Ki Ageng Kalak

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story solemn Ages 8-14 1339 words 6 min read
Cover: Ki Ageng Kalak
Original Story 1339 words · 6 min read

Ki Ageng Kalak

ada zaman dahulu, menurut cerita nenek moyang, Raja Majapahit yang bernama

Prabu Brawijaya memiliki dua orang istri, yaitu permaisuri dan selir. Hubungan antara

permaisuri dan selir itu sangat baik. Mereka saling mengasihi dan menyayangi seperti

kakak beradik atau layaknya saudara. Banyak persamaan di antara mereka yang membuat

hubungan-mereka semakin dekat. Bahkan, ketika hamil pun mereka hamil secara bersamaan.

Tanpa sepengetahuan Prabu Brawijaya, kedua istrinya itu telah bersepakat dan saling berjanji

bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki dan perempuan setelah dewasa akan dijodohkan.

Ternyata setelah lahir, anak keduanya benar-benar laki-laki dan perempuan.

Permaisuri dan selir membesarkan anak mereka secara bersama-sama sehingga

hubungan kedua anak mereka pun sangat dekat. Putra permaisuri laki-laki diberi nama

Prawirayuda, Wajahnya sangat tampan. Putri selir perempuan dan diberi nama Sekararum,

wajahnya sangat cantik. Meskipun permaisuri dan selir tidak pernah menceritakan perjanjian

perjodohan terhadap anak-anaknya, kedua anak itu ternyata menunjukkan kedekatan

hubungan yang istimewa. Setelah menginjak dewasa, kedekatan hubungan mereka sebagai

kekasih, bukan sebagai saudara terlihat semakin jelas. Apalagi, permaisuri dan selir tidak

mencegahnya, bahkan senang karena tanpa mereka jodohkan pun ternyata sudah saling

menyukai. Ketika “usianya sudah cukup untuk menikah, mereka pun menghadap

ayahandanya, Prabu Wijaya.

“Apa? Nanda Prawirayuda, apa maksudmu?” tanya Prabu Brawijaya terkejut saat

Prawirayuda dan Sekararum menghadap untuk mengutarakan maksudnya.

“Ayahanda. Ananda mohon izin dan restu untuk menikahi Dinda Sekararum,”" jawab

Prawirayuda sambil menunduk. "

“Tidak bisa! Tidak bisa! Nanda Sekararum itu adikmu! Tidak bisa!” jawab Prabu

Brawijaya dengan nada tinggi. Wajahnya merah padam menahan marah. Ia berdiri dari

singgasananya kemudian berjalan mondar-mandir sambil melihat kedua putranya yang duduk

bersimpuh menundukkan kepala. “Bagaimana mungkin ini terjadi.”

“Tapi...kami saling mencintai, Ayahanda. Kami mohon, restuilah hubungan kami,” pinta

Prawirayuda seraya menghaturkan sembah.

“Merestui pernikahan kalian? Tidak akan! Ayah tidak akan membiarkan ini terjadi.

Pernikahan kalian akan menjadi kesalahan besar. Tidak boleh ada perkawinan sedarah di

antara anak-anakku. Ayah tidak akan pernah merestui."

“Ayahanda, Ananda hanya mencintai Kanda Prawirayuda. Kalau tidak menikah dengan

Kakanda Prawirayuda, lebih baik Ananda tidak menikah saja,” kata Sekararum.

“Rupanya kalian memang telah bersepakat merongrong kewibawaan Ayah. Tapi,

bagaimanapun juga Ayah tidak akan mengizinkan kalian menikah. Ini benar-benar

keterlaluan dan memalukan. Di mana ibu kalian?"

“Kanjeng Ibu sudah mengizinkan dan merestui pemikahan kami.”

131

“Apaa? Permaisuri dan selirku merestui pernikahan kalian. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini

'idak bisa dibiarkan!” kata Prabu Brawijaya dengan nada marah. Ia kembali berjalan mondar-

mandir gelisah di dalam ruangan. Masih dengan nada tinggi, Prabu Brawijaya memerintah

pengawal yang berdiri di samping pintu ruang pertemuan itu. “Pengawal, panggil permaisuri

dan selir kemari. Cepat!,” kata Prabu Brawijaya.

