Menu

Asal Usul Surabaya

by Balai Bahasa Surabaya

Asal Usul Surabaya

The Shark and the Crocodile: A Story from Surabaya

CEFR A1 Age 5 367 words 2 min Canon 95/100

Long ago, there is a pretty princess. She lives in a big palace. But she is not happy. She is very sad.

The Princess has a best friend. His name is Wirabaya. He is kind. He is brave. They like to talk. They like to laugh. But the King does not want this.

The King is very angry. He says, "No! You must stay here." He says, "You cannot see him." The Princess is sad. She wants to see her friend. She sits and waits. She waits and waits.

But Wirabaya is brave. One night, he comes. He comes to the palace. A kind helper opens the door. "Come, Princess," he says. "I am here." The Princess smiles. "Thank you," she says. And they go into the night.

They walk and walk. They go through big trees. They go up a hill. They go down a hill. They cross a stream. The Princess is tired. Wirabaya helps her. "Do not be sad," he says. "I am here." She smiles.

But the King sends a strong man. His name is Wirasura. He must bring her back. He walks fast. He looks and looks. He finds them by the river. "Come back now!" he says.

Wirabaya says, "No! She is my friend. I will not let her go."

And then a great thing happens. Wirasura is very strong. Wirabaya is very strong too. They are so strong, they change! Wirasura turns into a big shark. Sura the shark! And Wirabaya turns into a crocodile. Baya the crocodile! It is like magic.

Sura and Baya go to the river. Splash! Splash! The water goes all around! Splash! Splash! People come to see. "Look!" they say. "A shark and a crocodile!" Splash! Splash! The water flies up high. It flies so high! It falls back down.

But then they are very tired. They stop. Sura the shark looks at Baya. Baya the crocodile looks at Sura. They are not angry now. They are still. "I will guard the sea," says Sura. "I will guard the river," says Baya. And they are friends again.

Sura and Baya. Sura-Baya! That is the city name. Sura the shark. Baya the crocodile. Sura-Baya! Even today!

