Legenda Sendang Tawun

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story solemn Ages 8-14 1390 words 7 min read
Cover: Legenda Sendang Tawun
Original Story 1390 words · 7 min read

Legenda Sendang Tawun

onon pada abad XV, seorang pengembara yang datang bersama rombongannya ke

Ss, daerah Padas menemukan sebuah sendang. Pengembara itu bemama Ki Ageng

Tawun. Karena yang menemukan sendang tersebut adalah Ki Ageng Tawun,

masyarakat setempat kemudian menamakan sendang itu sesuai dengan nama penemunya,

yakni Sendang Tawun.

Ki Ageng Tawun beserta keluarga dan rombongannya memutuskan tinggal di daerah itu

karena mudah mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah lama hidup di sekitar

sendang, Ki Ageng Tawun dan istrinya dikaruniai dua orang anak laki-laki yang bernama

Raden Lodrojoyo dan Raden Hascaryo. Mereka sangat bahagia mendapat karunia dua anak

laki-laki yang gagah dan tampan itu sehingga Ki Ageng Tawun selalu bersemangat dalam

menjalankan aktivitas kesehariannya, yaitu membangun daerah Padas.

Meskipun memiliki kemiripan fisik, kedua anak Ki Ageng Tawun itu mempunyai

kegemaran dan sifat yang berbeda, Raden Lodrojoyo suka bertani dan bercocok tanam,

sedangkan Raden Hascaryo suka belajar olah keprajuritan, olah perang, dan mendalami ilmu

ketatanegaraan. Kegemaran dan bakat mereka mendapat perhatian, salah satunya dari salah

seorang anggota kelompok yang turut mengembara bersama Ki Ageng Tawun, yaitu Raden

Sinorowito, putra Sultan Pajang. Dari kedua putra Ki Ageng Tawun, Raden Hascaryo yang

paling dia perhatikan karena bakat dan kegemarannya sesuai dengan keahlian dan

kemampuannya. Akhirnya, Raden Sinorowito memutuskan untuk mengangkat Raden

Hascaryo menjadi muridnya dan sejak saat itu dia terus melatih dan menggemblengnya, baik

dalam hal keprajuritan dan ilmu perang maupun dalam hal ketatanegaraan.

Setelah bertihun-tahun menjadi murid Raden Sinorowito, Raden Hascaryo menjelma

menjadi seorang pria dewasa yang sangat cakap. Dia cakap dalam hal keprajuritan dan

strategi perang, juga cakap dalam hal ketatanegaraan. Setelah dirasa cukup, Raden Hascaryo

diajak ikut mengabdi di kesultanan Pajang oleh Raden Sinorowito. Sebelum pergi, Raden

Hascaryo dibekali sebuah cinde pusaka oleh Ki Ageng Tawun. Sejak saat itulah, Raden

Hascaryo mengabdi di kesultanan Pajang.

Konon, pada waktu terjadi pertempuran antara kesultanan Pajang dan kerajaan

« Blambangan, Raden Hascaryo dipercaya oleh Sultan Pajang sebagai seorang senopati perang.

Sultan Pajang melihat kemampuan Raden Hascaryo untuk memimpin pasukan perang dan

percaya akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Terbukti akhirnya Pajang menuai

kemenangan melawan kerajaan Blambangan di bawah kepemimpinannya.

Lain cerita dengan Raden Lodrojoyo. Jika saudaranya, Raden Hascaryo sudah mengabdi

di kesultanan Pajang, dia malah memilih tinggal bersama dengan Ki Ageng Tawun. Karena

gemar bertani dan bercocok tanam, dia sering berkeliling melihat kehidupan para petani di

daerah tersebut. Sehari-hari dia sangat memerhatikan rakyat kecil, khususnya para petani. Dia

selalu menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi mereka. Banyak yang mengatakan

bahwa mereka tidak dapat menanam padi dengan sempuma karena kekurangan air. Raden

119

Lodrojoyo tak habis pikir, bagaimana mungkin petani di desa tersebut bisa kekurangan air

untuk tanaman padinya karena di daerah itu ada sendang yang selalu penuh atrnya: Ia terus

berusaha mencari cara agar petani bisa memanfaatkan air yang ada di sendang itu untuk

mengairi sawahnya. Dia yakin pasti ada jalan untuk mengalirkan air dari sendang menuju

persawahan warga.

