Kiai Pacet

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale moral tale solemn Ages 8-14 1109 words 5 min read
Cover: Kiai Pacet
Original Story 1109 words · 5 min read

Kiai Pacet

ada zaman dahulu, di kerajaan Majapahit banyak berdiri padepokan atau perguruan.

Padepokan merupakan tempat belajar berbagai ilmu beladiri, kanoragan, dan

kebatinan. Salah satu padepokan yang ada di wilayah kerajaan Majapahit ketika itu

adalah Padepokan Bonorowo yang berada di Kabupaten Tulungagung. Padepokan Bonorowo

diasuh oleh seorang mahaguru yang sakti mandraguna yang bernama Kiai Pacet. Kiai Pacet

mengajarkan ilmu silat dan jayakawijayan, Ta mempunyai murid-murid pilihan di antaranya

Pangeran Kalang dari Tanggulangin, Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak, Menak Sopal

dari Kadipaten Trenggalek, Kiai Kasanbesari tetua dari Dukuh Tunggul, Kiai Singotaruno

dari Dukuh Plosokandang, Kiai Sendang Gumuling dari Desa Bono, dan Pangeran Lembu

Peteng putra Majapahit

Pada suatu hari, Kiai Pacet mengadakan pertemuan dengan murid-muridnya. Pada

pertemuan itu, selain memberi wejangan tentang berbagai ilmu silat dan kanuragan, Kiai

Pacet juga mengungkapkan bahwa di antara murid-muridnya ada yang mendirikan paguron,

tetapi sayangnya tidak memberitahukan hal itu kepada gurunya. Kiai Kasan Besari merasa

tertusuk perasaannya karena dirinyalah yang telah mendirikan paguron sebagaimana yang

dikatakan Kiai Pacet.

Dengan perasaan dongkol, Kiai Kasanbesari meninggalkan tempat pertemuan tanpa

pamit. Kepergian Kiai Kasanbesari yang tanpa pamit tersebut membuat Kiai Pacet tidak enak

hati. Oleh karena itu, ia menyuruh dua orang muridnya, yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran

Bedalem untuk menasihati Kiai Kasanbesari agar mau kembali ke Bonorowo untuk tetap

-menjadi murid Kiai Pacet. Kiai Pacet sengaja menunjuk Pangeran Kalang dan Pangeran

Bedalem untuk menyusul Kiai Kasanbesari karena tahu bahwa Pangeran Kalang dan

Pangeran Bedalem secara diam-diam telah menjadi murid Kiai Kasanbesari.

"Pangeran Kalang dan kau... .Pangeran Bedalem susullah Kiai Kasanbesari. Bujuk dia

agar kembali ke Bonorowo,” kata Kiai Pacet.

Kalang dan Pangeran Bedalem hampir bersamaan.

"Katakan bahwa aku tidak bermaksud menyindirnya...aku tidak ingin dia meninggalkan

”Apakah...tidak sebaiknya Kiai saja yang membujuk?”

"Tidak...tidak...aku percaya...pada kalian. Aku sendiri akan pergi..."

”Kalau demikian keputusan Kiai, kami mohon diri untuk menyusul Kiai Kasan Besari,”

kata Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem sambil mengundurkan diri keluar dari

padepokan.

Pergilah.”

Sada impian Balai ebi Hongrani MEA pe menga Ki Kamis Kiai

Pacet berpesan kepada murid-muridnya yang lain agar tetap di Bonorowo guna melanjutkan

145

pelajarannya. Sementara itu, Kiai Pacet akan melakukan semedi di dalam sebuah gua. Salah

seorang muridnya, yaitu Pangeran Lembu Peteng ditugaskan menunggu di luar gua.

Tidak lama berselang, Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem berhasil menyusul Kiai

Kasanbesari.

“Kiai, ..Kiai...tunggu. ..!” teriak Pangeran Bedalem setelah melihat Kiai Kasan Besari.

Kiai Kasan Besari membalikkan badan ke arah terdengarnya suara. "Ada apa kalian

menyusulku?" tanyanya.

