Menu

Kayangan Api

by Balai Bahasa Surabaya

Kayangan Api

The Glowing Dagger

CEFR A1 Age 5 312 words 2 min Canon 100/100

Once upon a time, a strong kingdom stood. It was called Majapahit. The kingdom was big and strong. It had many people and much land.

The kingdom had special makers. They made magic tools for the king. These tools were very special and powerful.

One maker was named Mpu Supa. He lived alone in a quiet forest. He was very wise and very skilled.

One day, the king's helper came. He visited Mpu Supa's small home. The helper had a message from the king.

"The king wants a special dagger," he said. "It must be very strong and pretty." "Can you make it, Mpu Supa?"

Mpu Supa agreed to make it. He asked for some time to get ready. He needed quiet time to practice and think.

For many days, Mpu Supa practiced. He sat still and thought very hard. This gave him special skill and power.

After his practice, he showed his power. He pushed a dagger into the ground. Fire burst up from the earth!

He pushed the dagger into a new spot. Then, water burst up from the ground! This was magic fire and water.

With the magic fire and water, he worked. He made the special dagger for the king. Soon, the pretty dagger was done.

The helper came back to get it. Mpu Supa showed him the dagger. It shone with a bright, pretty light.

The helper was very amazed. He took the dagger to the king. The king was very happy with it.

The king felt strong and proud. He sent many gifts to Mpu Supa. He sent gifts to the village too.

The magic fire place was Kayangan Api. It means the fire from the sky. The water place was named Kolam Nglang. It means the boiling pool.

Mpu Supa worked hard and believed. He made something great. Hard work and faith can make magic.

