Kiai Pacet
by Balai Bahasa Surabaya

The Wise Teacher and the Angry Student
Once upon a time, a wise teacher lived. His name was Kiai Pacet. He had a school. He taught his students to be good. He taught them to help friends.
One day, Kiai Pacet talked to his students. He said someone started a new school. He did not say who. Kiai Kasanbesari felt sad and angry. He left the school.
Kiai Pacet was sad. He asked two friends to help. "Please talk to Kasanbesari," he said. "Ask him to come back." Kiai Pacet rested in a quiet cave.
The two friends found Kasanbesari. One friend, Bedalem, said, "Please come back. Kiai Pacet is kind." But Kasanbesari did not listen. He was too angry.
The other friend, Kalang, was not kind. He said mean things. "Kiai Pacet is mean to you," he said. "Let's talk to him." Kasanbesari listened to Kalang.
They went to find Kiai Pacet. He was resting in the cave. Lembu Peteng was watching outside. Kasanbesari and Kalang went inside.
Kiai Pacet was not scared. He used his magic. He turned into a big lion! Kasanbesari and Kalang were very surprised. They ran away fast.
Kiai Pacet followed them. Lembu Peteng followed too. Kasanbesari used his magic. He made a tiger from a nut. But it was not a real fight.
Kiai Pacet used kind magic. He made the ground shake softly. It was a lesson. Then he went back to his school.
He told his students, "Kasanbesari made a mistake. We must help him. We learn to be good. We help friends."
The students went to find Kasanbesari. Lembu Peteng led them. They talked nicely. "Please come back," they said. "Let's be friends."
Kasanbesari was still angry. But then he listened. He saw they were kind. He felt sorry. He said, "I am sorry."
Kiai Pacet smiled. He said, "Kindness is better." "Anger is not good." They all went back to the school together.
And they all learned to be good friends.
Original Story
Kiai Pacet ada zaman dahulu, di kerajaan Majapahit banyak berdiri padepokan atau perguruan. Padepokan merupakan tempat belajar berbagai ilmu beladiri, kanoragan, dan kebatinan. Salah satu padepokan yang ada di wilayah kerajaan Majapahit ketika itu adalah Padepokan Bonorowo yang berada di Kabupaten Tulungagung. Padepokan Bonorowo diasuh oleh seorang mahaguru yang sakti mandraguna yang bernama Kiai Pacet. Kiai Pacet mengajarkan ilmu silat dan jayakawijayan, Ta mempunyai murid-murid pilihan di antaranya Pangeran Kalang dari Tanggulangin, Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak, Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek, Kiai Kasanbesari tetua dari Dukuh Tunggul, Kiai Singotaruno dari Dukuh Plosokandang, Kiai Sendang Gumuling dari Desa Bono, dan Pangeran Lembu Peteng putra Majapahit Pada suatu hari, Kiai Pacet mengadakan pertemuan dengan murid-muridnya. Pada pertemuan itu, selain memberi wejangan tentang berbagai ilmu silat dan kanuragan, Kiai Pacet juga mengungkapkan bahwa di antara murid-muridnya ada yang mendirikan paguron, tetapi sayangnya tidak memberitahukan hal itu kepada gurunya. Kiai Kasan Besari merasa tertusuk perasaannya karena dirinyalah yang telah mendirikan paguron sebagaimana yang dikatakan Kiai Pacet. Dengan perasaan dongkol, Kiai Kasanbesari meninggalkan tempat pertemuan tanpa pamit. Kepergian Kiai Kasanbesari yang tanpa pamit tersebut membuat Kiai Pacet tidak enak hati. Oleh karena itu, ia menyuruh dua orang muridnya, yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem untuk menasihati Kiai Kasanbesari agar mau kembali ke Bonorowo untuk tetap -menjadi murid Kiai Pacet. Kiai Pacet sengaja menunjuk Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem untuk menyusul Kiai Kasanbesari karena tahu bahwa Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem secara diam-diam telah menjadi