Laskar Banci

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale transformation hopeful Ages 8-14 1690 words 8 min read
Cover: Laskar Banci
Original Story 1690 words · 8 min read

Laskar Banci

atahari sudah condong ke barat hampir menyentuh punggung Gunung Lawu. Langit

sebelah barat berubah menjadi berwarna jingga. Suasana sore itu terlihat berbeda

dari biasanya. Kelelawar dan suara burung malam sudah mulai menampakkan

aktivitasnya. Mereka memulai dengan kehidupan malamnya masing-masing, begitu juga

dengan sekelompok banci-banci yang menamakan dirinya Laskar Banci. Mereka terlihat

berjalan beriringan menelusuri jalan setapak desa menuju arah ke luar desa. Mereka berjalan

tanpa ada suara sepatah pun. Wajah-wajah mereka terlihat serius, jalannya sangat cepat

seperti ada yang menunggunya, .

Pagi harinya saat matahari mulai menampakkan dirinya, masyarakat Balerejo berlarian

meninggalkan desanya untuk mengungsi karena ada berita bahwa Belanda akan membakar

desanya. Entah siapa yang membawa berita itu, Kenyataannya, berita tersebut sudah

menyebar di seluruh desa. Ada kabar bahwa tangsi Belanda yang berada di Pabrik Gula

Pagotan telah dibakar oleh laskar rakyat. Konon, pelakunya adalah anak buah Kiai Jabar yang

memiliki pondok pesantren di Balerejo. Masyarakat tidak percaya semua berita tersebut

karena Kiai Jabar dikenal sebagai orang yang sangat alim. Beliau tidak memiliki laskar atau

pasukan perlawanan karena murid-muridnya kebanyakan kaum perempuan. Kegiatan mereka

setiap hari di sela-sela kegiatan mengaji adalah berkebun dan bercocok tanam di sawah. Tidak

mungkin mereka melakukan seperti apa yang dituduhkan melalui berita yang sudah

menyebar di masyarakat. Mungkin saja semua itu merupakan fitnah Belanda untuk mencari

alasan agar dapat melakukan serangan ke pondok-pondok pesantren yang kegiatannya

dianggap dapat mengancam kedudukan Belanda di daerah Pagotan khususnya dan Madiun

umumnya. Akan tetapi, berita itu telah mengusik ketenteraman dan kehidupan masyarakat di

Desa Balerejo.

Beberapa hari berlalu, berita serangan Belanda itu tidak terbukti. Tetapi, hal itu tidak

membuat masyarakat tenang, justru semakin membuat masyarakat khawatir dan takut jika

sewaktu-waktu berita itu benar-benar terjadi. Mereka tidak bisa lagi bekerja dengan tenang.

Perasaan mereka diliputi ketakutan.

Melihat kehidupan yang tidak tenang tersebut, Lurah Subeki sedih. Ia sudah berusaha

menenangkan rakyatnya, tetapi usahanya sia-sia belaka. Rakyat Balerejo sudah telanjur

termakan oleh berita tersebut. Akhirnya, Lurah Beki dengan ditemani oleh Bayan Mangun

menemui Kiai Jabar yang terkenal alim itu. Dalam pertemuan tersebut, Lurah Subeki

menyampaikan keadaan kehidupan masyarakat yang ketakutan dengan adanya berita

dibakarnya tangsi Belanda di Pabrik Pagotan.

”Kiai, bagaimana nasib rakyat Balerejo, sekarang mereka sudah tidak bisa hidup tenang

lagi karena isu itu?” Mendengar keluhan Lurah Beki, Kiai Jabar terlihat tenang

menghadapinya.

”Iya Pak Lurah, saya juga telah mendengarnya: Semua itu bisa juga sengaja dilakukan

oleh orang-orang Belanda untuk mengacaukan masyarakat .”

107

"Maksudnya bagaimana Kiai?” Lurah menanggapi perkataan Kiai Jabar dengan penuh

keingintahuan.

"Semua itu dilakukan Belanda sebagai cara untuk mengadu domba masyarakat biar

mereka timbul rasa saling curiga dan antaranggota masyarakat saling berlawanan. Dengan

demikian, semangat kemerdekaan yang sedang berkobar di seluruh Nusantara ini dapat

dengan mudah dipatahkan. Semua itu untuk kepentingan Belanda agar mereka bisa tetap

bertahan di bumi Nusantara ini,” Kiai Jabar berusaha memberikan penjelasan. Lurah Beki dan

Bayan Mangun mengangguk-angguk tanda menerima dan menyetujui penjelasan yang

diberikan oleh Kiai Jabar.

