Legenda Kolam Segaran
by Balai Bahasa Surabaya

The Golden Pond
Once upon a time, there was a rich kingdom called Majapahit. The kingdom was very big and strong and happy. It had lots of food and many nice things. The people were always happy and kind.
The kingdom had a very big and pretty pond. A beautiful house floated on the water. It was a floating house for big parties.
Guests came from far away to visit. They were treated very, very well. The king showed them all the good things. The guests felt very happy and welcome.
One day, there was a big, fun party. The party was in the floating house. It was a very fun and happy party. All the guests ate very good food.
The food was on shiny golden plates. They drank from shiny golden cups. All the things were golden and shiny. The guests all said, "Wow!"
The guests looked at the golden plates. "These are so shiny!" they said. "I am amazed!" said one more visitor. They were all very, very surprised.
After the party, the helpers cleaned up. They picked up the shiny golden plates. They picked up the shiny golden cups. They put them all in one big place.
Then the helpers walked to the big pond. They threw the golden plates into the water. Splash! They threw the golden cups in too. All the shiny things went into the pond.
The helpers smiled and acted fine. They did this all the time. The guests could not believe their eyes. Their mouths were open wide in surprise.
The guests were very, very surprised. They saw how rich the kingdom was. They were happy and amazed. They clapped their hands together.
The guests went home. They told others about the golden pond. They talked about shiny plates in the water. All the people listened to their story.
All the people respected the kingdom. They knew the kingdom was very strong. No one wanted to fight with the kingdom. They were all good friends.
The king showed that true wealth is sharing it with others to show how strong you are. And everyone respected Majapahit forever because of the golden pond.
Original Story
Legenda Kolam Segaran ada zaman dahulu, di Nusantara berdiri sebuah kerajaan agung bernama Majapahit. Kemasyhuran dan kemakmuran kerajaan Majapahit tersohor hingga ke mancanegara. Kerajaan-kerajaan tetangga segan dan sangat menghormati kedaulatan Nusantara di bawah naungan panji-panji Majapahit. Pada masa keemasannya, Majapahit yang berdiri megah itu benar-benar mencerminkan sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi, masyarakatnya hidup tata tentram karta raharja. Apa pun yang ditanam di negeri Majapahit pasti akan tumbuh subur dan tatanan apa pun yang diberlakukan pasti akan ditaati kawulanya sepenuh hati, Pada masa puncak kejayaannya, wilayah Majapahit ditata dengan baik. Sawah-sawah pertanian dilengkapi dengan sistem irigasi yang baik membuat panen selalu berlimpah. Kebun-kebun ditanami berbagai macam tanaman palawija, rempah-rempah, dan tanaman perkebunan, seperti kelapa, cengkeh, dan kopi. Jalan-jalan lebar dengan batu-batu alam yang tertata rapi. Kereta kuda lalu lalang membawa barang-barang dagangan. Pasarnya ramai didatangi oleh pedagang-pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari negeri-negeri yang jauh. Pedagang-pedagang dari negeri Cina membawa dagangan berupa perabot rumah tangga dari keramik dan peralatan pertanian. Barang-barang itu ditukar dengan bahan-bahan makanan hasil pertanian rakyat. Tbu kota Majapahit terlihat sangat megah, baik bangunan-bangunannya maupun sarana- sarana umum lainnya. Bangunan istana dilengkapi sebuah kolam raksasa yang disebut dengan Kolam Segaran. Kolam seluas enam hektare itu berair jemih dengan pembatas berupa dinding-dinding batu bata merah setebal 1,6 meter. Kolam Segaran tampak kokoh dan berwibawa, tidak salah kalau kolam ini sering kali diidentikkan dengan keperkasaan dan kemakmuran negeri Wilwatikta. Alkisah, setiap utusan negeri sahabat yang bertandang ke Majapahit senantiasa dijamu dengan baik. Keramahan dan penghormatan selalu ditunjukkan oleh para kawula dan punggawa kerajaan. Berbagai hidangan terbaik dan terlezat disajikan dalam setiap perjamuan duta kerajaan sahabat. Tidak lupa, fasilitas terbaik yang dimiliki kerajaan tidak segan-segan pula diberikan kepada mereka. Perlakuan dan sambutan seperti ini membuat para