Asal Usul Sedudo
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Asal Usul Sedudo
Ikisah, pada zaman kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa Pemerintahan Raja
Hayam Wuruk, di sebuah desa di lereng Gunung Wilis tinggallah seorang pertapa
Budha. Pertapa tersebut tinggal seorang diri tanpa ditemani oleh istri dan anaknya.
Hanya seorang cantrik yang selalu setia dan siap melayani kebutuhannya. Tak ada yang tahu
siapa sebenarnya pertapa itu karena sang pertapa menutup jati dirinya dengan sebuah
wewaler, sebuah pantangan atau tabu. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Ki
Ageng Ngliman .
Konon, Ki Ageng Ngliman adalah sebutan untuk Mahapatih Mangkubumi Gajah Mada
yang melarikan diri dan bersembunyi di lereng Gunung Wilis, serta menutup jati dirinya
dengan sebuah wewaler. Mahapatih Gajah Mada mengganti namanya dengan Ki Ageng
Ngliman agar tak seorang pun tahu keberaadaannya. Ngliman berasal dari kata Liman yang
merupakan nama lain dari gajah, yang tak lain nama dari Mahapatih Mangkubumi Gajah
Mada. Dalam pengucapannya kata Liman berubah menjadi Ngliman. Kepergian Mahapatih
Gajah Mada tersebut disebabkan kekecewaannya terhadap perlakuan keluarga kerajaan
kepada dirinya hingga menyebabkan kematian istri yang sangat dicintainya, Nyi Bebet.
Kematian istrinya itu berawal ketika Mahapatih Gajah Mada berambisi untuk
menjadikan Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan Majapahit di Nusantara. Pulau Jawa
harus bersih dari kekekuasaan kerajaan lain hingga terucaplah Sumpah Palapa yang sangat
tersohor itu. Sumpah diucapkannya di suatu pagi pada tahun 1331, dihadapan Ratu
Tribhuwana Tunggadewi, para raja beserta para patihnya, para petinggi keraton, dan tokoh-
tokoh keagamaan, pada saat pelantikannya menjadi Mahapatih Mangkubumi.
“Lamun huwus kalah Nusantoro, isun Amukti Palapa. Lamun kalah ring Gurun,
ring Seram, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, Bali, Sundo,
Palembang, Tumasik, semono isun amukti Palapa."
Bersamaan dengan selesainya kalimat terakhir sumpah tersebut, bumi berguncang.
Gempa bumi telah mengguncang Majapahit. Hal ini menandakan bahwa sumpah Mahapatih
Gajah Mada disaksikan oleh alam, diterima oleh alam, dan alam akan mendukungnya.
Pada saat itu di Pulau Jawa masih ada beberapa kerajaan yang berdaulat dan tidak terkait
dengan Majapahit, salah satunya adalah kerajaan Pakuan Pajajaran di tanah Pasundan yang
pada saat itu diperintah oleh Raja Purana Prabu Guru Dewatsrana yang disebut juga Sri
Baduga Maharaja. Mahapatih berambisi menundukkan kerajaan Pakuan Pajajaran di bawah
kekuasaan Majapahit Raya. Karena besarnya tekad dan ambisi, Mahapatih Gajah Mada
menggunakan berbagai strategi dan taktik berperang, yang kadang penuh tipu muslihat.
Ketika berhadapan dengan kerajaan Pakuan Pajajaran, Mahapatih Gajah Mada merancang
sebuah strategi yang amat sederhana dan luwes, meskipun cara tersebut tidak /iwr dan penuh
tipu muslihat. Salah satu taktik Gajah Mada adalah dengan berpura-pura melamar Dyah
99
Pitaloka, putri Sri Baduga Maharaja, untuk menjadi pendamping Prabu Hayam Wuruk.
Baginda Prabu tidak tahu apa maksud di balik gagasan lamaran yang diajukan oleh
Mahapatih Gajah Mada. Beliau menerima usulan itu karena memang sudah lama menaruh
hati pada putri kerajaan Pakuan Pajajaran itu.
Mahapatih Gajah Mada diminta untuk melamar Dyah Pitaloka. Setiba di kerajaan
Pakuan Pajajaran, Mahapatih Gajah Mada mengutarakan maksud kedatangannya rhelamar
Dyah Pitaloka untuk diperistri Prabu Hayam Wuruk. Sri Baduga Maharaja menerima
pinangan tersebut dengan senang hati. Beliau berharap perkawinan antara raja Majapahit dan
putrinya akan menghapus anggapan bahwa Majapahit menjadi ancaman bagi kerajaan
Pakuan Pajajaran.
