Aryo Menak Sanoyo
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Aryo Menak Sanoyo
ada zaman dahulu, di sebuah dusun terpencil hiduplah seorang pemuda tampan. Ia
bemama Ki Aryo Menak Sanoyo, putra bungsu Raja Majapahit dari selirnya yang
bemama Hendang Sasmitapura dari Gunung Ringgit, Lumajang. Semasa kecil, ia
dititipkan pada saudaranya yang menjadi Raja Palembang. Aryo Dillah namanya. Memasuki
usia dewasa, Aryo Menak Sanoyo diperintah ayahandanya mengembangkan pemerintahan
Majapahit di daerah Madura, tepatnya di daerah Proppo.
Kala itu, Madura masih berupa hutan lebat. Bermacam-macam binatang buas dan
berbisa berkeliaran di mana-mana. Pohon-pohon liar, semak belukar, dan rawa-rawa juga ada
di mana-mana. Sebelum menemukan tempat yang dituju, Ki Aryo Menak Sanoyo mencoba
merambah hutan dan belukar yang ada di Madura sampai pada akhirnya, dia menemukan
tempat yang cocok untuk membangun daerah pengembangan pemerintahan Majapahit. Di
tempat itulah, Ki Aryo Menak Sanoyo mengumpulkan para sesepuh dan pemuka adat untuk
membentuk suatu pemerintahan. Karena sifat-sifatnya yang bijaksana dan budi pekertinya
yang baik, dia diterima oleh masyarakat setempat. Akhirnya, dia diangkat sebagai sesepuh
dan penguasa di tempat itu. Karena tempat itu merupakan perkumpulan para seppuh (seppuh
dalam bahasa Madura - seppo), tempat itu kini dikenal dengan nama Desa Proppo.
Pada suatu malam, Aryo Menak Sanoyo tersesat di dalam hutan. Ia beristirahat di bawah
pohon besar. Karena merasa lelah, dia tidak mampu menahan hawa ngantuk. Ketika matanya
hampir terlelap, dia mendengar suara gadis-gadis sedang bersenda gurau. Ketika itu tepat
pada purnama keempat belas. Ki Aryo Menak Sanoyo mengendap-endap mendekati sebuah
telaga (Empang Sarasido), tempat gadis-gadis sedang bersenda gurau. Di telaga tersebut ada
beberapa gadis sedang mandi. Kecantikan dan kemolekan tubuh para gadis yang sedang
menikmati malam purnama itu memancar karena terkena cahaya bulan yang kemilau.
Ki Aryo Menak Sanoyo berjalan berjingkat-jingkat mendekati telaga. Dia bersembunyi
di balik sebuah pohon besar. Kecantikan gadis-gadis itu membuat hati Aryo Menak Sanoyo
tergelitik untuk menggodanya. Dengan mengendap-endap, dia mengambil selendang milik
salah seorang gadis. Selendang tersebut kemudian disembunyikan dibalik bajunya. Ki Aryo
Menak Sanoyo rupanya belum merasa menggoda para gadis. Dia juga melempari telaga
dengan batu kecil. Gadis-gadis itu merasa terusik kesenangannya sehingga segera mengambil
bajunya dan terbang ke angkasa.
Betapa terkejutnya Ki Aryo Menak Sanoyo ketika mengetahui bahwa gadis-gadis itu
tidak lain adalah bidadari yang turun dari kayangan, Dia melihat satu per satu bidadari itu
terbang ke angkasa. Seorang gadis menangis sendirian di tepi telaga, ditinggal saudara-
saudaranya kembali ke kayangan. Gadis itu tidak dapat terbang karena baju dan selendangnya
disembunyikan oleh Ki Aryo Menak Sanoyo.
Ki Aryo Menak Sanoyo mendekati gadis itu kemudian menyapanya dengan santun,
“Wahai Putri cantik, mengapa engkau menangis seorang diri di telaga ini?”
213
Bidadari itu tidak menyahut. Dia hanya menenggelamkan sebagian tubuhnya ke telaga.
