Muntreng
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Muntreng
onon, ketika Daratan Jawa masih berupa hutan belantara, hiduplah seorang duda kaya
Ke, raya di sebuah desa dekat hutan. Duda tersebut hanya ditemani putn semata
wayangnya bernama Muntreng. Kehidupan mereka dipenuhi canda dan tawa seolah
tidak ada kesedihan dalam kehidupan mereka.
Lambat-laun kehidupan ayah dan anak perempuan itu berubah. Seringnya sang ayah
meninggalkan putrinya sendirian karena berdagang ke luar kota atau ke luar pulau membuat
sang ayah menikah lagi. Ia berharap Muntreng akan mendapat kasih sayang seorang ibu dan
ada yang merawatnya saat ditinggal berdagang. Harapan ayah Muntreng ternyata tinggal
harapan. Pada awalnya ibu tiri itu menyayangi Muntreng sebagaimana anak kandungnya
sendiri, tetapi lambat laun kelihatan sifat aslinya. Setiap kali ayahnya pergi berdagang,
Muntreng diperlakukan secara kasar.
Suatu hari ibu tiri Muntreng menerima hantaran sayurjamur dari seorang tetangga.
Timbullah niat jahat dalam benaknya untuk melenyapkan Muntreng.
”Muntreng,” panggil ibu tirinya.
”Aaa..aa..ada apa, Mbok?" kata Muntreng ketakutan.
“Kamu tahu sayur yang diberi pakde penyabit rumput kemarin?”
"Tahu, Mbok,” jawab Muntreng.
"Sekarang juga kamu harus berangkat ke hutan mencari jamur raksasa yang batangnya
seglugu gemantung dan tudungnya sepayung agung! Ibu akan memasak sayur untuk pesta
orang sedesa," kata ibu tirinya tanpa perasaan. .
"Bukankah sebentar lagi hari gelap, Mbok? Banyak binatang buas di hutan sana.
Muntreng takut,” kata Muntreng.
"Tidak peduli. Pokoknya kamu harus berangkat sekarang. Ini pisau untuk berjaga-jaga di
perjalanan,” kata ibu tirinya dengan suara keras sambil memberikan pisau tumpul dan karatan
kepada Muntreng.
Karena ibu tirinya terus memaksa, Muntreng pun pergi menuju hutan. Muntreng sangat
sedih, tetapi ia berusaha tegar. Untuk mengurangi kesedihannya, sepanjang jalan ia
bersenandung.
Muntreng...Muntreng...Muntreng!
Sayur jamur-sayur jamur
Tudungnya sepayung agung
Batangnya seglugu gemantung
Kegemaran ibu titi...!
Tiba-tiba ia mendengar suara lirih di rerumputan.
”Muntreng, Muntreng, kemarilah! Namaku jamur Cempaki, akulah yang kamu cari."
Muntreng terkejut, dicarinya sumber suara itu.
93
”Maaf sahabatku, kalau boleh tahu berapa besar tudung dan batangmu?” tanya
Muntreng hati-hati.
”Oalah Muntreng, Muntreng. Namaku saja jamur Cempaki, jamur kayu yang hanya
sebesar lidi, sedangkan tudungku hanya selebar kancing baju,” jawab jamur Cempaki.
"Aduh maaf kalau begitu, bukan kamu yang aku cari. Ibu tiriku minta jamur raksasa
yang batangnya seglugu "batang kelapa” dan tudungnya sepayung agung "payung kebesaran
para raja”,” kata Muntreng menerangkan.
"Kalau begitu berjalanlah ke arah timur laut. Di sana kamu akan menjumpai mega
”Terima kasih sahabatku jamur Cempaki.”
”Sama-sama Muntreng. Selamat jalan!”
Muntreng pun melanjutkan perjalanan sesuai arah yang ditunjukkan jamur Cempaki.
Sambil berjalan, ia kembali bersenandung,
Muntreng...Muntreng...Muntreng!
Sayur jamur-sayur jamur
Tudungnya sepayung agung
Batangnya seglugu gemantung
Muntreng meneruskan perjalanan memasuki hutan yang dikenal cukup angker. Jalma
mara jalma mati sato mara sato mati 'artinya siapapun yang berani memasuki hutan larangan
itu akan menemui ajal alias menjemput maut”. Muntreng kembali dikejutkan suara di pokok
kayu kering.