Tibalah pada hari yang telah ditentukan. Rombongan kerajaan Pakuan Pajajaran
berangkat menuju Ibu Kota Majapahit. Sesuai dengan kesepakatan, Prabu Hayam Wuruk
sendin yang akan menjemput sang putri. Namun, apa yang direncanakan manusia tidak
semua berjalan sesuai dengan angan. Sri Baduga Maharaja tak pernah menduga jika
penyambutan yang dilakukan oleh pihak kerajaan Majapahit terlalu berlebihan. Seluruh
pasukan Majapahit bersenjata lengkap seperti hendak berangkat perang. Sri Baduga Maharaja
lebih terkejut lagi ketika Mahapatih Gajah Mada menyampaikan bahwa Dyah Pitaloka adalah
putri persembahan.
“Apa maksud perkataanmu wahai Patih Mangkubumi Gajah Mada?” tanya Sri Baduga
Maharaja begitu mendengar penjelasan Mahapatih Gajah Mada.
“Ya, begitulah Sri Baduga Maharaja. Kami mohon maaf, perlu kami sampaikan bahwa
Prabu Hayam Wuruk ingin mempersunting Putri Dyah Pitaloka bukan sebagai putri pinangan
melainkan sebagai putri persembahan. Perlu kami jelaskan kembali agar Sri Baduga
Maharaja dapat menerima kenyataan bahwa di seluruh Pulau Jawa ini hanya ada satu
kemaharajaan yaitu Majapahit, tidak ada kerajaan lainnya,” terang Mahapatih Gajah Mada.
Merah telinga seluruh rombongan kerajaan Pakuan Pajajaran mendengar perkataan
Mahapatih Gajah Mada. Apa yang baru saja disampaikannya berkebalikan dengan apa yang
disampaikan ketika Mahapatih Gajah Mada melamar Dyah Pitaloka dulu. Mereka merasa
terhina, terinjak-injak harga dirinya, terancam kedaulatannya, dan tertipu oleh manis kata
serta kelicikan Mahapatih Gajah Mada. Perang dengan kekuatan yang tidak seimbang tak
terelakkan lagi. Seluruh rombongan bertekad siap mati demi membela kehormatan
negaranya, negara yang berdaulat, hingga titik darah penghabisan.
Di lapangan Bubat itulah, semua pasukan kerajaan Pakuan Pajajaran gugur sebagai
kesatria, termasuk Sri Baduga Maharaja. Dyah Pitaloka sangat terkejut melihat kedua orang
tuanya bersimbah darah. Tanpa pikir panjang, dia menghunuskan cundrik yang selalu tersedia
di balik bajunya ke ulu hatinya dan mati seketika. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa
Bubat.
Mahapatih Gajah Mada tidak menyadari kalau ternyata Prabu Hayam Wuruk sangat
menginginkan Dyah Pitaloka menjadi pendamping hidupnya. Sang Prabu sangat berduka atas
kematian Dyah Pitaloka. Luka hatinya teramat dalam, beliau menghabiskan harinya dengan
mengurung diri dan tidak mau menyentuh makanan barang sedikit pun. Melihat kondisi Raja
yang semakin memburuk, keluarga menganggap Gajah Mada sebagai biang keladi keadaan
tersebut. Hanya demi mewujudkan ambisinya, Prabu Hayam Wuruk pun harus menanggung
akibatnya.
100
Bersama dengan pasukan tamtama, Wijaya Rajasa, suami Dyah Wiyah Rajadewi,
paman Prabu Hayam Wuruk, berangkat menuju rumah kepatihan untuk menghukum
Mahapatih Gajah Mada. Tentara kerajaan Majapahit mengepung kediaman Mahapatih Gajah
Mada hingga tepung gelang, berbentuk lingkaran penuh seperti gelang dan tidak ada selanya,
serta menggeledah seisi rumah tanpa memedulikan keberadaan Nyi Bebet dan Aryo Bebet.
Nyi Bebet sangat panik melihat banyaknya prajurit dengan perangai yang kasar mengepung
rumahnya. Dia takut kalau suami dan anaknya dibantai beramai-ramai.
Di tengah kepanikkannya tersebut, Nyi Bebet melihat sekelebat bayangan putih yang
mirip suaminya, Mahapatih Gajah Mada, berpakaian serba putih tersenyum kepadanya
kemudian terbang menghilang. Nyi Bebet beranggapan itu adalah roh suaminya yang
berpamitan padanya. Hatinya menjadi tak karuan. Tanpa pikir panjang, Nyi Bebet
menghunuskan sebilah cundrik yang selalu terselip di balik setagennya dan
menghujamkannya kuat-kuat tepat di ulu hatinya.
