Kayangan Api

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 1385 words 7 min read
Cover: Kayangan Api
Original Story 1385 words · 7 min read

Kayangan Api

ada zaman dahulu, ada kerajaan besar bernama Majapahit. Kerajaan atu

mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk

dan Patih Gadjah Mada yang terkenal dengan keinginannya menyatukan

Nusantara melalui Sumpah Palapa. Pada masa itu, pengaruh kekuasaan

Majapahit begitu luas sampai ke luar Pulau Jawa, bahkan ke luar Kepulauan Nusantara,

Angkatan perangnya sangat kuat sehingga dengan mudah dapat menaklukkan kerajaan-

kerajaan kecil di Nusantara.

Kebesaran dan kekuatam kerajaan Majapahit tidak terlepas dari dukungan para

Mpu pembuat benda pusaka dan peralatan-peralatan perang. Para Mpu mendukung

penyatuan Nusantara itu dengan cara membuat dan menciptakan senjata-senjata

pusaka, seperti keris dan tombak. Meskipun demikian, keris yang dibuat empu bukan

sekadar untuk tujuan perang, lebih dari itu adalah sebagai simbol kewibawaan dan

kekuasaan raja pemegangnya sekaligus sebagai sumber kekuatan dan kesaktiannya.

Kerajaan Majapahit memiliki banyak sekali empu pembuat keris pusaka yang

tersebar di seluruh Pulau Jawa. Salah satunya berada di sebuah padepokan terpencil di

tengah hutan jau yang masuk wilayah Bojonegoro. Di tempat itulah tinggal salah satu

erapu pembuat keris kepercayaan kerajaan Majapahit, yaitu Mbah Kriyo Kusumo atau

Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe. Empu Supa dikenal

sebagai pembuat keris yang sangat sakti sehingga tidak heran raja-raja dan petinggi

kerajaan Majapahit memercayakan pembuatan kerisnya kepadanya. Selain membuat

keris pusaka, tombak, dan cundrik, Empu Supa juga membuat alat-alat pertanian.

Konon pada suatu hari datang utusan dari kerajaan Majapahit ke padepokan Desa

Sendangharjo. Rombongan tersebut hendak menemui Empu Supa di padepokannya

yang berada di tengah hutan lindung. Di padepokan itulah Empu Supa sering

melakukan kegiatan bertapa dan lelaku lainnya sehingga dikenal sebagai empu yang

sakti. Maksud kedatangan rombongan kerajaan Majapahit itu adalah membawa pesan

Raja Majapahit agar dibuatkan sebuah keris pusaka yang sangat sakti sehingga dengan

keris itu raja bisa menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya.

"Silakan duduk, Patih,” kata Empu Supa mempersilakan patih kerajaan Majapahit

"Ada apa gerangan Patih kemari membawa rombongan. Adakah Paduka Yang Mulia

menginginkan kens pusaka hamba?” tanya Empu Supa menebak.

Empu Supa sudah biasa menerima pesanan pusaka dari kerajaan, tetapi biasanya

bukan patih yang datang ke padepokannya. Jika seorang patih yang diutus, tentu

pesanan itu datang langsung dan raja.

"Benar, empu Supa. Yang Mulia mgin dibuatkan keris pusaka yang sakti. Apakah

Empu bisa membuatkannya?” tanya patih setelah duduk.

“Kepercayaan Yang Mulia merupakan kehormatan besar untuk hamba. Hamba

tidak akan mengecewakan Paduka”

179

"Yang Mulia sudah tahu kehebatan pusaka-pusaka buatan Empu. Paduka juga tahu

jasa Empu dalam menyediakan persenjataan untuk para 'prajurit Majapahit, Itulah

sebabnya, paduka memercayakan pembuatan pusakanya kepada Empu.”

"Mohon dihaturkan rasa terima kasih hamba kepada Yang Mulia. Apakah Paduka

memberikan petunjuk seperti apa pusaka yang harus hamba buat?”

"Tidak...tidak ada yang khusus. Paduka hanya minta dibuatkan pusaka yang

sangat sakti, yang tidak terkalahkan, dan tentu saja belum ada yang memiliki pusaka

seperti itu.”

”Baik...baik...meskipun tidak mudah, keinginan Paduka Yang Mulia akan hamba

wujudkan. Hamba akan mengerahkan segenap kemampuan hamba anak memenuhi

keinginan Yang Mulia.”

"Berarti kau sariggup, Empu Supa?"

”Hamba siap. Tapi hamba mohon diberi waktu yang cukup.”

