Legenda Watu Ulo
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Legenda Watu Ulo
Dinasti Sanjaya mengalami keruntuhan akibat pemberontakan. Raja yang berkuasa
pada waktu itu bernama Mayang Kusuma. Karena mengalami kekalahan, Mayang
Kusuma melarikan diri dengan ditemani oleh dua orang pembantunya. Sampailah mereka di
hutan yang sangat lebat bernama Hutan Roban.
“Paman, berhentilah sejenak, di hutan ini tidak ada musuh yang berani mengejar kita,”
kata Mayang Kusuma kepada kedua pengikutnya.
“Baiklah Gusti, kita beristirahat sejenak.”
“Luka Gusti cukup parah, hamba akan mencarikan tumbuh-tumbuhan yang dapat
menyembuhkan luka Gusti. Di hutan ini tentu banyak jenis tumbuhan yang bisa
dimanfaatkan.”
“Terima kasih, Paman.”
Mayang Kusuma diobati oleh Sadengan sampai sembuh seperti sediakala. Setelah cukup
lama beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanan merambah hutan. Di tengah-tengah
hutan tersebut, mereka menemukan sebuah telaga bernama Telaga Sarangan.
“Paman, tempat ini cukup bagus dan asri untuk melakukan pertapaan. Untuk
memulihkan tenagaku, aku akan melakukan tapa di telaga ini paman.”
“Baiklah Gusti, apa pun yang Gusti lakukan, hamba berdua akan selalu menemani dan
mengabdi pada Gusti Prabu.”
Alkisah ada kerajaan bemama Suksma Ilang. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja
bemama Prabu Sukmayana. Raja Suksma Ilang mempunyai tiga orang putri cantik. Ketiga
putri ini memiliki sifat yang baik hati dan berbakti kepada orang tuanya. Salah satu putri itu
bernama Dewi Nagasari.
Suatu hari, datang lamaran Raja Nila Taksaka dari kerajaan Nusa Barong yang isinya
ingin meminang putri Prabu Sukmayana yang bernama putri Nagasari. Hal ini membuat Raja
Sukmayana bersedih karena tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan kepada Raja Nila
Taksaka.
“Mohon ampun Ayahanda, apa kiranya yang membuat Ayahanda bersedih, Ananda
melihat, Ayahanda bermuram durja, sekiranya Ananda boleh mengetahuinya?”
“Ayahanda bersedih menerima lamaran Raja Nila Taksaka yang menginginkan salah
satu di antara kalian, sedangkan Ayahanda tidak menginginkan Ananda berpisah satu sama
lain, Ayahanda menyayangi kalian,” kata Prabu Suksmayana kepada putri-putrinya.
“Ayahanda, di antara kami, siapakah yang diinginkan oleh Raja Nila Taksaka?
“Engkau Dewi Nagasari, Anakku.”
“Baiklah Ayahanda, Ananda bersedia menerima lamaran Raja Nila Taksaka, tetapi
dengan satu syarat ia harus mampu membuat atau membuka jalan di Hutan Puger”.
“Engkau memang anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Baiklah Ananda,
Ayahanda akan segera membuat surat balasan kepada Raja Nila Taksaka.”
P ada zaman dahulu, diceritakan kurang lebih abad ke-6, kerajaan Mataram di bawah
23
Keesokan harinya, Raja Suksmayana mengutus salah satu patihnya untuk mengantarkan
surat balasan ke kerajaan Nusa Barong.
“Paman, berangkatlah sekarang, antarkan surat balasan ini kepada Raja Nila Taksaka di
kerajaan Nusa Barong.”
“Baiklah Paduka, hamba akan segera melaksanakan perintah Paduka.”
Dengan ditemani beberapa pengikutnya, patih kerajaan Suksma Ilang bergegas menuju
kerajaan Nusa Barong. Tidak beberapa lama tibalah utusan kerajaan Suksma Ilang di kerajaan
Nusa Barong.
“Apa gerangan yang membuat Paman datang ke sini?”
“Daulat Tuanku, hamba mengantarkan surat ini kepada Paduka Raja.”
