Legenda Dewi Rengganis
by Balai Bahasa Surabaya

Rengganis dan Rumput Ajaib
Dulu, ada seorang kakek baik. Dia punya nama Kakek Jin. Dia tinggal di hutan hijau. Hutan itu besar dan sejuk. Pohon-pohon tinggi. Bunga-bunga cantik. Kakek Jin suka hutan itu.
Suatu hari, Kakek Jin pergi jalan. Dia lihat seorang Ibu. Ibu itu bawa bayi. Bayi itu cantik sekali. Dia punya nama Rengganis. Ibu itu sakit. Dia minta tolong Kakek Jin. "Tolong jaga bayi ini," dia bilang. Suaranya lembut. Lalu Ibu itu pergi. Kakek Jin bawa Rengganis pulang.
Bayi Rengganis cantik. Tapi ada yang aneh. Kadang dia nangis. Kakek Jin tidak tahu mengapa. Mungkin ada sihir. Rengganis rasa ada yang hilang. Sama dengan puzzle kurang satu. Hatinya rasa kosong.
Rengganis tumbuh besar. Dia jadi anak baik. Dia juga kuat. Tidak takut. Rengganis jadi ratu bijak. Rakyat sayang untuk dia. Dia bantu semua orang. Dia senang membantu.
Banyak orang datang. Mereka mau jadi teman Rengganis. Kakek Jin punya ide. "Mari kita bikin lomba!" dia bilang. Lomba untuk cari teman baik. Lomba itu seru.
Dua kakek datang dari jauh. Mereka punya nama Umarmaya dan Umarmadi. Mereka mau ikut lomba. "Kami mau ikut!" kata mereka. Mereka senang.
Lomba dimulai. Ada lomba lari. Ada lomba teka-teki. Ada lomba lompat. Semua senang. Tidak ada yang marah. Semua main dengan baik. Semua tertawa.
Umarmaya dan Umarmadi sangat pintar. Mereka hampir menang. Rengganis juga hebat. Akhirnya mereka seri. Mereka jadi teman baik. Mereka saling bantu.
Rengganis senang punya teman. Tapi kadang dia masih sedih. Hatinya masih rasa kosong. Dia pergi pada Kakek Jin. "Kakek, aku rasa ada yang hilang," dia bilang. Matanya sayu.
Kakek Jin berpikir keras. Dia doa minta tolong. Ada suara lembut. Suara itu bicara tentang rumput ajaib. Rumput itu punya nama alang-alang. Rumput itu bisa bantu.
Rengganis pegang rumput itu. Dia rasa hangat. Dia rasa senang. Yang hilang di hatinya sudah ketemu! Rengganis senyum lebar. Hatinya penuh sekarang. Dia tidak sedih lagi.
Rumput ajaib itu berubah. Dia jadi serai harum. Baunya enak sekali. Wangi. Segar. Rengganis senyum. Hatinya penuh. Dan rumput ajaib itu jadi serai harum. Semua orang suka baunya. Rengganis hidup bahagia.
