Asal Mula Nama Ngawi
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Asal Mula Nama Ngawi
ada zaman dahulu di daerah Tunggul berdirilah sebuah pemerintahan yang bernama
Kadipaten Tunggul. Pada saat itu Kadipaten Tunggul diperintah oleh seorang
tumenggung yang bernama Tumenggung Malang Negoro. Dia mempunyai seorang
abdi dalem kepercayaan yang sangat setia, yaitu Demang Krodomongso. Tumenggung sangat
percaya kepadanya sehingga permasalahan apa pun yang dia hadapi akan diceritakan secara
terus terang kepadanya. Mereka berdua selalu berbagi rasa, baik dalam suka maupun duka,
baik dalam kondisi senang maupun susah.
Tumenggung Malang Negoro adalah tumenggung besar yang memiliki wibawa sangat
tinggi dan sangat disegani oleh rakyatnya. Dia menumpin dan memerintah daerahnya dengan
adil, arif, dan bijaksana sehingga tidak heran jika dia sangat dihormati oleh rakyatnya.
Rakyatnya hidup tenang dan bahagia tanpa ada gangguan yang berarti. Hampir seluruh
rakyatnya beraktivitas di sawah dan ladang untuk bercocok tanam dan sebagian lagi bekerja
mengumpulkan ranting kayu dan daun jati di hutan untuk kemudian dijual ke pasar.
Namun demikian, bukan berarti dia tidak mendapat gangguan selama masa
kepemimpinannya. Sifat kepemimpinannya itu telah mengusik segelintir orang yang tidak
suka kepadanya. Kenyataan bahwa dia sangat dihormati dan disegani oleh seluruh rakyatnya
telah menimbulkan rasa iri dan dengki bagi orang-orang yang tidak suka dengannya. Mereka
selalu berusaha untuk mengganggu kepemimpinan Tumenggung Malang Negoro dengan
berbagai cara, antara lain dengan mengancam akan mencelakai keluarganya.
Pada suatu malam, satu di antara orang-orang yang tidak menyukai Tumenggung
Malang Negoro berhasil menyusup ke dalam istana ketumenggungan dan lolos dari para
penjaga malam yang sedang berjaga di pintu gerbang istana. Orang tersebut kemudian
menyelinap ke dalam kamar Tumenggung Malang Negoro dan berhasil meletakkan sebuah
surat di atas.meja kerja tumenggung. Ketika orang tidak dikenal tersebut akan meninggalkan
istana, Tumenggung berhasil memergokinya. Dia melihat sesosok bayangan berkelebat
secepat kilat. Dengan gerakan secepat kilat pula, tumenggung berhasil mengikutinya sembari
menghunuskan keris yang ada digenggamannya. Dengan geram, tumenggung menghardik
orang tak dikenal tersebut,
"Hei siapa kamu? Berhenti!” teriak tumenggung.
Sosok yang berkelebat itu mendadak berhenti mendengar teriakan tumenggung: Ia tidak
menjawab, hanya berhenti. Tetapi, dari geliat tubuhnya terlihat bahwa orang itu sangat
ketakutan karena perbuatannya dipergoki oleh tumenggung.
”Siapa kamu? Berani-beraninya kamu masuk ruanganku?” hardik tumenggung menahan
marah.
Orang itu tetap tidak menjawab. Bahkan, badannya tetap membelakangi Tumenggung
sehingga ia tidak dapat melihat wajahnya. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan
penutup kepala berwarna hitam pula. Dalam keremangan malam itu, Tumenggung tidak
dapat menduga siapa orang tersebut: Hal itu membuat Tumenggung benar-benar marah.
11S
Dengan geramnya sang Tumenggung menghunjamkan kerisnya ke atas meja dengan maksud
agar orang tersebut bicara siapa dia sebenarnya. Alih-alih orang tidak dikenal itu mau bicara,
dia bahkan secara tiba-tiba melarikan diri ketakutan. Tanpa banyak bicara, tumenggung
dengan t mengejarnya, Menyadari sedang dikejar dan saking takutnya tertangkap,
secepat kilat dia menceburkan diri ke dalam kolam di dalam istana kadipaten dan menghilang
begitu saja,
Melihat orang yang dikejarnya itu mencebur ke kolam, tumenggung segera berlari lebih
kencang ke aral: kolam. Setelah sejenak menghela nafas sambil mengamati kolam yang
masih beriak, tumenggung akhirnya ikut mencebur ke dalam kolam. Tumenggung menyelam
beberapa saat kemudian muncul lagi, menyelam dan muncul lagi. Secara berulang-ulang dia
menyelam menyisir dasar kolam dari sudut ke sudut, orang yang dicarinya itu tetap tidak
ditemukan. Kolam yang cukup dalam dan luas itu sudah diaduk-aduk nyaris tanpa tempat
terlewatkan sedikit pun, tetapi tidak ditemukan jejak manusia berada di kolam itu selain
dirinya. Tumenggung juga memastikan bahwa tidak ada lubang atau celah di dalam kolam itu
yang memungkinkan orang meloloskan diri tanpa sepengetahuan dirinya.
