Legenda Kolam Segaran

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 1417 words 7 min read
Cover: Legenda Kolam Segaran
Original Story 1417 words · 7 min read

Legenda Kolam Segaran

ada zaman dahulu, di Nusantara berdiri sebuah kerajaan agung bernama Majapahit.

Kemasyhuran dan kemakmuran kerajaan Majapahit tersohor hingga ke mancanegara.

Kerajaan-kerajaan tetangga segan dan sangat menghormati kedaulatan Nusantara di

bawah naungan panji-panji Majapahit. Pada masa keemasannya, Majapahit yang berdiri

megah itu benar-benar mencerminkan sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi,

masyarakatnya hidup tata tentram karta raharja. Apa pun yang ditanam di negeri Majapahit

pasti akan tumbuh subur dan tatanan apa pun yang diberlakukan pasti akan ditaati kawulanya

sepenuh hati,

Pada masa puncak kejayaannya, wilayah Majapahit ditata dengan baik. Sawah-sawah

pertanian dilengkapi dengan sistem irigasi yang baik membuat panen selalu berlimpah.

Kebun-kebun ditanami berbagai macam tanaman palawija, rempah-rempah, dan tanaman

perkebunan, seperti kelapa, cengkeh, dan kopi.

Jalan-jalan lebar dengan batu-batu alam yang tertata rapi. Kereta kuda lalu lalang

membawa barang-barang dagangan. Pasarnya ramai didatangi oleh pedagang-pedagang dari

berbagai daerah, bahkan dari negeri-negeri yang jauh. Pedagang-pedagang dari negeri Cina

membawa dagangan berupa perabot rumah tangga dari keramik dan peralatan pertanian.

Barang-barang itu ditukar dengan bahan-bahan makanan hasil pertanian rakyat.

Tbu kota Majapahit terlihat sangat megah, baik bangunan-bangunannya maupun sarana-

sarana umum lainnya. Bangunan istana dilengkapi sebuah kolam raksasa yang disebut dengan

Kolam Segaran. Kolam seluas enam hektare itu berair jemih dengan pembatas berupa

dinding-dinding batu bata merah setebal 1,6 meter. Kolam Segaran tampak kokoh dan

berwibawa, tidak salah kalau kolam ini sering kali diidentikkan dengan keperkasaan dan

kemakmuran negeri Wilwatikta.

Alkisah, setiap utusan negeri sahabat yang bertandang ke Majapahit senantiasa dijamu

dengan baik. Keramahan dan penghormatan selalu ditunjukkan oleh para kawula dan

punggawa kerajaan. Berbagai hidangan terbaik dan terlezat disajikan dalam setiap perjamuan

duta kerajaan sahabat. Tidak lupa, fasilitas terbaik yang dimiliki kerajaan tidak segan-segan

pula diberikan kepada mereka. Perlakuan dan sambutan seperti ini membuat para utusan

negeri sahabat kian terkagum-kagum atas kemakmuran Wilwatikta. Kemakmuran Majapahit

sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, ayem tentram karta raharja benar-benar mejadi

buah bibir di mana-mana.

Dalam perjamuan makan tamu resmi kerajaan, Kolam Segaran menjadi tempat yang

sangat penting. Di sanalah kebesaran kerajaan Majapahit sebagai negeri yang kaya raya

diperlihatkan. Di atas Kolam Segaran yang sangat luas itu, berdiri sebuah istana terapung

yang digunakan untuk perjamuan. Berbagai fasilitas di istana terapung itu dipilih yang paling

baik. Mulai dari bahan bangunannya yang menggunakan balok-balok kayu jati pilihan dengan

ukiran omamen khas Majapahit. hingga perabotan rumah tangganya. Ukiran-ukiran pada

bangunan istana itu sangat rumit, indah, dan halus. Karya seni itu merupakan buah karya para

79

tukang kayu dan tukang ukir terbaik kerajaan. Atap bangunan menggunakan kemucuk dari

bahan terakota yang sangat indah, sedangkan gentingnya memakai sirap dari kayu pilihan.

