Menu

Laskar Banci

by Balai Bahasa Surabaya

Laskar Banci

The Clever Village

CEFR A1 Age 5 322 words 2 min Canon 95/100

In a small village, people felt scared. Bad men were near. One night, clever friends walked out. They walked fast. They looked worried.

Bad stories spread in the village. The bad men said mean things. They wanted to cause trouble for all.

People felt worried. They could not play. They could not work. They were too scared.

Leader Subeki and Helper Mangun went to Jabar. "We need help," they said. "The bad men scare us."

Teacher Jabar listened. "The bad men want us scared," he said. "We must be brave. We must be clever."

Teacher Jabar taught his students special moves. They also learned a pretty dance. People wondered why.

A bad captain came to check. "What are you doing?" he asked. "We are dancing and playing," said Teacher Jabar.

A scary letter came from the bad men. It said, "Give up! Or we will cause trouble!"

Leader Subeki and Helper Mangun told Teacher Jabar. "It is just to scare us," he said.

"If the bad men come," said Teacher Jabar, "have a special meeting. We will pray at my house."

That night, people came to Teacher Jabar's house. They had a happy party. The bad men came looking for trouble.

They saw a pretty dance. They saw fun moves. There was yummy food for all.

Teacher Jabar began to talk. The bad captain stood up. "Our house is on fire!" he said. "Clever helpers did it! We must go!"

The bad men left quickly. They did not take Teacher Jabar. The people felt happy and safe.

"We won!" said Teacher Jabar. "We won by being smart and working as one!"

The next day, they heard news. Clever helpers burned the bad men's house. One helper helped a lot. Teacher Jabar prayed for them.

"See," said Teacher Jabar, "being clever and working as one is better than being strong and mean." And they all lived happily, knowing clever friends are the best.