Setelah dicari ke sana kemari penjahat itu tidak bisa ditemukan, Tumenggung Malang
Negoro akhirnya memutuskan untuk masuk kembali ke dalam istana. Dia kemudian menuju
ke kamarnya karena ingat penyusup tadi meletakkan sesuatu di atas meja di ruang kerjanya.
Dia menemukan sepucuk surat tergeletak di atas meja. Dengan rasa penasaran, dia
mengambil surat tersebut dan kemudian membacanya. Betapa terkejutnya Tumenggung
Malang Negoro saat mengetahui isi surat tersebut yang berisi ancaman bagi keselamatan
seluruh keluarganya. Antara percaya dan tidak, dibacanya surat itu secara berulang-ulang.
Seketika muncul kekhawatiran dalam diri tumenggung.
Agar tidak menimbulkan ketakutan dan kepanikan di dalam keluarganya dan seluruh
penghuni istana, tumenggung bertekad akan menyimpan rapat semua kejadian yang baru saja
dialaminya tanpa sepengetahuan keluarga dan pembantu-pembantunya. Selama beberapa
hari, tumenggung memikirkan kejadian itu sampai tidak bisa tidur. Dia khawatir dengan
keselamatan keluarganya di kadipaten. Akan tetapi, semakin hari tumenggung semakin takut
dan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi di kadipaten. Dia takut tidak dapat
mengatasinya seorang diri jika tidak menceritakannya kepada orang-orang kepercayaanya.
Pikirnya, paling tidak mereka dapat diingatkan untuk menjaga kewaspadaan sehingga jika
sewaktu-waktu diserang mereka sudah bersiap membela, bahkan melawan. Akhirnya,
tumenggung memutuskan untuk memberitahukannya kepada pembantu setianya, yaitu
Demang Krodomongso. Maka, dipanggillah Demang Krodomongso untuk menghadap.
"Ada apa Tumenggung memanggilku malam-malam begini?" tanya Krodomongso
dengan wajah gelisah.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, tapi sementara ini jangan ada yang tahu
dulu selain Demang,” kata tumenggung dengan wajah serius dengan suara yang dipelankan
takut ada yang mendengar.
"Wah, kelihatannya kok gawat sekali Tumenggung, Ada apa ini?" tanya Demang
Krodomongso kian khawatir.
"Dengar Demang Krodomongso, kadipaten kita dalam keadaan bahaya!” kata
Tumenggung Malang Negoro.
"Bahaya bagaimana? Katumenggungan ini aman dan tenteram, semua warga hormat
dan patuh pada Tumenggung. Rakyat juga hidup makmur,” jawab Demang Krodomongso.
16
“Benar katamu, Demang. Tapi, rakyat ketumenggungan ini sangat banyak. Kita tidak
dapat mengetahui perasaan mereka satu persatu. Barangkali saja ada yang diam-diam tidak
menyukai kepemimpinanku di sini dan ingin mengacaukan katumenggungan ini supaya
rakyat merasa tidak aman,” kata Tumenggung Malang Negoro.
“Tapi, Tumenggung, siapa gerangan orang katumenggungan yang berani berbuat nekad
seperti ini. Mungkin saja orang dari ketumenggungan lain yang iri melihat kemakmuran
te di sini,” jawab Demang Krodomongso.
“Itulah sebabnya aku hanya memberi tahumu, Demang. Aku sendiri masih menduga-
duga apa maksud ancaman ini,” kata tumenggung lagi.
"Maksud Gusti Tumenggung?" tanya demang semakin tidak sabar ingin segera tahu apa
yang sebenarnya dikhawatirkan Tumenggung Malang Negoro.
"Kita harus menyelamatkan rakyat Kadipaten Tunggul secara diam-diam agar mereka
tidak curiga dan panik!” jawab tumenggung sambil memberikan secarik kertas surat kepada
Demang Krodomongso. Segera surat tersebut dibacanya.
“Berani benar orang ini! Kurang ajar! Apa maksudnya?” kata Krodomongso dengan
marah. "Mengapa Gusti tidak langsung menangkapnya?” tanya Krodomongso selanjutnya.
