Asal Mula Desa Tiron

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story solemn Ages 8-14 1703 words 8 min read
Cover: Asal Mula Desa Tiron
Original Story 1703 words · 8 min read

Asal Mula Desa Tiron

ada waktu Perjanjian Gianti Puro antara Pangeran Mangkubumi atau Sunan

Pakubowono III dan Kompeni Belanda di Desa Gianti, Pangeran Mangkubumi

mendapat sebagian wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang letaknya di

sebelah barat Kasunanan. Wilayah timur Kabupaten Madiun termasuk di dalam kekuasaan

Pangeran Mangkubumi.

Kira-kira pada tahun 1755 M, berdirilah suatu kerajaan yang bemama kesultanan

Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun yang menjadi raja saat itu adalah Pangeran

Mangkubumi dengan gelar Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Hing Ngaloga

Sayidin Panetep Panoto Gomo Kalipatullah Amirulmukminin Tanah Jawi yang pertama (1).

Pada dasarnya, Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Hamengku Buwono mempunyai

tujuan ingin merdeka dan berdiri sendiri, tidak mau bekerja sama dengan Kompeni Belanda.

Beliau ingin menyejahterakan seluruh rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat tanpa kecuali dan

tidak meminta bantuan kepada kompeni. Maksud baik Kanjeng Sultan mendapat tantangan

dari patihnya yang bernama Patih Danurejo I karena Patih Danurejo sudah mendapat hasutan

dan bujuk rayu dari kompeni Belanda dengan tujuan untuk mengadu domba.

Dengan akal bulus Patih Danurejo, Kanjeng Sultan Hamengku Buwono dapat

dipengaruhi dan akhirnya berdatanganlah kompeni Belanda ke kesultanan. Di situ mereka

mendirikan loji-loji dan mendirikan benteng dengan alasan untuk menjaga keselamatan dan

keamanan kesultanan.

Lama-kelamaan tingkah laku kompeni Belanda semakin keterlaluan yaitu terlalu ikut

mencampuri urusan pemerintahan 'dalam kesultanan. Segala urusan pemerintahan yang

kurang cocok dengan kompeni Belanda harus diubah. Kanjeng sultan sudah tidak bisa

berbuat apa-apa karena sudah dihasut oleh Patih Danurejo I. Suasana kesultanan makin lama

makin panas karena campur tangan kompeni Belanda dan Patih Danurejo 1.

Dalam suasana yang memanas ini muncullah seorang panglima perang yang bemama

Pangeran Denowo. Panglima perang ini akan mengadakan pemberontakan terhadap

kesultanan dan kompeni Belanda dengan tujuan agar kanjeng sultan harus memutuskan

hubungannya dengan kompeni Belanda dan kompeni Belanda secepatnya meninggalkan

kesultanan Ngayogyokarto. Pangeran Denowo sebenarnya masih kerabat keraton dan pada

masa Pangeran Mangkubumi mengadakan perlawanan terhadap kompeni Belanda, Pangeran

Denowo menjadi panglima perangnya. Di dalam pertempuran melawan kompeni Belanda,

pasukan yang dipimpinnya selalu mendapat kemenangan.

Dengan jiwa dan semangat anti-Belanda inilah timbul dendam kesumat pada diri

Pangeran Denowo. Pada waktu kesultanan mengadakan pertemuan agung yang

membicarakan masalah situasi di kesultanan, Pangeran Denowo tidak hadir. Kejadian ini

lantas dimanfaatkan secara licik oleh Patih Danurejo yang sejak lama tidak senang kepada

Pangeran Denowo. Berkat pengaruh Pangeran Denowolah ambisi dia untuk menjadi

penguasa kesultanan gagal.

11

Dengan tidak hadirnya Pangeran Denowo dalam Pisowanan Agung, Patih Danurejo

menganggap Pangeran Denowo akan mbalelo dan menentang sultan karena dialah yang

selalu menghalang-halangi maksud dan tujuan kompeni Belanda untuk bekerja sama. Bagi

Patih Danurejo, menangkap dan membunuh Pangeran Denowo bukanlah perkara yang sulit.