Original Story 1385 words · 7 min read

Kayangan Api ada zaman dahulu, ada kerajaan besar bernama Majapahit. Kerajaan atu mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gadjah Mada yang terkenal dengan keinginannya menyatukan Nusantara melalui Sumpah Palapa. Pada masa itu, pengaruh kekuasaan Majapahit begitu luas sampai ke luar Pulau Jawa, bahkan ke luar Kepulauan Nusantara, Angkatan perangnya sangat kuat sehingga dengan mudah dapat menaklukkan kerajaan- kerajaan kecil di Nusantara. Kebesaran dan kekuatam kerajaan Majapahit tidak terlepas dari dukungan para Mpu pembuat benda pusaka dan peralatan-peralatan perang. Para Mpu mendukung penyatuan Nusantara itu dengan cara membuat dan menciptakan senjata-senjata pusaka, seperti keris dan tombak. Meskipun demikian, keris yang dibuat empu bukan sekadar untuk tujuan perang, lebih dari itu adalah sebagai simbol kewibawaan dan kekuasaan raja pemegangnya sekaligus sebagai sumber kekuatan dan kesaktiannya. Kerajaan Majapahit memiliki banyak sekali empu pembuat keris pusaka yang tersebar di seluruh Pulau Jawa. Salah satunya berada di sebuah padepokan terpencil di tengah hutan jau yang masuk wilayah Bojonegoro. Di tempat itulah tinggal salah satu erapu pembuat keris kepercayaan kerajaan Majapahit, yaitu Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe. Empu Supa dikenal sebagai pembuat keris yang sangat sakti sehingga tidak heran raja-raja dan petinggi kerajaan Majapahit memercayakan pembuatan kerisnya kepadanya. Selain membuat keris pusaka, tombak, dan cundrik, Empu Supa juga membuat alat-alat pertanian. Konon pada suatu hari datang utusan dari kerajaan Majapahit ke padepokan Desa Sendangharjo. Rombongan tersebut hendak menemui Empu Supa di padepokannya yang berada di tengah hutan lindung. Di padepokan itulah Empu Supa sering melakukan kegiatan bertapa dan lelaku lainnya sehingga dikenal sebagai empu yang sakti. Maksud kedatangan rombongan kerajaan Majapahit itu adalah membawa pesan Raja Majapahit agar dibuatkan sebuah keris pusaka yang sangat sakti sehingga dengan keris itu raja bisa menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya. "Silakan duduk, Patih,” kata Empu Supa mempersilakan patih kerajaan Majapahit "Ada apa gerangan Patih kemari membawa rombongan. Adakah Paduka Yang Mulia menginginkan kens pusaka hamba?” tanya Empu Supa menebak. Empu Supa sudah biasa menerima pesanan pusaka dari kerajaan, tetapi biasanya bukan patih yang datang ke padepokannya. Jika seorang patih yang diutus, tentu pesanan itu datang langsung dan raja. "Benar, empu Supa. Yang Mulia mgin dibuatkan keris pusaka yang sakti. Apakah Empu bisa membuatkannya?” tanya patih setelah duduk. “Kepercayaan Yang Mulia merupakan kehormatan besar untuk hamba. Hamba tidak akan mengecewakan Paduka” 179 "Yang Mulia sudah tahu kehebatan pusaka-pusaka buatan Empu. Paduka juga tahu jasa Empu dalam menyediakan persenjataan untuk para 'prajurit Majapahit, Itulah sebabnya, paduka memercayakan pembuatan pusakanya kepada Empu.” "Mohon dihaturkan rasa terima kasih hamba kepada Yang Mulia. Apakah Paduka memberikan petunjuk seperti apa pusaka yang harus hamba buat?” "Tidak...tidak ada yang khusus. Paduka hanya minta dibuatkan pusaka yang sangat sakti, yang tidak terkalahkan, dan tentu saja belum ada yang memiliki pusaka seperti itu.” ”Baik...baik...meskipun tidak mudah, keinginan Paduka Yang Mulia akan hamba wujudkan. Hamba akan mengerahkan segenap kemampuan hamba anak memenuhi keinginan Yang Mulia.” "Berarti kau sariggup, Empu Supa?" ”Hamba siap. Tapi hamba mohon diberi waktu yang cukup.” "Apa maksudmu, Empu?” 4 "Mohon disampaikan kepada Paduka Yang Mulia 'agar hamba diberi waktu dua bulan untuk menyelesaikannya. Hamiba ingin mempersiapkannya dengan baik agar pusaka yang akan hamba buat mariti sesuai dengan keinginan Paduka. Hamba tidak bisa membuatnya secara tergesa-gesa.” ”Oh, itu rupanya. Baiklah. Saya kira Paduka tidak akan keberatan. Nanti saya sampaikan permintaarimu itu kepada Paduka." ”Terima kasih. Setelah dua bulan dari waktu sekarang, Patih dapat mengambilnya.” "Baiklah. Kalau tidak ai yang akan kau sampaikan lagi, saya akan kembali ke kota raja. Masih banyak pekerjaan yang harus saya'selesaikan.” "Hamba rasa tidak ada lagi. Hamba- akan segera nidropietelapikan diri untuk melaksanakan tugas Paduka.” -: t $ "Baik, kami pamit pulang Empu.” Rombongan utusan 'kerajaan Majapahit begera meninggalkan pala okeh Dalam waktu sekejap Empu Supa sudah: mempersiapkan segala' sesuatunya untuk membuat keris pusaka pesanan raja. Dia' berencana bertapa selama sebulan dan sebulan sisanya untuk membuat keris. Maksud lelaku tapa tersebut adalah agar dia'diberi kekuatan dan kemudahan dalam menyelesaikan pembuatari kerisnya. Ritual 'tapa adalah kegiatan yang selalu dilakukan sebelum memulai pembuatan keris pusaka: Apalagi, pusaka yang diminta raja bukan pusaka Sepbaganjpan Betapa Pang! Sea perlu Derpan yang lebih baik. Selama sebulan penuh. melakukan tepi brata, Epi