"Aku tidak bisa menangkapnya karena orang itu tiba-tiba menghilang secara misterius di
kolam kadipaten. Untuk mengingat-ingat kejadian ini, maka mulai sekarang kolam ini aku
beri nama Kedung Maling.”
”Lantas, bagaimana cara kita menyelamatkan rakyat ketumenggungan ini? Jumlahnya
tidak sedikit, Tumenggung.”
"Kita akan memindahkannya secara diam-diam. Ingat Demang, rakyat tidak boleh ada
yang tahu tentang rencana kepindahan ini, katakan saja kepada mereka bahwa kita semua
akan pindah ke suatu tempat nan jauh di Ngawiyat!" kata tumenggung.
Ngawiyat berarti angkasa. Jawaban Tumenggung ini membuat Demang Kindomangas
heran, bagaimana mungkin mereka akan pindah ke angkasa,
"Mengapa ke Ngawiyat, Tumenggung? Apa mungkin?" tanya Demang Krodomongso.
“Maksudku, aku ingin membawa rakyat Tunggul ke sebuah tempat baru yang lebih
aman, terlindung dari bahaya, tempat yang lebih tinggi, yang banyak ditumbuhi pohon awi
(bambu) yaitu di tepi Bengawan Solo. Aku yakin, dengan tinggal di tepi Bengawan Solo
rakyatku akan hidup lebih makmur dan sejahtera serta bebas dari gangguan orang jahat,” kata
tumenggung menjelaskan.
Setelah Demang Krodomongso memahami maksud Tumengung Malang Negoro,
selanjutnya mereka membicarakan cara-cara untuk memindahkannya agar tidak
menimbulkan kecurigaan rakyatnya. Lama sekali Demang Krodomongso berbicara dengan
Tumenggung Malang Negoro di ruangannya, Mereka berdua tidak menyadari bahwa
pembicaraan mereka didengarkan oleh Nyai Tumenggung yang sejak awal sudah curiga
dengan sikap tumenggung. Pada saat perundingan itu, Nyai Tumenggung sempat mengintip
dan mendengarkan pembicaraan mereka. Karena tidak begitu jelas saat mendengarkan, kata
'ngawiyat' yang diucapkan oleh tumenggung didengar 'ngawi' oleh Nyai Tumenggung.
Pada suatu kesempatan Nyai Tumenggung menanyakan langsung kepada Tumenggung
Malang Negoro mengenai rencana kepindahan rakyat Tunggul ke tempat baru.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi, Gusti Tumenggung? Mengapa rakyat Tunggul
harus pindah ke tempat lain?" kata Nyai Tumenggung kepada suaminya.
117
Dia sangat terkejut mendapat pertanyaan yang tidak disangkanya tersebut dari istrinya.
Maka, dengan terpaksa Tumenggung menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya
dan kekhawatirannya terhadap keselamatan seluruh keluarganya.
”Aku tidak mau keselamatan rakyat dan keluargaku terancam. Oleh karena itu, aku
putuskan untuk memindahkan kadipaten ke tempat yang baru yang lebih aman,” kata
tumenggung lagi berusaha menjelaskan.
Akhirnya, setelah mencari tempat-tempat yang cocok, ditemukanlah sebuah tempat yang
lokasinya berada di tepi Bengawan Solo. Setelah menemukan tempat tersebut, Demang
Krodomongso beserta para pengawalnya pulang ke Katumenggungan Tunggul untuk
melaporkan penemuan mereka kepada Tumenggung Malang Negoro.
“Gusti Tumenggung pasti senang dengan tempat baru yang kami temukan. Sesuai
dengan keinginan Tumenggung, tempat itu berada di tepi Bengawan Solo,” kata
Krodomongso berusaha meyakinkan.
”Baik Demang, aku percaya padamu, semoga tempat baru itu benar-benar sesuai dengan
apa yang kita inginkan,” kata tumenggung.
"Atur dan siapkan rencana kepindahan kita segera, beritahu semua rakyat Tunggul agar
bersiap-siap!”
”Baik Gusti. Saya akan segera laksanakan perintah Gusti Tumenggung,” jawab Demang
Krodomongso.
Akhirnya, pada hari yang sudah ditetapkan, seluruh Katumenggungan Tunggul beserta
rakyatnya pindah ke sebuah tempat di tepi Bengawan Solo dan tumenggung
menyelenggarakan pemerintahan dari sana. Tumenggung menetapkan nama Ngawi, yang
berasal dari kata Ngawiyat yang berarti angkasa yang banyak ditumbuhi pohon 'awi', sebagai
nama kadipaten yang baru mereka dirikan. Seiring dengan berjalannya waktu, Kadipaten
Ngawi yang baru mereka tinggali semakin lama semakin ramai dan maju. Banyak pendatang
baru yang ingin tinggal dan hidup di sana karena daerah tepi Sungai Bengawan Solo
merupakan daerah yang subur dan bagus untuk pertanian. Akhirnya Kadipaten Ngawi
menjadi sebuah kota kabupaten dan rakyatnya hidup makmur aman dan damai.
