Ki Ageng Kalak
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Ki Ageng Kalak
ada zaman dahulu, menurut cerita nenek moyang, Raja Majapahit yang bernama
Prabu Brawijaya memiliki dua orang istri, yaitu permaisuri dan selir. Hubungan antara
permaisuri dan selir itu sangat baik. Mereka saling mengasihi dan menyayangi seperti
kakak beradik atau layaknya saudara. Banyak persamaan di antara mereka yang membuat
hubungan-mereka semakin dekat. Bahkan, ketika hamil pun mereka hamil secara bersamaan.
Tanpa sepengetahuan Prabu Brawijaya, kedua istrinya itu telah bersepakat dan saling berjanji
bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki dan perempuan setelah dewasa akan dijodohkan.
Ternyata setelah lahir, anak keduanya benar-benar laki-laki dan perempuan.
Permaisuri dan selir membesarkan anak mereka secara bersama-sama sehingga
hubungan kedua anak mereka pun sangat dekat. Putra permaisuri laki-laki diberi nama
Prawirayuda, Wajahnya sangat tampan. Putri selir perempuan dan diberi nama Sekararum,
wajahnya sangat cantik. Meskipun permaisuri dan selir tidak pernah menceritakan perjanjian
perjodohan terhadap anak-anaknya, kedua anak itu ternyata menunjukkan kedekatan
hubungan yang istimewa. Setelah menginjak dewasa, kedekatan hubungan mereka sebagai
kekasih, bukan sebagai saudara terlihat semakin jelas. Apalagi, permaisuri dan selir tidak
mencegahnya, bahkan senang karena tanpa mereka jodohkan pun ternyata sudah saling
menyukai. Ketika “usianya sudah cukup untuk menikah, mereka pun menghadap
ayahandanya, Prabu Wijaya.
“Apa? Nanda Prawirayuda, apa maksudmu?” tanya Prabu Brawijaya terkejut saat
Prawirayuda dan Sekararum menghadap untuk mengutarakan maksudnya.
“Ayahanda. Ananda mohon izin dan restu untuk menikahi Dinda Sekararum,”" jawab
Prawirayuda sambil menunduk. "
“Tidak bisa! Tidak bisa! Nanda Sekararum itu adikmu! Tidak bisa!” jawab Prabu
Brawijaya dengan nada tinggi. Wajahnya merah padam menahan marah. Ia berdiri dari
singgasananya kemudian berjalan mondar-mandir sambil melihat kedua putranya yang duduk
bersimpuh menundukkan kepala. “Bagaimana mungkin ini terjadi.”
“Tapi...kami saling mencintai, Ayahanda. Kami mohon, restuilah hubungan kami,” pinta
Prawirayuda seraya menghaturkan sembah.
“Merestui pernikahan kalian? Tidak akan! Ayah tidak akan membiarkan ini terjadi.
Pernikahan kalian akan menjadi kesalahan besar. Tidak boleh ada perkawinan sedarah di
antara anak-anakku. Ayah tidak akan pernah merestui."
“Ayahanda, Ananda hanya mencintai Kanda Prawirayuda. Kalau tidak menikah dengan
Kakanda Prawirayuda, lebih baik Ananda tidak menikah saja,” kata Sekararum.
“Rupanya kalian memang telah bersepakat merongrong kewibawaan Ayah. Tapi,
bagaimanapun juga Ayah tidak akan mengizinkan kalian menikah. Ini benar-benar
keterlaluan dan memalukan. Di mana ibu kalian?"
“Kanjeng Ibu sudah mengizinkan dan merestui pemikahan kami.”
131
“Apaa? Permaisuri dan selirku merestui pernikahan kalian. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini
'idak bisa dibiarkan!” kata Prabu Brawijaya dengan nada marah. Ia kembali berjalan mondar-
mandir gelisah di dalam ruangan. Masih dengan nada tinggi, Prabu Brawijaya memerintah
pengawal yang berdiri di samping pintu ruang pertemuan itu. “Pengawal, panggil permaisuri
dan selir kemari. Cepat!,” kata Prabu Brawijaya.
Seorang pengawal berlari ke belakang ke arah keputren, tempat tinggal permaisuri dan
selir. Seorang pengawal lainnya tetap berdiri di samping pintu. Tidak lama kemudian
permaisuri dan selir berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang pertemuan. Setelah
menghaturkan sembah kepada Prabu Brawijaya, permaisuri memberanikan diri bertanya.
“Paduka memanggil kami, ada apa?”
“Bagaimana kalian mendidik putra-putriku? Bagaimana mungkin kalian biarkan anak-
anakku menikah di antara mereka sendiri? Bagaimana ini? Apakah kalian juga sengaja
merongrong kewibawaanku?”
