Asal Usul Reog
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Asal Usul Reog
puncak keemasannya pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih
Gajah Mada pelan-pelan mengalami kemunduran karena berbagai masalah di dalam
lingkungan pemerintahan dan istana. Luntumya kewibawaan dan kemunduran kekuasaan
kerajaan Majapahit kian nyata pada masa pemerintahan Raja Bre Kertabumi, yaitu raja
terakhir kerajaan Majapahit. Raja Bre Kertabumi tidak mampu menjalankan pemerintahan
seperti raja-raja kerajaan Majapahit sebelumnya karena terlalu tunduk pada permaisurinya
yang cantik.
Keadaan dalam istana yang demikian membuat sebagian besar pembantunya menjadi
gelisah karena khawatir dengan masa depan kerajaan Majapahit. Karena kekuasaan raja
sangat besar, para pembantunya tidak dapat memberi masukan, bahkan para penasihat pun
tidak kuasa memberi saran dan masukan karena sang raja lebih suka mendengarkan pendapat
permaisurinya.
Ki Ageng Ketut Suryo Alam adalah salah seorang penasihat Raja Bre Kertabumi yang
merasa gelisah dan khawatir melihat jalannya pemerintahan dan khawatir terhadap
kelangsungan kerajaan Majapahit yang sudah punya nama besar. Ia sudah berkali-kali
memberi nasihat pada raja agar tidak terlalu menuruti keinginan permaisuri, tetapi tidak
berhasil membuat Raja Bre Kertabumi sadar. Karena merasa kehadirannya sudah tidak ada
gunanya, Ki Ageng Ketut Suryo Alam pun menyingkir dari lingkungan istana kerajaan
Majapahit. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menganggap Prabu Bre Kertabumi telah
menyimpang dari tatanan moral kerajaan. Penyimpangan moral inilah yang dinilai akan
menjadi awal kehancuran kerajaan Majapahit. Kebijakan politik Majapahit yang seharusnya
dipegang oleh sang raja, pada waktu itu nyatanya dikendalikan oleh permaisurinya sehingga
banyak keputusan dan kebijakannya yang tidak benar dan tidak sesuai dengan tatanan
peraturan kerajaan. Ki Ageng Ketut Suryo Alam menyingkir ke suatu daerah di selatan, yang
bernama Kutu, yaitu suatu desa kecil yang masuk wilayah Wengker.
Di Desa Kutu ini, Ki Ageng Ketut Suryo Alam mendirikan sebuah padepokan sebagai
tempat belajar olah kanuragan dan kesaktian. Ia mengajari para muridnya untuk menjadi
prajurit. Ia mengajarkan sikap seorang prajurit dan ksatria yang gagah perkasa. Menurutnya,
seorang prajurit harus taat kepada kerajaan dan memiliki kesaktian agar dapat membela
kerajaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Ki Ageng Ketut Suryo Alam melarang muridnya
berhubungan dengan wanita (wadaf). Menurut kepercayaanya, barang siapa melanggar ajaran
tersebut, kekuatan atau kesaktinnya akan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Untuk itulah,
murid-muridnya harus tinggal di asrama di lingkungan padepokannya. Kepemimpinan Ki
Ageng Ketut Suryo Alam yang tegas dan disiplin membuahkan hasil. Banyak muridnya yang
berhasil menjadi prajurit yang memiliki sikap dan watak seorang ksatria. Oleh karena itu,
Padepokan Ki Ageng Ketut Suryo Alam cepat menyebar dan populer ke beberapa daerah.
& Ikisah, kerajaan Majapahit yang pernah berjaya menguasai Nusantara dan mencapai
165
Nama Ki Ageng Ketut Suryo Alam kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Ageng Kutu
atau Ki Demang Kutu karena padepokannya berada di Desa Kutu.
Di samping mengajari murid-muridnya ilmu kanoragan, Ki Ageng Kutu tidak perah
lepas sedikit pun memikirkan keadaan kerajaan Majapahit. Setiap malam seusai mengajari
murid-muridnya, Kia Ageng Kutu akan masuk ke tempat persembahyangan untuk merenung
dan berpikir. Menurut pikirannya, kerajaan Majapahit harus diingatkan bukan lagi dengan
kata-kata dan nasihat. Oleh karena itu, ia terus memikirkan cara dan strategi untuk melawan
kerajaan Majapahit yang dianggapnya telah jauh meyimpang dari tatanan keprajan itu.
