Legenda Sombher Bhaji
by Balai Bahasa Surabaya

The Wood Gatherer and the Baby
Lily gathered wood each day. She worked hard in the forest. She traded the wood for food.
One day, Lily gathered too much wood. The pile was very big. She could not carry it all. A kind spirit man appeared. "I can help you," he said. "But you must be quiet. Do not look back."
Lily agreed. They walked through the forest. Lily wondered. She turned her head. She looked back. "Why must I be quiet?" she asked.
The spirit man stopped. "I warned you," he said. They walked to her home.
Later, Lily's tummy grew bigger. She felt a little worried. She had no husband. She thought of her promise. "This is because I looked back," she thought.
She had a baby boy under a tree. She felt too sad to care for him. She left the baby under the tree. She hoped a kind person would find him.
A man named Muka had cows. His red cow did not come home. Muka went to look. He found his red cow with the baby. The cow was feeding him.
Muka cleaned the baby in a stream. The stream was named Somber Baji. He took the baby home. He was very happy. "I have a baby!" he shouted.
The people came to see. They saw the baby boy. They were happy for Muka. The baby was safe and loved.
Muka and his wife were very happy. The baby was safe and loved.
Know, always keep your promises.
Original Story
Legenda Sombher Bhaji hutan, Setiap hari ia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Kayu bakar itu merupakan sumber kehidupannya. Ia biasa menukarnya dengan bahan makanan di pasar. Karena pekerjaannya itu, orang-orang menyebutnya perempuan pencari kayu bakar. Konon, pada suatu hari, seperti biasa, perempuan itu mencari kayu di sebuah hutan. Ia bekerja keras mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berserakan dan sudah mengering. Tanpa disadarinya, ranting-ranting yang terkumpul sangat banyak. Saking banyaknya kayu bakar yang dikumpulkan, dia tidak mampu membawanya. Pada saat itu, datanglah seorang lelaki menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu meminta bantuan kepadanya, "Tuan, maukah kau membantuku? Aku tak kuat membawa kayu-kayu ini.” Laki-laki itu pun menjawab, "Dengan senang hati, saya akan membantumu. Tapi ada Syaratnya. Jika kau mau ikuti syaratku, aku akan membafttumu. Bagaimana, apakah kau mau?" tanya laki-laki itu. “Apakah syaratnya? Kalau tidak terlalu berat, aku akan memenuhinya.” “Mudah saja. Aku hanya minta dalam perjalanan nanti, sebelum sampai di tempat tujuan, kau tidak boleh berbicara dan menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke belakang.” “Hanya itu? Baiklah, aku setuju. Tolong bawakan kayu-kayuku ini.” “Baik. Tapi, ingat syaratku. Jangan sekali-kali kaulanggar. Jika kaulanggar, kau akan tanggung sendiri akibatnya.” “Tidak akan. Ayo kita berangkat. Sebentar lagi gelap.” Sambil berjalan menyusuri hutan, pikiran perempuan pencari kayu itu berkecamuk. Ia merasa bingung dengan sikapnya sendiri yang menurut saja pada kemauan laki-laki yang baru pertama kali dikenalnya itu. Ia juga heran terhadap laki-laki yang dengan mudah mau membantunya membawakan kayu bakar itu. Terbesit tanya dalam benak sang perempuan, “Aku bingung, mengapa aku harus patuh dengan apa yang ia katakan dan mengapa pula aku dilarang berbicara dan menoleh.” Kegelisahan dan kebingungan itu semakin memuncak dan tidak terbendung lagi. Rasa ingin tahunya mengalahkan janji yang sudah ia sepakati sebelumnya. Dalam perjalanan itu, ia memberanikan diri bertanya kepada laki-laki itu. Dia menoleh dan berkata, “Wahai kisanak, mengapa engkau melarangku berbicara dan menoleh?” Mendengar pertanyaan itu, seketika langkah kaki laki-laki itu terhenti. Kemudian ia menjawab, “sengko' lamare maenga', senga' jareya benne