Jaka Berek
by Balai Bahasa Surabaya

Jaka Berek: The Brave Leader
Once, there was a boy named Jaka. He lived with his mother. His mother loved him very much. At times, other children teased him. They said he had no father. Jaka felt sad. But he was brave and kind.
One day, Jaka asked his mother. "Mother, who is my father?" His mother smiled. "Your father is a great leader," she said. She gave him a magic scarf. "This scarf is from him," she said. "Take it to him."
Jaka traveled far. He found his father's big house. Brother One and Brother Two were there. They were not happy to see Jaka. "You cannot come in," they said. Jaka showed them the magic scarf. "I have this," he said.
Their father came out. He saw the magic scarf. His eyes grew wide. "That scarf!" he said. "You are my son!" He hugged Jaka. It was a happy day.
The father had a test. "Clear the magic forest," he said. "Then I will know you are brave." Jaka was not scared. He had a magic spear from his grandpa. The spear glowed bright. The forest was friendly. Helpful spirits guided him. Jaka was kind to them.
He cleared the forest! His father was so proud. "You are now Sawunggaling," he said. "You belong here." All the people cheered.
Jaka learned his father had to go away. He went on a long trip to help others. Jaka missed him. But he remembered his father's kindness.
A contest was held. It was to choose a new leader. Brother One and Brother Two tried. They did not win. Jaka tried too. He helped all the people. He won the contest fairly. He became the new leader.
His brothers felt jealous. Their Uncle was with them. He also felt jealous. They made a mistake. They caused trouble. Jaka was sad. But he forgave them. He learned to be patient.
Jaka helped his people. He built things. He solved problems. He was a good leader.
One day, Jaka visited friends for advice. He came back with new ideas. He helped his people even more.
Jaka worked very hard. Then, a magic thing happened. He became a bright star in the sky. He did not go away. He changed. Now, he watches over his people forever. His people felt a little sad when he left. But they also felt hope.
Jaka was brave and kind. He helped all the people. That is what makes a true leader. Jaka's courage lives on. He is a star in the sky, watching over his people.
Original Story
Jaka Berek ada zaman dahulu, di sebuah desa yang jauh dari pusat kerajaan, tinggallah seorang ibu muda bemama Dewi Sangkrah dan putranya — yang bemama Jaka Berek. Kehidupan mereka di desa itu cukup sulit. Setiap — har, — ketika bermain dengan teman- temannya, Jaka Berek selalu diejek sebagai anak haram karena ta hanya tinggal dengan ibunya, tidak mempunyai seorang ayah. Jaka Berek bertanya k kepada ibunya tentang P3 E 2 siapa sebenarnya ayahnya. Pertanyaan Jaka Berek ini selalu membuat ibunya gelisah dan sedih karena jika diceritakan takut Jaka Berek tidak dapat mengerti dan memahaminya karena masih kecil. Setelah Jaka Berek mulai remaja, Dewi Sangkrah luluh hatinya dan dengan berat hati menceritakan siapa sebenarnya ayah Jaka Berek. Suatu hari, Jaka Berek duduk termenung seorang diri di balai-balai rumahnya, wajahnya terlihat sedih. Ketika bermain tadi, teman-temannya kembali mengejeknya sebagai anak haram. Melihat putranya tampak murung, Dewi Sangkrah merasa kasihan dan segera mendekatinya. Dengan penuh kasih, Dewi Sangkrah memeluk