Cerita Arya Bambang Situbondo

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 2253 words 10 min read
Cover: Cerita Arya Bambang Situbondo
Original Story 2253 words · 10 min read

Cerita Arya Bambang Situbondo

ada zaman dahulu tersebut nama Sunan Patok yang berada di Paseban Agung di kaki

Gunung Bantongan Mimbaan Pengkepeng. Sunan Patok cacat secara fisik karena

tangan dan kakinya pincang, tetapi sakti karena memiliki senjata berupa pecut

bernama Poser Jagat. :

Sunan Patok mempunyai dua orang punakawan yang setia menemaninya, yaitu Karyo

dan Suro. Mereka berdua gemar bermain layangan. Ketika punakawannya bermain layangan,

Sunan Patok teringat kedua orang tuanya hingga tanpa disadarinya air matanya bercucuran.

Saat itu, tiba-tiba terdengar suara gaib, “Wahai Anakku Sunan Patok, Kenapa engkau

bersedih? Kakek akan memberimu hadiah untuk menghilangkan rasa sedihmu. Terimalah

blangkon ini sebagai pengganti orang tuamu ketika engkau merindukannya.”

Bersamaan dengan suara itu, mendadak di samping tempat duduknya ada sebuah

blangkon,

“Mengapa engkau memberiku blangkon? Aku ingin orang tuaku. Siapa orang tuaku

yang sebenarnya?” tanya Sunan Patok sambil tanpa disadarinya membuang blungkon

tersebut ke arah barat. Blangkon itu tiba-tiba berubah menjadi patok atau batu. Tempat itu

kemudian dinamai Desa Patok dan orang yang menyebabkan adanya patok itu kemudian

dikenal dengan sebutan Sunan Patok.

Setelah memberi nama Desa Patok, tiba-tiba Sunan Patok teringat cerita orang tuanya

pada waktu kecil. Ayahnya mengatakan bahwa ia mempunyai tujuh orang saudara yang

tinggal di beberapa tempat, yaitu Prabu Selomukti di Besuki, Prabu Sumolewo di Aris

Pemalang, Prabu Singo Barong di Jember, Prabu Bandung Bondowoso di Bondowoso, Prabu

Sabrang Wetan di Sumberwaru, Prabu Pujer di Pujer, dan Prabu Arya Pati di Bantongan.

Ayahnya berpesan bahwa jika mengalami kesulitan, ia dapat minta bantuan pada saudara-

saudaranya itu. Sunan Patok memutuskan pergi ke Besuki menemui pamannya untuk

mencari saudara-saudaranya yang lain.

Sementara itu, dikisahkan bahwa di kerajaan Sumber Waru, yang diperintah oleh

seorang pangeran bemama Prabu Sabrang Wetan, sedang dilakukan pertemuan dengan para

patihnya. Dalam persidangan itu, Prabu Sabrang Wetan menceritakan mimpinya.

”Paman, semalam aku bermimpi jatuh cinta pada gadis bernama Dewi Manjasari. Gadis

itu sangat cantik. Menurut Paman, apakah arti mimpiku ini?”

“Mohon ampun Tuanku, mimpi hanyalah bunga tidur. Janganlah Tuan terlalu

memercayainya. Agar tidak terganggu oleh mimpi itu, hamba sarankan Tuanku minta nasihat

kepada Pangeran Selomukti di Besuki,” kata seorang patihnya.

“Baiklah Paman, aku akan segera menemui Prabu Selomukti.”

Di tempat lain, dikisahkan bahwa dalam perjalanan mencari suaminya, Dewi Sekar

Arum kehilangan arah. Suaminya, Raden Panji, putra Prabu Puger, pamit pergi meninggalkan

istana hanya satu hari, tetapi ternyata berhari-hari tidak kembali. Dengan ditemani dayang

pengasuhnya, Dewi Sekar Arum mencari Raden Panji hingga tersesat di tengah hutan. Dewi

37

Sekar Arum menangis dan berkata kepada dayang pengasuhnya, "Bibi ke mana lagi kita

mencari suamiku? Aku sudah tidak kuat lagi.”

”Tuan Putri, sebaiknya kita beristirahat di sini,” kata sang dayang sambil memapah

Dewi Sekar Arum mencari tempat duduk.

