Muntreng

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

fairy tale transformation hopeful Ages 8-14 2156 words 10 min read
Cover: Muntreng
Original Story 2156 words · 10 min read

Muntreng

onon, ketika Daratan Jawa masih berupa hutan belantara, hiduplah seorang duda kaya

Ke, raya di sebuah desa dekat hutan. Duda tersebut hanya ditemani putn semata

wayangnya bernama Muntreng. Kehidupan mereka dipenuhi canda dan tawa seolah

tidak ada kesedihan dalam kehidupan mereka.

Lambat-laun kehidupan ayah dan anak perempuan itu berubah. Seringnya sang ayah

meninggalkan putrinya sendirian karena berdagang ke luar kota atau ke luar pulau membuat

sang ayah menikah lagi. Ia berharap Muntreng akan mendapat kasih sayang seorang ibu dan

ada yang merawatnya saat ditinggal berdagang. Harapan ayah Muntreng ternyata tinggal

harapan. Pada awalnya ibu tiri itu menyayangi Muntreng sebagaimana anak kandungnya

sendiri, tetapi lambat laun kelihatan sifat aslinya. Setiap kali ayahnya pergi berdagang,

Muntreng diperlakukan secara kasar.

Suatu hari ibu tiri Muntreng menerima hantaran sayurjamur dari seorang tetangga.

Timbullah niat jahat dalam benaknya untuk melenyapkan Muntreng.

”Muntreng,” panggil ibu tirinya.

”Aaa..aa..ada apa, Mbok?" kata Muntreng ketakutan.

“Kamu tahu sayur yang diberi pakde penyabit rumput kemarin?”

"Tahu, Mbok,” jawab Muntreng.

"Sekarang juga kamu harus berangkat ke hutan mencari jamur raksasa yang batangnya

seglugu gemantung dan tudungnya sepayung agung! Ibu akan memasak sayur untuk pesta

orang sedesa," kata ibu tirinya tanpa perasaan. .

"Bukankah sebentar lagi hari gelap, Mbok? Banyak binatang buas di hutan sana.

Muntreng takut,” kata Muntreng.

"Tidak peduli. Pokoknya kamu harus berangkat sekarang. Ini pisau untuk berjaga-jaga di

perjalanan,” kata ibu tirinya dengan suara keras sambil memberikan pisau tumpul dan karatan

kepada Muntreng.

Karena ibu tirinya terus memaksa, Muntreng pun pergi menuju hutan. Muntreng sangat

sedih, tetapi ia berusaha tegar. Untuk mengurangi kesedihannya, sepanjang jalan ia

bersenandung.

Muntreng...Muntreng...Muntreng!

Sayur jamur-sayur jamur

Tudungnya sepayung agung

Batangnya seglugu gemantung

Kegemaran ibu titi...!

Tiba-tiba ia mendengar suara lirih di rerumputan.

”Muntreng, Muntreng, kemarilah! Namaku jamur Cempaki, akulah yang kamu cari."

Muntreng terkejut, dicarinya sumber suara itu.

93

”Maaf sahabatku, kalau boleh tahu berapa besar tudung dan batangmu?” tanya

Muntreng hati-hati.

”Oalah Muntreng, Muntreng. Namaku saja jamur Cempaki, jamur kayu yang hanya

sebesar lidi, sedangkan tudungku hanya selebar kancing baju,” jawab jamur Cempaki.

"Aduh maaf kalau begitu, bukan kamu yang aku cari. Ibu tiriku minta jamur raksasa

yang batangnya seglugu "batang kelapa” dan tudungnya sepayung agung "payung kebesaran

para raja”,” kata Muntreng menerangkan.

"Kalau begitu berjalanlah ke arah timur laut. Di sana kamu akan menjumpai mega

”Terima kasih sahabatku jamur Cempaki.”

”Sama-sama Muntreng. Selamat jalan!”

Muntreng pun melanjutkan perjalanan sesuai arah yang ditunjukkan jamur Cempaki.

