Asal Mula Nama Ngawi

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story solemn Ages 8-14 1547 words 7 min read
Cover: Asal Mula Nama Ngawi
Original Story 1547 words · 7 min read

Asal Mula Nama Ngawi

ada zaman dahulu di daerah Tunggul berdirilah sebuah pemerintahan yang bernama

Kadipaten Tunggul. Pada saat itu Kadipaten Tunggul diperintah oleh seorang

tumenggung yang bernama Tumenggung Malang Negoro. Dia mempunyai seorang

abdi dalem kepercayaan yang sangat setia, yaitu Demang Krodomongso. Tumenggung sangat

percaya kepadanya sehingga permasalahan apa pun yang dia hadapi akan diceritakan secara

terus terang kepadanya. Mereka berdua selalu berbagi rasa, baik dalam suka maupun duka,

baik dalam kondisi senang maupun susah.

Tumenggung Malang Negoro adalah tumenggung besar yang memiliki wibawa sangat

tinggi dan sangat disegani oleh rakyatnya. Dia menumpin dan memerintah daerahnya dengan

adil, arif, dan bijaksana sehingga tidak heran jika dia sangat dihormati oleh rakyatnya.

Rakyatnya hidup tenang dan bahagia tanpa ada gangguan yang berarti. Hampir seluruh

rakyatnya beraktivitas di sawah dan ladang untuk bercocok tanam dan sebagian lagi bekerja

mengumpulkan ranting kayu dan daun jati di hutan untuk kemudian dijual ke pasar.

Namun demikian, bukan berarti dia tidak mendapat gangguan selama masa

kepemimpinannya. Sifat kepemimpinannya itu telah mengusik segelintir orang yang tidak

suka kepadanya. Kenyataan bahwa dia sangat dihormati dan disegani oleh seluruh rakyatnya

telah menimbulkan rasa iri dan dengki bagi orang-orang yang tidak suka dengannya. Mereka

selalu berusaha untuk mengganggu kepemimpinan Tumenggung Malang Negoro dengan

berbagai cara, antara lain dengan mengancam akan mencelakai keluarganya.

Pada suatu malam, satu di antara orang-orang yang tidak menyukai Tumenggung

Malang Negoro berhasil menyusup ke dalam istana ketumenggungan dan lolos dari para

penjaga malam yang sedang berjaga di pintu gerbang istana. Orang tersebut kemudian

menyelinap ke dalam kamar Tumenggung Malang Negoro dan berhasil meletakkan sebuah

surat di atas.meja kerja tumenggung. Ketika orang tidak dikenal tersebut akan meninggalkan

istana, Tumenggung berhasil memergokinya. Dia melihat sesosok bayangan berkelebat

secepat kilat. Dengan gerakan secepat kilat pula, tumenggung berhasil mengikutinya sembari

menghunuskan keris yang ada digenggamannya. Dengan geram, tumenggung menghardik

orang tak dikenal tersebut,

"Hei siapa kamu? Berhenti!” teriak tumenggung.

Sosok yang berkelebat itu mendadak berhenti mendengar teriakan tumenggung: Ia tidak

menjawab, hanya berhenti. Tetapi, dari geliat tubuhnya terlihat bahwa orang itu sangat

ketakutan karena perbuatannya dipergoki oleh tumenggung.

”Siapa kamu? Berani-beraninya kamu masuk ruanganku?” hardik tumenggung menahan

marah.

Orang itu tetap tidak menjawab. Bahkan, badannya tetap membelakangi Tumenggung

sehingga ia tidak dapat melihat wajahnya. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan

penutup kepala berwarna hitam pula. Dalam keremangan malam itu, Tumenggung tidak

dapat menduga siapa orang tersebut: Hal itu membuat Tumenggung benar-benar marah.