Dia akan melapor kepada sultan bahwa Pangeran Denowo akan melakukan pemberontakan

dan sudah menyusun kekuatan untuk menggempur kesultanan. Laporan Patih Danurejo

tersebut diterima oleh sultan. Ia segera memerintah Patih Danurejo menangkap Pangeran

Denowo.

Di rumah kediamannya, Pangeran Denowo sedang mengadakan perundingan dengan

Tumenggung Singoyudo dan R.M. Gajah Sureng Pati untuk membebaskan kesultanan dari

cengkeraman kompeni Belanda. Untuk itu, disusunlah prajurit-prajurit pilihan yang setia

kepada Pangeran Denowo. Adapun pasukan pemberontak dipimpin oleh Tumenggung

Singoyudo dan dibantu oleh R.M. Gajah Sureng Pati. Pada suatu ketika terjadilah

pertempuran yang dahsyat antara pasukan Pangeran Denowo melawan pasukan kesultanan

yang dibantu oleh pasukan kompeni Belanda. Di dalam pertempuran itu pasukan Pangeran

Denowo dapat dipukul mundur bahkan pasukannya kocar-kacir hingga Pangeran Denowo

dan Tumenggung Singoyudo melarikan diri ke Kabupaten Madiun.

Walaupun demikian, Pangeran Denowo masih sempat memberikan komando pada anak

buahnya supaya mengadakan perlawanan secara tersembunyi. Dia akan meminta bantuan

kepada Bupati Madiun karena setelah perjanjian Gianti Puro, Bupati Madiun tidak senang

kepada sultan. Bupati Madiun adalah bupati yang paling menentang kehadiran kompeni

Belanda. Pada waktu perang Mangkubumen berkobar, Bupati Madiun mengirimkan bala

bantuan para prajuritnya dan bahan makanan. Sewaktu kesultanan ada ontran-ontran yang

menjadi Bupati Madiun adalah Tumenggung Pangeran Mangkudipuro.

Sikap bupati yang demikian sudah lama diketahui oleh pangeran, maka setelah

pasukannya dapat dipukul mundur oleh pasukan kesultanan, dia lari minta bantuan kepada

Bupati Madiun. Untuk mengelabui dan menghindar pengejaran dari pasukan kompeni

Belanda. Pangeran Denowo menyamar sebagai orang sudra dan berangkat menuju ke

wilayah Kabupaten Madiun. Wilayah Kabupaten Madiun sebelah utara pada waktu itu masih

berupa hutan ilalang dan semak belukar. Walaupun demikian, ada sebuah desa yaitu Desa

Gedangan. Status desa tersebut adalah kademangan. Maka desa tersebut dinamakan

Kademangan Gedangan. Adapun yang menjadi demang adalah Demang Citro Sudarmo. Ki

Demang mempunyai anak bemama Endang Palupi. Kedatangan Pangeran Denowo dan

Singoyudo yang berpakaian sudra tidak masuk ke Kabupaten Madiun tetapi masuk ke

Kademangan Gedangan. Keduanya akan ikut Ki Demgng dan dijadikan pembantu Ki

Demang. Lama-kelamaan antara Pangeran Denowo dan Endang Palupi ada hubungan cinta.

Hubungan cinta kedua pihak diketahui oleh Ki Demang yang membuatnya murka

sehingga Pangeran Denowo dicaci maki karena dianggap tidak pantas seorang buruh

menjalin cinta dengan anak Demang. Pangeran Denowo akhirnya membuka jati dirinya.

Mengetahui bahwa orang yang dianggap buruh itu adalah panglima perang dari kesultanan

Ngayogyakarta Hadiningrat, Ki Demang serta merta berlutut mohon ampun.

Pangeran Denowo mengutarakan maksud dan tujuannya pada Ki Demang, yaitu akan

minta bantuan kepada Bupati Madiun dan sekaligus akan menyusun kekuatan di

kademangan. Pangeran akan mengumpulkan sisa-sisa laskar prajurit Pangeran Denowo yang

masih mengadakan perlawanan terhadap kompeni Belanda di mana-mana. Setelah sisa-sisa

112

laskar prajurit Pangeran Denowo terkumpul di bawah pimpinan R.M. Gajah Sureng Pati di

Kademangan, Pangeran Denowo mengumpulkan pemuda-pemuda sewilayah Kademangan

untuk dijadikan prajurit. Latihan keprajuritan dipimpin oleh R.M. Gajah Sureng Pati.