Sambil berjalan, ia kembali bersenandung,

Muntreng...Muntreng...Muntreng!

Sayur jamur-sayur jamur

Tudungnya sepayung agung

Batangnya seglugu gemantung

Muntreng meneruskan perjalanan memasuki hutan yang dikenal cukup angker. Jalma

mara jalma mati sato mara sato mati 'artinya siapapun yang berani memasuki hutan larangan

itu akan menemui ajal alias menjemput maut”. Muntreng kembali dikejutkan suara di pokok

kayu kering.

”Muntreng, Muntreng, akulah jamur yang kamu cari. Namaku Jamur Barat sangat

disuka seluruh rakyat...”

"Jamur Barat? Maaf kalau boleh tahu sebesar apa batangmu dan selebar apa

tudungmu?” tanya Muntreng.

“Batangku sejempol kaki dan tudungku selebar tatakan cangkir kopi,” jamur Barat

meneranj N

“Kalau begitu bukan kamu yang aku cari. Maaf ya sahabat Jamur Barat. Aku hanya

mencari jamur raksasa.”

“Baiklah Muntreng, tidak apa-apa. Aku hanya kasihan melihatmu. Berangkatlah ke

sarang jamur raksasa di bawah naungan mega berarak!” saran jamur Barat.

"Terimakasih atas infonya jamur Barat."

"Sama-sama Muntreng. Selamat jalan...!"

Muntreng dan jamur Barat saling memberi hormat. Sebagai perintang waktu Muntreng

terus bersenandung. Suaranya membangunkan celoteh merdu burung emprit dan sikatan yang

hinggap di pucuk-pucuk pohon kemuning. Suaranya merdu menentramkan hati.

Tepat menjelang senja Muntreng tiba di tempat yang ia cari. Tampak mega berarak

membentuk bayangan tubuh raksasa. Muntreng agak ketakutan. Tiba-tiba muncul angin ribut

meluluh-lantakkan pohon-pohon di sekitar Muntreng.

”Ha...ha...ha...Muntreng jangan takut. Akulah jamur yang kamu cari. Jamur raksasa

berbatang seglugu gemantung, bertudung sepayung agung. Jangan ragu tebaskan belatimu ke

semak-semak di depanmu tiga kali. Kamu akan menemukanku!”

94

Muntreng gemetar, tetapi memberanikan diri menebas gerumbul perdu liar,

crak...crak...crak! Bersamaan dengan itu muncul jamur raksasa di depan tubuh mungil

Muntreng. Muntreng serta merta menangis.

”Lo...lo...lo kenapa menangis arek ayu?" tanya jamur raksasa heran.

”Aku sedih bagaimana aku bisa membawamu, mengangkat badan sendiri pun aku tidak

mampu hu...hu...hu!” Muntreng sesenggukan.

"Jangan khawatir, naiklah ke tudungku. Kamu akan kubawa pulang ke rumah ibu tirimu.

Tetapi syaratnya kamu harus mernejamkan mata. Setuju?!”

Singkat cerita Muntreng naik ke atas jamur raksasa dan secepat kilat jamur itu melesat

membawa tubuh mungil Muntreng pulang. Ibu tirinya sangat terkejut melihat Muntreng

berhasil membawa jamur raksasa. Pesta pun digelar selama tujuh hari tujuh malam. Tidak

banyak orang tahu kalau jamur raksasa adalah penjelmaan pangeran tampan yang terkena

tenung penyihir jahat.

Setelah pesta itu, Muntreng dapat bemafas lega. Akan tetapi, ibu tirinya justru gelisah

karena siasatnya untuk melenyapkan Muntreng dan menguasai harta ayahnya gagal. Ia

memikirkan cara lain untuk membunuh Muntreng. Kebetulan pada suatu hari ia mendapat

hantaran sayur belut dari pakde penyabit rumput. Sayur belut itu dikatakan ibu tirinya sebagai

sayur ular.

“Hai Muntreng!” kata ibu tirinya sambil berkacak pinggang memperlihatkan wajah

bengis.

