Menu

Asal Usul Reog

by Balai Bahasa Surabaya

Asal Usul Reog

The Wise Man and the Magic Dance

CEFR A1 Age 5 369 words 2 min Canon 92/100

Once, there was a very big kingdom. It had tall walls and golden roofs. A king lived there. But this king had a problem. He did not do his job. He only wanted to play. The Queen was very pretty. The King only liked her.

The kingdom had a wise helper. His name was the Wise Teacher. "Please listen," said the Wise Teacher. "The kingdom needs you." But the King did not listen.

The Wise Teacher was very sad. He could not help the King. So he walked away. He left the big palace.

He walked and walked. He found a small, quiet village. He made a new home there. He taught people to be strong. He taught them to be brave.

People called him the Wise Teacher. They all liked him very much. But he still thought about the kingdom. He thought and thought. "How can I help?" he asked. He could not fight. He had to find a new way.

Then he had a big idea! He would make a special dance! The dance would tell a story! He was so happy.

He worked and worked. He made big masks. He made pretty costumes. He made the Reog dance! It was bright and bold.

The best mask was the Big Lion. It was very, very big. It had pretty feathers on top. The feathers were blue and green. The Big Lion looked like a king. A king who forgot to listen.

There were Horse Dancers too! They rode on toy horses. They danced in silly, wobbly ways. They made them all laugh. They forgot to practice. See?

There was a funny Red Mask. It had a bright red face. It had a very long nose. The Red Mask was for the helpers. The helpers that no one heard.

The Wise Teacher grew very old. He taught the dance to his students. They loved the dance. They kept it always.

And do you know what? People still dance the Reog today! Kids and moms and dads watch it. They wear the Big Lion mask. They ride the toy horses. They think of the Wise Teacher. They think of his special dance.

That is the story of the Reog.

