Menak Koncar
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Menak Koncar
ada zaman dahulu kala, Kabupaten Lumajang dipimpm oleh Adipati Mirudo dan Patili
Praboto. Adipati Mirudo mempunyai seorang putra bemama Haryo Simping.
Kadipaten Lumajang terdiri atas beberapa kademangan, antara lain Kademangan
Yosowilangun, Kadernangan Klakah, Kademangan Ranuyoso, Kademangan Pasrujambe.
Kademangan Senduro, dan Kademangan Kandangan.
Kademangan Pasrujambe dipimpin oleh Demang Dukoro dengan dua orang cantriknya
yang setia. Di dalam wilayah Kademangan Pasrujambe itu tinggal sepasang suami istri yang
hidup rukun, damai, tenteram, dan saling menyayangi. Sang suami bernama Mercuet dan
istrinya bernama Jinggosari. Jinggosari adalah perempuan yang sangat cantik. Kecantikannya
termasyhur di seluruh kademangan hingga terdengar oleh Demang Dukoro.
Demang Dukoro adalah laki-laki yang gemar kawin. Setiap kali melihat perempuan
cantik, ia akan mengambilnya sebagai selir. Kecantikan Jinggosari membuat Demang Dukoro
kasmaran dan ingin segera mengambilnya sebagai selir. Akan tetapi, Jinggosari sudah
memiliki suami sehingga Demang Dukoro haris memikirkan cara untuk menyingkirkan
Suaminya, Dengan bantuan dua orang cantriknya, Demang Dukoro membuat rencana licik
untuk memfitnah Mercuet. Demang Dukoro menyuruh dua cantriknya menaruh emas dan
permata dalam sebuah guci di kamar Mercuet ketika ia sedang pergi. Setelah Mercuet
kembali ke rumahnya, dua cantrik Demang Dukoro segera datang dan membuka gentong
berisi perhiasan di kamar Mercuet sebagai barang bukti bahwa Mercuet telah melakukan
pencurian. Dua cantrik Demang Dukoro itu segera membawa Mercuet ke tengah alun-alun
kademangan untuk dihukum dengan tuduhan telah mencuri perhiasan dan permata milik
Demang Dukoro. Di tengah alun-alun, Mercuet dipukuli dan disiksa hingga tidak dapat
bergerak lagi. Dua cantrik Demang Dukoro mengira Mercuet sudah mati sehingga
meninggalkan begitu saja tubuhnya di tengah alun-alun dengan harapan akan menjadi
tontonan orang-orang yang datang ke alun-alun,
Berkat pertolongan Tuhan Yang Maka Kuasa, Mercuet tersadar dan dengan tertatih-tatih
pulang. Ia hampir terjatuh saat membuka pintu rumahnya. Jinggosari berlari mendapati
suaminya dan dengan cemas bertanya.
“Kakanda, apa yang terjadi? Kakanda tidak mencuri perhiasan Demang Dukoro kan?”
”Adinda...segeralah berkemas. Kita harus meninggalkan kademangan ini secepatnya.
Cepatlah, Dinda...” Tanpa mempedulikan pertanyaan dan kecemasan istrinya, Mercuet
menyuruh Jinggosari segera berkemas.
”Tapi...tapi...mengapa kita harus pergi? Apa...apa...yang terjadi? Mengapa Demang
ingin mencelakai Kakanda?" tanya Jinggosari tidak mengerti. Ia masih belum tahu apa yang
terjadi. Pagi-pagi tadi dua cantrik Demang Dukoro menuduh suaminya mencuri dan
membawanya pergi dengan paksa.
25
“Dinda..kita tidak punya waktu lagi...cepatlah berkemas, bawa bekal dan pakaian
secukupnya. Kita harus segera pergi sebelum cantrik demang mencariku lagi....cepatlah....”
Sambil menahan sakit, Mercuet kembali menyuruh istrinya segera berkemas.