Muntreng ketakutan, jangan-jangan ibu tirinya akan memberi tugas berat lagi

kepadanya.

"Ada apa, Mbok?”

”Kamu tahu apa yang diberikan Pakde penyabit rumput kemarin sore?”

"Iya, Mbok. Sayur belut,” jawab Muntreng sambil menunduk.

"Enak saja sayur belut! Itu bukan sayur belut tapi sayur ular. Kali ini aku ingin membuat

pesta dengan lauk sayur ular. Carilah ular raksasa di hutan.”

"Tapi, Mbok..."

“Tidak ada tapi. Jangan membantah. Cepat pergi. Ini glathi pangot 'pisau karatan”.

Awas, jangan pulang sebelum kamu dapatkan ular raksasa. Besar tubuhnya seglugu jambe,

kepalanya sekenong, matanya seukuran gong,” kata ibu tirinya sambil memberikan pisau

karatan.

Dengan hati sedih, Muntreng meninggalkan rumah menuju hutan belantara. Ia tidak tahu

ke mana harus mencari ular raksasa itu. Untuk mengurangi kesedihan hatinya, Muntreng pun

bersenandung.

Muntreng,muntreng, muntreng

Sayur ular-sayur ular

Tubuhnya seglugu jambe

Kepala sekenong, mata seukuran gong

Kegemaran ibu tiri

Tidak terasa tubuh mungil Muntreng telah melewati rimbun belukar pada tepi hutan

yang cukup angker, Ibarat jalma mara jalma mati, sato mara sato mati 'siapapun yang berani

memasuki rimba larangan tersebut akan menemui ajal dan pulang tinggal nama”.

95

Matahari sangat menyengat, Muntreng kecil mencoba beristirahat sebentar di pokok

pohon randu. Tidak berapa lama ia pun tertidur karena hembusan angin sepoi-sepoi. Antara

tidur dan terjaga, ia mendengar suara lirih di antara rimbun belukar.

“Muntreng, Muntreng, bangunlah cah ayu.”

Muntreng mengerjap-ngerjapkan mata, dipandanginya sekeliling. Tiba-tiba ia melihat

seekor ular kecil sebesar jari kelingking.

”Maaf sahabat, siapa namamu?” tanya Muntreng agak takut.

”Namaku ular Tampar, Muntreng,” jawab ular itu ramah.

”Maaf kalau boleh tahu sebesar apa tubuhmu dan seberapa panjang kepala hingga

ekormu?”

“Oala, Muntreng, Muntreng. Namaku saja ular Tampar, tubuhku sebesar kelingking

orang dewasa dan panjangku hanya sedepa."

”Kalay begitu bukan kamu ular yang aku cari, Maaf ya sahabat, aku hanya mencari ular

besar yang tubuhnya seglugu dan kepalanya sebesar kenong, sedangkan matanya seukuran

gong,” kata Muntreng menjelaskan.

"Kalau itu yang kamu maksud, pergilah kamu ke arah mega berarak. Tepatnya di

sebelah utara timur, maka di situlah kamu akan mendapatkan ular yang kamu cari."

“Terima kasih sahabat ular tampar, budi baikmu akan aku ingat selalu."

”Sama-sama, Muntreng.""

Muntreng pun melanjutkan perjalanan. Ia tidak memedulikan kaki rampingnya

berlumuran darah akibat menginjak semak berduri di sepanjang perjalanan. Ia kembali

bersenandung.

Muntreng, muntreng, muntreng

Sayur ular-sayur ular

Tubuhnya seglugu jambe

Kepala sekenong, mata seukuran gong

Kegemaran ibu tiri

Kali ini ia semakin mendekati kawasan hutan bambu yang sering menjadi tempat

persembunyian ular jenis kobra. Belum sempat beristirahat, ia sudah dikejutkan suara serak

dari balik rimbun bambu wulung, yaitu sejenis bambu yang berwarna agak kehitaman.