putranya. “Putraku..,, maafkan Ibu. Karena Ibulah, kau sejalu diejek teman-temanmu," kata Dewi Sangkrah. "Kalau begitu, Bu, tolong beri tahu siapa sebenarnya ayahku,” pinta Jaka Berek sambil berpaling menatap Ibunya. "Baiklah, Anakku. Kamu sudah besar, Ibu rasa, sudah saatnya kamu tahu siapa ayahmu...” jawab Dewi Sangkrah sambil menghela nafas . “Ceritakanlah semuanya, Bu. Walaupun ayah sudah meninggal, aku bisa menerima. Tapi, beri tahu di mana kuburnya supaya aku dapat melihatnya.” "Ti...ti...dak, Anakku. Ayahmu masih hidup.” 1 "Benarkah, Bu? Di mana ia sekarang? Mengapa ia tidak menengok kita?” tanya Jaka Berek bersemangat. Wajahnya mendadak cerah. Ia lepaskan pelukan ibunya dan seketika berlutut di depan ibunya, "Bolehkan aku menemuinya?” ”Sabar Anakku...kau dapat menemuinya, tapi mungkin tidak mudah karena ayahmu orang penting. Ayahmu adalah Adipati Surabaya,” jawab Dewi Sangkrah sambil memegang bahu Jaka Berek. Jaka Berek seketika terdiam. Terbayang ejekan teman-temannya. Ternyata ia bukan anak haram. Ia punya ayah, bahkan seorang adipati. Dengan sabar, ia mendengarkan cerita ibunya sejak awal pertemuannya dengan ayah hingga akhirnya terpaksa berpisah. Setelah ibunya selesai bercerita, Jaka Berek minta izin untuk mencari ayahnya tersebut. Dewi Sangkrah sangat berat melepas Jaka Berek pergi seorang diri, apalagi untuk bertemu Adipati Surabaya. Dewi Sangkrah membekali Jaka Berek dengan selembar selendang atau cinde Puspita untuk ditunjukkan kepada ayahnya sebagai bukti bahwa ia adalah anaknya. “Bawalah cinde Puspita ini dan tunjukkan pada Adipati. Mudah-mudahan ia akan mengenali cinde ini, Hati-hatilah, Nak,” kata Dewi Sangkrah berurai air mata. Setelah mendapat restu ibunya, Jaka Berek segera meninggalkan rumah menuju Kadipaten Surabaya. Beberapa potong pakaian dan makanan yang dibuntal dengan kain tergantung di ujung batang kayu di atas pundaknya. Ia berjalan penuh semangat dan harapan sehingga tidak merasa lelah. Bayangan akan bertemu dengan ayahnya membuatnya bersemangat. Setelah sampai di Kota Surabaya, Jaka Berek segera pergi ke kadipaten. Di pintu gerbang kadipaten ia dihadang oleh dua orang prajurit bemama Sawungsari dan SaWungrana yang merupakan putra Adipati Surabaya. Sawungrana dan Sawungsari tidak membolehkan Jaka Berek masuk ke dalam kadipaten. Di sisi lain, Jaka Berek terus memaksa sehingga terjadi perkelahian hebat antara Jaka Berek melawan Sawungsari dan Sawungrana. Mendengar ada keributan di luar kadipaten, Adipati Surabaya yang bernama Jayengrana kemudian keluar untuk melerai. Akhirnya perkelahian dapat dihentikan. Setelah ketiganya disuruh duduk, Adipati Jayengrana menanyakan penyebab perkelahian tersebut. "Ada apa? Mengapa kalian berkelahi? Siapa pemuda ini?” tanya Adipati Jayengrana kepada Sawungsari dan Sawungrana. Sawungsari dan Sawungrana menceritakan bahwa ada anak bergama Jaka berek yang hendak bertemu dengan Adipati Jayengrana dan mengaku sebagai anaknya. Sawungsari dan Sawungrana menolak permintaan Jaka Berek sehingga terjadi perkelahian karena Jaka Berek tetap memaksa masuk. Adipati sejenak terkejut sambil memandangi seorang pemuda yang bersimpuh di depannya. Adipati Jayengrana kemudian menanyakan apakah Jaka Berek punya bukti yang dapat menunjukkan bahwa ia memang anaknya. ”Anak muda, apa yang membuatmu yakin bahwa kau adalah putraku?” tanya Adipati Jayengrana Sesuai dengan pesan ibunya, Jaka Berek