Jaka Berek

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend transformation solemn Ages 8-14 1251 words 6 min read
Cover: Jaka Berek
Original Story 1251 words · 6 min read

Jaka Berek

ada zaman dahulu,

di sebuah desa

yang jauh dari

pusat kerajaan, tinggallah

seorang ibu muda

bemama Dewi Sangkrah

dan putranya — yang

bemama Jaka Berek.

Kehidupan mereka di

desa itu cukup sulit.

Setiap — har, — ketika

bermain dengan teman-

temannya, Jaka Berek

selalu diejek sebagai anak

haram karena ta hanya

tinggal dengan ibunya,

tidak mempunyai seorang

ayah. Jaka Berek bertanya k

kepada ibunya tentang P3 E 2

siapa sebenarnya

ayahnya. Pertanyaan Jaka Berek ini selalu membuat ibunya gelisah dan sedih karena jika

diceritakan takut Jaka Berek tidak dapat mengerti dan memahaminya karena masih kecil.

Setelah Jaka Berek mulai remaja, Dewi Sangkrah luluh hatinya dan dengan berat hati

menceritakan siapa sebenarnya ayah Jaka Berek.

Suatu hari, Jaka Berek duduk termenung seorang diri di balai-balai rumahnya, wajahnya

terlihat sedih. Ketika bermain tadi, teman-temannya kembali mengejeknya sebagai anak

haram. Melihat putranya tampak murung, Dewi Sangkrah merasa kasihan dan segera

mendekatinya. Dengan penuh kasih, Dewi Sangkrah memeluk putranya.

“Putraku..,, maafkan Ibu. Karena Ibulah, kau sejalu diejek teman-temanmu," kata Dewi

Sangkrah.

"Kalau begitu, Bu, tolong beri tahu siapa sebenarnya ayahku,” pinta Jaka Berek sambil

berpaling menatap Ibunya.

"Baiklah, Anakku. Kamu sudah besar, Ibu rasa, sudah saatnya kamu tahu siapa

ayahmu...” jawab Dewi Sangkrah sambil menghela nafas .

“Ceritakanlah semuanya, Bu. Walaupun ayah sudah meninggal, aku bisa menerima.

Tapi, beri tahu di mana kuburnya supaya aku dapat melihatnya.”

"Ti...ti...dak, Anakku. Ayahmu masih hidup.”

1

"Benarkah, Bu? Di mana ia sekarang? Mengapa ia tidak menengok kita?” tanya Jaka

Berek bersemangat. Wajahnya mendadak cerah. Ia lepaskan pelukan ibunya dan seketika

berlutut di depan ibunya, "Bolehkan aku menemuinya?”

”Sabar Anakku...kau dapat menemuinya, tapi mungkin tidak mudah karena ayahmu

orang penting. Ayahmu adalah Adipati Surabaya,” jawab Dewi Sangkrah sambil memegang

bahu Jaka Berek.

Jaka Berek seketika terdiam. Terbayang ejekan teman-temannya. Ternyata ia bukan

anak haram. Ia punya ayah, bahkan seorang adipati. Dengan sabar, ia mendengarkan cerita

ibunya sejak awal pertemuannya dengan ayah hingga akhirnya terpaksa berpisah.

Setelah ibunya selesai bercerita, Jaka Berek minta izin untuk mencari ayahnya tersebut.

Dewi Sangkrah sangat berat melepas Jaka Berek pergi seorang diri, apalagi untuk bertemu

Adipati Surabaya. Dewi Sangkrah membekali Jaka Berek dengan selembar selendang atau

cinde Puspita untuk ditunjukkan kepada ayahnya sebagai bukti bahwa ia adalah anaknya.

“Bawalah cinde Puspita ini dan tunjukkan pada Adipati. Mudah-mudahan ia akan

mengenali cinde ini, Hati-hatilah, Nak,” kata Dewi Sangkrah berurai air mata.

