Asal Usul Banyuwangi

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story melancholy Ages 8-14 1534 words 7 min read
Cover: Asal Usul Banyuwangi
Original Story 1534 words · 7 min read

Asal Usul Banyuwangi

ada zaman dahulu, di ujung timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan besar bernama

Blambangan, Kerajaan Blambangan diperintah oleh Raja Silahadikrama yang

mempunyai watak tamak dan rakus. Ketamakan dan kerakusan Raja Silahadikrama

tidak hanya pada harta benda tetapi juga terhadap perempuan. Meskipun sudah punya banyak

istri, dia masih tergoda oleh perempuan yang cantik dan menarik. Setiap melihat perempuan

cantik, dia ingin memilikinya tanpa mempedulikan statusnya: masih sendiri atau sudah

bersuami. Sebagai raja, dia selalu memanfaatkan kekuasaannya untuk memenuhi hasrat

kerakusan dan ketamakannya itu.

Raja Silahadikrama mempunyai patih bernama Patih Sidapeksa. Ia mempunyai istri

yang cantik jelita bemama Sri Tanjung. Diam-diam Raja jatuh hati dan ingin memilikinya.

Karena Sri Tanjung sudah menjadi istri patih kepercayaannya, Raja Silahadikrama tidak

berani menunjukkan keinginannya itu secara terang-terangan. Beberapa kali dia berusaha

menggoda dan merayu Sri Tanjung saat sang patih berada di luar kota raja untuk

melaksanakan tugas. Ketika hasrat untuk memiliki istri Patih Sidapeksa sudah tidak

terbendung lagi, Raja Silahadikrama segera melaksanakan rencana yang sudah dipersiapkan

sejak lama. Dia akan menyingkirkan Patih Sidapeksa secara halus. Raja Silahadikrama pun

memanggil Patih Sidapeksa.

“Hamba menghadap, Paduka. Benarkah Paduka memanggil hamba?” kata Patih

Sidapeksa sambil menghaturkan sembah.

“Oh, Patih. Iya, iya..benar," jawab Raja Silahadikrama sedikit gugup. “Ada tugas

penting yang harus kau laksanakan. Hanya kau yang saya anggap mampu mengemban tugas

im.”

“Tugas penting apakah, Paduka? Hamba siap melaksanakan perintah, Paduka.”

“Begini, Patih. Akhir-akhir ini, perekonomian rakyat kita sedikit menurun. Menurut para

pandita, kerajaan kita ini harus diberi tumbal pemberi berkah. Tumbal itu berupa emas sak

gelung dan gumbala telung plengkung 'sebongkah emas sebesar konde wanita dan tiga buah

mahkota”. Tumbal itu adanya di Alas Purwo. Kau harus berhasil membawanya ke istana

dalam waktu tidak lebih dari empat puluh hari. Bagaimana, Patih?”

”Hamba siap, Paduka.”

"Kalau begitu, segeralah berangkat. Jika tugasmu berhasil, kau akan membuat rakyat

Blambangan hidup makmur dan sejahtera.”

”Baik, Paduka. Tapi, izinkan hamba berpamitan dulu kepada istri hamba.”

”Ya, sebentar saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan menjaga istrimu selama kau

pergi. Dia akan aman di bawah perlindunganku.”

”Terima kasih, Paduka. Hamba mohon diri.”

Sesampai di rumah, Patih Sidapeksa menceritakan tugas berat yang harus

dilaksanakannya itu kepada Sri Tanjung. Sedikit pun Patih Sidapeksa tidak curiga ada niat

buruk raja di balik tugas itu. Bahkan, ia tidak percaya pula ketika Sri Tanjung mencegahnya.

Sang istri merasa tugas itu hanyalah akal-akalan Raja Silahadikrama untuk menyingkirkan

suaminya karena ia berkali-kali menolak rayuan dan godaan Sang Raja.

”Kanda, tugas itu terlalu berat. Alas Purwo terkenal sangat wingit. Tidak ada orang yang

dapat keluar hidup-hidup dari Alas Purwo. Sebaiknya Kanda jangan pergi," kata Sri Tanjung

berusaha mencegah kepergian suaminya.