Supa serasa memperoleh kekuatan batin untuk mulai mengerjakan "pesanan keris pusaka tersebut. Akhirnya setelah menyelesaikan lelaku tapanyi, Empu Supa berusaha menancapkan keris yang dibawanya ke sebuah tanah kosong di “dekat pohon tempatnya bertapa. Secara ajaib, bekas tusukan keris “di tanah tersebut 'tibaitiba' keluar 'api yang menyembur. Selanjutnya, dia juga menancapkan kerisnya ke tanah di sebelah baratnya dan secara ajaib juga dari bekas tancapan kerisnya keluarlah air yang menyembur ke atas. Semua itu bisa terjadi karena kesaktian empu. Dengan sumber api dam air yang terdapat di tempat tersebut, Empu Supa mulai membuat keris pusaka pesanan Raja Majapahit. Akhirnya tepat dua bulan keris pusaka BADAN BaHasa BAN Oig taka tersebut selesai dikerjakan. Sebuah keris pusaka yang sangat sakti dan bentuknya sangat indah sehingga dapat menaikkan derajat dan wibawa raja yang memilikinya. Beberapa hari kemudian utusan dari Majapahit datang ke Padepokan Empu Supa untuk mengambilnya. "Kami datang, Empu Supa,” kata Patih setelah sampai di depan padepokan. ”Mari...mari...silakan masuk, Patih. Hamba sudah menunggu sejak pagi,” kata Empu Supa sambil mempersilakan para tamunya masuk. "Bagaimana, Empu, apakah pusakanya sudah jadi? Paduka sudah tidak sabar untuk melihat.” ”Sudah...sudah...sesuai yang hamba janjikan. Sejak pagi tadi sudah hamba siapkan. Sebentar, hamba ambilkan,” kata Empu Supa. Empu Supa meninggalkan ruang pendopo padepokan itu menuju ruang dalam meninggalkan Patih dan rombongan dari kerajaan Majapahit yang terlihat tidak sabar ingin segera melihat hasil karya Empu Supa: Selagi Empu Supa mengambil pusakanya, mereka membicarakan kehebatan Mpu Supa dalam pembuatan pusaka dan senjata. Di kalangan prajurit Majapahit, nama Empu Supa memang sudah tidak asing. Tidak lama kemudian Empu Supa terlihat keluar dari ruangan dalam. Seketika rombongan Majapahit itu diam dan melihat ke arah Empu Supa yang membawa sebuah wadah memanjang terbungkus kain putih. ”Patih, inilah keris pusaka yang hamba buat. Mudah-mudahan tidak mengecewakan Paduka,” kata Empu Supa seraya membuka kain putih pembungkus benda yang dibawanya itu. Semua mata tertuju ke arah benda yang dipegang Empu Supa. Setelah kain terbuka, tampak sebuah sarung keris dengan keris di dalamnya. Dari sarung dan gagang keris yang tampak dapat dibayangkan betapa indahnya keris yang tersimpan di dalam sarung itu. Pelan-pelan Empu Supa menarik keris itu keluar. Seketika cahaya putih memancar tajam menyilaukan mata orang-orang di sekeliling Empu Supa hingga mereka menutupinya dengan telapak tangan. Empu Supa memperlihatkan keris itu dengan cara memeganggangnya vertikal sehingga terlihat jelas keelokan lekuk dan ukiran serta ketajaman kedua sisinya. Patih dan rombongannya sangat terpesona dan kagum hingga tidak dapat berkata-kata. "Inilah keris pesanan Paduka Yang Mulia,” kata Empu Supa. ”"OoooHhhh, sungguh luar biasa, Empu. Luar biasa. Tidak salah Paduka memilihmu, Empu Supa,” kata Patih sambil memperhatikan keris di tangan Empu Supa dengan kagum. "Semoga Paduka menyukainya,” kata Empu Supa. "Tentu...tentu...tentu Paduka akan menyukaianya. Bagaimana Empu, apakah saya sudah dapat membawa pusaka ini ke kota raja?” tanya Patih tidak sabar. ”Ah...iya...iya, silakan Patih. Jika masih ada yang kurang, hamba siap,” kata Empu Supa sambil memasukkan kembali keris itu ke sarungnya lalu membungkusnya kembali dengan kain putih. ”Ini....,” kata Empu Supa sambil menyerahkan pusaka itu kepada patih. Setelah menerima keris dan mengucapkan terima kasih, patih dan rombongannya. segera berpamitan untuk kembali ke Majapahit. Sepanjang jalan mereka tak henti- hentinya membicarakan kehebatan Empu Supa dan keris buatannya. 181 Setelah sampai di istana, patih dan rombongannya. segera, menghadap rajaidan menyerahkan pusaka pesanannya. Konon, raja,sangat. puas dengan keris pusaka iyang dibuat oleh Empu Supa. Raja merasa bangga dan,gembira. karena. mendapat: kekuatan: yang berlipat-lipat setelah memiliki keris 'pusaka tersebut. Keris tersebut.selahu, dibawanya saat menaklukkan daerah-daerah, Jain,.. Sebagai Jasa: terima ikasihu'"'raja mengirimkan hadiah yang sangat banyak untuk, padepokan, dany,warga:-di, sekitarnya. Warga di sekitar padepokan ikut merasakan berkah.dari kehebatan EmpprSupa: 2 uye! Oleh karena itu, untuk mengingat lokasi, tempat. pembugtan “keris, pusakaioleh Empu Supa, warga setempat menyebutnya dengan Kayangan Api yang-artinyajapi,, yang tidak kunjung padam yang berasal dari, langit.atau kayangan., Sementara" itu, lokasi atau tempat sumber air yang senantiasg bergejolak diberi mama Kalam, Nang yang artinya kolam yang airnya senantiasa bergolak atau mendidih, ib asnlod Jetis Td 4 dis BUBK Gini pu nga Her eter 2 lsudua ds at jno2 nendn angsa neb $ UM gneY sdah 1 samid 151 tidensa die: Tata Laras Airnya Tie ditag ais usg Kas Tidesra uan ugm stel and" ar 2inod sraimongra hi ad den ati ae phe baron nsatermoidenseroyri aro ine Bgn 182