kemudian mengeluarkan cinde Puspita dari dalam bajunya. ”Tbu hamba menyuruh hamba memberikan cinde ini kepada Adipati,” jawab Jaka Berek sambil menyerahkan cinde Puspita. Seketika wajah Adipati Jayengrana tampak sangat terkejut. Ia teringat pada istri keduanya yang telah ditinggalkannya. Ia yang telah memberikan cinde itu kepadanya. Meskipun sudah dapat membuktikan dirinya sebagai anaknya, Adipati Jayengrana masih 1 menghendaki Jaka Berek membuktikan kesaktiannya dengan membuka Hutan Wonokromo yang terkenal angker karena merupakan tempatnya para dedemit dan binatang buas. ”Aku tidak percaya. Kau atau Ibumu mungkin telah mencurinya dari orang lain supaya aku percaya bahwa kau anakku. Aku akan mengakuimu sebagai putraku jika kau dapat membuka Hutan Wonokromo,” kata Adipati Jayengrana sambil menatap Jaka Berek. "Baiklah, Adipati. Hamba akan mengalikan perintah Adipati,” jawab Jaka Berek dengan penuh percaya diri. ”Anak muda, jika kau tidak berhasil menjalankan perintah ini, kau tidak perlu kembali kesini. Sudah jelas, kau bukan putraku,” kata Adipati Jayengrana Setelah mendengar peringatan Adipati Jayengrana, Jaka Berek segera minta diri meninggalkan kadipaten menuju Hutan Wonokromo yang angker. Berkat tombak pusaka Bliring pemberian kakeknya, Jaka Berek dapat menundukkan Hutan Wonokromo. Dengan keberhasilan itu, Adipati Jayengrana dapat menerima Jaka Berek sebagai anaknya dan kemudian mengganti namanya menjadi Sawunggaling. Jaka Berek kemudian tinggal di dalam kadipaten bersama Sawungsari dan Sawungrana. Adipati Jayengrana sangat sayang kepada Jaka Berek karena keberanian dan kehalusan budinya. Tabiatnya sangat berlawanan dengan Sawungsari dan Sawungrana. Setelah tinggal di dalam kadipaten, Sawunggaling dapat mengetahui segala persoalan yang dihadapi ayahnya, antara lain perlawanan Adipati Jayengrana terhadap Belanda yang membuat ayahnya akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai adipati di Surabaya. Karena takut akan memengaruhi rakyatnya, Adipati Jayengrana akhirnya dibunuh dengan cara diracun dalam perjalanannya ke Kota Solo oleh Belanda dengan memanfaatkan saudara Jayengrana, yaitu Sosrodiningrat, yang berambisi menggantikan kekuasaan Jayengrana menjadi adipati di Surabaya. Setelah kematian Adipati Jayengrana, terjadi kekosongan kepemimpinan di Kadipaten Surabaya. Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan di Solo menyelenggarakan sayembara memanah bendera untuk mencari pemimpin yang akan mengisi kekosongan Adipati Surabaya. Sebagai putra adipati, Sawungrana dan Sawungsari berangkat ke Solo untuk mengikuti sayembara tersebut. Akan tetapi, keduanya tidak berhasil. Secara diam-diam, atas izin dan restu ibunya, Sawunggaling berangkat ke Solo untuk mengikuti sayembara yang sama. Berkat doa Dewi Sangkrah, Sawunggaling berhasil memenangkan sayembara sehingga kemudian diangkat menjadi Adipati Surabaya menggantikan ayahnya dengan gelar Sawunggaling Kulmak Sasranegara yang artinya pahlawan dari tanah Jawa yang menggenggam seribu negara menjadi satu, bersama memajukan bangsa. Sawunggaling kemudian dinikahkan dengan Nini Sekar Kedaton, putra Amangkurat Mas. Melihat keberhasilan Sawunggaling, Sawungrana dan Sawungsari merasa iri hati. Mereka bekerja sama dengan Sosrodiningrat yang juga mengincar jabatan adipati. Mereka terus menerus merongrong kepemimpinan Sawunggaling. Karena Sawunggaling meneruskan jejak