Pemberontakan Arya Gledek

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale adventure solemn Ages 8-14 3090 words 14 min read
Cover: Pemberontakan Arya Gledek
Original Story 3090 words · 14 min read

Pemberontakan Arya Gledek

Ikisah, menurut cerita para orang tua, suatu hari daerah Puger tiba-tiba diserang oleh

segerombolan perampok yang dipimpin oleh Arya Gledek dengan panglima

perangnya Abdurrasid. Kedatangannya yang tiba-tiba tersebut membuat Patih Puger

yang bemama Reksonegoro tidak sempat minta bantuan kepada Ki Kertonegoro di

Bondowoso. Penduduk desa banyak yang menyerah. Alun-alun Puger sudah dikuasai

pemberontak dan penduduk diperintahkan bersorak-sorai sebagai tanda kemenangan.

Pendopo pun sudah dikepung. Patih Puger merasa bingung karena jumlah pasukannya kalah

banyak dibandingkan dengan jumlah pasukan pemberontak. Jika menyerah, ia merasa malu

dan jika lari takut terbunuh. Tanpa disadarinya, ia sudah dikepung oleh pemberontak dengan

pedang terhunus.

"Jangan melawan atau melapor, pedang ini akan memenggal kepalamu!”

“Ba.,.aa...iklah, saya tidak akan melawan atau melapor kepada Ki Kertonegoro,” kata

Patih Puger berpura-pura menyerah dan mengikuti kemauan musuh dengan harapan akan

dilepaskan.

Akhirnya, ia pun dilepaskan. Kesempatan ini digunakan oleh Patih Puger untuk menulis

surat kepada Ki Kertonegoro secara diam-diam. Ia memberitahukan bahwa Kadipaten Puger

telah dikuasai musuh dan semua mantrinya telah menyerah sebelum melakukan perlawanan

karena jumlah musuh lebih banyak dari pasukannya, Di samping itu, keesokan paginya

musuh yang dipimpin oleh Arya Gledek dan Abdurrasid akan berangkat menuju Bondowoso.

Selesai menulis surat, Patih Puger diam-diam menemui telik sandinya untuk mengirim

surat tersebut ke Bondowoso. Katanya, “Paman tolong sampaikan surat ini kepada Ki Patih

Kertonegoro di Bondowoso. Hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh pihak sekutu.”

“Baiklah Tuanku, perintah Tuanku segera hamba laksanakan.”

Tidak beberapa lama kemudian sampailah surat itu ke tangan Ki Kertonegoro. Setelah

membaca surat itu wajahnya merah padam menahan marah.

”Bedebah kau Arya Gledek! Tunggu pembalasanku!” katanya sambil mengepalkan

tangan.

Ki Kertonegoro segera mengumpulkan para mantri dan prajurit untuk merundingkan

cara menumpas pemberontakan Arya Gledek, Di hadapan para abdinya, ia berkata dengan

lantang, “Wahai Paman sekalian, daerah Puger sudah dikuasai oleh sekutu Arya Gledek.

Bahkan, besok mereka akan menyerbu kemari. Kita akan menerima kedatangannya dengan

cara kita sendiri. Untuk itu, mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya.”

Para abdi pun merasa berang dan marah karena daerah kekuasaan Bondowoso sudah

direbut oleh Arya Gledek. Dengan suara lantang, mereka pun menjawab, "Setujuuuuu! Kita

harus rebut kembali wilayah kita!”

Mereka mengepalkan tangan dan mengacungkan senjata ke atas sebagai tanda bahwa

mereka siap menghadapi musuh. Semua pasukan dengan senjata di tangan segera

meninggalkan kota menuju perbatasan Desa Sumberpandan. Di desa itu mereka berhenti.

“Karena hari sudah larit malam, sebaiknya kita beristirahat dulu. Besok, pagi-pagi

sekali kita lanjutkan perjalanan”

“Baik, Ki Patih.”

Ketika mereka selesai mendirikan kemah, tiba-tiba datang utusan Ki Patih Arya

Gledek. Utusan diterima oleh Ki Patih Kertonegoro.

