Jaka Berek
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Jaka Berek
ada zaman dahulu,
di sebuah desa
yang jauh dari
pusat kerajaan, tinggallah
seorang ibu muda
bemama Dewi Sangkrah
dan putranya — yang
bemama Jaka Berek.
Kehidupan mereka di
desa itu cukup sulit.
Setiap — har, — ketika
bermain dengan teman-
temannya, Jaka Berek
selalu diejek sebagai anak
haram karena ta hanya
tinggal dengan ibunya,
tidak mempunyai seorang
ayah. Jaka Berek bertanya k
kepada ibunya tentang P3 E 2
siapa sebenarnya
ayahnya. Pertanyaan Jaka Berek ini selalu membuat ibunya gelisah dan sedih karena jika
diceritakan takut Jaka Berek tidak dapat mengerti dan memahaminya karena masih kecil.
Setelah Jaka Berek mulai remaja, Dewi Sangkrah luluh hatinya dan dengan berat hati
menceritakan siapa sebenarnya ayah Jaka Berek.
Suatu hari, Jaka Berek duduk termenung seorang diri di balai-balai rumahnya, wajahnya
terlihat sedih. Ketika bermain tadi, teman-temannya kembali mengejeknya sebagai anak
haram. Melihat putranya tampak murung, Dewi Sangkrah merasa kasihan dan segera
mendekatinya. Dengan penuh kasih, Dewi Sangkrah memeluk putranya.
“Putraku..,, maafkan Ibu. Karena Ibulah, kau sejalu diejek teman-temanmu," kata Dewi
Sangkrah.
"Kalau begitu, Bu, tolong beri tahu siapa sebenarnya ayahku,” pinta Jaka Berek sambil
berpaling menatap Ibunya.
"Baiklah, Anakku. Kamu sudah besar, Ibu rasa, sudah saatnya kamu tahu siapa
ayahmu...” jawab Dewi Sangkrah sambil menghela nafas .
“Ceritakanlah semuanya, Bu. Walaupun ayah sudah meninggal, aku bisa menerima.
Tapi, beri tahu di mana kuburnya supaya aku dapat melihatnya.”
"Ti...ti...dak, Anakku. Ayahmu masih hidup.”
1
"Benarkah, Bu? Di mana ia sekarang? Mengapa ia tidak menengok kita?” tanya Jaka
Berek bersemangat. Wajahnya mendadak cerah. Ia lepaskan pelukan ibunya dan seketika
berlutut di depan ibunya, "Bolehkan aku menemuinya?”
”Sabar Anakku...kau dapat menemuinya, tapi mungkin tidak mudah karena ayahmu
orang penting. Ayahmu adalah Adipati Surabaya,” jawab Dewi Sangkrah sambil memegang
bahu Jaka Berek.
Jaka Berek seketika terdiam. Terbayang ejekan teman-temannya. Ternyata ia bukan
anak haram. Ia punya ayah, bahkan seorang adipati. Dengan sabar, ia mendengarkan cerita
ibunya sejak awal pertemuannya dengan ayah hingga akhirnya terpaksa berpisah.
Setelah ibunya selesai bercerita, Jaka Berek minta izin untuk mencari ayahnya tersebut.
Dewi Sangkrah sangat berat melepas Jaka Berek pergi seorang diri, apalagi untuk bertemu
Adipati Surabaya. Dewi Sangkrah membekali Jaka Berek dengan selembar selendang atau
cinde Puspita untuk ditunjukkan kepada ayahnya sebagai bukti bahwa ia adalah anaknya.
“Bawalah cinde Puspita ini dan tunjukkan pada Adipati. Mudah-mudahan ia akan
mengenali cinde ini, Hati-hatilah, Nak,” kata Dewi Sangkrah berurai air mata.
Setelah mendapat restu ibunya, Jaka Berek segera meninggalkan rumah menuju
Kadipaten Surabaya. Beberapa potong pakaian dan makanan yang dibuntal dengan kain
tergantung di ujung batang kayu di atas pundaknya. Ia berjalan penuh semangat dan harapan
sehingga tidak merasa lelah. Bayangan akan bertemu dengan ayahnya membuatnya
bersemangat.
