Kayangan Api
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Kayangan Api
ada zaman dahulu, ada kerajaan besar bernama Majapahit. Kerajaan atu
mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk
dan Patih Gadjah Mada yang terkenal dengan keinginannya menyatukan
Nusantara melalui Sumpah Palapa. Pada masa itu, pengaruh kekuasaan
Majapahit begitu luas sampai ke luar Pulau Jawa, bahkan ke luar Kepulauan Nusantara,
Angkatan perangnya sangat kuat sehingga dengan mudah dapat menaklukkan kerajaan-
kerajaan kecil di Nusantara.
Kebesaran dan kekuatam kerajaan Majapahit tidak terlepas dari dukungan para
Mpu pembuat benda pusaka dan peralatan-peralatan perang. Para Mpu mendukung
penyatuan Nusantara itu dengan cara membuat dan menciptakan senjata-senjata
pusaka, seperti keris dan tombak. Meskipun demikian, keris yang dibuat empu bukan
sekadar untuk tujuan perang, lebih dari itu adalah sebagai simbol kewibawaan dan
kekuasaan raja pemegangnya sekaligus sebagai sumber kekuatan dan kesaktiannya.
Kerajaan Majapahit memiliki banyak sekali empu pembuat keris pusaka yang
tersebar di seluruh Pulau Jawa. Salah satunya berada di sebuah padepokan terpencil di
tengah hutan jau yang masuk wilayah Bojonegoro. Di tempat itulah tinggal salah satu
erapu pembuat keris kepercayaan kerajaan Majapahit, yaitu Mbah Kriyo Kusumo atau
Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe. Empu Supa dikenal
sebagai pembuat keris yang sangat sakti sehingga tidak heran raja-raja dan petinggi
kerajaan Majapahit memercayakan pembuatan kerisnya kepadanya. Selain membuat
keris pusaka, tombak, dan cundrik, Empu Supa juga membuat alat-alat pertanian.
Konon pada suatu hari datang utusan dari kerajaan Majapahit ke padepokan Desa
Sendangharjo. Rombongan tersebut hendak menemui Empu Supa di padepokannya
yang berada di tengah hutan lindung. Di padepokan itulah Empu Supa sering
melakukan kegiatan bertapa dan lelaku lainnya sehingga dikenal sebagai empu yang
sakti. Maksud kedatangan rombongan kerajaan Majapahit itu adalah membawa pesan
Raja Majapahit agar dibuatkan sebuah keris pusaka yang sangat sakti sehingga dengan
keris itu raja bisa menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya.
"Silakan duduk, Patih,” kata Empu Supa mempersilakan patih kerajaan Majapahit
"Ada apa gerangan Patih kemari membawa rombongan. Adakah Paduka Yang Mulia
menginginkan kens pusaka hamba?” tanya Empu Supa menebak.
Empu Supa sudah biasa menerima pesanan pusaka dari kerajaan, tetapi biasanya
bukan patih yang datang ke padepokannya. Jika seorang patih yang diutus, tentu
pesanan itu datang langsung dan raja.
"Benar, empu Supa. Yang Mulia mgin dibuatkan keris pusaka yang sakti. Apakah
Empu bisa membuatkannya?” tanya patih setelah duduk.
“Kepercayaan Yang Mulia merupakan kehormatan besar untuk hamba. Hamba
tidak akan mengecewakan Paduka”
179
"Yang Mulia sudah tahu kehebatan pusaka-pusaka buatan Empu. Paduka juga tahu
jasa Empu dalam menyediakan persenjataan untuk para 'prajurit Majapahit, Itulah
sebabnya, paduka memercayakan pembuatan pusakanya kepada Empu.”
"Mohon dihaturkan rasa terima kasih hamba kepada Yang Mulia. Apakah Paduka
memberikan petunjuk seperti apa pusaka yang harus hamba buat?”
"Tidak...tidak ada yang khusus. Paduka hanya minta dibuatkan pusaka yang
sangat sakti, yang tidak terkalahkan, dan tentu saja belum ada yang memiliki pusaka
seperti itu.”
”Baik...baik...meskipun tidak mudah, keinginan Paduka Yang Mulia akan hamba
wujudkan. Hamba akan mengerahkan segenap kemampuan hamba anak memenuhi
keinginan Yang Mulia.”
