Legenda Sombher Bhaji

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

legend origin story melancholy Ages 8-14 1282 words 6 min read
Cover: Legenda Sombher Bhaji
Original Story 1282 words · 6 min read

Legenda Sombher Bhaji

hutan, Setiap hari ia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Kayu bakar itu

merupakan sumber kehidupannya. Ia biasa menukarnya dengan bahan makanan di

pasar. Karena pekerjaannya itu, orang-orang menyebutnya perempuan pencari kayu bakar.

Konon, pada suatu hari, seperti biasa, perempuan itu mencari kayu di sebuah hutan. Ia

bekerja keras mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berserakan dan sudah mengering.

Tanpa disadarinya, ranting-ranting yang terkumpul sangat banyak. Saking banyaknya kayu

bakar yang dikumpulkan, dia tidak mampu membawanya. Pada saat itu, datanglah seorang

lelaki menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu meminta bantuan kepadanya,

"Tuan, maukah kau membantuku? Aku tak kuat membawa kayu-kayu ini.”

Laki-laki itu pun menjawab, "Dengan senang hati, saya akan membantumu. Tapi ada

Syaratnya. Jika kau mau ikuti syaratku, aku akan membafttumu. Bagaimana, apakah kau

mau?" tanya laki-laki itu.

“Apakah syaratnya? Kalau tidak terlalu berat, aku akan memenuhinya.”

“Mudah saja. Aku hanya minta dalam perjalanan nanti, sebelum sampai di tempat

tujuan, kau tidak boleh berbicara dan menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke belakang.”

“Hanya itu? Baiklah, aku setuju. Tolong bawakan kayu-kayuku ini.”

“Baik. Tapi, ingat syaratku. Jangan sekali-kali kaulanggar. Jika kaulanggar, kau akan

tanggung sendiri akibatnya.”

“Tidak akan. Ayo kita berangkat. Sebentar lagi gelap.”

Sambil berjalan menyusuri hutan, pikiran perempuan pencari kayu itu berkecamuk. Ia

merasa bingung dengan sikapnya sendiri yang menurut saja pada kemauan laki-laki yang

baru pertama kali dikenalnya itu. Ia juga heran terhadap laki-laki yang dengan mudah mau

membantunya membawakan kayu bakar itu. Terbesit tanya dalam benak sang perempuan,

“Aku bingung, mengapa aku harus patuh dengan apa yang ia katakan dan mengapa pula aku

dilarang berbicara dan menoleh.” Kegelisahan dan kebingungan itu semakin memuncak dan

tidak terbendung lagi. Rasa ingin tahunya mengalahkan janji yang sudah ia sepakati

sebelumnya. Dalam perjalanan itu, ia memberanikan diri bertanya kepada laki-laki itu. Dia

menoleh dan berkata, “Wahai kisanak, mengapa engkau melarangku berbicara dan

menoleh?”

Mendengar pertanyaan itu, seketika langkah kaki laki-laki itu terhenti. Kemudian ia

menjawab, “sengko' lamare maenga', senga' jareya benne salana bula?” “aku sudah

mengingatkanmu sebelumnya, ini semua bukan salahku!”

Jawaban itu membuat hati perempuan pencari kayu bakar bertambah bingung dan

gelisah. Ia mulai merasa ketakutan. “Laki-laki ini sangat aneh,” gumamnya. Ia tidak berani

bertanya lagi hingga mereka sampai di rumah.

Seiring berjalannya waktu, pertemuan sang perempuan pencari kayu dengan laki-laki di

hutan itu telah berlalu. Perempuan pencari kayu bakar itu sudah tidak pernah lagi berjumpa

A Ikisah pada zaman dahulu kala ada seorang perempuan muda tinggal sendirian di tepi

237

dengannya. Empat bulan selang pertemuannya dengan laki-laki penolong itu, sang

perempuan mengalami sedikit keanehan. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di

dalam perutnya seperti halnya tanda-tanda orang yang sedang hamil. Namun, keadaan itu

tidak ia hiraukan sama sekali karena ia merasa tidak pernah terjadi sesuatu antara dirinya dan

laki-laki penolongnya saat itu.

Tujuh bulan kemudian, perut perempuan pencari kayu bakar semakin membesar. Tidak

seperti halnya ibu-ibu pada umumnya yang sedang menunggu kelahiran sang buah hati,

perempuan pencari kayu tersebut terlihat ketakutan. Ia sangat takut dan bingung karena tidak

punya suami. Di samping itu, ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai perempuan

yang hamil dan akan melahirkan anak karena ia hanya tinggal sendirian, Sambil berjalan ke

sana-ke mari, ia berkata, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin tumbuh bayi dalam rahimku.