Moral of the Story

Exceptional skill and spiritual dedication can create objects of immense power and leave a lasting legacy.


Characters 3 characters

Empu Supa ★ protagonist

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a skilled and revered craftsman.

Attire: None explicitly mentioned, but likely simple, traditional attire suitable for a craftsman and hermit.

Skilled, dedicated, spiritual, humble, powerful (sakti).

Patih ◆ supporting

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Formal attire befitting a high-ranking official of the Majapahit kingdom.

Respectful, eager, impressed, loyal.

Raja Majapahit ○ minor

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Royal regalia of the Majapahit kingdom.

Powerful, demanding, appreciative, proud.

Locations 3 locations
Padepokan Empu Supa (in the deep forest)

Padepokan Empu Supa (in the deep forest)

transitional Implied to be temperate, suitable for living and working in a forest setting.

A secluded hermitage located deep within a protected forest in the Bojonegoro region, where Empu Supa lives and practices his craft. It includes a pendopo (open pavilion) and inner rooms.

Mood: Secluded, spiritual, industrious, a place of great skill and power.

Empu Supa receives the king's order for a powerful kris, and later presents the finished kris to the Patih here.

deep forestsecluded hermitagependopo (open pavilion)inner rooms
Empty land near Empu Supa's meditation tree

Empty land near Empu Supa's meditation tree

outdoor Varies, but the ground is dry enough for a kris to be plunged into it.

A barren patch of ground located close to a tree where Empu Supa meditated. Miraculously, fire and water spring from the ground here.

Mood: Mystical, miraculous, a source of raw elemental power.