Latihan prajurit di Kademangan Gedangan itu diketahui oleh Bupati Madiun,

Tumenggung Mangku Dipuro. Ia memerintahkan salah satu prajuritnya untuk memanggil

Demang Gedangan dan pimpinan prajurit tersebut. Setelah menghadap Bupati Madiun,

Pangeran Denowo mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Biipati Madiun mengenai

pembentukan pasukan prajurit di kademangan. Pangeran Denowo juga menceritakan suasana

di kesultanan Ngayogyakarta yang saat itu sudah menjalin kerja sama dengan Kompeni

Belanda karena ulah Patih Danurejo I.

Pangeran Denowo menyatakan keinginannya urituk mengumpulkan dan menyusun

kembali kekuatan pasukannya dalam menghadapi pasukan kesultanan. Oleh sebab itu,

pembentukan prajurit Kademangan Gedangan juga akan minta bantuan prajurit-prajurit

Bupati Madiun agar dapat menghadapi pasukan kesultanan yang dibantu oleh Kompeni

Belanda.

Usul baik Pangeran Denowo akhirnya disambut gembira oleh Tumenggung Mangku

Dipuro. Beliau bersedia memberikan bantuan prajurit-prajurit Madiun untuk mendukung

upaya pemberontakan Pangeran Denowo terhadap kesultanan. Bahkan, Bupati Madiun

berjanji akan terjun langsung dalam medan pertempuran karena sejak Perjanjian Gianti Puro,

ia sudah tidak senang pada pemerintahan kesultanan yang bekerja sama dengan Kompeni

Belanda. Bupati Madiun masih terus berjuang melawan'Kompeni Belanda.

Meskipun prajurit-prajurit Pangeran Denowo dapat dikalahkan dalam peperangan,

kesultanan Ngayogyakarta tetap memburu dan mencari Pangeran Denowo. Sultan Hamengku

Buwono I menyebarkan telik sandi ke seluruh wilayah kesultanan Ngayogyakarta untuk

menemukan tempat persembunyian Pangeran Denowo. Telik sandi melaporkan bahwa

Pangeran Denowo berada di wilayah Kabupaten Madiun, tepatnya di Kademangan Gedangan

dan sudah menghimpun kembali sisa-sisa laskarnya untuk mengadakan pemberontakan yang

kedua kalinya terhadap kesultanan.

Mendengar laporan telik sandinya, Sri Sultan murka. Beliau memerintahkan Patih

Danurejo untuk segera menangkap Pangeran Denowo. Pasukan yang dipimpin Patih

Danurejo berangkat menuju Kabupaten Madiun tetapi tidak langsung menuju pendopo

kabupaten melainkan langsung menuju ke Kademangan Gedangan. Patih Danurejo bertemu

dengan Pangeran Denowo. Patih Danurejo mengutarakan maksudnya bahwa ia diutus oleh

Sultan Hamengkubuwono untuk mengajak Pangeran Denowo kembali ke kesultanan

Ngayogyakarta. Ajakan Patih Danurejo ditolak mentah-mentah oleh Pangeran Denowo. Ia

mengatakan bersedia kembali ke kesultanan apabila Sri Sultan mau membuatkan jarik

bercorak Lurik Semanggi untuknya. Mendengar permintaan Pangeran Denowo tersebut,

Patih Danurejo sangat marah karena menganggap Pangeran Denowo telah meremehkan Sri

Sultan. Akhirnya, terjadilah pertempuran yang dahsyat di wilayah Kademangan Gedangan.

Prajurit dari kesultanan tidak menyadari bahwa yang mereka hadapi tidak hanyar prajurit

kademangan saja, tetapi senopati-senopati dan prajurit Madiun.

Sebelum Patih Danurejo dan pasukan kesultanan datang ke Kabupaten Madiun,

Pangeran Denowo memang sudah mempersiapkan dapur umum, perlengkapan, minuman,

makanan yang ditempatkan di bawah pohon asam. Untuk mengingat-ingat kejadian tersebut,

113

pohon asam itu dinamai Asem Dono yang sekarang letaknya di Desa Bagi, Kecamatan

Madiun.