Kematian Nyi Bebet jelas tidak diperhitungkan oleh pihak kerajaan. Pengepungan yang
sebenarnya hanya untuk meminta pertanggungjawaban Mahapatih Gajah Mada mengenai
kesalahan strategi, berujung pada kematian Nyi Bebet, orang yang tidak ada sangkut pautnya
dengan permasalahan sebenarnya.
Sebagai seorang Patih Mangkubumi, Gajah Mada memiliki kelebihan jauh di atas rata-
rata orang biasa. Jangankan ratusan, ribuan prajurit pun tak akan mampu mengalahkannya.
Tetapi, beliau memilih melarikan diri karena beranggapan untuk apa berperang melawan
prajuritnya sendiri, tentara kerajaan yang sangat dicintainya. Namun begitu, beliau juga tidak
mau menyerah.
Mahapatih Gajah Mada pergi ke suatu tempat di lereng Gunung Wilis dan
mengasingkan diri. Di tempat itu, kali pertama ia mendapatkan piyandel. Selain itu,
tempatnya yang terlindung dari pengamatan, banyak lembah, ngarai dan perbukitan yang
menjulang, serta hutan belantaranya yang lebat ditambah banyaknya air terjun, menjadi
tempat yang tepat untuk menenangkan diri, menyepi, dan berkomunikasi dengan Sang Maha
Pencipta. Kini setelah beliau merasa cukup untuk menghentikan ambisi sumpah palapanya,
hendak dikembalikannya piyandel tersebut karena beliau ingin perjalanannya menuju sumber
dari segala sumber yang ada tanpa gangguan.
Kejadian yang begitu rupa menimpa Mahapatih Gajah Mada dan keluarganya
membuatnya terus bertanya-tanya. Semakin merenung, semakin beliau merasa kasihan pada
Nyi Bebet, istrinya. Istri yang rela belopati, meski selama ini kurang mendapat perhatian
karena ambisi sumpah palapanya.
Tiap kali mengingat semua permasalahan yang dialaminya, sekujur tubuhnya memanas
mulai dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Dia tidak mampu mengendalikan emosinya.
Tiap kali hal itu terjadi, dia berendam diri di cucuran sebuah air terjun yang banyak terdapat
di lereng Gunung Wilis untuk mendinginkan jiwa dan raganya. Dari sekian banyak air terjun
yang ada, yang menjadi tempat favoritnya adalah sebuah air terjun yang cukup besar, deras
cucurannya, dan tak pemah berkurang airnya meski di musim kemarau. Tempatnya yang
sangat sepi, mengandung nuansa mistis yang luar biasa, apalagi pada saat bulan purnama,
nuansa mistis ilu seakan-akan memberikan kekuatan gaib yang sangat menyejukkan.
Setiap kali pikirannya memanas dan darahnya terbakar, saat itu juga dia akan menuju air
terjun itu untuk berendam, memohon ampunan, dan petunjuk kepada Sang Maha Pencipta,
agar segera lepas dari kemelut yang senantiasa menghantuinya. Sang duda baru beranjak dari
101
tempat itu jika pikiran dan hatinya telah jemih kembali dan nalarnya telah dapat menerima
segala garis yang ditentukan oleh Sang Pencipta.
Karena seringnya Ki Ageng Ngliman, yang telah duda, berendam di satu-satunya air
terjun kesayangannya itu, masyarakat sekitar menamakan air terjun tersebut Air Terjun
Sedudo. Artinya, air terjun yang sering digunakan untuk mandi dan berendam oleh seorang
duda, yaitu Ki Ageng Ngliman yang tak lain adalah Mahapatih Gajah Mada, yang ditinggal
mati istri tercintanya, Nyi Bebet.
102
Story DNA
Moral
Unchecked ambition can lead to tragic consequences, and true power lies in humility and acceptance.
Plot Summary
Driven by ambition, Mahapatih Gajah Mada of Majapahit orchestrates a deceptive marriage proposal to Princess Dyah Pitaloka of Pakuan Pajajaran, leading to the tragic massacre of the Pakuan Pajajaran royal family at Bubat field. King Hayam Wuruk's grief and the subsequent attempt to punish Gajah Mada lead to the suicide of Gajah Mada's beloved wife, Nyi Bebet. Overwhelmed by the devastating consequences of his actions, Gajah Mada flees to Mount Wilis, where he, now a widower, frequently bathes in a specific waterfall to cleanse his tormented soul, giving rise to the legend of Sedudo Waterfall.