Ia malu karena belum mengenakan busana. Setelah tinggal bagian leher dan kepala yang
terlihat, putri itu menjawab, “Aku ditinggal saudara-saudaraku kembali ke kayangan. Aku
tidak bisa kembali karena baju dan selendangku hilang... Apa..apakah Kakak bisa
membantuku?”
“Sebelum aku membantumu, bolehkan aku tahu siapa dirimu dan dari mana asalmu?”
tanya Ki Aryo Menak Sanoyo.
“Na,,.na...namaku Ni Peri Tanjungwulan. Aku berasal dari kayangan. Tadi aku mandi di
sini dengan saudara-saudaraku. Tiba-tiba ada orang melempar telaga dengan batu kecil. Kami
tidak ingin diketahui manusia, jadi segera mengambil baju. Tapi...tapi...aku tidak bisa ikut
mereka karena baju dan selendangku tidak ada,” katanya sambil tertunduk sedih.
Mendengar penjelasan Tanjungwulan, Ki Aryo Menak Sanoyo berlagak seperti seorang
pahlawan, katanya, “Aduh kasihan sekali putri yang cantik. Jika aku dapat membantu
mendapatkan selendangmu, apa kau mau berjanji padaku?"
“Apa pun permintaan Kakak akan saya turuti,” jawab Ni Peri Tanjungwulan pasrah.
Wajahnya masih memperlihatkan rasa sedih karena terpisah dari saudara-saudaranya.
“Benarkah? Kau tidak akan menyesal?” tanya Ki Aryo Menak Sanoyo.
“Jika Kakak tahu di mana baju dan selendangku, cepat berikan padaku. Aku sudah tidak
tahan...dingin sekali...,” kata Ni Peri Tanjungwulan memohon.
“Tapi kau janji memenuhi permintaanku ya...sebentar aku cari dulu...,” kata Ki Menak
Sanoyo sambil beranjak dari tepi telaga. Ia berpura-pura mencari di semak-semak dan
pepohonan kemudian menjauh dari telaga. Ia mengambil baju dan selendang yang telah ia
sembunyikan sebelumnya. Dengan berpura-pura terkejut dan gembira, Ki Aryo Menak
Sanoyo bergegas menemui Putri Ni Peri Tunjungwulan yang sedang menanti dengan
perasaan cemas.
“Inikah baju dan selendangmu yang hilang?” tanya Ki Aryo Menak Sanoyo sambil
memberikan pakaiannya kepada Tanjungwulan. Ki Aryo Menak Sanoyo membalikkan
badannya sambil menjauh agar Ni Peri Tanjungwulan berani keluar dari telaga untuk
mengenakan bajunya.
“Terima kasih Kakak sudah membantuku. Sekarang, apa permintaan Kakak?” tanya Ni
Peri Tanjungwulan setelah selesai berpakaian.
“Begini...” kata Ki Aryo Menak Sanoyo sambil menatap Ni Peri Tanjungwulan. “Aku
“Ta...ta...ta...pi...Kakak...,”
“Bukankah kau sudah berjanji akan memenuhi permintaanku. Selendang ini akan
kusimpan. Bukankah kau tidak akan bisa kembali ke kayangan tanpa selendang ini?”
“Ba...ba...baiklah Kakak. Aku bersedia menjadi istrimu dan ikut ke mana pun kau
pergi,” jawab Ni Peri Tanjungwulan menyerah karena tanpa selendang itu, ia memang tidak
akan bisa terbang kembali ke kayangan.
Singkat cerita, Ni Peri Tanjungwulan akhirnya menjadi istri Ki Aryo Menak Sanoyo. Ia
hidup bahagia di daerah Proppo. Kehidupan keluarganya sangat tenteram, bahkan
pemerintahan di daerah Proppo semakin maju. Keadaan masyarakatnya makmur dan
pertanian sangat subur. Padi, jagung, dan ketela semakin banyak, bahkan lumbung-lumbung
padi semakin penuh termasuk lumbung padi miliki Ki Aryo Menak Sanoyo. Kebahagiaan
semakin lengkap tatkala lahir dua anak, yaitu Aryo Pojok dan Ki Aryo Kedot.