Original Story
Legenda Dewi Rengganis gadaan tanah Jawa masih hutan belantara gung liwang liwung. Jin, setan, iblis, dan lelembut masih bergentayangan di mana-mana. Di tengah hutan yang lebat di Pegunungan Yang tinggallah seorang pertapa yang sangat sakti. Semua makhluk halus tunduk padanya. Oleh karena itu, ia disebut Jin Pandita. Pada suatu hari, Jin Pandita melakukan perjalanan keliling dunia. Negeri pertama yang disinggahi adalah Tibet dilanjutkan ke Cina, India, Bagdad, dan Mesir. Di padang pasir yang tandus dan panas, Jin 'Pandita bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjalan limbung, matanya bengkak, dan terus terisak menangis. Perempuan itu ternyata berasal dari sebuah negeri kecil tidak jauh dari Arab, yaitu Negeri Medayin. Ia diusir dari Istana Medayin karena melakukan kesalahan melanggar tata susila yang tidak mungkin dimaafkan. Ia ketahuan berbuat asusila dengan Imam Suwangsa yang juga warga istana Medayin. Karena dianggap membuat malu, ia diusir dari istana. Jin Pandita merasa iba sehingga mengurungkan niatnya mengelilingi dunia. Jin Pandita membawa putri Medayin ke pertapaannya di Gunung Argopuro: Di Gunung Argopuro, mereka hidup bahagia sebagai "suami istri”. Putri Medayin telah bertobat dari kesalahannya dan atas bimbingan Jin Pandita, ia menjadi pertapa dengan sebutan Nyai Kuning. Putri Medayin atau Nyai Kuning melahirkan anak perempuan yang jelita dan diberi nama Rengganis. Bayi perempuan itu sesungguhnya bukan anak kandung Jin Pandita, tetapi anak Imam Suwangsa karena ketika Jin Pandita menemukan putri Medayin, sang putri sudah dalam keadaan hamil akibat hubungannya dengan Imam Suwangsa. Jin Pandita merasa cemas dan takut melihat kecantikan bayi Rengganis yang mungkin akan mendatangkan mala petaka di kemudian hari sehingga memohon petunjuk dewata, Ia mendapat ilham agar mengusap tanda kewanitaan Dewi Rengganis. Jin Pandita melakukan petunjuk dewata tersebut dengan mengusap tanda kewanitaan Rengganis. Rahasia itu hanya diketahui oleh Jin Pandita, Nyai Kuning, dan Rengganis. Semakin hari Pertapaan Argopuro makin ramai. Banyak orang datang untuk berguru, menjadi cantrik, atau menetap di sekitar padepokan. Jin Pandita pelan-pelan menurunkan seluruh kesaktiannya pada Rengganis. Rengganis remaja menjadi perempuan yang tidak hanya cantik jelita tetapi juga sakti madraguna. Oleh karena itu, ia diberi nama Dewi, menjadi Dewi Rengganis. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, trengginas, lincah, dan gesit seperti rusa. Ia menjadi kebanggaan seluruh warga padepokan dan kemudian diangkat menjadi ratu. Setelah menjadi ratu, Dewi Rengganis segera membangun istana lengkap dengan taman sari yang indah dan nyaman. Kecantikan dan kesaktian Dewi Rengganis terkenal ke seluruh dunia. Ia mendatangkan beraneka macam bunga untuk memperindah taman sarinya. Seluruh warga juga menyukai bunga sehingga mereka mengikuti jejak ratunya menanam beraneka ragam bunga yang indah dan harum. Dewi Rengganis juga membentuk satuan prajurit untuk mengawal dan menjaga istananya. Satuan-satuan prajurit itu tidak hanya beranggotakan 43 manusia tetapi juga jin, iblis, setan, dan segala makhluk halus. Di bawah bimbingan Jin Pandita, ia menjadi ratu yang adil dan bijaksana sehingga warganya hidup makmur, aman tenteram, dan mencintai ratunya. Dewi Rengganis mempunyai dua senjata pusaka yang sakti pemberian dewata saat bertapa, yaitu cemeti dan cinde. Cemeti menjadi pusaka andalan yang disimpan di istana dengan pengawalan ketat dan berlapis-lapis. Cemeti merupakan senjata ampuh yang jika diputar dapat menimbulkan angin ribut yang dahsyat dan jika dikibaskan menimbulkan bunyi menggelegar seperti halilintar. Karena akibatnya yang sangat dahsyat, senjata itu jarang digunakan. Cinde adalah pusaka berupa kain mirip selendang yang dililitkan