Sesungguhnya dari mana asal bayi ini? Aku tidak pemah bersuami. Apa yang harus

kulakukan dengan bayi ini?”

Lelah berjalan mondar-mandir dengan perut yang kian membesar, perempuan pencari

kayu itu pun duduk di serambi rumahnya. Ia merenungi nasibnya yang sebatang kara. Dalam

"renungannya itu, ia menyadari kesalahannya telah melanggar janji pada laki-laki yang telah

menolongnya. “Apakah mungkin ini akibat aku melanggar janjiku dulu?” tanyanya dalam

hati. “Tidak mungkin aku membunuh bayi ini. Kalau kubunuh bayi ini, berarti aku akan

membuat kesalahan lagi,” gumamnya. Akhirnya, ia memutuskan menjaga kandungan itu dan

membiarkan bayi yang tidak berdosa itu lahir ke dunia.

Setelah sembilan bulan, lahirlah bayi mungil laki-laki. Bayi itu lahir tepat di bawah

pohon aren (arren, Madura) pada hari Kamis. Bayi laki-laki itu sangat lucu dan

menggemaskan. Namun, ketampanan bayi itu tidak lantas membuat hati sang ibu bahagia.

Sebaliknya, sang ibu merasa sedih. Ia hanya mampu memandangi wajah bayi mungil tersebut

sambil menangis. Ia tidak tahu harus membawa bayinya ke mana. Ia tidak mungkin merawat

bayinya tanpa tahu dengan jelas asal-usulnya. Ia tidak sanggup menanggung rasa malu dan

aib seorang diri.

Setelah bayi itu berusia satu minggu, sang perempuan pencari kayu bakar itu tiba-tiba

punya pikiran untuk membuangnya. Ia kembali ke pohon aren tempatnya melahirkan dulu.

Tepat di bawah pohon aren itulah, dengan berat hati perempuan pencari kayu bakar itu

meninggalkan bayinya. Sambil menangis, ia berdoa agar nantinya bayi ini ditemukan dan

dirawat oleh seseorang.

Alkisah, di sebuah desa, hiduplah seorang penggembala kerbau bernama Mukamma.

Masyarakat setempat biasa memanggilnya dengan sebutan Ke Mukamma. Ia tinggal bersama

istri tercintanya. Selama empat tahun menikah, ia belum dikaruniai seorang anak. Dalam

kesehariannya, ia hanya menjaga dan merawat dua kerbau miliknya. Kerbau tersebut berbeda

wama, yang satu berwama putih dan yang satunya berwarna merah.

Suatu hari, Ke Mukamma membawa kerbaunya ke sebuah tempat, tempat yang masih

terdapat banyak rumput lebat dan segar. Setelah menemukan tempat yang cocok, biasanya Ke

Mukamma membiarkan kerbaunya merumput bebas. Menjelang sore, kedua kerbau itu akan

pulang ke kandang dengan sendirinya. Namun, setelah Ke Mukamma amati, ada sedikit

keanehan yang dilakukan oleh salah satu kerbau peliharaannya. Menjelang sore, hanya

kerbau yang berwarna putih yang selalu masuk ke kandangnya, sedangkan kerbau yang

berwarna merah tak kunjung pulang.

238

Keesokan harinya, Ke Mukamma menyelidiki apa yang sebenarnya dilakukan oleh

kerbau berwama merah. Setelah diamati, Ke Mukamma merasa terkejut. Ia melihat salah satu

kerbaunya sedang menyusui bayi laki laki mungil yang masih berlumuran darah. Seketika itu,

Ke Mukamma langsung menghampiri bayi tersebut. Melihat kondisi bayi yang masih

berlumuran darah, akhirnya Ke Mukamma membawanya ke sumber air yang tidak jauh dari

tempat itu untuk membersihkannya. Tempat bayi mungil itu ditemukan dan dimandikan kini

dinamai Kampung Somber Baji 'Sumber Bayi" (dusun ini terletak di Desa Bates Kecamatan

Dasuk, Sumenep, tepatnya 15 km arah barat daya dari kota Sumenep).