Seorang pengawal berlari ke belakang ke arah keputren, tempat tinggal permaisuri dan

selir. Seorang pengawal lainnya tetap berdiri di samping pintu. Tidak lama kemudian

permaisuri dan selir berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang pertemuan. Setelah

menghaturkan sembah kepada Prabu Brawijaya, permaisuri memberanikan diri bertanya.

“Paduka memanggil kami, ada apa?”

“Bagaimana kalian mendidik putra-putriku? Bagaimana mungkin kalian biarkan anak-

anakku menikah di antara mereka sendiri? Bagaimana ini? Apakah kalian juga sengaja

merongrong kewibawaanku?”

“Ampun, Paduka. Sekali lagi mohon ampun. Sejak hamil kami memang sudah

bersepakat untuk menjodohkan anak kami jika lahir laki-laki dan perempuan.”

“Benar yang dikatakan Kanda Permaisuri. Ini juga salah hamba.”

“Sepakat? Kalian membuat perjanjian tanpa sepengetahuanku? Keterlaluan sekali. Ingat,

mereka adalah anak-anakku, darah dagingku. Tidak akan kubiarkan mereka menikah.”

“Mereka sudah saling mencintai, Kanda Prabu.”

“Harusnya tidak kaubiarkan ini terjadi, Permaisuri. Sekarang dengar baik-baik. Tidak

akan ada pernikahan di antara kalian. Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan.”

Meskipun memohon-mohon dengan sangat, Prabu Brawijaya tetap kukuh dalam

pendiriannya bahwa perkawinan sedarah itu tidak akan direstuinya. Karena tidak ada lagi

harapan untuk memperoleh restu Prabu Brawijaya, pasangan muda yang saling mencintai

tersebut akhirnya pergi secara diam-diam dari istana. Keduanya berjalan ke arah barat dengan

tujuan ke padepokan Ki Ageng Maja.

Di padepokan Ki Ageng Maja, mereka diterima dengan baik. Mereka dapat berkumpul

sebagai suami istri tanpa sepengetahuan Ki Ageng Maja. Kepada Ki Ageng Maja, mereka

mengaku kakak beradik putra Prabu Brawijaya. Sebagaimana penghuni padepokan yang lam,

Prawirayuda dan Sekararum juga disuruh oleh Ki Ageng Maja pergi ke hutan untuk

menanam jagung dan padi, serta mencari kayu bakar. Lama-kelamaan, Ki Ageng Maja tahu

bahwa kedua anak muda itu adalah putra Raja Majapahit. Setelah tahu, perlakuan Ki Ageng

Maja terhadap mereka pun berubah. Mereka tidak diberi tugas-tugas yang berat lagi.

Di Majapahit, Prabu Brawijaya mendengar kabar bahwa kedua putranya berada di

rumah Ki Ageng Maja. Karena rasa sayang dan rindu pada Prawirayuda dan Sekararum,

Prabu Brawijaya datang sendiri disertai beberapa pengawal ke padepokan Ki Ageng Maja.

Akan tetapi, kedua putranya ternyata sedang berada di hutan. Beberapa murid padepokan

diminta menyusul ke dalam hutan untuk memberi tahu kedatangan Prabu Brawijaya. Akan

tetapi, kedua putranya telanjur malu karena sudah melanggar perintah ayahnya. Mereka tidak

mau menemui Prabu Brawijaya, bahkan keduanya lari masuk ke dalam hutan. Prabu

Brawijaya sangat sedih memikirkan Prawirayuda dan Sekararum yang tidak mau

menemuinya lagi.

Sang Raja meneruskan pencariannya berdasarkan petunjuk murid padepokan itu. Dalam

pencarian itu, rombongan Prabu Brawijaya bertemu seseorang yang melihat bahwa kedua

putra Raja Majapahit itu berada di selatan. Mereka sedang bermain di pinggir sebuah sungai

132

di dalam hutan. Sang raja akhirnya menyusul, tetapi kedua putranya sudah tidak ada lagi.