Pasukan kademangan dipimpin oleh panglima perang R.M. Gajah Sureng Pati dan

dibantu oleh Tumenggung Singoyudo, Dalam pertempuran itu, pasukan kesultanan

mengalami kekalahan total sehingga mereka akhirnya mundur kembali ke wilayah

kesultanan. Setiba di kesultanan, Patih Danurejo melaporkan jalannya pertempuran di

Kabupaten Madiun itu kepada Sri Sultan.

Mendengar laporan kegagalan Patih Danurejo tersebut, Sri Sultan menjadi sangat marah.

Beliau segera memerintahkan Patih Danurejo untuk minta bantuan kepada Bupati Magetan

dan Bupati Ponorogo. Kemudian berangkatlah Patih Danurejo ke Magetan dan Ponorogo

untuk meminta bantuan. Setelah bertemu dengan kedua bupati tersebut, Patih Danurejo

menyampaikan maksudnya untuk meminta bantuan prajurit guna menghancurkan pasukan

pemberontak yang berada di wilayah Kabupaten Madiun.

Kedua bupati setuju untuk memberikan bantuan dan segera berangkat dengan membawa

prajurit masing-masing. Keberangkatan kedua bupati dan prajuritnya tersebut menuju daerah

Madiun telah disadap oleh telik sandi prajurit Madiun, maka keadaan ini dilaporkan kepada

panglima perang R.M. Gajah Sureng Pati. Karena yang dihadapi ini adalah dua kabupaten

yaitu Magetan dan Ponorogo, panglima perang R.M. Gajah Sureng Pati menghubungi bupati

Madiun Tumenggung Mangku Dipuro untuk memberitahukan penyerangan kedua bupati

tersebut ke kademangan Gedangan. Mendengar laporan itu, Bupati Madiun segera

menghimpun dan memerintahkan bupati-bupati yang berada di wilayah kekuasaan Madiun

untuk menghadapi Bupati Magetan dan Ponorogo.

Pada saat itu terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat karena semua pasukan dari

kesultanan dikerahkan untuk menumpas pemberontakan Pangeran Denowo yang dibantu

prajurit Kademangan Gedangan dan Kadipaten Madiun. Di sisi lain, Pangeran Denowo juga

imengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya untuk melawan pasukan kesultanan

yang dibantu prajurit Magetan dan Ponorogo. Walaupun kuat, prajurit Magetan dan Ponorogo

tidak mampu melawan kekuatan pasukan Kademangan Gedangan dan prajurit Madiun yang

sudah dipersiapkan dengan matang.

Bupati Ponorogo dan Magetan dengan prajuritnya mengalami kekalahan telak. Karena

takut pada panglima perang kademangan, R.M. Gajah Sureng Pati, mereka lari tunggang

langgang hingga payung pusaka milik Bupati Magetan pun ditinggalkan begitu saja di bawah

pohon palem. Sebagai peringatan, panglima perang R.M. Gajah Sureng Pati kemudian

menamai daerah itu dengan nama Desa Palem Payung.

Panglima perang R.M. Gajah Sureng Pati beserta parajuritnya mengejar Bupati Magetan

dan Ponorogo, yang lari dengan para prajuritnya, sambil bersorak-sorak sebagai pertanda

kemenangan. Prajurit kesultanan yang saat itu berada di belakang pasukan Magetan dan

Ponorogo tidak tahu kalau dua bupati sekutunya itu mengalami kekalahan. Mereka

menganggap yang bersorak-sorak adalah prajurit Magetan dan Ponorogo. Oleh karena itu,

mereka turut bersorak-sorak penuh kemenangan. Kejadian ini diketahui oleh R.M. Gajah

Sureng Pati. Sebagai peringatan untuk mengingat kejadian itu, R.M. Gajah Sureng Pati

kemudian menamai daerah tersebut dengan nama Desa Tiron yang diambil dari bahasa Jawa

firu yang artinya meniru.

114


Story DNA

Moral

Even in the face of overwhelming power, resistance can lead to unexpected victories and lasting legacies.