"Maaf sahabat, apa aku tidak salah dengar?” tanya Muntreng hati-hati.

“Tidak Cah Ayu, memang aku yang menghentikanmu, Karena aku kasihan padamu,”

kata suara serak yang belum menampakkan wujud itu.

"Kalau begitu aku ingin bertanya, siapa namamu dan seberapa besar serta panjang

tubuhmu?”

"Namaku saja ular Kayu, Muntreng. Tubuhku sebesar jempol kaki orang dewasa dan

panjangku satu setengah depa,” jawab ular Kayu.

"Kalau benar, maaf sahabat. Bukan kamu ular yang aku cari. Baiklah terima kasih, aku

akan melanjutkan perjalanan.”

”Selamnat jalan Muntreng. Carilah tempat mega berarak di utara timur," saran ular Kayu

sebagaimana keterangan yang diberikan oleh ular Tampar. Muntreng bergegas ke arah yang

ditunjukkan ular Kayu. Ia pun bervenandong:

Muntreng-muntreng, muntreng

96

Sayur ular-sayur ular

Tubuhnya seglugu jambe

Kepala sekenong, mata seukuran gong

Kegemaran ibu tiri

Bersamaan-dengan lagu yang dinyanyikan Muntreng selesai, tiba-tiba bumi seolah

berguncang. Muncul bau anyir seiring dengan terdengarnya bunyi mendesis-desis.

”Gog...gog...gog, wussh...wussh...wussh! Muntreng akulah ular yang kamu cari.

Narnaku kang ulo gedhe”Tubuhku seglugu jambe, kepalaku sebesar kenong, dan mataku

sebesar gong. Bagaimana Muntreng, apakah kamu masih ragu?!" tanya suara tanpa rupa itu.

"Ya benar, kamulah ular yang aku cari. Lantas bagaimana aku bisa menemukanmu?”

tanya Muntreng antara bimbang dan penasaran.

"Kamu tebaskan saja glathi pangot pemberian mbokmu ke semak-semak di depanmu

sebanyak tiga kali, niscaya kamu akan mengetahui wujudku,” jawab ulo gedhe dengan suara

berat. 5

”Crak! crak! crak!” Muntreng mengayunkan pisau karatan dengan sisa-sisa tenaga yang

dipunyai.

”Gog...gog...gog, wussh...wussh...wussh!”

Benar saja tiba-tiba di depan Muntreng muncul wlo gedhe atau ular Raksasa seperti yang

digambarkan ibunya. Hampir saja Muntreng berlari ketakutan.

"Eh..eh...gog...gog...wussh! Jangan lari Nduk. Mendekatlah dan naiklah ke

punggungku. Kamu akan aku bawa pulang ke rumah ibu tirimu.”

Muntreng pun memberanikan diri naik ke punggung ular. Ia memejamkan mata sesuai

pesan raja ular tersebut. Secepat kilat ia terbang bersama ular Raksasa menuju rumahnya.

Menjelang senja Muntreng sampai di halaman depan rumah dan segera mengetuk pintu.

” Mbok, aku pulang. Ini aku bawakan ular raksasa,” kata Muntreng gembira.

Ibu tirinya tergopoh-gopoh menyongsong Muntreng. Tetapi belum sempat berkata-kata,

sekonyong-konyong tubuhnya disambar dan ditelan oleh ular raksasa yang kelaparan

tersebut.

Muntreng sangat ka ia tidak menduga peristiwa tragis itu berlangsung begitu cepat

di depan matanya.

"Jangan takut Muntreng. Memang sudah sepantasnya perempuan jahat seperti ibu tirimu

itu mendapat pelajaran. Sekarang ikutlah denganku.”

Muntreng pun mengikuti kata-kata kang ulo gedhe dan secepat kilat ia bersama raja ular

terbang ke arah barat. Ia tinggal bersama ular raksasa.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, dan masa pun telah bertambah hitungannya,

kini Muntreng hidup serba berkecukupan. Ia bertanam bunga-bungaan di rumahnya yang

baru sehingga rumahnya terlihat asri dan selalu harum. Bunga-bunga itu dijual ke pasar.