Original Story 1462 words · 7 min read

Asal Usul Surabaya ada zaman dahulu, kerajaan Singosari dipimpin oleh Raja Prabu Kertanegara. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Prabu Kertanegara memiliki beberapa orang putri dari permaisuri dan para selirnya. Salah seorang putrinya jatuh cinta pada seorang pemuda dari kalangan rakyat biasa bernama Wirabaya. Pada mulanya, percintaan mereka dilakukan secara sembunyi-bunyi. Tetapi, lama-kelamaan hubungannya diketahui oleh Prabu Kertanegara dan permaisurinya. Sang ratu memanggil putrinya untuk dinasihati bahwa apa yang dilakukannya merupakan kesalahan karena tidak sepantasnya seorang putri raja menjalin hubungan cinta dengan pemuda dari kalangan rakyat jelata. Sang putri menolak permintaan permaisuri untuk memutuskan hubungannya dengan Wirabaya. Meskipun sudah dibujuk dengan berbagai cara, sang putri tetap bergeming, bahkan dengan berani mengutarakan keinginannya untuk hidup bersama Wirabaya. Hal itu membuat permaisuri marah sehingga melaporkannya pada Prabu Kertanegara. Prabu Kertanegara segera mengadakan rapat kerajaan untuk membahas persoalan hubungan putrinya dengan Wirabaya. Dalam rapat itu diputuskan memberikan hukuman penggal kepala untuk sang putri yang dianggap mbalelo. Hukuman akan dilakukan di muka umum di tengah Alun-alun Baluwerti (sekarang bernama Baliwerti) dengan tujuan memberikan pesan kepada keluarga kerajaan khususnya dan rakyat Singosari pada umumnya agar tidak menolak perintah rajanya. Siapa saja yang melanggar perintah raja akan dihukum, bahkan putri sendiri pun tidak lepas dari hukumari itu, Berita akan dihukumnya sang putri dengan cepat tersebar ke seluruh wilayah Singosari. Wirabaya pun mendengar berita tersebut, Ia sangat terharu oleh keteguhan cinta sang putri terhadap dirinya hingga nyawa pun dipertaruhkan demi mempertahankannya. Karena rasa cinta yang besar juga kepada sang Putri, Wirabaya memeras otak memikirkan bagaimana caranya membebaskan sang putri dari hukuman tersebut. Semalam suntuk Wirabaya tidak tidur memikirkan nasib sang putri. Pada malam berikutnya, Wirabaya diam-diam menuju pusat kerajaan Singosari mencari tahu tempat sang putri disembunyikan. Atas bantuan seorang dayang sang putri yang setia, Wirabaya dapat mana sang putri dan membawanya lari meninggalkan keraton. "Tuan Putri...,” kata Wirabaya setelah berhasil masak ke tempat disembunyikannya sang putri. ”Ka...ka...kang Wirabaya? Bagaimana Kakang bisa masuk ke tempat ini?" tanya sang putri terkejut bercampur takut dan senang. "Dayang Tuan Putri yang membantuku. Tapi kita tidak punya banyak waktu untuk bicara. Nanti hamba ceritakan. Sekarang, mari... Tuan Putri, kita pergi sebelum para pengawal datang,” jawab Wirabaya sambil meraih tangan sang putri. ”Baiklah, Kakang. Aku akan ikut kemana pun Kakang pergi,” jawab sang putri mengikuti langkah Wirabaya. 75 Wirabaya membawa lari sang putri ke arah selatan, yaitu menuju kerajaan Jenggala. Tanpa merasa lelah, mereka terus berlari menembus malam dan hutan belantara yang lebat dengan harapan sampai di Jenggala sebelum keluarga kerajaan menyadari sang putri telah dibawa lari. Demi cintanya pada Wirabaya, sang putri tidak memikirkan keadaan dirinya, rasa lelah, lapar, dan dahaga tiada dihiraukan. Wirabaya merasa sangat terharu melihat pengorbanan sang putri untuk dirinya hingga rasa cintanya kian besar dan kian besar pula tekadnya untuk menyelamatkan sang putri dari hukuman. Sesekali Wirabaya menggendong sang putri manakala sang putri sudah terlihat sangat lelah. Di sisi lain, pagi-pagi seorang dayang tergopoh-gopoh menghadap Sang Permaisuri melaporkan bahwa tuan putri tidak ada di dalam kamarnya. Sang Ratu diiringi seorang dayang bergegas menuju kamar sang putri yang telah kosong. Sang dayang, yang sesungguhnya telah membantu sang putri melarikan diri dengan Wirabaya, mengarang cerita bahwa pada malam itu tertidur oleh ajian sirep yang digunakan oleh sang pencuri. Ia tidak menyadari dan tidak mengetahui apa pun yang terjadi di dalam kamar sang putri. Ia baru tahu bahwa sang putri tidak ada ketika dibangunkan oleh seorang prajurit jaga yang melihat jendela kamar sang putri terbuka. Sang Permaisuri percaya pada penuturan dayangnya karena dayang itu merupakan salah satu dayang kepercayaan kerajaan. Ia sudah mengabdi sangat lama dan sangat setia pada kerajaan. Sang Ratu segera membangunkan Prabu Kertanegara dan menceritakan apa yang terjadi. Sang Ratu menduga bahwa yang membawa lari tuan putri bukanlah seorang penculik biasa, tetapi kekasihnya, yaitu Wirabaya. Meskipun berasal dari kalangan biasa, Wirabaya' juga terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa berkat olah kanuragan dan pendidikan keprajuritan yang diikutinya di sebuah perguruan. Setelah bermusyawarah dengan permaisuri. dan beberapa staf kerajaan, Prabu Kertanegara mengutus Patih Wirasura dan beberapa prajurit untuk mengejar dan mencari sang putri. Patih tidak boleh kembali sebelum berhasil membawa pulang tuan putri. Rombongan yang dipimpin Patih Wirasura itu segera meninggalkan pusat kerajaan menuju ke arah selatan sesuai dengan petunjuk beberapa orang yang sempat melihat pelarian sang putri. Karena menggunakan kuda, rombongan patih akhirnya berhasil menyusul Wirabaya dan sang putri sebelum mereka tiba di kerajaan Jenggala. Di daerah persimpangan (sekarang disebut Simpang) Mergayasa (jalan yang berjasa), Wirabaya dan sang putri