Menu

Legenda Sendang Tawun

by Balai Bahasa Surabaya

Legenda Sendang Tawun

The Kind Prince and the Magic Spring

CEFR A1 Age 5 340 words 2 min Canon 95/100

Long, long ago, a kind old man lived. He found a pretty spring. The water was clean and bright. Old Father Tawun smiled. He built a home near it.

He had two sons. Lodrojoyo loved plants and people. Hascaryo loved to travel far away.

Lodrojoyo walked to the farms one day. He saw the plants. They were brown and dry. The farmers looked very sad. "We have no water," they said. Lodrojoyo felt sad too. He wanted to help them.

He looked at the spring. The water was down low. He looked at the farms. The farms were up high. The water could not go up. "How can I help?" he said.

Lodrojoyo went to his father. "Father, the farmers are sad," he said. "The water cannot reach them. Can I ask the spring?" He wanted to sit very still. He wanted to ask softly.

Old Father Tawun looked at his son. He smiled a big, warm smile. "Yes, my son. You are very kind."

That night, Lodrojoyo sat by the spring. The stars were very bright. The night was quiet and soft. He closed his eyes. He wished very, very hard. "Please help the farmers," he said.

Then a great thing happened. A bright, warm light shone. It was so bright and pretty. They all woke up. They all came to look.

The spring had moved up the hill! The water was up high now. It could reach the farms! But Lodrojoyo was not there. He had gone to a special place.

They looked for him. But he was gone. They missed him very much.

Then they saw the water. It flowed to all the farms. Lodrojoyo helped the water move. He gave the biggest gift he could. He was so kind and so brave.

Now water went to all the plants. The plants grew tall and green! The farmers smiled and laughed. They were so happy.

Each year, the people had a big party. They made good food. They sang happy songs. They said thank you to Lodrojoyo. They told his story to each child.

And each year, they say thank you. Lodrojoyo was very, very kind. When we help others, they never forget.