"Apa maksudmu, Empu?” 4

"Mohon disampaikan kepada Paduka Yang Mulia 'agar hamba diberi waktu dua

bulan untuk menyelesaikannya. Hamiba ingin mempersiapkannya dengan baik agar

pusaka yang akan hamba buat mariti sesuai dengan keinginan Paduka. Hamba tidak bisa

membuatnya secara tergesa-gesa.”

”Oh, itu rupanya. Baiklah. Saya kira Paduka tidak akan keberatan. Nanti saya

sampaikan permintaarimu itu kepada Paduka."

”Terima kasih. Setelah dua bulan dari waktu sekarang, Patih dapat

mengambilnya.”

"Baiklah. Kalau tidak ai yang akan kau sampaikan lagi, saya akan kembali ke

kota raja. Masih banyak pekerjaan yang harus saya'selesaikan.”

"Hamba rasa tidak ada lagi. Hamba- akan segera nidropietelapikan diri untuk

melaksanakan tugas Paduka.” -: t $

"Baik, kami pamit pulang Empu.”

Rombongan utusan 'kerajaan Majapahit begera meninggalkan pala okeh Dalam

waktu sekejap Empu Supa sudah: mempersiapkan segala' sesuatunya untuk membuat

keris pusaka pesanan raja. Dia' berencana bertapa selama sebulan dan sebulan sisanya

untuk membuat keris. Maksud lelaku tapa tersebut adalah agar dia'diberi kekuatan dan

kemudahan dalam menyelesaikan pembuatari kerisnya. Ritual 'tapa adalah kegiatan

yang selalu dilakukan sebelum memulai pembuatan keris pusaka: Apalagi, pusaka yang

diminta raja bukan pusaka Sepbaganjpan Betapa Pang! Sea perlu Derpan yang

lebih baik.

Selama sebulan penuh. melakukan tepi brata, Epi Supa serasa memperoleh

kekuatan batin untuk mulai mengerjakan "pesanan keris pusaka tersebut. Akhirnya

setelah menyelesaikan lelaku tapanyi, Empu Supa berusaha menancapkan keris yang

dibawanya ke sebuah tanah kosong di “dekat pohon tempatnya bertapa. Secara ajaib,

bekas tusukan keris “di tanah tersebut 'tibaitiba' keluar 'api yang menyembur.

Selanjutnya, dia juga menancapkan kerisnya ke tanah di sebelah baratnya dan secara

ajaib juga dari bekas tancapan kerisnya keluarlah air yang menyembur ke atas. Semua

itu bisa terjadi karena kesaktian empu.

Dengan sumber api dam air yang terdapat di tempat tersebut, Empu Supa mulai

membuat keris pusaka pesanan Raja Majapahit. Akhirnya tepat dua bulan keris pusaka

BADAN BaHasa

BAN Oig

taka

tersebut selesai dikerjakan. Sebuah keris pusaka yang sangat sakti dan bentuknya

sangat indah sehingga dapat menaikkan derajat dan wibawa raja yang memilikinya.

Beberapa hari kemudian utusan dari Majapahit datang ke Padepokan Empu Supa untuk

mengambilnya.

"Kami datang, Empu Supa,” kata Patih setelah sampai di depan padepokan.

”Mari...mari...silakan masuk, Patih. Hamba sudah menunggu sejak pagi,” kata

Empu Supa sambil mempersilakan para tamunya masuk.

"Bagaimana, Empu, apakah pusakanya sudah jadi? Paduka sudah tidak sabar

untuk melihat.”

”Sudah...sudah...sesuai yang hamba janjikan. Sejak pagi tadi sudah hamba

siapkan. Sebentar, hamba ambilkan,” kata Empu Supa.

Empu Supa meninggalkan ruang pendopo padepokan itu menuju ruang dalam

meninggalkan Patih dan rombongan dari kerajaan Majapahit yang terlihat tidak sabar

ingin segera melihat hasil karya Empu Supa: Selagi Empu Supa mengambil pusakanya,

mereka membicarakan kehebatan Mpu Supa dalam pembuatan pusaka dan senjata. Di

kalangan prajurit Majapahit, nama Empu Supa memang sudah tidak asing. Tidak lama

kemudian Empu Supa terlihat keluar dari ruangan dalam. Seketika rombongan

Majapahit itu diam dan melihat ke arah Empu Supa yang membawa sebuah wadah

memanjang terbungkus kain putih.