Plot Summary

After the Gianti Treaty, the Sultanate of Ngayogyakarta Hadiningrat seeks independence, but its Patih, Danurejo I, is corrupted by the Dutch Kompeni, leading to their increasing interference. Pangeran Denowo, a loyal commander, plans resistance but is falsely accused of rebellion by Danurejo and forced to flee to Madiun. There, he rebuilds his forces with local support and the aid of Bupati Madiun. A series of battles culminates in a decisive victory for Pangeran Denowo's allies against the Sultanate and its reinforcements, leading to the naming of Desa Tiron to commemorate the ironic cheers of the defeated enemy.

Themes

resistance against oppressionloyalty and betrayalstruggle for independencethe origins of place names

Emotional Arc

betrayal to struggle to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: etiological naming (explaining place names), historical context integration

Narrative Elements

Conflict: person vs society
Ending: moral justice
the jarik bercorak Lurik Semanggi (symbol of an impossible demand/defiance)the abandoned ceremonial umbrella (symbol of defeat and haste)the name 'Tiron' (symbol of ironic victory/imitation)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: 18th century (post-Gianti Treaty)

The story is set after the Treaty of Gianti (1755), which divided the Mataram Sultanate and established the Sultanate of Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) and the Surakarta Sunanate. It reflects the historical tensions and resistance against Dutch colonial influence in Java.

Plot Beats (16)

  1. The Gianti Puro Treaty grants Pangeran Mangkubumi territory, leading to the establishment of the Ngayogyakarta Hadiningrat Sultanate in 1755, with a desire for independence from the Dutch.
  2. Patih Danurejo I, corrupted by the Dutch Kompeni, allows them to establish lodges and forts, leading to increasing Dutch interference in the Sultanate's affairs.
  3. Pangeran Denowo, a loyal panglima perang (commander) and relative, plans a rebellion against the Dutch and the compromised Sultanate.
  4. Patih Danurejo I, seeing Denowo's absence from a royal meeting as an opportunity, falsely accuses Denowo of rebellion, leading the Sultan to order his capture.
  5. Pangeran Denowo and his forces are defeated in battle by the Sultanate and Dutch Kompeni, forcing Denowo and Tumenggung Singoyudo to flee to Madiun, with Denowo disguised as a commoner.
  6. In Kademangan Gedangan, Pangeran Denowo falls in love with Endang Palupi, the daughter of Demang Citro Sudarmo, who initially scorns him for his common appearance.
  7. Pangeran Denowo reveals his true identity to Demang Citro Sudarmo, who then pledges allegiance and helps him gather remaining loyal soldiers and train new recruits.
  8. Bupati Madiun, Tumenggung Mangku Dipuro, who also opposes the Dutch-allied Sultanate, agrees to support Pangeran Denowo's rebellion with his own troops.
  9. The Sultan, informed of Denowo's regrouping, sends Patih Danurejo I to capture him in Kademangan Gedangan.
  10. Pangeran Denowo rejects Patih Danurejo's offer to return to the Sultanate, demanding an impossible condition (a specific batik pattern), leading to a fierce battle.
  11. Patih Danurejo's forces are defeated in the first battle, retreating back to the Sultanate.
  12. The Sultan, enraged, orders Patih Danurejo to seek aid from Bupati Magetan and Bupati Ponorogo.
  13. Madiun's spies learn of the approaching combined forces, and Bupati Madiun mobilizes his allied bupatis.
  14. A massive battle ensues, with the forces of Kademangan Gedangan and Madiun decisively defeating the combined Sultanate, Magetan, and Ponorogo armies.
  15. Bupati Magetan and Ponorogo flee in disarray, leaving behind a ceremonial umbrella, leading to the naming of Desa Palem Payung.
  16. Sultanate soldiers, mistaking the Madiun forces' victory shouts for their own allies, also cheer, leading R.M. Gajah Sureng Pati to name the area Desa Tiron (meaning 'to imitate').

Characters

👤

Pangeran Mangkubumi

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a powerful and respected leader.

Attire: Royal attire befitting a Javanese prince and later Sultan, possibly including traditional batik and elaborate headwear.

A Javanese prince in royal regalia, symbolizing his future as Sultan Hamengku Buwono I.

Independent, determined, visionary, anti-colonial.

👤

Patih Danurejo I

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Traditional Javanese Patih attire, possibly indicating his high rank.

A Javanese Patih with a sly, calculating expression, perhaps holding a scroll representing his reports to the Sultan.