214
Ni Peri Tanjungwulan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita mana pun,
yaitu pada saat menanak nasi. Ia hanya membutuhkan sebutir gabah saja untuk mencukupi
kebutuhan keluarganya sehari-hari. Karena keistimewaan itulah, harta Ki Aryo Menak
Sanoyo semakin hari semakin menumpuk.
Ki Aryo Menak Sanoyo sangat heran melihat kelebihan istrinya, tetapi tidak berani
bertanya karena istrinya selalu melarang dia masuk ke dapur dan membantunya memasak.
Pada suatu hari, Ni Peri Tanjungwulan hendak mencuci pakaian di sungai yang cukup jauh
dari rumahnya. Seperti biasa, Ni Peri Tanjungwulan berpesan kepada Ki Aryo Menak
Sanoyo.
”Kakanda, cucianku sangat banyak. Aku harus mencuci ke sungai. Selama aku pergi,
janganlah Kakanda mendekati dapur apalagi sampai membuka dandang tempatku menanak
nasi"
"Mengapa Dinda? Sungai itu cukup jauh, bagaimana kalau air dalam dandang habis
sebelum Dinda pulang? Nanti dandangnya gosong," tanya Ki Aryo Menak Sanoyo terheran-
heran.
”Tidak...tidak..akan terjadi apa-apa. Percayalah pada Dinda. Janganlah Kakanda
mendekati dapur. Sekarang Dinda pamit ke sungai,” kata Ni Peri Tanjungwulan berlalu
sambil membawa rinjing penuh baju kotor.
"Baiklah Dinda," jawab Ki Aryo Menak Sanoyo. Di dalam hatinya, Ki Aryo Menak
Sanoyo semakin penasaran, mengapa istrinya selalu melarangnya untuk membantu di dapur.
Setelah sekian lama memendam rasa ingin tahu, timbul niat untuk pergi ke dapur melihat-
lihat apa yang terjadi di sana.
Selagi istrinya masih di sungai, Ki Aryo Menak Sanoyo pergi ke dapur, Ia ingin
mengetahui apakah nasinya sudah masak atau belum. Betapa terkejut Ki Aryo Menak Sanoyo
ketika mengetahui bahwa istrinya hanya menanak sebutir beras saja. Dia langsung menutup
kembali kukusan di atas dandang yang dibukanya. Dia seolah-olah tidak pernah melihat apa-
apa dan kembali melajutkan aktivitasnya.
Selesai mencuci pakaian, Ni Peri Tanjungwulan segera menuju dapur. Ia ingin
mengetahui apakah nasinya sudah masak atau belum, Ia sangat terkejut ketika dilihatnya
sebutir gabah yang ditanaknya tidak berubah seperti biasanya. Hatinya sangat sedih. Ia yakin
bahwa suaminya telah mengetahui rahasia pribadinya. Pekerjaan berat mulai terbayang di
benaknya karena dari kejadian itulah dia harus bekerja seperti kebiasaan masyarakat pada
umumnya. Dia harus menumbuk padi terlebih dahulu jika ingin menanak nasi, Namun saat
bekerja, para pembantunya meringankan pekerjaan Ni Peri Tanjungwulan, majikannya.
Semakin hari, padi di lumbungnya semakin menipis.
Pada suatu hari, Ni Peri Tanjungwulan menemukan selendangnya di salah satu sudut
lumbung padinya. Hatinya sangat gembira. Dengan cekatan, ia mengambil selendang yang
terletak di balik tumpukan padi, lalu mencobanya. Seketika itu, ia merasa tubuhnya sangat
ringan. Tanpa sepengetahuan suaminya, ia melatih diri terbang dari pohon satu ke pohon yang
lainnya.