Setelah sampai di Kota Surabaya, Jaka Berek segera pergi ke kadipaten. Di pintu
gerbang kadipaten ia dihadang oleh dua orang prajurit bemama Sawungsari dan SaWungrana
yang merupakan putra Adipati Surabaya. Sawungrana dan Sawungsari tidak membolehkan
Jaka Berek masuk ke dalam kadipaten. Di sisi lain, Jaka Berek terus memaksa sehingga
terjadi perkelahian hebat antara Jaka Berek melawan Sawungsari dan Sawungrana.
Mendengar ada keributan di luar kadipaten, Adipati Surabaya yang bernama Jayengrana
kemudian keluar untuk melerai. Akhirnya perkelahian dapat dihentikan.
Setelah ketiganya disuruh duduk, Adipati Jayengrana menanyakan penyebab
perkelahian tersebut.
"Ada apa? Mengapa kalian berkelahi? Siapa pemuda ini?” tanya Adipati Jayengrana
kepada Sawungsari dan Sawungrana.
Sawungsari dan Sawungrana menceritakan bahwa ada anak bergama Jaka berek yang
hendak bertemu dengan Adipati Jayengrana dan mengaku sebagai anaknya. Sawungsari dan
Sawungrana menolak permintaan Jaka Berek sehingga terjadi perkelahian karena Jaka Berek
tetap memaksa masuk. Adipati sejenak terkejut sambil memandangi seorang pemuda yang
bersimpuh di depannya. Adipati Jayengrana kemudian menanyakan apakah Jaka Berek punya
bukti yang dapat menunjukkan bahwa ia memang anaknya.
”Anak muda, apa yang membuatmu yakin bahwa kau adalah putraku?” tanya Adipati
Jayengrana
Sesuai dengan pesan ibunya, Jaka Berek kemudian mengeluarkan cinde Puspita dari
dalam bajunya. ”Tbu hamba menyuruh hamba memberikan cinde ini kepada Adipati,” jawab
Jaka Berek sambil menyerahkan cinde Puspita.
Seketika wajah Adipati Jayengrana tampak sangat terkejut. Ia teringat pada istri
keduanya yang telah ditinggalkannya. Ia yang telah memberikan cinde itu kepadanya.
Meskipun sudah dapat membuktikan dirinya sebagai anaknya, Adipati Jayengrana masih
1
menghendaki Jaka Berek membuktikan kesaktiannya dengan membuka Hutan Wonokromo
yang terkenal angker karena merupakan tempatnya para dedemit dan binatang buas.
”Aku tidak percaya. Kau atau Ibumu mungkin telah mencurinya dari orang lain supaya
aku percaya bahwa kau anakku. Aku akan mengakuimu sebagai putraku jika kau dapat
membuka Hutan Wonokromo,” kata Adipati Jayengrana sambil menatap Jaka Berek.
"Baiklah, Adipati. Hamba akan mengalikan perintah Adipati,” jawab Jaka Berek
dengan penuh percaya diri.
”Anak muda, jika kau tidak berhasil menjalankan perintah ini, kau tidak perlu kembali
kesini. Sudah jelas, kau bukan putraku,” kata Adipati Jayengrana
Setelah mendengar peringatan Adipati Jayengrana, Jaka Berek segera minta diri
meninggalkan kadipaten menuju Hutan Wonokromo yang angker. Berkat tombak pusaka
Bliring pemberian kakeknya, Jaka Berek dapat menundukkan Hutan Wonokromo. Dengan
keberhasilan itu, Adipati Jayengrana dapat menerima Jaka Berek sebagai anaknya dan
kemudian mengganti namanya menjadi Sawunggaling. Jaka Berek kemudian tinggal di
dalam kadipaten bersama Sawungsari dan Sawungrana. Adipati Jayengrana sangat sayang
kepada Jaka Berek karena keberanian dan kehalusan budinya. Tabiatnya sangat berlawanan
dengan Sawungsari dan Sawungrana.
Setelah tinggal di dalam kadipaten, Sawunggaling dapat mengetahui segala persoalan
yang dihadapi ayahnya, antara lain perlawanan Adipati Jayengrana terhadap Belanda yang
membuat ayahnya akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai adipati di Surabaya.
Karena takut akan memengaruhi rakyatnya, Adipati Jayengrana akhirnya dibunuh dengan
cara diracun dalam perjalanannya ke Kota Solo oleh Belanda dengan memanfaatkan saudara
Jayengrana, yaitu Sosrodiningrat, yang berambisi menggantikan kekuasaan Jayengrana
menjadi adipati di Surabaya. Setelah kematian Adipati Jayengrana, terjadi kekosongan
kepemimpinan di Kadipaten Surabaya. Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan di Solo
menyelenggarakan sayembara memanah bendera untuk mencari pemimpin yang akan
mengisi kekosongan Adipati Surabaya.