"Berarti kau sariggup, Empu Supa?"
”Hamba siap. Tapi hamba mohon diberi waktu yang cukup.”
"Apa maksudmu, Empu?” 4
"Mohon disampaikan kepada Paduka Yang Mulia 'agar hamba diberi waktu dua
bulan untuk menyelesaikannya. Hamiba ingin mempersiapkannya dengan baik agar
pusaka yang akan hamba buat mariti sesuai dengan keinginan Paduka. Hamba tidak bisa
membuatnya secara tergesa-gesa.”
”Oh, itu rupanya. Baiklah. Saya kira Paduka tidak akan keberatan. Nanti saya
sampaikan permintaarimu itu kepada Paduka."
”Terima kasih. Setelah dua bulan dari waktu sekarang, Patih dapat
mengambilnya.”
"Baiklah. Kalau tidak ai yang akan kau sampaikan lagi, saya akan kembali ke
kota raja. Masih banyak pekerjaan yang harus saya'selesaikan.”
"Hamba rasa tidak ada lagi. Hamba- akan segera nidropietelapikan diri untuk
melaksanakan tugas Paduka.” -: t $
"Baik, kami pamit pulang Empu.”
Rombongan utusan 'kerajaan Majapahit begera meninggalkan pala okeh Dalam
waktu sekejap Empu Supa sudah: mempersiapkan segala' sesuatunya untuk membuat
keris pusaka pesanan raja. Dia' berencana bertapa selama sebulan dan sebulan sisanya
untuk membuat keris. Maksud lelaku tapa tersebut adalah agar dia'diberi kekuatan dan
kemudahan dalam menyelesaikan pembuatari kerisnya. Ritual 'tapa adalah kegiatan
yang selalu dilakukan sebelum memulai pembuatan keris pusaka: Apalagi, pusaka yang
diminta raja bukan pusaka Sepbaganjpan Betapa Pang! Sea perlu Derpan yang
lebih baik.
Selama sebulan penuh. melakukan tepi brata, Epi Supa serasa memperoleh
kekuatan batin untuk mulai mengerjakan "pesanan keris pusaka tersebut. Akhirnya
setelah menyelesaikan lelaku tapanyi, Empu Supa berusaha menancapkan keris yang
dibawanya ke sebuah tanah kosong di “dekat pohon tempatnya bertapa. Secara ajaib,
bekas tusukan keris “di tanah tersebut 'tibaitiba' keluar 'api yang menyembur.
Selanjutnya, dia juga menancapkan kerisnya ke tanah di sebelah baratnya dan secara
ajaib juga dari bekas tancapan kerisnya keluarlah air yang menyembur ke atas. Semua
itu bisa terjadi karena kesaktian empu.
Dengan sumber api dam air yang terdapat di tempat tersebut, Empu Supa mulai
membuat keris pusaka pesanan Raja Majapahit. Akhirnya tepat dua bulan keris pusaka
BADAN BaHasa
BAN Oig
taka
tersebut selesai dikerjakan. Sebuah keris pusaka yang sangat sakti dan bentuknya
sangat indah sehingga dapat menaikkan derajat dan wibawa raja yang memilikinya.
Beberapa hari kemudian utusan dari Majapahit datang ke Padepokan Empu Supa untuk
mengambilnya.
"Kami datang, Empu Supa,” kata Patih setelah sampai di depan padepokan.
”Mari...mari...silakan masuk, Patih. Hamba sudah menunggu sejak pagi,” kata
Empu Supa sambil mempersilakan para tamunya masuk.
"Bagaimana, Empu, apakah pusakanya sudah jadi? Paduka sudah tidak sabar
untuk melihat.”
”Sudah...sudah...sesuai yang hamba janjikan. Sejak pagi tadi sudah hamba
siapkan. Sebentar, hamba ambilkan,” kata Empu Supa.
Empu Supa meninggalkan ruang pendopo padepokan itu menuju ruang dalam
meninggalkan Patih dan rombongan dari kerajaan Majapahit yang terlihat tidak sabar
ingin segera melihat hasil karya Empu Supa: Selagi Empu Supa mengambil pusakanya,
mereka membicarakan kehebatan Mpu Supa dalam pembuatan pusaka dan senjata. Di
kalangan prajurit Majapahit, nama Empu Supa memang sudah tidak asing. Tidak lama
kemudian Empu Supa terlihat keluar dari ruangan dalam. Seketika rombongan
Majapahit itu diam dan melihat ke arah Empu Supa yang membawa sebuah wadah
memanjang terbungkus kain putih.