Pada suatu hari, tepatnya hari Kamis Kliwon, Raden Lodrojoyo menghadap Ki Ageng

Tawun dan mengutarakan niat sucinya.

“Romo, jika romo mengizinkan, nanti malam Putranda hendak menjalani ulah tirakat di

Sendang Tawun.”

"Kamu hendak bertapa di Sendang Tawun malam ini?”

"Tya Romo, jika diperkenankan.”

“Lalu tapa apa yang hendak kamu lakukan?”

"Matirto, Romo."

”Matirto?”

"Iya Romo.”

"Jika memang niatmu untuk membantu petani dan rakyat kecil, Romo tidak bisa

mencegahmu.”

Matirto adalah lelaku tirakat atau bertapa dengan cara merendam diri di dalam air. Di

Pulau Jawa bertapa seperti ini juga dikenal dengan sebutan topo kungkum. Merendam seluruh

tubuh sampai sebatas leher atau bahu di dalam air. Dengan melakukan matirto ini, Raden

Lodrojoyo berharap cita-cita luhurnya akan dikabulkan oleh Tuhan pencipta alam semesta,

yaitu dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh petani dan rakyat kecil.

Ki Ageng masih penasaran dengan apa yang dikehendaki sebenarnya oleh Raden

Lodrojoyo sehingga pembicaraan mereka berlanjut.

”Apa tujuanmu sebenarnya melakukan matirto, Lodrojoyo?”

“Putranda mengerti bagaimana warga sekitar sendang selalu mengalami gagal panen.

Hal itu terjadi karena sawah-sawah mereka kekurangan air meskipun ada sendang di sekitar

tempat itu. Namun, bagaimana cara mengalirkan airnya? Sawah mereka lebih tinggi letaknya

dibandingkan dengan letak Sendang Tawun."

"Lalu kamu ingin mengubah nasib mereka?”

”Putranda hendak mohon petunjuk dari Tuhan Yang Mahaagung dan Mahakuasa

bagaimana caranya mengalirkan air Sendang Tawun tersebut ke sawah-sawah mereka.”

“Baiklah, Romo merestui niat tulusmu, Lodrojoyo.”"

”Terima kasih Romo."

Setelah mendapat restu dari Ki Ageng Tawun, tepat pukul tujuh malam, bari Jumat Legi,

Raden Lodrojoyo pergi ke Sendang Tawun. Sambil berdoa memohon petunjuk Tuhan Yang

Mahaagung dia mulai melakukan lelaku matirto, yaitu dengan merendam dirinya di Sendang

Tawun. Suasana gelap dan air yang sangat dingin tidak dihiraukan karena tekadnya hanya

satu, yaitu ingin membantu petani dan rakyat kecil.

Malam langit cerah, bulan purnama tersenyum ramah. Di tengah-tengah sendang yang

rimbun oleh pepohonan yang ditanam memagari Sendang Tawun, Raden Lodrojoyo terus

melakukan /elaku matirto dan memanjatkan doanya kepada Yang Mahaagung.

Tepat pada pukul dua belas tengah malam, bulan yang semula terang tiba-tiba redup

tertutup awan tebal. Suasana menjadi sangat menyeramkan. Tak lama kemudian terdengar

suara ledakan yang amat dahsyat, "blaaarr!” Kerasnya suara ledakan tersebut sampai

120

membangunkan warga setempat. Mereka beramai-ramai menuju pusat suara ledakan yang

diduga berasal dari arah Sendang Tawun. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.