”Muntreng, Muntreng, akulah jamur yang kamu cari. Namaku Jamur Barat sangat
disuka seluruh rakyat...”
"Jamur Barat? Maaf kalau boleh tahu sebesar apa batangmu dan selebar apa
tudungmu?” tanya Muntreng.
“Batangku sejempol kaki dan tudungku selebar tatakan cangkir kopi,” jamur Barat
meneranj N
“Kalau begitu bukan kamu yang aku cari. Maaf ya sahabat Jamur Barat. Aku hanya
mencari jamur raksasa.”
“Baiklah Muntreng, tidak apa-apa. Aku hanya kasihan melihatmu. Berangkatlah ke
sarang jamur raksasa di bawah naungan mega berarak!” saran jamur Barat.
"Terimakasih atas infonya jamur Barat."
"Sama-sama Muntreng. Selamat jalan...!"
Muntreng dan jamur Barat saling memberi hormat. Sebagai perintang waktu Muntreng
terus bersenandung. Suaranya membangunkan celoteh merdu burung emprit dan sikatan yang
hinggap di pucuk-pucuk pohon kemuning. Suaranya merdu menentramkan hati.
Tepat menjelang senja Muntreng tiba di tempat yang ia cari. Tampak mega berarak
membentuk bayangan tubuh raksasa. Muntreng agak ketakutan. Tiba-tiba muncul angin ribut
meluluh-lantakkan pohon-pohon di sekitar Muntreng.
”Ha...ha...ha...Muntreng jangan takut. Akulah jamur yang kamu cari. Jamur raksasa
berbatang seglugu gemantung, bertudung sepayung agung. Jangan ragu tebaskan belatimu ke
semak-semak di depanmu tiga kali. Kamu akan menemukanku!”
94
Muntreng gemetar, tetapi memberanikan diri menebas gerumbul perdu liar,
crak...crak...crak! Bersamaan dengan itu muncul jamur raksasa di depan tubuh mungil
Muntreng. Muntreng serta merta menangis.
”Lo...lo...lo kenapa menangis arek ayu?" tanya jamur raksasa heran.
”Aku sedih bagaimana aku bisa membawamu, mengangkat badan sendiri pun aku tidak
mampu hu...hu...hu!” Muntreng sesenggukan.
"Jangan khawatir, naiklah ke tudungku. Kamu akan kubawa pulang ke rumah ibu tirimu.
Tetapi syaratnya kamu harus mernejamkan mata. Setuju?!”
Singkat cerita Muntreng naik ke atas jamur raksasa dan secepat kilat jamur itu melesat
membawa tubuh mungil Muntreng pulang. Ibu tirinya sangat terkejut melihat Muntreng
berhasil membawa jamur raksasa. Pesta pun digelar selama tujuh hari tujuh malam. Tidak
banyak orang tahu kalau jamur raksasa adalah penjelmaan pangeran tampan yang terkena
tenung penyihir jahat.
Setelah pesta itu, Muntreng dapat bemafas lega. Akan tetapi, ibu tirinya justru gelisah
karena siasatnya untuk melenyapkan Muntreng dan menguasai harta ayahnya gagal. Ia
memikirkan cara lain untuk membunuh Muntreng. Kebetulan pada suatu hari ia mendapat
hantaran sayur belut dari pakde penyabit rumput. Sayur belut itu dikatakan ibu tirinya sebagai
sayur ular.
“Hai Muntreng!” kata ibu tirinya sambil berkacak pinggang memperlihatkan wajah
bengis.
Muntreng ketakutan, jangan-jangan ibu tirinya akan memberi tugas berat lagi
kepadanya.
"Ada apa, Mbok?”
”Kamu tahu apa yang diberikan Pakde penyabit rumput kemarin sore?”
"Iya, Mbok. Sayur belut,” jawab Muntreng sambil menunduk.
"Enak saja sayur belut! Itu bukan sayur belut tapi sayur ular. Kali ini aku ingin membuat
pesta dengan lauk sayur ular. Carilah ular raksasa di hutan.”
"Tapi, Mbok..."
“Tidak ada tapi. Jangan membantah. Cepat pergi. Ini glathi pangot 'pisau karatan”.
