sunan Ampel yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya

bagai saudara kandung, saling menyayangi dan saling mengingatkan. Setelah berusia enam

belas tahun, Sunan Ampel memanggil mereka.

"Hai Anakku berdua, sekarang sudah saatnya kalian menimba ilmu yang lebih tinggi ke

negeri Pasai. Di sana ada seorang ulama besar bergelar Syekh Awwalul Islam atau Syekh

Maulana Ishak, temuilah dia dan minta petunjuk kepadanya,”

200

Sunan Ampel tidak memberitahukan siapa sebenarnya yang mereka cari, yang tidak lain

adalah ayah kandung Raden Paku. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, kedua pemuda itu

berangkat menuju Pasai. Tidak lama kemudian mereka pun tiba di Pasai. Kedatangannya

disambut gembira oleh Syekh Maulana Ishak. Raden Paku menceritakan perjalanan hidupnya

sewaktu masih bayi hingga diangkat anak oleh Nyai Ageng Pinatih dan berguru kepada

Sunan Ampel. Syekh Maulana Ishak pun menceritakan perjalanannya ketika menyebarkan

agama Islam hingga ke Blambangan dan bertemu dengan istrinya. Karena suatu hal Syekh

Maulana terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang mengandung. Raden Paku menangis

mendengar cerita ayahnya dan memikirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang. Raden Paku

bersumpah akan membalas perbuatan orang-orang terhadap keluarganya. Akan tetapi, Syekh

Maulana Ishak dapat meredakan kemarahan Raden Paku.

“Anakku, kita boleh saja membalas perbuatan jahat seseorang, tetapi memberi maaf itu

lebih baik.” Karena nasihat ayahnya itu, Raden Paku mengurungkan niatnya untuk membalas

dendam.

Setelah dianggap cukup mendalami pelajaran agama, Raden Paku diizinkan kembali ke

Jawa. Maulana Ishak memberi bungkusan kain putih yang isinya tanah dan berpesan agar

Raden Paku mencari tanah yang memiliki bau sama untuk mendirikan pesantren.

Kedua pemuda itu meninggalkan Pasai menuju Pulau Jawa. Raden Paku menceritakan

pertemuannya dengan ayahnya, Maulana Ishak, kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel pun

merasa lega karena tujuannya tercapai.

"Anakku Raden Paku, karena sudah cukup engkau menimba ilmu, sudah waktunya

engkau kembali ke Gresik membantu ibumu sambil menyebarkan agama Islam.”

"Baiklah Kiai, Ananda mengikuti nasihat Kiai. Ananda mohon doa restu.”

Pada usia 23 tahun Raden Paku disuruh ibunya, Nyai Ageng Pinatih, mengawal barang

dagangan ke Banjarmasin. Nakhoda kapal diserahkan kepada Abu Hurariah. Tugas itu

dilaksanakan dengan senang hati dan mereka pun berangkat meninggalkan Pelabuhan Gresik

menuju Kalimantan, Biasanya, dagangan yang dibawa dari Gresik habis terjual dan

pulangnya membawa kembali barang dagangan yang dibutuhkan di Jawa. Akan tetapi,

setelah kapal merapat di Pelabuhan Banjar, Raden Paku tidak langsung menjual

dagangannya, tapi membagi-bagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Kebetulan

saat itu di daerah tersebut sedang dilanda bencana. Abu Hurariah merasa cemas. “Raden, kita

akan mendapat murka dari Nyai Ageng. Mengapa barang dagangan dibagi cuma-cuma

kepada penduduk?”

“Jangan khawatir Paman, penduduk Banjar lagi dilanda musibah, ibu tidak akan marah

karena kita sudah banyak mengambil keuntungan dari mereka. Sudah waktunya ibu

membersihkan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka, Paman jangan khawatir,”

jawab Raden Paku dengan tenangnya. "Supaya kapal tidak oleng, isilah karung-karung itu

dengan batu dan pasir, Paman.”

“Baiklah Raden.”