Sebagai putra adipati, Sawungrana dan Sawungsari berangkat ke Solo untuk mengikuti
sayembara tersebut. Akan tetapi, keduanya tidak berhasil. Secara diam-diam, atas izin dan
restu ibunya, Sawunggaling berangkat ke Solo untuk mengikuti sayembara yang sama.
Berkat doa Dewi Sangkrah, Sawunggaling berhasil memenangkan sayembara sehingga
kemudian diangkat menjadi Adipati Surabaya menggantikan ayahnya dengan gelar
Sawunggaling Kulmak Sasranegara yang artinya pahlawan dari tanah Jawa yang
menggenggam seribu negara menjadi satu, bersama memajukan bangsa. Sawunggaling
kemudian dinikahkan dengan Nini Sekar Kedaton, putra Amangkurat Mas.
Melihat keberhasilan Sawunggaling, Sawungrana dan Sawungsari merasa iri hati.
Mereka bekerja sama dengan Sosrodiningrat yang juga mengincar jabatan adipati. Mereka
terus menerus merongrong kepemimpinan Sawunggaling. Karena Sawunggaling meneruskan
jejak ayahnya menentang Belanda, Belanda pun ikut bekerja sama dengan Sawungsari,
Sawungrana, dan Sosrodiningrat mengacaukan wilayah Kadipaten Surabaya untuk
merongrong kewibawaan Sawunggaling. Di dalam lingkungan kadipaten juga terjadi
perselisihan dan perpecahan sehingga keadaan tidak tenteram. Meskipun demikian, rakyat
Surabaya tetap mendukung kepemimpinan Sawunggaling. Bersama rakyat Surabaya yang
setia, Sawunggaling melakukan perlawanan terhadap Belanda. Di beberapa wilayah terjadi
BADAN BAHASA
KENKENTERIAN PEWOIDIKAN WASIONAL
73
pertempuran hebat. Bahkan, perang meluas hingga ke luar Surabaya, tetapi Sawunggaling
dan rakyat Surabaya pantang menyerah.
Pertempuran selanjutnya berlangsung tidak seimbang karena Sawunggaling dan
rakyatnya kalah dalam hal persenjataan dan perlengkapan perang lainnya. Di samping itu,
berkat intrik-intrik yang dilakukan saudara dan pamannya, terjadilah pengkhianatan.
Sawungsari dan Sawungrana memberitahukan kepada Belanda tempat-tempat pertahanan
tentara Sawunggaling. Perlawanan Sawunggaling akhirnya dipatahkan oleh tentara Belanda.
Sawunggaling terdesak mundur hingga ke Madura. Di Madura ia mendapat bantuan dari
Adipati Madura untuk menghadapi tentara Belanda yang terus mengejarnya. Berkat bantuan
tentara Madura itu, Sawunggaling melakukan perlawanan untuk merebut kembali kota
Surabaya. Sawunggaling berjuang dengan gigih hingga berhasil masuk kembali ke kota
Surabaya. Akan tetapi, di daerah Kupang, Sawunggaling berhasil dikepung hingga posisinya
sangat terjepit. Meskipun sudah sangat terjepit karena dikepung dari berbagai arah,
Sawunggaling pantang menyerah. Ia menghilang atau moksa, jasadnya tidak pernah
diketemukan.
74
Story DNA
Moral
True leadership and courage are not inherited but proven through character and action, even in the face of overwhelming odds and betrayal.
Plot Summary
Jaka Berek, an outcast youth, discovers his father is Adipati Surabaya and, after proving his lineage and strength, is accepted and renamed Sawunggaling. He rises to become the new Adipati after his father's assassination, but faces constant betrayal from his jealous half-brothers and uncle, who conspire with the Dutch. Despite leading a valiant resistance against colonial forces, Sawunggaling is ultimately cornered and, refusing to surrender, mysteriously disappears without a trace, leaving behind a legacy of courage and defiance.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph to tragic loss
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set during a period of Dutch colonial influence in Java, with themes of local resistance against foreign powers and internal political struggles. The mention of Solo and Amangkurat Mas grounds it in Javanese royal history, though the specific events are legendary.
