Menak Koncar

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale transformation solemn Ages 8-14 1134 words 5 min read
Cover: Menak Koncar
Original Story 1134 words · 5 min read

Menak Koncar

ada zaman dahulu kala, Kabupaten Lumajang dipimpm oleh Adipati Mirudo dan Patili

Praboto. Adipati Mirudo mempunyai seorang putra bemama Haryo Simping.

Kadipaten Lumajang terdiri atas beberapa kademangan, antara lain Kademangan

Yosowilangun, Kadernangan Klakah, Kademangan Ranuyoso, Kademangan Pasrujambe.

Kademangan Senduro, dan Kademangan Kandangan.

Kademangan Pasrujambe dipimpin oleh Demang Dukoro dengan dua orang cantriknya

yang setia. Di dalam wilayah Kademangan Pasrujambe itu tinggal sepasang suami istri yang

hidup rukun, damai, tenteram, dan saling menyayangi. Sang suami bernama Mercuet dan

istrinya bernama Jinggosari. Jinggosari adalah perempuan yang sangat cantik. Kecantikannya

termasyhur di seluruh kademangan hingga terdengar oleh Demang Dukoro.

Demang Dukoro adalah laki-laki yang gemar kawin. Setiap kali melihat perempuan

cantik, ia akan mengambilnya sebagai selir. Kecantikan Jinggosari membuat Demang Dukoro

kasmaran dan ingin segera mengambilnya sebagai selir. Akan tetapi, Jinggosari sudah

memiliki suami sehingga Demang Dukoro haris memikirkan cara untuk menyingkirkan

Suaminya, Dengan bantuan dua orang cantriknya, Demang Dukoro membuat rencana licik

untuk memfitnah Mercuet. Demang Dukoro menyuruh dua cantriknya menaruh emas dan

permata dalam sebuah guci di kamar Mercuet ketika ia sedang pergi. Setelah Mercuet

kembali ke rumahnya, dua cantrik Demang Dukoro segera datang dan membuka gentong

berisi perhiasan di kamar Mercuet sebagai barang bukti bahwa Mercuet telah melakukan

pencurian. Dua cantrik Demang Dukoro itu segera membawa Mercuet ke tengah alun-alun

kademangan untuk dihukum dengan tuduhan telah mencuri perhiasan dan permata milik

Demang Dukoro. Di tengah alun-alun, Mercuet dipukuli dan disiksa hingga tidak dapat

bergerak lagi. Dua cantrik Demang Dukoro mengira Mercuet sudah mati sehingga

meninggalkan begitu saja tubuhnya di tengah alun-alun dengan harapan akan menjadi

tontonan orang-orang yang datang ke alun-alun,

Berkat pertolongan Tuhan Yang Maka Kuasa, Mercuet tersadar dan dengan tertatih-tatih

pulang. Ia hampir terjatuh saat membuka pintu rumahnya. Jinggosari berlari mendapati

suaminya dan dengan cemas bertanya.

“Kakanda, apa yang terjadi? Kakanda tidak mencuri perhiasan Demang Dukoro kan?”

”Adinda...segeralah berkemas. Kita harus meninggalkan kademangan ini secepatnya.

Cepatlah, Dinda...” Tanpa mempedulikan pertanyaan dan kecemasan istrinya, Mercuet

menyuruh Jinggosari segera berkemas.

”Tapi...tapi...mengapa kita harus pergi? Apa...apa...yang terjadi? Mengapa Demang

ingin mencelakai Kakanda?" tanya Jinggosari tidak mengerti. Ia masih belum tahu apa yang

terjadi. Pagi-pagi tadi dua cantrik Demang Dukoro menuduh suaminya mencuri dan

membawanya pergi dengan paksa.

25

“Dinda..kita tidak punya waktu lagi...cepatlah berkemas, bawa bekal dan pakaian

secukupnya. Kita harus segera pergi sebelum cantrik demang mencariku lagi....cepatlah....”

Sambil menahan sakit, Mercuet kembali menyuruh istrinya segera berkemas.