Bangunan istana terapung itu benar-benar sebuah perpaduan kekokohan dan keindahan seni

yang bernilai tinggi.

Dari Kolam Segaran ke arah selatan para tamu kerajaan dapat menyaksikan

pemandangan alam berupa bukit dan gunung hijau kebiru-biruan yang mengelilingi kota raja

Majapahit. Gunung-gunung menjulang tiiggi dengan kabut putih beraraki | menyelubungi

puncak-puncaknya. Burung-burung yang terbang, melintas di atas kota raja seolah-olah

terbang menggapai awan-awan di puncak gunung. Panorama alam itu kian yempumakan

pesona Kolam Segaran. Apalagi, ditambah dengan angin semilir pegunungan yang sejuk

dan suasana yang tenang nan damai. Alunan bunyi gamelan yang dimainkan oleh para niaga

terbaik kerajaan membuat para tamu kian terpesona serasa berada di nirwana,

Di sisi barat istana terapung terdapat Alun-alun Bubat. Alun-alun ini adalah tempat

umum yang bisa digunakan oleh siapa saja atas seizin pejabat kerajaan. Berbagai pertunjukan

seni dalam kegiatan perayaan agung kerajaan sering kali digelar di tempat ini. Masyarakat

pun bisa santai di Alun-alun Bubat, seraya menikmati keindahan kota raja Majapahit. Tidak

Jarang para prajurit keraton menggembleng diri, berlatih ilmu bela diri di alun-alun ini.

Di istana apung, para abdi kerajaan dengan sikap ramah dan santun, serta pakaian yang

indah-indah, siap sedia melayani tamu agung kerajaan. Mereka bekerja sangat terampil dan

cekatan. Para ahli masak khusus kerajaan selalu didatangkan setiap kali ada perjamuan.

Sembari mencicipi hidangan, para tamu dapat menikmati keindahan Kolam Segaran. Ikan-

ikan berenang riang gembira. Riak-riak kecil mengusik ketenangan air kolam, saat mereka

berkejaran. Kecipak kecilnya akan membentuk butiran-butiran air yang berkilau laksana

mutiara. Ketika senja menjelang, Kolam Segaran kian memikat hati. Temaram sinar matahari

yang digayuti senja membias di atas kolam. Sinarnya yang keemasan terpantul, menyembul

dalam bayangan air. Seolah matahari senja tengah berkaca, dengan lengkung pelangi warna-

warni sebagai mahkotanya.

Hilir mudik dayang istana dengan buah-buahan segar dan hidangan di atas bakul

tampak mewamai kesibukan istana terapung sore itu. Maklum, serombongan tamu kerajaan

yang datang dari negeri seberang tengah dijamu. Sebagai penghormatan, seperti biasa, bagian

rumah tangga istana menyiapkan peralatan-peralatan jamuan terbaiknya. Yang paling

menakjubkan adalah wadah-wadah buah dan mangkuk-mangkuk lauk dalam perjamuan itu

semuanya terbuat dari emas. Bahkan, nampan, bakul, kendi, sendok, garpu, piring, lepek,

gelas, dan seluruh perabotnya terbuat dari emas pilihan. Perabot-perabot yang semuanya

berukir rapi, halus, dan indah itu semakin berkilauan manakala tertimpa cahaya. Berbagai

motif ukir, mulai dari motif ukir hewan, tumbuhan, hingga simbol-simbol kerajaan terpahat di

sana memancarkan keagungan kerajaan Majapahit.

Suasana perjamuan ketika itu berlangsung meriah. Para tamu kerajaan sepertinya sangat

puas atas sambutan yang diberikan oleh tuan rumah. Pihak tuan rumah dan para tamu agung

terlihat berbincang akrab. Sesekali diselingi canda tawa penuh keakraban dan persahabatan.

