Asal Usul Surabaya

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 1462 words 7 min read
Cover: Asal Usul Surabaya
Original Story 1462 words · 7 min read

Asal Usul Surabaya

ada zaman dahulu, kerajaan Singosari dipimpin oleh Raja Prabu Kertanegara. Wilayah

kekuasaannya sangat luas. Prabu Kertanegara memiliki beberapa orang putri dari

permaisuri dan para selirnya. Salah seorang putrinya jatuh cinta pada seorang pemuda

dari kalangan rakyat biasa bernama Wirabaya. Pada mulanya, percintaan mereka dilakukan

secara sembunyi-bunyi. Tetapi, lama-kelamaan hubungannya diketahui oleh Prabu

Kertanegara dan permaisurinya.

Sang ratu memanggil putrinya untuk dinasihati bahwa apa yang dilakukannya

merupakan kesalahan karena tidak sepantasnya seorang putri raja menjalin hubungan cinta

dengan pemuda dari kalangan rakyat jelata. Sang putri menolak permintaan permaisuri untuk

memutuskan hubungannya dengan Wirabaya. Meskipun sudah dibujuk dengan berbagai cara,

sang putri tetap bergeming, bahkan dengan berani mengutarakan keinginannya untuk hidup

bersama Wirabaya. Hal itu membuat permaisuri marah sehingga melaporkannya pada Prabu

Kertanegara.

Prabu Kertanegara segera mengadakan rapat kerajaan untuk membahas persoalan

hubungan putrinya dengan Wirabaya. Dalam rapat itu diputuskan memberikan hukuman

penggal kepala untuk sang putri yang dianggap mbalelo. Hukuman akan dilakukan di muka

umum di tengah Alun-alun Baluwerti (sekarang bernama Baliwerti) dengan tujuan

memberikan pesan kepada keluarga kerajaan khususnya dan rakyat Singosari pada umumnya

agar tidak menolak perintah rajanya. Siapa saja yang melanggar perintah raja akan dihukum,

bahkan putri sendiri pun tidak lepas dari hukumari itu,

Berita akan dihukumnya sang putri dengan cepat tersebar ke seluruh wilayah Singosari.

Wirabaya pun mendengar berita tersebut, Ia sangat terharu oleh keteguhan cinta sang putri

terhadap dirinya hingga nyawa pun dipertaruhkan demi mempertahankannya. Karena rasa

cinta yang besar juga kepada sang Putri, Wirabaya memeras otak memikirkan bagaimana

caranya membebaskan sang putri dari hukuman tersebut. Semalam suntuk Wirabaya tidak

tidur memikirkan nasib sang putri. Pada malam berikutnya, Wirabaya diam-diam menuju

pusat kerajaan Singosari mencari tahu tempat sang putri disembunyikan. Atas bantuan

seorang dayang sang putri yang setia, Wirabaya dapat mana sang putri dan membawanya

lari meninggalkan keraton.

"Tuan Putri...,” kata Wirabaya setelah berhasil masak ke tempat disembunyikannya sang

putri.

”Ka...ka...kang Wirabaya? Bagaimana Kakang bisa masuk ke tempat ini?" tanya sang

putri terkejut bercampur takut dan senang.

"Dayang Tuan Putri yang membantuku. Tapi kita tidak punya banyak waktu untuk

bicara. Nanti hamba ceritakan. Sekarang, mari... Tuan Putri, kita pergi sebelum para pengawal

datang,” jawab Wirabaya sambil meraih tangan sang putri.

”Baiklah, Kakang. Aku akan ikut kemana pun Kakang pergi,” jawab sang putri

mengikuti langkah Wirabaya.

75

Wirabaya membawa lari sang putri ke arah selatan, yaitu menuju kerajaan Jenggala.