Setelah lewat beberapa tahun, ada keanehan yang dirasakan Muntreng. Setiap pergi ke

pasar untuk menjual bunganya, selalu ada pemuda tampan yang membelinya. Jika Muntreng

membawa bunga sekeranjang, ia akan mendapatkan uang emas sekeranjang pula. Jika

membawa bunga satu kemarang/keranjang dari anyaman bambu, ia pasti akan mendapatkan

uang emas dari pembeli misterius itu sebanyak kembang yang ia bawa. Muntreng dibuat

penasaran oleh pemuda tampan itu hingga akhurnya ia berencana untuk menyelidikinya.

Pagi-pagi benar Muntreng berpamitan kepada kang ulo gedhe.

97

”Kang tulo gedhe”

”Ada apa Muntreng?” tanya ular raksasa itu bermalas-malasan dalam sarangnya di

kebun belakang rumah Muntreng.

F ”Aku mau ke pasar. Kalau lapar, Kakang ambil saja makanan yang sudah saya siapkan

i dapur” 3

Muntreng pun berlalu dari sarang ular raksasa yang pernah menolongnya itu. Bergegas

ya menuju tempat persembunyian yang sudah disiapkan sebelumnya. Sengaja hari ini ia tidak

ke pasar. Dengan harap-harap cemas Muntreng mengawasi gerak-gerik ular raksasa. Benar

saja, sepeninggal Muntreng tiba-tiba ular besar itu beringsut-ingsut ke belakang sarang.

Sekejap kemudian ia sudah bersalin rupa menjadi pemuda sangat tampan. Muntreng segera

mengenalinya, tetapi ia hanya bisa menunggu sampai pemuda penjelmaan ular raksasa itu

berlalu dari hadapannya.

Setelah persuda tampan itu berangkat ke pasar tempat Muntreng berjualan kembang,

Muntreng segera menghampiri sarang ular Raksasa yang terbuat dari kelaras/daun-daun

pisang yang mengering dan blarak atau daun kelapa yang juga kering. Gadis itu terbeliak

ketika menemukan ada selongsong ular berwarna keemasan milik kang w/o gedhe. Tanpa

menunggu waktu, Muntreng langsung membakarnya hingga tak tersisa. Api membubung

cukup tinggi disertai asap hitam tebal memenuhi langit pagi.

Sementara itu, di pasar terjadi kegemparan, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang.

Orang-orang, baik pembeli maupun pedagang menyelamatkan diri di tempat yang agak

aman. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi pada hari itu. Setiap orang berusaha mencari

jawaban dari teka-teki angin ribut itu.

Berbeda dengan kebanyakan orang, tampak seorang pemuda tampan sedang termenung

di lapak dalam pasar yang biasanya dipakai Muntreng berjualan. Pemuda tersebut seolah

mengetahui ada sesuatu yang telah diperbuat orang di sarangnya nun jauh di kebun belakang

tumah Muntreng karena pemuda itu sempat tertimpa sisik emas milik ular raksasa yang

terbakar sebagian. Pemuda itu pun bergegas pulang.

Muntreng yang sejak awal sudah curiga dengan keberadaan ular raksasa, tenang-tenang

saja di rumahnya yang mungil. Ia bersenandung dan sekali dua tersenyum sendiri

membayangkan akan ada kejutan yang menyenangkan.

"Kulonuwun.”"

Muntreng membuka pintu. Seorang pemuda tampan yang sering menemuinya di pasar

kini berdiri di depan pintu rumahnya.

"Ada apa ya, Kisanak?” tanya Muntreng pura-pura tidak mengerti.

“Ah sudahlah Muntreng. Kamu mengaku saja, aku tidak marah kok,” jawab pemuda itu

agak malu-malu.

"Saya tidak mengerti, sebenarnya sampeyan ini siapa?” tanya Muntreng balik.