di pinggang. Senjata ini yang membuat Dewi Rengganis dapat berlari sangat cepat seperti terbang. Akan tetapi, rahasia kesaktian Dewi Rengganis sesungguhnya ada pada lubang kecil di telapak tangannya yang tidak semua orang tahu karena selalu ditutupi dengan jarinya. Kecantikan dan kesaktian Dewi Rengganis tersiar ke seluruh dunia sehingga membuat banyak raja muda jatuh cinta dan ingin melamarnya sebagai permaisuri. Tidak sedikit yang takut mendengar kesaktian Dewi Rengganis. Puluhan raja mengirimkan utusan ke Istana Dewi Rengganis dengan maksud yang sama, ingin melamarnya. Jin Pandita teringat pada dugaannya semula bahwa kecantikan Dewi Rengganis dapat mendatangkan mala petaka. Para raja terlibat persaingan sengit untuk memperebutkan cinta Dewi Rengganis. Sang pendeta mencari cara untuk menghindari persaingan empat puluh raja yang telah menyampaikan pinangannya itu. Jalan sayembara terbuka mengadu kekuatan dipilih Jin Pandita untuk mencari pemenang yang berhak menikahi Dewi Rengganis. Hari dan tanggal ditentukan dan diumumkan kepada para pelamar. Pada saat para raja yang akan mengikuti sayembara mengadu kekuatan memperebutkan dirinya, Dewi Rengganis semakin sering melakukan perjalanan keliling melihat-lihat persiapan para raja. Dalam perjalanan kelilingnya itu, Dewi Rengganis terpikat pada sebuah taman yang indah di dalam istana negara Medayin. Di dalam taman sari terdapat kolam renang dengan ikan-ikan yang indah dan bunga yang harum serta beraneka warna. Dewi Rengganis masuk ke dalam taman itu dan melihat ada bunga yang sangat menarik hatinya karena tidak ada di tamannya, yaitu bunga seribu manis. Bunga seribu manis jika mekar hanya tujuh kuntum dengan tujuh warna yang berbeda: merah, jingga, hijau, kuning, biru, nila, dan putih. Saat berjalan-jalan di taman itu, Dewi Rengganis kepanasan sehingga masuk ke dalam kolam renang untuk mandi. Sebelum pulang, ia memetik sekuntum bunga seribu manis. Sesampai di Argopuro, Dewi Rengganis menjadi gelisah dan resah hingga tidak bisa tidur. Ia ingin segera kembali ke taman di Istana Medayin untuk mengambil seluruh bunga seribu manis. Keesokan harinya, Dewi Rengganis kembali mendatangi taman itu. Ia masuk ke kolam, berenang, dan bermain dengan ikan-ikan yang indah. Selesai mandi ia ingin memetik seluruh bunga seribu manis, tetapi ia takut bunga yang indah itu akan layu setelah di Argopuro. Oleh karena itu, ia hanya memetik sekuntum dan meninggalkan lima kuntum. Ia pulang ke Argopuro dengan senyum puas karena keinginannya tercapai. Tanpa sepengetahuan Dewi Rengganis, kehadirannya yang kedua itu telah diketahui oleh Imam , Suwangsa, pemilik taman Medayin. Akan tetapi, Imam Suwangsa pingsan setelah melihat wajah Dewi Rengganis yang sedang berenang di kolam karena wajah itu mengingatkannya pada perempuan yang sangat dicintainya. Ia sudah mencari perempuan yang perah diusir dari istananya ke berbagai penjuru dunia, tetapi tidak ditemukan. Wajah" Dewi Rengganis serupa dengan wajah perempuan yang selalu dirindukannya itu. Imam Suwangsa kecewa karena ketika ia sadar, Dewi Rengganis sudah pergi. Ia juga terkejut dan kesal karena bunga seribu manisnya sudah hilang dua kuntum sehingga ia bertekad akan menangkap basah perempuan yang sudah memasuki taman dan mencuri bunganya. Imam Suwangsa menunggu Dewi Rengganis dengan bersembunyi di taman. Setelah menunggu cukup lama, Dewi Rengganis muncul dan segera melepas pakaiannya kemudian masuk ke dalam kolam untuk mandi. Imam Suwangsa muncul menggertak akan melaporkan kelancangan Dewi Rengganis kepada Raja Arab. Dewi Rengganis terkejut tetapi ia tidak dapat keluar dari kolam karena pakaian dan cindenya berada di tangan Imam Suwangsa. Dewi Rengganis tidak ingin rahasianya sebagai perempuan yang tidak memiliki tanda kelamin akan diketahui Imam Suwangsa. Oleh