”Patih, inilah keris pusaka yang hamba buat. Mudah-mudahan tidak
mengecewakan Paduka,” kata Empu Supa seraya membuka kain putih pembungkus
benda yang dibawanya itu. Semua mata tertuju ke arah benda yang dipegang Empu
Supa. Setelah kain terbuka, tampak sebuah sarung keris dengan keris di dalamnya. Dari
sarung dan gagang keris yang tampak dapat dibayangkan betapa indahnya keris yang
tersimpan di dalam sarung itu. Pelan-pelan Empu Supa menarik keris itu keluar.
Seketika cahaya putih memancar tajam menyilaukan mata orang-orang di sekeliling
Empu Supa hingga mereka menutupinya dengan telapak tangan. Empu Supa
memperlihatkan keris itu dengan cara memeganggangnya vertikal sehingga terlihat
jelas keelokan lekuk dan ukiran serta ketajaman kedua sisinya. Patih dan
rombongannya sangat terpesona dan kagum hingga tidak dapat berkata-kata.
"Inilah keris pesanan Paduka Yang Mulia,” kata Empu Supa.
”"OoooHhhh, sungguh luar biasa, Empu. Luar biasa. Tidak salah Paduka
memilihmu, Empu Supa,” kata Patih sambil memperhatikan keris di tangan Empu Supa
dengan kagum.
"Semoga Paduka menyukainya,” kata Empu Supa.
"Tentu...tentu...tentu Paduka akan menyukaianya. Bagaimana Empu, apakah saya
sudah dapat membawa pusaka ini ke kota raja?” tanya Patih tidak sabar.
”Ah...iya...iya, silakan Patih. Jika masih ada yang kurang, hamba siap,” kata Empu
Supa sambil memasukkan kembali keris itu ke sarungnya lalu membungkusnya
kembali dengan kain putih.
”Ini....,” kata Empu Supa sambil menyerahkan pusaka itu kepada patih.
Setelah menerima keris dan mengucapkan terima kasih, patih dan rombongannya.
segera berpamitan untuk kembali ke Majapahit. Sepanjang jalan mereka tak henti-
hentinya membicarakan kehebatan Empu Supa dan keris buatannya.
181
Setelah sampai di istana, patih dan rombongannya. segera, menghadap rajaidan
menyerahkan pusaka pesanannya. Konon, raja,sangat. puas dengan keris pusaka iyang
dibuat oleh Empu Supa. Raja merasa bangga dan,gembira. karena. mendapat: kekuatan:
yang berlipat-lipat setelah memiliki keris 'pusaka tersebut. Keris tersebut.selahu,
dibawanya saat menaklukkan daerah-daerah, Jain,.. Sebagai Jasa: terima ikasihu'"'raja
mengirimkan hadiah yang sangat banyak untuk, padepokan, dany,warga:-di, sekitarnya.
Warga di sekitar padepokan ikut merasakan berkah.dari kehebatan EmpprSupa: 2 uye!
Oleh karena itu, untuk mengingat lokasi, tempat. pembugtan “keris, pusakaioleh
Empu Supa, warga setempat menyebutnya dengan Kayangan Api yang-artinyajapi,,
yang tidak kunjung padam yang berasal dari, langit.atau kayangan., Sementara" itu,
lokasi atau tempat sumber air yang senantiasg bergejolak diberi mama Kalam, Nang
yang artinya kolam yang airnya senantiasa bergolak atau mendidih,
ib asnlod Jetis
Td 4
dis
BUBK Gini
pu nga
Her eter
2 lsudua ds at
jno2 nendn
angsa neb $
UM gneY sdah
1 samid 151
tidensa die:
Tata Laras
Airnya Tie
ditag ais usg
Kas Tidesra uan ugm stel and"
ar 2inod sraimongra hi
ad den ati ae
phe baron nsatermoidenseroyri
aro ine
Bgn
182
Story DNA
Moral
Exceptional skill and spiritual dedication can create objects of immense power and leave a lasting legacy.