Tanpa bertanya lagi, Jinggosari bergegas masuk kamar dan dengan cepat memilih

beberapa potong pakaian kemudian dibungkus dengan kain. la juga berlari ke dapur

mengambil makanan secukupnya. Setelah semuanya siap, Mercuet dan Jinggosari

meninggalkan rumahnya secara diam-diam menuju Alas Purwo. Beruntung han telah

menjelang malam sehingga suasana pedukuhan sepi, tidak ada lagi orang bekerja di luar

rumah. Mereka sampai di perbatasan pedukuhan dengan hutan tanpa berpapasan dengan

orang lain,

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Alas Purwo. Dengan sisa-sisa tenaganya,

Mercuet berusaha membuat gubuk dari kayu dan daun-daunan untuk sekadar berteduh

dengan istrinya. Pada saat itu, Jinggosari sedang hamil tiga bulan. Di dalam Alas Purwo,

Mercuet menceritakan kelicikan Demang Dukoro dan mengutarakan rencananya untuk

membalas dendam kepadanya beserta dua orang cantriknya,

”Dinda...tampaknya Demang Dukoro menginginkan Dinda menjadi selirnya. Demang

sengaja menjebakku, Dinda. Aku tidak pemah mencuri perhiasannya. Semua itu fitnah yang

telah direncanakan untuk menyingkirkanku.” Mercuet memulai ceritanya sambil menatap

wajah istrinya yang terlihat sangat lelah. Kekejaman demang yang dilakukan lewat perantara

cantriknya itu diceritakan semua kepada Jinggosari.

"Kejahatan Demang Dukoro harus segera diakhiri. Kasihan rakyat dan perempuan yang

menjadi korban kerakusannya. Dinda..., Kakanda harus memperdalam ilmu agar dapat

mengalahkan demang. Dengan ilmu yang Kakanda miliki sekarang, Kakanda tidak mungkin

dapat menandingi kesaktian demang. Apakah Dinda tidak keberatan jika Kakanda pergi

untuk mencari ilmu?”

Jinggosari tidak dapat menolak keinginan suaminya. Jinggosari dan Mercuet berserah

diri kepada Yang Mahakuasa agar mereka diselamatkan dari segala bahaya, baik Jinggosari

yang ditinggalkan sendiri di tengah hutan maupun Mercuet yang hendak mencari ilmu.

Dengan tekad yang kuat dan iringan doa istrinya, Mercuet meninggalkan Alas Purwo menuju

Pantai Selatan untuk bersemedi. Selama dua tahun, Mercuet bertapa di Pantai Selatan. Para

Dewa menguji keteguhan hatinya dengan berbagai cobaan, antara lain menurunkan tujuh

bidadari cantik untuk menggoda semedinya. Akan tetapi, Mercuet tidak tergoda.

Atas keteguhan hati Mercuet, para Dewa berkenan menghadiahi wahyu berupa kotak

bertuliskan huruf Palawa berbunyi “Karena kamu tidak bersalah dan telah lulus dari segala

godaan, maka sudahilah tapamu. Gunakanlah ilmumu untuk membela kebenaran. Saya akan

memberimu dua buah senjata, yaitu pedang Sukonyono dan gada besi kuning. Pc

Sukonyono kamu ikatkan di kepalamu dengan akar beringin putih dan gada besi kuning kamu

pegang di tangan kananmu sebagai kekuatan untuk membela kebenaran. Mulai sekarang

namamu menjadi Kebo Mercuet.”

Di dalam Alas Purwo, Jinggosari melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Jaka

Umbaran. Dengan sabar dan lembut, Jinggosari membesarkan Jaka Umbaran seorang diri.

Setelah bekal makanan yang ditinggalkan Mercuet habis, Jinggosari bertahan hidup dengan

memakan buah-buahan dan daun-daunan yang ada di dalam hutan. Ia selalu berdoa kepada

Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi pertolongan dan keselamatan.

26

Di hutan belantara Gunung Semeru terdapat sebuah hutan gaib bernama Keraton

Grinjelwesi yang dihuni oleh seorang pendeta sakti bernama Hajar Pamengger. Setiap hari

pendeta Hajar Pamengger selalu bertapa sampai suatu ketika ia mendapat bisikan wahyu dari

para dewa agar berhenti bertapa sejenak untuk menolong seorang perempuan dan anaknya

yang telantar sendirian di tengah Alas Purwo. Sang pendeta kemudian meninggalkan

pertapaannya menuju Alas Purwo. Ia menemukan Jinggosari dan anaknya tertidur di dalam

sebuah gubuk kecil dari daun-daunan. Sang pendeta kemudian membawa Jinggosari dan

anaknya ke tempat pertapaannya di Keraton Grinjelwesi di lereng Gunung Semeru. Di

pertapaan itu, Jinggosari dan anaknya dirawat dengan baik. Sang pendeta kemudian

mengubah nama Joko Umbaran menjadi Bambang Menak.

Di Pantai Selatan, setelah mendapat senjata sebagai kekuatan untuk membela kebenaran,

Kebo Mercuet segera pulang ke Alas Purwo untuk menemui Jinggosari. Ia sudah

membayangkan akan bertemu dengan istri dan anaknya yang diperkirakan sudah lahir.

Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah ia di Alas Purwo dan segera mencari

gubuk yang dulu ia buat untuk tempat berlindung istrinya. Akan tetapi, gubug itu telah

kosong. Kebo Mercuet menjadi bingung dan takut. Akhirnya, ia pergi menuju kadipaten.

Di kadipaten, sang adipati sedang duduk di singgasana dikelilingi oleh para abdinya.

Tiba-tiba, sang adipati dan para abdi dikejutkan oleh seorang ksatria yang datang dengan

tergesa-gesa dan marah-marah. Ia berteriak-teriak sambil mengacungkan senjatanya dan

menanyakan keberadaan istrinya yang bernama Jinggosari. Sang adipati mengatakan bahwa

dirinya tidak tahu keberadaan Jinggosari. Kebo Mercuet tidak percaya pada jawaban adipati

sehingga kemarahannya pun bertambah. Adipati Mirudo dan para abdinya dibunuh. Putra

adipati yang bernama Haryo Simping berhasil melarikan diri. Haryo Simping pergi ke

Majapahit dan melaporkan peristiwa pembunuhan yang menewaskan ayahnya. Setelah

mendengarkan penuturan Haryo Simping, Prabu Brawijaya segera menyuruh Patih Logender

pergi ke Lumajang untuk menyelesaikan persoalan pembunuhan itu. Sampai di Lumajang,

Kebo Mercuet sudah melarikan diri. Patih Logender segera memakamkan Adipati Mirudo

dan selanjutnya mewisuda Haryo Simping menjadi Adipati Lumajang menggantikan ayahnya

dengan gelar Menak Koncar.

2


Story DNA

Moral

Abuse of power and injustice will eventually be met with retribution, and perseverance in the face of adversity can lead to strength and divine favor.

Plot Summary

Demang Dukoro, desiring the beautiful Jinggosari, frames her husband Mercuet for theft and leaves him for dead. Mercuet and Jinggosari flee to Alas Purwo, where Mercuet leaves to seek spiritual power, transforming into Kebo Mercuet after two years of meditation and divine intervention. Meanwhile, Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran and is later rescued by a hermit who renames her son Bambang Menak. Upon returning, Kebo Mercuet, unable to find his family, mistakenly kills Adipati Mirudo in a fit of rage, believing him responsible. The Adipati's son, Haryo Simping, escapes and is later crowned the new Adipati, Menak Koncar, while Kebo Mercuet flees.

Themes

justice and revengeperseverance and faithloyalty and betrayalthe abuse of power

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: divine intervention, naming conventions for status change

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: moral justice
Magic: divine intervention (Dewa granting wahyu, guiding Hajar Pamengger), magical weapons (pedang Sukonyono, gada besi kuning), spiritual transformation (Mercuet becoming Kebo Mercuet), hermits with spiritual powers
the guci (jar) of jewels (symbol of false accusation)pedang Sukonyono and gada besi kuning (symbols of divine power and justice)Alas Purwo (symbol of refuge and spiritual testing ground)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story uses titles and place names (Lumajang, Majapahit, Gunung Semeru) that are historically or geographically significant in Java, grounding the fantastical elements in a recognizable cultural landscape. The concept of seeking spiritual power through meditation and divine intervention is common in Javanese folklore.

Plot Beats (15)

  1. Adipati Mirudo and Patili Praboto rule Lumajang, which includes several sub-districts, one of which is Pasrujambe, led by Demang Dukoro.
  2. Mercuet and his beautiful wife Jinggosari live in Pasrujambe; Demang Dukoro desires Jinggosari.
  3. Demang Dukoro, with his cantriks, frames Mercuet for theft by planting jewels in his home.
  4. Mercuet is publicly beaten and left for dead, but he survives and returns home.
  5. Mercuet and Jinggosari flee Lumajang and hide in Alas Purwo, where Jinggosari is pregnant.
  6. Mercuet reveals Demang Dukoro's treachery and decides to seek powerful knowledge to defeat him, leaving Jinggosari alone.
  7. Mercuet meditates for two years on the South Coast, resisting temptations from goddesses, and is granted divine weapons and the new name Kebo Mercuet.
  8. Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran in Alas Purwo and struggles to survive.
  9. A hermit, Hajar Pamengger, is divinely guided to rescue Jinggosari and Jaka Umbaran, taking them to his hermitage and renaming Jaka Umbaran to Bambang Menak.
  10. Kebo Mercuet returns to Alas Purwo, finds his gubuk empty, and assumes his family is lost or taken.
  11. Kebo Mercuet, enraged, goes to the Kadipaten and confronts Adipati Mirudo, demanding to know Jinggosari's whereabouts.
  12. Believing Adipati Mirudo is lying, Kebo Mercuet kills him and his servants; Adipati's son, Haryo Simping, escapes.
  13. Haryo Simping reports the murder to Prabu Brawijaya in Majapahit.
  14. Patih Logender is sent to Lumajang, but Kebo Mercuet has already fled.
  15. Patih Logender buries Adipati Mirudo and installs Haryo Simping as the new Adipati, giving him the title Menak Koncar.