Setelah mendapat restu ibunya, Jaka Berek segera meninggalkan rumah menuju

Kadipaten Surabaya. Beberapa potong pakaian dan makanan yang dibuntal dengan kain

tergantung di ujung batang kayu di atas pundaknya. Ia berjalan penuh semangat dan harapan

sehingga tidak merasa lelah. Bayangan akan bertemu dengan ayahnya membuatnya

bersemangat.

Setelah sampai di Kota Surabaya, Jaka Berek segera pergi ke kadipaten. Di pintu

gerbang kadipaten ia dihadang oleh dua orang prajurit bemama Sawungsari dan SaWungrana

yang merupakan putra Adipati Surabaya. Sawungrana dan Sawungsari tidak membolehkan

Jaka Berek masuk ke dalam kadipaten. Di sisi lain, Jaka Berek terus memaksa sehingga

terjadi perkelahian hebat antara Jaka Berek melawan Sawungsari dan Sawungrana.

Mendengar ada keributan di luar kadipaten, Adipati Surabaya yang bernama Jayengrana

kemudian keluar untuk melerai. Akhirnya perkelahian dapat dihentikan.

Setelah ketiganya disuruh duduk, Adipati Jayengrana menanyakan penyebab

perkelahian tersebut.

"Ada apa? Mengapa kalian berkelahi? Siapa pemuda ini?” tanya Adipati Jayengrana

kepada Sawungsari dan Sawungrana.

Sawungsari dan Sawungrana menceritakan bahwa ada anak bergama Jaka berek yang

hendak bertemu dengan Adipati Jayengrana dan mengaku sebagai anaknya. Sawungsari dan

Sawungrana menolak permintaan Jaka Berek sehingga terjadi perkelahian karena Jaka Berek

tetap memaksa masuk. Adipati sejenak terkejut sambil memandangi seorang pemuda yang

bersimpuh di depannya. Adipati Jayengrana kemudian menanyakan apakah Jaka Berek punya

bukti yang dapat menunjukkan bahwa ia memang anaknya.

”Anak muda, apa yang membuatmu yakin bahwa kau adalah putraku?” tanya Adipati

Jayengrana

Sesuai dengan pesan ibunya, Jaka Berek kemudian mengeluarkan cinde Puspita dari

dalam bajunya. ”Tbu hamba menyuruh hamba memberikan cinde ini kepada Adipati,” jawab

Jaka Berek sambil menyerahkan cinde Puspita.

Seketika wajah Adipati Jayengrana tampak sangat terkejut. Ia teringat pada istri

keduanya yang telah ditinggalkannya. Ia yang telah memberikan cinde itu kepadanya.

Meskipun sudah dapat membuktikan dirinya sebagai anaknya, Adipati Jayengrana masih

1

menghendaki Jaka Berek membuktikan kesaktiannya dengan membuka Hutan Wonokromo

yang terkenal angker karena merupakan tempatnya para dedemit dan binatang buas.

”Aku tidak percaya. Kau atau Ibumu mungkin telah mencurinya dari orang lain supaya

aku percaya bahwa kau anakku. Aku akan mengakuimu sebagai putraku jika kau dapat

membuka Hutan Wonokromo,” kata Adipati Jayengrana sambil menatap Jaka Berek.

"Baiklah, Adipati. Hamba akan mengalikan perintah Adipati,” jawab Jaka Berek

dengan penuh percaya diri.

”Anak muda, jika kau tidak berhasil menjalankan perintah ini, kau tidak perlu kembali

kesini. Sudah jelas, kau bukan putraku,” kata Adipati Jayengrana

Setelah mendengar peringatan Adipati Jayengrana, Jaka Berek segera minta diri

meninggalkan kadipaten menuju Hutan Wonokromo yang angker. Berkat tombak pusaka

Bliring pemberian kakeknya, Jaka Berek dapat menundukkan Hutan Wonokromo. Dengan

keberhasilan itu, Adipati Jayengrana dapat menerima Jaka Berek sebagai anaknya dan

kemudian mengganti namanya menjadi Sawunggaling. Jaka Berek kemudian tinggal di

dalam kadipaten bersama Sawungsari dan Sawungrana. Adipati Jayengrana sangat sayang

kepada Jaka Berek karena keberanian dan kehalusan budinya. Tabiatnya sangat berlawanan

dengan Sawungsari dan Sawungrana.