11S

Dengan geramnya sang Tumenggung menghunjamkan kerisnya ke atas meja dengan maksud

agar orang tersebut bicara siapa dia sebenarnya. Alih-alih orang tidak dikenal itu mau bicara,

dia bahkan secara tiba-tiba melarikan diri ketakutan. Tanpa banyak bicara, tumenggung

dengan t mengejarnya, Menyadari sedang dikejar dan saking takutnya tertangkap,

secepat kilat dia menceburkan diri ke dalam kolam di dalam istana kadipaten dan menghilang

begitu saja,

Melihat orang yang dikejarnya itu mencebur ke kolam, tumenggung segera berlari lebih

kencang ke aral: kolam. Setelah sejenak menghela nafas sambil mengamati kolam yang

masih beriak, tumenggung akhirnya ikut mencebur ke dalam kolam. Tumenggung menyelam

beberapa saat kemudian muncul lagi, menyelam dan muncul lagi. Secara berulang-ulang dia

menyelam menyisir dasar kolam dari sudut ke sudut, orang yang dicarinya itu tetap tidak

ditemukan. Kolam yang cukup dalam dan luas itu sudah diaduk-aduk nyaris tanpa tempat

terlewatkan sedikit pun, tetapi tidak ditemukan jejak manusia berada di kolam itu selain

dirinya. Tumenggung juga memastikan bahwa tidak ada lubang atau celah di dalam kolam itu

yang memungkinkan orang meloloskan diri tanpa sepengetahuan dirinya.

Setelah dicari ke sana kemari penjahat itu tidak bisa ditemukan, Tumenggung Malang

Negoro akhirnya memutuskan untuk masuk kembali ke dalam istana. Dia kemudian menuju

ke kamarnya karena ingat penyusup tadi meletakkan sesuatu di atas meja di ruang kerjanya.

Dia menemukan sepucuk surat tergeletak di atas meja. Dengan rasa penasaran, dia

mengambil surat tersebut dan kemudian membacanya. Betapa terkejutnya Tumenggung

Malang Negoro saat mengetahui isi surat tersebut yang berisi ancaman bagi keselamatan

seluruh keluarganya. Antara percaya dan tidak, dibacanya surat itu secara berulang-ulang.

Seketika muncul kekhawatiran dalam diri tumenggung.

Agar tidak menimbulkan ketakutan dan kepanikan di dalam keluarganya dan seluruh

penghuni istana, tumenggung bertekad akan menyimpan rapat semua kejadian yang baru saja

dialaminya tanpa sepengetahuan keluarga dan pembantu-pembantunya. Selama beberapa

hari, tumenggung memikirkan kejadian itu sampai tidak bisa tidur. Dia khawatir dengan

keselamatan keluarganya di kadipaten. Akan tetapi, semakin hari tumenggung semakin takut

dan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi di kadipaten. Dia takut tidak dapat

mengatasinya seorang diri jika tidak menceritakannya kepada orang-orang kepercayaanya.

Pikirnya, paling tidak mereka dapat diingatkan untuk menjaga kewaspadaan sehingga jika

sewaktu-waktu diserang mereka sudah bersiap membela, bahkan melawan. Akhirnya,

tumenggung memutuskan untuk memberitahukannya kepada pembantu setianya, yaitu

Demang Krodomongso. Maka, dipanggillah Demang Krodomongso untuk menghadap.

"Ada apa Tumenggung memanggilku malam-malam begini?" tanya Krodomongso

dengan wajah gelisah.

"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, tapi sementara ini jangan ada yang tahu

dulu selain Demang,” kata tumenggung dengan wajah serius dengan suara yang dipelankan

takut ada yang mendengar.

"Wah, kelihatannya kok gawat sekali Tumenggung, Ada apa ini?" tanya Demang

Krodomongso kian khawatir.

"Dengar Demang Krodomongso, kadipaten kita dalam keadaan bahaya!” kata

Tumenggung Malang Negoro.

"Bahaya bagaimana? Katumenggungan ini aman dan tenteram, semua warga hormat

dan patuh pada Tumenggung. Rakyat juga hidup makmur,” jawab Demang Krodomongso.