Awas, jangan pulang sebelum kamu dapatkan ular raksasa. Besar tubuhnya seglugu jambe,
kepalanya sekenong, matanya seukuran gong,” kata ibu tirinya sambil memberikan pisau
karatan.
Dengan hati sedih, Muntreng meninggalkan rumah menuju hutan belantara. Ia tidak tahu
ke mana harus mencari ular raksasa itu. Untuk mengurangi kesedihan hatinya, Muntreng pun
bersenandung.
Muntreng,muntreng, muntreng
Sayur ular-sayur ular
Tubuhnya seglugu jambe
Kepala sekenong, mata seukuran gong
Kegemaran ibu tiri
Tidak terasa tubuh mungil Muntreng telah melewati rimbun belukar pada tepi hutan
yang cukup angker, Ibarat jalma mara jalma mati, sato mara sato mati 'siapapun yang berani
memasuki rimba larangan tersebut akan menemui ajal dan pulang tinggal nama”.
95
Matahari sangat menyengat, Muntreng kecil mencoba beristirahat sebentar di pokok
pohon randu. Tidak berapa lama ia pun tertidur karena hembusan angin sepoi-sepoi. Antara
tidur dan terjaga, ia mendengar suara lirih di antara rimbun belukar.
“Muntreng, Muntreng, bangunlah cah ayu.”
Muntreng mengerjap-ngerjapkan mata, dipandanginya sekeliling. Tiba-tiba ia melihat
seekor ular kecil sebesar jari kelingking.
”Maaf sahabat, siapa namamu?” tanya Muntreng agak takut.
”Namaku ular Tampar, Muntreng,” jawab ular itu ramah.
”Maaf kalau boleh tahu sebesar apa tubuhmu dan seberapa panjang kepala hingga
ekormu?”
“Oala, Muntreng, Muntreng. Namaku saja ular Tampar, tubuhku sebesar kelingking
orang dewasa dan panjangku hanya sedepa."
”Kalay begitu bukan kamu ular yang aku cari, Maaf ya sahabat, aku hanya mencari ular
besar yang tubuhnya seglugu dan kepalanya sebesar kenong, sedangkan matanya seukuran
gong,” kata Muntreng menjelaskan.
"Kalau itu yang kamu maksud, pergilah kamu ke arah mega berarak. Tepatnya di
sebelah utara timur, maka di situlah kamu akan mendapatkan ular yang kamu cari."
“Terima kasih sahabat ular tampar, budi baikmu akan aku ingat selalu."
”Sama-sama, Muntreng.""
Muntreng pun melanjutkan perjalanan. Ia tidak memedulikan kaki rampingnya
berlumuran darah akibat menginjak semak berduri di sepanjang perjalanan. Ia kembali
bersenandung.
Muntreng, muntreng, muntreng
Sayur ular-sayur ular
Tubuhnya seglugu jambe
Kepala sekenong, mata seukuran gong
Kegemaran ibu tiri
Kali ini ia semakin mendekati kawasan hutan bambu yang sering menjadi tempat
persembunyian ular jenis kobra. Belum sempat beristirahat, ia sudah dikejutkan suara serak
dari balik rimbun bambu wulung, yaitu sejenis bambu yang berwarna agak kehitaman.
"Maaf sahabat, apa aku tidak salah dengar?” tanya Muntreng hati-hati.
“Tidak Cah Ayu, memang aku yang menghentikanmu, Karena aku kasihan padamu,”
kata suara serak yang belum menampakkan wujud itu.
"Kalau begitu aku ingin bertanya, siapa namamu dan seberapa besar serta panjang
tubuhmu?”
"Namaku saja ular Kayu, Muntreng. Tubuhku sebesar jempol kaki orang dewasa dan
panjangku satu setengah depa,” jawab ular Kayu.
"Kalau benar, maaf sahabat. Bukan kamu ular yang aku cari. Baiklah terima kasih, aku
akan melanjutkan perjalanan.”