Sampai di tempat itu sang prabu menduga bahwa kemungkinan anaknya mendapat bahaya.

Oleh karena itu, tempat itu sekarang diberi nama Ngiroboyo.

Sementara itu, dalam pelariannya, Prawirayuda dan Sekararum tiba di Hutan Kertati.

Tanpa mengenal lelah, keduanya bekerja keras membuka hutan itu untuk dijadikan

padepokan. Mereka merasa hutan itu cukup jauh dan terlindung sehingga kemungkinan

ayahnya tidak akan menemukan. Di samping itu, keduanya juga sudah lelah berlari. Kedua

putra raja itu akhirnya membuka padepokan di Hutan Kertati. Mereka mendirikan rumah dan

membuka sawah ladang pertanian. Lama-kelamaan, banyak orang yang ikut bermukim dan

bertani di Hutan Kertati hingga menjadi desa yang cukup ramai.

Di daerah lain, nun di tempat yang bernama daerah Tembayat (daerah kekuasan

Yogyakarta), Ki Ageng Tembayat memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.

Anak tersebut kemudian disuruh belajar derep (memetik padi) di Hutan Kertati. Melihat

kecantikan putn Ki Ageng Tembayat, Prawirayuda pun jatuh cinta. Meskipun sudah memiliki

istri Sekararum, Prawirayuda tetap tergoda untuk menikahi putri Ki Ageng Tembayat.

Prawirayuda kemudian pergi ke Tembayat menemui Ki Ageng Tembayat, meminta izin dan

melamar putrinya. Ki Ageng Tembayat, memperbolehkan tetapi dengan syarat Prawirayuda

harus masuk Islam. Prawirayuda menyanggupi persyaratan Ki Ageng Tembayat sehingga

pemikahan pun dilaksanakan.

Sekararum sangat malu dan kecewa dengan keputusan Prawirayuda menikahi putri Ki

Ageng Tembayat. Ta merasa dikhianati karena pengorbanannya menentang ayahnya dan pergi

meninggalkan istana menjadi sia-sia. Dengan diam-diam, Sekararum pergi ke arah timur

hingga menemukan sebuah sungai, Di pinggir sungai itu ia kebingungan, kalau meneruskan

berjalan ke barat akan bertemu dengan suaminya, sedangkan jika ke timur akan bertemu

dengan ayahnya. Oleh karena itu, tempat tersebut diberi nama Maron, yang berarti mendua.

Putri Sekararum akhirnya pergi ke gua yang tidak jauh dari sungai itu. Ia tinggal bertapa di

tempat itu.

Setelah menikahi putri Ki Ageng Tembayat, Prawirayuda kembali ke Hutan Kertati. Ia

mendapat julukan Ki Ageng Kalak. Kabar bahwa Prawirayuda telah menetap di Hutan

Kertati pun sampai ke telinga Prabu Brawijaya. Karena khawatir putranya itu akan melarikan

diri lagi jika disusul, Prabu Brawijaya memutuskan untuk mengirim alat-alat pertanian saja

guna membantu. Alat-alat seperti cangkul, sabit, dan linggis pun dikirimkan melalui Ki

Ageng Maja. Akan tetapi, titipan tadi ternyata tidak diberikan semuanya. Ki Ageng Maja

menguranginya cukup banyak hingga membuat Prawirayuda marah.

Karena Ki Ageng Maja tersinggung oleh ucapan Prawirayuda yang mengatakan bahwa

ia telah mengurangi kiriman Prabu Brawijaya, terjadilah pertempuran antara Ki Ageng Kalak

dan Ki Ageng Maja. Ki Ageng Maja yang sudah tua dengan mudah dapat dikalahkan oleh

Prawirayuda. Ki Ageng Maja kemudian melarikan diri ke arah barat. Ia diketahui meninggal

di daerah Jawa Tengah.