sudah dihadang oleh Patih Wirasura. Di persimpangan itu terjadi perdebatan mulut antara Wirasura dan Wirabaya. ”Hai Wirabaya, lancang benar kau menculik putri paduka raja,” bentak Patih Wirasura dengan mata melotot dan suara keras. "Hamba tidak menculik tuan putri. Hamba ingin menyelamatkannya dari hukuman. Tuan putri tidak bersalah," jawab Wirabaya sambil menggeser badannya melindungi sang putri dari pandangan Patih Wirasura. "Hai, pemuda desa. Jangan sok jadi pahlawan. Lihatlah siapa dirimu. Kau sudah masuk ke dalam istana dan membawa lari tuan putri. Kau bilang apa? Menyelamatkan?" bentak Patih Wirasura dengan nada emosi. "Benar. Hamba tidak rela tuan putri mendapat hukuman hanya karena mencintai hamba,” jawab Wirabaya. "Kau benar-benar lancang. Lepaskan tuan putri atau kau akan kubunuh,” bentak Patih Wirasura sambil menghunus pedangnya. 76 "Hamba tidak akan melepaskan tuan putri. Hamba rela mati demi cintai hamba pada tuan putri,” jawab Wirabaya dengan tenang. Tangannya erat menggenggam tangan sang putri. “Cinta? Dasar anak desa. Kau pikir siapa dirimu, berani mencintai tuan puti? Cepat lepaskan tuan putri atau aku tidak akan mengampunimu,”" teriak Patih Wirasura sudah tidak dapat menahan emosinya. "Maaf, Patih. Hamba tidak akan pemah melepaskan tuan putri. Patih boleh membawa kembali tuan putri ke istana jika tuan putri yang menghendaki, bukan karena paksaan,” jawab Wirasura dengan nada meninggi. "Aku tidak mau pulang. Aku akan ikut ke mana pun Kakang Wirabaya pergi,” tiba-tiba sang putri menyela bicara. ”Nah, Patih, kau dengar apa kata tuan putri? Sekarang, biarkan kami pergi. Jangan halangi kami lagi,” kata Wirasaba penuh kemenangan. ”Kau benar-benar lancang, Wirabaya. Kau telah berani melawan perintah raja,” jawab Wirasura sudah tidak dapat menahan emosi. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Wirasura menjalankan titah Prabu Kertanegara untuk membawa kembali sang putri, sementara Wirasaba berusaha melindungi dan mempertahankannya. Karena sama-sama kukuh mempertahankan pendiriannya, akhimya terjadi pertarungan hebat antara Wirabaya dan Wirasura untuk memperebutkan sang putri. Pertarungan hebat di Persimpangan Mergayasa itu kemudian bergerak ke arah Bubutan (berasal dari kata rebut-rebutan). Di daerah Bubutan ini, Wirasura berhasil memegang tangan sang putri, sedangkan Wirabaya berusaha tetap mempertahankannya sehingga terjadi rebutan “tarik menarik' antara Wirasura dan Wirabaya. Pada satu ketika tangan Wirasura berhasil memegang tuan putri dan membawanya lari kemudian Wirabaya berusaha mengejarnya dan berhasil meraih sang putri. Wirasura kembali mengejar Wirabaya, maka terjadi kejar-kejaran hingga ke dekat laut yang merupakan daerah rawa-rawa dengan hutan bakaunya yang rimbun, Tempat terjadinya kejar-kejaran itu selanjutnya disebut Kenjeran hingga sekarang. Di tempat ini Wirabaya berhasil merebut kembali sang putri. Tubuh sang putri terlihat sangat lemas dan menderita. Demi keselamatan sang putri, Wirabaya kemudian menyembunyikan tubuh sang putri di rawa-rawa hutan bakau agar tidak terlihat oleh Wirasura. Setelah merasa aman, Wirabaya ke luar hutan bakau mencari Wirasura dan pertempuran hebat pun kembali terjadi. ' Wirasura dan Wirabaya sama-sama mempunyai latar belakang ilmu olah kanuragan dan kesaktian luar biasa. Wirabaya dapat menyelam lama di dalam sungai, sedangkan Wirasura dapat bersembunyi di dalam laut. Kedua laki-laki perkasa itu terus bertarung tanpa henti berhari-hari dengan seimbang, tidak ada yang lebih unggul atau lebih lemah. Berbagai ilmu kanuragan dikeluarkan, tetapi keduanya tetap sama-sama kuat. Pada puncaknya, Wirasaba dan Wirasura mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang paling tinggi, yaitu menjelma menjadi ikan. Wirasura berubah menjadi ikan hiu (sura), sedangkan Wirabaya menjelma menjadi seekor buaya (baya). Konon jasad Wirasura tertinggal di pantai dan hanyut terbawa air ke laut, sedangkan jasad Wirabaya selalu dibawa oleh sang putri ke mana-mana mengikuti jalannya pertempuran ikan sura dan baya. Karena tidak dapat bertahan lama bertempur di laut (air asin), Wirabaya yang telah menjelma menjadi buaya menggunakan taktik perang undur-undur, yaitu bertahan sambil sesekali menyerang. Ikan Sura terpancing oleh strategi perang yang dimainkan oleh ikan 77 Baya, yaitu membawa pertempuran ke arah delta selatan masuk melalui sungai-sungai kecil, yaitu Kalianyar, Kalisari, Kaliondo, dan berputar di Sungai Plampitan (dekat daerah Semut sekarang). Perkelahian berlangung sangat sengit sehingga menarik perhatian masyarakat. Orang-orang menonton di pinggir-pinggir sungai sambil bersorak-sorak menyaksikan pertempuran yang seimbang. Air sungai berubah wamanya menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua ikan tersebut. Air sungai yang bercampur darah itu menyiprat ke pinggir-pinggir sungai mengenai para penonton dan membuat sebuah jembatan menjadi berwama merah (sampai sekarang dinamai Jembatan Merah). Memasuki Sungai Plampitan, tenaga keduanya mulai berkurang sehingga pertempuran melemah. Keduanya tidak dapat melanjutkan pertempuran dan terkulai lemas di pinggiran. Bangkai ikan Sura tergeletak di atas bangkai ikan Baya. Bangkai itu dibiarkan tergeletak di daratan sehingga dikerumuni semut yang sangat banyak. Sampai kini, tempat ditemukannya bangkai ikan Sura dan ikan Baya yang dikerumuni semut itu dinamakan daerah Semut. 78