salana bula?” “aku sudah mengingatkanmu sebelumnya, ini semua bukan salahku!” Jawaban itu membuat hati perempuan pencari kayu bakar bertambah bingung dan gelisah. Ia mulai merasa ketakutan. “Laki-laki ini sangat aneh,” gumamnya. Ia tidak berani bertanya lagi hingga mereka sampai di rumah. Seiring berjalannya waktu, pertemuan sang perempuan pencari kayu dengan laki-laki di hutan itu telah berlalu. Perempuan pencari kayu bakar itu sudah tidak pernah lagi berjumpa A Ikisah pada zaman dahulu kala ada seorang perempuan muda tinggal sendirian di tepi 237 dengannya. Empat bulan selang pertemuannya dengan laki-laki penolong itu, sang perempuan mengalami sedikit keanehan. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutnya seperti halnya tanda-tanda orang yang sedang hamil. Namun, keadaan itu tidak ia hiraukan sama sekali karena ia merasa tidak pernah terjadi sesuatu antara dirinya dan laki-laki penolongnya saat itu. Tujuh bulan kemudian, perut perempuan pencari kayu bakar semakin membesar. Tidak seperti halnya ibu-ibu pada umumnya yang sedang menunggu kelahiran sang buah hati, perempuan pencari kayu tersebut terlihat ketakutan. Ia sangat takut dan bingung karena tidak punya suami. Di samping itu, ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai perempuan yang hamil dan akan melahirkan anak karena ia hanya tinggal sendirian, Sambil berjalan ke sana-ke mari, ia berkata, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin tumbuh bayi dalam rahimku. Sesungguhnya dari mana asal bayi ini? Aku tidak pemah bersuami. Apa yang harus kulakukan dengan bayi ini?” Lelah berjalan mondar-mandir dengan perut yang kian membesar, perempuan pencari kayu itu pun duduk di serambi rumahnya. Ia merenungi nasibnya yang sebatang kara. Dalam "renungannya itu, ia menyadari kesalahannya telah melanggar janji pada laki-laki yang telah menolongnya. “Apakah mungkin ini akibat aku melanggar janjiku dulu?” tanyanya dalam hati. “Tidak mungkin aku membunuh bayi ini. Kalau kubunuh bayi ini, berarti aku akan membuat kesalahan lagi,” gumamnya. Akhirnya, ia memutuskan menjaga kandungan itu dan membiarkan bayi yang tidak berdosa itu lahir ke dunia. Setelah sembilan bulan, lahirlah bayi mungil laki-laki. Bayi itu lahir tepat di bawah pohon aren (arren, Madura) pada hari Kamis. Bayi laki-laki itu sangat lucu dan menggemaskan. Namun, ketampanan bayi itu tidak lantas membuat hati sang ibu bahagia. Sebaliknya, sang ibu merasa sedih. Ia hanya mampu memandangi wajah bayi mungil tersebut sambil menangis. Ia tidak tahu harus membawa bayinya ke mana. Ia tidak mungkin merawat bayinya tanpa tahu dengan jelas asal-usulnya. Ia tidak sanggup menanggung rasa malu dan aib seorang diri. Setelah bayi itu berusia satu minggu, sang perempuan pencari kayu bakar itu tiba-tiba punya pikiran untuk membuangnya. Ia kembali ke pohon aren tempatnya melahirkan dulu. Tepat di bawah pohon aren itulah, dengan berat hati perempuan pencari kayu bakar itu meninggalkan bayinya. Sambil menangis, ia berdoa agar nantinya bayi ini ditemukan dan dirawat oleh seseorang. Alkisah, di sebuah desa, hiduplah seorang penggembala kerbau bernama Mukamma. Masyarakat setempat biasa memanggilnya dengan sebutan Ke Mukamma. Ia tinggal bersama istri tercintanya. Selama empat tahun menikah, ia belum dikaruniai seorang anak. Dalam kesehariannya, ia hanya menjaga dan merawat dua kerbau miliknya. Kerbau tersebut berbeda wama, yang satu berwama putih dan yang satunya berwarna merah. Suatu hari, Ke Mukamma membawa kerbaunya ke sebuah tempat, tempat yang masih terdapat banyak rumput lebat dan segar. Setelah menemukan tempat yang cocok, biasanya Ke Mukamma membiarkan kerbaunya merumput bebas. Menjelang sore, kedua kerbau itu akan pulang ke kandang dengan sendirinya. Namun, setelah Ke Mukamma amati, ada sedikit keanehan yang dilakukan oleh salah satu kerbau peliharaannya. Menjelang sore, hanya kerbau yang berwarna putih yang selalu masuk ke kandangnya, sedangkan kerbau yang berwarna merah tak kunjung pulang. 