16

“Benar katamu, Demang. Tapi, rakyat ketumenggungan ini sangat banyak. Kita tidak

dapat mengetahui perasaan mereka satu persatu. Barangkali saja ada yang diam-diam tidak

menyukai kepemimpinanku di sini dan ingin mengacaukan katumenggungan ini supaya

rakyat merasa tidak aman,” kata Tumenggung Malang Negoro.

“Tapi, Tumenggung, siapa gerangan orang katumenggungan yang berani berbuat nekad

seperti ini. Mungkin saja orang dari ketumenggungan lain yang iri melihat kemakmuran

te di sini,” jawab Demang Krodomongso.

“Itulah sebabnya aku hanya memberi tahumu, Demang. Aku sendiri masih menduga-

duga apa maksud ancaman ini,” kata tumenggung lagi.

"Maksud Gusti Tumenggung?" tanya demang semakin tidak sabar ingin segera tahu apa

yang sebenarnya dikhawatirkan Tumenggung Malang Negoro.

"Kita harus menyelamatkan rakyat Kadipaten Tunggul secara diam-diam agar mereka

tidak curiga dan panik!” jawab tumenggung sambil memberikan secarik kertas surat kepada

Demang Krodomongso. Segera surat tersebut dibacanya.

“Berani benar orang ini! Kurang ajar! Apa maksudnya?” kata Krodomongso dengan

marah. "Mengapa Gusti tidak langsung menangkapnya?” tanya Krodomongso selanjutnya.

"Aku tidak bisa menangkapnya karena orang itu tiba-tiba menghilang secara misterius di

kolam kadipaten. Untuk mengingat-ingat kejadian ini, maka mulai sekarang kolam ini aku

beri nama Kedung Maling.”

”Lantas, bagaimana cara kita menyelamatkan rakyat ketumenggungan ini? Jumlahnya

tidak sedikit, Tumenggung.”

"Kita akan memindahkannya secara diam-diam. Ingat Demang, rakyat tidak boleh ada

yang tahu tentang rencana kepindahan ini, katakan saja kepada mereka bahwa kita semua

akan pindah ke suatu tempat nan jauh di Ngawiyat!" kata tumenggung.

Ngawiyat berarti angkasa. Jawaban Tumenggung ini membuat Demang Kindomangas

heran, bagaimana mungkin mereka akan pindah ke angkasa,

"Mengapa ke Ngawiyat, Tumenggung? Apa mungkin?" tanya Demang Krodomongso.

“Maksudku, aku ingin membawa rakyat Tunggul ke sebuah tempat baru yang lebih

aman, terlindung dari bahaya, tempat yang lebih tinggi, yang banyak ditumbuhi pohon awi

(bambu) yaitu di tepi Bengawan Solo. Aku yakin, dengan tinggal di tepi Bengawan Solo

rakyatku akan hidup lebih makmur dan sejahtera serta bebas dari gangguan orang jahat,” kata

tumenggung menjelaskan.

Setelah Demang Krodomongso memahami maksud Tumengung Malang Negoro,

selanjutnya mereka membicarakan cara-cara untuk memindahkannya agar tidak

menimbulkan kecurigaan rakyatnya. Lama sekali Demang Krodomongso berbicara dengan

Tumenggung Malang Negoro di ruangannya, Mereka berdua tidak menyadari bahwa

pembicaraan mereka didengarkan oleh Nyai Tumenggung yang sejak awal sudah curiga

dengan sikap tumenggung. Pada saat perundingan itu, Nyai Tumenggung sempat mengintip

dan mendengarkan pembicaraan mereka. Karena tidak begitu jelas saat mendengarkan, kata

'ngawiyat' yang diucapkan oleh tumenggung didengar 'ngawi' oleh Nyai Tumenggung.

Pada suatu kesempatan Nyai Tumenggung menanyakan langsung kepada Tumenggung

Malang Negoro mengenai rencana kepindahan rakyat Tunggul ke tempat baru.