Betapa terkejutnya mereka setelah melihat apa yang terjadi di Sendang Tawun. Sendang

tidak lagi berada di tempat semula, namun berpindah ke sebelah utara yang lokasinya lebih

tinggi jika dibandingkan dengan persawahan warga. Warga pun tak dapat menutupi

keheranannya.

"Ajaib!

“Sungguh aneh!”

"Luar biasa!”

"Bagaimana bisa? Apa ada hubungannya Gerai suara ledakan yang kita dengar tadi?”

“Tya, benar. Mungkin karena suara ledakan itu?”

"Tapi apanya yang meledak? Sendang itu masih utuh, hanya lokasinya saja yang

berpindah.”

"Ayo, coba kita lihat lebih dekat.”

”Benar...benar, siapa tahu ada yang berubah.”

Mereka berjalan mengitari sendang di tempat yang baru, tetapi tidak ada yang berbeda

dengan sendang sebelumnya. Airnya pun tetap tenang dan jernih, seperti tidak terjadi apa-apa.

Keheranan warga pun semekin menjadi. Akan tetapi, belum sempat mereka berkomentar,

terdengar suara Ki Ageng Tawun memanggil-manggil anaknya.

“Lodrojoyo...Lodrojoyo!”

"Bukankah itu suara Ki Ageng?”

“Benar, itu suara Ki Ageng!”

”Jangan...jangan...suara tadi ada hubungannya dengan Ki Ageng. Ayo, sebaiknya kita

beritahu Ki Ageng.”

”Aki...Ki Ageng, kami di sini. Sekarang sendangnya ada di atas!”

Sesaat kemudian mereka juga tersadar bahwa Raden Lodrojoyo yang menjalani /elaku

matirto di sendang itu juga turut lenyap secara misterius bersamaan dengan terdengarnya

suara ledakan itu.

”Ki, bukankah Raden Lodrojoyo tadi ada di sendang?” tanya seorang petani kepada Ki

Ageng Tawun setelah tiba di atas. Mereka berdiri sambil mengamati sekeliling sendang.

”Ta melakukan lelaku matirto sejak sore tadi, Tapi, di mana dia sekarang?”

“Sejak kami kemari, tidak ada orang lain selain kita di sini, Ki.”

”Coba kita berpencar mencari. Karyo dan...kau Sanapi, cari di lokasi sekitar sendang

lama. Kau...Mistam, Parmin, dan Paijo, ajak warga yang lain mencari di sekitar lokasi ini.”

"Baik, Ki!”

Mereka pun berpencar. Sambil memanggil-manggil nama Raden Lodrojoyo mereka

berusaha menyibak pepohonan di sekitar sendang. Usaha mereka malam itu tidak

membuahkan hasil.

Ki Ageng Tawun dengan dibantu oleh masyarakat setempat terus mencari keberadaan

Raden Lodrojoyo di dalam sendang tersebut sampai hari Selasa Kliwon, tetapi tidak berhasil.

Segala upaya telah dilakukan untuk menemukannya, bahkan air Sendang Tawun dikuras

sampai habis, tetapi Raden Lodrojoyo tetap tidak ditemukan. Akhirnya, mereka sadar bahwa

inilah pengorbanan Raden Lodrojoyo. Kegigihannya dalam memperjuangkan dan membantu

kepentingan petani dan rakyat kecil harus dibayar mahal dengan nyawanya. Pengorbanannya

tidak sia-sia karena berkat upaya gigih Raden Lodrojoyo, petani sudah dapat mengalirkan air

121

dari sendang ke lokasi persawahan mereka. Dengan demikian, petani tidak akan mengalami

gagal panen lagi akibat kekurangan air.

Sejak peristiwa itu, setahun sekali warga setempat mengadakan upacara adat untuk

mengenang pengorbanan Raden Lodrojoyo yang peduli terhadap nasib kaum miskin dan para

petani yang menderita karena kekurangan air. Upacara adat tersebut dinamakan "Bersih

Sendang” dan diadakan tepat pada hari Selasa Kliwon.

