Cerita Sendang Air Manis

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story solemn Ages 8-14 1703 words 8 min read
Cover: Cerita Sendang Air Manis
Original Story 1703 words · 8 min read

Cerita Sendang Air Manis

2 erita berawal dari usainya peperangan antara kerajaan Madura dan kerajaan

Klungkung Bali. Dua orang prajurit kerajaan Madura bernama Morang atau Parancak

bersama saudaranya, Biangkara, tidak ikut kembali ke kerajaan Madura. Mereka

bertekad mencari pengalaman dengan membuka daerah baru. Kemudian, mereka membuka

hutan menjadi desa yang diberi nama Desa Agel. Desa Agel sangat subur sehingga banyak

orang datang untuk ikut bermukim. Lama kelamaan Desa Agel menjadi ramai dan berubah

menjadi kota kecil yang indah menyerupai kota kerajaan kecil. Tata ruang kotanya sangat

baik, penduduknya hidup rukun dan makmur karena hasil pertaniannya yang berlimpah.

Keelokan dan kemakmuran Desa Agel pun terkenal hingga ke kerajaan Klungkung di Bali.

Di Desa Agel ada seorang gadis cantik bermama Raden Ayu Mayangsari. Ia adalah

keturunan Jokowedi, adik Joko Tole. Mayangsari lahir di Desa Lanjuk Kecamatan Manding,

Madura. Keberadaannya di Jawa, tepatnya di Desa Agel karena ikut keluarganya yang

menetap di sana. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik: kulitnya kuning bersih dan

hidungnya mancung. Tidak ada seorang gadis pun yang dapat menandingi kecantikannya

sehingga semua laki-laki pasti menginginkan dapat bersanding depgannya. Kabar kecantikan

Mayangsari pun sampai ke kerajaan Klungkung di Bali. Patih Kertabana ingin menggunakan

kesempatan ini untuk membalas sakit hatinya kepada Parancak.

“Inilah saat yang paling tepat. Ha...ha...ha...” Kertabana tertawa di hadapan kedua

pengikutnya. .

“Apa maksud Kang Mas saat yang tepat?” tanya salah seorang.

“Bodoh, ya tentu saja saat yang paling tepat untuk membalas sakit hati kita terhadap

Parancak dan Biangkara,” jawab Kertabana berang.

“Saya tidak mengerti, Kang Mas,” sambung temannya.

Sambil berkacak pinggang, Kertabana berkata lagi, “Hah, dasar kalian bodoh.

Kesuksesan sudah di depan mata masih juga kalian belum rasakan.”

“Jelaskan saja Kang Mas supaya kami mengerti.”

“Dengar baik-baik, bodoh, Kalian sudah tahu bahwa Putra Mahkota Kerajaan

Klungkung belum beristri dan apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan Mayangsari

di Jawa sana?”

Kedua pengikut Kertabana menganggukkan kepala tanda mengerti, "Tapi apa

hubungannya dengan kesuksesan kita?”

“Nah itu dia! Kita bujuk Putra Mahkota untuk meminang Mayangsari dan kalau lamaran

itu ditolak, perang besar tidak dapat dielakkan ha...ha...ha....”

“Oh itu maksud, Kakang. Kalau begitu, saya setuju.”

“Memang! Tapi ini hanya akal-akalanku saja. Aku tahu lamaran nanti pasti akan ditolak

mentah-mentah. Parancak bukanlah orang bodoh. Sejak dulu ia tahu jika Klungkung bertekad

menghabisi keturunan Joko Tole.”

"Rencana yang bagus, Kang Mas.”

33

Kertabana pun menyusun siasat dan membujuk putra mahkota agar berhasrat melamar

Raden Ayu Mayangsari. Gayung pun bersambut, putra mahkota memang tertarik dan ingin

segera mempersunting gadis yang selama ini hanya didengar melalui cerita. Gadis yang telah

mencuri hatinya dan mengusik pikirannya hingga tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.

Raja Klungkung heran melihat perubahan yang terjadi atas putranya. Raja tidak ingin

anaknya jatuh sakit karena dialah putra satu-satunya pewaris tahta kerajaan. Raja dengan

segera memanggil putra mahkota menghadap. Putra Mahkota datang didampingi Kertabana

dan kedua pengikutnya. Setelah mendengar penuturan putranya yang ditambahi kata-kata

manis Kertabana, raja mengizinkan Putra Mahkota mempersunting Raden Ayu Mayangsari

dari negeri seberang. Putra Mahkota sangat gembira. Kertabana diserahi tugas mengatur

segala sesuatu yang diperlukan, mulai dari barang seserahan sampai dengan pasukan

pengawal kerajaan bersenjata lengkap untuk menjaga keselamatan Putra Mahkota.