karena itu, ia terpaksa menjawab semua pertanyaan Imam Suwangsa menyangkut asal usulnya. Dewi Rengganis juga akhirnya menyetujui keinginan Imam Suwangsa untuk menjadikannya istri agar pakaian dan cindenya dikembalikan. Akan tetapi, Dewi Rengganis mengajukan syarat agar Imam Suwangsa mengikuti sayembara di Argopuro, di tanah Jawa. Imam Suwangsa setuju lalu ia mengembalikan cinde dan pakaian Dewi Rengganis. Setelah mendapatkan cinde dan pakaiannya, Dewi Rengganis menghilang, Imam Suwangsa menghadap pamannya, Umanmaya dan Umarmadi, yang merupakan panglima andalan Negeri Medayin dan menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Kedua pamannya setuju mengikuti sayembara itu untuk Imam Suwangsa. Mereka bersiap untuk mengikuti sayembara di tanah Jawa. Hari yang ditentukan untuk sayembara mengadu kekuatan tiba. Raja yang berasal dari berbagai negara sudah hadir dengan pengawal-pengawalnya. Peserta sayembara adalah 40 orang dari 40 negara ditambah utusan dari Medayin menjadi 41 orang. Bumi Rengganis yang biasanya sunyi berkabut menjadi ramai, riuh rendah oleh banyaknya prajurit pengawal yang datang mendampingi rajanya. Sayembara dimulai dan satu per satu peserta melakukan perang tanding. Satu per satu pula peserta yang tersisih segera mengundurkan diri dari arena. Sayembara berlangsung berhari-hari dan berjalan dengan tertib. Akan tetapi, suasana yang aman itu tiba-tiba menjadi kacau ketika ada seorang raja yang tersisih sementara para pengawalnya tidak dapat menerima. Pertempuran hebat antarpeserta sayembara tidak dapat dihindari. Mayat bergelimpangan dan darah para prajurit yang gugur membela rajanya membasahi bumi Rengganis. Peperangan hanya terjadi di kaki Gunung Argopuro sehingga istana Dewi Rengganis di puncak tetap berdiri megah. Peperangan itu mereda setelah banyak menelan korban jiwa dan mereka menyadari tidak ada gunanya melanjutkan peperangan karena tujuannya adalah mengikuti sayembara. Peserta sayembara ada yang meninggalkan arena dan ada yang tetap menunggu untuk mengetahui pemenangnya. Prajurit Dewi Rengganis membersihkan arena dengan menguburkan para prajurit pengawal raja yang gugur di puncak- puncak bukit di Argopuro. Setelah suasana berkabung berkurang dan keadaan mereda kembali, sayembara dilanjutkan dengan syarat yang lebih berat, yaitu pemenang sayembara harus mengadu kekuatan dengan Dewi Rengganis. Dewi Rengganis yang cantik jelita dan baik memperlihatkan sisi lainnya yang ganas. Perang tanding antarraja dilanjutkan dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh utusan Medayin, Umarmaya dan Umarmadi. Oleh karena itu, Umarmaya dan Umarmadi harus berhadapan dengan Dewi Rengganis. Ketika mereka 45 sudah berhadapan, keadaan di arena sayembara menjadi sunyi dan tegang. Umarmaya dan Umarmadi mengeluarkan senjata yang dapat menyemburkan api, Dewi Rengganis mengeluarkan cemetinya untuk membuat angin ribut. Saat cemeti dikibaskan terjadi ledakan dahsyat yang disusul dengan hujan lebat yang hanya terjadi di arena sehingga api yang diciptakan Umarmaya dan Umarmadi padam seketika. Babak pertama ini dimenangkan oleh Dewi Rengganis. Selanjutnya, Umarmaya dan Umarmadi mendatangkan cacing yang berjumlah jutaan memenuhi arena. Dewi Rengganis merasa jijik tetapi ia segera bersemedi minta bantuan dewata. Seketika datang ribuan burung belibis mematuki cacing-cacing tanah tersebut hingga habis. Akan tetapi, burung-burung belibis itu rupanya belum puas dengan cacing-cacing itu sehingga menyerbu Dewi Rengganis hingga kewalahan dan menderita banyak luka goresan. Melihat situasi yang tidak terkendali itu, Umarmaya dan Umarmadi segera datang menolong Dewi Rengganis dengan menghalau burung-burung belibis itu. Akhirnya, Dewi Rengganis mengakui keunggulan dua satria Medayin itu dan menyatakannya sebagai pemenang: Dewi Rengganis