Para awak kapal pun mengikuti saran Raden Paku. Setelah melakukan perjalanan yang

cukup jauh, tibalah mereka di Pelabuhan Gresik. Abu Hurariah menceritakan apa yang

dilakukan Raden Paku kepada Nyai Ageng Pinatih. Hal itu membuat Nyai Ageng Pinatih

marah dan memanggil Raden Paku.

“Apa yang kamu lakukan Anakku, apakah betul yang diceritakan Abu Hurariah?”

204

' Raden Paku dengan tenang berkata, “Ibu jangan marah dulu, lihatlah isi karung-karung

itu.”

“Bukankah isinya batu dan pasir?” tanya Nyai Ageng Pinatih dengan nada tinggi sambil

mengeluarkan isi karung-karung itu. Betapa kagetnya Nyai Ageng Pinatih karena karung-

karung itu berisi barang dagangan yang biasa dibawa dari Kalimantan, seperti damar, karet,

dan rotan. Jumlahnya pun lebih besar dari yang diberikan kepada penduduk setempat

sehingga membuat Nyai Ageng bahagia.

Beberapa tahun kemudian, Raden Paku ingin berkunjung ke Pesantren Ampeldenta.

Dalam perjalanan, ia melewati pekarangan rumah Ki Ageng Bungkul, seorang bangsawan

keturunan Raja Majapahit, Tiba-tiba kepalanya kejatuhan buah delima yang tumbuh di

halaman rumah Ki Ageng Bungkul. Kejadian itu dilihat oleh Ki Ageng Bungkul yang

kemudian mencegatnya.

“Hai, siapa kamu. Kamu harus menikahi putriku, Dewi Wardah.”

“Apa? Menikah dengan putrimu? Aku tidak kenal putrimu.”

Raden Paku pun terkejut melihat sikap Ki Ageng Bungkul yang tiba-tiba berkata

demikian. Ternyata, Ki Ageng Bungkul sedang mengadakan sayembara yang menyatakan

barang siapa dapat menjatuhkan buah delima itu dengan selamat, akan dinikahkan dengan

putrinya.

Ucapan Ki Ageng Bungkul membuat bingung Raden Paku karena ia sudah bertunangan

dengan Dewi Murtasiah, putri Sunan Ampel. Raden Paku tidak dapat berbuat banyak dan ia

diberi waktu tiga hari untuk memberi jawaban.

Setibanya di Ampeldenta, Raden Paku menceritakan peristiwa tersebut. Di luar

dugaannya, Sunan Ampel menanggapinya dengan tenang.

“Raden, nikahilah gadis itu!”

“Bagaimana saya bisa menikahi perempuan yang tidak saya cintai, Kiai, bahkan kenal

pun tidak?"

“Raden jangan takut karena memang sudah takdir Raden memiliki dua istri."

“Bagaimana dengan Dewi Murtasiah?”

“Baiklah Kiai, perintah Kiai akan Ananda laksanakan,"

Setelah menikah, kehidupan Raden Paku sangat rukun dan bahagia dengan kedua

istrinya. Raden Paku semakin giat berdagang sambil menyebarkan agama Islam. Semakin

hari semakin banyak orang datang mohon wejangan-wejangannya, Karena pekarangan

rumahnya sudah tidak cukup lagi menampung tamu yang datang, Raden Paku memutuskan

mendirikan pesantren dengan mohon izin kepada ibu dan kedua istrinya,

Berkat restu dari orang-orang yang menyayanginya, Raden Paku melaksanakan pesan

ayahnya, Dengan membawa bungkusan tanah pemberian ayahnya, Raden Paku mengembara

mencari tanah yang memiliki bau yang sama dengan tanah yang ada dalam bungkusan

tersebut. Akhirnya sampailah Raden Paku di Desa Marganoto, di daerah perbukitan yang

hawanya sangat sejuk. Raden Paku mengeluarkan tanah dalam bungkusan lalu

mencocokannya dengan daerah tanah pebukitan tersebut. Ternyata bau tanah dalam

bungkusan sama dengan bau tanah di daerah tersebut. Akhirnya Raden Paku memutuskan

mendirikan pesantren di daerah perbukitan itu. Karena berada di daerah tinggi dan berbukit-

bukit, pesantren itu diberi nama Pesantren Giri. Pesantren itu dipimpin langsung oleh Raden

Paku sehingga Raden Paku mendapat sebutan Sunan Giri.