Tanpa merasa lelah, mereka terus berlari menembus malam dan hutan belantara yang lebat

dengan harapan sampai di Jenggala sebelum keluarga kerajaan menyadari sang putri telah

dibawa lari. Demi cintanya pada Wirabaya, sang putri tidak memikirkan keadaan dirinya, rasa

lelah, lapar, dan dahaga tiada dihiraukan. Wirabaya merasa sangat terharu melihat

pengorbanan sang putri untuk dirinya hingga rasa cintanya kian besar dan kian besar pula

tekadnya untuk menyelamatkan sang putri dari hukuman. Sesekali Wirabaya menggendong

sang putri manakala sang putri sudah terlihat sangat lelah.

Di sisi lain, pagi-pagi seorang dayang tergopoh-gopoh menghadap Sang Permaisuri

melaporkan bahwa tuan putri tidak ada di dalam kamarnya. Sang Ratu diiringi seorang

dayang bergegas menuju kamar sang putri yang telah kosong. Sang dayang, yang

sesungguhnya telah membantu sang putri melarikan diri dengan Wirabaya, mengarang cerita

bahwa pada malam itu tertidur oleh ajian sirep yang digunakan oleh sang pencuri. Ia tidak

menyadari dan tidak mengetahui apa pun yang terjadi di dalam kamar sang putri. Ia baru tahu

bahwa sang putri tidak ada ketika dibangunkan oleh seorang prajurit jaga yang melihat

jendela kamar sang putri terbuka. Sang Permaisuri percaya pada penuturan dayangnya karena

dayang itu merupakan salah satu dayang kepercayaan kerajaan. Ia sudah mengabdi sangat

lama dan sangat setia pada kerajaan.

Sang Ratu segera membangunkan Prabu Kertanegara dan menceritakan apa yang terjadi.

Sang Ratu menduga bahwa yang membawa lari tuan putri bukanlah seorang penculik biasa,

tetapi kekasihnya, yaitu Wirabaya. Meskipun berasal dari kalangan biasa, Wirabaya' juga

terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa berkat olah kanuragan dan pendidikan

keprajuritan yang diikutinya di sebuah perguruan. Setelah bermusyawarah dengan permaisuri.

dan beberapa staf kerajaan, Prabu Kertanegara mengutus Patih Wirasura dan beberapa

prajurit untuk mengejar dan mencari sang putri. Patih tidak boleh kembali sebelum berhasil

membawa pulang tuan putri.

Rombongan yang dipimpin Patih Wirasura itu segera meninggalkan pusat kerajaan

menuju ke arah selatan sesuai dengan petunjuk beberapa orang yang sempat melihat pelarian

sang putri. Karena menggunakan kuda, rombongan patih akhirnya berhasil menyusul

Wirabaya dan sang putri sebelum mereka tiba di kerajaan Jenggala. Di daerah persimpangan

(sekarang disebut Simpang) Mergayasa (jalan yang berjasa), Wirabaya dan sang putri sudah

dihadang oleh Patih Wirasura. Di persimpangan itu terjadi perdebatan mulut antara Wirasura

dan Wirabaya.

”Hai Wirabaya, lancang benar kau menculik putri paduka raja,” bentak Patih Wirasura

dengan mata melotot dan suara keras.

"Hamba tidak menculik tuan putri. Hamba ingin menyelamatkannya dari hukuman.

Tuan putri tidak bersalah," jawab Wirabaya sambil menggeser badannya melindungi sang

putri dari pandangan Patih Wirasura.

"Hai, pemuda desa. Jangan sok jadi pahlawan. Lihatlah siapa dirimu. Kau sudah masuk

ke dalam istana dan membawa lari tuan putri. Kau bilang apa? Menyelamatkan?" bentak

Patih Wirasura dengan nada emosi.

"Benar. Hamba tidak rela tuan putri mendapat hukuman hanya karena mencintai

hamba,” jawab Wirabaya.

"Kau benar-benar lancang. Lepaskan tuan putri atau kau akan kubunuh,” bentak Patih

Wirasura sambil menghunus pedangnya.