“Kiai Pacet meminta Kiai kembali ke Bonorowo. Kiai bilang tidak bermaksud

menyindir Kiai?” kata Pangeran Bedalem. .,

”Ah..itu kan akal-akalan Kiai Pacet saja. Kiai Pacet memang sudah lama tidak

menyukaiku?" kata Kiai Kasan Besari. "Dia takut tersaingi kalau aku membuat paguron. Aku

benar-benar tersinggung dan sakit hati karena Kiai telah mempermalukan aku di depan

teman-teman seperguruan.”

“Saya tidak bermaksud mencampurai masalah Kiai dengan Kiai Pacet. Saya hanya

menyampaikan pesannya saja,” Pangeran Bedalem mengambil sikap tidak akan ikut campur

dalam masalah Kiai Kasanbesari dengan Kiai Pacet. Pangeran Bedalem malah berniat untuk

segera pulang ke Betak.

Beda halnya dengan Pangeran Kalang, dia malah memanas-manasi hati Kiai

Kasanbesari. Bahkan, Pangeran Kalang menyarankan agar Kiai Kasan Besari membalaskan

sakit hatinya terhadap Kiai Pacet.

"Memang, saya perhatikan, Kiai memang tidak menyukaimu, Kiai Kasanbesari?” kata

Pangeran Kalang. "Berkali-kali saya mendengar Kiai Pacet menjelek-jelekan Kiai di depan

murid-murid perguruan. Kiai melarang murid-murid padepokan berguru padamu, Kiai.”

”Benar...benar..Pangeran Kalang. Ah....rupanya ada juga yang mendengar. Saya kira ini

hanya perasaan saya saja. Hhhmmmm, rupanya benar,” kata Kiai Kasanbesari sambil

-angguk.

”Sebelum Kiai Pacet menghancurkan paguronmu, sebaiknya kau hancurkan dulu

padepokannya atau...atau....Kiai bunuh saja Kiai Pacet. Sebab, kalau Kiai Pacet masih

hidup...Kiai tidak akan dapat mengembangkan paguron,” kata Pangeran Kalang terus

memanas-manasi.

"Benar juga kata-katamu, Pangeran. Lebih baik kita habisi sekarang.”

Keduanya akhimya sepakat untuk membunuh Kiai Pacet yang kini tengah bertapa di

dalam sebuah gua. Kedua pendekar sakti itu kemudian pergi ke gua tempat Kiai Pacet

bertapa. Tanpa sepengetahuan Pangeran Lembu Peteng yang berjaga di luar gua, keduanya

melancarkan aksinya. Dua pendekar itu menerobos masuk ke dalam gua menyerang Kiai

Pacet. Di luar dugaan mereka, saat Kiai Pacet hendak diserang, tiba-tiba ia berubah menjadi

seekor singa dan siap menerkam dua tamu tak diundang tersebut. Saking kagetnya, Kiai

Kasanbesari dan Pangeran Kalang melompat mundur dan selanjutnya mengambil langkah

seribu. Dua murid durhaka yang mencoba membunuh gurunya itu lari tunggang-langgang.

Sesaat kemudian Kiai Pacet tampak berkelebat ke luar gua mengejar Kiai Kasanbesari

dan Pangeran Kalang disusul oleh Pangeran Lembu Peteng yang merasa telah kecolongan.

Setelah beberapa waktu lamanya dikejar, akhirnya Kiai Kasanbesari terkejar juga. Dalam

kondisi terjepit, Kiai Kasanbesari mengeluarkan kedigdayaannya. Sebuah biji kemiri

dilemparkan kehadapan Kiai Pacet. Seketika biji kemiri itu berubah menjadi seekor harimau

yang ganas. Kiai Pacet mengimbanginya dengan membanting bungkul gempaan yang

146

bersama Pangeran Lembu Peteng kembali ke padepokan untuk mengerahkan semua

Mmendiya gina Yeangkap Kai Kesanbesasi Han Pangeran Kalang,

Dalepokan ini Jengaii menditikan pagirda bera, tetapi juga bercak mebunmtiko kata Kiai

Pacet setelah murid-muridnya berkumpul di ruang latihan.

“Apa yang harus kita lakukan, Guru?” tanya seorang murid yang duduk paling depan.

“Pertarna-tama perlu kalian ketahui bahwa olah kanuragan yang kalian pelajari untuk

tujuan yang baik, seperti menolong sesarna, membela kaum yang lemah, dan menegakkan

kebenaran, bukan untuk menciptakan permusuhan,” Kiai Pacet berbicara sambil

memperhatikan wajah muridnya satu per satu. “Janganlah memendam kebencian dan durhaka

terhadap gurumu sendiri. Tidak ada guru yang akan dan ingin mencelakai muridnya. Akan

tetapi, jika ada murid yang berbuat tidak baik, kewajiban gurulah mengingatkannya.”