Baru saja mereka hendak duduk, tiba-tiba lewat Sunan Patok dan dua punakawannya

yang akan menuju Besuki. Sunan Patok merasa iba melihat seorang putri dan dayangnya

yang tampak keletihan.

”Siapakah Tuan Putri? Mengapa berada di hutan ini? Apakah Tuan Putri tersesat?”

“Saya sedang mencari suami saya yang hilang. Apakah kiranya tuanku pernah

melihatnya?”

"Kebetulan saya baru sampai di tempat ini, kalau tidak keberatan saya akan membantu

Tuan Putri mencarinya.”

“Terima kasih atas budi baik Tuan,” jawab Dewi Sekar Arum.

Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sunan Patok pun mengambil setangkai daun yang

ada di sampingnya. Daun itu dijadikannya seekor burung sebagai penunjuk jalan.

Kemudian dikisahkan, kerajaan Besuki diperintah oleh Prabu Selomukti- dengan

permaisuri bernama Dewi Sambi. Mereka dikaruniai seorang putra bemama Raden Jaya

Taruna yang beristrikan Dewi Manjasari. Selain Raden Jaya Taruna, ada salah seorang

keponakan Prabu Selomukti yang tidak lain adalah Raden Panji anak Pangeran Puger. Raden

Panji adalah suami Dewi Sekar Arum.

Ketika sedang melaksanakan persidangan dengan para patih dan putra-putranya, tiba-

tiba datang Prabu Sabrang Wetan.

“Kakanda, dalam persidangan ini, saya mohon izin untuk melaksanakan perayaan

perkawinan keponakan saya, Jaya Taruna dengan Dewi Manjasari, karena pada waktu

pernikahan mereka saya tidak bisa hadir. Saya ingin membuatkan pesta perayaan di kerajaan

Sumber Waru. Izinkan saya mengajak mereka ke kerajaan Sumber Waru.”

"Oh, Paman. Kapan Paman datang? Terima kasih Paman akan membuatkan pesta

untukku,” kata Raden Jaya Taruna.

Atas persetujuan para peserta sidang, Prabu Sabrang Wetan pun diizinkan mengajak

Raden Jaya Taruna dan Dewi Manjasari ke kerajaan Sumber Waru. Dalam perjalanan menuju

Sumber Waru, tiba-tiba Dewi Manjasari mengalami sakit perut karena hamil dan kehausan.

Mereka kesulitan mencari pertolongan karena berada di tengah hutan.

“Raden Jaya Taruna sebaiknya engkau segera mencari air dan obat-obatan di sekitar

hutan ini. Aku akan menjaga istrimu dari gangguan binatang buas.”

Tanpa rasa curiga pada pamannya, Raden Jaya Taruna pun segera pergi mencari aur dan

ramuan daun-daunan untuk menolong istrinya. Prabu Sabrang Wetan tersenyum penuh

kemenangan karena akal liciknya berhasil mengecoh raden Jaya Taruna, Ia memanfaatkan

kepergian Raden Jaya Taruna untuk merayu Dewi Manyasari, perempuan yang telah hadir

dalam mimpinya. Meskipun dengan alasan memenuhi wangsit, Dewi Manjasari tetap

menolak rayuan paman mertuanya itu. Saat Prabu Sabrang Wetan berusaha memerkosa Dewi

Manjasari, tiba-tiba Raden Jaya Taruna datang.

“Paman! Apa yang Paman lakukan pada istri saya?”

”Oh...oh...tidak...tidak...istrimu tadi merasa kesakitan. Paman hendak menolongnya,”

jawab Prabu Sabrang Wetan tergagap.

38

”Jangan bohong! Sudah jelas, Paman berniat tidak baik! Sekarang saya baru sadar, itu

sebabnya Paman menyuruh saya mencari obat-obatan ke hutan, supaya Paman dapat merayu

istri saya?” kata Raden Jaya Taruna marah.

Perkelahian antara keponakan dan paman itu pun tidak terhindarkan. Raden Jaya Taruna

kalah sakti dibandingkan dengan pamannya sehingga dengan mudah dapat ditundukkan.