Rombongan kerajaan Klungkung pun berangkat menuju Agel dan dapat menemukan

daerah itu tanpa kesulitan. Kedatangan mereka membuat penduduk Desa Agel ketakutan dan

berhamburan keluar menuju rumah Biangkara untuk melapor. Kebetulan pada saat itu

Parancak sedang berada di Madura menghadap sang raja. Biangkara segera keluar saat

mendengar suard orang berlarian menuju ke rumahnya. Dilihatnya sudah banyak orang

berkumpul di sekitar rumahnya dan di kejauhan tampak iring-iringan rombongan kerajaan

Klungkung yang ditandai oleh panji-panji kebesarannya.

Putra Mahkota berjalan diapit Kertabana dan seorang pengikutnya. Tanpa basa-basi,

Kertabana langsung menanyakan rumah kediaman Parancak. Orang yang ditanya menunjuk

rumah Parancak dan memberitahukan bahwa Parancak sedang tidak ada. Dengan geram

Kertabana melangkah menuju rumah yang ditunjukkan dan diikuti oleh semua rombongan.

Yang dicari tidak ada, Kertabana melihat Biangkara sedang berdiri di ambang pintu dan

dengan pongahnya ia berkata, “Aku ingin bertemu dengan Parancak.”

Biangkara tidak langsung menjawab. Dia heran Kertabana berada di tengah- tengah

rombongan kerajaan Klungkung yang sudah lama menjadi musuh bebunyutan.

“Hai Biangkara, apa kamu tidak mendengar perkataanku atau sekarang kamu sudah

tuli?”

Merah padam wajah Biangkara menahan amarah, tetapi ia berusaha tetap tenang

menghadapi Kertabana yang sudah dikenalnya berwatak kasar dan angkuh.

“Oh Kang Mas Kertabana, silakan masuk Kang Mas, tetapi maaf tempat di sini tidak

senyaman di tempat Kang Mas sekarang.”

Merasa disindir, Kertabana mendidih hatinya. Dengan kasar ia berkata lagi, “Aku

bersama Putra Mahkota kerajaan Klungkung dan seluruh rombongan ingin bertemu dengan

Parancak sekaligus akan meminang seorang gadis yang bemama Mayangsari.

“Sayang sekali Kang Mas, Parancak tidak ada, beliau menghadap raja sudah satu

minggu lamanya belum kembali. Beliau menugasi saya untuk mewakili. Tetapi, kalau

Mayangsari bukan hak saya untuk memutuskan, sebaiknya tanyakan langsung pada

Mayangsari,” jawab Biangkara.

Sementara itu, Putra Mahkota tidak memedulikan pembicaraan antara Kertabana dan

Biangkara. Matanya sibuk mencari Mayangsari yang belum dikenalnya.

“Cepat panggil Mayangsari ke sini,” pinta Kertabana.

Biangkara pun menyuruh seseorang untuk memanggil Mayangsari seraya menatap

tajam Kertabana dan Putra Mahkota, lalu berkata dengan nada dingin. “Tapi ingat Kang Mas

34

Kertabana, nanti apabila Mayangsari ternyata menolak, jangan coba-coba memaksanya.

Sekarang aku yang bertanggung jawab di sini."

“Kita lihat saja nanti! Yang penting cepat bawa Mayangsari!”

Tidak lama kemudian datanglah Raden Ayu Mayangsawi yang langsung menghaturkan

sembah kepada Biangkara. Semua mata tertuju kepadanya seakan mereka tidak percaya

terhadap apa yang tampak di depan mata. Kecantikannya tidak ada yang dapat

menandinginya, laksana seorang bidadari yang turun dari kayangan. Kesempumaannya sulit

dilukiskan dengan kata-kata. Biangkara tersenyum melihat tamunya terpana dan terpesona

oleh kecantikan Mayangsari.

“Bagaimana Kang Mas Kertabana, apa kalian sudah puas melihat Mayangsari?”

Biangkara menyindir tamu-tamunya.

Kertabana dan rombongannya tergagap, terkejut, dan malu luar biasa. Mereka segera

berpaling pada Biangkara yang sedang tersenyum mengejek.