utusan negeri sahabat kian terkagum-kagum atas kemakmuran Wilwatikta. Kemakmuran Majapahit sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, ayem tentram karta raharja benar-benar mejadi buah bibir di mana-mana. Dalam perjamuan makan tamu resmi kerajaan, Kolam Segaran menjadi tempat yang sangat penting. Di sanalah kebesaran kerajaan Majapahit sebagai negeri yang kaya raya diperlihatkan. Di atas Kolam Segaran yang sangat luas itu, berdiri sebuah istana terapung yang digunakan untuk perjamuan. Berbagai fasilitas di istana terapung itu dipilih yang paling baik. Mulai dari bahan bangunannya yang menggunakan balok-balok kayu jati pilihan dengan ukiran omamen khas Majapahit. hingga perabotan rumah tangganya. Ukiran-ukiran pada bangunan istana itu sangat rumit, indah, dan halus. Karya seni itu merupakan buah karya para 79 tukang kayu dan tukang ukir terbaik kerajaan. Atap bangunan menggunakan kemucuk dari bahan terakota yang sangat indah, sedangkan gentingnya memakai sirap dari kayu pilihan. Bangunan istana terapung itu benar-benar sebuah perpaduan kekokohan dan keindahan seni yang bernilai tinggi. Dari Kolam Segaran ke arah selatan para tamu kerajaan dapat menyaksikan pemandangan alam berupa bukit dan gunung hijau kebiru-biruan yang mengelilingi kota raja Majapahit. Gunung-gunung menjulang tiiggi dengan kabut putih beraraki | menyelubungi puncak-puncaknya. Burung-burung yang terbang, melintas di atas kota raja seolah-olah terbang menggapai awan-awan di puncak gunung. Panorama alam itu kian yempumakan pesona Kolam Segaran. Apalagi, ditambah dengan angin semilir pegunungan yang sejuk dan suasana yang tenang nan damai. Alunan bunyi gamelan yang dimainkan oleh para niaga terbaik kerajaan membuat para tamu kian terpesona serasa berada di nirwana, Di sisi barat istana terapung terdapat Alun-alun Bubat. Alun-alun ini adalah tempat umum yang bisa digunakan oleh siapa saja atas seizin pejabat kerajaan. Berbagai pertunjukan seni dalam kegiatan perayaan agung kerajaan sering kali digelar di tempat ini. Masyarakat pun bisa santai di Alun-alun Bubat, seraya menikmati keindahan kota raja Majapahit. Tidak Jarang para prajurit keraton menggembleng diri, berlatih ilmu bela diri di alun-alun ini. Di istana apung, para abdi kerajaan dengan sikap ramah dan santun, serta pakaian yang indah-indah, siap sedia melayani tamu agung kerajaan. Mereka bekerja sangat terampil dan cekatan. Para ahli masak khusus kerajaan selalu didatangkan setiap kali ada perjamuan. Sembari mencicipi hidangan, para tamu dapat menikmati keindahan Kolam Segaran. Ikan- ikan berenang riang gembira. Riak-riak kecil mengusik ketenangan air kolam, saat mereka berkejaran. Kecipak kecilnya akan membentuk butiran-butiran air yang berkilau laksana mutiara. Ketika senja menjelang, Kolam Segaran kian memikat hati. Temaram sinar matahari yang digayuti senja membias di atas kolam. Sinarnya yang keemasan terpantul, menyembul dalam bayangan air. Seolah matahari senja tengah berkaca, dengan lengkung pelangi warna- warni sebagai mahkotanya. Hilir mudik dayang istana dengan buah-buahan segar dan hidangan di atas bakul tampak mewamai kesibukan istana terapung sore itu. Maklum, serombongan tamu kerajaan yang datang dari negeri seberang tengah dijamu. Sebagai penghormatan, seperti biasa, bagian rumah tangga istana menyiapkan peralatan-peralatan jamuan terbaiknya. Yang paling menakjubkan adalah wadah-wadah buah dan mangkuk-mangkuk lauk dalam perjamuan itu semuanya terbuat dari emas. Bahkan, nampan, bakul, kendi, sendok, garpu, piring, lepek, gelas, dan seluruh perabotnya terbuat dari emas pilihan. Perabot-perabot yang semuanya berukir rapi, halus, dan indah itu semakin berkilauan manakala tertimpa cahaya. Berbagai motif ukir, mulai dari motif ukir hewan, tumbuhan, hingga simbol-simbol kerajaan terpahat di sana memancarkan keagungan kerajaan Majapahit. Suasana perjamuan ketika itu berlangsung meriah. Para tamu kerajaan sepertinya sangat puas atas sambutan yang diberikan oleh tuan rumah. Pihak tuan rumah dan para tamu agung terlihat berbincang akrab. Sesekali diselingi canda tawa penuh keakraban dan persahabatan. "Sungguh mengesankan perjamuan ini, Tuan,” kata seorang tamu pada keluarga kerajaan. "Ah, Tuan terlalu berlebihan. Terima kasih,” kata seorang keluarga kerajaan itu merendah. 