“Dinda, ini tugas kerajaan. Sudah kewajiban Kakanda sebagai patih menjalankan

perintah Paduka demi kemakmuran rakyat Blambangan," tukas Patih Sidapeksa berusaha

menenteramkan hati istrinya.

"Tapi, Kanda. Mengapa Kanda harus pergi seorang diri? Tiadakah prajurit yang

mengawal? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kanda. Ingat Kanda, aku sedang hamil.”

”Tidak usah khawatir, Dinda. Kanda akan menjaga diri dan pulang dengan selamat.

Dinda juga harus menjaga diri dan menjaga bayi kita baik-baik. Sebelum empat puluh hari

Kanda pasti sudah kembali.”

"Tapi...,” kata Sri Tanjung dengan wajah cemas.

“Ini tugas kerajaan untuk kepentingan rakyat, Dinda.”

"Baiklah, Kanda. Tapi...Kanda harus hati-hati dan selalu waspada. Aku akan menunggu

Patih Sidapeksa meninggalkan rumah diiringi tatapan sedih dan perasaan khawatir

istnnya. Ia ingin memberi tahu perlakuan Raja Silahadikrama kepadanya, tetapi takut

membuat suaminya khawatir. Di samping itu, suaminya juga sangat setia pada kerajaan

Blambangan dan Raja Silahadikrama sehingga tidak mungkin memercayai perkataannya.

Setelah suaminya pergi, Sri Tanjung merasa sangat takut karena Raja Silahadikrama pasti

akan merayunya lagi.

Kekhawatiran dan ketakutan Sri Tanjung akhirnya terbukti. Beberapa saat setelah Patih

Sidapeksa pergi, diam-diam Raja Silahadikrama datang ke rumahnya. Berbagai cara

dilakukan untuk merayu Sri Tanjung agar mau diperistri, tetapi selalu ditolak. Selama Patih

Sidapeksa pergi, Raja Silahadikrama selalu berusaha membujuk dan merayu Sri Tanjung,

namun tetap tidak berhasil. Raja Silahadikrama sangat kesal dan kecewa pada keteguhan dan

kesetiaan istri patihnya itu. Kekesalan itu bertambah manakala Patih Sidapeksa kembali ke

istana dengan selamat sambil membawa emas sak gelung dan gumbala telung plengkung.

Raja tidak menyangka bahwa Patih Sidapeksa dapat melaksanakan tugas tipuan itu dengan

baik.

Di tengah rasa kesal dan kecewa akibat keberhasilan patihnya, tiba-tiba Raja

Silahadikrama menemukan akal licik untuk membalas sakit hati dan dendamnya kepada istri

patih. Ia akan memanfaatkan kesetiaan dan kepercayaan Patih Sidapeksa terhadap kerajaan

Blambangan untuk menyingkirkan Sri Tanjung. Maka, dibuatlah cerita fitnah terhadapnya.

"Patih, kau telah berhasil membawa tuah keberkahan untuk kerajaan Blambangan.

Jasamu sangat besar untuk rakyat negeri ini. Mereka pasti akan sangat berterima kasih

padamu,” puji Raja Silahadikrama beberapa saat setelah Patih Sidapeksa menghadap dan

menyerahkan emas sak gelung dan gumbala telung plengkung.

"Semua ini berkat kepercayaan Paduka kepada hamba.”

”Kau memang patihku yang setia. Aku senang mendengarnya.”

"Hamba juga senang jika Paduka merasa senang."

"Ya, aku sangat senang. Senang sekali, Patihku yang setia,” kata Raja Silahadikrama

berpura-pura gembira.

"Kalau tidak ada lagi tugas Paduka, izinkan hamba mohon diri. Hamba ingin segera

bertemu istri hamba agar tidak terlalu khawatir. Kasihan dia sedang hamil, Paduka,” kata

Patih Sidapeksa memohon.

“Oh iya, Patih. Tapi...kau jangan kaget.”

"Ada apa, Paduka? Apa yang terjadi pada istri hamba?"

“Kau harus sabar, Patih."

"Sudilah Paduka menceritakan apa yang terjadi pada istri hamba.”