Empu Supa, after his meditation, plunges his kris into the ground, causing a perpetual fire (Kayangan Api) and a constantly boiling pool of water (Kolam Nang) to appear, which he uses to forge the king's kris.

empty landmeditation treefire (Kayangan Api) springing from the groundwater (Kolam Nang) springing from the ground
Majapahit Royal Palace

Majapahit Royal Palace

indoor Implied to be stable indoor conditions.

The grand residence of the Majapahit king, where the Patih delivers the newly forged kris.

Mood: Regal, powerful, a center of authority and prestige.

The Patih delivers the kris to the king, who is immensely pleased and feels his power multiplied.

royal chambersthrone room (implied)

Story DNA legend · solemn

Moral

Exceptional skill and spiritual dedication can create objects of immense power and leave a lasting legacy.

Plot Summary

During the height of the Majapahit Kingdom, the King commissions the legendary Mpu Supa to forge an unconquerable keris. Mpu Supa undertakes a month of spiritual retreat, during which he miraculously creates a geyser of fire (Kayangan Api) and a geyser of water (Kolam Nglang) from the ground. Using these mystical elements, he crafts a keris of such immense power and beauty that it radiates light, leaving the King's envoy awestruck. The King is delighted with the keris, which amplifies his power, and rewards Mpu Supa, while the sites of the miraculous springs become legendary landmarks.

Themes

craftsmanship and masterypower and authorityspiritual devotionlegacy and remembrance

Emotional Arc

anticipation to awe to satisfaction

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of cultural terms, emphasis on spiritual practices

Narrative Elements

Conflict: person vs self (Mpu Supa's spiritual challenge) and person vs challenge (creating an unparalleled keris)
Ending: moral justice
Magic: spiritual power of Mpu Supa, keris as a source of power and authority, miraculous eruption of fire and water from the ground
the keris (symbol of power, authority, spiritual might)Kayangan Api (symbol of divine fire, Mpu's power, origin of a natural phenomenon)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story is set during the historical Majapahit era, but the events surrounding Mpu Supa and the creation of Kayangan Api are legendary, serving as an origin myth for a specific geographical feature in Bojonegoro, East Java.

Plot Beats (14)

  1. The Majapahit Kingdom is at its peak, known for its power and the ambition of its leaders to unite Nusantara.
  2. The kingdom's strength is attributed to its Mpu, who craft powerful pusaka (heirloom weapons) like keris, which are symbols of power and spiritual might.
  3. Mpu Supa (also known as Mbah Kriyo Kusumo or Mbah Pandhe), a highly respected and powerful Mpu, lives in a secluded hermitage in Bojonegoro.
  4. A delegation from the Majapahit King, led by the Patih, visits Mpu Supa to commission a uniquely powerful and unconquerable keris.
  5. Mpu Supa agrees, requesting two months: one for spiritual retreat (tapa) and one for the actual forging.
  6. Mpu Supa undertakes a month-long tapa, gaining immense spiritual power.
  7. After his tapa, Mpu Supa demonstrates his power by plunging a keris into the ground, causing a geyser of fire (Kayangan Api) to erupt, and then into another spot, causing a geyser of water (Kolam Nglang) to erupt.
  8. Using these miraculous sources of fire and water, Mpu Supa crafts the keris within the allotted time.
  9. The Patih returns to Mpu Supa's hermitage to retrieve the keris.
  10. Mpu Supa unveils the keris, which radiates a blinding white light, stunning the Patih and his entourage with its beauty and power.
  11. The Patih expresses his awe and takes the keris back to the King.
  12. The King is extremely satisfied with the keris, feeling his power greatly enhanced by it, and uses it in his conquests.
  13. As a token of gratitude, the King sends numerous gifts to Mpu Supa and the local community.
  14. The sites where Mpu Supa created the fire and water sources are named Kayangan Api (Heavenly Fire) and Kolam Nglang (Boiling Pond), becoming legendary places.

Related Stories