Original Story 868 words · 4 min read

Asal Usul Reog puncak keemasannya pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada pelan-pelan mengalami kemunduran karena berbagai masalah di dalam lingkungan pemerintahan dan istana. Luntumya kewibawaan dan kemunduran kekuasaan kerajaan Majapahit kian nyata pada masa pemerintahan Raja Bre Kertabumi, yaitu raja terakhir kerajaan Majapahit. Raja Bre Kertabumi tidak mampu menjalankan pemerintahan seperti raja-raja kerajaan Majapahit sebelumnya karena terlalu tunduk pada permaisurinya yang cantik. Keadaan dalam istana yang demikian membuat sebagian besar pembantunya menjadi gelisah karena khawatir dengan masa depan kerajaan Majapahit. Karena kekuasaan raja sangat besar, para pembantunya tidak dapat memberi masukan, bahkan para penasihat pun tidak kuasa memberi saran dan masukan karena sang raja lebih suka mendengarkan pendapat permaisurinya. Ki Ageng Ketut Suryo Alam adalah salah seorang penasihat Raja Bre Kertabumi yang merasa gelisah dan khawatir melihat jalannya pemerintahan dan khawatir terhadap kelangsungan kerajaan Majapahit yang sudah punya nama besar. Ia sudah berkali-kali memberi nasihat pada raja agar tidak terlalu menuruti keinginan permaisuri, tetapi tidak berhasil membuat Raja Bre Kertabumi sadar. Karena merasa kehadirannya sudah tidak ada gunanya, Ki Ageng Ketut Suryo Alam pun menyingkir dari lingkungan istana kerajaan Majapahit. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menganggap Prabu Bre Kertabumi telah menyimpang dari tatanan moral kerajaan. Penyimpangan moral inilah yang dinilai akan menjadi awal kehancuran kerajaan Majapahit. Kebijakan politik Majapahit yang seharusnya dipegang oleh sang raja, pada waktu itu nyatanya dikendalikan oleh permaisurinya sehingga banyak keputusan dan kebijakannya yang tidak benar dan tidak sesuai dengan tatanan peraturan kerajaan. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menyingkir ke suatu daerah di selatan, yang bernama Kutu, yaitu suatu desa kecil yang masuk wilayah Wengker. Di Desa Kutu ini, Ki Ageng Ketut Suryo Alam mendirikan sebuah padepokan sebagai tempat belajar olah kanuragan dan kesaktian. Ia mengajari para muridnya untuk menjadi prajurit. Ia mengajarkan sikap seorang prajurit dan ksatria yang gagah perkasa. Menurutnya, seorang prajurit harus taat kepada kerajaan dan memiliki kesaktian agar dapat membela kerajaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Ki Ageng Ketut Suryo Alam melarang muridnya berhubungan dengan wanita (wadaf). Menurut kepercayaanya, barang siapa melanggar ajaran tersebut, kekuatan atau kesaktinnya akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Untuk itulah, murid-muridnya harus tinggal di asrama di lingkungan padepokannya. Kepemimpinan Ki Ageng Ketut Suryo Alam yang tegas dan disiplin membuahkan hasil. Banyak muridnya yang berhasil menjadi prajurit yang memiliki sikap dan watak seorang ksatria. Oleh karena itu, Padepokan Ki Ageng Ketut Suryo Alam cepat menyebar dan populer ke beberapa daerah. & Ikisah, kerajaan Majapahit yang pernah berjaya menguasai Nusantara dan mencapai 165 Nama Ki Ageng Ketut Suryo Alam kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Ageng Kutu atau Ki Demang Kutu karena padepokannya berada di Desa Kutu. Di samping mengajari murid-muridnya ilmu kanoragan, Ki Ageng Kutu tidak perah lepas sedikit pun memikirkan keadaan kerajaan Majapahit. Setiap malam seusai mengajari murid-muridnya, Kia Ageng Kutu akan masuk ke tempat persembahyangan untuk merenung dan berpikir. Menurut pikirannya, kerajaan Majapahit harus diingatkan bukan lagi dengan kata-kata dan nasihat. Oleh karena itu, ia terus memikirkan cara dan strategi untuk melawan kerajaan Majapahit yang dianggapnya telah jauh meyimpang dari tatanan keprajan itu. Menurutnya, perlawanan dengan senjata dan peperangan tidak akan menyelesaikan masalah karena hanya akan menimbulkan penderitaan di kalangan rakyat. Di samping itu, dari segi kekuatan prajurit, murid-muridnya tentu akan mudah ditaklukkan oleh bala tentara Majapahit yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ki Ageng Kutu memikirkan cara melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan peperangan, tetapi dapat mengena ke sasaran dan tercapai tujuan. Setelah berhari-hari merenungkan dan memikirkan caranya, muncul pikiran untuk melakukan perlawanan secara psikologis, yaitu dengan kritikan melalui media kesenian. Dengan berbekal pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi penasihat kerajaan Majapahit dan mengetahui secara detail kondisi dalam pemerintahan dan istana serta berbekal keahlian murid-muridnya, Ki Ageng Kutu akhirnya menciptakan drama tari yang disebut reog. Kesenian ini digunakan untuk menggambarkan keadaan kerajaan Majapahit, menjadi sindiran atau satire sekaligus mempunyai makna simbolis. Ki Ageng Kutu berperan sebagai tokoh warok. Dalam drama tari reog, tokoh warok dikelilingi oleh murid-muridnya. Hal itu menggambarkan fungsi dan peranan sesepuh masih tetap diperlukan dan harus diperhatikan dalam sebuah tata pemerintahan. Pelaku dalam drama tari tersebut adalah Singo Barong yang mengenakan bulu merak di atas kepalanya. Tokoh Singo Barong merupakan sindiran terhadap kecongkakan atau kesombongan sang raja yang tidak mau lagi mendengarkan nasihat dari para penasihat kerajaan. Sang raja sangat mengagumi kecantikan permaisurinya sehingga apa pun keinginan permaisurinya selalu dituruti, termasuk dalam menentukan kebijakan kerajaan. Penari kuda atau Jathilan yang diperankan oleh seorang laki-laki yang lemah gemulai dan berdandan seperti wanita menggambarkan hilangnya sifat keprajuritan kerajaan Majapahit. Para prajurit kerajaan Majapahit dianggap sudah tidak berdaya. Tarian penunggang kuda yang aneh menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan, ketidakdisiplinan prajurit terhadap rajanya, namun raja berusaha mengembalikan kewibawaannya kepada rakyat yang digambarkan dengan penari kuda (Jathilan) yang berputar-putarnya mengelilingi sang raja. Seorang pujangga kerajaan digambarkan oleh Bujang Ganong yang memiliki wajah berwama merah, mata melotot, dan berhidung panjang. Bujang Ganong menggambarkan orang bijaksana dan bernalar panjang, tetapi tidak dihargai lagi pendapatnya oleh raja sehingga dirinya harus menyingkir dari kerajaan. Setelah Ki Ageng Kutu meninggal, kesenian ini diteruskan oleh Ki Ageng Mirah pada masa Bathoro Katong (bupati pertama Ponorogo) hingga sekarang. Oleh Ki Ageng Mirah, cerita yang berlatar belakang sindiran tersebut digantikan dengan cerita Panji. Kemudian, dimasukkan tokoh-tokoh panji seperti Prabu Kelana Sewandana, Dewi Songgolangit yang menggambarkan peperangan antara kerajaan Kediri dan Bantar Angin. 166