238 Keesokan harinya, Ke Mukamma menyelidiki apa yang sebenarnya dilakukan oleh kerbau berwama merah. Setelah diamati, Ke Mukamma merasa terkejut. Ia melihat salah satu kerbaunya sedang menyusui bayi laki laki mungil yang masih berlumuran darah. Seketika itu, Ke Mukamma langsung menghampiri bayi tersebut. Melihat kondisi bayi yang masih berlumuran darah, akhirnya Ke Mukamma membawanya ke sumber air yang tidak jauh dari tempat itu untuk membersihkannya. Tempat bayi mungil itu ditemukan dan dimandikan kini dinamai Kampung Somber Baji 'Sumber Bayi" (dusun ini terletak di Desa Bates Kecamatan Dasuk, Sumenep, tepatnya 15 km arah barat daya dari kota Sumenep). Setelah bayi tersebut dimandikan, Ke Mukamma lalu membawanya ke gubuk tempat tinggalnya. Dalam perjalanan pulang, ia selalu memandangi wajah bayi mungil tersebut, Ia merasa sangat gembira. Ia sudah mendambakan anak selama empat tahun berkeluarga. Kiai ia telah mendapatkannya. Saking gembiranya, dia berlagak seperti orang gila, yakni bertingkah seolah-olah sudah menjadi seorang ayah. Ke Mukamma berteriak-teriak sambil mengucapkan kata-kata "sengko' andi" ana', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan gembira). Selama ini, Ke Mukamma dikenal sebagai sosok yang pendiam. Melihat tingkah laku Ke Mukamma yang semakin Tama semakin aneh dan selalu berteriak-teriak dengan seruan "sengko ' andi "ana ', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan gembira), orang-orang sekitar mulai menghampirinya. Mereka khawatir menganggap Ke Mukamma sudah gila. Untuk membuktikan kata-kata Ke Mukamma, mereka pun datang ke gubuknya. Mereka sangat terkejut menyaksikan sendiri sosok bayi mungil yang sedang digendong istri Ke Mukamma. Sejak itulah, rumah Ke Mukamma mulai ramai dikunjungi warga guna melihat bayi yang tidak jelas asal-usulnya itu. 239 LAMPIRAN : DAFTAR INFORMAN CERITA RAKYAT No Nama Informan Sirad/Sri Ningsih Siti Komariyah/Sri Ningsih Guntur Guntur TMNMKJT Supiastutik Tuti Soedarsono. Ki Jangkung Edy Mulyanto Edy Mulyanto Sugeng Waluyo Tjahjadi TMNMKIT Achmad Iswandi Achmad Iswandi Bambang Anie Sukaryanti Syafrudin Soenarto Timur/Suparto Brata Suroto Suroto Dian Sukamo Dian Sukarno Harmadi Harmadi Ismono Ismono Tjahjono W Suprapti Arif Mustofa Imam Tukijo Ganief Tanto Adi Ganief Tanto Adi Supanji Supanji Alamat Kemiren, Banyuwangi Mangir, Banyuwangi Bondowoso Bondowoso Jember Lumajang Senduro, Lumajang Situbondo Situbondo Probolinggo Probolinggo Depdiknas Malang Malang Sidoarjo Unesa/Sidoarjo Surabaya Surabaya Mojokerto Mojokerto Jombang Jombang Nganjuk Nganjuk Madiun Madiun Ngawi Ngawi Magetan Magetan Pacitan Pacitan Trenggalek Trenggalek Tulungagung Tulungagung Judul Asal Usul Banyuwangi Sang Danding Anak Janda Miskin Raden Bagus Assrah Pendiri Bondowoso Pemberontakan Arya Gledek
Moral of the Story
Breaking a promise, even for seemingly small reasons, can lead to unforeseen and significant consequences.
Characters
Perempuan Pencari Kayu Bakar ★ protagonist
None explicitly mentioned, but implied to be strong enough for manual labor.
Attire: Simple, practical clothing suitable for working in the forest, likely a traditional Indonesian peasant dress.
Hardworking, initially obedient, curious, regretful, fearful, loving (towards her child).
Laki-laki Misterius ⚔ antagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Simple, functional clothing, typical for a man in rural Indonesia.
Mysterious, demanding, stoic, possibly magical or supernatural.