murid Kiai Kasanbesari. "Pangeran Kalang dan kau... .Pangeran Bedalem susullah Kiai Kasanbesari. Bujuk dia agar kembali ke Bonorowo,” kata Kiai Pacet. Kalang dan Pangeran Bedalem hampir bersamaan. "Katakan bahwa aku tidak bermaksud menyindirnya...aku tidak ingin dia meninggalkan ”Apakah...tidak sebaiknya Kiai saja yang membujuk?” "Tidak...tidak...aku percaya...pada kalian. Aku sendiri akan pergi..." ”Kalau demikian keputusan Kiai, kami mohon diri untuk menyusul Kiai Kasan Besari,” kata Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem sambil mengundurkan diri keluar dari padepokan. Pergilah.” Sada impian Balai ebi Hongrani MEA pe menga Ki Kamis Kiai Pacet berpesan kepada murid-muridnya yang lain agar tetap di Bonorowo guna melanjutkan 145 pelajarannya. Sementara itu, Kiai Pacet akan melakukan semedi di dalam sebuah gua. Salah seorang muridnya, yaitu Pangeran Lembu Peteng ditugaskan menunggu di luar gua. Tidak lama berselang, Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem berhasil menyusul Kiai Kasanbesari. “Kiai, ..Kiai...tunggu. ..!” teriak Pangeran Bedalem setelah melihat Kiai Kasan Besari. Kiai Kasan Besari membalikkan badan ke arah terdengarnya suara. "Ada apa kalian menyusulku?" tanyanya. “Kiai Pacet meminta Kiai kembali ke Bonorowo. Kiai bilang tidak bermaksud menyindir Kiai?” kata Pangeran Bedalem. ., ”Ah..itu kan akal-akalan Kiai Pacet saja. Kiai Pacet memang sudah lama tidak menyukaiku?" kata Kiai Kasan Besari. "Dia takut tersaingi kalau aku membuat paguron. Aku benar-benar tersinggung dan sakit hati karena Kiai telah mempermalukan aku di depan teman-teman seperguruan.” “Saya tidak bermaksud mencampurai masalah Kiai dengan Kiai Pacet. Saya hanya menyampaikan pesannya saja,” Pangeran Bedalem mengambil sikap tidak akan ikut campur dalam masalah Kiai Kasanbesari dengan Kiai Pacet. Pangeran Bedalem malah berniat untuk segera pulang ke Betak. Beda halnya dengan Pangeran Kalang, dia malah memanas-manasi hati Kiai Kasanbesari. Bahkan, Pangeran Kalang menyarankan agar Kiai Kasan Besari membalaskan sakit hatinya terhadap Kiai Pacet. "Memang, saya perhatikan, Kiai memang tidak menyukaimu, Kiai Kasanbesari?” kata Pangeran Kalang. "Berkali-kali saya mendengar Kiai Pacet menjelek-jelekan Kiai di depan murid-murid perguruan. Kiai melarang murid-murid padepokan berguru padamu, Kiai.” ”Benar...benar..Pangeran Kalang. Ah....rupanya ada juga yang mendengar. Saya kira ini hanya perasaan saya saja. Hhhmmmm, rupanya benar,” kata Kiai Kasanbesari sambil -angguk. ”Sebelum Kiai Pacet menghancurkan paguronmu, sebaiknya kau hancurkan dulu padepokannya atau...atau....Kiai bunuh saja Kiai Pacet. Sebab, kalau Kiai Pacet masih hidup...Kiai tidak akan dapat mengembangkan paguron,” kata Pangeran Kalang terus memanas-manasi. "Benar juga kata-katamu, Pangeran. Lebih baik kita habisi sekarang.” Keduanya akhimya sepakat untuk membunuh Kiai Pacet yang kini tengah bertapa di dalam sebuah gua. Kedua pendekar sakti itu kemudian pergi ke gua tempat Kiai Pacet bertapa. Tanpa sepengetahuan Pangeran Lembu Peteng yang berjaga di luar gua, keduanya melancarkan aksinya. Dua pendekar itu menerobos masuk ke dalam gua menyerang Kiai Pacet. Di luar dugaan mereka, saat Kiai Pacet hendak diserang, tiba-tiba ia berubah menjadi seekor singa dan siap menerkam dua tamu tak diundang tersebut. Saking kagetnya, Kiai Kasanbesari dan Pangeran Kalang melompat mundur dan selanjutnya mengambil langkah seribu. Dua murid durhaka yang mencoba membunuh gurunya itu lari tunggang-langgang. Sesaat kemudian Kiai Pacet tampak berkelebat ke luar gua mengejar Kiai Kasanbesari dan Pangeran Kalang disusul oleh Pangeran Lembu Peteng yang merasa telah kecolongan. Setelah beberapa waktu lamanya dikejar, akhirnya Kiai Kasanbesari