mengumumkan pemenang sayembara dan mengatakan bahwa Umarmaya dan Umarmadi mengikuti sayembara mewakili pangeran dari Medayin yang bemama Imam Suwangsa sehingga yang berhak menikahinya adalah Imam Suwangsa. Warga Padepokan Argopuro menyambut dan memberi hormat pada Imam Suwangsa sebagai calon suami ratu mereka. Perkawinan Dewi Rengganis dan Imam Suwangsa dilangsungkan dengan pesta pora yang meriah dan melibatkan seluruh warga tanpa ada yang tahu bahwa perkawinan mereka merupakan perkawinan terkutuk antara ayah dan anak karena satu- satunya saksi yang mengetahui hubungan darah mereka hanyalah Nyai Kuning. Nyai Kuning, yang tidak lain ibu Dewi Rengganis adalah putri Medayin yang diusir dari istana karena melanggar susila dengan Imam Suwangsa. Nyai Kuning sudah tiada sehingga tidak ada yang tahu bahwa Dewi Rengganis sesungguhnya adalah anak kandung Imam Suwangsa. Perkawinan terlarang itu tetap berlangsung. Kehadiran Imam Suwangsa di Istana Argopuro membuat warga merasa makin tenteram, kecuali Dewi Rengganis. Dewi Rengganis tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang istri karena ia tidak memiliki alat kelamin. Ia takut, rahasia dirinya akan diketahui oleh Imam Suwangsa. Oleh karena itu, ia segera menghadap ayahnya untuk meminta nasihat. Jin Pandita merasa bersalah pada Dewi Rengganis karena dirinyalah yang menghapus tanda kewanitaannya. Melihat penderitaan Dewi Rengganis, Jin Pandita, segera bertapa untuk meminta petunjuk dewata, Dalam pertapaannya, ia mendapat petunjuk untuk membuka kembali tanda kewanitaan itu dengan daun alang-alang. Jin Pandita segera memberi tahu Dewi Rengganis agar menggunakan daun alang-alang untuk membuat tanda kewanitaan. Dewi Rengganis segera mengikuti petunjuk ayahnya. Ia menggoreskan ujung daun alang- alang di tanda kewanitaannya dan atas rida Tuhan terbentuklah tanda kewanitaan dan sempumalah Dewi Rengganis sebagai seorang perempuan. Rumput ilalang itu kemudian dibuang dan berubah menjadi tanaman sereh yang bermanfaat untuk bumbu, minuman, dan obat. Tanaman itu banyak dijumpai di Gunung Argopuro. Setelah memiliki tanda kewanitaan, selamanya. 46
Moral of the Story
Past transgressions can have unforeseen and complex consequences that ripple through generations, and divine intervention may be necessary to rectify them.
Characters
Dewi Rengganis ★ protagonist
Beautiful, agile, nimble, and swift like a deer. Initially lacked female genitalia.
Attire: Wears a 'cinde' (a cloth similar to a sash) wrapped around her waist, which is also a magical artifact.
Beautiful, powerful, just, wise, initially restless and anxious, later fierce in battle.
Jin Pandita ◆ supporting
A very powerful hermit, revered by all spirits.
Attire: Simple hermit's attire, typical of a spiritual master.
Compassionate, wise, powerful, protective, sometimes anxious.
Nyai Kuning ◆ supporting
Beautiful, with swollen eyes and crying when first encountered.
Attire: Implied to be simple attire after becoming a hermit, previously royal Medayin clothing.
Initially disgraced and sorrowful, later repentant and devout.
Imam Suwangsa ⚔ antagonist
Not explicitly described, but implied to be a man of status.
Attire: Implied to be royal or noble attire, fitting for a prince from Medayin.
Persistent, manipulative (in regaining his items), determined.
Umarmaya ◆ supporting
A strong warrior, capable of wielding fire-spitting weapons.
Attire: Warrior's attire, fitting for a commander.
Loyal, strong, strategic.
Umarmadi ◆ supporting
A strong warrior, capable of summoning millions of worms.
Attire: Warrior's attire, fitting for a commander.
Loyal, strong, strategic.
Locations

Hutan Lebat di Pegunungan Yang
Hutan belantara agung liwang liwung, tempat jin, setan, iblis, dan lelembut bergentayangan. Di tengah hutan ini terdapat pertapaan Jin Pandita.