Setelah bayi tersebut dimandikan, Ke Mukamma lalu membawanya ke gubuk tempat

tinggalnya. Dalam perjalanan pulang, ia selalu memandangi wajah bayi mungil tersebut, Ia

merasa sangat gembira. Ia sudah mendambakan anak selama empat tahun berkeluarga. Kiai ia

telah mendapatkannya. Saking gembiranya, dia berlagak seperti orang gila, yakni bertingkah

seolah-olah sudah menjadi seorang ayah. Ke Mukamma berteriak-teriak sambil mengucapkan

kata-kata "sengko' andi" ana', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan

gembira).

Selama ini, Ke Mukamma dikenal sebagai sosok yang pendiam. Melihat tingkah laku

Ke Mukamma yang semakin Tama semakin aneh dan selalu berteriak-teriak dengan seruan

"sengko ' andi "ana ', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan gembira),

orang-orang sekitar mulai menghampirinya. Mereka khawatir menganggap Ke Mukamma

sudah gila. Untuk membuktikan kata-kata Ke Mukamma, mereka pun datang ke gubuknya.

Mereka sangat terkejut menyaksikan sendiri sosok bayi mungil yang sedang digendong istri

Ke Mukamma. Sejak itulah, rumah Ke Mukamma mulai ramai dikunjungi warga guna

melihat bayi yang tidak jelas asal-usulnya itu.

239

LAMPIRAN :

DAFTAR INFORMAN CERITA RAKYAT

No

Nama Informan

Sirad/Sri Ningsih

Siti Komariyah/Sri Ningsih

Guntur

Guntur

TMNMKJT

Supiastutik

Tuti Soedarsono.

Ki Jangkung

Edy Mulyanto

Edy Mulyanto

Sugeng Waluyo

Tjahjadi

TMNMKIT

Achmad Iswandi

Achmad Iswandi

Bambang

Anie Sukaryanti

Syafrudin

Soenarto Timur/Suparto

Brata

Suroto

Suroto

Dian Sukamo

Dian Sukarno

Harmadi

Harmadi

Ismono

Ismono

Tjahjono W

Suprapti

Arif Mustofa

Imam Tukijo

Ganief Tanto Adi

Ganief Tanto Adi

Supanji

Supanji

Alamat

Kemiren,

Banyuwangi

Mangir,

Banyuwangi

Bondowoso

Bondowoso

Jember

Lumajang

Senduro, Lumajang

Situbondo

Situbondo

Probolinggo

Probolinggo

Depdiknas

Malang

Malang

Sidoarjo

Unesa/Sidoarjo

Surabaya

Surabaya

Mojokerto

Mojokerto

Jombang

Jombang

Nganjuk

Nganjuk

Madiun

Madiun

Ngawi

Ngawi

Magetan

Magetan

Pacitan

Pacitan

Trenggalek

Trenggalek

Tulungagung

Tulungagung

Judul

Asal Usul Banyuwangi

Sang Danding Anak Janda Miskin

Raden Bagus Assrah Pendiri Bondowoso

Pemberontakan Arya Gledek


Story DNA

Moral

Breaking a promise, even for seemingly small reasons, can lead to unforeseen and significant consequences.

Plot Summary

A solitary wood gatherer, overwhelmed by her load, accepts help from a mysterious man who imposes a strict condition of silence and not looking back. She breaks this promise out of curiosity, leading to an inexplicable pregnancy. Ashamed and alone, she abandons her newborn son under an aren tree. Later, a childless buffalo herder, Ke Mukamma, discovers his buffalo nursing the abandoned baby. Overjoyed, he adopts the child, and the place of discovery is named 'Somber Baji', commemorating the legend.

Themes

consequence of broken promisesfate and destinyunconventional motherhoodcommunity and acceptance

Emotional Arc

innocence to fear to acceptance to hope

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: repetition of character descriptions, direct quotes for dialogue

Narrative Elements

Conflict: person vs self (woman's internal struggle with promise and shame) and person vs supernatural (consequence of breaking a magical promise)
Ending: hopeful
Magic: mysterious man's power to cause pregnancy through a broken promise, buffalo nursing a human baby
the aren tree (place of birth and abandonment)the red buffalo (surrogate mother)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Madurese, specifically Sumenep)
Era: timeless fairy tale

The story is presented as a local legend explaining the origin of a place name (Kampung Somber Baji) in Sumenep, Madura. The mention of specific villages and districts (Desa Bates Kecamatan Dasuk, Sumenep) grounds it in a particular geographical and cultural context.