Akhirnya pemuda itu pun menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir bahwa ia harus

menjalani nasib menjelma menjadi ular raksasa untuk menemukan jodohnya.

”Nah Muntreng, begitulah kisahku. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku.

Karena kamujah gadis yang bisa melepaskan kutukan yang aku terima ini.”

Akhirnya Muntreng dan pemuda tampan penjelmaan ular raksasa itu hidup bahagia

sampai akhir hayat.

98


Story DNA

Moral

Kindness and perseverance can break curses and lead to happiness, while cruelty ultimately leads to self-destruction.

Plot Summary

Muntreng, a kind orphan, endures the cruelty of her stepmother who sends her on two impossible quests to find giant magical creatures. On both quests, she is guided by smaller, friendly animals to the giant beings, who are actually cursed princes. The second prince, a giant snake, devours the stepmother upon Muntreng's return and takes Muntreng to live with him. Years later, Muntreng discovers the snake's human form and breaks his curse by burning his discarded snakeskin, leading to their marriage and a happy ending.

Themes

perseverancekindness triumphs over crueltydestiny/fatehidden identity

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: repetition of a song/chant, rule of three (for tasks and magical actions), personification of nature/animals

Narrative Elements

Conflict: person vs person (Muntreng vs. stepmother), person vs supernatural (Muntreng vs. curse)
Ending: happy
Magic: talking animals (mushrooms, snakes), magical transformation (prince into mushroom, prince into snake), curses, supernatural strength/speed of transformed beings
the giant mushroom/snake (representing the cursed prince and Muntreng's destiny)the snakeskin (the physical manifestation of the curse)Muntreng's song (her resilience and a narrative device)

Cultural Context

Origin: Indonesian (specifically Javanese, given the Balai Bahasa Surabaya origin and Javanese terms)
Era: timeless fairy tale

Balai Bahasa Surabaya is a regional language center in Indonesia, suggesting the story is a local folk tale or a modern retelling of one, preserving regional linguistic and cultural nuances.

Plot Beats (14)

  1. Muntreng lives happily with her wealthy widower father until he remarries a cruel woman.
  2. The stepmother, wanting to eliminate Muntreng, sends her to find a giant mushroom with specific, exaggerated characteristics.
  3. Muntreng, singing a sad song, is guided by smaller, friendly mushrooms (Cempaki, Barat) to the giant mushroom.
  4. The giant mushroom, a cursed prince, reveals himself and carries Muntreng home, surprising the stepmother.
  5. A feast is held, but the stepmother's hatred for Muntreng intensifies, and she plots a new scheme.
  6. The stepmother sends Muntreng to find a giant snake with equally exaggerated characteristics, hoping she will die.
  7. Muntreng, singing her sad song again, is guided by smaller, friendly snakes (Tampar, Kayu) to the giant snake.
  8. The giant snake, also a cursed prince, appears and, upon seeing the stepmother, devours her.
  9. The giant snake takes Muntreng to live with him in his home.
  10. Years pass, and Muntreng sells flowers, always receiving gold from a mysterious handsome youth.
  11. Muntreng suspects the youth is the snake and, feigning a trip to the market, observes him transform.
  12. She finds the discarded snakeskin and burns it, breaking the curse.
  13. The prince, now permanently human, returns and explains his curse, proposing marriage to Muntreng.
  14. Muntreng and the prince live happily ever after.

Characters

👤

Muntreng

human young adult female

Mungil (petite/small-bodied)

Attire: Implied simple, peasant-style clothing suitable for a young woman in a Javanese village, likely a kebaya or similar traditional attire.

A young woman with a small stature, often seen singing a melancholic tune.

Resilient, brave, innocent, determined, kind-hearted

👤

Ibu Tiri (Stepmother)

human adult female

Not explicitly described, but implied to be an ordinary human woman.

Attire: Implied traditional Javanese attire for a village woman.

A woman with a harsh expression, often seen giving impossible tasks.