Tanpa bertanya lagi, Jinggosari bergegas masuk kamar dan dengan cepat memilih
beberapa potong pakaian kemudian dibungkus dengan kain. la juga berlari ke dapur
mengambil makanan secukupnya. Setelah semuanya siap, Mercuet dan Jinggosari
meninggalkan rumahnya secara diam-diam menuju Alas Purwo. Beruntung han telah
menjelang malam sehingga suasana pedukuhan sepi, tidak ada lagi orang bekerja di luar
rumah. Mereka sampai di perbatasan pedukuhan dengan hutan tanpa berpapasan dengan
orang lain,
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Alas Purwo. Dengan sisa-sisa tenaganya,
Mercuet berusaha membuat gubuk dari kayu dan daun-daunan untuk sekadar berteduh
dengan istrinya. Pada saat itu, Jinggosari sedang hamil tiga bulan. Di dalam Alas Purwo,
Mercuet menceritakan kelicikan Demang Dukoro dan mengutarakan rencananya untuk
membalas dendam kepadanya beserta dua orang cantriknya,
”Dinda...tampaknya Demang Dukoro menginginkan Dinda menjadi selirnya. Demang
sengaja menjebakku, Dinda. Aku tidak pemah mencuri perhiasannya. Semua itu fitnah yang
telah direncanakan untuk menyingkirkanku.” Mercuet memulai ceritanya sambil menatap
wajah istrinya yang terlihat sangat lelah. Kekejaman demang yang dilakukan lewat perantara
cantriknya itu diceritakan semua kepada Jinggosari.
"Kejahatan Demang Dukoro harus segera diakhiri. Kasihan rakyat dan perempuan yang
menjadi korban kerakusannya. Dinda..., Kakanda harus memperdalam ilmu agar dapat
mengalahkan demang. Dengan ilmu yang Kakanda miliki sekarang, Kakanda tidak mungkin
dapat menandingi kesaktian demang. Apakah Dinda tidak keberatan jika Kakanda pergi
untuk mencari ilmu?”
Jinggosari tidak dapat menolak keinginan suaminya. Jinggosari dan Mercuet berserah
diri kepada Yang Mahakuasa agar mereka diselamatkan dari segala bahaya, baik Jinggosari
yang ditinggalkan sendiri di tengah hutan maupun Mercuet yang hendak mencari ilmu.
Dengan tekad yang kuat dan iringan doa istrinya, Mercuet meninggalkan Alas Purwo menuju
Pantai Selatan untuk bersemedi. Selama dua tahun, Mercuet bertapa di Pantai Selatan. Para
Dewa menguji keteguhan hatinya dengan berbagai cobaan, antara lain menurunkan tujuh
bidadari cantik untuk menggoda semedinya. Akan tetapi, Mercuet tidak tergoda.
Atas keteguhan hati Mercuet, para Dewa berkenan menghadiahi wahyu berupa kotak
bertuliskan huruf Palawa berbunyi “Karena kamu tidak bersalah dan telah lulus dari segala
godaan, maka sudahilah tapamu. Gunakanlah ilmumu untuk membela kebenaran. Saya akan
memberimu dua buah senjata, yaitu pedang Sukonyono dan gada besi kuning. Pc
Sukonyono kamu ikatkan di kepalamu dengan akar beringin putih dan gada besi kuning kamu
pegang di tangan kananmu sebagai kekuatan untuk membela kebenaran. Mulai sekarang
namamu menjadi Kebo Mercuet.”
Di dalam Alas Purwo, Jinggosari melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Jaka
Umbaran. Dengan sabar dan lembut, Jinggosari membesarkan Jaka Umbaran seorang diri.
Setelah bekal makanan yang ditinggalkan Mercuet habis, Jinggosari bertahan hidup dengan
memakan buah-buahan dan daun-daunan yang ada di dalam hutan. Ia selalu berdoa kepada
Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi pertolongan dan keselamatan.
26
Di hutan belantara Gunung Semeru terdapat sebuah hutan gaib bernama Keraton
Grinjelwesi yang dihuni oleh seorang pendeta sakti bernama Hajar Pamengger. Setiap hari
pendeta Hajar Pamengger selalu bertapa sampai suatu ketika ia mendapat bisikan wahyu dari
para dewa agar berhenti bertapa sejenak untuk menolong seorang perempuan dan anaknya
yang telantar sendirian di tengah Alas Purwo. Sang pendeta kemudian meninggalkan
pertapaannya menuju Alas Purwo. Ia menemukan Jinggosari dan anaknya tertidur di dalam
sebuah gubuk kecil dari daun-daunan. Sang pendeta kemudian membawa Jinggosari dan
anaknya ke tempat pertapaannya di Keraton Grinjelwesi di lereng Gunung Semeru. Di
pertapaan itu, Jinggosari dan anaknya dirawat dengan baik. Sang pendeta kemudian
mengubah nama Joko Umbaran menjadi Bambang Menak.