Setelah tinggal di dalam kadipaten, Sawunggaling dapat mengetahui segala persoalan

yang dihadapi ayahnya, antara lain perlawanan Adipati Jayengrana terhadap Belanda yang

membuat ayahnya akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai adipati di Surabaya.

Karena takut akan memengaruhi rakyatnya, Adipati Jayengrana akhirnya dibunuh dengan

cara diracun dalam perjalanannya ke Kota Solo oleh Belanda dengan memanfaatkan saudara

Jayengrana, yaitu Sosrodiningrat, yang berambisi menggantikan kekuasaan Jayengrana

menjadi adipati di Surabaya. Setelah kematian Adipati Jayengrana, terjadi kekosongan

kepemimpinan di Kadipaten Surabaya. Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan di Solo

menyelenggarakan sayembara memanah bendera untuk mencari pemimpin yang akan

mengisi kekosongan Adipati Surabaya.

Sebagai putra adipati, Sawungrana dan Sawungsari berangkat ke Solo untuk mengikuti

sayembara tersebut. Akan tetapi, keduanya tidak berhasil. Secara diam-diam, atas izin dan

restu ibunya, Sawunggaling berangkat ke Solo untuk mengikuti sayembara yang sama.

Berkat doa Dewi Sangkrah, Sawunggaling berhasil memenangkan sayembara sehingga

kemudian diangkat menjadi Adipati Surabaya menggantikan ayahnya dengan gelar

Sawunggaling Kulmak Sasranegara yang artinya pahlawan dari tanah Jawa yang

menggenggam seribu negara menjadi satu, bersama memajukan bangsa. Sawunggaling

kemudian dinikahkan dengan Nini Sekar Kedaton, putra Amangkurat Mas.

Melihat keberhasilan Sawunggaling, Sawungrana dan Sawungsari merasa iri hati.

Mereka bekerja sama dengan Sosrodiningrat yang juga mengincar jabatan adipati. Mereka

terus menerus merongrong kepemimpinan Sawunggaling. Karena Sawunggaling meneruskan

jejak ayahnya menentang Belanda, Belanda pun ikut bekerja sama dengan Sawungsari,

Sawungrana, dan Sosrodiningrat mengacaukan wilayah Kadipaten Surabaya untuk

merongrong kewibawaan Sawunggaling. Di dalam lingkungan kadipaten juga terjadi

perselisihan dan perpecahan sehingga keadaan tidak tenteram. Meskipun demikian, rakyat

Surabaya tetap mendukung kepemimpinan Sawunggaling. Bersama rakyat Surabaya yang

setia, Sawunggaling melakukan perlawanan terhadap Belanda. Di beberapa wilayah terjadi

BADAN BAHASA

KENKENTERIAN PEWOIDIKAN WASIONAL

73

pertempuran hebat. Bahkan, perang meluas hingga ke luar Surabaya, tetapi Sawunggaling

dan rakyat Surabaya pantang menyerah.

Pertempuran selanjutnya berlangsung tidak seimbang karena Sawunggaling dan

rakyatnya kalah dalam hal persenjataan dan perlengkapan perang lainnya. Di samping itu,

berkat intrik-intrik yang dilakukan saudara dan pamannya, terjadilah pengkhianatan.

Sawungsari dan Sawungrana memberitahukan kepada Belanda tempat-tempat pertahanan

tentara Sawunggaling. Perlawanan Sawunggaling akhirnya dipatahkan oleh tentara Belanda.