Plot Summary
During the height of the Majapahit Kingdom, the King commissions the legendary Mpu Supa to forge an unconquerable keris. Mpu Supa undertakes a month of spiritual retreat, during which he miraculously creates a geyser of fire (Kayangan Api) and a geyser of water (Kolam Nglang) from the ground. Using these mystical elements, he crafts a keris of such immense power and beauty that it radiates light, leaving the King's envoy awestruck. The King is delighted with the keris, which amplifies his power, and rewards Mpu Supa, while the sites of the miraculous springs become legendary landmarks.
Themes
Emotional Arc
anticipation to awe to satisfaction
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set during the historical Majapahit era, but the events surrounding Mpu Supa and the creation of Kayangan Api are legendary, serving as an origin myth for a specific geographical feature in Bojonegoro, East Java.
Plot Beats (14)
- The Majapahit Kingdom is at its peak, known for its power and the ambition of its leaders to unite Nusantara.
- The kingdom's strength is attributed to its Mpu, who craft powerful pusaka (heirloom weapons) like keris, which are symbols of power and spiritual might.
- Mpu Supa (also known as Mbah Kriyo Kusumo or Mbah Pandhe), a highly respected and powerful Mpu, lives in a secluded hermitage in Bojonegoro.
- A delegation from the Majapahit King, led by the Patih, visits Mpu Supa to commission a uniquely powerful and unconquerable keris.
- Mpu Supa agrees, requesting two months: one for spiritual retreat (tapa) and one for the actual forging.
- Mpu Supa undertakes a month-long tapa, gaining immense spiritual power.
- After his tapa, Mpu Supa demonstrates his power by plunging a keris into the ground, causing a geyser of fire (Kayangan Api) to erupt, and then into another spot, causing a geyser of water (Kolam Nglang) to erupt.
- Using these miraculous sources of fire and water, Mpu Supa crafts the keris within the allotted time.
- The Patih returns to Mpu Supa's hermitage to retrieve the keris.
- Mpu Supa unveils the keris, which radiates a blinding white light, stunning the Patih and his entourage with its beauty and power.
- The Patih expresses his awe and takes the keris back to the King.
- The King is extremely satisfied with the keris, feeling his power greatly enhanced by it, and uses it in his conquests.
- As a token of gratitude, the King sends numerous gifts to Mpu Supa and the local community.
- The sites where Mpu Supa created the fire and water sources are named Kayangan Api (Heavenly Fire) and Kolam Nglang (Boiling Pond), becoming legendary places.
Characters
Empu Supa
None explicitly mentioned, but implied to be a skilled and revered craftsman.
Attire: None explicitly mentioned, but likely simple, traditional attire suitable for a craftsman and hermit.
Skilled, dedicated, spiritual, humble, powerful (sakti).
Patih
None explicitly mentioned.
Attire: Formal attire befitting a high-ranking official of the Majapahit kingdom.
Respectful, eager, impressed, loyal.
Raja Majapahit
None explicitly mentioned.
Attire: Royal regalia of the Majapahit kingdom.
Powerful, demanding, appreciative, proud.
Locations
Padepokan Empu Supa (in the deep forest)
A secluded hermitage located deep within a protected forest in the Bojonegoro region, where Empu Supa lives and practices his craft. It includes a pendopo (open pavilion) and inner rooms.
Mood: Secluded, spiritual, industrious, a place of great skill and power.
Empu Supa receives the king's order for a powerful kris, and later presents the finished kris to the Patih here.
Empty land near Empu Supa's meditation tree
A barren patch of ground located close to a tree where Empu Supa meditated. Miraculously, fire and water spring from the ground here.
Mood: Mystical, miraculous, a source of raw elemental power.
Empu Supa, after his meditation, plunges his kris into the ground, causing a perpetual fire (Kayangan Api) and a constantly boiling pool of water (Kolam Nang) to appear, which he uses to forge the king's kris.
Majapahit Royal Palace
The grand residence of the Majapahit king, where the Patih delivers the newly forged kris.
Mood: Regal, powerful, a center of authority and prestige.
The Patih delivers the kris to the king, who is immensely pleased and feels his power multiplied.