"Maafkan aku, Patih. Selama kau pergi, istrimu telah bergaul dengan laki-laki lain.

Pengawal yang kutempatkan untuk menjaga istrimu selama kau pergi, beberapa kali melihat

istrimu sedang bercengkerama dengan seorang laki-laki,” kata Raja Silahadikrama

berbohong. Dia tahu bahwa Patih Sidapeksa sangat setia padanya sehingga pasti lebih percaya

pada ceritanya daripada cerita istrinya,

Dugaan dan siasat Raja Silahadikrama terbukti benar. Sesampai di rumah, Patih

Sidapeksa memanggil istrinya dengan nada keras. Rasa capek akibat tugas berat yang baru

dijalaninya dan cerita fitnah Raja Silahadikrama membuatnya tidak dapat berpikir dengan

“Ada apa Kanda. Mengapa Kakanda pulang dengan marah-marah. Apakah Kanda

mendapat murka, Paduka? Apakah Kanda tidak berhasil membawa tuah keberkahan?” tanya

Sri Tanjung bingung.

“Jangan berpura-pura, Dinda. Apa yang kau lakukan selama aku pergi?" tanya Patih

Sidapeksa dengan nada suara tinggi.

“Apa maksud, Kanda?”"

“Sudahlah, Dinda. Aku sudah dengar semuanya?”

“Mendengar apa, Kanda?”

"Kau benar-benar sudah pandai berbohong ya."

"Sebentar, Kanda...Dinda sungguh tidak tahu maksud Kanda.”

“Siapa laki-laki yang selalu bersamamu selama aku pergi?”

“Laki-laki yang mana? Tidak ada laki-laki lain selain Kanda. Sungguh.”

"Laki-laki yang selalu bercengkerama dengan Dinda! Kau tidak bisa bersembunyi lagi.

Katakan siapa dia!”

”Oh..rupanya Kanda menuduh Dinda berselingkuh? Siapa...siapa...yang telah

menyebarkan fitnah ini, Kanda? Mengapa Kanda lebih percaya orang itu daripada istri Kanda

"Tidak penting siapa yang memberi tahu aku. Tapi, jawab dengan jujur, siapa laki-laki

itu.”

"Tidak ada Kanda. Tidak ada laki-laki yang datang ke rumah ini selagi Kanda pergi."

“Bohong!”

“Sumpah, Kanda. Demi Sang Hyang Widhi! Dinda masih suci!”

"Aku tidak percaya. Sumpah hanya di mulut, bagaimana bisa dipercaya?”

“Baiklah, Kanda. Kalau Kanda ingin bukti bahwa Dinda masih suci, Dinda akan

buktikan. Mari...ikuti Dinda,” kata Sri Tanjung dengan hati yang sangat sedih.

Sri Tanjung mengajak suaminya ke arah hutan di sebelah barat. Selama dalam

perjalanan, mereka tidak berbicara sepatah kata pun seakan sudah bukan suami istri lagi. Sri

Tanjung berjalan di depan diiringi oleh Patih Sidapeksa. Sesampai di tepi sebuah telaga kecil,

Sri Tanjung tiba-tiba berhenti. Seketika Patih Sidapeksa menghentikan langkahnya pula.

“Inilah tempatnya, Kanda,” kata Sri Tanjung sambil menunjuk telaga kecil di depannya.

”Apa maksud Dinda?" tanya Patih Sidapeksa heran.

”Bukankah Kanda ingin bukti? Tempat inilah yang akan membuktikannya," kata Sri

Tanjung dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.

”Tapi...apa hubungannya dengan telaga ini?” tanya Patih Sidapeksa.

"Kanda, selama Kanda pergi, Dinda sudah menjaga diri baik-baik. Tapi rupanya Kanda

tetap menuduh Dinda berbuat asusila dengan laki-laki lain. Tidak ada cara lain untuk

membuktikan kesetiaan Dinda pada Kanda kecuali dengan nyawa Dinda sendiri,” kata Sri

Tanjung dengan berlinang air mata. Hatinya hancur menerima kenyataan suami yang sangat

dicintainya itu telah berubah membencinya dan tidak mempercayainya lagi.