Plot Beats (15)

  1. A solitary wood gatherer struggles to make a living by selling firewood.
  2. She gathers an overwhelming amount of wood and is approached by a mysterious man offering help.
  3. The man agrees to help on the condition that she remains silent and doesn't look back until they reach her destination.
  4. Despite her initial agreement, the woman's curiosity and anxiety lead her to break the promise by speaking and looking back.
  5. The man responds cryptically, stating it's not his fault, and they continue to her home.
  6. Four months later, the woman experiences signs of pregnancy, which she dismisses due to her solitary life.
  7. Seven months into the pregnancy, her belly grows large, causing her immense fear and confusion as she has no husband.
  8. She realizes her pregnancy might be a consequence of breaking her promise to the mysterious man.
  9. She gives birth to a baby boy under an aren tree, but her sadness and shame prevent her from caring for him.
  10. After one week, she abandons the baby under the same aren tree, praying for someone to find and care for him.
  11. A childless buffalo herder, Ke Mukamma, notices one of his buffaloes behaving strangely, not returning to the pen.
  12. He investigates and discovers his red buffalo nursing the abandoned baby boy.
  13. Ke Mukamma cleans the baby at a nearby water source, which later becomes known as Kampung Somber Baji (Source of the Baby).
  14. Overjoyed, Ke Mukamma brings the baby home, proclaiming his new fatherhood loudly, initially alarming the villagers.
  15. Villagers confirm the baby's presence and begin visiting Ke Mukamma's home, accepting the mysterious child into the community.

Characters

👤

Perempuan Pencari Kayu Bakar

human young adult female

None explicitly mentioned, but implied to be strong enough for manual labor.

Attire: Simple, practical clothing suitable for working in the forest, likely a traditional Indonesian peasant dress.

A young woman carrying a large bundle of firewood on her back.

Hardworking, initially obedient, curious, regretful, fearful, loving (towards her child).

👤

Laki-laki Misterius

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Simple, functional clothing, typical for a man in rural Indonesia.

A man with an unreadable expression, standing beside a large pile of firewood.

Mysterious, demanding, stoic, possibly magical or supernatural.

👤

Bayi Laki-laki

human infant male

Mungil (tiny), lucu (cute), menggemaskan (adorable), ketampanan (handsome).

Attire: Initially naked and covered in blood, later wrapped in simple cloths by Ke Mukamma.

A tiny, handsome baby being suckled by a red buffalo.

Innocent, helpless.

👤

Ke Mukamma

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Simple, practical clothing of a buffalo herder, likely a sarong and shirt.

A man joyfully shouting while carrying a baby, surrounded by buffaloes.

Patient, kind, loving, joyful, initially quiet, later boisterous with happiness.

👤

Istri Ke Mukamma

human adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Traditional Indonesian dress.

A woman cradling a baby in her arms.

Supportive, nurturing.

🐾

Kerbau Merah

animal adult non-human

Red-colored buffalo.

Attire: None.

A red buffalo suckling a human infant.

Nurturing, maternal (towards the baby).

Locations

Tepi hutan

transitional implied temperate

A young woman lives alone at the edge of a forest, where she goes daily to collect firewood.

Mood: solitary, hardworking, humble

The woman's daily life and the beginning of her fateful encounter.

forest edge woman's simple dwelling

Hutan (Forest)

outdoor afternoon to dusk implied temperate

A forest where the woman collects firewood, with scattered dry branches. It becomes dark quickly.

Mood: laborious, mysterious, foreboding

The woman meets a mysterious man, makes a promise, and later breaks it, leading to her pregnancy.

scattered dry branches dense trees path/trail

Serambi rumah (House porch)

indoor implied temperate

The porch of the woman's house where she sits, heavily pregnant, contemplating her fate.

Mood: distressed, reflective, isolated

The pregnant woman reflects on her broken promise and decides to keep the baby.

porch woman's dwelling

Bawah pohon aren (Under an aren tree)

outdoor night (birth), varies (abandonment) implied temperate

The specific spot under an aren tree where the baby boy is born on a Thursday, and later where he is abandoned.

Mood: sacred, sorrowful, desperate

The birth of the baby and his subsequent abandonment by his mother.

aren tree ground beneath the tree

Sumber air (Water source)

outdoor morning/day implied temperate

A water source not far from where the baby was found, used by Ke Mukamma to clean the blood-covered infant. This place is later named Kampung Somber Baji ('Source of the Baby').

Mood: cleansing, hopeful, significant

Ke Mukamma cleanses the abandoned baby, marking the place that would become 'Source of the Baby'.

water source stream/pool surrounding vegetation