Karena terus terdesak, Raden Jaya Taruna dengan terpaksa meninggalkan istrinya.

Kesempatan ita digunakan oleh Prabu Sabrang Wetan untuk melanjutkan niat buruknya

terhadap "Dewi .Manjasari. Akan tetapi, tiba-tiba datang Sunan Patok dan kedua

punakawannya menolong Dewi Manjasari.

“Siapa kamu, berani-beraninya mengganggu kesenanganku? Apakah kamu ingin mati?”

bentak" Prabu Sabrang Wetan dengan marah karena untuk kedua kalinya ia gagal

melampiaskan nasfunya.

“Tidak sepantasnya seorang ksatria melakukan kekerasan terhadap seorang perempuan

yang tidak berdaya. Apalagi dalam keadaan hamil.”

"Kau....tidak perlu mengguruiku! Kalau kau menang hebat, majulah!”"

"Memang akulah lawanmu!”

Prabu Sabrang Wetan pun dengan cepat menyerang Sunan Patok. Melihat lawannya

cukup tangguh, Sunan Patok menggunakan pecut Poser Jagat untuk menangkis setiap

serangan yang datang. Melihat dahsyatnya senjata yang digunakan Sunan Patok, Prabu

Sabrang Wetan ketakutan hingga lari tunggang langgang bersama adipatinya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Sunan Patok membantu Dewi Manjasari. Sunan

Patok tidak tahu bahwa Dewi Manjasari adalah istri keponakannya, Raden Jaya Taruna, putra

Prabu Selomukti dari Besuki. Setelah Dewi Manjasari sadar kembali, barulah Sunan Patok

dan ponakawannya melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Besuki.

Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, akhirnya Sunan Patok tiba di kerajaan

Besuki. Akan tetapi, ia sangat kecewa karena keraton dalam keadaan kosong, tidak ada

penjaga yang bisa ditanyai. Sunan Patok dan kedua punakawannya mengelilingi keraton

untuk mencari pamannya, Prabu Selomukti. Saat berkeliling, Sunan Patok melihat sebuah

bangunan penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan, seperti keris, payung, dan seekor

banteng, yang merupakan hewan kesayangan Prabu Selomukti, Karena kesal, Sunan Patok

melemparkan benda-benda pusaka itu dan dengan Pecut Poser Jagat, binatang kesayangan

Prabu Selomukti itu pun dipecut hingga mati di bawah pohon jati. Tempat matinya banteng

itu kemudian dinamai Desa Jatibanteng. Adapun Keris Pusaka Semambung dilempar dan

tertancap di atas gunung dan kemudian daerah tersebut diberi nama Desa Semambung.

Payung Ajaib dilempar dan menancap di atas gunung sehingga tempat tersebut diberi nama

Desa Widoro Payung. Di tengah-tengah kemarahannya, Sunan Patok mendengarkan suara

Azan Subuh sehingga ia menamakan daerah tersebut dengan Desa Suboh.

Alkisah, tanpa sengaja Raden Panji bertemu kembali dengan Dewi Sekar Arum. Dengan

rasa bersalah, Raden Panji pun minta maaf telah pergi cukup lama tanpa memberi kabar.

Dewi Sekar Arum pun memaafkan Raden Panji sehingga mereka rukun kembali. Ketika

sedang bersenang-senang melepas kerinduan, tiba-tiba muncul Prabu Selomukti dan

permaisurinya Dewi Sambi, kemudian pada saat yang bersamaan datang Sunan Patok dan

dua punakawannya. Sambil marah-marah kepada Prabu Selomukti, ia menceritakan

perbuatan Prabu Sabrang Wetan yang mencoba memperkosa Dewi Manjasari sampai terjadi

pertempuran antara Prabu Sabrang Wetan dan Raden Jaya Taruna.

”Apa? Prabu Sabrang Wetan akan memerkosa menantuku? Bagaimana dengan putraku

Raden Jaya Taruna? Tidak kusangka adikku akan mencelakai putraku sendiri,” kata Prabu

Selomukti.

“Benar Tuanku, sungguh tidak terpuji perbuatan Prabu Sabrang Wetan. Akan tetapi, ada

hal yang tidak kalah pentingnya, Tuanku. Pusaka-pusaka yang ada di kerajaan dibuang dan

dihancurkan oleh Sunan Patok,” kata seorang punakawan Sunan Patok.