”Patih, inilah keris pusaka yang hamba buat. Mudah-mudahan tidak

mengecewakan Paduka,” kata Empu Supa seraya membuka kain putih pembungkus

benda yang dibawanya itu. Semua mata tertuju ke arah benda yang dipegang Empu

Supa. Setelah kain terbuka, tampak sebuah sarung keris dengan keris di dalamnya. Dari

sarung dan gagang keris yang tampak dapat dibayangkan betapa indahnya keris yang

tersimpan di dalam sarung itu. Pelan-pelan Empu Supa menarik keris itu keluar.

Seketika cahaya putih memancar tajam menyilaukan mata orang-orang di sekeliling

Empu Supa hingga mereka menutupinya dengan telapak tangan. Empu Supa

memperlihatkan keris itu dengan cara memeganggangnya vertikal sehingga terlihat

jelas keelokan lekuk dan ukiran serta ketajaman kedua sisinya. Patih dan

rombongannya sangat terpesona dan kagum hingga tidak dapat berkata-kata.

"Inilah keris pesanan Paduka Yang Mulia,” kata Empu Supa.

”"OoooHhhh, sungguh luar biasa, Empu. Luar biasa. Tidak salah Paduka

memilihmu, Empu Supa,” kata Patih sambil memperhatikan keris di tangan Empu Supa

dengan kagum.

"Semoga Paduka menyukainya,” kata Empu Supa.

"Tentu...tentu...tentu Paduka akan menyukaianya. Bagaimana Empu, apakah saya

sudah dapat membawa pusaka ini ke kota raja?” tanya Patih tidak sabar.

”Ah...iya...iya, silakan Patih. Jika masih ada yang kurang, hamba siap,” kata Empu

Supa sambil memasukkan kembali keris itu ke sarungnya lalu membungkusnya

kembali dengan kain putih.

”Ini....,” kata Empu Supa sambil menyerahkan pusaka itu kepada patih.

Setelah menerima keris dan mengucapkan terima kasih, patih dan rombongannya.

segera berpamitan untuk kembali ke Majapahit. Sepanjang jalan mereka tak henti-

hentinya membicarakan kehebatan Empu Supa dan keris buatannya.

181

Setelah sampai di istana, patih dan rombongannya. segera, menghadap rajaidan

menyerahkan pusaka pesanannya. Konon, raja,sangat. puas dengan keris pusaka iyang

dibuat oleh Empu Supa. Raja merasa bangga dan,gembira. karena. mendapat: kekuatan:

yang berlipat-lipat setelah memiliki keris 'pusaka tersebut. Keris tersebut.selahu,

dibawanya saat menaklukkan daerah-daerah, Jain,.. Sebagai Jasa: terima ikasihu'"'raja

mengirimkan hadiah yang sangat banyak untuk, padepokan, dany,warga:-di, sekitarnya.

Warga di sekitar padepokan ikut merasakan berkah.dari kehebatan EmpprSupa: 2 uye!

Oleh karena itu, untuk mengingat lokasi, tempat. pembugtan “keris, pusakaioleh

Empu Supa, warga setempat menyebutnya dengan Kayangan Api yang-artinyajapi,,

yang tidak kunjung padam yang berasal dari, langit.atau kayangan., Sementara" itu,

lokasi atau tempat sumber air yang senantiasg bergejolak diberi mama Kalam, Nang

yang artinya kolam yang airnya senantiasa bergolak atau mendidih,

ib asnlod Jetis

Td 4

dis

BUBK Gini

pu nga

Her eter

2 lsudua ds at

jno2 nendn

angsa neb $

UM gneY sdah

1 samid 151

tidensa die:

Tata Laras

Airnya Tie

ditag ais usg

Kas Tidesra uan ugm stel and"

ar 2inod sraimongra hi

ad den ati ae

phe baron nsatermoidenseroyri

aro ine

Bgn

182


Story DNA

Moral

Exceptional skill and spiritual dedication can create objects of immense power and leave a lasting legacy.

Plot Summary

During the height of the Majapahit Kingdom, the King commissions the legendary Mpu Supa to forge an unconquerable keris. Mpu Supa undertakes a month of spiritual retreat, during which he miraculously creates a geyser of fire (Kayangan Api) and a geyser of water (Kolam Nglang) from the ground. Using these mystical elements, he crafts a keris of such immense power and beauty that it radiates light, leaving the King's envoy awestruck. The King is delighted with the keris, which amplifies his power, and rewards Mpu Supa, while the sites of the miraculous springs become legendary landmarks.