”Selamnat jalan Muntreng. Carilah tempat mega berarak di utara timur," saran ular Kayu
sebagaimana keterangan yang diberikan oleh ular Tampar. Muntreng bergegas ke arah yang
ditunjukkan ular Kayu. Ia pun bervenandong:
Muntreng-muntreng, muntreng
96
Sayur ular-sayur ular
Tubuhnya seglugu jambe
Kepala sekenong, mata seukuran gong
Kegemaran ibu tiri
Bersamaan-dengan lagu yang dinyanyikan Muntreng selesai, tiba-tiba bumi seolah
berguncang. Muncul bau anyir seiring dengan terdengarnya bunyi mendesis-desis.
”Gog...gog...gog, wussh...wussh...wussh! Muntreng akulah ular yang kamu cari.
Narnaku kang ulo gedhe”Tubuhku seglugu jambe, kepalaku sebesar kenong, dan mataku
sebesar gong. Bagaimana Muntreng, apakah kamu masih ragu?!" tanya suara tanpa rupa itu.
"Ya benar, kamulah ular yang aku cari. Lantas bagaimana aku bisa menemukanmu?”
tanya Muntreng antara bimbang dan penasaran.
"Kamu tebaskan saja glathi pangot pemberian mbokmu ke semak-semak di depanmu
sebanyak tiga kali, niscaya kamu akan mengetahui wujudku,” jawab ulo gedhe dengan suara
berat. 5
”Crak! crak! crak!” Muntreng mengayunkan pisau karatan dengan sisa-sisa tenaga yang
dipunyai.
”Gog...gog...gog, wussh...wussh...wussh!”
Benar saja tiba-tiba di depan Muntreng muncul wlo gedhe atau ular Raksasa seperti yang
digambarkan ibunya. Hampir saja Muntreng berlari ketakutan.
"Eh..eh...gog...gog...wussh! Jangan lari Nduk. Mendekatlah dan naiklah ke
punggungku. Kamu akan aku bawa pulang ke rumah ibu tirimu.”
Muntreng pun memberanikan diri naik ke punggung ular. Ia memejamkan mata sesuai
pesan raja ular tersebut. Secepat kilat ia terbang bersama ular Raksasa menuju rumahnya.
Menjelang senja Muntreng sampai di halaman depan rumah dan segera mengetuk pintu.
” Mbok, aku pulang. Ini aku bawakan ular raksasa,” kata Muntreng gembira.
Ibu tirinya tergopoh-gopoh menyongsong Muntreng. Tetapi belum sempat berkata-kata,
sekonyong-konyong tubuhnya disambar dan ditelan oleh ular raksasa yang kelaparan
tersebut.
Muntreng sangat ka ia tidak menduga peristiwa tragis itu berlangsung begitu cepat
di depan matanya.
"Jangan takut Muntreng. Memang sudah sepantasnya perempuan jahat seperti ibu tirimu
itu mendapat pelajaran. Sekarang ikutlah denganku.”
Muntreng pun mengikuti kata-kata kang ulo gedhe dan secepat kilat ia bersama raja ular
terbang ke arah barat. Ia tinggal bersama ular raksasa.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, dan masa pun telah bertambah hitungannya,
kini Muntreng hidup serba berkecukupan. Ia bertanam bunga-bungaan di rumahnya yang
baru sehingga rumahnya terlihat asri dan selalu harum. Bunga-bunga itu dijual ke pasar.
Setelah lewat beberapa tahun, ada keanehan yang dirasakan Muntreng. Setiap pergi ke
pasar untuk menjual bunganya, selalu ada pemuda tampan yang membelinya. Jika Muntreng
membawa bunga sekeranjang, ia akan mendapatkan uang emas sekeranjang pula. Jika
membawa bunga satu kemarang/keranjang dari anyaman bambu, ia pasti akan mendapatkan
uang emas dari pembeli misterius itu sebanyak kembang yang ia bawa. Muntreng dibuat
penasaran oleh pemuda tampan itu hingga akhurnya ia berencana untuk menyelidikinya.
Pagi-pagi benar Muntreng berpamitan kepada kang ulo gedhe.
97
”Kang tulo gedhe”
”Ada apa Muntreng?” tanya ular raksasa itu bermalas-malasan dalam sarangnya di
kebun belakang rumah Muntreng.