Themes
Emotional Arc
pride to humility
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set during the Majapahit Kingdom, specifically during the reign of King Hayam Wuruk and the time of Mahapatih Gajah Mada. The Bubat incident is a real historical event, though its interpretation and Gajah Mada's role are debated. The story provides a legendary origin for the Sedudo waterfall, linking it to a historical figure.
Plot Beats (11)
- Mahapatih Gajah Mada, driven by ambition, takes the Sumpah Palapa to unite Nusantara under Majapahit.
- To conquer Pakuan Pajajaran, Gajah Mada proposes a deceptive marriage between Princess Dyah Pitaloka and King Hayam Wuruk.
- The Pakuan Pajajaran royal family travels to Majapahit for the wedding, but Gajah Mada reveals Dyah Pitaloka is a 'tribute', not a bride.
- A battle erupts at Bubat field; the Pakuan Pajajaran forces are annihilated, and Dyah Pitaloka commits suicide.
- King Hayam Wuruk is heartbroken by Dyah Pitaloka's death and blames Gajah Mada.
- The Majapahit royal family orders Gajah Mada's punishment, and his home is surrounded by soldiers.
- Gajah Mada's wife, Nyi Bebet, in a state of panic, sees a vision of her husband and commits suicide.
- Gajah Mada, unwilling to fight his own troops, flees and goes into hiding on Mount Wilis, adopting the name Ki Ageng Ngliman.
- Haunted by the deaths of Dyah Pitaloka and Nyi Bebet, Gajah Mada reflects on his ambition and its tragic cost.
- Whenever his emotions overwhelm him, Gajah Mada seeks solace by bathing in a particular waterfall on Mount Wilis.
- The waterfall becomes known as Sedudo, meaning 'by a widower', due to Ki Ageng Ngliman's frequent visits.
Characters
Ki Ageng Ngliman
None explicitly mentioned, but implied to be a man of significant stature and presence given his past as Mahapatih Gajah Mada.
Attire: None explicitly mentioned, but as a hermit, likely simple, unadorned clothing. When seen by Nyi Bebet, he was 'berpakaian serba putih' (dressed all in white).
Ambitious, strategic, cunning, regretful, contemplative, seeking peace.
Nyi Bebet
None explicitly mentioned.
Attire: Implied to wear traditional Indonesian attire, as she had a 'cundrik' (small dagger) tucked into her 'setagen' (waist sash).
Loving, loyal, panicked, desperate, self-sacrificing.
Hayam Wuruk
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire befitting a Majapahit king.
Affectionate, sorrowful, easily influenced, naive.
Dyah Pitaloka
None explicitly mentioned, but described as a princess.
Attire: Royal attire befitting a Sundanese princess, with a 'cundrik' (small dagger) hidden beneath her clothes.
Honorable, courageous, self-sacrificing.
Sri Baduga Maharaja
None explicitly mentioned.
Attire: Royal attire befitting the King of Pakuan Pajajaran.
Honorable, trusting, shocked, defiant, courageous.
Locations
Lereng Gunung Wilis
A secluded area on the slopes of Mount Wilis, characterized by many valleys, canyons, towering hills, dense wilderness, and numerous waterfalls. It is protected from observation.
Mood: Secluded, peaceful, spiritual, a place for self-reflection and communication with the Creator.
Gajah Mada (as Ki Ageng Ngliman) retreats here to live as a hermit and find solace after the tragic events.
Lapangan Bubat (Bubat Field)
A field where the Majapahit forces confronted the Pakuan Pajajaran entourage. It is implied to be a large open space suitable for battle.
Mood: Tense, tragic, bloody, a scene of betrayal and massacre.
The tragic battle where the entire Pakuan Pajajaran entourage, including Dyah Pitaloka and Sri Baduga Maharaja, are killed.
Air Terjun Sedudo (Sedudo Waterfall)
A large waterfall on the slopes of Mount Wilis with a strong, continuous flow of water, even in the dry season. It is a very quiet place with a strong mystical aura, especially during a full moon.
Mood: Mystical, soothing, spiritual, a place for emotional release and seeking divine guidance.
Ki Ageng Ngliman (Gajah Mada) frequently bathes here to cool his emotions, seek forgiveness, and find peace, leading to its naming.