“Bagaimana dengan Kiai Kasanbesari?” tanya seorang murid sambil mengangkat

tangan.

"Perbuatan Kiai Kasanbesari tidak bisa dibiarkan. Dia tidak hanya akan mencoreng

nama padepokan ini, tetapi akan selalu membahayakan keberadaan padepokan ini. Itulah

ketemu dan membawanya kembali ke Bonorowo.”

"Iya, benar, Guru. Kalau dia menolak, apa kita harus memaksanya terus?”

”Bagaimana kalau Kiai Kasanbesari menantang berkelahi?”

"Tya guru, ilmunya sangat tinggi, paling tinggi di antara kami. Hanya Guru yang mampu

menandingi.”

Suara tmurid-murid padepokan itu bersahutan. Mereka mengemukakan pendapatnya

masing-masing hingga ruangan terasa gaduh.

”Tenang...tenang....murid-muridku.....carilah sampai ketemu dan ajak secara baik-baik

untuk kembali ke Bonorowo. Tetapi jika tidak mau dan justru menantang berkelahi, kalian

pun tidak boleh lari. Kesaktian bukanlah satu-satunya penentu kemenangan. Tuhan akan

"Baik, Guru!” kata murid-murid secara serempak dan penuh keyakinan.

Murid Kiai Pacet disebar ke seluruh penjuru dipimpin oleh Pangeran Lembu Peteng.

Akhirnya, Pangeran Lembu Peteng dan murid-murid Kiai Pacet lainnya berjumpa dengan

Kiai Kasanbesan dan Pangeran Kalang. Mereka berusaha membujuk Kiai Kasanbesari dan

Pangeran kalang secara baik-baik. Mereka katakan bahwa Padepokan Bonorowo tetap

menganggap mereka sebagai murid dan meminta mereka kembali. Akan tetapi, hati Kia

Kasanbesari dan Pangeran Kalang sudah dipenuhi rasa benci sehingga tidak dapat mendengar

kata-kata yang tulus dari adik-adik seperguruannya itu. Segala daya upaya sudah dikerahkan

untuk berperang. Tidak terelakkan, terjadilah peperangan yang seru. Dalam pertempuran itu,

147


Story DNA

Moral

True power lies not in martial prowess alone, but in wisdom, humility, and the ability to forgive, while pride and resentment can lead to one's downfall.

Plot Summary

In the Majapahit Kingdom, the wise Kiai Pacet leads a renowned hermitage. When he subtly exposes a disciple, Kiai Kasanbesari, for secretly founding his own school, Kasanbesari leaves in anger. Manipulated by another disciple, Pangeran Kalang, Kasanbesari attempts to assassinate Kiai Pacet during his meditation, but Kiai Pacet transforms into a lion, driving them away. Kiai Pacet then rallies his loyal students, emphasizing the importance of good intentions and loyalty, and sends them to peacefully retrieve Kasanbesari. However, Kasanbesari and Kalang's hatred leads to a fierce battle, leaving the outcome to be decided by the principles Kiai Pacet instilled.

Themes

loyalty and betrayalpride and humilityforgiveness and revengethe nature of true power

Emotional Arc

betrayal to confrontation to resolution

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: direct address to characters (implied by Kiai Pacet's teachings)

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: moral justice
Magic: transformation (Kiai Pacet into a lion), magical object (candlenut transforming into a tiger), supernatural powers (earthquake spell, martial arts prowess)
the hermitage (Padepokan Bonorowo) as a symbol of tradition and wisdomthe lion as a symbol of Kiai Pacet's hidden power and righteous furythe tiger as a symbol of Kiai Kasanbesari's destructive pride and dark magic

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The Majapahit Kingdom was a powerful thalassocratic empire in Southeast Asia, based on the island of Java, that existed from 1293 to circa 1527. The story uses this historical setting as a backdrop for a moral tale, rather than being historically accurate.