"Sembah bakti Tuanku, hamba menyampaikan surat dan memberitahukan bahwa Arya

Gledek besok pagi akan menuju Besuki dengan tujuan menata agama warga Besuki karena

telah terjadi pertentangan agama di sana. Untuk itu, sebelum menuju Besuki, beliau akan

singgah di Bondowoso. Semoga Tuanku bersedia menyambutnya dengan jamuan bagi

menteri dan pasukannya.”

Dengan menyembunyikan rasa marah, Ki Patih Kertanegoro pun menjawab, "Baiklah

Paman, sampaikan salamku kepada Arya Gledek. Katakan bahwa kami akan menerima

kedatangannya di Bondowoso dengan senang hati.”

Demnkianlah pesan dan isi surat yang dijawab kembali oleh Bupati Bondowoso. Utusan

Arya Gledek pun mohon diri kembali ke Puger.

Sekembalinya utusan Arya Gledek ke Puger, sebagai orang yang telah menguasai surat-

menyurat dan berpengalaman cukup lama membabat hutan belantara sebelum menjadi

Bondowoso, Ki Patih Kertonegoro mengamati kembali kedua isi surat tersebut. Ia merasa

perlu waspada dan hati-hati.

Ki Patih Kertonegoro menyuruh pasukannya membuat medan untuk” bertempur

menghadapi lawan dan atas keputusannya, perang dilakukan di Sentong. Ia memberi tahu

Patih Besuki bahwa Puger sudah jatuh ke tangan musuh dan besok pagi musuh akan menuju

Besuki. Selanjutnya, Ki Patih Kertonegoro membalas kembali surat Arya Gledek dengan

bahasa yang halus dan sopan bahwa kedatangan Arya Gledek sangat dinantikannya. Jika

tidak dipahami benar-benar, isi surat itu memberi kesan bahwa Patih Kertonegoro telah

menyerah. Surat yang telah diberikan kepada Arya Gledek itu berbunyi sebagai berikut.

Kedatangan Arya Gledek sangat kami tunggu-tunggu di Bondowoso dan jangan khawatir

kami telah menyediakan jamuan makan serta tempat peristirahatan secukupnya

sebagaimana layaknya tuan rumah menyambut tamu, hanya tinggal memotong lembu dan

kambingnya saja. Hanya permintaan Ki Patih Kertonegoro, jika Arya Gledek hendak datang,

sebaiknya persenjataan diletakkan sebagai tanda hati yang suci dan bebas dari rasa

prasangka.

Di Kadipaten Puger, setelah membaca surat itu, Arya Gledek pun merasa lega hatinya.

”Bagus...bagus...,” katanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Apakah Ki Patih Kertonegoro bersedia menerima kedatangan kita?” tanya seorang

pengikut Arya Gledek.

”Benar...benar. Dan..tidak hanya itu Inilah perang tanpa perlawanan...

ha...ha...ha...ha.... Ini tanda bahwa Patih Bondowoso itu telah menyerah. Buktinya ia

bersedia menjamin dan menyediakan jamuan makan untuk pasukanku,” katanya dengan

wajah gembira dan percaya diri.

"Ternyata mereka sangat penakut ha ha ha,” kata pengikut Arya Gledek sambil tertawa

mengejek.

2s

Alkisah di Kadipaten Besuki, Ki Patih Besuki menerima surat dari Ki Kertonegoro lalu

membacanya sambil bergumam, "Hm...hm...hm. .,bagaimana mungkin Patih Puger dengan

pasukan andalan yang begitu kuat semudah itu menyerah kepada pemberontak yang tidak lain

adalah bawahannya sendiri. Mereka tidak melakukan perlawanan? Apa hanya ingin mencari

selamat?”

Demikianlah yang ada dalam pikiran Ki Patih Besuki. Akan tetapi, akhirnya Patih

Besuki menyadarinya alasan-alasan yang disampaikan dalam surat tersebut. Ia pun berserah

diri, semua diserahkan pada kehendak Tuhan kalau memang pemberontak sampai

menginjakkan kakinya di Kadipaten Besuki.