Sawunggaling terdesak mundur hingga ke Madura. Di Madura ia mendapat bantuan dari

Adipati Madura untuk menghadapi tentara Belanda yang terus mengejarnya. Berkat bantuan

tentara Madura itu, Sawunggaling melakukan perlawanan untuk merebut kembali kota

Surabaya. Sawunggaling berjuang dengan gigih hingga berhasil masuk kembali ke kota

Surabaya. Akan tetapi, di daerah Kupang, Sawunggaling berhasil dikepung hingga posisinya

sangat terjepit. Meskipun sudah sangat terjepit karena dikepung dari berbagai arah,

Sawunggaling pantang menyerah. Ia menghilang atau moksa, jasadnya tidak pernah

diketemukan.

74


Story DNA

Moral

True leadership and courage are not inherited but proven through character and action, even in the face of overwhelming odds and betrayal.

Plot Summary

Jaka Berek, an outcast youth, discovers his father is Adipati Surabaya and, after proving his lineage and strength, is accepted and renamed Sawunggaling. He rises to become the new Adipati after his father's assassination, but faces constant betrayal from his jealous half-brothers and uncle, who conspire with the Dutch. Despite leading a valiant resistance against colonial forces, Sawunggaling is ultimately cornered and, refusing to surrender, mysteriously disappears without a trace, leaving behind a legacy of courage and defiance.

Themes

identity and belongingperseverance against adversityloyalty and betrayaljustice and leadership

Emotional Arc

suffering to triumph to tragic loss

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: brisk
Descriptive: moderate
Techniques: rule of three (Jaka Berek vs. two brothers, then vs. Adipati, then vs. Dutch)

Narrative Elements

Conflict: person vs person (Jaka Berek vs. brothers, Jaka Berek vs. Adipati, Sawunggaling vs. Dutch/traitors), person vs society (Jaka Berek vs. societal judgment), person vs supernatural (Jaka Berek vs. haunted forest)
Ending: ambiguous
Magic: magical spear (tombak pusaka Bliring), moksa (mysterious disappearance)
cinde Puspita (proof of identity/lineage)tombak pusaka Bliring (inherited power/destiny)Hutan Wonokromo (test of strength/courage)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial

The story is set during a period of Dutch colonial influence in Java, with themes of local resistance against foreign powers and internal political struggles. The mention of Solo and Amangkurat Mas grounds it in Javanese royal history, though the specific events are legendary.

Plot Beats (14)

  1. Jaka Berek is a young boy living with his mother, Dewi Sangkrah, constantly ridiculed for not having a father.
  2. As a teenager, Jaka Berek demands to know his father's identity; Dewi Sangkrah reluctantly reveals he is Adipati Surabaya.
  3. Jaka Berek journeys to the Kadipaten Surabaya, where he is confronted by his half-brothers, Sawungsari and Sawungrana, leading to a fight.
  4. Adipati Jayengrana intervenes, and Jaka Berek presents the cinde Puspita (scarf) from his mother as proof of his parentage.
  5. The Adipati, still doubtful, challenges Jaka Berek to clear the dangerous Wonokromo Forest, which Jaka Berek successfully does using his grandfather's magical spear.
  6. Adipati Jayengrana accepts Jaka Berek as his son, renames him Sawunggaling, and brings him into the Kadipaten.
  7. Sawunggaling learns of his father's assassination by the Dutch, aided by his uncle Sosrodiningrat, who sought to usurp power.
  8. A contest is held in Solo to find a new Adipati for Surabaya; Sawunggaling secretly participates and wins, becoming the new Adipati.
  9. Sawunggaling marries Nini Sekar Kedaton, daughter of Amangkurat Mas.
  10. Sawungsari, Sawungrana, and Sosrodiningrat, fueled by jealousy, conspire with the Dutch to destabilize Sawunggaling's rule.
  11. Sawunggaling leads the people of Surabaya in resistance against the Dutch, facing numerous battles and internal strife.
  12. His half-brothers betray him, revealing his army's positions to the Dutch, leading to Sawunggaling's forces being overwhelmed.
  13. Sawunggaling retreats to Madura, gains assistance, and fights his way back to Surabaya.
  14. Cornered and surrounded by Dutch forces in Kupang, Sawunggaling refuses to surrender and mysteriously disappears (moksa), his body never found.