“Ooo, surat balasan dari Raja Suksma Ilang.”
“Benar sekali, semoga Tuanku tidak keberatan, hamba mohon pamit untuk kembali ke
Suksma Ilang.”
“Baiklah Paman, sampaikan salamku kepada Paduka Raja Suksmayana.”
Sepeninggal utusan dari kerajaan Suksma Ilang, Raja Nila Taksaka bergegas membuka
surat balasan dari Raja Suksmayana.
“Lamaranku diterima, betapa senangnya hatiku Paman, Aku akan memperistri salah satu
putri Raja Suksmayana yang cantik itu, ha...ha... ha....Tetapi bagaimana dengan persyaratan
yang diajukan Putri Nagasari, Paman?”
“Paduka Raja jangan khawatir, kami dan pasukan kerajaan akan membantu Paduka
untuk membabat Hutan Puger."
“Baiklah Paman, mari segera kita lakukan.”
Dengan mengerahkan rakyat Nusa Barong, Raja Nila Taksaka dengan semangat gotong
royong membabat Hutan Puger. Akan tetapi, sampai waktu yang telah ditentukan, Raja Nila
Taksaka belum berhasil melaksanakan syarat yang telah diajukan Putri Nagasari. Raja Nila
Taksaka pun pergi ke Gunung Putih minta pertolongan kepada Ki Seger untuk membabat
Hutan Puger.
Di Telaga Sarangan, Mayang Kusuma masih bertapa. Setelah mendapatkan petunjuk,
barulah Raja Mayang Kusuma dan kedua pengiringnya melanjutkan perjalanan. Akhimya
mereka tiba di Gunung Putih untuk berguru kepada Ki Seger. Di sisi lain, Prabu Nila Taksaka
juga ingin berguru kepada Ki Seger. Prabu Nila Taksaka minta bantuan kepada pendeta
supaya membuka Hutan Puger. Dengan bantuan pendeta, Prabu Nila Taksaka berhasil
memenuhi syarat yang diajukan Putri Nagasari. Akan tetapi, putri Nagasari mengetahui
kelicikan Prabu Nila Taksaka, Putri malah jatuh cinta pada Mayang Kusuma.
Prabu Nila Taksaka sangat murka ketika tahu putri-putri prabu Sukmayana sudah
melarikan diri. Putri Nagasari lari ke arah barat dengan tujuan minta bantuan kepada Mayang
Kusuma. Setelah menyembunyikan Putri Nagasari di dalam goa, Mayang Kusuma bertempur
dengan Prabu Nila Taksaka. Mayang Kusuma dapat dikalahkan oleh Prabu Nila Taksaka,
tetapi kemudian ditolong oleh Ki Seger. Dengan membawa dua pusaka pemberian Ki Seger,
Mayang Kusuma maju berperang lagi. Mengetahui hal itu, Prabu Nila Taksaka pun minta
bantuan gurunya. Setelah mendapat kesaktian dari gurunya, ia mengubah diri menjadi ular
naga dan melarikan diri ke arali laut. Secepat kilat, Mayang Kusuma melepaskan anak
panahnya dan tepat mengenai kepala naga itu hingga hancur. Badan ular jelmaan Prabu Nila
Taksaka itu berubah menjadi batu sehingga disebut batu ular atau watu ulo (Iw).
24
Story DNA
Moral
True love and perseverance can overcome deceit and evil, leading to a just outcome.
Plot Summary
After his kingdom falls, King Mayang Kusuma seeks spiritual power through meditation. Meanwhile, Princess Nagasari, to avoid marrying the cunning King Nila Taksaka, sets an impossible task for him. Nila Taksaka, with magical aid, deceitfully fulfills the condition, but Nagasari discovers his trickery and falls for Mayang Kusuma. She flees to Mayang Kusuma, leading to a confrontation where Mayang Kusuma, empowered by a wise guru, defeats Nila Taksaka, who transforms into a giant snake and is turned into stone, forming the landmark Watu Ulo.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The mention of 'Dinasti Sanjaya' and 'kerajaan Mataram' (though the latter is briefly mentioned in a page number context) suggests a connection to ancient Javanese kingdoms, grounding the legend in a historical, albeit mythical, past.