76

"Hamba tidak akan melepaskan tuan putri. Hamba rela mati demi cintai hamba pada

tuan putri,” jawab Wirabaya dengan tenang. Tangannya erat menggenggam tangan sang putri.

“Cinta? Dasar anak desa. Kau pikir siapa dirimu, berani mencintai tuan puti? Cepat

lepaskan tuan putri atau aku tidak akan mengampunimu,”" teriak Patih Wirasura sudah tidak

dapat menahan emosinya.

"Maaf, Patih. Hamba tidak akan pemah melepaskan tuan putri. Patih boleh membawa

kembali tuan putri ke istana jika tuan putri yang menghendaki, bukan karena paksaan,” jawab

Wirasura dengan nada meninggi.

"Aku tidak mau pulang. Aku akan ikut ke mana pun Kakang Wirabaya pergi,” tiba-tiba

sang putri menyela bicara.

”Nah, Patih, kau dengar apa kata tuan putri? Sekarang, biarkan kami pergi. Jangan

halangi kami lagi,” kata Wirasaba penuh kemenangan.

”Kau benar-benar lancang, Wirabaya. Kau telah berani melawan perintah raja,” jawab

Wirasura sudah tidak dapat menahan emosi.

Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Wirasura menjalankan titah Prabu Kertanegara

untuk membawa kembali sang putri, sementara Wirasaba berusaha melindungi dan

mempertahankannya. Karena sama-sama kukuh mempertahankan pendiriannya, akhimya

terjadi pertarungan hebat antara Wirabaya dan Wirasura untuk memperebutkan sang putri.

Pertarungan hebat di Persimpangan Mergayasa itu kemudian bergerak ke arah Bubutan

(berasal dari kata rebut-rebutan). Di daerah Bubutan ini, Wirasura berhasil memegang tangan

sang putri, sedangkan Wirabaya berusaha tetap mempertahankannya sehingga terjadi rebutan

“tarik menarik' antara Wirasura dan Wirabaya. Pada satu ketika tangan Wirasura berhasil

memegang tuan putri dan membawanya lari kemudian Wirabaya berusaha mengejarnya dan

berhasil meraih sang putri. Wirasura kembali mengejar Wirabaya, maka terjadi kejar-kejaran

hingga ke dekat laut yang merupakan daerah rawa-rawa dengan hutan bakaunya yang

rimbun, Tempat terjadinya kejar-kejaran itu selanjutnya disebut Kenjeran hingga sekarang. Di

tempat ini Wirabaya berhasil merebut kembali sang putri. Tubuh sang putri terlihat sangat

lemas dan menderita. Demi keselamatan sang putri, Wirabaya kemudian menyembunyikan

tubuh sang putri di rawa-rawa hutan bakau agar tidak terlihat oleh Wirasura. Setelah merasa

aman, Wirabaya ke luar hutan bakau mencari Wirasura dan pertempuran hebat pun kembali

terjadi. '

Wirasura dan Wirabaya sama-sama mempunyai latar belakang ilmu olah kanuragan dan

kesaktian luar biasa. Wirabaya dapat menyelam lama di dalam sungai, sedangkan Wirasura

dapat bersembunyi di dalam laut. Kedua laki-laki perkasa itu terus bertarung tanpa henti

berhari-hari dengan seimbang, tidak ada yang lebih unggul atau lebih lemah. Berbagai ilmu

kanuragan dikeluarkan, tetapi keduanya tetap sama-sama kuat. Pada puncaknya, Wirasaba

dan Wirasura mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang paling tinggi, yaitu menjelma menjadi

ikan. Wirasura berubah menjadi ikan hiu (sura), sedangkan Wirabaya menjelma menjadi

seekor buaya (baya).

Konon jasad Wirasura tertinggal di pantai dan hanyut terbawa air ke laut, sedangkan

jasad Wirabaya selalu dibawa oleh sang putri ke mana-mana mengikuti jalannya pertempuran

ikan sura dan baya.