Cruel, jealous, manipulative, wicked, greedy

👤

Ayah Muntreng (Muntreng's Father)

human adult male

A wealthy widower.

Attire: Implied traditional Javanese attire for a wealthy merchant.

A man often seen departing for trade, leaving his daughter behind.

Loving (towards Muntreng), trusting (of his new wife), busy (with trade)

✦

Jamur Raksasa (Giant Mushroom) / Pangeran Tampan (Handsome Prince)

magical creature / human ageless (as mushroom), young adult (as prince) male

As mushroom: 'batangnya seglugu gemantung dan tudungnya sepayung agung' (stem like a hanging coconut tree trunk, cap like a royal umbrella). As prince: 'tampan' (handsome).

Attire: As mushroom: none. As prince: implied traditional Javanese princely attire.

A colossal mushroom with a stem like a tree trunk and a cap like a giant umbrella, later transforming into a handsome young man.

Helpful, kind, mysterious, patient, loving

✦

Ulo Gedhe (Giant Snake) / Raja Ular (Snake King)

magical creature / human ageless (as snake), young adult (as human) male

As snake: 'tubuhnya seglugu jambe, kepalanya sebesar kenong, dan matanya sebesar gong' (body like a betel nut tree trunk, head like a kenong drum, eyes like a gong). As human: 'pemuda tampan' (handsome young man).

Attire: As snake: none. As human: implied traditional Javanese attire.

A colossal snake with a body like a tree trunk, a head like a drum, and eyes like gongs, later transforming into a handsome young man.

Protective, wise, powerful, patient, loving

✦

Jamur Cempaki (Cempaki Mushroom)

magical creature ageless non-human

A small wooden mushroom, 'hanya sebesar lidi' (only as big as a stick), 'tudungku hanya selebar kancing baju' (cap only as wide as a shirt button).

Attire: None.

A tiny mushroom, no bigger than a stick, with a cap the size of a button.

Helpful, friendly, informative

✦

Jamur Barat (West Mushroom)

magical creature ageless non-human

'Batangku sejempol kaki dan tudungku selebar tatakan cangkir kopi' (stem like a big toe, cap as wide as a coffee cup saucer).

Attire: None.

A mushroom with a stem like a big toe and a cap the size of a coffee cup saucer.

Helpful, compassionate, informative

Locations

Village near the forest

outdoor

A village located close to a dense forest, where a rich widower and his daughter Muntreng live.

Mood: Initially joyful and peaceful, later becoming a place of domestic strife for Muntreng.

Muntreng's initial happy life, her father's remarriage, and the stepmother's cruelty begin here.

rich widower's house neighbor's house

Dense Forest

outdoor dusk

A vast, dense, and dangerous forest, known as a forbidden place where 'whoever dares to enter will meet their end'. It contains various types of mushrooms and is home to wild animals.

Mood: Eerie, dangerous, mysterious, but also magical and transformative.

Muntreng's journey to find the giant mushroom, her encounters with talking mushrooms, and the transformation of the giant mushroom/prince.

tall trees undergrowth giant mushrooms small mushrooms (Cempaki, Barat) wild animals mega berarak (cloud formations)

Muntreng's Small House (after leaving the village)

indoor morning

A small, cozy house where Muntreng lives with the giant snake. It has a back garden where the snake rests and Muntreng plants flowers.

Mood: Peaceful, comfortable, industrious, and later filled with anticipation and mystery.

Muntreng's new life of prosperity, her discovery of the snake's transformation, and the breaking of the curse.

flower garden snake's nest made of dried banana and coconut leaves kitchen

Market

outdoor morning

A bustling market where Muntreng sells her flowers. It's a place of commerce and daily life, but also where the mysterious handsome youth (the transformed snake) buys her flowers.

Mood: Lively, commercial, but also mysterious due to the recurring buyer, later chaotic during a strong wind.

Muntreng's regular encounters with the mysterious youth, and the dramatic windstorm coinciding with the burning of the snake's skin.

flower stalls buyers and sellers open space