Legenda Sombher Bhaji
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Legenda Sombher Bhaji
hutan, Setiap hari ia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Kayu bakar itu
merupakan sumber kehidupannya. Ia biasa menukarnya dengan bahan makanan di
pasar. Karena pekerjaannya itu, orang-orang menyebutnya perempuan pencari kayu bakar.
Konon, pada suatu hari, seperti biasa, perempuan itu mencari kayu di sebuah hutan. Ia
bekerja keras mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berserakan dan sudah mengering.
Tanpa disadarinya, ranting-ranting yang terkumpul sangat banyak. Saking banyaknya kayu
bakar yang dikumpulkan, dia tidak mampu membawanya. Pada saat itu, datanglah seorang
lelaki menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu meminta bantuan kepadanya,
"Tuan, maukah kau membantuku? Aku tak kuat membawa kayu-kayu ini.”
Laki-laki itu pun menjawab, "Dengan senang hati, saya akan membantumu. Tapi ada
Syaratnya. Jika kau mau ikuti syaratku, aku akan membafttumu. Bagaimana, apakah kau
mau?" tanya laki-laki itu.
“Apakah syaratnya? Kalau tidak terlalu berat, aku akan memenuhinya.”
“Mudah saja. Aku hanya minta dalam perjalanan nanti, sebelum sampai di tempat
tujuan, kau tidak boleh berbicara dan menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke belakang.”
“Hanya itu? Baiklah, aku setuju. Tolong bawakan kayu-kayuku ini.”
“Baik. Tapi, ingat syaratku. Jangan sekali-kali kaulanggar. Jika kaulanggar, kau akan
tanggung sendiri akibatnya.”
“Tidak akan. Ayo kita berangkat. Sebentar lagi gelap.”
Sambil berjalan menyusuri hutan, pikiran perempuan pencari kayu itu berkecamuk. Ia
merasa bingung dengan sikapnya sendiri yang menurut saja pada kemauan laki-laki yang
baru pertama kali dikenalnya itu. Ia juga heran terhadap laki-laki yang dengan mudah mau
membantunya membawakan kayu bakar itu. Terbesit tanya dalam benak sang perempuan,
“Aku bingung, mengapa aku harus patuh dengan apa yang ia katakan dan mengapa pula aku
dilarang berbicara dan menoleh.” Kegelisahan dan kebingungan itu semakin memuncak dan
tidak terbendung lagi. Rasa ingin tahunya mengalahkan janji yang sudah ia sepakati
sebelumnya. Dalam perjalanan itu, ia memberanikan diri bertanya kepada laki-laki itu. Dia
menoleh dan berkata, “Wahai kisanak, mengapa engkau melarangku berbicara dan
menoleh?”
Mendengar pertanyaan itu, seketika langkah kaki laki-laki itu terhenti. Kemudian ia
menjawab, “sengko' lamare maenga', senga' jareya benne salana bula?” “aku sudah
mengingatkanmu sebelumnya, ini semua bukan salahku!”
Jawaban itu membuat hati perempuan pencari kayu bakar bertambah bingung dan
gelisah. Ia mulai merasa ketakutan. “Laki-laki ini sangat aneh,” gumamnya. Ia tidak berani
bertanya lagi hingga mereka sampai di rumah.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan sang perempuan pencari kayu dengan laki-laki di
hutan itu telah berlalu. Perempuan pencari kayu bakar itu sudah tidak pernah lagi berjumpa
A Ikisah pada zaman dahulu kala ada seorang perempuan muda tinggal sendirian di tepi
237
dengannya. Empat bulan selang pertemuannya dengan laki-laki penolong itu, sang
perempuan mengalami sedikit keanehan. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di
dalam perutnya seperti halnya tanda-tanda orang yang sedang hamil. Namun, keadaan itu
tidak ia hiraukan sama sekali karena ia merasa tidak pernah terjadi sesuatu antara dirinya dan
laki-laki penolongnya saat itu.