Di Pantai Selatan, setelah mendapat senjata sebagai kekuatan untuk membela kebenaran,
Kebo Mercuet segera pulang ke Alas Purwo untuk menemui Jinggosari. Ia sudah
membayangkan akan bertemu dengan istri dan anaknya yang diperkirakan sudah lahir.
Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah ia di Alas Purwo dan segera mencari
gubuk yang dulu ia buat untuk tempat berlindung istrinya. Akan tetapi, gubug itu telah
kosong. Kebo Mercuet menjadi bingung dan takut. Akhirnya, ia pergi menuju kadipaten.
Di kadipaten, sang adipati sedang duduk di singgasana dikelilingi oleh para abdinya.
Tiba-tiba, sang adipati dan para abdi dikejutkan oleh seorang ksatria yang datang dengan
tergesa-gesa dan marah-marah. Ia berteriak-teriak sambil mengacungkan senjatanya dan
menanyakan keberadaan istrinya yang bernama Jinggosari. Sang adipati mengatakan bahwa
dirinya tidak tahu keberadaan Jinggosari. Kebo Mercuet tidak percaya pada jawaban adipati
sehingga kemarahannya pun bertambah. Adipati Mirudo dan para abdinya dibunuh. Putra
adipati yang bernama Haryo Simping berhasil melarikan diri. Haryo Simping pergi ke
Majapahit dan melaporkan peristiwa pembunuhan yang menewaskan ayahnya. Setelah
mendengarkan penuturan Haryo Simping, Prabu Brawijaya segera menyuruh Patih Logender
pergi ke Lumajang untuk menyelesaikan persoalan pembunuhan itu. Sampai di Lumajang,
Kebo Mercuet sudah melarikan diri. Patih Logender segera memakamkan Adipati Mirudo
dan selanjutnya mewisuda Haryo Simping menjadi Adipati Lumajang menggantikan ayahnya
dengan gelar Menak Koncar.
2
Story DNA
Moral
Abuse of power and injustice will eventually be met with retribution, and perseverance in the face of adversity can lead to strength and divine favor.
Plot Summary
Demang Dukoro, desiring the beautiful Jinggosari, frames her husband Mercuet for theft and leaves him for dead. Mercuet and Jinggosari flee to Alas Purwo, where Mercuet leaves to seek spiritual power, transforming into Kebo Mercuet after two years of meditation and divine intervention. Meanwhile, Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran and is later rescued by a hermit who renames her son Bambang Menak. Upon returning, Kebo Mercuet, unable to find his family, mistakenly kills Adipati Mirudo in a fit of rage, believing him responsible. The Adipati's son, Haryo Simping, escapes and is later crowned the new Adipati, Menak Koncar, while Kebo Mercuet flees.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story uses titles and place names (Lumajang, Majapahit, Gunung Semeru) that are historically or geographically significant in Java, grounding the fantastical elements in a recognizable cultural landscape. The concept of seeking spiritual power through meditation and divine intervention is common in Javanese folklore.
Plot Beats (15)
- Adipati Mirudo and Patili Praboto rule Lumajang, which includes several sub-districts, one of which is Pasrujambe, led by Demang Dukoro.
- Mercuet and his beautiful wife Jinggosari live in Pasrujambe; Demang Dukoro desires Jinggosari.
- Demang Dukoro, with his cantriks, frames Mercuet for theft by planting jewels in his home.
- Mercuet is publicly beaten and left for dead, but he survives and returns home.
- Mercuet and Jinggosari flee Lumajang and hide in Alas Purwo, where Jinggosari is pregnant.
- Mercuet reveals Demang Dukoro's treachery and decides to seek powerful knowledge to defeat him, leaving Jinggosari alone.