Setelah selendangnya ia temukan, timbul niat Ni Peri Tanjungwulan untuk kembali ke
kayangan berkumpul dengan keluarga yang sudah lama ditinggalkan, Ketika itu, Ki Aryo
Menak Sanoyo sedang menggendong Aryo Kedot, putranya. Ni Peri Tanjungwulan pergi
untuk berpamitan. Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah lama mengabdi kepada Ki Aryo. Dia
juga telah lama mengabdi pada kehidupan manusia bahkan telah memberi keturunan. Anak-
215
anaknya kelak akan memerintah di Pulau Madura. Ia juga berpesan, ”Kakanda, jika nanti
anak-anakku menangis dan merindukanku, bawalah mereka ke tempat ini. Aku akan datang.”
”Dinda, benarkah kau akan meninggalkan Kanda dan anak-anak kita? Tidakkah Dinda
mencintaiku dan anak-anak kita?” tanya Ki Aryo Menak Sanoyo sambil menggendong putra
bungsunya. Wajahnya terlihat sangat sedih.
”Kakanda, maafkan Dinda. Bukan Dinda hendak membuat Kakanda dan anak-anak
sedih, tapi takdir kebersamaan kita hanya sampai di sini. Kakanda sudah melanggar pesanku,”
kata Ni Peri Tanjungwulan.
"Ta..ta...ta..pi....”
”Kakanda jangan bersedih, tolong jaga dan rawat anak-anak kita. Dinda mohon pamit
kembali ke kayangan,” kata Ni Peri Tanjungwulan sambil melayang ke angkasa. Ia pergi
meninggalkan Ki Aryo Menak Sanoyo yang berdiri terpaku menyesali perbuatannya
melanggar pesan istrinya.
Kini Ki Aryo Menak Sanoyo merasa benar-benar ditinggal oleh istri tercintanya. Setiap
hari, dia harus mengasuh kedua putranya yang masih kecil. Tatkala putranya menangis, ia
membawanya ke tempat terakhir ia berpisah dengan istrinya. Di tempat itu, ia lalu meletakkan
putranya. Beberapa Jama kemudian, ia segera mengambilnya kembali. Konon, di tempat itu
Ni Peri Tanjungwulan masih sempat merawat putra-putranya sampai besar.
Diceritakan pula bahwa dari dua keturunan Ki Aryo Menak Sanoyo yang tersisa
hanyalah Aryo Pojok, sedangkan Aryo Kedot meninggal sewaktu kecil. Ketika Aryo Pojok
memasuki usia dewasa, Ki Aryo Menak Sanoyo merasa tidak kerasan di daerah Proppo.
Kenangan manis bersama Ni Peri Tanjungwulan sangat memilukan hatinya. Ia pun lalu
meninggalkan putranya seorang diri. Ki Aryo Menak Sanoyo pergi meninggalkan daerah
Proppo menuju Gunung Ringgit di Lumajang, tempat tinggal ibunya.
Singkat cerita, akhirnya Aryo Pojok menikah dengan salah satu keturunan Lembu
Peteng dari daerah Sampang. Putra-putra Aryo Pojoklah yanfakhirnya menjadi penguasa di
daerah Madura, khususnya Madura Barat.
216
Story DNA
Moral
Unchecked curiosity and the violation of trust can lead to irreversible loss and sorrow.
Plot Summary
Aryo Menak Sanoyo, a prince, establishes a new settlement in Madura. He encounters bathing bidadari, steals one's scarf, and tricks her, Ni Peri Tanjungwulan, into marrying him. They live prosperously with two sons, thanks to Tanjungwulan's magical ability to cook rice from a single grain, a secret she forbids him from discovering. Driven by curiosity, Aryo disobeys her, breaking the magic. Tanjungwulan, finding her hidden scarf, realizes her trust has been violated and returns to the heavens, leaving a heartbroken Aryo to raise their sons, one of whom dies. Aryo, filled with regret, eventually abandons his surviving son, who then establishes a ruling lineage in Madura.
Themes
Emotional Arc
hope to sorrow
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story weaves mythical elements with historical references to the Majapahit Kingdom and specific regions in Indonesia, suggesting a legendary origin for local rulers.