"Sungguh mengesankan perjamuan ini, Tuan,” kata seorang tamu pada keluarga

kerajaan.

"Ah, Tuan terlalu berlebihan. Terima kasih,” kata seorang keluarga kerajaan itu

merendah.

80

”Benar Tuan. Saya sudah berkeliling ke beberapa kerajaan belum pernah saya melihat

tempat dan perjamuan seindah dan seagung ini,” kata seorang anggota rombongan tamu itu

”Tidak hanya makannya yang lezat, tempat dan perabotannya juga sungguh indah,” kata

yang lain.

”Di manakah Tuan memesan perabotan yang indah...indah ini?” tamu lainnya ingin

tahu,

”Kami senang jika Tuan-tuan merasa terkesan dan senang dengan jamuan kami,” jawab

seorang keluarga kerajaan. "Beginilah, cara kami menyambut dan menghormati tamu yang

berkunjung ke negeri kami," lanjutnya. "Ah, tidak...kami tidak memesannya dari luar

negeri...perabotan ini dibuat oleh para seniman terbaik negeri kami sendiri.”

”Wooow, ck..ck..ck...menakjubkan. Negeri Anda rupanya juga punya seniman-seniman

agung.”

"Terima kasih, Tuan. Mari...mari silakan Tuan mencicipi buah pisang ini...ini hasil

pertanian rakyat kami," kata seorang kerabat istana sambil mengambil pisang emas yang

sedang dibawa oleh para dayang.

"Ini sambutan yang luar biasa. Lihatlah, tidak hanya keluarga kerajaan yang terlihat

agung...dayangnya pun cantik-cantik dan bagus pakaiannya, sungguh luar biasa negeri Tuan,”

kata seorang tamu ikut bergabung. ”Tuan...bolehkan aku mengambil seorang dayangmu?”

katanya sambil tersipu malu dan setengah berbisik.

"Rasanya aku juga ingin membawa pulang piring-piring emas ini... Sungguh i indah,” kata

yang lain menimpali.

“Ah, Tuan-Tuan bisa saja. Di negeri Tuan tentu juga banyak yang lebih indah,” kata

seorang keluarga kerajaan sambil tertawa ringan dan tetap

”Tidak...tidak...seindah negeri Tuan. Silakan Tuan bedamjud ke negeri kami, Tuan

akan tahu sendiri...” jawab sang tamu tertawa ramah.

Ketika perjamuan telah usai, namun para tamu kerajaan belum beranjak dari istana

terapung, para dayang bergegas membersihkan meja perjamuan. Perabotan makan yang

kotor, nampan, bakul, kendi, dan sebagainya segera dikumpulkan. Sisa-sisa makanan dan air

minum dituang dalam satu tempat. Selanjutnya perabot-perabot tersebut dikumpulkan

menjadi satu. Perabot dapur dan makan itu bukan dicuci, melainkan dibuang ke kolam

Segaran. Karuan saja hal itu membuat para tamu agung kerajaan terbelalak. Apalagi aksi itu

dilakukan di depan mata mereka. Peristiwa tersebut benar-benar mengagumkan dan

mengherankan, sebab tidak pernah hal itu terjadi di negeri mereka.

”Aa,..a...apa...yang mereka lakukan?” kata seorang tamu sambil memperhatikan para

dayang melemparkan perabotan emas itu ke kolam.

” Apakah kita tidak salah lihat, Bukankah itu piring-piring emas?” kata tamu yang lain.

”Bukan cuma piring, li...li...lihat...itu cangkir, tempat buah daaaaann ah...semuanya

dilempar ke kolam,” timpal yang lain.

“Sayang sekali ya...barang-barang seindah itu dibuang begitu saja...”

"Negeri ini sungguh luar biasa kaya...bayangkan betapa kayanya mereka, setiap kali ada

pesta mereka membuang semua perabotnya...ck...ck..ck...."

“Tak pernah kulihat hal seperti ini di mana pun?”