“Mayangsari sudah ada di depan kita. Sekarang silakan Kang Mas bertanya langsung

padanya.”

Dengan terbata-bata, karena masih menahan malu, Kertabana angkat bicara,

hhmmm, Mayangsari, kami datang dari kerajaan Klungkung, kemari karena mendengar

berita bahwa kamu belum mempunyai teman hidup, demikian pula putra raja kami. Putra

Mahkota kerajaan Klungkung berhasrat melamarmu untuk dijadikan permaisuri.”

Mayangsari tidak langsung memberi jawaban, Ja hanya menundukkan kepala hingga

membuat Kertabana tidak sabar.

“Bagaimana Mayangsari, apakah lamaran kami diterima?"

Mayangsari tetap diam membisu tetapi matanya menyorot tajam ke arah rombongan

Kertabana. Ada perasaan marah dan dendam dalam dirinya karena menurut cerita yang

pernah didengarnya, kerajaan Klungkung inilah yang telah membunuh Joko Tole, saudara

eyang Mayangsari yang bernama Joko Wedi.

Biangkara menyela, “Katakan Mayangsari. Apa pun keputusanmu kami dukung. Kami

tidak takut.”

“Tidak Paman Biangkara, saya tidak sudi disunting oleh orang dari kerajaan

Klungkung,” jawabnya ketus.

“Kang Mas Kertabana sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan Mayangsari, saya

tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Menolak? Kau menolak lamaran kami? Baik, tapi aku harus tahu apa alasanmu.”

“Alasan saya hanya satu Paman Kertabana. kerajaan Klungkung telah membunuh Eyang

Joko Tole dan membuat rakyat Madura menderita. Walaupun aku tidak tahu seperti apa

wajah eyang, saya dapat merasakan betapa sakitnya Eyang Joko Tole bersimbah darah dan

mati dalam keadaan renta,” kata Mayangsari dengan suara lantang hingga membuat semua

orang terdiam mendengarkan.

“Itu masa lalu,” kata Kertabana tak kalah kerasnya. “Sekarang kerajaan Klungkung

bermaksud baik dan ingin berdamai dengan Madura,”

”Oh, begitu mudah Paman melupakan peristiwa yang melukai rakyat Madura. Saya juga

tahu Paman berkhianat pada Pangeran Siding Putih dan Paman bersekutu dengan musuh

untuk menghancurkan Madura karena Paman merasa sakit hati dan kecewa terhadap raja,

terlebih lagi terhadap Paman Parancak dan Biangkara. Benar begitu, Paman?" kata

Mayangsari membuka rahasia pengkhianatan Kertabana.

35

Kertabana merasa sangat marah telah dipermalukan di depan banyak orang oleh

perempuan belia yang tahu persis seluk beluk dirinya. Dia menduga Parancaklah yang telah

menceritakan siapa dirinya pada Mayangsari sehingga dendam kepada Perancak semakin

membara.

“Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Asal kamu tahu saja, aku tidak akan kembali ke

Klungkung dengan tangan hampa.”

“Apa maksud Kang Mas Kertabana?” tanya Biangkara.

“Aku akan membawa Mayangsari dengan caraku sendiri dan 'apabila diantara orang

Agel ada yang keberatan, maka kami dari kerajaan Klungkung Bali menantang perang!”

“Tidak ada pilihan lain Kang Mas, kami pun siap menerima tantanganmu!”

Semua berhamburan keluar karena genderang perang telah dibunyikan! Penduduk

menjadi panik. Perempuan, anak kecil, dan orang tua diperintahkan untuk mengungsi keluar

Desa Agel. Jerit tangis anak-anak dan perempuan menambah suasana semakin kacau dan

mencekam. Pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Keadaan tidak cukup berimbang karena

prajurit Agel jumlahnya sangat sedikit dan belum lama berlatih perang, sedangkan prajurit

kerajaan Klungkung lebih berpengalaman dalam berperang. Di samping itu, sejak berangkat

dari Klungkung, mereka memang sudah dipersiapkan untuk perang oleh Kertabana. Oleh

karena itu, prajurit Agel dapat ditundukkan dalam waktu singkat. Biangkara pun terbunuh

setelah berjuang keras membela tanah leluhurnya.

Putra Mahkota kerajaan Klungkung tidak ikut terjun dalam peperangan, tetapi sibuk

mengejar Mayangsari yang lari menyelamatkan diri. Mayangsari bersembunyi di balik pohon

besar sambil berdoa mohon perlindungan dan keadilan Tuhan. Air matanya jatuh bercucuran.