Plot Beats (14)
- Aryo Menak Sanoyo, a Majapahit prince, is sent to develop the Proppo region in Madura, where he establishes a wise leadership.
- Lost in the forest, Aryo Menak Sanoyo observes bidadari bathing in a lake and, out of mischief, steals one's scarf.
- The bidadari, Ni Peri Tanjungwulan, is left behind, unable to fly without her scarf.
- Aryo Menak Sanoyo approaches Tanjungwulan, feigns ignorance, and offers to help her find her scarf in exchange for a promise.
- Tanjungwulan, desperate, promises to fulfill his request, and Aryo 'finds' her scarf, leading to their marriage.
- They live prosperously in Proppo, have two sons (Aryo Pojok and Ki Aryo Kedot), and Tanjungwulan's magic allows her to cook rice from a single grain.
- Tanjungwulan repeatedly warns Aryo not to enter the kitchen or open the rice pot while she is away.
- Driven by curiosity, Aryo disobeys his wife's warning and discovers her magical cooking method, breaking the spell.
- Tanjungwulan returns, finds her magic broken, and realizes Aryo has betrayed her trust.
- Tanjungwulan later finds her hidden scarf, practices flying, and decides to return to the heavens.
- Tanjungwulan bids farewell to Aryo and their sons, explaining that his broken promise necessitates her departure, and gives instructions for their children.
- Aryo Menak Sanoyo is left heartbroken and regretful, raising his sons alone.
- Aryo Kedot dies young, and Aryo Menak Sanoyo, unable to bear the memories, leaves Proppo and his son Aryo Pojok.
- Aryo Pojok marries into a local lineage, and his descendants become rulers of West Madura.
Characters
Ki Aryo Menak Sanoyo
tampan (handsome)
Attire: period-appropriate Javanese/Madurese noble attire, likely including a batik shirt or jacket and sarong
wise, good-natured, curious, regretful
Ni Peri Tanjungwulan
beautiful and graceful, with a body that radiates light under moonlight
Attire: celestial garments, specifically a selendang (shawl/sash) that grants flight; later, period-appropriate Javanese/Madurese women's clothing
modest, submissive, resourceful, loving, sorrowful
Aryo Dillah
unknown
Attire: royal attire of Palembang
unknown
Aryo Pojok
unknown
Attire: child's clothing, later Javanese/Madurese noble attire
unknown
Aryo Kedot
unknown
Attire: child's clothing
unknown
Locations
Madura Forest (Proppo area)
A dense, wild forest in Madura, filled with various wild and venomous animals, wild trees, bushes, and swamps. Later cleared to become a suitable place for government development.
Mood: Wild, untamed, challenging, later becoming a place of settlement and governance.
Ki Aryo Menak Sanoyo first explores and clears this area to establish a new government center, which becomes Desa Proppo.
Empang Sarasido (Telaga)
A lake or pond in the forest, where celestial nymphs bathe. Illuminated by the bright light of the fourteenth full moon.
Mood: Magical, enchanting, serene, later becoming a place of surprise and sadness.
Ki Aryo Menak Sanoyo encounters the nymphs, steals Ni Peri Tanjungwulan's shawl, and proposes to her.
Ki Aryo Menak Sanoyo's House (Proppo)
A home in Proppo, with a kitchen that Ni Peri Tanjungwulan forbids her husband from entering, and a rice barn.
Mood: Domestic, prosperous, later becoming a place of curiosity, betrayal, and eventual departure.
Ni Peri Tanjungwulan reveals her magical ability to cook rice, Ki Aryo Menak Sanoyo discovers her secret, and she later finds her shawl in the rice barn before leaving.
The River
A river located quite far from Ki Aryo Menak Sanoyo's house, where Ni Peri Tanjungwulan goes to wash clothes.
Mood: Ordinary, mundane, a place for chores.
Ni Peri Tanjungwulan goes to the river, giving Ki Aryo Menak Sanoyo the opportunity to investigate her cooking secret.