80 ”Benar Tuan. Saya sudah berkeliling ke beberapa kerajaan belum pernah saya melihat tempat dan perjamuan seindah dan seagung ini,” kata seorang anggota rombongan tamu itu ”Tidak hanya makannya yang lezat, tempat dan perabotannya juga sungguh indah,” kata yang lain. ”Di manakah Tuan memesan perabotan yang indah...indah ini?” tamu lainnya ingin tahu, ”Kami senang jika Tuan-tuan merasa terkesan dan senang dengan jamuan kami,” jawab seorang keluarga kerajaan. "Beginilah, cara kami menyambut dan menghormati tamu yang berkunjung ke negeri kami," lanjutnya. "Ah, tidak...kami tidak memesannya dari luar negeri...perabotan ini dibuat oleh para seniman terbaik negeri kami sendiri.” ”Wooow, ck..ck..ck...menakjubkan. Negeri Anda rupanya juga punya seniman-seniman agung.” "Terima kasih, Tuan. Mari...mari silakan Tuan mencicipi buah pisang ini...ini hasil pertanian rakyat kami," kata seorang kerabat istana sambil mengambil pisang emas yang sedang dibawa oleh para dayang. "Ini sambutan yang luar biasa. Lihatlah, tidak hanya keluarga kerajaan yang terlihat agung...dayangnya pun cantik-cantik dan bagus pakaiannya, sungguh luar biasa negeri Tuan,” kata seorang tamu ikut bergabung. ”Tuan...bolehkan aku mengambil seorang dayangmu?” katanya sambil tersipu malu dan setengah berbisik. "Rasanya aku juga ingin membawa pulang piring-piring emas ini... Sungguh i indah,” kata yang lain menimpali. “Ah, Tuan-Tuan bisa saja. Di negeri Tuan tentu juga banyak yang lebih indah,” kata seorang keluarga kerajaan sambil tertawa ringan dan tetap ”Tidak...tidak...seindah negeri Tuan. Silakan Tuan bedamjud ke negeri kami, Tuan akan tahu sendiri...” jawab sang tamu tertawa ramah. Ketika perjamuan telah usai, namun para tamu kerajaan belum beranjak dari istana terapung, para dayang bergegas membersihkan meja perjamuan. Perabotan makan yang kotor, nampan, bakul, kendi, dan sebagainya segera dikumpulkan. Sisa-sisa makanan dan air minum dituang dalam satu tempat. Selanjutnya perabot-perabot tersebut dikumpulkan menjadi satu. Perabot dapur dan makan itu bukan dicuci, melainkan dibuang ke kolam Segaran. Karuan saja hal itu membuat para tamu agung kerajaan terbelalak. Apalagi aksi itu dilakukan di depan mata mereka. Peristiwa tersebut benar-benar mengagumkan dan mengherankan, sebab tidak pernah hal itu terjadi di negeri mereka. ”Aa,..a...apa...yang mereka lakukan?” kata seorang tamu sambil memperhatikan para dayang melemparkan perabotan emas itu ke kolam. ” Apakah kita tidak salah lihat, Bukankah itu piring-piring emas?” kata tamu yang lain. ”Bukan cuma piring, li...li...lihat...itu cangkir, tempat buah daaaaann ah...semuanya dilempar ke kolam,” timpal yang lain. “Sayang sekali ya...barang-barang seindah itu dibuang begitu saja...” "Negeri ini sungguh luar biasa kaya...bayangkan betapa kayanya mereka, setiap kali ada pesta mereka membuang semua perabotnya...ck...ck..ck...." “Tak pernah kulihat hal seperti ini di mana pun?” “Lihatlah...dayang-dayang itu melempar perabot...sepertinya sudah sering melakukannya...” 81 Para dayang, yang baru saja menceburkan perabot dapur dan peralatan makan serba emas ke dalam kolam itu, dengan entengnya membalikkan badan meninggalkan ruang perjamuan menuju dapur istana. Mereka tidak menghiraukan sama sekali perasaan para tamu kerajaan yang kebingungan atas sikapnya yang dirasa ganjil. Seraya menyimpan kekaguman yang mendalam, para utusan negeri sahabat tersebut meninggalkan istana apung. Rasa kaget, kagum, heran, dan tak percaya berkecamuk dalam benak mereka. Bahkan, sepanjang perjalanan pulang ke negerinya di seberang lautan, kejadian di istana apung terus menjadi pembicaraan hangat. Sesampai di negerinya, mereka masih juga menceritakan pengalaman yang menakjubkan itu, Tak pelak berita kemasyhuran Majapahit terdengar jauh hingga ke mancanegara. Rasa segan terhadap negeri Majapahit pun muncul. Negeri-negeri tetangga semakin takjub terhadap kemakmuran Majapahit. Keseganan itu menimbulkan rasa penghargaan terhadap kedaulatan Majapahit. Hingga akhirnya tidak ada satu negeri pun yang berani menggoyang kekuasaan Majapahit. 82
Moral of the Story
True power and wealth are not just about what one possesses, but how one demonstrates it to command respect and deter challenges.