Plot Beats (13)
- King Mayang Kusuma's dynasty falls, forcing him and two followers to flee into Roban Forest.
- Mayang Kusuma is injured, healed by his attendant, and decides to meditate at Sarangan Lake to regain strength.
- King Prabu Sukmayana of Suksma Ilang has three daughters, one of whom, Dewi Nagasari, is sought in marriage by King Nila Taksaka of Nusa Barong.
- Prabu Sukmayana is saddened by the proposal, but Nagasari agrees on the condition that Nila Taksaka clears Puger Forest.
- Nila Taksaka attempts to clear the forest with his people but fails to meet the deadline, so he seeks help from Ki Seger on Gunung Putih.
- Mayang Kusuma, having received guidance from his meditation, also travels to Gunung Putih to become Ki Seger's disciple.
- Nila Taksaka, with Ki Seger's assistance, manages to clear the forest, but Nagasari realizes his trickery and falls in love with Mayang Kusuma.
- Nagasari flees to Mayang Kusuma, enraging Nila Taksaka.
- Mayang Kusuma hides Nagasari and confronts Nila Taksaka, but is initially defeated.
- Ki Seger intervenes, providing Mayang Kusuma with two powerful artifacts.
- Mayang Kusuma re-engages Nila Taksaka, who, after seeking help from his own guru, transforms into a giant snake and flees towards the sea.
- Mayang Kusuma shoots an arrow, striking the snake's head and destroying it.
- The snake's body turns into a stone formation, giving rise to the name Watu Ulo (Snake Stone).
Characters
Mayang Kusuma
Suffered severe wounds early in the story, but recovered.
Attire: Royal attire, likely damaged from battle and flight, then simpler clothing for travel and hermitage.
Resilient, strategic, spiritual (undertakes hermitage), brave.
Sadengan
unknown
Attire: Likely simple attendant's clothing, suitable for travel in a forest.
Loyal, resourceful (finds medicinal plants), supportive.
Prabu Sukmayana
unknown
Attire: Royal attire of a king from the Suksma Ilang kingdom.
Kind-hearted, loving father, conflicted, wise.
Dewi Nagasari
Beautiful.
Attire: Royal attire of a princess from the Suksma Ilang kingdom, later possibly simpler clothing for flight.
Kind-hearted, dutiful, intelligent (sets a difficult condition), perceptive (sees through trickery), falls in love with Mayang Kusuma.
Prabu Nila Taksaka
Transforms into a giant snake (naga).
Attire: Royal attire of a king from the Nusa Barong kingdom.
Arrogant, determined, deceitful (uses a priest to fulfill the condition), wrathful, powerful (has a guru and magical abilities).
Ki Seger
unknown
Attire: Simple, ascetic clothing befitting a hermit or spiritual teacher.
Wise, powerful, benevolent (helps Mayang Kusuma).
Locations
Hutan Roban
A very dense forest where Mayang Kusuma and his two servants sought refuge after their defeat.
Mood: safe, secluded, wild
Mayang Kusuma rests and is healed here after fleeing his kingdom.
Telaga Sarangan
A beautiful and serene lake located in the middle of the forest.
Mood: peaceful, spiritual, secluded
Mayang Kusuma decides to meditate here to regain his strength and receives guidance.
Hutan Puger
A challenging forest that Raja Nila Taksaka must clear as a condition to marry Putri Nagasari.
Mood: challenging, wild, obstacle-filled
Raja Nila Taksaka attempts to clear this forest, and later, Mayang Kusuma and Putri Nagasari meet here.
Gunung Putih
A mountain where Ki Seger, a wise hermit, resides.
Mood: spiritual, wise, secluded
Both Mayang Kusuma and Prabu Nila Taksaka seek guidance and power from Ki Seger here.
Goa (Cave)
A cave used by Mayang Kusuma to hide Putri Nagasari.
Mood: secretive, protective, tense
Mayang Kusuma hides Putri Nagasari here before confronting Prabu Nila Taksaka.