“Apa maksudmu? Kau masih tidak mau mengakui perbuatanmu?”

“Tidak! Sampai kapan pun Dinda tidak akan mengakuinya karena Dinda memang tidak

melakukannya.”

“Jadi, untuk apa kau ajak aku ke tempat ini?”

"Bukankah Kanda ingin bukti?”

“Dengan apa kau akan membuktikan dirimu tidak bersalah, sedang para pengawal telah

melihatmu!”

“Sudah Dinda katakan, dengan nyawa Dinda," kata Sri Tanjung berurai air mata.

"Dengar Kanda! Jika air telaga ini berbau busuk berarti Dinda memang berbuat asusila, tetapi

sebaliknya, jika air telaga ini menjadi harum berarti Dinda masih suci,” kata Sri Tanjung.

Sebelum Patih Sidapeksa "menyadari dan mencema kata-kata istrinya, Sri Tanjung telah

melompat ke dalam telaga. Suara deburan terdengar sesaat dan air telaga beriak-riak sebentar

untuk kemudian tenang kembali.

Cipratan air telaga segera menyadarkan Patih Sidapeksa yang sebelumnya terbengong-

bengong melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat itu. Saat Patih Sidapeksa mengusap

air telaga itu di wajahnya, terciumlah aroma harum semerbak. Telaga itu juga tiba-tiba

menebarkan aroma harum semerbak yang menandakan bahwa istrinya masih suci. Seketika

Patih Sidapeksa teringat kata-kata terakhir istrinya. Ia melompat ke dalam telaga, menyelam,

dan mengaduk-aduknya sambil berteriak-teriak memanggil nama Sri Tanjung. Berkali-kali

Patih Sidapeksa menyelam dan mengitari telaga, tetapi tetap tidak dapat menemukan tubuh

istrinya. Ia sangat menyesal telah terburu nafsu dan lebih memercayai orang lain daripada

istrinya sendiri sampai menuduh istrinya berbuat asusila. Sambil menangis penuh sesal, Patih

Sidapeksa berucap bahwa kelak jika sudah ramai, tempat itu akan dinamai Banyuwangi (air

harum) sebagai tanda bahwa istrinya adalah seorang perempuan suci.

“ug


Story DNA

Moral

False accusations, fueled by jealousy and unchecked power, can lead to tragic and irreversible consequences, but truth, even in death, will ultimately reveal itself.

Plot Summary

In the kingdom of Blambangan, the lustful King Silahadikrama desires Sri Tanjung, the beautiful wife of his loyal Patih Sidapeksa. The King sends Sidapeksa on a perilous quest, hoping to eliminate him, but Sidapeksa returns successfully. Enraged, the King falsely accuses Sri Tanjung of infidelity. Heartbroken and unable to convince her husband, Sri Tanjung proposes a test: she will jump into a lake, and if the water smells fragrant, she is innocent, but if foul, she is guilty. Upon her leap, the water turns fragrant, proving her purity, leading to Sidapeksa's profound regret and the naming of the place Banyuwangi (fragrant water).

Themes

jealousy and betrayalloyalty and sacrificefalse accusations and injusticethe power of truth

Emotional Arc

innocence to tragedy to bittersweet remembrance

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: dramatic irony, foreshadowing, repetition of key phrases (e.g., 'air harum')

Narrative Elements

Conflict: person vs person (King vs Sri Tanjung, King vs Sidapeksa, Sidapeksa vs Sri Tanjung) and person vs self (Sidapeksa's internal conflict)
Ending: bittersweet
Magic: the lake water changing scent to prove innocence
the fragrant water (Banyuwangi) as a symbol of purity and truthAlas Purwo as a symbol of danger and the unknown

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story is a popular Indonesian folk tale, specifically from the Banyuwangi region of East Java, explaining the origin of the name 'Banyuwangi'. It reflects traditional Javanese societal structures and beliefs.