Original Story 1690 words · 8 min read

Laskar Banci atahari sudah condong ke barat hampir menyentuh punggung Gunung Lawu. Langit sebelah barat berubah menjadi berwarna jingga. Suasana sore itu terlihat berbeda dari biasanya. Kelelawar dan suara burung malam sudah mulai menampakkan aktivitasnya. Mereka memulai dengan kehidupan malamnya masing-masing, begitu juga dengan sekelompok banci-banci yang menamakan dirinya Laskar Banci. Mereka terlihat berjalan beriringan menelusuri jalan setapak desa menuju arah ke luar desa. Mereka berjalan tanpa ada suara sepatah pun. Wajah-wajah mereka terlihat serius, jalannya sangat cepat seperti ada yang menunggunya, . Pagi harinya saat matahari mulai menampakkan dirinya, masyarakat Balerejo berlarian meninggalkan desanya untuk mengungsi karena ada berita bahwa Belanda akan membakar desanya. Entah siapa yang membawa berita itu, Kenyataannya, berita tersebut sudah menyebar di seluruh desa. Ada kabar bahwa tangsi Belanda yang berada di Pabrik Gula Pagotan telah dibakar oleh laskar rakyat. Konon, pelakunya adalah anak buah Kiai Jabar yang memiliki pondok pesantren di Balerejo. Masyarakat tidak percaya semua berita tersebut karena Kiai Jabar dikenal sebagai orang yang sangat alim. Beliau tidak memiliki laskar atau pasukan perlawanan karena murid-muridnya kebanyakan kaum perempuan. Kegiatan mereka setiap hari di sela-sela kegiatan mengaji adalah berkebun dan bercocok tanam di sawah. Tidak mungkin mereka melakukan seperti apa yang dituduhkan melalui berita yang sudah menyebar di masyarakat. Mungkin saja semua itu merupakan fitnah Belanda untuk mencari alasan agar dapat melakukan serangan ke pondok-pondok pesantren yang kegiatannya dianggap dapat mengancam kedudukan Belanda di daerah Pagotan khususnya dan Madiun umumnya. Akan tetapi, berita itu telah mengusik ketenteraman dan kehidupan masyarakat di Desa Balerejo. Beberapa hari berlalu, berita serangan Belanda itu tidak terbukti. Tetapi, hal itu tidak membuat masyarakat tenang, justru semakin membuat masyarakat khawatir dan takut jika sewaktu-waktu berita itu benar-benar terjadi. Mereka tidak bisa lagi bekerja dengan tenang. Perasaan mereka diliputi ketakutan. Melihat kehidupan yang tidak tenang tersebut, Lurah Subeki sedih. Ia sudah berusaha menenangkan rakyatnya, tetapi usahanya sia-sia belaka. Rakyat Balerejo sudah telanjur termakan oleh berita tersebut. Akhirnya, Lurah Beki dengan ditemani oleh Bayan Mangun menemui Kiai Jabar yang terkenal alim itu. Dalam pertemuan tersebut, Lurah Subeki menyampaikan keadaan kehidupan masyarakat yang ketakutan dengan adanya berita dibakarnya tangsi Belanda di Pabrik Pagotan. ”Kiai, bagaimana nasib rakyat Balerejo, sekarang mereka sudah tidak bisa hidup tenang lagi karena isu itu?” Mendengar keluhan Lurah Beki, Kiai Jabar terlihat tenang menghadapinya. ”Iya Pak Lurah, saya juga telah mendengarnya: Semua itu bisa juga sengaja dilakukan oleh orang-orang Belanda untuk mengacaukan masyarakat .” 107 "Maksudnya bagaimana Kiai?” Lurah menanggapi perkataan Kiai Jabar dengan penuh keingintahuan. "Semua itu dilakukan Belanda sebagai cara untuk mengadu domba masyarakat biar mereka timbul rasa saling curiga dan antaranggota masyarakat saling berlawanan. Dengan demikian, semangat kemerdekaan yang sedang berkobar di seluruh Nusantara ini dapat dengan mudah dipatahkan. Semua itu untuk kepentingan Belanda agar mereka bisa tetap bertahan di bumi Nusantara ini,” Kiai Jabar berusaha memberikan penjelasan. Lurah Beki dan Bayan Mangun mengangguk-angguk tanda menerima dan menyetujui penjelasan yang diberikan oleh Kiai Jabar. "Terus kita harus bagaimana Kiai?” Lurah meminta pendapat. ”Begini, ini semua jelas merupakan siasat Belanda. Kita harus tenang dan waspada serta tidak gegabah dalam menghadapinya. Kalau bisa masyarakat harus siap menghadapinya karena mau tidak mau Belanda sudah mempersiapkan cara-caranya untuk membuat masyarakat mau tunduk dan patuh kepada semua keinginannya.” "Maksudnya bagaimana, Kiai?” kata Bayan Mangun penasaran. "Pak Bayan, kita harus siap untuk menghadapi Belanda bila sewaktu-waktu mereka menyerang desa kita. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus siap menghadapinya. Kita sebagai bangsa yang bermartabat jangan mau diinjak-injak harga diri kita oleh bangsa lam seperti Belanda itu.” “Betul Kiai, terus caranya bagaimana dengan kemampuan kita yang sangat jauh jika dibandingkan dengan mereka?” ”Kalau masalah itu kita jangan berkecil hati. Kalau merasa kecil hati kita akan kalah sebelum berperang. Kita harus pandai dalam menggunakan strategi, minimal dengan cara gerilya. Namun, bisa juga menggunakan strategi lain.” Pembicaraan mereka terhenti sampai di sini. Setelah beberapa hari terjadi kegiatan yang sedikit berubah di Pesantren Kiai Jabar. Kegiatan yang selama ini hanya untuk mendalami ilmu agama sekarang ditambah dengan kegiatan baru, yaitu seni pencak silat. Anehnya, yang dilatih pencak silat itu kelihatannya seperti santri perempuan. Setiap malam mereka berlatih dengan serius. Mereka tidak hanya berlatih olah terampil silat saja, tetapi juga berlatih seni tradisional seperti tari gambyong. Kegiatan tersebut menimbulkan banyak tanya di kalangan masyarakat sekitar pondok pesantren. Mengapa anak santri belajar menari gambyong? Apa hubungannya dengan kegiatan mengaji dan seni pencak silat? Kegiatan tersebut akhirnya tercium juga oleh penjajah Belanda. Pada suatu hari, datanglah seorang utusan dari Loji Belanda di Pagotan untuk menanyakan kegiatan pondok kepada Kiai Jabar. Kiai Jabar memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada utusan Belanda tersebut. Katanya, kegiatan itu ditujukan untuk melestarikan budaya tradisional rakyat. Tampaknya Belanda dapat menerima penjelasan Kiai Jabar sehingga segera kembali lagi ke Pagotan. Warga pondok merasa tenang kembali karena sebelumnya takut dan mengira bahwa kedatangan utusan Belanda itu untuk menangkap Kiai Jabar dan murid-muridnya. Suasana pondok kembali normal dan kegiatan silat serta tari gambyong berjalan kembali seperti sediakala. Pagi hari sekitar pukul sembilan, terlihat Pak Lurah di pendoponya mondar-mandir seperti sedang memikirkan masalah