Legenda Dewi Rengganis
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Legenda Dewi Rengganis
gadaan tanah Jawa masih hutan belantara gung liwang liwung. Jin, setan, iblis, dan
lelembut masih bergentayangan di mana-mana. Di tengah hutan yang lebat di
Pegunungan Yang tinggallah seorang pertapa yang sangat sakti. Semua makhluk halus
tunduk padanya. Oleh karena itu, ia disebut Jin Pandita.
Pada suatu hari, Jin Pandita melakukan perjalanan keliling dunia. Negeri pertama yang
disinggahi adalah Tibet dilanjutkan ke Cina, India, Bagdad, dan Mesir. Di padang pasir yang
tandus dan panas, Jin 'Pandita bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjalan
limbung, matanya bengkak, dan terus terisak menangis. Perempuan itu ternyata berasal dari
sebuah negeri kecil tidak jauh dari Arab, yaitu Negeri Medayin. Ia diusir dari Istana Medayin
karena melakukan kesalahan melanggar tata susila yang tidak mungkin dimaafkan. Ia
ketahuan berbuat asusila dengan Imam Suwangsa yang juga warga istana Medayin. Karena
dianggap membuat malu, ia diusir dari istana.
Jin Pandita merasa iba sehingga mengurungkan niatnya mengelilingi dunia. Jin Pandita
membawa putri Medayin ke pertapaannya di Gunung Argopuro: Di Gunung Argopuro,
mereka hidup bahagia sebagai "suami istri”. Putri Medayin telah bertobat dari kesalahannya
dan atas bimbingan Jin Pandita, ia menjadi pertapa dengan sebutan Nyai Kuning. Putri
Medayin atau Nyai Kuning melahirkan anak perempuan yang jelita dan diberi nama
Rengganis. Bayi perempuan itu sesungguhnya bukan anak kandung Jin Pandita, tetapi anak
Imam Suwangsa karena ketika Jin Pandita menemukan putri Medayin, sang putri sudah
dalam keadaan hamil akibat hubungannya dengan Imam Suwangsa.
Jin Pandita merasa cemas dan takut melihat kecantikan bayi Rengganis yang mungkin
akan mendatangkan mala petaka di kemudian hari sehingga memohon petunjuk dewata, Ia
mendapat ilham agar mengusap tanda kewanitaan Dewi Rengganis. Jin Pandita melakukan
petunjuk dewata tersebut dengan mengusap tanda kewanitaan Rengganis. Rahasia itu hanya
diketahui oleh Jin Pandita, Nyai Kuning, dan Rengganis.
Semakin hari Pertapaan Argopuro makin ramai. Banyak orang datang untuk berguru,
menjadi cantrik, atau menetap di sekitar padepokan. Jin Pandita pelan-pelan menurunkan
seluruh kesaktiannya pada Rengganis. Rengganis remaja menjadi perempuan yang tidak
hanya cantik jelita tetapi juga sakti madraguna. Oleh karena itu, ia diberi nama Dewi, menjadi
Dewi Rengganis. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, trengginas, lincah, dan gesit
seperti rusa. Ia menjadi kebanggaan seluruh warga padepokan dan kemudian diangkat
menjadi ratu.
Setelah menjadi ratu, Dewi Rengganis segera membangun istana lengkap dengan taman
sari yang indah dan nyaman. Kecantikan dan kesaktian Dewi Rengganis terkenal ke seluruh
dunia. Ia mendatangkan beraneka macam bunga untuk memperindah taman sarinya. Seluruh
warga juga menyukai bunga sehingga mereka mengikuti jejak ratunya menanam beraneka
ragam bunga yang indah dan harum. Dewi Rengganis juga membentuk satuan prajurit untuk
mengawal dan menjaga istananya. Satuan-satuan prajurit itu tidak hanya beranggotakan
43
manusia tetapi juga jin, iblis, setan, dan segala makhluk halus. Di bawah bimbingan Jin
Pandita, ia menjadi ratu yang adil dan bijaksana sehingga warganya hidup makmur, aman
tenteram, dan mencintai ratunya.
Dewi Rengganis mempunyai dua senjata pusaka yang sakti pemberian dewata saat
bertapa, yaitu cemeti dan cinde. Cemeti menjadi pusaka andalan yang disimpan di istana
dengan pengawalan ketat dan berlapis-lapis. Cemeti merupakan senjata ampuh yang jika
diputar dapat menimbulkan angin ribut yang dahsyat dan jika dikibaskan menimbulkan bunyi
menggelegar seperti halilintar. Karena akibatnya yang sangat dahsyat, senjata itu jarang
digunakan. Cinde adalah pusaka berupa kain mirip selendang yang dililitkan di pinggang.