Plot Beats (13)

  1. King Silahadikrama, a greedy and lustful ruler of Blambangan, desires Sri Tanjung, the beautiful wife of his loyal Patih Sidapeksa.
  2. The King sends Patih Sidapeksa on a dangerous quest to Alas Purwo to find 'emas sak gelung and gumbala telung plengkung', secretly hoping he will not return.
  3. Sri Tanjung, pregnant and suspicious of the King's motives, tries to prevent her husband from leaving, but he insists on fulfilling his duty.
  4. While Sidapeksa is away, the King repeatedly attempts to seduce Sri Tanjung, but she consistently rejects his advances.
  5. Patih Sidapeksa unexpectedly returns successful from his quest, frustrating the King's original plan.
  6. The King, out of spite and continued desire, falsely accuses Sri Tanjung of infidelity to Patih Sidapeksa.
  7. Patih Sidapeksa, exhausted and trusting his King, confronts Sri Tanjung, angrily accusing her of betrayal.
  8. Sri Tanjung, deeply hurt and unable to convince her husband of her innocence, proposes a supernatural test to prove her purity.
  9. Sri Tanjung leads Sidapeksa to a small lake and declares that if the water smells foul after she enters, she is guilty, but if it smells fragrant, she is innocent.
  10. Before Sidapeksa can fully comprehend, Sri Tanjung leaps into the lake.
  11. The lake water immediately becomes fragrant, confirming Sri Tanjung's innocence.
  12. Patih Sidapeksa, overwhelmed with regret and understanding his terrible mistake, dives into the lake but cannot find his wife's body.
  13. In his sorrow, Sidapeksa names the place 'Banyuwangi' (fragrant water) in honor of his pure and sacrificed wife.

Characters

👤

Raja Silahadikrama

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a powerful and commanding figure.

Attire: Royal attire, likely elaborate and indicative of his status as a king.

A king's crown or royal robes, perhaps with a sly, scheming expression.

Greedy, covetous, manipulative, deceitful, power-hungry.

👤

Patih Sidapeksa

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: The attire of a Patih (prime minister), likely formal and indicative of his high rank.

A man in traditional Javanese Patih attire, perhaps with a look of deep regret or sorrow.

Loyal, dutiful, trusting (initially to a fault), remorseful, easily manipulated.

👤

Sri Tanjung

human young adult female

Beautiful and attractive, pregnant.

Attire: Traditional Javanese women's attire, likely a kebaya and batik sarong, suitable for a Patih's wife.

A beautiful woman in traditional Javanese dress, standing by a pool of water, perhaps with tears in her eyes, or just before leaping into the water.

Beautiful, loyal, faithful, steadfast, perceptive, self-sacrificing, heartbroken.

Locations

Kerajaan Blambangan (Royal Palace)

indoor implied tropical climate

A large kingdom in the eastern tip of Java, ruled by King Silahadikrama. The palace is where the King resides and conducts royal affairs.

Mood: authoritative, scheming, luxurious (for the king), tense

King Silahadikrama gives Patih Sidapeksa the 'impossible' task; the King spreads false rumors about Sri Tanjung.

throne room royal chambers

Patih Sidapeksa's Home

indoor implied tropical climate

The residence of Patih Sidapeksa and his beautiful wife, Sri Tanjung. It is where Sri Tanjung tries to warn her husband about the King's true intentions.

Mood: domestic, initially loving, later tense and accusatory

Patih Sidapeksa tells Sri Tanjung about his mission; King Silahadikrama attempts to seduce Sri Tanjung; Patih Sidapeksa confronts Sri Tanjung based on false accusations.

living quarters private rooms

Alas Purwo (Purwo Forest)

outdoor implied tropical forest conditions

A very eerie and dangerous forest, known for being 'wingit' (sacred/mystical and dangerous), from which no one is expected to return alive. It is where the 'tumbal' (offering) of gold and crowns is supposedly located.

Mood: mysterious, dangerous, foreboding

Patih Sidapeksa is sent here on a fabricated mission by the King.

dense trees unseen dangers

Small Lake (Telaga)

outdoor day implied tropical climate

A small lake located at the edge of a forest to the west. Its water is initially ordinary, but becomes fragrant after Sri Tanjung's sacrifice.

Mood: initially somber and tragic, then miraculous and sorrowful

Sri Tanjung jumps into the lake to prove her innocence, and the lake's water turns fragrant, leading to the naming of Banyuwangi.

body of water forest edge fragrant water