terkejar juga. Dalam kondisi terjepit, Kiai Kasanbesari mengeluarkan kedigdayaannya. Sebuah biji kemiri dilemparkan kehadapan Kiai Pacet. Seketika biji kemiri itu berubah menjadi seekor harimau yang ganas. Kiai Pacet mengimbanginya dengan membanting bungkul gempaan yang 146 bersama Pangeran Lembu Peteng kembali ke padepokan untuk mengerahkan semua Mmendiya gina Yeangkap Kai Kesanbesasi Han Pangeran Kalang, Dalepokan ini Jengaii menditikan pagirda bera, tetapi juga bercak mebunmtiko kata Kiai Pacet setelah murid-muridnya berkumpul di ruang latihan. “Apa yang harus kita lakukan, Guru?” tanya seorang murid yang duduk paling depan. “Pertarna-tama perlu kalian ketahui bahwa olah kanuragan yang kalian pelajari untuk tujuan yang baik, seperti menolong sesarna, membela kaum yang lemah, dan menegakkan kebenaran, bukan untuk menciptakan permusuhan,” Kiai Pacet berbicara sambil memperhatikan wajah muridnya satu per satu. “Janganlah memendam kebencian dan durhaka terhadap gurumu sendiri. Tidak ada guru yang akan dan ingin mencelakai muridnya. Akan tetapi, jika ada murid yang berbuat tidak baik, kewajiban gurulah mengingatkannya.” “Bagaimana dengan Kiai Kasanbesari?” tanya seorang murid sambil mengangkat tangan. "Perbuatan Kiai Kasanbesari tidak bisa dibiarkan. Dia tidak hanya akan mencoreng nama padepokan ini, tetapi akan selalu membahayakan keberadaan padepokan ini. Itulah ketemu dan membawanya kembali ke Bonorowo.” "Iya, benar, Guru. Kalau dia menolak, apa kita harus memaksanya terus?” ”Bagaimana kalau Kiai Kasanbesari menantang berkelahi?” "Tya guru, ilmunya sangat tinggi, paling tinggi di antara kami. Hanya Guru yang mampu menandingi.” Suara tmurid-murid padepokan itu bersahutan. Mereka mengemukakan pendapatnya masing-masing hingga ruangan terasa gaduh. ”Tenang...tenang....murid-muridku.....carilah sampai ketemu dan ajak secara baik-baik untuk kembali ke Bonorowo. Tetapi jika tidak mau dan justru menantang berkelahi, kalian pun tidak boleh lari. Kesaktian bukanlah satu-satunya penentu kemenangan. Tuhan akan "Baik, Guru!” kata murid-murid secara serempak dan penuh keyakinan. Murid Kiai Pacet disebar ke seluruh penjuru dipimpin oleh Pangeran Lembu Peteng. Akhirnya, Pangeran Lembu Peteng dan murid-murid Kiai Pacet lainnya berjumpa dengan Kiai Kasanbesan dan Pangeran Kalang. Mereka berusaha membujuk Kiai Kasanbesari dan Pangeran kalang secara baik-baik. Mereka katakan bahwa Padepokan Bonorowo tetap menganggap mereka sebagai murid dan meminta mereka kembali. Akan tetapi, hati Kia Kasanbesari dan Pangeran Kalang sudah dipenuhi rasa benci sehingga tidak dapat mendengar kata-kata yang tulus dari adik-adik seperguruannya itu. Segala daya upaya sudah dikerahkan untuk berperang. Tidak terelakkan, terjadilah peperangan yang seru. Dalam pertempuran itu, 147
Moral of the Story
True power lies not in martial prowess alone, but in wisdom, humility, and the ability to forgive, while pride and resentment can lead to one's downfall.
Characters
Kiai Pacet ★ protagonist
A mahaguru (grand master) of a padepokan, implied to be powerful and wise. Capable of transforming into a lion.
Attire: Traditional Indonesian martial arts master attire, likely simple but dignified.
Wise, forgiving, powerful, discerning, dedicated to teaching good values.
Kiai Kasanbesari ⚔ antagonist
A powerful and skilled martial artist, capable of transforming a candlenut into a fierce tiger.
Attire: Traditional Indonesian martial arts attire.
Proud, resentful, easily offended, vengeful, ambitious.
Pangeran Kalang ⚔ antagonist
A student of Kiai Pacet, later a follower of Kiai Kasanbesari. Skilled in martial arts.
Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince or noble.
Manipulative, disloyal, instigating, deceitful.