202


Story DNA

Moral

With divine guidance and unwavering faith, one can overcome adversity and fulfill their destined purpose, bringing light and guidance to others.

Plot Summary

In Blambangan, Maulana Ishak cures a plague and marries Princess Dewi Sekardadu, but his Islamic teachings provoke the king, leading to his departure and the abandonment of their infant son at sea. The baby, Jaka Samudra, is adopted by a wealthy merchant, Nyai Ageng Pinatih, and raised with devotion. Later, under the tutelage of Sunan Ampel, Jaka Samudra's true identity as Raden Paku is revealed, and he reunites with his biological father, Maulana Ishak, who tasks him with finding a specific land to build a pesantren. After demonstrating wisdom and compassion through miraculous events, Raden Paku finds the destined location, establishes Pesantren Giri, and becomes the revered Sunan Giri, fulfilling his destiny as a spiritual leader.

Themes

faith and devotiondestiny and divine interventionperseverance and wisdomcompassion and leadership

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: rule of three (e.g., three days to decide on marriage), divine intervention as plot device

Narrative Elements

Conflict: person vs society
Ending: moral justice
Magic: miraculous healing of plague and illness, divine intervention in ship movement, glowing aura around a person, miraculous transformation of goods (stones/sand into valuable commodities), prophetic events (falling pomegranate, destined marriages)
the chest (symbol of abandonment and destiny)the sacred soil (symbol of divine guidance and destiny)the glowing aura (symbol of spiritual enlightenment and chosen status)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial (likely 15th-16th century, during the spread of Islam in Java)

The story is a legendary account of Sunan Giri, one of the Wali Songo, who played a crucial role in the Islamization of Java. While the specific events are legendary, the figures like Sunan Ampel and Sunan Giri are historical. The narrative reflects the syncretic nature of early Islamic spread in Java, often incorporating existing beliefs and social structures.

Plot Beats (14)

  1. Prabu Menak Sembuyu of Blambangan faces a plague and his daughter's illness.
  2. Maulana Ishak cures the princess and the plague, marries Dewi Sekardadu, and begins spreading Islam.
  3. The king, influenced by Patih Bajul Sengara, becomes hostile towards Maulana Ishak, forcing him to leave Blambangan.
  4. Dewi Sekardadu gives birth to a son, but the king, again influenced by the Patih, orders the baby to be cast into the sea in a chest.
  5. A merchant ship finds the chest at sea; the ship cannot move until the chest is retrieved, and then it can only return to Gresik.
  6. Nyai Ageng Pinatih, a wealthy merchant in Gresik, adopts the baby, names him Jaka Samudra, and raises him as her own.
  7. Jaka Samudra, at age eleven, is sent to study with Sunan Ampel, who recognizes his extraordinary intellect and piety.
  8. Sunan Ampel discovers Jaka Samudra's true identity through a glowing aura and a tied sarong, confirming it with Nyai Ageng Pinatih and the chest, renaming him Raden Paku.
  9. Raden Paku and Raden Makdum Ibrahim travel to Pasai to study with Syekh Maulana Ishak (Raden Paku's biological father), who advises Raden Paku against revenge.
  10. Maulana Ishak gives Raden Paku a sample of soil and instructs him to find a matching location to establish a pesantren.
  11. Raden Paku returns to Java, is sent on a trading voyage to Banjarmasin, and generously distributes goods to the needy, which miraculously replenish and transform into valuable items.
  12. Raden Paku encounters Ki Ageng Bungkul, is forced into a second marriage due to a prophecy, and Sunan Ampel approves, stating it is his destiny.
  13. Raden Paku searches for the land matching his father's soil sample and finds it in Marganoto, establishing Pesantren Giri.
  14. Raden Paku becomes known as Sunan Giri, leading his pesantren and spreading Islam, fulfilling his divine purpose.

Characters

👤

Prabu Menak Sembuyu

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a powerful king.

Attire: Royal attire, befitting a king of Blambangan.

A king's crown and regal garments.