"Terus kita harus bagaimana Kiai?” Lurah meminta pendapat.

”Begini, ini semua jelas merupakan siasat Belanda. Kita harus tenang dan waspada serta

tidak gegabah dalam menghadapinya. Kalau bisa masyarakat harus siap menghadapinya

karena mau tidak mau Belanda sudah mempersiapkan cara-caranya untuk membuat

masyarakat mau tunduk dan patuh kepada semua keinginannya.”

"Maksudnya bagaimana, Kiai?” kata Bayan Mangun penasaran.

"Pak Bayan, kita harus siap untuk menghadapi Belanda bila sewaktu-waktu mereka

menyerang desa kita. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus siap menghadapinya. Kita

sebagai bangsa yang bermartabat jangan mau diinjak-injak harga diri kita oleh bangsa lam

seperti Belanda itu.”

“Betul Kiai, terus caranya bagaimana dengan kemampuan kita yang sangat jauh jika

dibandingkan dengan mereka?”

”Kalau masalah itu kita jangan berkecil hati. Kalau merasa kecil hati kita akan kalah

sebelum berperang. Kita harus pandai dalam menggunakan strategi, minimal dengan cara

gerilya. Namun, bisa juga menggunakan strategi lain.”

Pembicaraan mereka terhenti sampai di sini. Setelah beberapa hari terjadi kegiatan yang

sedikit berubah di Pesantren Kiai Jabar. Kegiatan yang selama ini hanya untuk mendalami

ilmu agama sekarang ditambah dengan kegiatan baru, yaitu seni pencak silat. Anehnya, yang

dilatih pencak silat itu kelihatannya seperti santri perempuan.

Setiap malam mereka berlatih dengan serius. Mereka tidak hanya berlatih olah terampil

silat saja, tetapi juga berlatih seni tradisional seperti tari gambyong. Kegiatan tersebut

menimbulkan banyak tanya di kalangan masyarakat sekitar pondok pesantren. Mengapa anak

santri belajar menari gambyong? Apa hubungannya dengan kegiatan mengaji dan seni pencak

silat?

Kegiatan tersebut akhirnya tercium juga oleh penjajah Belanda. Pada suatu hari,

datanglah seorang utusan dari Loji Belanda di Pagotan untuk menanyakan kegiatan pondok

kepada Kiai Jabar. Kiai Jabar memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada utusan

Belanda tersebut. Katanya, kegiatan itu ditujukan untuk melestarikan budaya tradisional

rakyat. Tampaknya Belanda dapat menerima penjelasan Kiai Jabar sehingga segera kembali

lagi ke Pagotan. Warga pondok merasa tenang kembali karena sebelumnya takut dan mengira

bahwa kedatangan utusan Belanda itu untuk menangkap Kiai Jabar dan murid-muridnya.

Suasana pondok kembali normal dan kegiatan silat serta tari gambyong berjalan kembali

seperti sediakala.

Pagi hari sekitar pukul sembilan, terlihat Pak Lurah di pendoponya mondar-mandir

seperti sedang memikirkan masalah yang sangat serius. Tangannya terlihat memegang secarik

108

kertas surat bersampul merah. Hal tersebut membuat Bayan Mangun yang tadi malam jaga di

ikut penasaran.

"Ada apa Pak Lurah, kelihatannya ada masalah yang sangat serius?” tanya Bayan

Mangun kepada Lurah Subeki.

ke tangsi Belanda hari ini, paling lambat nanti malam. Beliau akan dijemput paksa. Bila tidak

diserahkan maka desa ini akan dijadikan karang abang oleh Belanda," Lurah Subeki

mernberikan penjelasan.

”Karena apa, Lurah?”

"Kegiatannya dianggap mengancam kedudukan mereka.”

”Tapi semua itu kan tidak ada buktinya,” sela Bayan Mangun. Sesaat Lurah terdiam

sebentar.

”Sudah. Sekarang masalah ini kita sampaikan saja kepada Kiai Jabar,” kata Lurah Beki

dengan memandang Bayan Mangun. Bayan Mangun hanya mengangguk-angguk tanda

setuju. Mereka pun akhirnya berangkat menuju pondoknya Kiai Jabar.