Karena tidak dapat bertahan lama bertempur di laut (air asin), Wirabaya yang telah

menjelma menjadi buaya menggunakan taktik perang undur-undur, yaitu bertahan sambil

sesekali menyerang. Ikan Sura terpancing oleh strategi perang yang dimainkan oleh ikan

77

Baya, yaitu membawa pertempuran ke arah delta selatan masuk melalui sungai-sungai kecil,

yaitu Kalianyar, Kalisari, Kaliondo, dan berputar di Sungai Plampitan (dekat daerah Semut

sekarang). Perkelahian berlangung sangat sengit sehingga menarik perhatian masyarakat.

Orang-orang menonton di pinggir-pinggir sungai sambil bersorak-sorak menyaksikan

pertempuran yang seimbang. Air sungai berubah wamanya menjadi merah karena darah yang

keluar dari luka kedua ikan tersebut. Air sungai yang bercampur darah itu menyiprat ke

pinggir-pinggir sungai mengenai para penonton dan membuat sebuah jembatan menjadi

berwama merah (sampai sekarang dinamai Jembatan Merah).

Memasuki Sungai Plampitan, tenaga keduanya mulai berkurang sehingga pertempuran

melemah. Keduanya tidak dapat melanjutkan pertempuran dan terkulai lemas di pinggiran.

Bangkai ikan Sura tergeletak di atas bangkai ikan Baya. Bangkai itu dibiarkan tergeletak di

daratan sehingga dikerumuni semut yang sangat banyak. Sampai kini, tempat ditemukannya

bangkai ikan Sura dan ikan Baya yang dikerumuni semut itu dinamakan daerah Semut.

78


Story DNA

Plot Summary

A Singosari princess falls in forbidden love with commoner Wirabaya, leading King Kertanegara to condemn her to death. Wirabaya rescues her, and they flee, pursued by Patih Wirasura. A fierce battle ensues, culminating in Wirabaya and Wirasura transforming into a crocodile (Baya) and a shark (Sura), respectively. Their epic, bloody struggle gives rise to the name of Surabaya and other local landmarks, ending tragically with both combatants' demise.

Themes

forbidden lovesacrificeloyaltydefiance against authority

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: etiological explanation of place names

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: tragic
Magic: transformation into animals (shark, crocodile), superhuman strength and combat skills (olah kanuragan), magical sleep spell (ajian sirep)
Sura (shark) and Baya (crocodile) representing the city's name and eternal conflictred river/bridge symbolizing the intensity of the battle and sacrifice

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

Refers to ancient Javanese kingdoms (Singosari, Jenggala) and traditional social hierarchies.

Plot Beats (14)

  1. Princess of Singosari falls in love with commoner Wirabaya, defying King Kertanegara.
  2. King Kertanegara sentences his daughter to death for her disobedience.
  3. Wirabaya, with help from a lady-in-waiting, rescues the princess from the palace.
  4. Wirabaya and the princess flee south towards Jenggala, enduring hardship.
  5. The Queen discovers the princess's escape and reports it to the King, who dispatches Patih Wirasura to pursue them.
  6. Patih Wirasura's party intercepts Wirabaya and the princess at Mergayasa (Simpang).
  7. Wirabaya and Wirasura engage in a verbal confrontation, with Wirabaya refusing to surrender the princess.
  8. A physical battle erupts between Wirabaya and Wirasura, moving through Bubutan (rebut-rebutan).
  9. The chase continues to Kenjeran, where Wirabaya hides the princess in mangrove swamps.
  10. Wirabaya and Wirasura resume their battle, demonstrating extraordinary powers.
  11. Both transform: Wirasura into a shark (Sura) and Wirabaya into a crocodile (Baya).
  12. Their epic battle continues in the rivers, staining the water red and attracting spectators.
  13. The exhausted Sura and Baya eventually collapse and die, their bodies found together.
  14. The legend explains the origins of place names like Simpang Mergayasa, Bubutan, Kenjeran, Jembatan Merah, and Semut.