Characters 6 characters

Prabu Kertanegara ◆ supporting

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a powerful and authoritative figure.

Attire: Regal attire, likely traditional Javanese royal clothing of the Singosari era.

Authoritative, strict, concerned with royal protocol, quick to anger.

Sang Putri ★ protagonist

human young adult female

None explicitly mentioned, but becomes weak and suffering during her escape.

Attire: Royal princess attire, likely traditional Javanese court dress.

Resolute, deeply in love, brave, defiant against authority, enduring.

Wirabaya ★ protagonist

human young adult male

Strong and capable, able to carry Sang Putri, possesses great martial arts skills.

Attire: Simple attire of a commoner, perhaps with elements suggesting his martial training.

Brave, deeply in love, resourceful, protective, determined, skilled in combat.

Sang Permaisuri ◆ supporting

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire, likely traditional Javanese royal clothing.

Concerned with royal propriety, easily angered by defiance, trusting of loyal servants.

Patih Wirasura ⚔ antagonist

human adult male

Strong and capable, possesses great martial arts skills.

Attire: Warrior or high-ranking official attire, likely traditional Javanese military clothing, carrying a sword.

Loyal to the king, hot-tempered, determined, skilled in combat, easily provoked.

Dayang ○ minor

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Simple servant's attire, traditional Javanese court servant dress.

Loyal to Sang Putri, resourceful, deceptive (to the Queen), long-serving.

Locations 6 locations
Alun-alun Baluwerti (Baliwerti)

Alun-alun Baluwerti (Baliwerti)

outdoor

A public square in the center of the Singosari kingdom, where public executions were carried out.

Mood: somber, tense, public spectacle

The planned location for the princess's execution, which Wirabaya prevents.

public squareexecution platform (implied)
Princess's Chamber in the Palace

Princess's Chamber in the Palace

indoor night

The princess's room within the Singosari palace, from which she is rescued.