Manipulative, treacherous, ambitious, opportunistic, easily swayed by foreign powers.

👤

Pangeran Denowo

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a strong and capable warrior.

Attire: Initially military attire as a commander, later disguises himself as a 'sudra' (commoner) in simple clothing.

A Javanese prince in simple commoner's clothing, symbolizing his disguise and resilience, perhaps with a hidden weapon.

Brave, anti-colonial, determined, loyal to his cause, strategic.

👤

Tumenggung Singoyudo

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a capable military leader.

Attire: Military attire befitting a Javanese Tumenggung.

A Javanese military commander, standing steadfastly beside Pangeran Denowo.

Loyal, brave, strategic, supportive of Pangeran Denowo.

👤

R.M. Gajah Sureng Pati

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a formidable warrior and leader.

Attire: Military attire befitting a Javanese panglima perang (war commander).

A Javanese war commander, leading his troops with a determined expression, perhaps holding a traditional Javanese weapon.

Brave, strategic, decisive, a strong leader.

👤

Ki Demang Citro Sudarmo

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a respected village head.

Attire: Traditional Javanese Demang attire, indicating his local authority.

A Javanese village head, with a stern but ultimately fair demeanor.

Protective, proud, initially judgmental, later understanding.

👤

Endang Palupi

human young adult female

Not explicitly described, but implied to be attractive enough to capture Pangeran Denowo's affection.

Attire: Traditional Javanese clothing for a young woman of her status.

A young Javanese woman, looking lovingly at Pangeran Denowo.

Loving, independent, supportive.

👤

Tumenggung Mangku Dipuro

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a strong and influential regional leader.

Attire: Regal attire befitting a Bupati (Regent) of Madiun, possibly with military elements.

A Javanese Bupati, with a resolute expression, ready to join the fight against the Dutch.

Anti-colonial, supportive, determined, a strong ally.

Locations

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

indoor

The royal palace and surrounding area of the Sultanate, where the Sultan resides and where important meetings and political maneuvers occur. Initially a place of ambition for independence, it later becomes a hotbed of Dutch influence and internal conflict.

Mood: Initially hopeful and independent, later tense, politically charged, and under foreign influence.

Pangeran Mangkubumi establishes his sultanate; Dutch influence grows; Patih Danurejo I manipulates the Sultan; Pangeran Denowo plans rebellion.

royal palace loji-loji (Dutch lodges) benteng (fortress) meeting halls

Rumah Kediaman Pangeran Denowo

indoor

Pangeran Denowo's residence, where he secretly plots against the Dutch and the compromised Sultanate. It's a place of strategic planning and defiance.

Mood: Conspiratorial, determined, rebellious.

Pangeran Denowo, Tumenggung Singoyudo, and R.M. Gajah Sureng Pati plan to free the sultanate from Dutch control.

private chambers meeting area

Wilayah Kabupaten Madiun (Hutan Ilalang dan Semak Belukar)

outdoor

The northern part of Madiun Regency, characterized by wild tall grasses (ilalang) and dense bushes (semak belukar). It's a rugged, untamed landscape.

Mood: Wild, remote, a place for escape and concealment.

Pangeran Denowo and Tumenggung Singoyudo flee here after their initial defeat, disguised as commoners, to evade capture.

ilalang (tall grasses) semak belukar (bushes)

Kademangan Gedangan

outdoor

A village within Madiun Regency, initially a kademangan (a type of administrative area led by a demang). It becomes a base for Pangeran Denowo's renewed rebellion.

Mood: Initially a quiet village, later a strategic military base, then a fierce battlefield.

Pangeran Denowo finds refuge here, falls in love, rebuilds his forces, and fights a major battle against the Sultanate and Dutch forces.

village houses Demang Citro Sudarmo's residence battlefield pohon asam (tamarind tree)

Desa Tiron (formerly a battlefield)

outdoor

A specific area that was once a battlefield where the Madiun forces tricked the Sultanate's allies. The name 'Tiron' comes from the Javanese word 'tiru' (to imitate), commemorating the deception.

Mood: Triumphant for Madiun forces, deceptive, a place of strategic victory.

R.M. Gajah Sureng Pati names this area Desa Tiron after his forces' deceptive victory over the Magetan and Ponorogo troops.

battlefield sound of cheering