Plot Beats (14)
- Jaka Berek is a young boy living with his mother, Dewi Sangkrah, constantly ridiculed for not having a father.
- As a teenager, Jaka Berek demands to know his father's identity; Dewi Sangkrah reluctantly reveals he is Adipati Surabaya.
- Jaka Berek journeys to the Kadipaten Surabaya, where he is confronted by his half-brothers, Sawungsari and Sawungrana, leading to a fight.
- Adipati Jayengrana intervenes, and Jaka Berek presents the cinde Puspita (scarf) from his mother as proof of his parentage.
- The Adipati, still doubtful, challenges Jaka Berek to clear the dangerous Wonokromo Forest, which Jaka Berek successfully does using his grandfather's magical spear.
- Adipati Jayengrana accepts Jaka Berek as his son, renames him Sawunggaling, and brings him into the Kadipaten.
- Sawunggaling learns of his father's assassination by the Dutch, aided by his uncle Sosrodiningrat, who sought to usurp power.
- A contest is held in Solo to find a new Adipati for Surabaya; Sawunggaling secretly participates and wins, becoming the new Adipati.
- Sawunggaling marries Nini Sekar Kedaton, daughter of Amangkurat Mas.
- Sawungsari, Sawungrana, and Sosrodiningrat, fueled by jealousy, conspire with the Dutch to destabilize Sawunggaling's rule.
- Sawunggaling leads the people of Surabaya in resistance against the Dutch, facing numerous battles and internal strife.
- His half-brothers betray him, revealing his army's positions to the Dutch, leading to Sawunggaling's forces being overwhelmed.
- Sawunggaling retreats to Madura, gains assistance, and fights his way back to Surabaya.
- Cornered and surrounded by Dutch forces in Kupang, Sawunggaling refuses to surrender and mysteriously disappears (moksa), his body never found.
Characters
Jaka Berek
None explicitly mentioned, but implied to be strong and brave.
Attire: Simple clothing suitable for travel, carrying a bundle of clothes and food on a stick over his shoulder.
Determined, brave, respectful, confident.
Dewi Sangkrah
None explicitly mentioned.
Attire: Period-appropriate Indonesian peasant dress.
Loving, protective, sorrowful, supportive.
Adipati Jayengrana
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire befitting an Adipati (Duke) of Surabaya, likely traditional Javanese noble clothing.
Authoritative, initially skeptical, later loving and proud, defiant against colonial powers.
Sawungsari
None explicitly mentioned.
Attire: Clothing of a noble's son or warrior.
Jealous, envious, treacherous.
Sawungrana
None explicitly mentioned.
Attire: Clothing of a noble's son or warrior.
Jealous, envious, treacherous.
Sosrodiningrat
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire, possibly similar to an Adipati.
Ambitious, treacherous, manipulative.
Cinde Puspita
A patterned scarf or shawl.
N/A
Tombak Pusaka Bliring
A sacred spear.
N/A
Locations
Jaka Berek's Home Village
A village far from the center of the kingdom, where Jaka Berek and his mother Dewi Sangkrah live a difficult life.
Mood: somber, humble, filled with childhood taunts and a mother's sorrow
Jaka Berek grows up here, facing taunts about his father. He learns the truth about his father from his mother here.
Kadipaten Surabaya (Surabaya Duchy/Palace)
The ducal palace in the city of Surabaya, with a main gate guarded by soldiers.
Mood: imposing, formal, initially hostile, later a place of residence and political intrigue
Jaka Berek arrives here to meet his father, fights with his half-brothers, and presents the cinde Puspita. Later, he lives here as Sawunggaling and faces political challenges.
Hutan Wonokromo (Wonokromo Forest)
An infamous, eerie forest known to be haunted by spirits (dedemit) and wild animals.
Mood: eerie, dangerous, challenging
Jaka Berek is tasked with opening this forest to prove his power and legitimacy as the Adipati's son. He tames it with his ancestral spear.
Solo (Kingdom of Solo)
The location of the kingdom that governs Surabaya, where a flag archery competition is held.
Mood: formal, competitive, politically significant
Sawunggaling travels here secretly to participate in and win the archery competition, securing his position as the new Adipati of Surabaya.
Kupang (Area in Surabaya)
A specific area within Surabaya where Sawunggaling is cornered during his final battle.
Mood: desperate, climactic, tragic
Sawunggaling makes his final stand here, surrounded by enemies, and ultimately disappears (moksa).