Senjata ini yang membuat Dewi Rengganis dapat berlari sangat cepat seperti terbang. Akan
tetapi, rahasia kesaktian Dewi Rengganis sesungguhnya ada pada lubang kecil di telapak
tangannya yang tidak semua orang tahu karena selalu ditutupi dengan jarinya.
Kecantikan dan kesaktian Dewi Rengganis tersiar ke seluruh dunia sehingga membuat
banyak raja muda jatuh cinta dan ingin melamarnya sebagai permaisuri. Tidak sedikit yang
takut mendengar kesaktian Dewi Rengganis. Puluhan raja mengirimkan utusan ke Istana
Dewi Rengganis dengan maksud yang sama, ingin melamarnya. Jin Pandita teringat pada
dugaannya semula bahwa kecantikan Dewi Rengganis dapat mendatangkan mala petaka.
Para raja terlibat persaingan sengit untuk memperebutkan cinta Dewi Rengganis. Sang
pendeta mencari cara untuk menghindari persaingan empat puluh raja yang telah
menyampaikan pinangannya itu. Jalan sayembara terbuka mengadu kekuatan dipilih Jin
Pandita untuk mencari pemenang yang berhak menikahi Dewi Rengganis. Hari dan tanggal
ditentukan dan diumumkan kepada para pelamar.
Pada saat para raja yang akan mengikuti sayembara mengadu kekuatan memperebutkan
dirinya, Dewi Rengganis semakin sering melakukan perjalanan keliling melihat-lihat
persiapan para raja. Dalam perjalanan kelilingnya itu, Dewi Rengganis terpikat pada sebuah
taman yang indah di dalam istana negara Medayin. Di dalam taman sari terdapat kolam
renang dengan ikan-ikan yang indah dan bunga yang harum serta beraneka warna. Dewi
Rengganis masuk ke dalam taman itu dan melihat ada bunga yang sangat menarik hatinya
karena tidak ada di tamannya, yaitu bunga seribu manis. Bunga seribu manis jika mekar
hanya tujuh kuntum dengan tujuh warna yang berbeda: merah, jingga, hijau, kuning, biru,
nila, dan putih. Saat berjalan-jalan di taman itu, Dewi Rengganis kepanasan sehingga masuk
ke dalam kolam renang untuk mandi. Sebelum pulang, ia memetik sekuntum bunga seribu
manis.
Sesampai di Argopuro, Dewi Rengganis menjadi gelisah dan resah hingga tidak bisa
tidur. Ia ingin segera kembali ke taman di Istana Medayin untuk mengambil seluruh bunga
seribu manis. Keesokan harinya, Dewi Rengganis kembali mendatangi taman itu. Ia masuk
ke kolam, berenang, dan bermain dengan ikan-ikan yang indah. Selesai mandi ia ingin
memetik seluruh bunga seribu manis, tetapi ia takut bunga yang indah itu akan layu setelah di
Argopuro. Oleh karena itu, ia hanya memetik sekuntum dan meninggalkan lima kuntum. Ia
pulang ke Argopuro dengan senyum puas karena keinginannya tercapai. Tanpa
sepengetahuan Dewi Rengganis, kehadirannya yang kedua itu telah diketahui oleh Imam ,
Suwangsa, pemilik taman Medayin. Akan tetapi, Imam Suwangsa pingsan setelah melihat
wajah Dewi Rengganis yang sedang berenang di kolam karena wajah itu mengingatkannya
pada perempuan yang sangat dicintainya. Ia sudah mencari perempuan yang perah diusir
dari istananya ke berbagai penjuru dunia, tetapi tidak ditemukan. Wajah" Dewi Rengganis
serupa dengan wajah perempuan yang selalu dirindukannya itu. Imam Suwangsa kecewa
karena ketika ia sadar, Dewi Rengganis sudah pergi. Ia juga terkejut dan kesal karena bunga
seribu manisnya sudah hilang dua kuntum sehingga ia bertekad akan menangkap basah
perempuan yang sudah memasuki taman dan mencuri bunganya.
Imam Suwangsa menunggu Dewi Rengganis dengan bersembunyi di taman. Setelah
menunggu cukup lama, Dewi Rengganis muncul dan segera melepas pakaiannya kemudian
masuk ke dalam kolam untuk mandi. Imam Suwangsa muncul menggertak akan melaporkan
kelancangan Dewi Rengganis kepada Raja Arab. Dewi Rengganis terkejut tetapi ia tidak
dapat keluar dari kolam karena pakaian dan cindenya berada di tangan Imam Suwangsa.