Suasana pondok terlihat sangat sepi. Tidak terlihat tanda-tanda ada kesibukan yang

mencolok dari santri-santrinya. Mereka terlihat duduk-duduk santai di serambi depan sambil

sesekali melihat ke dalam rumah kiai. Menurut santrinya, kiai masih salat Duha. Setelah

beberapa saat muncullah Kiai Jabar tetapi tidak dari dalam rumah melainkan dari samping

pondok utama. Lurah dan bayan segera menghampiri kiai, mereka berjabat tangan dan saling

berangkulan. Setelah itu mereka duduk di serambi depan. Mereka terlihat serius berbincang-

bincang setelah sebelumnya Lurah Beki memberikan surat bersampul merah itu kepada kiai.

"Bagaimana Kiai?" sela lurah dalam perbincangan itu.

"Pak Lurah, saya sudah paham isi surat dari Belanda itu. Menurut saya semua ini

hanyalah akal-akalan Belanda untuk meneror masyarakat agar semangat perjuangan

kemerdekaan yang sedang menyala di mana-mana menjadi padam kembali,” kata kiai sambil

memandang lurah dan bayan. Yang dipandang terlihat dapat memahaminya.

”Apa langkah yang kita tempuh untuk menghadapinya? Apakah kita akan datang ke Loji

Belanda?” tanya Bayan Mangun. Kiai terlihat diam sebentar seperti memikirkan sesuatu.

"Begini saja Pak Bayan, masalah surat ini nanti saya atasi sendiri. Pak Lurah dan Pak

Bayan tidak usah khawatir akan keselamatan saya dan pondok ini. Allah pasti akan

melindungi kita semua. Saya hanya berpesan, bila Belanda datang untuk menjemput saya,

tolong seluruh warga desa yang laki-laki, besar kecil datang ke pondok untuk tahlilan

"Tapi apakah tidak membahayakan masyarakat, nanti kita malah dikira akan melawan,”

lurah berusaha menyampaikan pendapatnya.

“Tidak, jangan khawatir insyaallah tidak akan ada masalah,” kiai meyakinkan lurah akan

keselamatan warganya.

"Kalau begitu Kiai mau memenuhi keinginan Belanda?” sela Bayan Mangun berusaha

menebak pikiran kiai. Namun kiai hanya tersenyum tanpa memberi jawaban. Perbincangan

mereka akhirnya berakhir. Lurah dan Bayan pun pulang dan segera melaksanakan kata-kata

kiai.

Malam pun tiba, pondok Kiai Jabar sudah penuh warga Balerejo yang sedang

mengadakan acara tahlilan. Beberapa saat kemudian utusan Belanda datang sebanyak satu

peleton dengan senjata siap dimuntahkan bila ada perlawanan dari rakyat atau santri-santri

109

Kiai Jabar. Belanda merasa heran karena tidak melihat ada tanda-tanda perlawanan dari murid

Kiai Jabar. Mereka malah menyambut kedatangan pasukan Belanda itu dengan tari

gambyong dan seni pencak silat serta menjamu dengan segala macam makanan. Tentara

Belanda itu senang sekali. Dalam suasana yang tampak gembira itu, tiba-tiba Kiai Jabar

berdiri dan berbicara di depan warga dan pasukan Belanda.

”Maaf santri-santri dan warga Desa Balerejo, malam ini kita kedatangan tamu tuan-tuan

dan loji Pagotan yang ingin mengundang saya ke loji beliau. Itu sungguh suatu kehormatan

bagi saya. Bagaimana tidak bangga, saya hanyalah seorang kiai yang hanya mengajar ngaji

diberi kesempatan untuk datang ke loji tuan-tuan....”

Belum selesai Kiai bicara, tiba-tiba komandan Belanda itu berdiri dengan wajah cemas.

Beberapa temannya tampak mendekatinya. Mereka berbisik-bisik, Sesaat kemudian

komandan Belanda itu bicara di depan warga yang sejak tadi cemas memikirkan nasib kiai

mereka,

"Eehhmm...maaf Kiai Jabar dan saudara-saudara semua. Saya tidak bisa lama di sini,

kami diminta segera kembali ke loji karena loji kami dibakar oleh banci-banci gila...Maaf,

sekali lagi maaf kami pamit dan terima kasih atas semuanya.”