Original Story 1390 words · 7 min read

Legenda Sendang Tawun onon pada abad XV, seorang pengembara yang datang bersama rombongannya ke Ss, daerah Padas menemukan sebuah sendang. Pengembara itu bemama Ki Ageng Tawun. Karena yang menemukan sendang tersebut adalah Ki Ageng Tawun, masyarakat setempat kemudian menamakan sendang itu sesuai dengan nama penemunya, yakni Sendang Tawun. Ki Ageng Tawun beserta keluarga dan rombongannya memutuskan tinggal di daerah itu karena mudah mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah lama hidup di sekitar sendang, Ki Ageng Tawun dan istrinya dikaruniai dua orang anak laki-laki yang bernama Raden Lodrojoyo dan Raden Hascaryo. Mereka sangat bahagia mendapat karunia dua anak laki-laki yang gagah dan tampan itu sehingga Ki Ageng Tawun selalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas kesehariannya, yaitu membangun daerah Padas. Meskipun memiliki kemiripan fisik, kedua anak Ki Ageng Tawun itu mempunyai kegemaran dan sifat yang berbeda, Raden Lodrojoyo suka bertani dan bercocok tanam, sedangkan Raden Hascaryo suka belajar olah keprajuritan, olah perang, dan mendalami ilmu ketatanegaraan. Kegemaran dan bakat mereka mendapat perhatian, salah satunya dari salah seorang anggota kelompok yang turut mengembara bersama Ki Ageng Tawun, yaitu Raden Sinorowito, putra Sultan Pajang. Dari kedua putra Ki Ageng Tawun, Raden Hascaryo yang paling dia perhatikan karena bakat dan kegemarannya sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Akhirnya, Raden Sinorowito memutuskan untuk mengangkat Raden Hascaryo menjadi muridnya dan sejak saat itu dia terus melatih dan menggemblengnya, baik dalam hal keprajuritan dan ilmu perang maupun dalam hal ketatanegaraan. Setelah bertihun-tahun menjadi murid Raden Sinorowito, Raden Hascaryo menjelma menjadi seorang pria dewasa yang sangat cakap. Dia cakap dalam hal keprajuritan dan strategi perang, juga cakap dalam hal ketatanegaraan. Setelah dirasa cukup, Raden Hascaryo diajak ikut mengabdi di kesultanan Pajang oleh Raden Sinorowito. Sebelum pergi, Raden Hascaryo dibekali sebuah cinde pusaka oleh Ki Ageng Tawun. Sejak saat itulah, Raden Hascaryo mengabdi di kesultanan Pajang. Konon, pada waktu terjadi pertempuran antara kesultanan Pajang dan kerajaan « Blambangan, Raden Hascaryo dipercaya oleh Sultan Pajang sebagai seorang senopati perang. Sultan Pajang melihat kemampuan Raden Hascaryo untuk memimpin pasukan perang dan percaya akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Terbukti akhirnya Pajang menuai kemenangan melawan kerajaan Blambangan di bawah kepemimpinannya. Lain cerita dengan Raden Lodrojoyo. Jika saudaranya, Raden Hascaryo sudah mengabdi di kesultanan Pajang, dia malah memilih tinggal bersama dengan Ki Ageng Tawun. Karena gemar bertani dan bercocok tanam, dia sering berkeliling melihat kehidupan para petani di daerah tersebut. Sehari-hari dia sangat memerhatikan rakyat kecil, khususnya para petani. Dia selalu menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi mereka. Banyak yang mengatakan bahwa mereka tidak dapat menanam padi dengan sempuma karena kekurangan air. Raden 119 Lodrojoyo tak habis pikir, bagaimana mungkin petani di desa tersebut bisa kekurangan air untuk tanaman padinya karena di daerah itu ada sendang yang selalu penuh atrnya: Ia terus berusaha mencari cara agar petani bisa memanfaatkan air yang ada di sendang itu untuk mengairi sawahnya. Dia yakin pasti ada jalan untuk mengalirkan air dari sendang menuju persawahan warga. Pada suatu hari, tepatnya hari Kamis Kliwon, Raden Lodrojoyo menghadap Ki Ageng Tawun dan mengutarakan niat sucinya. “Romo, jika romo mengizinkan, nanti malam Putranda hendak menjalani ulah tirakat di Sendang Tawun.” "Kamu hendak bertapa di Sendang Tawun malam ini?” "Tya Romo, jika diperkenankan.” “Lalu tapa apa yang hendak kamu lakukan?” "Matirto, Romo." ”Matirto?” "Iya Romo.” "Jika memang niatmu untuk membantu petani dan rakyat kecil, Romo tidak bisa mencegahmu.” Matirto adalah lelaku tirakat atau bertapa dengan cara merendam diri di dalam air. Di Pulau Jawa bertapa seperti ini juga dikenal dengan sebutan topo kungkum. Merendam seluruh tubuh sampai sebatas leher atau bahu di dalam air. Dengan melakukan matirto ini, Raden Lodrojoyo berharap cita-cita luhurnya akan dikabulkan oleh Tuhan pencipta alam semesta, yaitu dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh petani dan rakyat kecil. Ki Ageng masih penasaran dengan apa yang dikehendaki sebenarnya oleh Raden Lodrojoyo sehingga pembicaraan mereka berlanjut. ”Apa tujuanmu sebenarnya melakukan matirto, Lodrojoyo?” “Putranda mengerti bagaimana warga sekitar sendang selalu mengalami gagal panen. Hal itu terjadi karena sawah-sawah mereka kekurangan air meskipun ada sendang di sekitar tempat itu. Namun, bagaimana cara mengalirkan airnya? Sawah mereka lebih tinggi letaknya dibandingkan dengan letak Sendang Tawun." "Lalu kamu ingin mengubah nasib mereka?” ”Putranda hendak mohon petunjuk dari Tuhan Yang Mahaagung dan Mahakuasa bagaimana caranya mengalirkan air Sendang Tawun