Tujuh bulan kemudian, perut perempuan pencari kayu bakar semakin membesar. Tidak
seperti halnya ibu-ibu pada umumnya yang sedang menunggu kelahiran sang buah hati,
perempuan pencari kayu tersebut terlihat ketakutan. Ia sangat takut dan bingung karena tidak
punya suami. Di samping itu, ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai perempuan
yang hamil dan akan melahirkan anak karena ia hanya tinggal sendirian, Sambil berjalan ke
sana-ke mari, ia berkata, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin tumbuh bayi dalam rahimku.
Sesungguhnya dari mana asal bayi ini? Aku tidak pemah bersuami. Apa yang harus
kulakukan dengan bayi ini?”
Lelah berjalan mondar-mandir dengan perut yang kian membesar, perempuan pencari
kayu itu pun duduk di serambi rumahnya. Ia merenungi nasibnya yang sebatang kara. Dalam
"renungannya itu, ia menyadari kesalahannya telah melanggar janji pada laki-laki yang telah
menolongnya. “Apakah mungkin ini akibat aku melanggar janjiku dulu?” tanyanya dalam
hati. “Tidak mungkin aku membunuh bayi ini. Kalau kubunuh bayi ini, berarti aku akan
membuat kesalahan lagi,” gumamnya. Akhirnya, ia memutuskan menjaga kandungan itu dan
membiarkan bayi yang tidak berdosa itu lahir ke dunia.
Setelah sembilan bulan, lahirlah bayi mungil laki-laki. Bayi itu lahir tepat di bawah
pohon aren (arren, Madura) pada hari Kamis. Bayi laki-laki itu sangat lucu dan
menggemaskan. Namun, ketampanan bayi itu tidak lantas membuat hati sang ibu bahagia.
Sebaliknya, sang ibu merasa sedih. Ia hanya mampu memandangi wajah bayi mungil tersebut
sambil menangis. Ia tidak tahu harus membawa bayinya ke mana. Ia tidak mungkin merawat
bayinya tanpa tahu dengan jelas asal-usulnya. Ia tidak sanggup menanggung rasa malu dan
aib seorang diri.
Setelah bayi itu berusia satu minggu, sang perempuan pencari kayu bakar itu tiba-tiba
punya pikiran untuk membuangnya. Ia kembali ke pohon aren tempatnya melahirkan dulu.
Tepat di bawah pohon aren itulah, dengan berat hati perempuan pencari kayu bakar itu
meninggalkan bayinya. Sambil menangis, ia berdoa agar nantinya bayi ini ditemukan dan
dirawat oleh seseorang.
Alkisah, di sebuah desa, hiduplah seorang penggembala kerbau bernama Mukamma.
Masyarakat setempat biasa memanggilnya dengan sebutan Ke Mukamma. Ia tinggal bersama
istri tercintanya. Selama empat tahun menikah, ia belum dikaruniai seorang anak. Dalam
kesehariannya, ia hanya menjaga dan merawat dua kerbau miliknya. Kerbau tersebut berbeda
wama, yang satu berwama putih dan yang satunya berwarna merah.
Suatu hari, Ke Mukamma membawa kerbaunya ke sebuah tempat, tempat yang masih
terdapat banyak rumput lebat dan segar. Setelah menemukan tempat yang cocok, biasanya Ke
Mukamma membiarkan kerbaunya merumput bebas. Menjelang sore, kedua kerbau itu akan
pulang ke kandang dengan sendirinya. Namun, setelah Ke Mukamma amati, ada sedikit
keanehan yang dilakukan oleh salah satu kerbau peliharaannya. Menjelang sore, hanya
kerbau yang berwarna putih yang selalu masuk ke kandangnya, sedangkan kerbau yang
berwarna merah tak kunjung pulang.
238
Keesokan harinya, Ke Mukamma menyelidiki apa yang sebenarnya dilakukan oleh
kerbau berwama merah. Setelah diamati, Ke Mukamma merasa terkejut. Ia melihat salah satu
kerbaunya sedang menyusui bayi laki laki mungil yang masih berlumuran darah. Seketika itu,
Ke Mukamma langsung menghampiri bayi tersebut. Melihat kondisi bayi yang masih
berlumuran darah, akhirnya Ke Mukamma membawanya ke sumber air yang tidak jauh dari
tempat itu untuk membersihkannya. Tempat bayi mungil itu ditemukan dan dimandikan kini
dinamai Kampung Somber Baji 'Sumber Bayi" (dusun ini terletak di Desa Bates Kecamatan
Dasuk, Sumenep, tepatnya 15 km arah barat daya dari kota Sumenep).