“Ampun, Paduka. Sekali lagi mohon ampun. Sejak hamil kami memang sudah
bersepakat untuk menjodohkan anak kami jika lahir laki-laki dan perempuan.”
“Benar yang dikatakan Kanda Permaisuri. Ini juga salah hamba.”
“Sepakat? Kalian membuat perjanjian tanpa sepengetahuanku? Keterlaluan sekali. Ingat,
mereka adalah anak-anakku, darah dagingku. Tidak akan kubiarkan mereka menikah.”
“Mereka sudah saling mencintai, Kanda Prabu.”
“Harusnya tidak kaubiarkan ini terjadi, Permaisuri. Sekarang dengar baik-baik. Tidak
akan ada pernikahan di antara kalian. Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan.”
Meskipun memohon-mohon dengan sangat, Prabu Brawijaya tetap kukuh dalam
pendiriannya bahwa perkawinan sedarah itu tidak akan direstuinya. Karena tidak ada lagi
harapan untuk memperoleh restu Prabu Brawijaya, pasangan muda yang saling mencintai
tersebut akhirnya pergi secara diam-diam dari istana. Keduanya berjalan ke arah barat dengan
tujuan ke padepokan Ki Ageng Maja.
Di padepokan Ki Ageng Maja, mereka diterima dengan baik. Mereka dapat berkumpul
sebagai suami istri tanpa sepengetahuan Ki Ageng Maja. Kepada Ki Ageng Maja, mereka
mengaku kakak beradik putra Prabu Brawijaya. Sebagaimana penghuni padepokan yang lam,
Prawirayuda dan Sekararum juga disuruh oleh Ki Ageng Maja pergi ke hutan untuk
menanam jagung dan padi, serta mencari kayu bakar. Lama-kelamaan, Ki Ageng Maja tahu
bahwa kedua anak muda itu adalah putra Raja Majapahit. Setelah tahu, perlakuan Ki Ageng
Maja terhadap mereka pun berubah. Mereka tidak diberi tugas-tugas yang berat lagi.
Di Majapahit, Prabu Brawijaya mendengar kabar bahwa kedua putranya berada di
rumah Ki Ageng Maja. Karena rasa sayang dan rindu pada Prawirayuda dan Sekararum,
Prabu Brawijaya datang sendiri disertai beberapa pengawal ke padepokan Ki Ageng Maja.
Akan tetapi, kedua putranya ternyata sedang berada di hutan. Beberapa murid padepokan
diminta menyusul ke dalam hutan untuk memberi tahu kedatangan Prabu Brawijaya. Akan
tetapi, kedua putranya telanjur malu karena sudah melanggar perintah ayahnya. Mereka tidak
mau menemui Prabu Brawijaya, bahkan keduanya lari masuk ke dalam hutan. Prabu
Brawijaya sangat sedih memikirkan Prawirayuda dan Sekararum yang tidak mau
menemuinya lagi.
Sang Raja meneruskan pencariannya berdasarkan petunjuk murid padepokan itu. Dalam
pencarian itu, rombongan Prabu Brawijaya bertemu seseorang yang melihat bahwa kedua
putra Raja Majapahit itu berada di selatan. Mereka sedang bermain di pinggir sebuah sungai
132
di dalam hutan. Sang raja akhirnya menyusul, tetapi kedua putranya sudah tidak ada lagi.
Sampai di tempat itu sang prabu menduga bahwa kemungkinan anaknya mendapat bahaya.
Oleh karena itu, tempat itu sekarang diberi nama Ngiroboyo.
Sementara itu, dalam pelariannya, Prawirayuda dan Sekararum tiba di Hutan Kertati.
Tanpa mengenal lelah, keduanya bekerja keras membuka hutan itu untuk dijadikan
padepokan. Mereka merasa hutan itu cukup jauh dan terlindung sehingga kemungkinan
ayahnya tidak akan menemukan. Di samping itu, keduanya juga sudah lelah berlari. Kedua
putra raja itu akhirnya membuka padepokan di Hutan Kertati. Mereka mendirikan rumah dan
membuka sawah ladang pertanian. Lama-kelamaan, banyak orang yang ikut bermukim dan
bertani di Hutan Kertati hingga menjadi desa yang cukup ramai.
Di daerah lain, nun di tempat yang bernama daerah Tembayat (daerah kekuasan
Yogyakarta), Ki Ageng Tembayat memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.
Anak tersebut kemudian disuruh belajar derep (memetik padi) di Hutan Kertati. Melihat
kecantikan putn Ki Ageng Tembayat, Prawirayuda pun jatuh cinta. Meskipun sudah memiliki
istri Sekararum, Prawirayuda tetap tergoda untuk menikahi putri Ki Ageng Tembayat.