Characters

👤

Mercuet

human adult male

Initially appears as an ordinary man, later transformed into a powerful warrior.

Attire: Initially simple peasant attire, later adorned with a sword (Sukonyono) tied to his head with a white banyan root, and holding an iron mace (gada besi kuning).

A warrior with a sword tied to his head by a white banyan root and an iron mace in hand.

Loving, protective, determined, vengeful, resilient.

👤

Jinggosari

human young adult female

Very beautiful, her beauty is renowned throughout the demangan.

Attire: Simple peasant dress, later whatever she could carry when fleeing.

A beautiful woman, often depicted with her young child, living simply in the forest.

Loving, worried, resilient, patient, devoted.

👤

Demang Dukoro

human adult male

Not explicitly described, but implied to be a man of authority.

Attire: Clothing befitting a Demang (district head), likely traditional Javanese formal wear.

A powerful, scheming official, often seen with his two cantrik (henchmen).

Lustful, manipulative, cruel, power-hungry.

👤

Haryo Simping

human young adult male

Son of Adipati Mirudo.

Attire: Princely attire, befitting the son of an Adipati.

A young prince, later an Adipati, wearing the regalia of his office.

Fearful, responsible (in reporting the murder), eventually takes on leadership.

👤

Jaka Umbaran

human child male

A baby boy, later a young child.

Attire: Simple, likely minimal clothing as a child in the forest.

A small child being cared for by his mother in a forest setting.

Innocent, dependent.

👤

Hajar Pamengger

human elderly male

A powerful and wise hermit/priest.

Attire: Simple, ascetic robes, typical of a hermit or priest.

An old, serene hermit in simple robes, often meditating or caring for others.

Wise, compassionate, spiritual, helpful.

👤

Adipati Mirudo

human adult male

The leader of Lumajang.

Attire: Formal attire of an Adipati, likely traditional Javanese.

A ruler seated on a throne, surrounded by his attendants.

Authoritative, but ultimately powerless against Kebo Mercuet's rage.

Locations

Kademangan Pasrujambe (Mercuet and Jinggosari's Home)

indoor night implied calm, then urgent

The home of Mercuet and Jinggosari, where Demang Dukoro's cantrik secretly placed gold and jewels in a jar in Mercuet's room.

Mood: peaceful, then violated and urgent

Mercuet is framed for theft, leading to his beating and their escape.

jar with gold and jewels Mercuet's room door

Alun-alun Kademangan (Village Square)

outdoor day implied clear day

A central public square in the Kademangan where Mercuet was publicly beaten and left for dead.

Mood: violent, public humiliation, desolate

Mercuet is tortured and left for dead by Demang Dukoro's cantrik.

public square Mercuet's body

Alas Purwo (Purwo Forest)

outdoor night (arrival), day (later) implied tropical forest conditions

A dense forest where Mercuet and Jinggosari sought refuge, and where Mercuet built a simple hut. Later, Jinggosari and her son live there alone, surviving on fruits and leaves.

Mood: refuge, hardship, solitude, later abandoned

Mercuet and Jinggosari hide here; Jinggosari gives birth to Jaka Umbaran; Mercuet leaves to seek knowledge; Jinggosari and Jaka Umbaran are later found by Hajar Pamengger.

simple hut made of wood and leaves forest fruits leaves

Pantai Selatan (South Beach)

outdoor

A secluded beach where Mercuet meditated for two years, enduring trials from the gods.

Mood: sacred, challenging, transformative

Mercuet undergoes asceticism, receives divine blessings, and is granted powerful weapons and a new name, Kebo Mercuet.

beach seven beautiful goddesses (bidadari) box with Palawa script Sukonyono sword yellow iron mace

Keraton Grinjelwesi (Grinjelwesi Palace/Hermitage)

outdoor implied mountain climate

A mystical hermitage located in the wilderness of Mount Semeru, inhabited by the powerful priest Hajar Pamengger. It serves as a safe haven.

Mood: sacred, protective, nurturing

Jinggosari and her son, Jaka Umbaran, are brought here by Hajar Pamengger and cared for, and Jaka Umbaran is renamed Bambang Menak.

mountain wilderness hermitage small hut (where Jinggosari was found)