F ”Aku mau ke pasar. Kalau lapar, Kakang ambil saja makanan yang sudah saya siapkan
i dapur” 3
Muntreng pun berlalu dari sarang ular raksasa yang pernah menolongnya itu. Bergegas
ya menuju tempat persembunyian yang sudah disiapkan sebelumnya. Sengaja hari ini ia tidak
ke pasar. Dengan harap-harap cemas Muntreng mengawasi gerak-gerik ular raksasa. Benar
saja, sepeninggal Muntreng tiba-tiba ular besar itu beringsut-ingsut ke belakang sarang.
Sekejap kemudian ia sudah bersalin rupa menjadi pemuda sangat tampan. Muntreng segera
mengenalinya, tetapi ia hanya bisa menunggu sampai pemuda penjelmaan ular raksasa itu
berlalu dari hadapannya.
Setelah persuda tampan itu berangkat ke pasar tempat Muntreng berjualan kembang,
Muntreng segera menghampiri sarang ular Raksasa yang terbuat dari kelaras/daun-daun
pisang yang mengering dan blarak atau daun kelapa yang juga kering. Gadis itu terbeliak
ketika menemukan ada selongsong ular berwarna keemasan milik kang w/o gedhe. Tanpa
menunggu waktu, Muntreng langsung membakarnya hingga tak tersisa. Api membubung
cukup tinggi disertai asap hitam tebal memenuhi langit pagi.
Sementara itu, di pasar terjadi kegemparan, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang.
Orang-orang, baik pembeli maupun pedagang menyelamatkan diri di tempat yang agak
aman. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi pada hari itu. Setiap orang berusaha mencari
jawaban dari teka-teki angin ribut itu.
Berbeda dengan kebanyakan orang, tampak seorang pemuda tampan sedang termenung
di lapak dalam pasar yang biasanya dipakai Muntreng berjualan. Pemuda tersebut seolah
mengetahui ada sesuatu yang telah diperbuat orang di sarangnya nun jauh di kebun belakang
tumah Muntreng karena pemuda itu sempat tertimpa sisik emas milik ular raksasa yang
terbakar sebagian. Pemuda itu pun bergegas pulang.
Muntreng yang sejak awal sudah curiga dengan keberadaan ular raksasa, tenang-tenang
saja di rumahnya yang mungil. Ia bersenandung dan sekali dua tersenyum sendiri
membayangkan akan ada kejutan yang menyenangkan.
"Kulonuwun.”"
Muntreng membuka pintu. Seorang pemuda tampan yang sering menemuinya di pasar
kini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ada apa ya, Kisanak?” tanya Muntreng pura-pura tidak mengerti.
“Ah sudahlah Muntreng. Kamu mengaku saja, aku tidak marah kok,” jawab pemuda itu
agak malu-malu.
"Saya tidak mengerti, sebenarnya sampeyan ini siapa?” tanya Muntreng balik.
Akhirnya pemuda itu pun menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir bahwa ia harus
menjalani nasib menjelma menjadi ular raksasa untuk menemukan jodohnya.
”Nah Muntreng, begitulah kisahku. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku.
Karena kamujah gadis yang bisa melepaskan kutukan yang aku terima ini.”
Akhirnya Muntreng dan pemuda tampan penjelmaan ular raksasa itu hidup bahagia
sampai akhir hayat.
98
Story DNA
Moral
Kindness and perseverance can break curses and lead to happiness, while cruelty ultimately leads to self-destruction.
Plot Summary
Muntreng, a kind orphan, endures the cruelty of her stepmother who sends her on two impossible quests to find giant magical creatures. On both quests, she is guided by smaller, friendly animals to the giant beings, who are actually cursed princes. The second prince, a giant snake, devours the stepmother upon Muntreng's return and takes Muntreng to live with him. Years later, Muntreng discovers the snake's human form and breaks his curse by burning his discarded snakeskin, leading to their marriage and a happy ending.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
Balai Bahasa Surabaya is a regional language center in Indonesia, suggesting the story is a local folk tale or a modern retelling of one, preserving regional linguistic and cultural nuances.
Plot Beats (14)
- Muntreng lives happily with her wealthy widower father until he remarries a cruel woman.
- The stepmother, wanting to eliminate Muntreng, sends her to find a giant mushroom with specific, exaggerated characteristics.
- Muntreng, singing a sad song, is guided by smaller, friendly mushrooms (Cempaki, Barat) to the giant mushroom.
- The giant mushroom, a cursed prince, reveals himself and carries Muntreng home, surprising the stepmother.