“Lihatlah...dayang-dayang itu melempar perabot...sepertinya sudah sering

melakukannya...”

81

Para dayang, yang baru saja menceburkan perabot dapur dan peralatan makan serba

emas ke dalam kolam itu, dengan entengnya membalikkan badan meninggalkan ruang

perjamuan menuju dapur istana. Mereka tidak menghiraukan sama sekali perasaan para tamu

kerajaan yang kebingungan atas sikapnya yang dirasa ganjil.

Seraya menyimpan kekaguman yang mendalam, para utusan negeri sahabat tersebut

meninggalkan istana apung. Rasa kaget, kagum, heran, dan tak percaya berkecamuk dalam

benak mereka. Bahkan, sepanjang perjalanan pulang ke negerinya di seberang lautan,

kejadian di istana apung terus menjadi pembicaraan hangat. Sesampai di negerinya, mereka

masih juga menceritakan pengalaman yang menakjubkan itu, Tak pelak berita kemasyhuran

Majapahit terdengar jauh hingga ke mancanegara.

Rasa segan terhadap negeri Majapahit pun muncul. Negeri-negeri tetangga semakin

takjub terhadap kemakmuran Majapahit. Keseganan itu menimbulkan rasa penghargaan

terhadap kedaulatan Majapahit. Hingga akhirnya tidak ada satu negeri pun yang berani

menggoyang kekuasaan Majapahit.

82


Story DNA

Moral

True power and wealth are not just about what one possesses, but how one demonstrates it to command respect and deter challenges.

Plot Summary

The Majapahit kingdom, renowned for its prosperity, hosts foreign envoys in a magnificent floating palace on the Segaran Pond. During a lavish banquet, the guests are served with exquisite golden dining ware. To their utter astonishment, after the meal, the palace staff casually discard all the precious golden items into the pond instead of cleaning them. This shocking display of seemingly limitless wealth leaves the envoys deeply impressed and awestruck, leading them to spread tales of Majapahit's unparalleled power and prosperity, thus ensuring the kingdom's unchallenged dominance.

Themes

power and prestigewealth and prosperityhospitality and diplomacyperception vs. reality

Emotional Arc

admiration to awe to strategic respect

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: slow contemplative
Descriptive: lush
Techniques: detailed descriptions of setting and objects, repetition of key phrases (e.g., 'gemah ripah loh jinawi'), emphasis on sensory details

Narrative Elements

Conflict: person vs society (Majapahit vs. potential challengers)
Ending: moral justice
Magic: none (the 'magic' is in the perception of wealth)
Kolam Segaran (Segaran Pond): symbol of Majapahit's boundless wealth and strategic power.Golden dining ware: symbol of extreme luxury and disposable wealth.

Cultural Context

Origin: Indonesian (Majapahit)
Era: timeless fairy tale

The story is a legend explaining the origin of the Segaran Pond's name and its association with Majapahit's legendary wealth, possibly reflecting a historical practice or a symbolic narrative to assert dominance.

Plot Beats (13)

  1. Majapahit is introduced as a glorious, prosperous, and well-governed kingdom, famous throughout Nusantara.
  2. The kingdom's infrastructure, agriculture, and trade are described as highly advanced and abundant.
  3. The capital city boasts magnificent buildings, including the grand Segaran Pond with its floating palace.
  4. Foreign envoys are regularly hosted with lavish hospitality and shown the best of Majapahit's wealth.
  5. A specific banquet is held in the floating palace on Segaran Pond, showcasing intricate architecture and beautiful surroundings.
  6. The envoys are served with exquisite, all-gold dining ware, crafted by local artisans, further impressing them.
  7. During the banquet, the envoys praise the kingdom's beauty, hospitality, and the quality of its craftsmanship.
  8. After the meal, the palace staff collect all the golden dining ware, including plates, cups, and serving items.
  9. To the utter shock and amazement of the foreign guests, the staff proceed to throw all the golden items into the Segaran Pond.
  10. The staff act as if this is a normal routine, showing no regard for the value of the discarded items.
  11. The envoys are left bewildered, awestruck, and deeply impressed by this display of seemingly limitless wealth.
  12. Upon returning home, the envoys recount their experience, spreading tales of Majapahit's immense prosperity.
  13. This display of wealth and power instills profound respect and awe in neighboring kingdoms, ensuring Majapahit's unchallenged dominance.