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi, Gusti Tumenggung? Mengapa rakyat Tunggul

harus pindah ke tempat lain?" kata Nyai Tumenggung kepada suaminya.

117

Dia sangat terkejut mendapat pertanyaan yang tidak disangkanya tersebut dari istrinya.

Maka, dengan terpaksa Tumenggung menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya

dan kekhawatirannya terhadap keselamatan seluruh keluarganya.

”Aku tidak mau keselamatan rakyat dan keluargaku terancam. Oleh karena itu, aku

putuskan untuk memindahkan kadipaten ke tempat yang baru yang lebih aman,” kata

tumenggung lagi berusaha menjelaskan.

Akhirnya, setelah mencari tempat-tempat yang cocok, ditemukanlah sebuah tempat yang

lokasinya berada di tepi Bengawan Solo. Setelah menemukan tempat tersebut, Demang

Krodomongso beserta para pengawalnya pulang ke Katumenggungan Tunggul untuk

melaporkan penemuan mereka kepada Tumenggung Malang Negoro.

“Gusti Tumenggung pasti senang dengan tempat baru yang kami temukan. Sesuai

dengan keinginan Tumenggung, tempat itu berada di tepi Bengawan Solo,” kata

Krodomongso berusaha meyakinkan.

”Baik Demang, aku percaya padamu, semoga tempat baru itu benar-benar sesuai dengan

apa yang kita inginkan,” kata tumenggung.

"Atur dan siapkan rencana kepindahan kita segera, beritahu semua rakyat Tunggul agar

bersiap-siap!”

”Baik Gusti. Saya akan segera laksanakan perintah Gusti Tumenggung,” jawab Demang

Krodomongso.

Akhirnya, pada hari yang sudah ditetapkan, seluruh Katumenggungan Tunggul beserta

rakyatnya pindah ke sebuah tempat di tepi Bengawan Solo dan tumenggung

menyelenggarakan pemerintahan dari sana. Tumenggung menetapkan nama Ngawi, yang

berasal dari kata Ngawiyat yang berarti angkasa yang banyak ditumbuhi pohon 'awi', sebagai

nama kadipaten yang baru mereka dirikan. Seiring dengan berjalannya waktu, Kadipaten

Ngawi yang baru mereka tinggali semakin lama semakin ramai dan maju. Banyak pendatang

baru yang ingin tinggal dan hidup di sana karena daerah tepi Sungai Bengawan Solo

merupakan daerah yang subur dan bagus untuk pertanian. Akhirnya Kadipaten Ngawi

menjadi sebuah kota kabupaten dan rakyatnya hidup makmur aman dan damai.

118


Story DNA

Moral

A wise leader prioritizes the safety and prosperity of their people, even if it requires difficult decisions and secrecy.

Plot Summary

Tumenggung Malang Negoro, a just ruler of Kadipaten Tunggul, discovers a threat to his family and people from an unknown intruder who mysteriously vanishes. Fearing panic, he secretly confides in his loyal aide, Demang Krodomongso, about his plan to relocate the entire Kadipaten to a safer, fertile land by the Bengawan Solo river, rich with 'awi' (bamboo), which he cryptically refers to as 'Ngawiyat'. His wife, Nyai Tumenggung, overhears and misinterprets the name as 'Ngawi'. After finding the ideal location, the entire community moves, and the new prosperous settlement is officially named Ngawi, reflecting its origins and natural features.

Themes

leadership and responsibilityprudence and foresightcommunity welfarethe origins of place names

Emotional Arc

anxiety to security

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of etymology

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: happy
Magic: mysterious disappearance of the intruder in the pond
the threatening letter (symbol of hidden danger)the 'awi' (bamboo) (symbol of the new location's natural features)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

This story provides an etymological origin for the name of Ngawi, a regency in East Java, Indonesia, linking it to local geography and a historical-legendary narrative.