Setelah bayi tersebut dimandikan, Ke Mukamma lalu membawanya ke gubuk tempat
tinggalnya. Dalam perjalanan pulang, ia selalu memandangi wajah bayi mungil tersebut, Ia
merasa sangat gembira. Ia sudah mendambakan anak selama empat tahun berkeluarga. Kiai ia
telah mendapatkannya. Saking gembiranya, dia berlagak seperti orang gila, yakni bertingkah
seolah-olah sudah menjadi seorang ayah. Ke Mukamma berteriak-teriak sambil mengucapkan
kata-kata "sengko' andi" ana', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan
gembira).
Selama ini, Ke Mukamma dikenal sebagai sosok yang pendiam. Melihat tingkah laku
Ke Mukamma yang semakin Tama semakin aneh dan selalu berteriak-teriak dengan seruan
"sengko ' andi "ana ', tantona embu'na bunga" (aku punya anak, tentu ibunya akan gembira),
orang-orang sekitar mulai menghampirinya. Mereka khawatir menganggap Ke Mukamma
sudah gila. Untuk membuktikan kata-kata Ke Mukamma, mereka pun datang ke gubuknya.
Mereka sangat terkejut menyaksikan sendiri sosok bayi mungil yang sedang digendong istri
Ke Mukamma. Sejak itulah, rumah Ke Mukamma mulai ramai dikunjungi warga guna
melihat bayi yang tidak jelas asal-usulnya itu.
239
LAMPIRAN :
DAFTAR INFORMAN CERITA RAKYAT
No
Nama Informan
Sirad/Sri Ningsih
Siti Komariyah/Sri Ningsih
Guntur
Guntur
TMNMKJT
Supiastutik
Tuti Soedarsono.
Ki Jangkung
Edy Mulyanto
Edy Mulyanto
Sugeng Waluyo
Tjahjadi
TMNMKIT
Achmad Iswandi
Achmad Iswandi
Bambang
Anie Sukaryanti
Syafrudin
Soenarto Timur/Suparto
Brata
Suroto
Suroto
Dian Sukamo
Dian Sukarno
Harmadi
Harmadi
Ismono
Ismono
Tjahjono W
Suprapti
Arif Mustofa
Imam Tukijo
Ganief Tanto Adi
Ganief Tanto Adi
Supanji
Supanji
Alamat
Kemiren,
Banyuwangi
Mangir,
Banyuwangi
Bondowoso
Bondowoso
Jember
Lumajang
Senduro, Lumajang
Situbondo
Situbondo
Probolinggo
Probolinggo
Depdiknas
Malang
Malang
Sidoarjo
Unesa/Sidoarjo
Surabaya
Surabaya
Mojokerto
Mojokerto
Jombang
Jombang
Nganjuk
Nganjuk
Madiun
Madiun
Ngawi
Ngawi
Magetan
Magetan
Pacitan
Pacitan
Trenggalek
Trenggalek
Tulungagung
Tulungagung
Judul
Asal Usul Banyuwangi
Sang Danding Anak Janda Miskin
Raden Bagus Assrah Pendiri Bondowoso
Pemberontakan Arya Gledek
Story DNA
Moral
Breaking a promise, even for seemingly small reasons, can lead to unforeseen and significant consequences.
Plot Summary
A solitary wood gatherer, overwhelmed by her load, accepts help from a mysterious man who imposes a strict condition of silence and not looking back. She breaks this promise out of curiosity, leading to an inexplicable pregnancy. Ashamed and alone, she abandons her newborn son under an aren tree. Later, a childless buffalo herder, Ke Mukamma, discovers his buffalo nursing the abandoned baby. Overjoyed, he adopts the child, and the place of discovery is named 'Somber Baji', commemorating the legend.