Tiba-tiba petir menggelegar di langit pertanda doa Mayangsari dikabulkan. Pada saat yang

bersamaan, tubuhnya menghilang, lenyap, tanpa bekas. Air mata Mayangsari menggenangi

tanah tempatnya bersujud dan berdoa. Genangan air mata itu lama-lama menjadi sebuah

sendang yang kemudian dikenal dengan Sendang Air Manis. Kini, sendang ini diyakini oleh

penduduk setempat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Putra Mahkota yang kehilangan jejak Mayangsari menjadi bingung dan lengah sehingga

tidak menyadari kalau dirinya sedang diikuti oleh prajurit Agel. Tiba-tiba sebuah tombak

melesat dan menancap di punggungnya. Ia pun tewas seketika. Berita kematian Putra

Mahkota menggemparkan pasukan kerajaan Klungkung. Kertabana takut kembali ke

kerajaan Klungkung karena sudah tampak di depan matanya hukuman yang bakal ia terima

dari raja.

Dalam perjalanan pulang ke Klungkung, Kertabana terjun ke laut kemudian mendarat

dan akhirnya menerobos hutan ke arah selatan untuk bersembunyi di suatu tempat yang

kemudian disebut dengan Banyuwangi. Kertabana tinggal di tempat tersebut sampai akhir

hayatnya.

Perancak telah selesai menghadap Pangeran Siding Putih dan tiba kembali di Desa Agel

diiringi pasukan pengawal yang ditugaskan raja untuk mendampinginya.

Parancak sangat terkejut saat melihat Desa Agel, tempat yang dibangun dengan susah

payah telah porak poranda dan menjadi lautan darah berbau anyir. Ada seorang penduduk

yang masih hidup dan menceritakan bahwa semua ini terjadi akibat ulah Kertabana. Parancak

pun mengejar pasukan Klungkung dan membantainya, tetapi tidak menemukan Kertabana.

Akhirnya, ia kembali ke Agel. Karena peristiwa tersebut, Parancak memutuskan untuk

meninggalkan keduniawian dan bertapa sampai ajal datang menjemputnya.

36


Story DNA

Plot Summary

After a war, two Maduran warriors establish the prosperous village of Agel. A beautiful maiden named Mayangsari lives there, whose beauty reaches the ears of the Klungkung kingdom. A vengeful Klungkung minister, Kertabana, manipulates the Crown Prince into proposing to Mayangsari, knowing her refusal will spark a war. Mayangsari defiantly rejects the proposal, exposing Kertabana's past betrayals. War erupts, Agel is devastated, and Mayangsari's protector, Biangkara, is killed. As the Crown Prince pursues Mayangsari, she prays for divine intervention, vanishes in a flash of lightning, and her tears form a sacred spring. The Crown Prince is then killed, Kertabana flees, and the returning warrior Parancak, finding his village destroyed, avenges his brother before renouncing worldly life.

Themes

revengebetrayaldivine interventionsacrifice

Emotional Arc

peace to conflict to tragedy to spiritual resignation

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate

Narrative Elements

Conflict: person vs person (Kertabana vs Parancak/Biangkara/Mayangsari), person vs society (Agel vs Klungkung)
Ending: bittersweet
Magic: divine intervention causing Mayangsari's disappearance, transformation of Mayangsari's tears into a healing spring
Sendang Air Manis (the sweet water spring) symbolizing sacrifice, purity, and divine graceMayangsari's beauty as a catalyst for conflictThe lightning strike as a sign of divine intervention

Cultural Context

Origin: Indonesian (Maduran/Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story references historical or legendary figures like Joko Tole, suggesting a connection to Maduran folklore and possibly historical conflicts between Madura and Bali (Klungkung).