Themes

craftsmanship and masterypower and authorityspiritual devotionlegacy and remembrance

Emotional Arc

anticipation to awe to satisfaction

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of cultural terms, emphasis on spiritual practices

Narrative Elements

Conflict: person vs self (Mpu Supa's spiritual challenge) and person vs challenge (creating an unparalleled keris)
Ending: moral justice
Magic: spiritual power of Mpu Supa, keris as a source of power and authority, miraculous eruption of fire and water from the ground
the keris (symbol of power, authority, spiritual might)Kayangan Api (symbol of divine fire, Mpu's power, origin of a natural phenomenon)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story is set during the historical Majapahit era, but the events surrounding Mpu Supa and the creation of Kayangan Api are legendary, serving as an origin myth for a specific geographical feature in Bojonegoro, East Java.

Plot Beats (14)

  1. The Majapahit Kingdom is at its peak, known for its power and the ambition of its leaders to unite Nusantara.
  2. The kingdom's strength is attributed to its Mpu, who craft powerful pusaka (heirloom weapons) like keris, which are symbols of power and spiritual might.
  3. Mpu Supa (also known as Mbah Kriyo Kusumo or Mbah Pandhe), a highly respected and powerful Mpu, lives in a secluded hermitage in Bojonegoro.
  4. A delegation from the Majapahit King, led by the Patih, visits Mpu Supa to commission a uniquely powerful and unconquerable keris.
  5. Mpu Supa agrees, requesting two months: one for spiritual retreat (tapa) and one for the actual forging.
  6. Mpu Supa undertakes a month-long tapa, gaining immense spiritual power.
  7. After his tapa, Mpu Supa demonstrates his power by plunging a keris into the ground, causing a geyser of fire (Kayangan Api) to erupt, and then into another spot, causing a geyser of water (Kolam Nglang) to erupt.
  8. Using these miraculous sources of fire and water, Mpu Supa crafts the keris within the allotted time.
  9. The Patih returns to Mpu Supa's hermitage to retrieve the keris.
  10. Mpu Supa unveils the keris, which radiates a blinding white light, stunning the Patih and his entourage with its beauty and power.
  11. The Patih expresses his awe and takes the keris back to the King.
  12. The King is extremely satisfied with the keris, feeling his power greatly enhanced by it, and uses it in his conquests.
  13. As a token of gratitude, the King sends numerous gifts to Mpu Supa and the local community.
  14. The sites where Mpu Supa created the fire and water sources are named Kayangan Api (Heavenly Fire) and Kolam Nglang (Boiling Pond), becoming legendary places.

Characters

👤

Empu Supa

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a skilled and revered craftsman.

Attire: None explicitly mentioned, but likely simple, traditional attire suitable for a craftsman and hermit.

Holding a newly forged, glowing keris.

Skilled, dedicated, spiritual, humble, powerful (sakti).

👤

Patih

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Formal attire befitting a high-ranking official of the Majapahit kingdom.

A high-ranking Majapahit official, dressed in formal attire, receiving a keris.

Respectful, eager, impressed, loyal.

👤

Raja Majapahit

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Royal regalia of the Majapahit kingdom.

A powerful king, adorned in royal attire, holding a newly acquired, revered keris.

Powerful, demanding, appreciative, proud.

Locations

Padepokan Empu Supa (in the deep forest)

transitional Implied to be temperate, suitable for living and working in a forest setting.

A secluded hermitage located deep within a protected forest in the Bojonegoro region, where Empu Supa lives and practices his craft. It includes a pendopo (open pavilion) and inner rooms.

Mood: Secluded, spiritual, industrious, a place of great skill and power.

Empu Supa receives the king's order for a powerful kris, and later presents the finished kris to the Patih here.

deep forest secluded hermitage pendopo (open pavilion) inner rooms

Empty land near Empu Supa's meditation tree

outdoor Varies, but the ground is dry enough for a kris to be plunged into it.

A barren patch of ground located close to a tree where Empu Supa meditated. Miraculously, fire and water spring from the ground here.

Mood: Mystical, miraculous, a source of raw elemental power.

Empu Supa, after his meditation, plunges his kris into the ground, causing a perpetual fire (Kayangan Api) and a constantly boiling pool of water (Kolam Nang) to appear, which he uses to forge the king's kris.

empty land meditation tree fire (Kayangan Api) springing from the ground water (Kolam Nang) springing from the ground

Majapahit Royal Palace

indoor Implied to be stable indoor conditions.

The grand residence of the Majapahit king, where the Patih delivers the newly forged kris.

Mood: Regal, powerful, a center of authority and prestige.

The Patih delivers the kris to the king, who is immensely pleased and feels his power multiplied.

royal chambers throne room (implied)