Kedatangan Arya Gledek dan pasukannya di perbatasan Kadipaten Bondowoso

disambut meriah oleh pasukan Patih Kertonegoro.

"Salam. Terima kasih. Terima kasih. Sambutannya yang sangat mengesankan,”

demikian kata Arya Gledek kepada Ki Patih Kertonegoro yang menyambutnya dengan

senyum ramah.

Ki Patih Kertonegoro mempersilakan tamunya masuk melalui jembatan yang sudah

dihiasi janur dan bunga-bunga layaknya menyambut kedatangan tamu agung.

Sambutan yang begitu hangat dan kekeluargaan itu membuat Arya Gledek dan

pasukannya terlena. Arya Gledek tidak bisa membaca suasana dan siasat peperangan yang

tengah dilakukan oleh Ki Patih Kertonegoro. Padahal, tiang-tiang pancang jembatan itu sudah

dilonggarkan sebagai taktik agar siapa pun yang melewatinya akan jatuh ke dalam jurang. Di

samping itu, dibuatkan pula barak tempat peristirahatan di sebelah utara sungai dan dihiasai

janur, bunga-bunga, serta dilengkapi gamelan sebagai hiburan mengingat pasukan Arya

Gledek yang kelelahan karena perjalanan jauh, Untuk keamanan tamu, di sebelah utara sungai

disiapkan pasukan keamanan dengan seragam dan senjata lengkap. Akan tetapi, di sebelah

selatan sungai distapkan pula pasukan penyamar yang telah terlatih di tempat-tempat strategis

untuk memukul habis pasukan Arya Gledek.

Pasukan Arya Gledek disambut bunyi gamelan mendayu-dayu, sedangkan pasukan di

sebelah utara terus mendesak ke tebing sungai di sebelah utara. Pasukan Arya Gledek

terperangkap melewati jembatan dan karena penuh sesak oleh pasukan Arya Gledek,

jembatan pun ambruk. Pasukan kuda pun terjatuh ke dalam jurang sungai yang cukup dalam.

Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh pasukan Patih Kertonegoro untuk membinasakan

musuh-musuhnya. Pertempuran pun tidak dapat dihindari. Perang tanding adu ketangkasan

memainkan pedang dan parang berlangsung sengit. Pasukan penyamar memukul dari sebelah

selatan sungai, sedangkan pasukan dari utara terus mendekat ke tebing sungai sebelah utara.

Pasukan Arya Gledek pun sulit melakukan perlawanan karena mendapat serangan secara

mendadak hingga mereka pun terdesak mundur. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh

tentara Ki Kertonegoro untuk memukul habis pasukan Arya Gledek. Dengan membabi buta,

mereka pun terus mengejar. Yang melawan dibunuh, yang menyerah ditahan. Panglima

perang Abdurrasid dipenggal lehernya. Pasukan Bondowoso terus mengejar sisa-sisa

pemberontak yang melarikan diri. Arya Gledek pun tertangkap, kemudian dieksekusi.

Sebagai wujud kemenangan melawan pemberontak Arya Gledek, rakyat Bondowoso

mengarak kepala Abdurrasid dan Arya Gledek ke lapangan Desa Mandar dan diletakkan di

tiang pancang untuk dipertontonkan kepada masyarakat bahwa pemberontak telah berhasil

dikalahkan.

ri

Meskipun demikian, pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Arya Gledek tidak berhenti.

Ki Patih Kertonegoro memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar.

“Kita harus menghabisi sisa-sisa pasukan Ki Arya Gledek supaya kelak tidak ada

pemberontakan lagi.”

Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Patih Puger yang berpura-pura

menyerah itu. Patih Puger menghaturkan sembah kepada Ki Patih Kertonegoro.

“Maafkan atas keteledoran hamba sehingga Puger sampai jatuh ke tangan

pemberontak.”