yang sangat serius. Tangannya terlihat memegang secarik 108 kertas surat bersampul merah. Hal tersebut membuat Bayan Mangun yang tadi malam jaga di ikut penasaran. "Ada apa Pak Lurah, kelihatannya ada masalah yang sangat serius?” tanya Bayan Mangun kepada Lurah Subeki. ke tangsi Belanda hari ini, paling lambat nanti malam. Beliau akan dijemput paksa. Bila tidak diserahkan maka desa ini akan dijadikan karang abang oleh Belanda," Lurah Subeki mernberikan penjelasan. ”Karena apa, Lurah?” "Kegiatannya dianggap mengancam kedudukan mereka.” ”Tapi semua itu kan tidak ada buktinya,” sela Bayan Mangun. Sesaat Lurah terdiam sebentar. ”Sudah. Sekarang masalah ini kita sampaikan saja kepada Kiai Jabar,” kata Lurah Beki dengan memandang Bayan Mangun. Bayan Mangun hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka pun akhirnya berangkat menuju pondoknya Kiai Jabar. Suasana pondok terlihat sangat sepi. Tidak terlihat tanda-tanda ada kesibukan yang mencolok dari santri-santrinya. Mereka terlihat duduk-duduk santai di serambi depan sambil sesekali melihat ke dalam rumah kiai. Menurut santrinya, kiai masih salat Duha. Setelah beberapa saat muncullah Kiai Jabar tetapi tidak dari dalam rumah melainkan dari samping pondok utama. Lurah dan bayan segera menghampiri kiai, mereka berjabat tangan dan saling berangkulan. Setelah itu mereka duduk di serambi depan. Mereka terlihat serius berbincang- bincang setelah sebelumnya Lurah Beki memberikan surat bersampul merah itu kepada kiai. "Bagaimana Kiai?" sela lurah dalam perbincangan itu. "Pak Lurah, saya sudah paham isi surat dari Belanda itu. Menurut saya semua ini hanyalah akal-akalan Belanda untuk meneror masyarakat agar semangat perjuangan kemerdekaan yang sedang menyala di mana-mana menjadi padam kembali,” kata kiai sambil memandang lurah dan bayan. Yang dipandang terlihat dapat memahaminya. ”Apa langkah yang kita tempuh untuk menghadapinya? Apakah kita akan datang ke Loji Belanda?” tanya Bayan Mangun. Kiai terlihat diam sebentar seperti memikirkan sesuatu. "Begini saja Pak Bayan, masalah surat ini nanti saya atasi sendiri. Pak Lurah dan Pak Bayan tidak usah khawatir akan keselamatan saya dan pondok ini. Allah pasti akan melindungi kita semua. Saya hanya berpesan, bila Belanda datang untuk menjemput saya, tolong seluruh warga desa yang laki-laki, besar kecil datang ke pondok untuk tahlilan "Tapi apakah tidak membahayakan masyarakat, nanti kita malah dikira akan melawan,” lurah berusaha menyampaikan pendapatnya. “Tidak, jangan khawatir insyaallah tidak akan ada masalah,” kiai meyakinkan lurah akan keselamatan warganya. "Kalau begitu Kiai mau memenuhi keinginan Belanda?” sela Bayan Mangun berusaha menebak pikiran kiai. Namun kiai hanya tersenyum tanpa memberi jawaban. Perbincangan mereka akhirnya berakhir. Lurah dan Bayan pun pulang dan segera melaksanakan kata-kata kiai. Malam pun tiba, pondok Kiai Jabar sudah penuh warga Balerejo yang sedang mengadakan acara tahlilan. Beberapa saat kemudian utusan Belanda datang sebanyak satu peleton dengan senjata siap dimuntahkan bila ada perlawanan dari rakyat atau santri-santri 109 Kiai Jabar. Belanda merasa heran karena tidak melihat ada tanda-tanda perlawanan dari murid Kiai Jabar. Mereka malah menyambut kedatangan pasukan Belanda itu dengan tari gambyong dan seni pencak silat serta menjamu dengan segala macam makanan. Tentara Belanda itu senang sekali. Dalam suasana yang tampak gembira itu, tiba-tiba Kiai Jabar berdiri dan berbicara di depan warga dan pasukan Belanda. ”Maaf santri-santri dan warga Desa Balerejo, malam ini kita kedatangan tamu tuan-tuan dan loji Pagotan yang ingin mengundang saya ke loji beliau. Itu sungguh suatu kehormatan bagi saya. Bagaimana tidak bangga, saya hanyalah seorang kiai yang hanya mengajar ngaji diberi kesempatan untuk datang ke loji tuan-tuan....” Belum selesai Kiai bicara, tiba-tiba komandan Belanda itu berdiri dengan wajah cemas. Beberapa temannya tampak mendekatinya. Mereka berbisik-bisik, Sesaat kemudian komandan Belanda itu bicara di depan warga yang sejak tadi cemas memikirkan nasib kiai mereka, "Eehhmm...maaf Kiai Jabar dan saudara-saudara semua. Saya tidak bisa lama di sini, kami diminta segera kembali ke loji karena loji kami dibakar oleh banci-banci gila...Maaf, sekali lagi maaf kami pamit dan terima kasih atas semuanya.” Tentara Belanda pun segera meninggalkan pondok tanpa membawa Kiai Jabar. Orang- orang yang berada di pondok terheran-heran. Dalam suasana yang menyenangkan dan membingungkan warga tersebut, kiai kembali berbicara. ”Saudara-saudaraku, Allah telah menolong kita. Kita telah menang, pasukan Belanda itu kembali ke lojinya yang terbakar. Marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Semoga Allah selalu melindungi laskar-laskar pejuang kita di mana pun berada. Amin. Pak Lurah dan saudaraku warga desa, silakan kembali untuk beristirahat, semoga besok kita semua masih bisa melihat cerahnya mentari pagi.” Warga desa yang hadir di pondok segera pamit pulang ke rumahnya masing-masing ketika kiai selesai bicara. Hati mereka merasa tenang karena pidato Kiai Jabar yang menyejukkan dan menenteramkan. Sinar matahari pagi telah menerangi Desa Balerejo. Semua warga harap-harap cemas menunggu berita terbakarnya Loji Belanda. Kabarnya yang membakar adalah kelompok gelandangan banci, entah dari mana asalnya. Dari tempat kejadian ditemukan salah satu korban yang terbakar, tetapi sudah tidak dapat dikenali lagi. Berita tewasnya gelandangan banci sampai juga ke Pondok Kiai Jabar. Kabarnya, Kiai Jabar mengadakan tahlilan untuk mendoakan arwahnya. Ada suara-suara sumbang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya bahwa korban banci yang tewas terbakar itu adalah murid Kiai Jabar. Lurah Subeki pun kabarnya telah menanyakan masalah itu kepada Kiai Jabar, namun beliau hanya tersenyum saja. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya mereka. Yang pasti, hingga kini banyak ditemui banci di Madiun, Apakah ada hubungannya dengan peristiwa zaman Belanda itu? Tidak seorang pun yang bisa memastikan. Akan tetapi, siapa pun mereka, mereka telah berkorban demi bangsa dan negaranya dengan caranya sendiri. 110