Characters

👤

Jaka Berek

human young adult male

None explicitly mentioned, but implied to be strong and brave.

Attire: Simple clothing suitable for travel, carrying a bundle of clothes and food on a stick over his shoulder.

A young man carrying a bundle on a stick over his shoulder, holding a cinde Puspita.

Determined, brave, respectful, confident.

👤

Dewi Sangkrah

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Period-appropriate Indonesian peasant dress.

A mother tearfully embracing her son, handing him a patterned scarf.

Loving, protective, sorrowful, supportive.

👤

Adipati Jayengrana

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire befitting an Adipati (Duke) of Surabaya, likely traditional Javanese noble clothing.

A Javanese Adipati, surprised by a patterned scarf.

Authoritative, initially skeptical, later loving and proud, defiant against colonial powers.

👤

Sawungsari

human young adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Clothing of a noble's son or warrior.

A warrior-like figure, standing in opposition to Jaka Berek.

Jealous, envious, treacherous.

👤

Sawungrana

human young adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Clothing of a noble's son or warrior.

A warrior-like figure, standing in opposition to Jaka Berek.

Jealous, envious, treacherous.

👤

Sosrodiningrat

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire, possibly similar to an Adipati.

A noble-looking man conspiring with others.

Ambitious, treacherous, manipulative.

✦

Cinde Puspita

object ageless non-human

A patterned scarf or shawl.

A distinctive, patterned scarf.

N/A

✦

Tombak Pusaka Bliring

object ageless non-human

A sacred spear.

A powerful, ornate spear.

N/A

Locations

Jaka Berek's Home Village

outdoor implied normal conditions

A village far from the center of the kingdom, where Jaka Berek and his mother Dewi Sangkrah live a difficult life.

Mood: somber, humble, filled with childhood taunts and a mother's sorrow

Jaka Berek grows up here, facing taunts about his father. He learns the truth about his father from his mother here.

village houses play areas for children balai-balai (porch/sitting area) of their home

Kadipaten Surabaya (Surabaya Duchy/Palace)

transitional day implied normal conditions

The ducal palace in the city of Surabaya, with a main gate guarded by soldiers.

Mood: imposing, formal, initially hostile, later a place of residence and political intrigue

Jaka Berek arrives here to meet his father, fights with his half-brothers, and presents the cinde Puspita. Later, he lives here as Sawunggaling and faces political challenges.

main gate guards (Sawungsari and Sawungrana) Adipati's court/residence

Hutan Wonokromo (Wonokromo Forest)

outdoor day implied normal conditions

An infamous, eerie forest known to be haunted by spirits (dedemit) and wild animals.

Mood: eerie, dangerous, challenging

Jaka Berek is tasked with opening this forest to prove his power and legitimacy as the Adipati's son. He tames it with his ancestral spear.

dense forest wild animals implied supernatural presence

Solo (Kingdom of Solo)

outdoor day implied normal conditions

The location of the kingdom that governs Surabaya, where a flag archery competition is held.

Mood: formal, competitive, politically significant

Sawunggaling travels here secretly to participate in and win the archery competition, securing his position as the new Adipati of Surabaya.

archery competition grounds royal court

Kupang (Area in Surabaya)

outdoor day implied normal conditions

A specific area within Surabaya where Sawunggaling is cornered during his final battle.

Mood: desperate, climactic, tragic

Sawunggaling makes his final stand here, surrounded by enemies, and ultimately disappears (moksa).

battleground surrounding forces