Plot Beats (15)

  1. Morang (Parancak) and Biangkara, Maduran warriors, found the prosperous village of Agel after a war with Klungkung.
  2. Raden Ayu Mayangsari, a descendant of Joko Tole, lives in Agel and is renowned for her beauty.
  3. Patih Kertabana of Klungkung, harboring resentment against Parancak, devises a plan to use Mayangsari's beauty to provoke a war with Agel.
  4. Kertabana convinces the Klungkung Crown Prince to propose to Mayangsari, and the King approves the expedition.
  5. The Klungkung royal entourage arrives in Agel, causing panic; Biangkara confronts them as Parancak is away.
  6. Kertabana demands to see Parancak and then Mayangsari, intending to force the marriage.
  7. Mayangsari is brought before the Klungkung delegation, captivating them with her beauty.
  8. Mayangsari, remembering Klungkung's past atrocities against her family and Kertabana's betrayals, defiantly rejects the Crown Prince's proposal.
  9. Enraged, Kertabana declares war on Agel, and the Klungkung forces quickly defeat the Agel warriors, killing Biangkara.
  10. The Crown Prince pursues Mayangsari, who prays for divine intervention; she vanishes in a flash of lightning, leaving behind a spring of sweet water.
  11. An Agel warrior ambushes and kills the distracted Crown Prince.
  12. Kertabana, fearing punishment, flees Klungkung and hides in Banyuwangi.
  13. Parancak returns to a destroyed Agel, learns of the events, avenges his brother by attacking the Klungkung army, but Kertabana escapes.
  14. Parancak, heartbroken by the devastation, renounces worldly life and becomes an ascetic.
  15. The spring left by Mayangsari becomes known as Sendang Air Manis, a sacred place believed to have healing powers.

Characters

👤

Morang (Parancak)

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a capable warrior and leader.

Attire: Implied to be a Maduran warrior, likely wearing traditional attire for his status.

A Maduran warrior, surveying the ruined village of Agel.

Determined, pioneering, protective, vengeful.

👤

Biangkara

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a strong warrior.

Attire: Implied to be a Maduran warrior, likely wearing traditional attire.

Standing defiantly at his doorway, facing Kertabana's procession.

Protective, calm under pressure, sarcastic, brave.

👤

Raden Ayu Mayangsari

human young adult female

Very beautiful, clean yellow skin, pointed nose.

Attire: Implied to be traditional Javanese/Maduran attire for a noblewoman, likely elegant and modest.

A beautiful young woman with clean yellow skin and a pointed nose, disappearing into a flash of lightning.

Beautiful, strong-willed, defiant, vengeful, pious.

👤

Patih Kertabana

human adult male

Not explicitly described, but implied to be imposing and arrogant.

Attire: Implied to be the attire of a Klungkung Patih (prime minister), likely ornate and indicative of high status.

A sneering Patih, orchestrating a deceptive marriage proposal.

Vengeful, arrogant, manipulative, cunning, treacherous.

👤

Putra Mahkota Kerajaan Klungkung

human young adult male

Not explicitly described, but implied to be handsome enough to attract a bride.

Attire: Royal attire befitting a Crown Prince of Klungkung.

A lovesick prince, chasing Mayangsari through a forest.

Easily swayed, lovesick, somewhat naive, impulsive.

👤

Raja Klungkung

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Royal attire befitting a King of Klungkung.

A king on his throne, listening to his lovesick son.

Concerned for his son, protective of his lineage, somewhat easily persuaded by Kertabana's sweet words.

Locations

Desa Agel (Agel Village)

outdoor Implied pleasant, fertile conditions initially; later, chaotic and bloody due to war.

A fertile village transformed into a small, beautiful city resembling a small kingdom, with good urban planning and prosperous, harmonious inhabitants due to abundant agricultural produce.

Mood: Initially prosperous and peaceful; later, chaotic, fearful, and devastated by war.

Founded by Morang and Biangkara, it becomes a thriving settlement. Later, it is the site of the Klungkung delegation's arrival and the subsequent battle, leading to its devastation.

fertile land well-planned city layout houses agricultural fields blood-soaked ground (after battle)

Biangkara's House in Desa Agel

indoor daytime Not specified, likely fair.

A house within Desa Agel, where Biangkara resides and where the villagers gather to report the arrival of the Klungkung delegation.

Mood: Initially a place of refuge and reporting; later, tense and confrontational during the meeting with Kertabana.

The Klungkung delegation confronts Biangkara here, and Mayangsari makes her appearance, rejecting the marriage proposal.

doorway crowd of villagers Biangkara standing at the threshold Mayangsari appearing

The Big Tree (Tempat Mayangsari Berdoa)

outdoor daytime Implied stormy or dramatic weather with thunder and lightning.

A large tree where Mayangsari hides and prays, crying tears that form a spring.

Mood: Desperate, sacred, magical, transformative.

Mayangsari seeks refuge and prays here, leading to her miraculous disappearance and the creation of Sendang Air Manis.

large tree Mayangsari hiding falling tears thunder and lightning disappearing body newly formed spring (Sendang Air Manis)