Mereka menyediakan sesaji berupa tiga puluh macam hasil bumi dan bunga-bunga segar

dan harum baunya. Dalam upacara adat itu juga disembelih dua belas ekor kambing yang

sebelumnya dimandikan dahulu sebanyak tiga kali di Sendang Tawun. Beberapa juru selam

dengan berpakaian kebesaran melakukan penyelaman sambil membersihkan sendang.

Setelah sendang bersih, sekelompok orang yang mewakili masyarakat setempat dengan

membawa tumpeng nasi lengkap dengan lauk pauknya dan berbagai peralatan makan

berjalan beriringan melintasi sendang dari arah timur ke barat. Kemudian diadakan selamatan

atau kenduri yang diakhiri dengan perebutan tumpeng berkah dan makan bersama. Acara

selanjutnya dengan permainan pecut-pecutan secara berpasang-pasangan sebagai ungkapan

latihan perang antara seorang prajurit dengan seorang senopati.

122


Story DNA

Moral

True compassion and self-sacrifice for the well-being of the community will be remembered and honored.

Plot Summary

In the 15th century, Ki Ageng Tawun settles near a spring, raising two sons: Raden Hascaryo, who becomes a respected warrior, and Raden Lodrojoyo, who dedicates himself to the local farmers. Witnessing the farmers' struggles with water scarcity, Raden Lodrojoyo performs a sacred water meditation ('matirto') at the spring, seeking a divine solution. During his ritual, a mysterious explosion occurs, and the spring miraculously moves to a higher elevation, allowing water to reach the fields, but Raden Lodrojoyo vanishes. The community, realizing his ultimate sacrifice, establishes an annual ceremony, 'Bersih Sendang,' to honor his memory and ensure the continued prosperity of their land.

Themes

sacrificecommunityperseverancecompassion

Emotional Arc

hope to sacrifice to enduring legacy

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: explanation of cultural terms, historical framing

Narrative Elements

Conflict: person vs nature (initially), person vs self (Lodrojoyo's internal struggle to help), person vs supernatural (the mysterious event)
Ending: moral justice
Magic: mysterious movement of the spring, divine intervention in response to prayer
Sendang Tawun (source of life, sacred place, symbol of community's well-being)Raden Lodrojoyo's disappearance (symbol of ultimate sacrifice)

Cultural Context

Origin: Javanese (Indonesian)
Era: 15th century and timeless fairy tale

The story is set in the context of historical Javanese kingdoms (Pajang, Blambangan) and incorporates traditional Javanese spiritual practices and social structures, giving it a legendary quality rooted in local history and belief.

Plot Beats (15)

  1. Ki Ageng Tawun discovers Sendang Tawun in the 15th century and settles there with his family and followers.
  2. Ki Ageng Tawun and his wife have two sons, Raden Lodrojoyo (farmer) and Raden Hascaryo (soldier/statesman).
  3. Raden Hascaryo becomes a skilled warrior and statesman, serving the Sultanate of Pajang.
  4. Raden Lodrojoyo remains with his father, observing the local farmers' struggles with crop failure due to lack of water, despite the nearby spring.
  5. Raden Lodrojoyo realizes the problem is the spring's lower elevation compared to the rice fields.
  6. Raden Lodrojoyo seeks his father's permission to perform 'matirto' (water meditation) at Sendang Tawun to find a solution.
  7. Ki Ageng Tawun, after understanding his son's noble intention, grants his blessing.
  8. Raden Lodrojoyo begins his 'matirto' ritual at Sendang Tawun on a dark, cold night, praying for divine guidance.
  9. At midnight, a bright moon dims, and a massive explosion occurs, waking the villagers.
  10. Villagers rush to Sendang Tawun and discover it has miraculously moved to a higher elevation, but Raden Lodrojoyo is gone.
  11. Ki Ageng Tawun and the villagers search for Raden Lodrojoyo for days, even draining the spring, but he is never found.
  12. The community realizes Raden Lodrojoyo's disappearance is a sacrifice that enabled the spring to move, solving the farmers' water problem.
  13. Farmers can now irrigate their fields, preventing future crop failures.
  14. The community establishes an annual 'Bersih Sendang' ceremony on 'Selasa Kliwon' to honor Raden Lodrojoyo's sacrifice.
  15. The ceremony involves offerings, ritual bathing of goats, cleaning the spring, a communal meal, and a 'pecut-pecutan' (whip play) performance.