Tentara Belanda pun segera meninggalkan pondok tanpa membawa Kiai Jabar. Orang-

orang yang berada di pondok terheran-heran. Dalam suasana yang menyenangkan dan

membingungkan warga tersebut, kiai kembali berbicara.

”Saudara-saudaraku, Allah telah menolong kita. Kita telah menang, pasukan Belanda itu

kembali ke lojinya yang terbakar. Marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT.

Semoga Allah selalu melindungi laskar-laskar pejuang kita di mana pun berada. Amin. Pak

Lurah dan saudaraku warga desa, silakan kembali untuk beristirahat, semoga besok kita

semua masih bisa melihat cerahnya mentari pagi.”

Warga desa yang hadir di pondok segera pamit pulang ke rumahnya masing-masing

ketika kiai selesai bicara. Hati mereka merasa tenang karena pidato Kiai Jabar yang

menyejukkan dan menenteramkan.

Sinar matahari pagi telah menerangi Desa Balerejo. Semua warga harap-harap cemas

menunggu berita terbakarnya Loji Belanda. Kabarnya yang membakar adalah kelompok

gelandangan banci, entah dari mana asalnya. Dari tempat kejadian ditemukan salah satu

korban yang terbakar, tetapi sudah tidak dapat dikenali lagi. Berita tewasnya gelandangan

banci sampai juga ke Pondok Kiai Jabar. Kabarnya, Kiai Jabar mengadakan tahlilan untuk

mendoakan arwahnya. Ada suara-suara sumbang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya

bahwa korban banci yang tewas terbakar itu adalah murid Kiai Jabar. Lurah Subeki pun

kabarnya telah menanyakan masalah itu kepada Kiai Jabar, namun beliau hanya tersenyum

saja. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya mereka. Yang pasti, hingga kini

banyak ditemui banci di Madiun, Apakah ada hubungannya dengan peristiwa zaman Belanda

itu? Tidak seorang pun yang bisa memastikan. Akan tetapi, siapa pun mereka, mereka telah

berkorban demi bangsa dan negaranya dengan caranya sendiri.

110


Story DNA

Moral

True strength and patriotism can come from unexpected sources, and cunning can overcome brute force.

Plot Summary

In Dutch-occupied Balerejo, villagers live in fear due to rumors of an impending attack and false accusations against their revered Kiai Jabar. Kiai Jabar, a wise religious leader, devises a cunning plan, training his seemingly female students in martial arts and dance. When the Dutch issue an ultimatum for his surrender, Kiai Jabar instructs the villagers to gather for a prayer meeting. As a Dutch platoon arrives, they are met not with resistance, but with a festive display of culture and hospitality. During Kiai Jabar's speech, the Dutch commander abruptly announces their headquarters is on fire, supposedly by 'mad banci' (transgender individuals), forcing their retreat and leaving the villagers to celebrate their unexpected victory.

Themes

resistance against oppressioncunning over brute forcesacrifice for the greater goodhidden strength

Emotional Arc

fear to relief to quiet triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate

Narrative Elements

Conflict: person vs society
Ending: moral justice
The 'banci' as symbols of hidden strength and unconventional heroism.Pencak Silat and Gambyong dance as tools of deception and resistance.The red-sealed letter as a symbol of Dutch intimidation.

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: pre-industrial (Dutch colonial era)

The story is set during the Dutch colonial period in Indonesia, specifically in the Madiun region, highlighting the struggle for independence and the various forms of resistance, including covert and unconventional methods. The use of 'banci' as freedom fighters is a unique twist on historical narratives.

Plot Beats (15)