tersebut ke sawah-sawah mereka.” “Baiklah, Romo merestui niat tulusmu, Lodrojoyo.”" ”Terima kasih Romo." Setelah mendapat restu dari Ki Ageng Tawun, tepat pukul tujuh malam, bari Jumat Legi, Raden Lodrojoyo pergi ke Sendang Tawun. Sambil berdoa memohon petunjuk Tuhan Yang Mahaagung dia mulai melakukan lelaku matirto, yaitu dengan merendam dirinya di Sendang Tawun. Suasana gelap dan air yang sangat dingin tidak dihiraukan karena tekadnya hanya satu, yaitu ingin membantu petani dan rakyat kecil. Malam langit cerah, bulan purnama tersenyum ramah. Di tengah-tengah sendang yang rimbun oleh pepohonan yang ditanam memagari Sendang Tawun, Raden Lodrojoyo terus melakukan /elaku matirto dan memanjatkan doanya kepada Yang Mahaagung. Tepat pada pukul dua belas tengah malam, bulan yang semula terang tiba-tiba redup tertutup awan tebal. Suasana menjadi sangat menyeramkan. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang amat dahsyat, "blaaarr!” Kerasnya suara ledakan tersebut sampai 120 membangunkan warga setempat. Mereka beramai-ramai menuju pusat suara ledakan yang diduga berasal dari arah Sendang Tawun. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat apa yang terjadi di Sendang Tawun. Sendang tidak lagi berada di tempat semula, namun berpindah ke sebelah utara yang lokasinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan persawahan warga. Warga pun tak dapat menutupi keheranannya. "Ajaib! “Sungguh aneh!” "Luar biasa!” "Bagaimana bisa? Apa ada hubungannya Gerai suara ledakan yang kita dengar tadi?” “Tya, benar. Mungkin karena suara ledakan itu?” "Tapi apanya yang meledak? Sendang itu masih utuh, hanya lokasinya saja yang berpindah.” "Ayo, coba kita lihat lebih dekat.” ”Benar...benar, siapa tahu ada yang berubah.” Mereka berjalan mengitari sendang di tempat yang baru, tetapi tidak ada yang berbeda dengan sendang sebelumnya. Airnya pun tetap tenang dan jernih, seperti tidak terjadi apa-apa. Keheranan warga pun semekin menjadi. Akan tetapi, belum sempat mereka berkomentar, terdengar suara Ki Ageng Tawun memanggil-manggil anaknya. “Lodrojoyo...Lodrojoyo!” "Bukankah itu suara Ki Ageng?” “Benar, itu suara Ki Ageng!” ”Jangan...jangan...suara tadi ada hubungannya dengan Ki Ageng. Ayo, sebaiknya kita beritahu Ki Ageng.” ”Aki...Ki Ageng, kami di sini. Sekarang sendangnya ada di atas!” Sesaat kemudian mereka juga tersadar bahwa Raden Lodrojoyo yang menjalani /elaku matirto di sendang itu juga turut lenyap secara misterius bersamaan dengan terdengarnya suara ledakan itu. ”Ki, bukankah Raden Lodrojoyo tadi ada di sendang?” tanya seorang petani kepada Ki Ageng Tawun setelah tiba di atas. Mereka berdiri sambil mengamati sekeliling sendang. ”Ta melakukan lelaku matirto sejak sore tadi, Tapi, di mana dia sekarang?” “Sejak kami kemari, tidak ada orang lain selain kita di sini, Ki.” ”Coba kita berpencar mencari. Karyo dan...kau Sanapi, cari di lokasi sekitar sendang lama. Kau...Mistam, Parmin, dan Paijo, ajak warga yang lain mencari di sekitar lokasi ini.” "Baik, Ki!” Mereka pun berpencar. Sambil memanggil-manggil nama Raden Lodrojoyo mereka berusaha menyibak pepohonan di sekitar sendang. Usaha mereka malam itu tidak membuahkan hasil. Ki Ageng Tawun dengan dibantu oleh masyarakat setempat terus mencari keberadaan Raden Lodrojoyo di dalam sendang tersebut sampai hari Selasa Kliwon, tetapi tidak berhasil. Segala upaya telah dilakukan untuk menemukannya, bahkan air Sendang Tawun dikuras sampai habis, tetapi Raden Lodrojoyo tetap tidak ditemukan. Akhirnya, mereka sadar bahwa inilah pengorbanan Raden Lodrojoyo. Kegigihannya dalam memperjuangkan dan membantu kepentingan petani dan rakyat kecil harus dibayar mahal dengan nyawanya. Pengorbanannya tidak sia-sia karena berkat upaya gigih Raden Lodrojoyo, petani sudah dapat mengalirkan air 121 dari sendang ke lokasi persawahan mereka. Dengan demikian, petani tidak akan mengalami gagal panen lagi akibat kekurangan air. Sejak peristiwa itu, setahun sekali warga setempat mengadakan upacara adat untuk mengenang pengorbanan Raden Lodrojoyo yang peduli terhadap nasib kaum miskin dan para petani yang menderita karena kekurangan air. Upacara adat tersebut dinamakan "Bersih Sendang” dan diadakan tepat pada hari Selasa Kliwon. Mereka menyediakan sesaji berupa tiga puluh macam hasil bumi dan bunga-bunga segar dan harum baunya. Dalam upacara adat itu juga disembelih dua belas ekor kambing yang sebelumnya dimandikan dahulu sebanyak tiga kali di Sendang Tawun. Beberapa juru selam dengan berpakaian kebesaran melakukan penyelaman sambil membersihkan sendang. Setelah sendang bersih, sekelompok orang yang mewakili masyarakat setempat dengan membawa tumpeng nasi lengkap dengan lauk pauknya dan berbagai peralatan makan berjalan beriringan melintasi sendang dari arah timur ke barat. Kemudian diadakan selamatan atau kenduri yang diakhiri dengan perebutan tumpeng berkah dan makan bersama. Acara selanjutnya dengan permainan pecut-pecutan secara berpasang-pasangan sebagai ungkapan latihan perang antara seorang prajurit dengan seorang senopati. 122