Bayi Laki-laki ◆ supporting
Mungil (tiny), lucu (cute), menggemaskan (adorable), ketampanan (handsome).
Attire: Initially naked and covered in blood, later wrapped in simple cloths by Ke Mukamma.
Innocent, helpless.
Ke Mukamma ★ protagonist
None explicitly mentioned.
Attire: Simple, practical clothing of a buffalo herder, likely a sarong and shirt.
Patient, kind, loving, joyful, initially quiet, later boisterous with happiness.
Istri Ke Mukamma ○ minor
None explicitly mentioned.
Attire: Traditional Indonesian dress.
Supportive, nurturing.
Kerbau Merah ◆ supporting
Red-colored buffalo.
Attire: None.
Nurturing, maternal (towards the baby).
Locations

Tepi hutan
A young woman lives alone at the edge of a forest, where she goes daily to collect firewood.
Mood: solitary, hardworking, humble
The woman's daily life and the beginning of her fateful encounter.

Hutan (Forest)
A forest where the woman collects firewood, with scattered dry branches. It becomes dark quickly.
Mood: laborious, mysterious, foreboding
The woman meets a mysterious man, makes a promise, and later breaks it, leading to her pregnancy.

Serambi rumah (House porch)
The porch of the woman's house where she sits, heavily pregnant, contemplating her fate.
Mood: distressed, reflective, isolated
The pregnant woman reflects on her broken promise and decides to keep the baby.

Bawah pohon aren (Under an aren tree)
The specific spot under an aren tree where the baby boy is born on a Thursday, and later where he is abandoned.
Mood: sacred, sorrowful, desperate
The birth of the baby and his subsequent abandonment by his mother.

Sumber air (Water source)
A water source not far from where the baby was found, used by Ke Mukamma to clean the blood-covered infant. This place is later named Kampung Somber Baji ('Source of the Baby').
Mood: cleansing, hopeful, significant
Ke Mukamma cleanses the abandoned baby, marking the place that would become 'Source of the Baby'.
Story DNA
Moral
Breaking a promise, even for seemingly small reasons, can lead to unforeseen and significant consequences.
Plot Summary
A solitary wood gatherer, overwhelmed by her load, accepts help from a mysterious man who imposes a strict condition of silence and not looking back. She breaks this promise out of curiosity, leading to an inexplicable pregnancy. Ashamed and alone, she abandons her newborn son under an aren tree. Later, a childless buffalo herder, Ke Mukamma, discovers his buffalo nursing the abandoned baby. Overjoyed, he adopts the child, and the place of discovery is named 'Somber Baji', commemorating the legend.
Themes
Emotional Arc
innocence to fear to acceptance to hope
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is presented as a local legend explaining the origin of a place name (Kampung Somber Baji) in Sumenep, Madura. The mention of specific villages and districts (Desa Bates Kecamatan Dasuk, Sumenep) grounds it in a particular geographical and cultural context.
Plot Beats (15)
- A solitary wood gatherer struggles to make a living by selling firewood.
- She gathers an overwhelming amount of wood and is approached by a mysterious man offering help.
- The man agrees to help on the condition that she remains silent and doesn't look back until they reach her destination.
- Despite her initial agreement, the woman's curiosity and anxiety lead her to break the promise by speaking and looking back.
- The man responds cryptically, stating it's not his fault, and they continue to her home.
- Four months later, the woman experiences signs of pregnancy, which she dismisses due to her solitary life.
- Seven months into the pregnancy, her belly grows large, causing her immense fear and confusion as she has no husband.
- She realizes her pregnancy might be a consequence of breaking her promise to the mysterious man.
- She gives birth to a baby boy under an aren tree, but her sadness and shame prevent her from caring for him.
- After one week, she abandons the baby under the same aren tree, praying for someone to find and care for him.
- A childless buffalo herder, Ke Mukamma, notices one of his buffaloes behaving strangely, not returning to the pen.
- He investigates and discovers his red buffalo nursing the abandoned baby boy.
- Ke Mukamma cleans the baby at a nearby water source, which later becomes known as Kampung Somber Baji (Source of the Baby).
- Overjoyed, Ke Mukamma brings the baby home, proclaiming his new fatherhood loudly, initially alarming the villagers.
- Villagers confirm the baby's presence and begin visiting Ke Mukamma's home, accepting the mysterious child into the community.