“Ki Patih Puger, terimalah hadiah dariku...” kata Ki Patih Kertonegoro sambil

menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Ki Bawean.

Melihat kemarahan Ki Patih Kertonegoro, Ki Patih Puger dengan cepat berlutut sambil

menyembah dan mohon ampun serta mengutarakan alasan yang sebenarnya dirinya

menyerah kepada Arya Gledek. Mendengar alasan yang diutarakan Patih Puger, kemarahan

Ki Patih Kertonegoro sedikit-demi sedikit reda dan Ki Patih Puger pun dimaafkan. Akhirnya

Ki Patih Puger dan pasukan Ki Patih Kertonegoro melanjutkan pengejaran terhadap

pemberontak dengan menyisir wilayah Puger untuk membebaskan mereka yang ditawan dan

membawa pasukan pemberontak yang menyerah ke Bondowoso agar dapat diadili. Mereka

akan diserahkan ke Residen Besuki untuk menjalani pengadilan lebih lanjut. Pemberontak

yang melawan diputuskan dibuang ke Banjarmasin.

Setelah sisa-sisa pasukan pemberontak Arya Gledek berhasil ditumpas, rakyat

dikumpulkan di alun-alun Bondowoso. Dengan disaksikan rakyat Bondowoso, kepala Arya

Gledek dan Abdulrrasid ditanam di tengah alun-alun dengan upacara resmi. Ki Ronggo

memberikan sambutan.

“Wahai rakyatku sekalian, hari ini kita telah berhasil menumpas para pemberontak yang

akan mengacaukan Kadipaten Bondowoso. Kita telah menang melawan orang-orang yang

akan memaksakan kehendaknya. Ini adalah pengalaman dan pelajaran berharga untuk kita'

semua. Barang siapa mengancam, berkata sombong, berbuat melanggar perintah agama, dan

hendak mengganggu serta menggulingkan pemerintahan Bondowoso yang sah, maka ia akan

bernasib sama seperti Arya Gledak dan Abdurrasid.”

Semenjak kemenangan itu, kehidupan masyarakat Bondowoso aman dan sejahtera

karena tidak ada lagi yang berani melakukan pemberontakan. Wilayah Puger pun dilepaskan

menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.

ASAL-USUL SUMUR GUMULING

ada zaman dahulu, di daerah Ambulu, Jember, ada dua kadipaten yang saling

berdekatan, yaitu Kadipaten Kotablater dan Kadipaten Puger. Adipati Kotablater

mempunyai dua orang putra, yang laki-laki berwajah sangat tampan bernama Aryo

Blater dan yang perempuan berwajah cantik bemama Dewi Purbasari.

Dua kadipaten yang bertetangga itu kemudian terlibat perang karena Adipati Puger, yang

marah karena lamarannya kepada Dewi Purbasari ditolak oleh Adipati Kotablater, membunuh

utusan Kadipaten Kotablater yang mengantarkan surat penolakan. Adipati Kotablater

menolak lamaran Adipati Puger karena Adipati Puger sudah terlalu tua dan lebih pantas

menjadi ayah Dewi Purbasari, Di samping itu. Dewi Purbasari juga sudah dilamar dan akan

diambil menantu oleh raja Majapahit. Adipati Puger yang kasar, emosional, dan tidak

bijaksana itu tidak puas hanya membunuh utusan Kadipaten Kotablater. Ia kemudian

mengumpulkan prajuritnya dan mengobarkan perang terhadap Kadipaten Kotablater. Yel yel

perlawanan pun terdengar membahana. Kemudian mereka berangkat menuju Kadipaten

Kotablater dengan satu tujuan, yaitu menghancurkan. Oleh karena itu, sepanjang perjalanan

mereka merampok, membunuh, memperkosa, dan menganiaya siapa saja yang mereka

jumpai. Lumbung-lumbung padi dibakar, saluran air dirusak, dan desa-desa mereka porak

poranda sehingga penduduk lari menyelamatkan diri.