Prawirayuda kemudian pergi ke Tembayat menemui Ki Ageng Tembayat, meminta izin dan
melamar putrinya. Ki Ageng Tembayat, memperbolehkan tetapi dengan syarat Prawirayuda
harus masuk Islam. Prawirayuda menyanggupi persyaratan Ki Ageng Tembayat sehingga
pemikahan pun dilaksanakan.
Sekararum sangat malu dan kecewa dengan keputusan Prawirayuda menikahi putri Ki
Ageng Tembayat. Ta merasa dikhianati karena pengorbanannya menentang ayahnya dan pergi
meninggalkan istana menjadi sia-sia. Dengan diam-diam, Sekararum pergi ke arah timur
hingga menemukan sebuah sungai, Di pinggir sungai itu ia kebingungan, kalau meneruskan
berjalan ke barat akan bertemu dengan suaminya, sedangkan jika ke timur akan bertemu
dengan ayahnya. Oleh karena itu, tempat tersebut diberi nama Maron, yang berarti mendua.
Putri Sekararum akhirnya pergi ke gua yang tidak jauh dari sungai itu. Ia tinggal bertapa di
tempat itu.
Setelah menikahi putri Ki Ageng Tembayat, Prawirayuda kembali ke Hutan Kertati. Ia
mendapat julukan Ki Ageng Kalak. Kabar bahwa Prawirayuda telah menetap di Hutan
Kertati pun sampai ke telinga Prabu Brawijaya. Karena khawatir putranya itu akan melarikan
diri lagi jika disusul, Prabu Brawijaya memutuskan untuk mengirim alat-alat pertanian saja
guna membantu. Alat-alat seperti cangkul, sabit, dan linggis pun dikirimkan melalui Ki
Ageng Maja. Akan tetapi, titipan tadi ternyata tidak diberikan semuanya. Ki Ageng Maja
menguranginya cukup banyak hingga membuat Prawirayuda marah.
Karena Ki Ageng Maja tersinggung oleh ucapan Prawirayuda yang mengatakan bahwa
ia telah mengurangi kiriman Prabu Brawijaya, terjadilah pertempuran antara Ki Ageng Kalak
dan Ki Ageng Maja. Ki Ageng Maja yang sudah tua dengan mudah dapat dikalahkan oleh
Prawirayuda. Ki Ageng Maja kemudian melarikan diri ke arah barat. Ia diketahui meninggal
di daerah Jawa Tengah.
Prawirayuda atau Ki Ageng Kalak menetap di Hutan Kertati dengan putri Ki Ageng
Tembayat. Dari pernikahan itu, Ki Ageng Kalak dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika
meninggal, Ki Ageng Kalak dimakamkan di Nggedong Kalak. Setelah Ki Ageng Kalak
dikubur, pada suatu hari di makamnya itu tumbuh pohon pucang. Konon kabarnya, pohon itu
tumbuh dari pusarnya Ki Ageng Kalak sehingga pohon pucang itu dinamai Pucang Kalak.
133
Story DNA
Plot Summary
Two royal children, Prawirayuda and Sekararum, born from a queen and a concubine who secretly agreed to their union, fall in love and seek their father King Brawijaya's blessing. The king, enraged by the perceived incest, forbids the marriage, leading the couple to flee the palace. They establish a new life in the wilderness, but Prawirayuda later marries another woman, betraying Sekararum, who then retreats to a cave. Prawirayuda, now known as Ki Ageng Kalak, becomes a respected figure in his new settlement, eventually dying and leaving behind a legacy marked by a unique tree.
Themes
Emotional Arc
hope to disappointment to acceptance
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The Majapahit Kingdom was a powerful thalassocratic empire in Southeast Asia, based on the island of Java, that existed from 1293 to around 1527. Prabu Brawijaya refers to a line of kings from Majapahit, often associated with the decline of the Hindu-Buddhist kingdom and the rise of Islam in Java. The story reflects cultural values and beliefs regarding lineage, marriage, and the transition of religious influence.
Plot Beats (14)
- Prabu Brawijaya's queen and concubine, close friends, secretly agree to marry their future children if they are born male and female.
- Their children, Prawirayuda (son of queen) and Sekararum (daughter of concubine), are born and grow up with a special bond, eventually falling in love.
- Prawirayuda and Sekararum ask Prabu Brawijaya for permission to marry, revealing their mothers' pact.
- Prabu Brawijaya is enraged, forbids the marriage as incest, and confronts his wives, who admit their agreement.