Moral of the Story

Art and satire can be powerful tools for social and political commentary, even when direct confrontation is impossible.


Characters 8 characters

Raja Bre Kertabumi ⚔ antagonist

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be easily swayed by beauty.

Attire: Royal attire befitting a Majapahit king.

Weak-willed, easily influenced, neglects his duties.

Permaisuri Raja Bre Kertabumi ⚔ antagonist

human young adult female

Beautiful, her beauty is a significant plot point.

Attire: Elaborate royal Javanese queen's attire.

Manipulative, influential over the king, self-serving.

Ki Ageng Ketut Suryo Alam ★ protagonist

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Simple, practical clothing of a Javanese sage or martial arts master.

Wise, concerned, disciplined, strategic, patriotic.

Singo Barong ◆ supporting

magical creature ageless non-human

A lion-like creature with peacock feathers on its head.

Attire: A large, elaborate mask and costume, dominated by peacock feathers.

Represents arrogance and pride.

Jathilan (Penari Kuda) ◆ supporting

human young adult male

A man dressed as a woman, performing graceful but strange horse dances.

Attire: Feminine Javanese dance attire, riding a hobby horse.

Represents weakness and lack of discipline.

Bujang Ganong ◆ supporting

human adult male

Red face, bulging eyes, long nose.

Attire: Traditional Javanese dance costume, possibly with a headpiece.

Wise, thoughtful, but unappreciated.

Ki Ageng Mirah ○ minor

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Traditional Javanese clothing.

Continuator, adapter.

Bathoro Katong ○ minor

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Royal or noble attire of a Javanese regent.

Historical figure, patron.

Locations 3 locations
Majapahit Royal Palace

Majapahit Royal Palace

indoor implied stable, royal setting

The seat of power for the Majapahit kingdom, where King Bre Kertabumi resides, influenced by his beautiful queen. It is a place of internal turmoil and declining authority.

Mood: tense, uneasy, declining, luxurious but troubled

The king's inability to govern effectively due to his permaisuri's influence, leading to Ki Ageng Ketut Suryo Alam's departure.

throne roomroyal chamberscourtyardadvisors' quarters
Village of Kutu (Wengker region)

Village of Kutu (Wengker region)

outdoor implied rural, stable

A small village located in the southern region of Wengker, where Ki Ageng Ketut Suryo Alam (later Ki Ageng Kutu) settles after leaving the palace.