Themes
Emotional Arc
innocence to fear to acceptance to hope
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story is presented as a local legend explaining the origin of a place name (Kampung Somber Baji) in Sumenep, Madura. The mention of specific villages and districts (Desa Bates Kecamatan Dasuk, Sumenep) grounds it in a particular geographical and cultural context.
Plot Beats (15)
- A solitary wood gatherer struggles to make a living by selling firewood.
- She gathers an overwhelming amount of wood and is approached by a mysterious man offering help.
- The man agrees to help on the condition that she remains silent and doesn't look back until they reach her destination.
- Despite her initial agreement, the woman's curiosity and anxiety lead her to break the promise by speaking and looking back.
- The man responds cryptically, stating it's not his fault, and they continue to her home.
- Four months later, the woman experiences signs of pregnancy, which she dismisses due to her solitary life.
- Seven months into the pregnancy, her belly grows large, causing her immense fear and confusion as she has no husband.
- She realizes her pregnancy might be a consequence of breaking her promise to the mysterious man.
- She gives birth to a baby boy under an aren tree, but her sadness and shame prevent her from caring for him.
- After one week, she abandons the baby under the same aren tree, praying for someone to find and care for him.
- A childless buffalo herder, Ke Mukamma, notices one of his buffaloes behaving strangely, not returning to the pen.
- He investigates and discovers his red buffalo nursing the abandoned baby boy.
- Ke Mukamma cleans the baby at a nearby water source, which later becomes known as Kampung Somber Baji (Source of the Baby).
- Overjoyed, Ke Mukamma brings the baby home, proclaiming his new fatherhood loudly, initially alarming the villagers.
- Villagers confirm the baby's presence and begin visiting Ke Mukamma's home, accepting the mysterious child into the community.
Characters
Perempuan Pencari Kayu Bakar
None explicitly mentioned, but implied to be strong enough for manual labor.
Attire: Simple, practical clothing suitable for working in the forest, likely a traditional Indonesian peasant dress.
Hardworking, initially obedient, curious, regretful, fearful, loving (towards her child).
Laki-laki Misterius
None explicitly mentioned.
Attire: Simple, functional clothing, typical for a man in rural Indonesia.
Mysterious, demanding, stoic, possibly magical or supernatural.
Bayi Laki-laki
Mungil (tiny), lucu (cute), menggemaskan (adorable), ketampanan (handsome).
Attire: Initially naked and covered in blood, later wrapped in simple cloths by Ke Mukamma.
Innocent, helpless.
Ke Mukamma
None explicitly mentioned.
Attire: Simple, practical clothing of a buffalo herder, likely a sarong and shirt.
Patient, kind, loving, joyful, initially quiet, later boisterous with happiness.
Istri Ke Mukamma
None explicitly mentioned.
Attire: Traditional Indonesian dress.
Supportive, nurturing.
Kerbau Merah
Red-colored buffalo.
Attire: None.
Nurturing, maternal (towards the baby).
Locations
Tepi hutan
A young woman lives alone at the edge of a forest, where she goes daily to collect firewood.
Mood: solitary, hardworking, humble
The woman's daily life and the beginning of her fateful encounter.
Hutan (Forest)
A forest where the woman collects firewood, with scattered dry branches. It becomes dark quickly.
Mood: laborious, mysterious, foreboding
The woman meets a mysterious man, makes a promise, and later breaks it, leading to her pregnancy.
Serambi rumah (House porch)
The porch of the woman's house where she sits, heavily pregnant, contemplating her fate.
Mood: distressed, reflective, isolated
The pregnant woman reflects on her broken promise and decides to keep the baby.
Bawah pohon aren (Under an aren tree)
The specific spot under an aren tree where the baby boy is born on a Thursday, and later where he is abandoned.
Mood: sacred, sorrowful, desperate
The birth of the baby and his subsequent abandonment by his mother.
Sumber air (Water source)
A water source not far from where the baby was found, used by Ke Mukamma to clean the blood-covered infant. This place is later named Kampung Somber Baji ('Source of the Baby').
Mood: cleansing, hopeful, significant
Ke Mukamma cleanses the abandoned baby, marking the place that would become 'Source of the Baby'.