ayahnya menentang Belanda, Belanda pun ikut bekerja sama dengan Sawungsari, Sawungrana, dan Sosrodiningrat mengacaukan wilayah Kadipaten Surabaya untuk merongrong kewibawaan Sawunggaling. Di dalam lingkungan kadipaten juga terjadi perselisihan dan perpecahan sehingga keadaan tidak tenteram. Meskipun demikian, rakyat Surabaya tetap mendukung kepemimpinan Sawunggaling. Bersama rakyat Surabaya yang setia, Sawunggaling melakukan perlawanan terhadap Belanda. Di beberapa wilayah terjadi BADAN BAHASA KENKENTERIAN PEWOIDIKAN WASIONAL 73 pertempuran hebat. Bahkan, perang meluas hingga ke luar Surabaya, tetapi Sawunggaling dan rakyat Surabaya pantang menyerah. Pertempuran selanjutnya berlangsung tidak seimbang karena Sawunggaling dan rakyatnya kalah dalam hal persenjataan dan perlengkapan perang lainnya. Di samping itu, berkat intrik-intrik yang dilakukan saudara dan pamannya, terjadilah pengkhianatan. Sawungsari dan Sawungrana memberitahukan kepada Belanda tempat-tempat pertahanan tentara Sawunggaling. Perlawanan Sawunggaling akhirnya dipatahkan oleh tentara Belanda. Sawunggaling terdesak mundur hingga ke Madura. Di Madura ia mendapat bantuan dari Adipati Madura untuk menghadapi tentara Belanda yang terus mengejarnya. Berkat bantuan tentara Madura itu, Sawunggaling melakukan perlawanan untuk merebut kembali kota Surabaya. Sawunggaling berjuang dengan gigih hingga berhasil masuk kembali ke kota Surabaya. Akan tetapi, di daerah Kupang, Sawunggaling berhasil dikepung hingga posisinya sangat terjepit. Meskipun sudah sangat terjepit karena dikepung dari berbagai arah, Sawunggaling pantang menyerah. Ia menghilang atau moksa, jasadnya tidak pernah diketemukan. 74
Moral of the Story
True leadership and courage are not inherited but proven through character and action, even in the face of overwhelming odds and betrayal.
Characters
Jaka Berek ★ protagonist
None explicitly mentioned, but implied to be strong and brave.
Attire: Simple clothing suitable for travel, carrying a bundle of clothes and food on a stick over his shoulder.
Determined, brave, respectful, confident.
Dewi Sangkrah ◆ supporting
None explicitly mentioned.
Attire: Period-appropriate Indonesian peasant dress.
Loving, protective, sorrowful, supportive.
Adipati Jayengrana ◆ supporting
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire befitting an Adipati (Duke) of Surabaya, likely traditional Javanese noble clothing.
Authoritative, initially skeptical, later loving and proud, defiant against colonial powers.
Sawungsari ⚔ antagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Clothing of a noble's son or warrior.
Jealous, envious, treacherous.
Sawungrana ⚔ antagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Clothing of a noble's son or warrior.
Jealous, envious, treacherous.
Sosrodiningrat ⚔ antagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire, possibly similar to an Adipati.
Ambitious, treacherous, manipulative.
Cinde Puspita ○ minor
A patterned scarf or shawl.
N/A
Tombak Pusaka Bliring ○ minor
A sacred spear.
N/A
Locations

Jaka Berek's Home Village
A village far from the center of the kingdom, where Jaka Berek and his mother Dewi Sangkrah live a difficult life.
Mood: somber, humble, filled with childhood taunts and a mother's sorrow
Jaka Berek grows up here, facing taunts about his father. He learns the truth about his father from his mother here.