- A feast is held, but the stepmother's hatred for Muntreng intensifies, and she plots a new scheme.
- The stepmother sends Muntreng to find a giant snake with equally exaggerated characteristics, hoping she will die.
- Muntreng, singing her sad song again, is guided by smaller, friendly snakes (Tampar, Kayu) to the giant snake.
- The giant snake, also a cursed prince, appears and, upon seeing the stepmother, devours her.
- The giant snake takes Muntreng to live with him in his home.
- Years pass, and Muntreng sells flowers, always receiving gold from a mysterious handsome youth.
- Muntreng suspects the youth is the snake and, feigning a trip to the market, observes him transform.
- She finds the discarded snakeskin and burns it, breaking the curse.
- The prince, now permanently human, returns and explains his curse, proposing marriage to Muntreng.
- Muntreng and the prince live happily ever after.
Characters
Muntreng
Mungil (petite/small-bodied)
Attire: Implied simple, peasant-style clothing suitable for a young woman in a Javanese village, likely a kebaya or similar traditional attire.
Resilient, brave, innocent, determined, kind-hearted
Ibu Tiri (Stepmother)
Not explicitly described, but implied to be an ordinary human woman.
Attire: Implied traditional Javanese attire for a village woman.
Cruel, jealous, manipulative, wicked, greedy
Ayah Muntreng (Muntreng's Father)
A wealthy widower.
Attire: Implied traditional Javanese attire for a wealthy merchant.
Loving (towards Muntreng), trusting (of his new wife), busy (with trade)
Jamur Raksasa (Giant Mushroom) / Pangeran Tampan (Handsome Prince)
As mushroom: 'batangnya seglugu gemantung dan tudungnya sepayung agung' (stem like a hanging coconut tree trunk, cap like a royal umbrella). As prince: 'tampan' (handsome).
Attire: As mushroom: none. As prince: implied traditional Javanese princely attire.
Helpful, kind, mysterious, patient, loving
Ulo Gedhe (Giant Snake) / Raja Ular (Snake King)
As snake: 'tubuhnya seglugu jambe, kepalanya sebesar kenong, dan matanya sebesar gong' (body like a betel nut tree trunk, head like a kenong drum, eyes like a gong). As human: 'pemuda tampan' (handsome young man).
Attire: As snake: none. As human: implied traditional Javanese attire.
Protective, wise, powerful, patient, loving
Jamur Cempaki (Cempaki Mushroom)
A small wooden mushroom, 'hanya sebesar lidi' (only as big as a stick), 'tudungku hanya selebar kancing baju' (cap only as wide as a shirt button).
Attire: None.
Helpful, friendly, informative
Jamur Barat (West Mushroom)
'Batangku sejempol kaki dan tudungku selebar tatakan cangkir kopi' (stem like a big toe, cap as wide as a coffee cup saucer).
Attire: None.
Helpful, compassionate, informative
Locations
Village near the forest
A village located close to a dense forest, where a rich widower and his daughter Muntreng live.
Mood: Initially joyful and peaceful, later becoming a place of domestic strife for Muntreng.
Muntreng's initial happy life, her father's remarriage, and the stepmother's cruelty begin here.
Dense Forest
A vast, dense, and dangerous forest, known as a forbidden place where 'whoever dares to enter will meet their end'. It contains various types of mushrooms and is home to wild animals.
Mood: Eerie, dangerous, mysterious, but also magical and transformative.
Muntreng's journey to find the giant mushroom, her encounters with talking mushrooms, and the transformation of the giant mushroom/prince.
Muntreng's Small House (after leaving the village)
A small, cozy house where Muntreng lives with the giant snake. It has a back garden where the snake rests and Muntreng plants flowers.
Mood: Peaceful, comfortable, industrious, and later filled with anticipation and mystery.
Muntreng's new life of prosperity, her discovery of the snake's transformation, and the breaking of the curse.
Market
A bustling market where Muntreng sells her flowers. It's a place of commerce and daily life, but also where the mysterious handsome youth (the transformed snake) buys her flowers.
Mood: Lively, commercial, but also mysterious due to the recurring buyer, later chaotic during a strong wind.
Muntreng's regular encounters with the mysterious youth, and the dramatic windstorm coinciding with the burning of the snake's skin.