Moral of the Story

True compassion and self-sacrifice for the well-being of the community will be remembered and honored.


Characters 5 characters

Ki Ageng Tawun ◆ supporting

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a capable leader and father.

Attire: Traditional Javanese attire, possibly a sarong and a batik shirt, suitable for a respected elder and leader of a group.

Caring, supportive, wise, and a good leader.

Raden Lodrojoyo ★ protagonist

human young adult male

Described as 'gagah dan tampan' (strong and handsome).

Attire: Simple, practical clothing suitable for farming and a life close to the land, perhaps a sarong and a plain shirt.

Compassionate, determined, selfless, and persistent.

Raden Hascaryo ◆ supporting

human young adult male

Described as 'gagah dan tampan' (strong and handsome).

Attire: More formal attire befitting a warrior and statesman, possibly a traditional Javanese military uniform or fine batik clothing, and carrying a 'cinde pusaka'.

Ambitious, disciplined, intelligent, and skilled in warfare and statecraft.

Raden Sinorowito ◆ supporting

human adult male

None explicitly mentioned, but as a prince, likely well-groomed and of noble bearing.

Attire: Regal Javanese attire, indicative of his status as the son of the Sultan of Pajang, possibly rich batik fabrics and noble accessories.

Perceptive, influential, and a skilled mentor.

Sultan Pajang ○ minor

human adult male

None explicitly mentioned, but as a Sultan, would be expected to have a commanding presence.

Attire: Royal Javanese regalia, including a crown or elaborate headpiece, and richly embroidered garments.

Discerning, trusting, and a strong leader.

Locations 4 locations
Daerah Padas

Daerah Padas

outdoor implied to be suitable for settlement and farming

An area where Ki Ageng Tawun and his group settled, known for having a spring (sendang).

Mood: initially promising, later facing agricultural challenges

Ki Ageng Tawun discovers the spring and decides to settle here; later, farmers face water scarcity for their rice fields.

sendang (spring)farmlandssettlement
Sendang Tawun (Original Location)

Sendang Tawun (Original Location)

outdoor night clear night, full moon, then thick clouds, very cold water

A spring discovered by Ki Ageng Tawun, full of water, later surrounded by lush trees planted to fence it.

Mood: serene, then eerie and mysterious

Raden Lodrojoyo performs 'matirto' (meditation by immersing in water) here; a massive explosion occurs, and the spring mysteriously relocates.

springlush treescold waterfull moonthick clouds
Sendang Tawun (New Location)

Sendang Tawun (New Location)

outdoor night to morning

The spring after it mysteriously moved to a higher location north of the farmlands, with calm and clear water, appearing unchanged despite its relocation.