- Mercuet meditates for two years on the South Coast, resisting temptations from goddesses, and is granted divine weapons and the new name Kebo Mercuet.
- Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran in Alas Purwo and struggles to survive.
- A hermit, Hajar Pamengger, is divinely guided to rescue Jinggosari and Jaka Umbaran, taking them to his hermitage and renaming Jaka Umbaran to Bambang Menak.
- Kebo Mercuet returns to Alas Purwo, finds his gubuk empty, and assumes his family is lost or taken.
- Kebo Mercuet, enraged, goes to the Kadipaten and confronts Adipati Mirudo, demanding to know Jinggosari's whereabouts.
- Believing Adipati Mirudo is lying, Kebo Mercuet kills him and his servants; Adipati's son, Haryo Simping, escapes.
- Haryo Simping reports the murder to Prabu Brawijaya in Majapahit.
- Patih Logender is sent to Lumajang, but Kebo Mercuet has already fled.
- Patih Logender buries Adipati Mirudo and installs Haryo Simping as the new Adipati, giving him the title Menak Koncar.
Characters
Mercuet
Initially appears as an ordinary man, later transformed into a powerful warrior.
Attire: Initially simple peasant attire, later adorned with a sword (Sukonyono) tied to his head with a white banyan root, and holding an iron mace (gada besi kuning).
Loving, protective, determined, vengeful, resilient.
Jinggosari
Very beautiful, her beauty is renowned throughout the demangan.
Attire: Simple peasant dress, later whatever she could carry when fleeing.
Loving, worried, resilient, patient, devoted.
Demang Dukoro
Not explicitly described, but implied to be a man of authority.
Attire: Clothing befitting a Demang (district head), likely traditional Javanese formal wear.
Lustful, manipulative, cruel, power-hungry.
Haryo Simping
Son of Adipati Mirudo.
Attire: Princely attire, befitting the son of an Adipati.
Fearful, responsible (in reporting the murder), eventually takes on leadership.
Jaka Umbaran
A baby boy, later a young child.
Attire: Simple, likely minimal clothing as a child in the forest.
Innocent, dependent.
Hajar Pamengger
A powerful and wise hermit/priest.
Attire: Simple, ascetic robes, typical of a hermit or priest.
Wise, compassionate, spiritual, helpful.
Adipati Mirudo
The leader of Lumajang.
Attire: Formal attire of an Adipati, likely traditional Javanese.
Authoritative, but ultimately powerless against Kebo Mercuet's rage.
Locations
Kademangan Pasrujambe (Mercuet and Jinggosari's Home)
The home of Mercuet and Jinggosari, where Demang Dukoro's cantrik secretly placed gold and jewels in a jar in Mercuet's room.
Mood: peaceful, then violated and urgent
Mercuet is framed for theft, leading to his beating and their escape.
Alun-alun Kademangan (Village Square)
A central public square in the Kademangan where Mercuet was publicly beaten and left for dead.
Mood: violent, public humiliation, desolate
Mercuet is tortured and left for dead by Demang Dukoro's cantrik.
Alas Purwo (Purwo Forest)
A dense forest where Mercuet and Jinggosari sought refuge, and where Mercuet built a simple hut. Later, Jinggosari and her son live there alone, surviving on fruits and leaves.
Mood: refuge, hardship, solitude, later abandoned
Mercuet and Jinggosari hide here; Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran; Mercuet leaves to seek knowledge; Jinggosari and Jaka Umbaran are later found by Hajar Pamengger.
Pantai Selatan (South Beach)
A secluded beach where Mercuet meditated for two years, enduring trials from the gods.
Mood: sacred, challenging, transformative
Mercuet undergoes asceticism, receives divine blessings, and is granted powerful weapons and a new name, Kebo Mercuet.
Keraton Grinjelwesi (Grinjelwesi Palace/Hermitage)
A mystical hermitage located in the wilderness of Mount Semeru, inhabited by the powerful priest Hajar Pamengger. It serves as a safe haven.
Mood: sacred, protective, nurturing
Jinggosari and her son, Jaka Umbaran, are brought here by Hajar Pamengger and cared for, and Jaka Umbaran is renamed Bambang Menak.