  1. A group of 'banci' (transgender individuals) are seen walking purposefully out of the village at dusk.
  2. Rumors spread in Balerejo that the Dutch will burn the village, falsely accusing Kiai Jabar's pesantren of attacking a Dutch outpost.
  3. Villagers live in fear, unable to work peacefully, despite the rumors not materializing immediately.
  4. Lurah Subeki and Bayan Mangun consult Kiai Jabar, who explains the rumors are a Dutch tactic to sow discord and break the spirit of independence.
  5. Kiai Jabar begins training his students, who appear to be women, in pencak silat and Gambyong dance, which raises local curiosity but is explained to the Dutch as cultural preservation.
  6. A Dutch envoy visits Kiai Jabar to inquire about the activities but is satisfied with his explanation.
  7. Lurah Subeki receives a red-sealed letter from the Dutch, demanding Kiai Jabar's surrender by nightfall or the village will be destroyed.
  8. Lurah Subeki and Bayan Mangun inform Kiai Jabar, who calmly interprets it as another Dutch terror tactic.
  9. Kiai Jabar instructs them that if the Dutch come, all male villagers should gather at the pondok for a tahlilan, assuring them of safety.
  10. That night, the pondok is full of villagers for the tahlilan when a Dutch platoon arrives, expecting resistance.
  11. The Dutch are met with a welcoming atmosphere, featuring Gambyong dance, pencak silat demonstrations, and food.
  12. Kiai Jabar begins a speech, but the Dutch commander interrupts, announcing their loji is on fire, supposedly by 'mad banci', and they must leave immediately.
  13. The Dutch depart without Kiai Jabar, leaving the villagers bewildered and relieved.
  14. Kiai Jabar declares their victory and attributes it to Allah's help, hinting at 'laskar-laskar pejuang' (warrior troops).
  15. The next morning, news spreads of the Dutch loji burning, attributed to 'gelandangan banci' (homeless banci), one of whom died. Kiai Jabar holds a tahlilan for the deceased, smiling enigmatically when asked about the connection to his students.

Characters

👤

Kiai Jabar

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a respected, calm, and wise religious leader.

Attire: Traditional religious attire, likely a sarong and a Koko shirt, common for a Kiai in Indonesia.

A serene smile when asked about the 'banci' or the burned loji.

Calm, wise, strategic, devout, patriotic.

👤

Lurah Subeki

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Traditional village head attire, likely a batik shirt or similar formal wear for a village leader.

A worried expression while discussing the villagers' fear.

Concerned, responsible, seeking guidance, easily worried.

👤

Bayan Mangun

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Traditional village attire, likely simple peasant clothing.

Nodding in agreement or curiosity during discussions.

Curious, supportive, slightly skeptical, loyal.

👤

Laskar Banci

human young adult non-human

A group of 'banci' (transgender women or effeminate men) who are Kiai Jabar's students, trained in pencak silat and traditional dance.

Attire: Initially implied to be dressed in traditional women's attire for dance (e.g., kebaya, sarong for Gambyong dance), but also capable of combat.

Performing the Gambyong dance while secretly being skilled in pencak silat.

Brave, strategic, deceptive (in a good way), patriotic, disciplined.

👤

Komandan Belanda

human adult male

Not explicitly described, but a military commander.

Attire: Dutch colonial military uniform.

An anxious face while announcing the burning of the loji.

Authoritative, easily deceived, anxious when faced with unexpected events.

Locations

Jalan setapak desa menuju ke luar desa

outdoor dusk Implied dry season, clear sky

A narrow path in the village leading out, with the sun setting behind Mount Lawu, casting an orange glow on the western sky.

Mood: Serious, determined, mysterious

The Laskar Banci (transvestite troop) walks silently and quickly out of the village.

Mount Lawu (in the distance) orange sky bats night birds village path

Pondok Pesantren Kiai Jabar (Kiai Jabar's Islamic Boarding School)

indoor

A quiet Islamic boarding school, initially with female students focused on religious studies, gardening, and farming. Later, it becomes a training ground for pencak silat and Gambyong dance. It has a front porch where discussions take place.

Mood: Initially peaceful and religious, then becomes a hub of secret training and strategic discussions, later filled with villagers for a tahlilan (prayer gathering) and cultural performance.

Kiai Jabar holds discussions with the village head, trains his students in martial arts and dance, and hosts the climactic confrontation with the Dutch soldiers.

front porch main building/house students (santri) gardens/farms (implied) villagers

Loji Belanda di Pabrik Gula Pagotan (Dutch Lodge at Pagotan Sugar Factory)

indoor night implied dry season

A Dutch military post or headquarters located within the Pagotan Sugar Factory. It is later described as being burned down.

Mood: Initially a symbol of Dutch authority and threat, later becomes a scene of destruction and chaos.

The Dutch lodge is burned down by the 'mad transvestites', forcing the Dutch soldiers to abandon their mission at Kiai Jabar's pondok.

Dutch soldiers (implied) factory buildings (implied) fire/smoke (later)