Characters

👤

Ki Ageng Tawun

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a capable leader and father.

Attire: Traditional Javanese attire, possibly a sarong and a batik shirt, suitable for a respected elder and leader of a group.

A respected elder, perhaps with a wise, calm expression, giving his blessing to his son.

Caring, supportive, wise, and a good leader.

👤

Raden Lodrojoyo

human young adult male

Described as 'gagah dan tampan' (strong and handsome).

Attire: Simple, practical clothing suitable for farming and a life close to the land, perhaps a sarong and a plain shirt.

Submerged in the Sendang Tawun, performing 'matirto', with a look of deep concentration and resolve.

Compassionate, determined, selfless, and persistent.

👤

Raden Hascaryo

human young adult male

Described as 'gagah dan tampan' (strong and handsome).

Attire: More formal attire befitting a warrior and statesman, possibly a traditional Javanese military uniform or fine batik clothing, and carrying a 'cinde pusaka'.

Standing proudly in warrior attire, perhaps holding the 'cinde pusaka' given by his father.

Ambitious, disciplined, intelligent, and skilled in warfare and statecraft.

👤

Raden Sinorowito

human adult male

None explicitly mentioned, but as a prince, likely well-groomed and of noble bearing.

Attire: Regal Javanese attire, indicative of his status as the son of the Sultan of Pajang, possibly rich batik fabrics and noble accessories.

A noble figure, perhaps in discussion with Raden Hascaryo, imparting wisdom or training.

Perceptive, influential, and a skilled mentor.

👤

Sultan Pajang

human adult male

None explicitly mentioned, but as a Sultan, would be expected to have a commanding presence.

Attire: Royal Javanese regalia, including a crown or elaborate headpiece, and richly embroidered garments.

Seated on a throne, giving commands or entrusting a task to Raden Hascaryo.

Discerning, trusting, and a strong leader.

Locations

Daerah Padas

outdoor implied to be suitable for settlement and farming

An area where Ki Ageng Tawun and his group settled, known for having a spring (sendang).

Mood: initially promising, later facing agricultural challenges

Ki Ageng Tawun discovers the spring and decides to settle here; later, farmers face water scarcity for their rice fields.

sendang (spring) farmlands settlement

Sendang Tawun (Original Location)

outdoor night clear night, full moon, then thick clouds, very cold water

A spring discovered by Ki Ageng Tawun, full of water, later surrounded by lush trees planted to fence it.

Mood: serene, then eerie and mysterious

Raden Lodrojoyo performs 'matirto' (meditation by immersing in water) here; a massive explosion occurs, and the spring mysteriously relocates.

spring lush trees cold water full moon thick clouds

Sendang Tawun (New Location)

outdoor night to morning

The spring after it mysteriously moved to a higher location north of the farmlands, with calm and clear water, appearing unchanged despite its relocation.

Mood: awe-inspiring, miraculous, still serene

Discovered by the villagers after the explosion; Raden Lodrojoyo is missing from here; becomes the site of the annual 'Bersih Sendang' ceremony.

spring calm and clear water higher elevation surrounding trees

Pajang Sultanate

indoor

The royal court where Raden Hascaryo serves as a warrior and strategist.

Mood: formal, strategic, powerful

Raden Hascaryo serves as a senopati (commander) and leads Pajang to victory against Blambangan.

royal court battlefields