Mood: awe-inspiring, miraculous, still serene

Discovered by the villagers after the explosion; Raden Lodrojoyo is missing from here; becomes the site of the annual 'Bersih Sendang' ceremony.

springcalm and clear waterhigher elevationsurrounding trees
Pajang Sultanate

Pajang Sultanate

indoor

The royal court where Raden Hascaryo serves as a warrior and strategist.

Mood: formal, strategic, powerful

Raden Hascaryo serves as a senopati (commander) and leads Pajang to victory against Blambangan.

royal courtbattlefields

Story DNA legend · solemn

Moral

True compassion and self-sacrifice for the well-being of the community will be remembered and honored.

Plot Summary

In the 15th century, Ki Ageng Tawun settles near a spring, raising two sons: Raden Hascaryo, who becomes a respected warrior, and Raden Lodrojoyo, who dedicates himself to the local farmers. Witnessing the farmers' struggles with water scarcity, Raden Lodrojoyo performs a sacred water meditation ('matirto') at the spring, seeking a divine solution. During his ritual, a mysterious explosion occurs, and the spring miraculously moves to a higher elevation, allowing water to reach the fields, but Raden Lodrojoyo vanishes. The community, realizing his ultimate sacrifice, establishes an annual ceremony, 'Bersih Sendang,' to honor his memory and ensure the continued prosperity of their land.

Themes

sacrificecommunityperseverancecompassion

Emotional Arc

hope to sacrifice to enduring legacy

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of cultural terms, historical framing

Narrative Elements

Conflict: person vs nature (initially), person vs self (Lodrojoyo's internal struggle to help), person vs supernatural (the mysterious event)
Ending: moral justice
Magic: mysterious movement of the spring, divine intervention in response to prayer
Sendang Tawun (source of life, sacred place, symbol of community's well-being)Raden Lodrojoyo's disappearance (symbol of ultimate sacrifice)

Cultural Context

Origin: Javanese (Indonesian)
Era: 15th century and timeless fairy tale

The story is set in the context of historical Javanese kingdoms (Pajang, Blambangan) and incorporates traditional Javanese spiritual practices and social structures, giving it a legendary quality rooted in local history and belief.

Plot Beats (15)

  1. Ki Ageng Tawun discovers Sendang Tawun in the 15th century and settles there with his family and followers.
  2. Ki Ageng Tawun and his wife have two sons, Raden Lodrojoyo (farmer) and Raden Hascaryo (soldier/statesman).
  3. Raden Hascaryo becomes a skilled warrior and statesman, serving the Sultanate of Pajang.
  4. Raden Lodrojoyo remains with his father, observing the local farmers' struggles with crop failure due to lack of water, despite the nearby spring.
  5. Raden Lodrojoyo realizes the problem is the spring's lower elevation compared to the rice fields.
  6. Raden Lodrojoyo seeks his father's permission to perform 'matirto' (water meditation) at Sendang Tawun to find a solution.
  7. Ki Ageng Tawun, after understanding his son's noble intention, grants his blessing.
  8. Raden Lodrojoyo begins his 'matirto' ritual at Sendang Tawun on a dark, cold night, praying for divine guidance.
  9. At midnight, a bright moon dims, and a massive explosion occurs, waking the villagers.
  10. Villagers rush to Sendang Tawun and discover it has miraculously moved to a higher elevation, but Raden Lodrojoyo is gone.
  11. Ki Ageng Tawun and the villagers search for Raden Lodrojoyo for days, even draining the spring, but he is never found.
  12. The community realizes Raden Lodrojoyo's disappearance is a sacrifice that enabled the spring to move, solving the farmers' water problem.
  13. Farmers can now irrigate their fields, preventing future crop failures.
  14. The community establishes an annual 'Bersih Sendang' ceremony on 'Selasa Kliwon' to honor Raden Lodrojoyo's sacrifice.
  15. The ceremony involves offerings, ritual bathing of goats, cleaning the spring, a communal meal, and a 'pecut-pecutan' (whip play) performance.

Related Stories