Characters
The Royal Family Member (Host) ◆ supporting
Not explicitly described, but implied to be of noble bearing.
Attire: Implied to be rich, formal attire suitable for hosting royal guests in the Majapahit era.
Humble, hospitable, proud of his kingdom's artisans.
The Guest (Spokesperson) ◆ supporting
Not explicitly described.
Attire: Formal attire of a foreign dignitary, likely from a neighboring kingdom.
Observant, impressed, articulate, curious.
The Dayangs (Maids) ○ minor
Described as 'beautiful' ('cantik-cantik').
Attire: Beautiful, traditional Majapahit attire ('bagus pakaiannya'), likely colorful and elegant.
Diligent, skilled, efficient, seemingly nonchalant about discarding valuable items.
Locations

Majapahit Kingdom
A grand and prosperous kingdom in Nusantara, known for its well-organized territory, fertile rice fields with good irrigation, diverse plantations (palawija, spices, coconut, cloves, coffee), wide roads with neat natural stones, and bustling markets with traders from various regions, including China.
Mood: Prosperous, grand, orderly, respected
Establishes the setting and the kingdom's immense wealth and influence.

Kolam Segaran (Segaran Pond)
A giant pond, six hectares in size, with clear water and boundaries made of red brick walls 1.6 meters thick. It appears sturdy and majestic, often associated with the might and prosperity of Wilwatikta.
Mood: Majestic, serene, enchanting, reflecting wealth
The central feature of the royal hospitality, where the floating palace is located and where the golden utensils are discarded.

Floating Palace on Kolam Segaran
A magnificent floating palace built on the vast Kolam Segaran, used for royal banquets. Constructed from selected teak wood beams with intricate Majapahit ornaments, featuring beautiful terracotta 'kemucuk' roofs and chosen wooden shingle tiles. The interior is adorned with finely carved golden utensils for banquets.
Mood: Luxurious, artistic, hospitable, astonishing
The main venue for the royal banquet where foreign envoys are entertained and witness the astonishing act of discarding golden utensils.

View from Kolam Segaran (South)
A natural landscape visible from Kolam Segaran, featuring bluish-green hills and mountains surrounding the royal city of Majapahit. Tall mountains with white mist clinging to their peaks, and birds flying across the sky towards the mountain tops.
Mood: Panoramic, serene, majestic, natural beauty
Provides a scenic backdrop that enhances the allure of Kolam Segaran and the overall experience for royal guests.
Story DNA
Moral
True power and wealth are not just about what one possesses, but how one demonstrates it to command respect and deter challenges.
Plot Summary
The Majapahit kingdom, renowned for its prosperity, hosts foreign envoys in a magnificent floating palace on the Segaran Pond. During a lavish banquet, the guests are served with exquisite golden dining ware. To their utter astonishment, after the meal, the palace staff casually discard all the precious golden items into the pond instead of cleaning them. This shocking display of seemingly limitless wealth leaves the envoys deeply impressed and awestruck, leading them to spread tales of Majapahit's unparalleled power and prosperity, thus ensuring the kingdom's unchallenged dominance.
Themes
Emotional Arc
admiration to awe to strategic respect
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is a legend explaining the origin of the Segaran Pond's name and its association with Majapahit's legendary wealth, possibly reflecting a historical practice or a symbolic narrative to assert dominance.
Plot Beats (13)
- Majapahit is introduced as a glorious, prosperous, and well-governed kingdom, famous throughout Nusantara.
- The kingdom's infrastructure, agriculture, and trade are described as highly advanced and abundant.
- The capital city boasts magnificent buildings, including the grand Segaran Pond with its floating palace.
- Foreign envoys are regularly hosted with lavish hospitality and shown the best of Majapahit's wealth.
- A specific banquet is held in the floating palace on Segaran Pond, showcasing intricate architecture and beautiful surroundings.
- The envoys are served with exquisite, all-gold dining ware, crafted by local artisans, further impressing them.
- During the banquet, the envoys praise the kingdom's beauty, hospitality, and the quality of its craftsmanship.
- After the meal, the palace staff collect all the golden dining ware, including plates, cups, and serving items.
- To the utter shock and amazement of the foreign guests, the staff proceed to throw all the golden items into the Segaran Pond.
- The staff act as if this is a normal routine, showing no regard for the value of the discarded items.
- The envoys are left bewildered, awestruck, and deeply impressed by this display of seemingly limitless wealth.
- Upon returning home, the envoys recount their experience, spreading tales of Majapahit's immense prosperity.
- This display of wealth and power instills profound respect and awe in neighboring kingdoms, ensuring Majapahit's unchallenged dominance.