Moral of the Story

True strength and patriotism can come from unexpected sources, and cunning can overcome brute force.


Characters 5 characters

Kiai Jabar ★ protagonist

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a respected, calm, and wise religious leader.

Attire: Traditional religious attire, likely a sarong and a Koko shirt, common for a Kiai in Indonesia.

Calm, wise, strategic, devout, patriotic.

Lurah Subeki ◆ supporting

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Traditional village head attire, likely a batik shirt or similar formal wear for a village leader.

Concerned, responsible, seeking guidance, easily worried.

Bayan Mangun ◆ supporting

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Traditional village attire, likely simple peasant clothing.

Curious, supportive, slightly skeptical, loyal.

Laskar Banci ★ protagonist

human young adult non-human

A group of 'banci' (transgender women or effeminate men) who are Kiai Jabar's students, trained in pencak silat and traditional dance.

Attire: Initially implied to be dressed in traditional women's attire for dance (e.g., kebaya, sarong for Gambyong dance), but also capable of combat.

Brave, strategic, deceptive (in a good way), patriotic, disciplined.

Komandan Belanda ⚔ antagonist

human adult male

Not explicitly described, but a military commander.

Attire: Dutch colonial military uniform.

Authoritative, easily deceived, anxious when faced with unexpected events.

Locations 3 locations
Jalan setapak desa menuju ke luar desa

Jalan setapak desa menuju ke luar desa

outdoor dusk Implied dry season, clear sky

A narrow path in the village leading out, with the sun setting behind Mount Lawu, casting an orange glow on the western sky.

Mood: Serious, determined, mysterious

The Laskar Banci (transvestite troop) walks silently and quickly out of the village.

Mount Lawu (in the distance)orange skybatsnight birdsvillage path
Pondok Pesantren Kiai Jabar (Kiai Jabar's Islamic Boarding School)

Pondok Pesantren Kiai Jabar (Kiai Jabar's Islamic Boarding School)

indoor

A quiet Islamic boarding school, initially with female students focused on religious studies, gardening, and farming. Later, it becomes a training ground for pencak silat and Gambyong dance. It has a front porch where discussions take place.