Dewi Rengganis tidak ingin rahasianya sebagai perempuan yang tidak memiliki tanda
kelamin akan diketahui Imam Suwangsa. Oleh karena itu, ia terpaksa menjawab semua
pertanyaan Imam Suwangsa menyangkut asal usulnya. Dewi Rengganis juga akhirnya
menyetujui keinginan Imam Suwangsa untuk menjadikannya istri agar pakaian dan cindenya
dikembalikan. Akan tetapi, Dewi Rengganis mengajukan syarat agar Imam Suwangsa
mengikuti sayembara di Argopuro, di tanah Jawa. Imam Suwangsa setuju lalu ia
mengembalikan cinde dan pakaian Dewi Rengganis. Setelah mendapatkan cinde dan
pakaiannya, Dewi Rengganis menghilang,
Imam Suwangsa menghadap pamannya, Umanmaya dan Umarmadi, yang merupakan
panglima andalan Negeri Medayin dan menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Kedua
pamannya setuju mengikuti sayembara itu untuk Imam Suwangsa. Mereka bersiap untuk
mengikuti sayembara di tanah Jawa.
Hari yang ditentukan untuk sayembara mengadu kekuatan tiba. Raja yang berasal dari
berbagai negara sudah hadir dengan pengawal-pengawalnya. Peserta sayembara adalah 40
orang dari 40 negara ditambah utusan dari Medayin menjadi 41 orang. Bumi Rengganis yang
biasanya sunyi berkabut menjadi ramai, riuh rendah oleh banyaknya prajurit pengawal yang
datang mendampingi rajanya.
Sayembara dimulai dan satu per satu peserta melakukan perang tanding. Satu per satu
pula peserta yang tersisih segera mengundurkan diri dari arena. Sayembara berlangsung
berhari-hari dan berjalan dengan tertib. Akan tetapi, suasana yang aman itu tiba-tiba menjadi
kacau ketika ada seorang raja yang tersisih sementara para pengawalnya tidak dapat
menerima. Pertempuran hebat antarpeserta sayembara tidak dapat dihindari. Mayat
bergelimpangan dan darah para prajurit yang gugur membela rajanya membasahi bumi
Rengganis. Peperangan hanya terjadi di kaki Gunung Argopuro sehingga istana Dewi
Rengganis di puncak tetap berdiri megah. Peperangan itu mereda setelah banyak menelan
korban jiwa dan mereka menyadari tidak ada gunanya melanjutkan peperangan karena
tujuannya adalah mengikuti sayembara. Peserta sayembara ada yang meninggalkan arena dan
ada yang tetap menunggu untuk mengetahui pemenangnya. Prajurit Dewi Rengganis
membersihkan arena dengan menguburkan para prajurit pengawal raja yang gugur di puncak-
puncak bukit di Argopuro.
Setelah suasana berkabung berkurang dan keadaan mereda kembali, sayembara
dilanjutkan dengan syarat yang lebih berat, yaitu pemenang sayembara harus mengadu
kekuatan dengan Dewi Rengganis. Dewi Rengganis yang cantik jelita dan baik
memperlihatkan sisi lainnya yang ganas. Perang tanding antarraja dilanjutkan dan akhirnya
sayembara itu dimenangkan oleh utusan Medayin, Umarmaya dan Umarmadi. Oleh karena
itu, Umarmaya dan Umarmadi harus berhadapan dengan Dewi Rengganis. Ketika mereka
45
sudah berhadapan, keadaan di arena sayembara menjadi sunyi dan tegang. Umarmaya dan
Umarmadi mengeluarkan senjata yang dapat menyemburkan api, Dewi Rengganis
mengeluarkan cemetinya untuk membuat angin ribut. Saat cemeti dikibaskan terjadi ledakan
dahsyat yang disusul dengan hujan lebat yang hanya terjadi di arena sehingga api yang
diciptakan Umarmaya dan Umarmadi padam seketika. Babak pertama ini dimenangkan oleh
Dewi Rengganis. Selanjutnya, Umarmaya dan Umarmadi mendatangkan cacing yang
berjumlah jutaan memenuhi arena. Dewi Rengganis merasa jijik tetapi ia segera bersemedi
minta bantuan dewata. Seketika datang ribuan burung belibis mematuki cacing-cacing tanah
tersebut hingga habis. Akan tetapi, burung-burung belibis itu rupanya belum puas dengan
cacing-cacing itu sehingga menyerbu Dewi Rengganis hingga kewalahan dan menderita
banyak luka goresan. Melihat situasi yang tidak terkendali itu, Umarmaya dan Umarmadi
segera datang menolong Dewi Rengganis dengan menghalau burung-burung belibis itu.