Menurutnya, perlawanan dengan senjata dan peperangan tidak akan menyelesaikan masalah
karena hanya akan menimbulkan penderitaan di kalangan rakyat. Di samping itu, dari segi
kekuatan prajurit, murid-muridnya tentu akan mudah ditaklukkan oleh bala tentara Majapahit
yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ki Ageng Kutu memikirkan cara melakukan perlawanan
tanpa kekerasan dan peperangan, tetapi dapat mengena ke sasaran dan tercapai tujuan. Setelah
berhari-hari merenungkan dan memikirkan caranya, muncul pikiran untuk melakukan
perlawanan secara psikologis, yaitu dengan kritikan melalui media kesenian.
Dengan berbekal pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi penasihat kerajaan
Majapahit dan mengetahui secara detail kondisi dalam pemerintahan dan istana serta berbekal
keahlian murid-muridnya, Ki Ageng Kutu akhirnya menciptakan drama tari yang disebut
reog. Kesenian ini digunakan untuk menggambarkan keadaan kerajaan Majapahit, menjadi
sindiran atau satire sekaligus mempunyai makna simbolis.
Ki Ageng Kutu berperan sebagai tokoh warok. Dalam drama tari reog, tokoh warok
dikelilingi oleh murid-muridnya. Hal itu menggambarkan fungsi dan peranan sesepuh masih
tetap diperlukan dan harus diperhatikan dalam sebuah tata pemerintahan.
Pelaku dalam drama tari tersebut adalah Singo Barong yang mengenakan bulu merak di
atas kepalanya. Tokoh Singo Barong merupakan sindiran terhadap kecongkakan atau
kesombongan sang raja yang tidak mau lagi mendengarkan nasihat dari para penasihat
kerajaan. Sang raja sangat mengagumi kecantikan permaisurinya sehingga apa pun keinginan
permaisurinya selalu dituruti, termasuk dalam menentukan kebijakan kerajaan.
Penari kuda atau Jathilan yang diperankan oleh seorang laki-laki yang lemah gemulai
dan berdandan seperti wanita menggambarkan hilangnya sifat keprajuritan kerajaan
Majapahit. Para prajurit kerajaan Majapahit dianggap sudah tidak berdaya. Tarian
penunggang kuda yang aneh menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan,
ketidakdisiplinan prajurit terhadap rajanya, namun raja berusaha mengembalikan
kewibawaannya kepada rakyat yang digambarkan dengan penari kuda (Jathilan) yang
berputar-putarnya mengelilingi sang raja.
Seorang pujangga kerajaan digambarkan oleh Bujang Ganong yang memiliki wajah
berwama merah, mata melotot, dan berhidung panjang. Bujang Ganong menggambarkan
orang bijaksana dan bernalar panjang, tetapi tidak dihargai lagi pendapatnya oleh raja
sehingga dirinya harus menyingkir dari kerajaan.
Setelah Ki Ageng Kutu meninggal, kesenian ini diteruskan oleh Ki Ageng Mirah pada
masa Bathoro Katong (bupati pertama Ponorogo) hingga sekarang. Oleh Ki Ageng Mirah,
cerita yang berlatar belakang sindiran tersebut digantikan dengan cerita Panji. Kemudian,
dimasukkan tokoh-tokoh panji seperti Prabu Kelana Sewandana, Dewi Songgolangit yang
menggambarkan peperangan antara kerajaan Kediri dan Bantar Angin.
166
Story DNA
Moral
Art and satire can be powerful tools for social and political commentary, even when direct confrontation is impossible.
Plot Summary
The once-mighty Majapahit kingdom falters under King Bre Kertabumi, who is unduly influenced by his beautiful queen. A wise advisor, Ki Ageng Ketut Suryo Alam, leaves the court after his warnings are ignored, establishing a hermitage and training disciplined warriors. Renamed Ki Ageng Kutu, he devises a non-violent method of critique: a satirical dance drama called Reog. Each character in the Reog performance—the Warok, Singo Barong, Jathilan, and Bujang Ganong—symbolically represents aspects of the king's folly, the weakened military, and disregarded wisdom. The story concludes with the enduring legacy of Reog, which continues to be performed, though its direct satirical narrative eventually evolves into more generalized tales.