118
Story DNA
Moral
A wise leader prioritizes the safety and prosperity of their people, even if it requires difficult decisions and secrecy.
Plot Summary
Tumenggung Malang Negoro, a just ruler of Kadipaten Tunggul, discovers a threat to his family and people from an unknown intruder who mysteriously vanishes. Fearing panic, he secretly confides in his loyal aide, Demang Krodomongso, about his plan to relocate the entire Kadipaten to a safer, fertile land by the Bengawan Solo river, rich with 'awi' (bamboo), which he cryptically refers to as 'Ngawiyat'. His wife, Nyai Tumenggung, overhears and misinterprets the name as 'Ngawi'. After finding the ideal location, the entire community moves, and the new prosperous settlement is officially named Ngawi, reflecting its origins and natural features.
Themes
Emotional Arc
anxiety to security
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
This story provides an etymological origin for the name of Ngawi, a regency in East Java, Indonesia, linking it to local geography and a historical-legendary narrative.
Plot Beats (14)
- Tumenggung Malang Negoro rules Kadipaten Tunggul justly, respected by his people, but some envy him.
- An intruder sneaks into the palace, leaves a threatening letter for the Tumenggung, and is discovered.
- The Tumenggung chases the intruder, who dives into a pond and mysteriously vanishes, despite a thorough search.
- The Tumenggung reads the threatening letter, which concerns his family's safety, and decides to keep it secret initially.
- Overwhelmed by worry, the Tumenggung confides in his loyal aide, Demang Krodomongso, about the threat.
- The Tumenggung cryptically tells Demang Krodomongso they must move the people to 'Ngawiyat' (meaning 'sky' but also hinting at a high place with 'awi' bamboo).
- Demang Krodomongso is initially confused but then understands the Tumenggung's true intention: to move to a safer, fertile location by the Bengawan Solo river.
- Nyai Tumenggung overhears parts of their secret conversation, mishearing 'Ngawiyat' as 'Ngawi'.
- Nyai Tumenggung confronts her husband, who then reveals the full extent of the threat and his plan to move the Kadipaten for everyone's safety.
- Demang Krodomongso and guards search for a new location, finding a suitable spot by the Bengawan Solo river.
- The Tumenggung approves the new site and orders the immediate relocation of all the people from Kadipaten Tunggul.
- The entire Kadipaten Tunggul and its people move to the new location by the Bengawan Solo river.
- The new settlement is officially named Ngawi, derived from 'Ngawiyat' and the presence of 'awi' (bamboo).
- Kadipaten Ngawi prospers, attracting new settlers, and becomes a thriving, peaceful, and prosperous district.
Characters
Tumenggung Malang Negoro
A great Tumenggung with high authority, respected by his people.
Attire: Traditional Javanese noble attire, likely including a keris (dagger) as he wields one.
Just, wise, decisive, protective, secretive (initially).
Demang Krodomongso
Trusted and loyal servant.
Attire: Traditional Javanese servant attire, likely simple but respectable.
Loyal, trustworthy, concerned, obedient.
Nyai Tumenggung
Wife of Tumenggung Malang Negoro.
Attire: Traditional Javanese noblewoman's attire (kebaya, batik skirt).
Curious, observant, concerned for her family.
The Intruder
Wears all black clothing with a black head covering, moves swiftly.
Attire: All black clothing, including a head covering.
Cowardly (flees when confronted), secretive, threatening.
Locations
Kadipaten Tunggul Palace (Tumenggung's Chamber)
The Tumenggung's private chamber within the palace, containing a work desk. It is dimly lit at night.
Mood: tense, secretive, alarming
An intruder places a threatening letter on the Tumenggung's desk, leading to a confrontation and chase.
Palace Pond (Kedung Maling)
A sufficiently deep and wide pond within the palace grounds, its surface rippling after someone plunges into it.
Mood: mysterious, frustrating, urgent
The intruder disappears mysteriously into this pond, which is later named 'Kedung Maling' (Thief's Pond).
New Settlement by Bengawan Solo River
A new, safe, and higher place located on the banks of the Bengawan Solo River, abundant with 'awi' (bamboo) trees. It is fertile and good for agriculture.
Mood: hopeful, prosperous, secure
The people of Kadipaten Tunggul relocate here to escape danger, and this place eventually becomes the prosperous Kadipaten Ngawi.