Worried, easily swayed, cruel (towards the infant Jaka Samudra).

👤

Dewi Sekardadu

human young adult female

None explicitly mentioned, but described as a princess.

Attire: Princess attire, likely traditional Javanese dress.

A princess in traditional Javanese dress, looking sorrowful.

Distressed, loving (towards her child), sorrowful.

👤

Maulana Ishak

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Simple, traditional Islamic attire suitable for a religious scholar and preacher.

A man in simple Islamic attire, holding a holy book or prayer beads.

Devout, determined, wise, compassionate.

👤

Patih Bajul Sengara

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Attire of a high-ranking court official or Patih in Javanese kingdom.

A cunning-looking court official whispering into the king's ear.

Manipulative, envious, malicious.

👤

Jaka Samudra

human infant, then child, then young adult male

Very handsome as an infant, grows into a very handsome young man.

Attire: Starts as an infant in a chest, then simple clothing as a child, later more scholarly or princely attire.

A young man with a serene expression, holding a white cloth containing soil.

Pious, devoted, intelligent, kind, compassionate, wise.

👤

Nyai Ageng Pinatih

human adult female

None explicitly mentioned, described as a rich widow.

Attire: Elegant but modest traditional Javanese dress, befitting a wealthy merchant.

A wealthy woman in traditional Javanese attire, embracing a young boy.

Kind, loving, generous, initially short-tempered but understanding.

👤

Sunan Ampel

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a respected religious leader.

Attire: Simple, traditional Islamic attire suitable for a religious scholar and teacher.

A wise religious teacher with a calm demeanor, observing his students.

Wise, insightful, compassionate, strategic, patient.

👤

Ki Ageng Bungkul

human adult male

None explicitly mentioned, described as a nobleman.

Attire: Attire of a Javanese nobleman.

A nobleman pointing towards a pomegranate tree.

Determined, traditional, somewhat impulsive (with the sayembara).

Locations

Kerajaan Blambangan (Istana)

indoor Implied to be a time of plague and distress, then later a time of joy and sorrow.

The royal palace of Blambangan, where Prabu Menak Sembuyu and his queen reside. It is a place of both joy and sorrow, witnessing the birth of a grandson and the subsequent cruel decision to cast him away.

Mood: Initially one of despair due to illness and plague, then joy at the birth of a child, quickly followed by sorrow and cruelty.

Dewi Sekardadu gives birth to a son, who is then cruelly ordered to be cast into the sea by Prabu Menak Sembuyu, influenced by Patih Bajul Sengara.

Royal chambers Throne room Palace grounds

Laut (The Sea)

outdoor Implied to be calm enough for a chest to float, but also capable of carrying it far.

The vast, open sea where the infant Jaka Samudra is cast adrift in a chest. It is a place of both danger and miraculous survival, connecting different lands.

Mood: Initially one of abandonment and peril, then miraculous journey and discovery.

The infant Jaka Samudra is abandoned in a chest at sea, later to be found by a merchant ship.

Wooden chest Ocean waves Merchant ship

Pesantren Ampeldenta, Surabaya

indoor varies, including night for tahajud prayer Varies, but generally stable for daily studies.

A bustling Islamic boarding school led by Sunan Ampel, where Jaka Samudra (Raden Paku) receives his religious education. It is a place of learning, spiritual growth, and significant revelations.

Mood: Scholarly, spiritual, disciplined, and eventually revelatory.

Jaka Samudra studies here, his true identity is revealed by Sunan Ampel, and he receives important advice regarding his future and marriage.

Dormitories (asrama) Prayer hall Study rooms Sunan Ampel's quarters

Daerah Perbukitan Marganoto (Pesantren Giri)

outdoor day Cool air, implying a pleasant climate suitable for settlement.

A cool, hilly area in Marganoto village, where Raden Paku finds soil matching his father's sample. This becomes the site for his new pesantren, which he names Pesantren Giri.

Mood: Serene, destined, foundational, spiritual.

Raden Paku establishes Pesantren Giri after finding the fated soil, fulfilling his father's prophecy and becoming Sunan Giri.

Hilly terrain Soil Future pesantren buildings