Mood: Initially peaceful and religious, then becomes a hub of secret training and strategic discussions, later filled with villagers for a tahlilan (prayer gathering) and cultural performance.

Kiai Jabar holds discussions with the village head, trains his students in martial arts and dance, and hosts the climactic confrontation with the Dutch soldiers.

front porchmain building/housestudents (santri)gardens/farms (implied)villagers
Loji Belanda di Pabrik Gula Pagotan (Dutch Lodge at Pagotan Sugar Factory)

Loji Belanda di Pabrik Gula Pagotan (Dutch Lodge at Pagotan Sugar Factory)

indoor night implied dry season

A Dutch military post or headquarters located within the Pagotan Sugar Factory. It is later described as being burned down.

Mood: Initially a symbol of Dutch authority and threat, later becomes a scene of destruction and chaos.

The Dutch lodge is burned down by the 'mad transvestites', forcing the Dutch soldiers to abandon their mission at Kiai Jabar's pondok.

Dutch soldiers (implied)factory buildings (implied)fire/smoke (later)

Story DNA folk tale · hopeful

Moral

True strength and patriotism can come from unexpected sources, and cunning can overcome brute force.

Plot Summary

In Dutch-occupied Balerejo, villagers live in fear due to rumors of an impending attack and false accusations against their revered Kiai Jabar. Kiai Jabar, a wise religious leader, devises a cunning plan, training his seemingly female students in martial arts and dance. When the Dutch issue an ultimatum for his surrender, Kiai Jabar instructs the villagers to gather for a prayer meeting. As a Dutch platoon arrives, they are met not with resistance, but with a festive display of culture and hospitality. During Kiai Jabar's speech, the Dutch commander abruptly announces their headquarters is on fire, supposedly by 'mad banci' (transgender individuals), forcing their retreat and leaving the villagers to celebrate their unexpected victory.

Themes

resistance against oppressioncunning over brute forcesacrifice for the greater goodhidden strength

Emotional Arc

fear to relief to quiet triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate

Narrative Elements

Conflict: person vs society
Ending: moral justice
The 'banci' as symbols of hidden strength and unconventional heroism.Pencak Silat and Gambyong dance as tools of deception and resistance.The red-sealed letter as a symbol of Dutch intimidation.

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial (Dutch colonial era)

The story is set during the Dutch colonial period in Indonesia, specifically in the Madiun region, highlighting the struggle for independence and the various forms of resistance, including covert and unconventional methods. The use of 'banci' as freedom fighters is a unique twist on historical narratives.

Plot Beats (15)

  1. A group of 'banci' (transgender individuals) are seen walking purposefully out of the village at dusk.
  2. Rumors spread in Balerejo that the Dutch will burn the village, falsely accusing Kiai Jabar's pesantren of attacking a Dutch outpost.
  3. Villagers live in fear, unable to work peacefully, despite the rumors not materializing immediately.
  4. Lurah Subeki and Bayan Mangun consult Kiai Jabar, who explains the rumors are a Dutch tactic to sow discord and break the spirit of independence.
  5. Kiai Jabar begins training his students, who appear to be women, in pencak silat and Gambyong dance, which raises local curiosity but is explained to the Dutch as cultural preservation.
  6. A Dutch envoy visits Kiai Jabar to inquire about the activities but is satisfied with his explanation.
  7. Lurah Subeki receives a red-sealed letter from the Dutch, demanding Kiai Jabar's surrender by nightfall or the village will be destroyed.
  8. Lurah Subeki and Bayan Mangun inform Kiai Jabar, who calmly interprets it as another Dutch terror tactic.
  9. Kiai Jabar instructs them that if the Dutch come, all male villagers should gather at the pondok for a tahlilan, assuring them of safety.
  10. That night, the pondok is full of villagers for the tahlilan when a Dutch platoon arrives, expecting resistance.
  11. The Dutch are met with a welcoming atmosphere, featuring Gambyong dance, pencak silat demonstrations, and food.
  12. Kiai Jabar begins a speech, but the Dutch commander interrupts, announcing their loji is on fire, supposedly by 'mad banci', and they must leave immediately.
  13. The Dutch depart without Kiai Jabar, leaving the villagers bewildered and relieved.
  14. Kiai Jabar declares their victory and attributes it to Allah's help, hinting at 'laskar-laskar pejuang' (warrior troops).
  15. The next morning, news spreads of the Dutch loji burning, attributed to 'gelandangan banci' (homeless banci), one of whom died. Kiai Jabar holds a tahlilan for the deceased, smiling enigmatically when asked about the connection to his students.

Related Stories