Pangeran Bedalem ◆ supporting
A student of Kiai Pacet, later a follower of Kiai Kasanbesari. Skilled in martial arts.
Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince or noble.
Loyal (initially to Kiai Pacet), pragmatic, avoids conflict, tries to mediate.
Pangeran Lembu Peteng ◆ supporting
A loyal student of Kiai Pacet, son of Majapahit.
Attire: Traditional Indonesian attire, suitable for a prince.
Loyal, vigilant, responsible, dedicated.
Locations

Padepokan Bonorowo
A learning center for martial arts, kanoragan, and kebatinan, located in Tulungagung within the Majapahit kingdom.
Mood: educational, initially harmonious, later tense and strategic
Kiai Pacet holds a meeting with his disciples, revealing Kiai Kasanbesari's secret paguron. Later, it serves as the base for Kiai Pacet and his loyal students.

A Cave
A secluded cave where Kiai Pacet performs semedi (meditation).
Mood: sacred, vulnerable, dangerous
Kiai Pacet meditates here, and Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang attempt to assassinate him, leading to Kiai Pacet's transformation into a lion.

Forest/Wilderness
An unspecified natural area where Kiai Kasanbesari is pursued after fleeing the cave.
Mood: tense, desperate, magical
Kiai Pacet chases Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang. Kiai Kasanbesari throws a candlenut, transforming it into a fierce tiger to fight Kiai Pacet.
Story DNA
Moral
True power lies not in martial prowess alone, but in wisdom, humility, and the ability to forgive, while pride and resentment can lead to one's downfall.
Plot Summary
In the Majapahit Kingdom, the wise Kiai Pacet leads a renowned hermitage. When he subtly exposes a disciple, Kiai Kasanbesari, for secretly founding his own school, Kasanbesari leaves in anger. Manipulated by another disciple, Pangeran Kalang, Kasanbesari attempts to assassinate Kiai Pacet during his meditation, but Kiai Pacet transforms into a lion, driving them away. Kiai Pacet then rallies his loyal students, emphasizing the importance of good intentions and loyalty, and sends them to peacefully retrieve Kasanbesari. However, Kasanbesari and Kalang's hatred leads to a fierce battle, leaving the outcome to be decided by the principles Kiai Pacet instilled.
Themes
Emotional Arc
betrayal to confrontation to resolution
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The Majapahit Kingdom was a powerful thalassocratic empire in Southeast Asia, based on the island of Java, that existed from 1293 to circa 1527. The story uses this historical setting as a backdrop for a moral tale, rather than being historically accurate.
Plot Beats (12)
- Kiai Pacet leads the respected Bonorowo hermitage in Majapahit, teaching martial arts and spiritual knowledge to elite students.
- During a meeting, Kiai Pacet hints that a student has secretly founded their own hermitage, causing Kiai Kasanbesari to storm out, feeling exposed.
- Kiai Pacet sends Pangeran Kalang and Pangeran Bedalem, who are secretly Kasanbesari's students, to bring Kasanbesari back, while Kiai Pacet retreats to a cave for meditation.
- Pangeran Bedalem tries to convey Kiai Pacet's message, but Kiai Kasanbesari dismisses it as a trick, believing Kiai Pacet fears his rivalry.
- Pangeran Kalang actively instigates Kiai Kasanbesari, claiming Kiai Pacet has always spoken ill of him and intends to destroy his hermitage, urging Kasanbesari to strike first.
- Convinced, Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang go to the cave to kill Kiai Pacet, who is meditating with Pangeran Lembu Peteng guarding outside.
- Inside the cave, Kiai Pacet transforms into a lion when attacked, startling Kasanbesari and Kalang, who flee in terror.
- Kiai Pacet pursues them, joined by Pangeran Lembu Peteng; Kasanbesari conjures a fierce tiger from a candlenut to fight Kiai Pacet.
- Kiai Pacet counters the tiger with an earthquake spell, and then returns to the hermitage to rally his loyal students.
- Kiai Pacet explains Kasanbesari's betrayal and the need to bring him back, emphasizing that their training is for good, not conflict, but also that they must not shy from defending truth.
- Kiai Pacet's students, led by Pangeran Lembu Peteng, find Kiai Kasanbesari and Pangeran Kalang and attempt to persuade them to return peacefully.
- Kasanbesari and Kalang, consumed by hatred, refuse the peaceful overtures, leading to an unavoidable and fierce battle between the two factions.