Prawirayuda atau Ki Ageng Kalak menetap di Hutan Kertati dengan putri Ki Ageng

Tembayat. Dari pernikahan itu, Ki Ageng Kalak dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika

meninggal, Ki Ageng Kalak dimakamkan di Nggedong Kalak. Setelah Ki Ageng Kalak

dikubur, pada suatu hari di makamnya itu tumbuh pohon pucang. Konon kabarnya, pohon itu

tumbuh dari pusarnya Ki Ageng Kalak sehingga pohon pucang itu dinamai Pucang Kalak.

133


Story DNA

Plot Summary

Two royal children, Prawirayuda and Sekararum, born from a queen and a concubine who secretly agreed to their union, fall in love and seek their father King Brawijaya's blessing. The king, enraged by the perceived incest, forbids the marriage, leading the couple to flee the palace. They establish a new life in the wilderness, but Prawirayuda later marries another woman, betraying Sekararum, who then retreats to a cave. Prawirayuda, now known as Ki Ageng Kalak, becomes a respected figure in his new settlement, eventually dying and leaving behind a legacy marked by a unique tree.

Themes

forbidden lovefilial disobedienceconsequences of choicesbetrayal

Emotional Arc

hope to disappointment to acceptance

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: etiological explanations for place names

Narrative Elements

Conflict: person vs person (father vs children, husband vs wife) and person vs society (forbidden love)
Ending: bittersweet
Magic: a tree growing from a buried person's navel
the pucang tree (representing Ki Ageng Kalak's legacy and connection to the land)the place names (Ngiroboyo, Maron) symbolizing key emotional or plot points

Cultural Context

Origin: Javanese (Indonesian)
Era: timeless fairy tale

The Majapahit Kingdom was a powerful thalassocratic empire in Southeast Asia, based on the island of Java, that existed from 1293 to around 1527. Prabu Brawijaya refers to a line of kings from Majapahit, often associated with the decline of the Hindu-Buddhist kingdom and the rise of Islam in Java. The story reflects cultural values and beliefs regarding lineage, marriage, and the transition of religious influence.

Plot Beats (14)

  1. Prabu Brawijaya's queen and concubine, close friends, secretly agree to marry their future children if they are born male and female.
  2. Their children, Prawirayuda (son of queen) and Sekararum (daughter of concubine), are born and grow up with a special bond, eventually falling in love.
  3. Prawirayuda and Sekararum ask Prabu Brawijaya for permission to marry, revealing their mothers' pact.
  4. Prabu Brawijaya is enraged, forbids the marriage as incest, and confronts his wives, who admit their agreement.
  5. Denied permission, Prawirayuda and Sekararum secretly leave the palace and go to Ki Ageng Maja's hermitage, living as a couple.
  6. Ki Ageng Maja initially treats them as ordinary residents but later discovers their royal identity and eases their duties.
  7. Prabu Brawijaya, missing his children, visits Ki Ageng Maja, but Prawirayuda and Sekararum, ashamed, flee into the forest.
  8. Prabu Brawijaya searches for them, passing a place he names Ngiroboyo (suggesting danger) after losing their trail.
  9. Prawirayuda and Sekararum establish a new settlement in Hutan Kertati, which grows into a bustling village.
  10. Prawirayuda, now known as Ki Ageng Kalak, falls in love with the daughter of Ki Ageng Tembayat and marries her after converting to Islam.
  11. Sekararum, feeling betrayed and shamed by Prawirayuda's second marriage, leaves him and retreats to a cave near a river, naming the place Maron (meaning 'divided').
  12. Prabu Brawijaya sends agricultural tools to Ki Ageng Kalak, but Ki Ageng Maja withholds some, angering Ki Ageng Kalak.
  13. Ki Ageng Kalak defeats Ki Ageng Maja in a fight, and Ki Ageng Maja flees and dies in Central Java.
  14. Ki Ageng Kalak lives with his new wife and has a son; upon his death, he is buried in Nggedong Kalak, and a 'pucang' tree grows from his navel, named Pucang Kalak.

Characters

👤

Prabu Brawijaya

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be of regal stature.