Orang-orang desa di Kadipaten Kotablater yang belum mereka lalui berlarian

meninggalkan rumah-rumah menuju ibukota. Mereka mencari perlindungan kepada adipati.

Melihat keadaan seperti itu, Adipati Kotablater tidak tinggal diam. la pun menyiapkan

pasukannya untuk melakukan perlawanan. Demang Wirosantika disuruh membawa sebagian

rakyat Kotablater mengungsi ke Lumajang dan melapor kepada raja Majapahit. Untuk

menghadapi Adipati Puger, ia akan turun tangan sendiri.

Dalam perang tanding antara dua adipati itu, Adipati Kotablater terkena tombak di

dadanya dan jatuh tersungkur meninggal seketika. Putra Adipati Kotablater yang bernama

Aryo Blater sangat marah mendengar ayahnya meninggal dan kadipatennya

diporakporandakan. Ia memimpin langsung prajurit kadipaten untuk membalasnya. Aryo

Blater dan para prajuritnya menyerang prajurit Kadipaten Puger yang dalam keadaan lengah

karena sedang dimabuk kemenangan, berpesta pora, minum-minuman keras sampai mabuk,

dan akhirnya tertidur pulas. Pasukan Kadipaten Puger pun dibuat kalang kabut dan banyak

yang terbunuh, bahkan Adipati Puger terluka oleh senjata Aryo Blater. Ia segera dibawa lari

ke Puger.

Walaupun masih muda, Aryo Blater sangat pandai dalam hal taktik perang. Ketika

pasukan Kotablater tercerai berai, ia pun mampu menyatukan kembali dalam waktu yang

singkat dan dapat melumpuhkan pasukan Puger. Atas kemenangan itu, pasukan Kotablater

bersemangat kembali menghadapi musuhnya. Mereka bertekad akan membalas perbuatan

prajurit Kadipaten Puger.

Kekalahan di pihak Adipati Puger pun tidak membuat mereka jera. Setelah sembuh dari

lukanya, Adipati Puger kembali menyerang pasukan Kadipaten Kotablater dengan membawa

pasukan berlipat ganda. Serangan Adipati Puger membuat pasukan Kotablater yang dipimpin

oleh Aryo Blater kewalahan karena jumlah pasukannya kalah banyak. Pasukan Kotablater

tercerai berai melarikan diri, termasuk Aryo Blater.

Dengan sembunyi-sembunyi, Aryo Blater menyusup ke desa-desa agar tidak diketahui

oleh Adipati Puger dan pasukannya. Setelah berjalan berhari-hari, sampailah ia di sebuah desa

bemama Desa Sumberrgjo, Desa itu masih termasuk wilayah Kadipaten Kotablater meskipun

jauh dari ibukota kadipaten. Karena berada di pedalaman, bukan jalur yang dilalui oleh

prajurit Puger, desa itu relatif masih aman. Rumah-rumah masih berdiri tegak, hanya

suasananya yang terlihat sepi. Mungkin mereka mendengar ada pembakaran dan perusakan

yang dilakukan oleh prajurit Puger sehingga mereka memulih bersembunyi di dalam rumah.

Rumah-rumah jadi tampak tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa ekor ayam mematuk-

matuk tanah di jalanan.

Sambil menahan dahaga, Aryo Blater berjalan mengelilingi desa berharap menemukan

warga yang dapat dimintai tolong. Akan tetapi, desa itu benar-benar seperti desa mati, rumah-

rumah tertutup rapat pintu dan jendelanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sudah

tidak sanggup menahan dahaganya, Aryo Blater pun menyelinap masuk ke rumah salah

seorang penduduk.

“Kulanuwun...permisi...apa di dalam ada orang?”

Aryo Blater melongok-longok ke dalam rumah, terlihat sangat sepi. Ia pun mengulangi

salamnya sambil terus masuk.

“Kulanuwun...permssi..."

Tiba-tiba muncul seorang lelaki setengah baya dari dalam sebuah bilik. Tatapan matanya

penuh curiga dan rasa tidak senang,

“Siapakah engkau berani masuk rumah orang?” tanya penduduk tersebut.