Kadipaten Surabaya (Surabaya Duchy/Palace)
The ducal palace in the city of Surabaya, with a main gate guarded by soldiers.
Mood: imposing, formal, initially hostile, later a place of residence and political intrigue
Jaka Berek arrives here to meet his father, fights with his half-brothers, and presents the cinde Puspita. Later, he lives here as Sawunggaling and faces political challenges.

Hutan Wonokromo (Wonokromo Forest)
An infamous, eerie forest known to be haunted by spirits (dedemit) and wild animals.
Mood: eerie, dangerous, challenging
Jaka Berek is tasked with opening this forest to prove his power and legitimacy as the Adipati's son. He tames it with his ancestral spear.

Solo (Kingdom of Solo)
The location of the kingdom that governs Surabaya, where a flag archery competition is held.
Mood: formal, competitive, politically significant
Sawunggaling travels here secretly to participate in and win the archery competition, securing his position as the new Adipati of Surabaya.

Kupang (Area in Surabaya)
A specific area within Surabaya where Sawunggaling is cornered during his final battle.
Mood: desperate, climactic, tragic
Sawunggaling makes his final stand here, surrounded by enemies, and ultimately disappears (moksa).
Story DNA
Moral
True leadership and courage are not inherited but proven through character and action, even in the face of overwhelming odds and betrayal.
Plot Summary
Jaka Berek, an outcast youth, discovers his father is Adipati Surabaya and, after proving his lineage and strength, is accepted and renamed Sawunggaling. He rises to become the new Adipati after his father's assassination, but faces constant betrayal from his jealous half-brothers and uncle, who conspire with the Dutch. Despite leading a valiant resistance against colonial forces, Sawunggaling is ultimately cornered and, refusing to surrender, mysteriously disappears without a trace, leaving behind a legacy of courage and defiance.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph to tragic loss
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set during a period of Dutch colonial influence in Java, with themes of local resistance against foreign powers and internal political struggles. The mention of Solo and Amangkurat Mas grounds it in Javanese royal history, though the specific events are legendary.
Plot Beats (14)
- Jaka Berek is a young boy living with his mother, Dewi Sangkrah, constantly ridiculed for not having a father.
- As a teenager, Jaka Berek demands to know his father's identity; Dewi Sangkrah reluctantly reveals he is Adipati Surabaya.
- Jaka Berek journeys to the Kadipaten Surabaya, where he is confronted by his half-brothers, Sawungsari and Sawungrana, leading to a fight.
- Adipati Jayengrana intervenes, and Jaka Berek presents the cinde Puspita (scarf) from his mother as proof of his parentage.
- The Adipati, still doubtful, challenges Jaka Berek to clear the dangerous Wonokromo Forest, which Jaka Berek successfully does using his grandfather's magical spear.
- Adipati Jayengrana accepts Jaka Berek as his son, renames him Sawunggaling, and brings him into the Kadipaten.
- Sawunggaling learns of his father's assassination by the Dutch, aided by his uncle Sosrodiningrat, who sought to usurp power.
- A contest is held in Solo to find a new Adipati for Surabaya; Sawunggaling secretly participates and wins, becoming the new Adipati.
- Sawunggaling marries Nini Sekar Kedaton, daughter of Amangkurat Mas.
- Sawungsari, Sawungrana, and Sosrodiningrat, fueled by jealousy, conspire with the Dutch to destabilize Sawunggaling's rule.
- Sawunggaling leads the people of Surabaya in resistance against the Dutch, facing numerous battles and internal strife.
- His half-brothers betray him, revealing his army's positions to the Dutch, leading to Sawunggaling's forces being overwhelmed.
- Sawunggaling retreats to Madura, gains assistance, and fights his way back to Surabaya.
- Cornered and surrounded by Dutch forces in Kupang, Sawunggaling refuses to surrender and mysteriously disappears (moksa), his body never found.