“Siapa Sunan Patok dan mengapa ia menghancurkan pusaka-pusakaku?” tanya Prabu

Selomukti.

"Karena beliau sangat marah. Beliau ingin bertemu Tuanku Prabu Selomukti, tetapi

tidak ada satu pun orang di keraton,” jawab punakawannya.

"Tapi siapa Sunan Patok. Mengapa ingin bertemu denganku,” tanya Prabu Selomukti.

“Sayalah Sunan Patok, Paman. Saya putra Prabu Arya Pati dari Gunung Bantongan.

Saya ingin mencari saudara-saudara ayah,” jawab Sunan Patok. Ia sudah mendengar sedikit

cerita tentang Prabu Selomukti dari Dewi Manjasari.

Betapa terkejutnya Prabu Selomukti mendengar jawaban Sunan Patok.

”Oh, Anakku, Paman mohon maaf. Kedatanganmu ke Besuki tidak ada yang menyapa.

Untuk itu sebagai rasa hormat Paman kepada ayahmu, Paman akan, mengganti namamu.

Namamu sekarang menjadi Arya Bambang Situbondo.”

“Terima kasih, Paman. Tetapi Paman, bagaimana nasib Dinda Raden Jaya Taruna

dengan Dewi Manjasari?”

“Paman tidak tahu. Oh, Anakku, di mana ia sekarang,” kata Prabu Selomukti dengan

wajah sedih.

"Paman, izinkan saya menemui Paman Prabu Sabrang Wetan di Sumber Waru sekalian

mencari Dinda Dewi Manjasari dan Dinda Raden Jaya Taruna,” kata Arya Bambang

Situbondo.

"Terima kasih, Anakku. Kita baru bertemu, kau sudah harus menghadapi masalah

seperti ini.”

”Tidak apa-apa, Paman. Saya senang sudah dapat bertemu dengan Paman dan sepupu-

sepupu saya. Saya mohon pamit."

Karena khawatir dengan saudara sepupunya, Arya Bambang Situbondo pun segera

melanjutkan perjalanan menuju Keraton Sumber Waru. Dalam perjalanannya ke kerajaan

Sumber Waru, Arya Bambang Situbondo bertemu kembali dengan Dewi Manjasari yang

hendak melahirkan. Berkat bantuan Arya Bambang Situbondo, Dewi Manjasari melahirkan

anak laki-laki. Arya Bambang Situbondo menamainya Raden Kertosari. Dewi Manjasari pun

menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih, Kakanda. Tetapi, lihatlah Kanda, mengapa kaki Raden Kertosari selalu

bergerak-gerak menyentuh tanah. Pertanda apa, Kanda?”

"Jangan khawatir, Dinda. Biar Kanda lihat.”

Dengan gerakan cepat, tempat kaki bayi itu dipecut oleh Arya Bambang Situbondo.

Dari bongkahan tanah yang terkena pecut itu tampak sebuah gentong berisi emas. Mereka

terpana melihat emas berkilauan memancar dari dalam gentong itu.

"Rupanya ini yang membuat kaki Raden Kertosari menjejak-jejak. Kelahirannya sudah

membawa berkah, mudah-mudahan kelak ia menjadi anak yang berbakti. Sebagai peringatan,

tempat ini akan kuberi nama Desa Gentong.”

40

Kemudian ketika Raden Kartosari hendak disusui, air susu Dewi Manjasari tidak keluar.

Arya Bambang Situbondo meniup bagian dada Dewi Manjasari kemudian air susu itu keluar

dengan deras hingga bercucuran ke tanah dan mengalir ke sungai. Air sungai menjadi putih

sehingga Arya Bambang Situbondo menamai desa tempat mengalirnya sungai itu dengan

nama Desa Banyuputih. Dalam perjalanan mencari Raden Jaya Taruna, Dewi Manjasari

menyusui putranya sambil memakai kerudung daun pisang agar Raden Kertosari terlindung

dari sengatan matahari selama di perjalanan. Oleh karena itu, Arya Bambang Situbondo

menamai desa itu Desa Sodung. Kemudian, Dewi Manjasari dan Arya Bambang Situbondo

melanjutkan perjalanannya mencari Raden Jaya Taruna menuju kerajaan Sumber Waru.