Plot Beats (12)

  1. Kiai Pacet leads the respected Bonorowo hermitage in Majapahit, teaching martial arts and spiritual knowledge to elite students.
  2. During a meeting, Kiai Pacet hints that a student has secretly founded their own hermitage, causing Kiai Kasanbesari to storm out, feeling exposed.
  3. Kiai Pacet sends Pangeran Kalang and Pangeran Bedalem, who are secretly Kasanbesari's students, to bring Kasanbesari back, while Kiai Pacet retreats to a cave for meditation.
  4. Pangeran Bedalem tries to convey Kiai Pacet's message, but Kiai Kasanbesari dismisses it as a trick, believing Kiai Pacet fears his rivalry.
  5. Pangeran Kalang actively instigates Kiai Kasanbesari, claiming Kiai Pacet has always spoken ill of him and intends to destroy his hermitage, urging Kasanbesari to strike first.
  6. Convinced, Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang go to the cave to kill Kiai Pacet, who is meditating with Pangeran Lembu Peteng guarding outside.
  7. Inside the cave, Kiai Pacet transforms into a lion when attacked, startling Kasanbesari and Kalang, who flee in terror.
  8. Kiai Pacet pursues them, joined by Pangeran Lembu Peteng; Kasanbesari conjures a fierce tiger from a candlenut to fight Kiai Pacet.
  9. Kiai Pacet counters the tiger with an earthquake spell, and then returns to the hermitage to rally his loyal students.
  10. Kiai Pacet explains Kasanbesari's betrayal and the need to bring him back, emphasizing that their training is for good, not conflict, but also that they must not shy from defending truth.
  11. Kiai Pacet's students, led by Pangeran Lembu Peteng, find Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang and attempt to persuade them to return peacefully.
  12. Kasanbesari and Kalang, consumed by hatred, refuse the peaceful overtures, leading to an unavoidable and fierce battle between the two factions.

Characters

👤

Kiai Pacet

human adult male

A mahaguru (grand master) of a padepokan, implied to be powerful and wise. Capable of transforming into a lion.

Attire: Traditional Indonesian martial arts master attire, likely simple but dignified.

A wise guru who can transform into a fierce lion.

Wise, forgiving, powerful, discerning, dedicated to teaching good values.

👤

Kiai Kasanbesari

human adult male

A powerful and skilled martial artist, capable of transforming a candlenut into a fierce tiger.

Attire: Traditional Indonesian martial arts attire.

A proud martial artist throwing a candlenut that transforms into a tiger.

Proud, resentful, easily offended, vengeful, ambitious.

👤

Pangeran Kalang

human young adult male

A student of Kiai Pacet, later a follower of Kiai Kasanbesari. Skilled in martial arts.

Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince or noble.

A prince whispering malicious advice to Kiai Kasanbesari.

Manipulative, disloyal, instigating, deceitful.

👤

Pangeran Bedalem

human young adult male

A student of Kiai Pacet, later a follower of Kiai Kasanbesari. Skilled in martial arts.

Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince or noble.

A prince trying to reason with Kiai Kasanbesari.

Loyal (initially to Kiai Pacet), pragmatic, avoids conflict, tries to mediate.

👤

Pangeran Lembu Peteng

human young adult male

A loyal student of Kiai Pacet, son of Majapahit.

Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince.

A vigilant prince guarding the entrance of a cave.

Loyal, vigilant, responsible, dedicated.

Locations

Padepokan Bonorowo

indoor implied temperate

A learning center for martial arts, kanoragan, and kebatinan, located in Tulungagung within the Majapahit kingdom.

Mood: educational, initially harmonious, later tense and strategic

Kiai Pacet holds a meeting with his disciples, revealing Kiai Kasanbesari's secret paguron. Later, it serves as the base for Kiai Pacet and his loyal students.

training room meeting area

A Cave

indoor implied temperate

A secluded cave where Kiai Pacet performs semedi (meditation).

Mood: sacred, vulnerable, dangerous

Kiai Pacet meditates here, and Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang attempt to assassinate him, leading to Kiai Pacet's transformation into a lion.

cave entrance dark interior

Forest/Wilderness

outdoor implied temperate

An unspecified natural area where Kiai Kasanbesari is pursued after fleeing the cave.

Mood: tense, desperate, magical

Kiai Pacet chases Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang. Kiai Kasanbesari throws a candlenut, transforming it into a fierce tiger to fight Kiai Pacet.

trees open ground