Mood: mysterious, ancient, powerful, untamed
Jin Pandita's original dwelling place before bringing Putri Medayin.

Padang Pasir Tandus dan Panas
Sebuah padang pasir yang tandus dan panas.
Mood: desolate, harsh, sorrowful
Jin Pandita meets the weeping Putri Medayin.

Pertapaan di Gunung Argopuro
Pertapaan Jin Pandita di Gunung Argopuro, yang kemudian menjadi ramai dengan cantrik dan padepokan. Kemudian menjadi istana Dewi Rengganis.
Mood: spiritual, peaceful, later bustling, royal, and eventually chaotic
Putri Medayin and Jin Pandita live here; Rengganis is born and grows up here; it becomes her kingdom and the site of the sayembara.

Taman Sari di Istana Medayin
Sebuah taman yang indah di dalam istana negara Medayin, dengan kolam renang berisi ikan-ikan indah, bunga-bunga harum beraneka warna, dan bunga seribu manis.
Mood: beautiful, enchanting, alluring
Dewi Rengganis visits and is captivated by the 'seribu manis' flower, leading to her encounter with Imam Suwangsa.

Arena Sayembara di Kaki Gunung Argopuro
Area di kaki Gunung Argopuro, biasanya sunyi dan berkabut, yang menjadi ramai dan riuh rendah dengan prajurit. Tempat pertempuran hebat dan sayembara mengadu kekuatan.
Mood: tense, competitive, chaotic, violent, later solemn
The grand competition for Dewi Rengganis's hand, involving many kings and culminating in battles and magical duels.
Story DNA
Moral
Past transgressions can have unforeseen and complex consequences that ripple through generations, and divine intervention may be necessary to rectify them.
Plot Summary
A powerful hermit, Jin Pandita, raises Rengganis, the secret daughter of a disgraced princess and Imam Suwangsa, after magically removing her feminine essence at birth. Rengganis grows into a beautiful queen, attracting many suitors, and is eventually forced to marry Imam Suwangsa after he discovers her bathing. Struggling with her physical incompleteness, Rengganis seeks help from Jin Pandita, who, through divine guidance, helps her restore her female anatomy using alang-alang grass, allowing her to live happily with her husband, unaware of their true father-daughter relationship.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is set in a mythical, pre-Islamic Java, where animistic beliefs and the power of hermits (pertapa) were prevalent. The mention of 'Medayin' and 'Arab' suggests a blend of local folklore with influences from Middle Eastern narratives, possibly from trade or early Islamic contact, though the core narrative remains distinctly Javanese.
Plot Beats (15)
- Jin Pandita, a powerful hermit, finds a pregnant, disgraced princess from Medayin in the desert and brings her to his hermitage.
- The princess, now Nyai Kuning, gives birth to Rengganis, who is secretly the child of Imam Suwangsa.
- Jin Pandita, fearing Rengganis's beauty, removes her feminine essence at birth through divine instruction.
- Rengganis grows into a beautiful, powerful queen, attracting many royal suitors.
- Jin Pandita organizes a contest (sayembara) to choose Rengganis's husband from 40 kings.
- Rengganis visits Medayin's royal garden, is enchanted by 'seribu manis' flowers, and bathes in a pond.
- Imam Suwangsa, the garden's owner, discovers Rengganis, recognizes her resemblance to his past lover, and forces her to agree to marry him by taking her clothes and cinde.
- Imam Suwangsa's uncles, Umarmaya and Umarmadi, represent him in the contest in Argopuro.
- The contest descends into chaos and battle among the kings, then resumes with a new rule: the winner must defeat Rengganis.
- Umarmaya and Umarmadi defeat Rengganis in a magical duel, winning her hand for Imam Suwangsa.
- Rengganis and Imam Suwangsa marry, unaware they are father and daughter, as Nyai Kuning (the only one who knew) has passed away.
- Rengganis struggles with her lack of female genitalia and seeks help from Jin Pandita.
- Jin Pandita, remorseful, seeks divine guidance and instructs Rengganis to use alang-alang grass.
- Rengganis uses the alang-alang grass, restoring her female anatomy and becoming a complete woman.
- The alang-alang grass transforms into useful lemongrass, and Rengganis lives happily with Imam Suwangsa.