Alkisah, Prabu Sabrang Wetan bersama ketiga adipatinya lari kembali ke kerajaan

Sumber Waru. Tidak lama kemudian Arya Bambang Situbondo dan dua panakawannya serta

Dewi Manjasari tiba di tempat yang sama. Pertempuran pun kembali terjadi karena Arya

Bambang Situbondo sangat geram mengingat perilaku Prabu Sabrang Wetan. Prabu Sabrang

Wetan tidak kuasa menerima serangan Arya Bambang Situbondo sehingga ia dan para

adipatinya melarikan diri. Karena larinya cukup kencang, tanpa disadari di depannya ada

sungai yang dalam, akhirnya tercebur dan menjelma menjadi bajul atau buaya. Karena

kesaktian dan indra yang kuat yang dimiliki Arya Bambang Situbondo, ia pun mengetahui

keberadaan Prabu Sabrang Wetan. Buaya putih jelmaan Prabu Sabrang Wetan itu pun

dipecutinya sampai mati. Tempat itu kemudian dinamai Desa Bajulmati. Setelah membunuh

Prabu Sabrang Wetan, Arya Bambang Situbondo kemudian mengejar Tumenggung Prabu

Sabrang Wetan yang bernama Aryo Sukorejo, Aryo Pesanggrahan, dan Aryo Padati. Karena

kelelahan dan ketakutan dikejar Arya Bambang Situbondo, Aryo Sukorejo pun meninggal.

Tempat itu selanjutnya dinamai Desa Sukorejo oleh Sunan Patok. Aryo Pasanggrahan

meninggal di atas kayu karena gantung diri, lalu Arya Bambang Situbondo memberi nama

tempat itu Desa Pesanggrahan. Aryo Padati meninggal di tengah sawah sehingga tempat

tersebut dinamai Desa Padate.

Di tempat lain dikisahkan bahwa Raden Jaya Taruna terus mencari istrinya, Dewi

Manjasari, sambil menangis mengingat cukup lama perjalanannya. Tanpa disadari dan tanpa

arah tujuan yang pasti, ia meratapi nasib yang menimpa dirinya dan istrinya sambil berdoa

kepada Allah SWT.

Sungguh ajaib, tiba-tiba istrinya sudah ada di hadapannya bersama putranya Raden

Kertosari. Ia pun tidak percaya, sambil mengucek-ucek kedua matanya ia bertanya, "Benarkah

Adinda Dewi Manjasari yang ada di hadapanku?"

“Benar Kanda, ini aku istrimu dan anak kita.”

Di tengah-tengah kerinduannya, Dewi Manjasari menceritakan apa yang sudah

dialaminya selama dalam perjalanan. Mereka sangat bahagia karena dapat” berkumpul

kembali. Di tengah-tengah kebahagiaan itu, Dewi Manjasari berkata, “Kanda, Dinda merasa

sangat lelah. Dinda ingin istirahat sejenak di pangkuan Kanda.”

Raden Jaya Taruna segera mencari tempat yang teduh untuk duduk. Dewi Manjasari

segera menyerahkan putranya kepada Raden Jaya Taruna kemudian ia merebahkan

kepalanya di pangkuan Raden Jaya Taruna. Setelah beristirahat cukup lama, Raden Kertosari

tiba-tiba menangis kehausan. Raden Jaya Taruna pun berusaha membangunkan istrinya.

Dengan penuh kasih sayang, Raden Jaya Taruna mengusap-usap pundak istrinya agar segera

bangun untuk menyusui. Akan tetapi, betapa terkejutnya Raden Jaya Taruna merasakan tubuh

41

istrinya sudah dingin. Dewi Manjasari terbujur kaku dipangkuannya. Raden Jaya Taruna pun

tak kuasa menahan air matanya.

"Dinda Dewi, jangan tinggalkan Kanda.”