Characters

👤

The Royal Family Member (Host)

human adult male

Not explicitly described, but implied to be of noble bearing.

Attire: Implied to be rich, formal attire suitable for hosting royal guests in the Majapahit era.

A warm, welcoming smile while gesturing towards the golden tableware.

Humble, hospitable, proud of his kingdom's artisans.

👤

The Guest (Spokesperson)

human adult male

Not explicitly described.

Attire: Formal attire of a foreign dignitary, likely from a neighboring kingdom.

Eyes wide with astonishment as he witnesses the golden tableware being discarded.

Observant, impressed, articulate, curious.

👤

The Dayangs (Maids)

human young adult female

Described as 'beautiful' ('cantik-cantik').

Attire: Beautiful, traditional Majapahit attire ('bagus pakaiannya'), likely colorful and elegant.

Gracefully tossing gleaming golden plates into the Kolam Segaran without a second glance.

Diligent, skilled, efficient, seemingly nonchalant about discarding valuable items.

Locations

Majapahit Kingdom

outdoor Implied fertile and pleasant conditions

A grand and prosperous kingdom in Nusantara, known for its well-organized territory, fertile rice fields with good irrigation, diverse plantations (palawija, spices, coconut, cloves, coffee), wide roads with neat natural stones, and bustling markets with traders from various regions, including China.

Mood: Prosperous, grand, orderly, respected

Establishes the setting and the kingdom's immense wealth and influence.

fertile rice fields irrigation system plantations (coconut, cloves, coffee) wide stone roads horse-drawn carriages bustling markets Chinese traders

Kolam Segaran (Segaran Pond)

outdoor dusk Cool mountain breeze, calm atmosphere

A giant pond, six hectares in size, with clear water and boundaries made of red brick walls 1.6 meters thick. It appears sturdy and majestic, often associated with the might and prosperity of Wilwatikta.

Mood: Majestic, serene, enchanting, reflecting wealth

The central feature of the royal hospitality, where the floating palace is located and where the golden utensils are discarded.

six-hectare pond clear water 1.6-meter thick red brick walls ripples from fish sparkling water droplets golden sunset reflections rainbow-colored arch

Floating Palace on Kolam Segaran

indoor afternoon | dusk Cool mountain breeze

A magnificent floating palace built on the vast Kolam Segaran, used for royal banquets. Constructed from selected teak wood beams with intricate Majapahit ornaments, featuring beautiful terracotta 'kemucuk' roofs and chosen wooden shingle tiles. The interior is adorned with finely carved golden utensils for banquets.

Mood: Luxurious, artistic, hospitable, astonishing

The main venue for the royal banquet where foreign envoys are entertained and witness the astonishing act of discarding golden utensils.

teak wood beams intricate Majapahit carvings terracotta 'kemucuk' roof wooden shingle tiles golden plates, bowls, trays, pitchers, spoons, forks, glasses royal servants in beautiful attire

View from Kolam Segaran (South)

outdoor Cool mountain breeze, misty peaks

A natural landscape visible from Kolam Segaran, featuring bluish-green hills and mountains surrounding the royal city of Majapahit. Tall mountains with white mist clinging to their peaks, and birds flying across the sky towards the mountain tops.

Mood: Panoramic, serene, majestic, natural beauty

Provides a scenic backdrop that enhances the allure of Kolam Segaran and the overall experience for royal guests.

bluish-green hills tall mountains white mist on peaks birds flying gamelan music