Attire: Regal attire befitting a Majapahit King, including a 'singgasana' (throne).

Sitting on his throne, face red with anger.

Authoritative, traditional, easily angered, loving (towards his children).

👤

Prawirayuda

human young adult male

Wajahnya sangat tampan (very handsome face).

Attire: Initially royal attire, later simple clothing befitting a padepokan resident or farmer, then a leader.

A handsome young man, later known as Ki Ageng Kalak, clearing a forest.

Loving, determined, hardworking, easily tempted, quick to anger.

👤

Sekararum

human young adult female

Wajahnya sangat cantik (very beautiful face).

Attire: Initially royal attire, later simple clothing befitting a padepokan resident, then a traveler.

A beautiful young woman, heartbroken, sitting by a river or in a cave.

Loving, determined, loyal, heartbroken, disappointed, reclusive.

👤

Permaisuri

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire befitting a Queen of Majapahit.

Standing beside the Selir, both pregnant, making a secret pact.

Affectionate, supportive, secretive (about the pact), submissive (to the King).

👤

Selir

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Regal attire befitting a concubine of Majapahit.

Standing beside the Permaisuri, both pregnant, making a secret pact.

Affectionate, supportive, secretive (about the pact), submissive (to the King).

👤

Ki Ageng Maja

human elderly male

Sudah tua (already old).

Attire: Simple clothing befitting a padepokan leader or hermit.

An old man, defeated in battle, fleeing to the west.

Hospitable, observant, somewhat dishonest (reducing the gifts), easily defeated.

👤

Ki Ageng Tembayat

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Traditional Javanese attire, possibly indicating a local leader.

A man setting a religious condition for his daughter's marriage.

Conditional, religious (imposing Islam as a condition).

👤

Putri Ki Ageng Tembayat

human young adult female

Sangat cantik (very beautiful).

Attire: Simple, traditional Javanese dress, possibly a 'derep' (rice picker) outfit.

A beautiful young woman harvesting rice in a field.

None explicitly mentioned, but her beauty is a key plot point.

Locations

Majapahit Palace

indoor implied warm, tropical climate

The royal residence of Prabu Brawijaya, where the king sits on his throne and holds meetings. It has a meeting room with a door where guards stand.

Mood: Formal, tense, authoritative, later filled with anger and despair.

Prawirayuda and Sekararum seek permission to marry, and Prabu Brawijaya furiously rejects them. The mothers are also confronted here.

throne meeting room door guards royal family

Ki Ageng Maja's Hermitage (Padepokan)

outdoor implied warm, tropical climate

A hermitage where Prawirayuda and Sekararum are initially welcomed. It is a place where students live and are sent to the forest for work.

Mood: Welcoming, peaceful, industrious, later becomes a place of reunion and sadness.

Prawirayuda and Sekararum find refuge here. Prabu Brawijaya later visits, hoping to reconcile with his children.

hermitage buildings students Ki Ageng Maja

Kertati Forest

outdoor implied warm, tropical climate

A dense forest, initially wild, that Prawirayuda and Sekararum clear to establish their own hermitage. It eventually becomes a bustling village with houses and agricultural fields.

Mood: Wild, remote, industrious, evolving into a thriving community.

Prawirayuda and Sekararum build a new life here, establishing a padepokan and later a village. Prawirayuda (Ki Ageng Kalak) settles here after his second marriage.

dense trees cleared land houses rice fields farms

Riverbank (Maron)

outdoor implied warm, tropical climate

A riverbank where Sekararum finds herself conflicted, unable to decide whether to go west towards her husband or east towards her father. The place is named Maron, meaning 'to be in two minds'.

Mood: Conflicted, desolate, reflective.

Sekararum, heartbroken by Prawirayuda's second marriage, arrives here and faces a profound dilemma about her future.

river riverbank

Cave near the River

indoor implied warm, tropical climate

A cave located not far from the Maron river, where Sekararum decides to live and meditate.

Mood: Secluded, spiritual, solitary, peaceful.

Sekararum retreats here to live a life of meditation after her disappointment.

cave entrance rock formations