Berita meninggalnya Dewi Manjasari terdengar ke semua penjuru, termasuk ke kerajaan

Besuki. Arya Bambang Situbondo pun mendengar berita itu. Bersama pengikutnya, Arya

Bambang Situbondo datang untuk menghibur dan menguatkan hati Raden Jaya Taruna agar

tidak larut dalam kesedihan. Arya Bambang Situbondo kemudian menamai tempat itu Desa

Majesare. Selanjutnya, Arya Bambang Situbondo mengajak sepupunya, Raden Jaya Taruna,

dan anaknya, Raden Kertosari, kembali ke kerajaan Besuki.

42


Story DNA

Moral

Good deeds and perseverance can lead to the discovery of one's true identity and purpose, and justice will eventually prevail.

Plot Summary

Sunan Patok, a powerful but physically disabled man, embarks on a quest to find his unknown family after a divine intervention. He encounters and protects Dewi Manjasari from the villainous Prabu Sabrang Wetan, using his magical whip. After causing some chaos and naming places, he reunites with his uncle, Prabu Selomukti, who renames him Arya Bambang Situbondo. Arya Bambang Situbondo continues his journey, helping Dewi Manjasari give birth and defeating Prabu Sabrang Wetan in a climactic battle, transforming him into a crocodile. The story concludes with the tragic death of Dewi Manjasari and Arya Bambang Situbondo consolidating his role as a hero and founder of many local place names.

Themes

identity and lineagejustice and retributionthe founding of placesfamily loyalty

Emotional Arc

sadness and confusion to discovery and triumph, with underlying tragedy

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: etiological naming (explaining place names), divine intervention/supernatural elements, genealogical exposition

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: bittersweet
Magic: talking animals (bird from a leaf), transformation (blangkon to stone, Prabu Sabrang Wetan to crocodile), divine voices/guidance, magical weapons (Poser Jagat whip), healing powers (Sunan Patok helping Dewi Manjasari's milk flow), supernatural strength/abilities
the blangkon (symbol of identity/lineage)Poser Jagat whip (symbol of power and justice)the patok/stone (symbol of foundation and origin)the white crocodile (symbol of defeated evil/transformation)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese/Balinese influence)
Era: timeless fairy tale

This story is a local legend, likely from the Situbondo region of East Java, Indonesia, explaining the origins of various place names (toponymy) and connecting them to legendary figures and events. It blends elements of Hindu-Javanese epics (like the concept of powerful princes and magical weapons) with local folklore.

Plot Beats (14)

  1. Sunan Patok, a physically disabled but powerful figure, is sad about his unknown parents; a divine voice gives him a blangkon.
  2. Sunan Patok rejects the blangkon, which turns into a stone (patok), leading to the naming of Desa Patok and his resolve to find his seven uncles/brothers.
  3. Prabu Sabrang Wetan dreams of Dewi Manjasari and seeks advice from Prabu Selomukti in Besuki.
  4. Dewi Sekar Arum searches for her lost husband, Raden Panji, and is helped by Sunan Patok, who uses a magical leaf to guide them.
  5. Prabu Sabrang Wetan tricks Raden Jaya Taruna into leaving Dewi Manjasari alone in the forest and attempts to assault her.
  6. Sunan Patok intervenes, defeats Prabu Sabrang Wetan with his 'Poser Jagat' whip, and saves Dewi Manjasari.
  7. Sunan Patok arrives at an empty Besuki palace, destroys heirlooms in anger, and creates several place names (Widoro Payung, Suboh) through his actions.
  8. Raden Panji and Dewi Sekar Arum reunite; Sunan Patok confronts Prabu Selomukti, revealing his identity as Prabu Arya Pati's son.
  9. Prabu Selomukti, recognizing his nephew, renames Sunan Patok to Arya Bambang Situbondo.
  10. Arya Bambang Situbondo encounters Dewi Manjasari giving birth, helps her, and names their child Raden Kertosari; his actions lead to the naming of Desa Gentong and Desa Banyuputih.
  11. Arya Bambang Situbondo confronts Prabu Sabrang Wetan again, defeats him, and Sabrang Wetan transforms into a white crocodile, which Arya Bambang Situbondo kills, naming Desa Bajulmati.
  12. Arya Bambang Situbondo pursues and defeats Sabrang Wetan's three patihs, leading to the naming of Desa Sukorejo, Desa Pesanggrahan, and Desa Padate.
  13. Raden Jaya Taruna miraculously reunites with Dewi Manjasari and their child, but Dewi Manjasari tragically dies in his arms.
  14. Arya Bambang Situbondo comforts Raden Jaya Taruna, names the place Desa Majesare, and brings Raden Jaya Taruna and Raden Kertosari back to Besuki.