Mood: tense, secretive, hopeful

Wirabaya secretly enters to rescue the princess, aided by a loyal lady-in-waiting.

chamberwindow (opened by guard)
Simpang Mergayasa (Crossroads)

Simpang Mergayasa (Crossroads)

outdoor

A crossroads or intersection on the way to Jenggala, where Patih Wirasura intercepts Wirabaya and the princess.

Mood: confrontational, tense

The first confrontation and verbal debate between Wirabaya and Patih Wirasura.

crossroadsroad
Bubutan (Area of Struggle)

Bubutan (Area of Struggle)

outdoor

An area where the physical struggle between Wirabaya and Wirasura intensifies, characterized by 'pulling and tugging' over the princess.

Mood: chaotic, desperate, struggling

The intense physical struggle for the princess between Wirabaya and Wirasura.

open groundstruggle
Kenjeran (Mangrove Forest near the Sea)

Kenjeran (Mangrove Forest near the Sea)

outdoor

A swampy area near the sea with dense mangrove forests, where the chase continues and the princess is hidden.

Mood: wild, hidden, dangerous, desperate

Wirabaya hides the princess here, and the epic battle between Wirasura and Wirabaya (transformed into Sura and Baya) begins.

mangrove forestswampseahiding place
Plampitan River (near Semut)

Plampitan River (near Semut)

outdoor

A small river, part of a delta system, where the final, fierce battle between Sura (shark) and Baya (crocodile) takes place, attracting spectators.

Mood: violent, public spectacle, bloody

The climactic battle between Sura and Baya, leading to their exhaustion and the naming of 'Semut' (Ants) and 'Jembatan Merah' (Red Bridge).

riverriverbanksspectatorsred water (from blood)Jembatan Merah (Red Bridge)

Story DNA legend · solemn

Plot Summary

A Singosari princess falls in forbidden love with commoner Wirabaya, leading King Kertanegara to condemn her to death. Wirabaya rescues her, and they flee, pursued by Patih Wirasura. A fierce battle ensues, culminating in Wirabaya and Wirasura transforming into a crocodile (Baya) and a shark (Sura), respectively. Their epic, bloody struggle gives rise to the name of Surabaya and other local landmarks, ending tragically with both combatants' demise.

Themes

forbidden lovesacrificeloyaltydefiance against authority

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: etiological explanation of place names

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: tragic
Magic: transformation into animals (shark, crocodile), superhuman strength and combat skills (olah kanuragan), magical sleep spell (ajian sirep)
Sura (shark) and Baya (crocodile) representing the city's name and eternal conflictred river/bridge symbolizing the intensity of the battle and sacrifice

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

Refers to ancient Javanese kingdoms (Singosari, Jenggala) and traditional social hierarchies.

Plot Beats (14)

  1. Princess of Singosari falls in love with commoner Wirabaya, defying King Kertanegara.
  2. King Kertanegara sentences his daughter to death for her disobedience.
  3. Wirabaya, with help from a lady-in-waiting, rescues the princess from the palace.
  4. Wirabaya and the princess flee south towards Jenggala, enduring hardship.
  5. The Queen discovers the princess's escape and reports it to the King, who dispatches Patih Wirasura to pursue them.
  6. Patih Wirasura's party intercepts Wirabaya and the princess at Mergayasa (Simpang).
  7. Wirabaya and Wirasura engage in a verbal confrontation, with Wirabaya refusing to surrender the princess.
  8. A physical battle erupts between Wirabaya and Wirasura, moving through Bubutan (rebut-rebutan).
  9. The chase continues to Kenjeran, where Wirabaya hides the princess in mangrove swamps.
  10. Wirabaya and Wirasura resume their battle, demonstrating extraordinary powers.
  11. Both transform: Wirasura into a shark (Sura) and Wirabaya into a crocodile (Baya).
  12. Their epic battle continues in the rivers, staining the water red and attracting spectators.
  13. The exhausted Sura and Baya eventually collapse and die, their bodies found together.
  14. The legend explains the origins of place names like Simpang Mergayasa, Bubutan, Kenjeran, Jembatan Merah, and Semut.

Related Stories