Akhirnya, Dewi Rengganis mengakui keunggulan dua satria Medayin itu dan menyatakannya
sebagai pemenang:
Dewi Rengganis mengumumkan pemenang sayembara dan mengatakan bahwa
Umarmaya dan Umarmadi mengikuti sayembara mewakili pangeran dari Medayin yang
bemama Imam Suwangsa sehingga yang berhak menikahinya adalah Imam Suwangsa.
Warga Padepokan Argopuro menyambut dan memberi hormat pada Imam Suwangsa sebagai
calon suami ratu mereka. Perkawinan Dewi Rengganis dan Imam Suwangsa dilangsungkan
dengan pesta pora yang meriah dan melibatkan seluruh warga tanpa ada yang tahu bahwa
perkawinan mereka merupakan perkawinan terkutuk antara ayah dan anak karena satu-
satunya saksi yang mengetahui hubungan darah mereka hanyalah Nyai Kuning. Nyai Kuning,
yang tidak lain ibu Dewi Rengganis adalah putri Medayin yang diusir dari istana karena
melanggar susila dengan Imam Suwangsa. Nyai Kuning sudah tiada sehingga tidak ada yang
tahu bahwa Dewi Rengganis sesungguhnya adalah anak kandung Imam Suwangsa.
Perkawinan terlarang itu tetap berlangsung.
Kehadiran Imam Suwangsa di Istana Argopuro membuat warga merasa makin tenteram,
kecuali Dewi Rengganis. Dewi Rengganis tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai
seorang istri karena ia tidak memiliki alat kelamin. Ia takut, rahasia dirinya akan diketahui
oleh Imam Suwangsa. Oleh karena itu, ia segera menghadap ayahnya untuk meminta nasihat.
Jin Pandita merasa bersalah pada Dewi Rengganis karena dirinyalah yang menghapus tanda
kewanitaannya. Melihat penderitaan Dewi Rengganis, Jin Pandita, segera bertapa untuk
meminta petunjuk dewata, Dalam pertapaannya, ia mendapat petunjuk untuk membuka
kembali tanda kewanitaan itu dengan daun alang-alang. Jin Pandita segera memberi tahu
Dewi Rengganis agar menggunakan daun alang-alang untuk membuat tanda kewanitaan.
Dewi Rengganis segera mengikuti petunjuk ayahnya. Ia menggoreskan ujung daun alang-
alang di tanda kewanitaannya dan atas rida Tuhan terbentuklah tanda kewanitaan dan
sempumalah Dewi Rengganis sebagai seorang perempuan. Rumput ilalang itu kemudian
dibuang dan berubah menjadi tanaman sereh yang bermanfaat untuk bumbu, minuman, dan
obat. Tanaman itu banyak dijumpai di Gunung Argopuro. Setelah memiliki tanda kewanitaan,
selamanya.
46
Story DNA
Moral
Past transgressions can have unforeseen and complex consequences that ripple through generations, and divine intervention may be necessary to rectify them.
Plot Summary
A powerful hermit, Jin Pandita, raises Rengganis, the secret daughter of a disgraced princess and Imam Suwangsa, after magically removing her feminine essence at birth. Rengganis grows into a beautiful queen, attracting many suitors, and is eventually forced to marry Imam Suwangsa after he discovers her bathing. Struggling with her physical incompleteness, Rengganis seeks help from Jin Pandita, who, through divine guidance, helps her restore her female anatomy using alang-alang grass, allowing her to live happily with her husband, unaware of their true father-daughter relationship.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set in a mythical, pre-Islamic Java, where animistic beliefs and the power of hermits (pertapa) were prevalent. The mention of 'Medayin' and 'Arab' suggests a blend of local folklore with influences from Middle Eastern narratives, possibly from trade or early Islamic contact, though the core narrative remains distinctly Javanese.
Plot Beats (15)
- Jin Pandita, a powerful hermit, finds a pregnant, disgraced princess from Medayin in the desert and brings her to his hermitage.
- The princess, now Nyai Kuning, gives birth to Rengganis, who is secretly the child of Imam Suwangsa.