Characters

👤

Prabu Kertanegara

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a powerful and authoritative figure.

Attire: Regal attire, likely traditional Javanese royal clothing of the Singosari era.

A king's crown or royal headdress.

Authoritative, strict, concerned with royal protocol, quick to anger.

👤

Sang Putri

human young adult female

None explicitly mentioned, but becomes weak and suffering during her escape.

Attire: Royal princess attire, likely traditional Javanese court dress.

A young woman in royal dress, holding hands with Wirabaya, fleeing through a forest.

Resolute, deeply in love, brave, defiant against authority, enduring.

👤

Wirabaya

human young adult male

Strong and capable, able to carry Sang Putri, possesses great martial arts skills.

Attire: Simple attire of a commoner, perhaps with elements suggesting his martial training.

A young man, fiercely protective, holding a woman's hand, later transforming into a crocodile (baya).

Brave, deeply in love, resourceful, protective, determined, skilled in combat.

👤

Sang Permaisuri

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire, likely traditional Javanese royal clothing.

A queen in royal attire, looking distressed or angry.

Concerned with royal propriety, easily angered by defiance, trusting of loyal servants.

👤

Patih Wirasura

human adult male

Strong and capable, possesses great martial arts skills.

Attire: Warrior or high-ranking official attire, likely traditional Javanese military clothing, carrying a sword.

A warrior with bulging eyes, drawing a sword, later transforming into a shark (sura).

Loyal to the king, hot-tempered, determined, skilled in combat, easily provoked.

👤

Dayang

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Simple servant's attire, traditional Javanese court servant dress.

A discreet servant, perhaps holding a lamp, guiding someone in secret.

Loyal to Sang Putri, resourceful, deceptive (to the Queen), long-serving.

Locations

Alun-alun Baluwerti (Baliwerti)

outdoor

A public square in the center of the Singosari kingdom, where public executions were carried out.

Mood: somber, tense, public spectacle

The planned location for the princess's execution, which Wirabaya prevents.

public square execution platform (implied)

Princess's Chamber in the Palace

indoor night

The princess's room within the Singosari palace, from which she is rescued.

Mood: tense, secretive, hopeful

Wirabaya secretly enters to rescue the princess, aided by a loyal lady-in-waiting.

chamber window (opened by guard)

Simpang Mergayasa (Crossroads)

outdoor

A crossroads or intersection on the way to Jenggala, where Patih Wirasura intercepts Wirabaya and the princess.

Mood: confrontational, tense

The first confrontation and verbal debate between Wirabaya and Patih Wirasura.

crossroads road

Bubutan (Area of Struggle)

outdoor

An area where the physical struggle between Wirabaya and Wirasura intensifies, characterized by 'pulling and tugging' over the princess.

Mood: chaotic, desperate, struggling

The intense physical struggle for the princess between Wirabaya and Wirasura.

open ground struggle

Kenjeran (Mangrove Forest near the Sea)

outdoor

A swampy area near the sea with dense mangrove forests, where the chase continues and the princess is hidden.

Mood: wild, hidden, dangerous, desperate

Wirabaya hides the princess here, and the epic battle between Wirasura and Wirabaya (transformed into Sura and Baya) begins.

mangrove forest swamp sea hiding place

Plampitan River (near Semut)

outdoor

A small river, part of a delta system, where the final, fierce battle between Sura (shark) and Baya (crocodile) takes place, attracting spectators.

Mood: violent, public spectacle, bloody

The climactic battle between Sura and Baya, leading to their exhaustion and the naming of 'Semut' (Ants) and 'Jembatan Merah' (Red Bridge).

river riverbanks spectators red water (from blood) Jembatan Merah (Red Bridge)