Characters

👤

Sunan Patok

human adult male

Physically disabled, with a limp in his hands and feet, but powerful due to his weapon.

Attire: unknown

A man with a limp, wielding a 'Poser Jagat' whip.

Sakti (magically powerful), compassionate, determined

👤

Prabu Sabrang Wetan

human adult male

unknown

Attire: Royal attire, befitting a prince/king of Sumber Waru.

A prince transforming into a white crocodile.

Deceptive, cunning, lustful, persistent

👤

Dewi Manjasari

human young adult female

Very beautiful.

Attire: Period-appropriate royal or noble attire, later a kerudung (head covering) made of banana leaves.

A beautiful woman, heavily pregnant, later nursing a baby with a banana leaf kerudung.

Resilient, loyal, vulnerable

👤

Raden Jaya Taruna

human young adult male

unknown

Attire: Royal or noble attire.

A grieving husband cradling his deceased wife.

Trusting, loving, grief-stricken

👤

Prabu Selomukti

human adult male

unknown

Attire: Royal attire, befitting a king of Besuki.

A king presiding over a court.

Wise, authoritative, caring

👤

Dewi Sekar Arum

human young adult female

unknown

Attire: Royal or noble attire, appearing disheveled from travel.

A princess lost and weeping in a forest.

Distressed, persistent, grateful

👤

Raden Kertosari

human infant male

A baby whose feet constantly move, touching the ground.

Attire: Infant clothing.

An infant whose restless feet reveal a hidden treasure.

unknown

👤

Arya Bambang Situbondo

human adult male

Physically disabled, with a limp in his hands and feet, but powerful due to his weapon.

Attire: unknown

A man with a limp, wielding a 'Poser Jagat' whip, now with a new name.

Sakti (magically powerful), compassionate, determined, heroic

Locations

Paseban Agung di kaki Gunung Bantongan Mimbaan Pengkepeng

outdoor implied pleasant, as Sunan Patok is often outside

A grand meeting place at the foot of Mount Bantongan Mimbaan Pengkepeng, where Sunan Patok resides.

Mood: royal, contemplative, slightly melancholic

Sunan Patok resides here, receives a magical blangkon, and throws it, creating Desa Patok.

Paseban Agung Gunung Bantongan Mimbaan Pengkepeng Sunan Patok's seat

Hutan (Forest)

outdoor implied warm, as characters are seeking shade and water

A dense forest, where Dewi Sekar Arum gets lost and later where Dewi Manjasari experiences labor pains.

Mood: desolate, dangerous, uncertain, later a place of birth

Dewi Sekar Arum gets lost here and is found by Sunan Patok. Later, Dewi Manjasari gives birth to Raden Kertosari here.

dense trees wild animals (implied) paths (implied) shade

Kerajaan Sumber Waru

indoor

The kingdom ruled by Prabu Sabrang Wetan, where meetings are held and later a battle ensues.

Mood: royal, scheming, later chaotic and violent

Prabu Sabrang Wetan plots here, and later Arya Bambang Situbondo confronts him, leading to a chase.

throne room palace meeting hall

Sungai dalam (Deep River)

outdoor

A deep river where Prabu Sabrang Wetan falls and transforms into a crocodile.

Mood: dangerous, transformative, final

Prabu Sabrang Wetan is chased by Arya Bambang Situbondo, falls into the river, and becomes a white crocodile, eventually killed by Arya Bambang Situbondo.

deep water river banks crocodile (after transformation)

Desa Majesare

outdoor

The place where Raden Jaya Taruna finds Dewi Manjasari's lifeless body.

Mood: sorrowful, tragic, mournful

Dewi Manjasari dies here in Raden Jaya Taruna's arms, and Arya Bambang Situbondo later names the place Desa Majesare.

resting place Dewi Manjasari's body