- Jin Pandita, fearing Rengganis's beauty, removes her feminine essence at birth through divine instruction.
- Rengganis grows into a beautiful, powerful queen, attracting many royal suitors.
- Jin Pandita organizes a contest (sayembara) to choose Rengganis's husband from 40 kings.
- Rengganis visits Medayin's royal garden, is enchanted by 'seribu manis' flowers, and bathes in a pond.
- Imam Suwangsa, the garden's owner, discovers Rengganis, recognizes her resemblance to his past lover, and forces her to agree to marry him by taking her clothes and cinde.
- Imam Suwangsa's uncles, Umarmaya and Umarmadi, represent him in the contest in Argopuro.
- The contest descends into chaos and battle among the kings, then resumes with a new rule: the winner must defeat Rengganis.
- Umarmaya and Umarmadi defeat Rengganis in a magical duel, winning her hand for Imam Suwangsa.
- Rengganis and Imam Suwangsa marry, unaware they are father and daughter, as Nyai Kuning (the only one who knew) has passed away.
- Rengganis struggles with her lack of female genitalia and seeks help from Jin Pandita.
- Jin Pandita, remorseful, seeks divine guidance and instructs Rengganis to use alang-alang grass.
- Rengganis uses the alang-alang grass, restoring her female anatomy and becoming a complete woman.
- The alang-alang grass transforms into useful lemongrass, and Rengganis lives happily with Imam Suwangsa.
Characters
Dewi Rengganis
Beautiful, agile, nimble, and swift like a deer. Initially lacked female genitalia.
Attire: Wears a 'cinde' (a cloth similar to a sash) wrapped around her waist, which is also a magical artifact.
Beautiful, powerful, just, wise, initially restless and anxious, later fierce in battle.
Jin Pandita
A very powerful hermit, revered by all spirits.
Attire: Simple hermit's attire, typical of a spiritual master.
Compassionate, wise, powerful, protective, sometimes anxious.
Nyai Kuning
Beautiful, with swollen eyes and crying when first encountered.
Attire: Implied to be simple attire after becoming a hermit, previously royal Medayin clothing.
Initially disgraced and sorrowful, later repentant and devout.
Imam Suwangsa
Not explicitly described, but implied to be a man of status.
Attire: Implied to be royal or noble attire, fitting for a prince from Medayin.
Persistent, manipulative (in regaining his items), determined.
Umarmaya
A strong warrior, capable of wielding fire-spitting weapons.
Attire: Warrior's attire, fitting for a commander.
Loyal, strong, strategic.
Umarmadi
A strong warrior, capable of summoning millions of worms.
Attire: Warrior's attire, fitting for a commander.
Loyal, strong, strategic.
Locations
Hutan Lebat di Pegunungan Yang
Hutan belantara agung liwang liwung, tempat jin, setan, iblis, dan lelembut bergentayangan. Di tengah hutan ini terdapat pertapaan Jin Pandita.
Mood: mysterious, ancient, powerful, untamed
Jin Pandita's original dwelling place before bringing Putri Medayin.
Padang Pasir Tandus dan Panas
Sebuah padang pasir yang tandus dan panas.
Mood: desolate, harsh, sorrowful
Jin Pandita meets the weeping Putri Medayin.
Pertapaan di Gunung Argopuro
Pertapaan Jin Pandita di Gunung Argopuro, yang kemudian menjadi ramai dengan cantrik dan padepokan. Kemudian menjadi istana Dewi Rengganis.
Mood: spiritual, peaceful, later bustling, royal, and eventually chaotic
Putri Medayin and Jin Pandita live here; Rengganis is born and grows up here; it becomes her kingdom and the site of the sayembara.
Taman Sari di Istana Medayin
Sebuah taman yang indah di dalam istana negara Medayin, dengan kolam renang berisi ikan-ikan indah, bunga-bunga harum beraneka warna, dan bunga seribu manis.
Mood: beautiful, enchanting, alluring
Dewi Rengganis visits and is captivated by the 'seribu manis' flower, leading to her encounter with Imam Suwangsa.
Arena Sayembara di Kaki Gunung Argopuro
Area di kaki Gunung Argopuro, biasanya sunyi dan berkabut, yang menjadi ramai dan riuh rendah dengan prajurit. Tempat pertempuran hebat dan sayembara mengadu kekuatan.
Mood: tense, competitive, chaotic, violent, later solemn
The grand competition for Dewi Rengganis's hand, involving many kings and culminating in battles and magical duels.