- Denied permission, Prawirayuda and Sekararum secretly leave the palace and go to Ki Ageng Maja's hermitage, living as a couple.
- Ki Ageng Maja initially treats them as ordinary residents but later discovers their royal identity and eases their duties.
- Prabu Brawijaya, missing his children, visits Ki Ageng Maja, but Prawirayuda and Sekararum, ashamed, flee into the forest.
- Prabu Brawijaya searches for them, passing a place he names Ngiroboyo (suggesting danger) after losing their trail.
- Prawirayuda and Sekararum establish a new settlement in Hutan Kertati, which grows into a bustling village.
- Prawirayuda, now known as Ki Ageng Kalak, falls in love with the daughter of Ki Ageng Tembayat and marries her after converting to Islam.
- Sekararum, feeling betrayed and shamed by Prawirayuda's second marriage, leaves him and retreats to a cave near a river, naming the place Maron (meaning 'divided').
- Prabu Brawijaya sends agricultural tools to Ki Ageng Kalak, but Ki Ageng Maja withholds some, angering Ki Ageng Kalak.
- Ki Ageng Kalak defeats Ki Ageng Maja in a fight, and Ki Ageng Maja flees and dies in Central Java.
- Ki Ageng Kalak lives with his new wife and has a son; upon his death, he is buried in Nggedong Kalak, and a 'pucang' tree grows from his navel, named Pucang Kalak.
Characters
Prabu Brawijaya
None explicitly mentioned, but implied to be of regal stature.
Attire: Regal attire befitting a Majapahit King, including a 'singgasana' (throne).
Authoritative, traditional, easily angered, loving (towards his children).
Prawirayuda
Wajahnya sangat tampan (very handsome face).
Attire: Initially royal attire, later simple clothing befitting a padepokan resident or farmer, then a leader.
Loving, determined, hardworking, easily tempted, quick to anger.
Sekararum
Wajahnya sangat cantik (very beautiful face).
Attire: Initially royal attire, later simple clothing befitting a padepokan resident, then a traveler.
Loving, determined, loyal, heartbroken, disappointed, reclusive.
Permaisuri
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire befitting a Queen of Majapahit.
Affectionate, supportive, secretive (about the pact), submissive (to the King).
Selir
None explicitly mentioned.
Attire: Regal attire befitting a concubine of Majapahit.
Affectionate, supportive, secretive (about the pact), submissive (to the King).
Ki Ageng Maja
Sudah tua (already old).
Attire: Simple clothing befitting a padepokan leader or hermit.
Hospitable, observant, somewhat dishonest (reducing the gifts), easily defeated.
Ki Ageng Tembayat
None explicitly mentioned.
Attire: Traditional Javanese attire, possibly indicating a local leader.
Conditional, religious (imposing Islam as a condition).
Putri Ki Ageng Tembayat
Sangat cantik (very beautiful).
Attire: Simple, traditional Javanese dress, possibly a 'derep' (rice picker) outfit.
None explicitly mentioned, but her beauty is a key plot point.
Locations
Majapahit Palace
The royal residence of Prabu Brawijaya, where the king sits on his throne and holds meetings. It has a meeting room with a door where guards stand.
Mood: Formal, tense, authoritative, later filled with anger and despair.
Prawirayuda and Sekararum seek permission to marry, and Prabu Brawijaya furiously rejects them. The mothers are also confronted here.
Ki Ageng Maja's Hermitage (Padepokan)
A hermitage where Prawirayuda and Sekararum are initially welcomed. It is a place where students live and are sent to the forest for work.
Mood: Welcoming, peaceful, industrious, later becomes a place of reunion and sadness.
Prawirayuda and Sekararum find refuge here. Prabu Brawijaya later visits, hoping to reconcile with his children.
Kertati Forest
A dense forest, initially wild, that Prawirayuda and Sekararum clear to establish their own hermitage. It eventually becomes a bustling village with houses and agricultural fields.
Mood: Wild, remote, industrious, evolving into a thriving community.
Prawirayuda and Sekararum build a new life here, establishing a padepokan and later a village. Prawirayuda (Ki Ageng Kalak) settles here after his second marriage.
Riverbank (Maron)
A riverbank where Sekararum finds herself conflicted, unable to decide whether to go west towards her husband or east towards her father. The place is named Maron, meaning 'to be in two minds'.
Mood: Conflicted, desolate, reflective.
Sekararum, heartbroken by Prawirayuda's second marriage, arrives here and faces a profound dilemma about her future.
Cave near the River
A cave located not far from the Maron river, where Sekararum decides to live and meditate.
Mood: Secluded, spiritual, solitary, peaceful.
Sekararum retreats here to live a life of meditation after her disappointment.