Themes
Emotional Arc
disillusionment to creative resistance to enduring legacy
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story provides a mythological origin for the Reog Ponorogo dance, linking it to the decline of the historical Majapahit Empire and the reign of King Bre Kertabumi (Bhra Kertabhumi), though the specific events and characters like Ki Ageng Kutu are legendary rather than strictly historical. It reflects Javanese societal values regarding leadership, wisdom, and the role of art.
Plot Beats (13)
- Majapahit kingdom, once glorious, declines under King Bre Kertabumi, who is swayed by his beautiful queen.
- Royal advisors, including Ki Ageng Ketut Suryo Alam, are concerned but cannot influence the king.
- Ki Ageng Ketut Suryo Alam, feeling useless, leaves the palace, believing the king's moral deviation will destroy the kingdom.
- He settles in Desa Kutu, establishes a hermitage, and trains disciplined warriors, forbidding them from relationships with women to maintain their power.
- He becomes known as Ki Ageng Kutu and continuously contemplates how to address Majapahit's decline without direct, violent confrontation.
- Ki Ageng Kutu devises a plan for psychological resistance through a critical art form.
- He creates the Reog dance drama, using his knowledge of the court to embed symbolic critiques.
- The Warok character represents the necessary role of respected elders in governance.
- The Singo Barong, with its peacock feathers, symbolizes the king's arrogance and infatuation with his queen.
- The Jathilan (horse dancer) represents the weakened and undisciplined Majapahit military.
- The Bujang Ganong, with his red face and long nose, symbolizes the wise but disregarded advisors.
- After Ki Ageng Kutu's death, Ki Ageng Mirah continues the tradition.
- The Reog story is later adapted to the Panji tales, featuring characters like Prabu Kelana Sewandana and Dewi Songgolangit, shifting its direct satirical focus but preserving the art form.
Characters
Raja Bre Kertabumi
None explicitly mentioned, but implied to be easily swayed by beauty.
Attire: Royal attire befitting a Majapahit king.
Weak-willed, easily influenced, neglects his duties.
Permaisuri Raja Bre Kertabumi
Beautiful, her beauty is a significant plot point.
Attire: Elaborate royal Javanese queen's attire.
Manipulative, influential over the king, self-serving.
Ki Ageng Ketut Suryo Alam
None explicitly mentioned.
Attire: Simple, practical clothing of a Javanese sage or martial arts master.
Wise, concerned, disciplined, strategic, patriotic.
Singo Barong
A lion-like creature with peacock feathers on its head.
Attire: A large, elaborate mask and costume, dominated by peacock feathers.
Represents arrogance and pride.
Jathilan (Penari Kuda)
A man dressed as a woman, performing graceful but strange horse dances.
Attire: Feminine Javanese dance attire, riding a hobby horse.
Represents weakness and lack of discipline.
Bujang Ganong
Red face, bulging eyes, long nose.
Attire: Traditional Javanese dance costume, possibly with a headpiece.
Wise, thoughtful, but unappreciated.
Ki Ageng Mirah
None explicitly mentioned.
Attire: Traditional Javanese clothing.
Continuator, adapter.
Bathoro Katong
None explicitly mentioned.
Attire: Royal or noble attire of a Javanese regent.
Historical figure, patron.
Locations
Majapahit Royal Palace
The seat of power for the Majapahit kingdom, where King Bre Kertabumi resides, influenced by his beautiful queen. It is a place of internal turmoil and declining authority.
Mood: tense, uneasy, declining, luxurious but troubled
The king's inability to govern effectively due to his permaisuri's influence, leading to Ki Ageng Ketut Suryo Alam's departure.
Village of Kutu (Wengker region)
A small village located in the southern region of Wengker, where Ki Ageng Ketut Suryo Alam (later Ki Ageng Kutu) settles after leaving the palace.
Mood: peaceful, remote, new beginnings
Ki Ageng Ketut Suryo Alam establishes his new life and padepokan here.
Padepokan of Ki Ageng Kutu
A learning center and dormitory established by Ki Ageng Ketut Suryo Alam in Desa Kutu, where he teaches martial arts, spiritual practices, and trains warriors. It includes living quarters for his students.
Mood: disciplined, focused, spiritual, strategic
Ki Ageng Kutu trains his students and conceives the idea of Reog as a form of psychological resistance against Majapahit.