Mood: peaceful, remote, new beginnings

Ki Ageng Ketut Suryo Alam establishes his new life and padepokan here.

small village housesfieldspaths
Padepokan of Ki Ageng Kutu

Padepokan of Ki Ageng Kutu

indoor implied stable, conducive to learning

A learning center and dormitory established by Ki Ageng Ketut Suryo Alam in Desa Kutu, where he teaches martial arts, spiritual practices, and trains warriors. It includes living quarters for his students.

Mood: disciplined, focused, spiritual, strategic

Ki Ageng Kutu trains his students and conceives the idea of Reog as a form of psychological resistance against Majapahit.

training groundsdormitoriesprayer/meditation roomteaching areas

Story DNA folk tale · solemn

Moral

Art and satire can be powerful tools for social and political commentary, even when direct confrontation is impossible.

Plot Summary

The once-mighty Majapahit kingdom falters under King Bre Kertabumi, who is unduly influenced by his beautiful queen. A wise advisor, Ki Ageng Ketut Suryo Alam, leaves the court after his warnings are ignored, establishing a hermitage and training disciplined warriors. Renamed Ki Ageng Kutu, he devises a non-violent method of critique: a satirical dance drama called Reog. Each character in the Reog performance—the Warok, Singo Barong, Jathilan, and Bujang Ganong—symbolically represents aspects of the king's folly, the weakened military, and disregarded wisdom. The story concludes with the enduring legacy of Reog, which continues to be performed, though its direct satirical narrative eventually evolves into more generalized tales.

Themes

critique of powerwisdom vs. follyart as resistancemoral decay

Emotional Arc

disillusionment to creative resistance to enduring legacy

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of symbolism

Narrative Elements

Conflict: person vs society
Ending: cyclical
Magic: kesaktian (supernatural power)
Reog dance (as a symbol of satire and resistance)Singo Barong (king's arrogance)Jathilan (weakened military)Bujang Ganong (disregarded wisdom)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial (Majapahit era)

The story provides a mythological origin for the Reog Ponorogo dance, linking it to the decline of the historical Majapahit Empire and the reign of King Bre Kertabumi (Bhra Kertabhumi), though the specific events and characters like Ki Ageng Kutu are legendary rather than strictly historical. It reflects Javanese societal values regarding leadership, wisdom, and the role of art.

Plot Beats (13)

  1. Majapahit kingdom, once glorious, declines under King Bre Kertabumi, who is swayed by his beautiful queen.
  2. Royal advisors, including Ki Ageng Ketut Suryo Alam, are concerned but cannot influence the king.
  3. Ki Ageng Ketut Suryo Alam, feeling useless, leaves the palace, believing the king's moral deviation will destroy the kingdom.
  4. He settles in Desa Kutu, establishes a hermitage, and trains disciplined warriors, forbidding them from relationships with women to maintain their power.
  5. He becomes known as Ki Ageng Kutu and continuously contemplates how to address Majapahit's decline without direct, violent confrontation.
  6. Ki Ageng Kutu devises a plan for psychological resistance through a critical art form.
  7. He creates the Reog dance drama, using his knowledge of the court to embed symbolic critiques.
  8. The Warok character represents the necessary role of respected elders in governance.
  9. The Singo Barong, with its peacock feathers, symbolizes the king's arrogance and infatuation with his queen.
  10. The Jathilan (horse dancer) represents the weakened and undisciplined Majapahit military.
  11. The Bujang Ganong, with his red face and long nose, symbolizes the wise but disregarded advisors.
  12. After Ki Ageng Kutu's death, Ki Ageng Mirah continues the tradition.
  13. The Reog story is later adapted to the Panji tales, featuring characters like Prabu Kelana Sewandana and Dewi Songgolangit, shifting its direct satirical focus but preserving the art form.

Related Stories