Plot Beats (14)

  1. Tumenggung Malang Negoro rules Kadipaten Tunggul justly, respected by his people, but some envy him.
  2. An intruder sneaks into the palace, leaves a threatening letter for the Tumenggung, and is discovered.
  3. The Tumenggung chases the intruder, who dives into a pond and mysteriously vanishes, despite a thorough search.
  4. The Tumenggung reads the threatening letter, which concerns his family's safety, and decides to keep it secret initially.
  5. Overwhelmed by worry, the Tumenggung confides in his loyal aide, Demang Krodomongso, about the threat.
  6. The Tumenggung cryptically tells Demang Krodomongso they must move the people to 'Ngawiyat' (meaning 'sky' but also hinting at a high place with 'awi' bamboo).
  7. Demang Krodomongso is initially confused but then understands the Tumenggung's true intention: to move to a safer, fertile location by the Bengawan Solo river.
  8. Nyai Tumenggung overhears parts of their secret conversation, mishearing 'Ngawiyat' as 'Ngawi'.
  9. Nyai Tumenggung confronts her husband, who then reveals the full extent of the threat and his plan to move the Kadipaten for everyone's safety.
  10. Demang Krodomongso and guards search for a new location, finding a suitable spot by the Bengawan Solo river.
  11. The Tumenggung approves the new site and orders the immediate relocation of all the people from Kadipaten Tunggul.
  12. The entire Kadipaten Tunggul and its people move to the new location by the Bengawan Solo river.
  13. The new settlement is officially named Ngawi, derived from 'Ngawiyat' and the presence of 'awi' (bamboo).
  14. Kadipaten Ngawi prospers, attracting new settlers, and becomes a thriving, peaceful, and prosperous district.

Characters

👤

Tumenggung Malang Negoro

human adult male

A great Tumenggung with high authority, respected by his people.

Attire: Traditional Javanese noble attire, likely including a keris (dagger) as he wields one.

Wielding a keris, confronting an intruder in the night.

Just, wise, decisive, protective, secretive (initially).

👤

Demang Krodomongso

human adult male

Trusted and loyal servant.

Attire: Traditional Javanese servant attire, likely simple but respectable.

Standing respectfully before Tumenggung Malang Negoro, listening intently.

Loyal, trustworthy, concerned, obedient.

👤

Nyai Tumenggung

human adult female

Wife of Tumenggung Malang Negoro.

Attire: Traditional Javanese noblewoman's attire (kebaya, batik skirt).

Peeking and listening from a hidden spot.

Curious, observant, concerned for her family.

👤

The Intruder

human adult unknown

Wears all black clothing with a black head covering, moves swiftly.

Attire: All black clothing, including a head covering.

A shadowy figure in all black, disappearing into a pond.

Cowardly (flees when confronted), secretive, threatening.

Locations

Kadipaten Tunggul Palace (Tumenggung's Chamber)

indoor night implied clear night

The Tumenggung's private chamber within the palace, containing a work desk. It is dimly lit at night.

Mood: tense, secretive, alarming

An intruder places a threatening letter on the Tumenggung's desk, leading to a confrontation and chase.

work desk letter shadowy figure Tumenggung's keris (dagger)

Palace Pond (Kedung Maling)

outdoor night implied clear night

A sufficiently deep and wide pond within the palace grounds, its surface rippling after someone plunges into it.

Mood: mysterious, frustrating, urgent

The intruder disappears mysteriously into this pond, which is later named 'Kedung Maling' (Thief's Pond).

rippling water deep and wide pond no visible escape routes

New Settlement by Bengawan Solo River

outdoor implied fertile, good for agriculture

A new, safe, and higher place located on the banks of the Bengawan Solo River, abundant with 'awi' (bamboo) trees. It is fertile and good for agriculture.

Mood: hopeful, prosperous, secure

The people of Kadipaten Tunggul relocate here to escape danger, and this place eventually becomes the prosperous Kadipaten Ngawi.

Bengawan Solo River bamboo trees ('awi') fertile land newly established settlement