“Maafkan aku, Paman. Aku sudah keliling desa ini, tapi tak ada satu pun orang di luar."

“Mereka ketakutan karena ada peperangan. Engkau siapa?”

“Aku Aryo Blater, putra Adipati Kotablater," kata Aryo Blater berharap penduduk itu

akan membantunya karena ia merupakan anak penguasa wilayah itu. “Aku minta bantuanmu,

Paman. Aku haus, aku minta seteguk air," kata Arya Blater sambil menahan dahaga.

“Aku tidak punya air, pergilah dari sini. Aku takut kepada Gusti Adipati Puger dan anak

buahnya. Kalau engkau masih di sini, aku dan keluargaku akan dibunuhnya.”

“Apakah pasukan Puger sudah sampai kemari, Bukankah desa ini masih wilayah

Kadipaten Kotablater?"

“Tapi Kadipaten Kotablater sudah kalah, sekarang kami ikut Kadipaten Puger, Kami

dilarang membantu siapa pun yang berasal dari Kadipaten Kotablater, Kami tidak mau mati

sia-sia, Pergilah."

“Baiklah, Paman. Saya tidak ingin menyusahkan Paman.”

Aryo Blater pun pindah ke rumah yang ada di sebelahnya berharap mendapat

pertolongan. Di sini, ia juga mendapat jawaban yang hampir sama. Dari pintu ke pintu, Aryo

Blater meminta bantuan sambil berharap masih ada yang menghargainya sebagai putra

Adipati Kotablater, tetapi tampaknya warga lebih takut pada prajurit Puger. Tidak ada

seorang pun penduduk Desa Sumberrejo yang berani memberinya makanan dan minuman.

20

“Raden, sudahlah, kita tinggalkan desa ini saja,” kata seorang pembantunya memberi

saran.

“Tapi apakah Paman tidak haus? Kita sudah berjalan berhari-hari tanpa makan dan

minum yang cukup. Kasihan para prajurit."

“Benar Raden, tapi mereka tidak mungkin mau membantu kita. Sia-sia saja kita

berlama-lama di sini. Jangan-jangan nanti malah mereka melaporkan keberadaan kita ke

prajurit Puger,”

“Ah, Paman benar. Mari kita keluar dari desa ini.”

Dengan perasaan sedih, Aryo Blater meninggalkan Desa Sumberrejo. Ia dan para

prajuritnya yang tersisa tiba di pinggir desa tersebut. Sambil beristirahat dan berteduh, ia

duduk di bawah pohon asam. Matahari semakin terik dan rasa haus di kerongkongannya

semakin tidak tertahankan, begitu pula pengikutnya. Mereka berusaha untuk tetap semangat

demi membela wilayahnya. Apalagi mereka yakin bahwa tidak lama lagi pasukan Majapahit

akan datang untuk membantu. Majapahit tidak akan mau kehilangan gudang beras yang ada

di Kadipaten Puger kalau sampai kadipaten itu memisahkan diri.

Pikiran Aryo Blater semakin terbang melayang kian kemari. Tiba-tiba ia teringat kepada

adiknya, Purbasari. “Bagaimana nasib Purbasari? Kasihan dia. Semoga ia selamat,” gumam

Aryo Blater. Tiba-tiba ia bangkit dengan geramnya.

“Kurang ajar. Kurang ajar!” teriaknya geram sambil mengepalkan tangan membuat para

pembantu dan prajuritnya terbangun.

“Ada apa, Raden?” tanya seorang pembantunya.

“Penduduk Desa Sumberrejo, Paman. Ternyata pengikut Adipati Puger, mereka

bermuka dua." F1

“Hamba juga tidak mengira kalau mereka telah menjadi pengikut Adipati Puger Gusti,

Desa ini sebelumnya cukup setia pada Kanjeng Adipati. Mereka tidak pernah terlambat

membayar upeti,” kata salah seorang pengiring Aryo Blater.

“Itulah yang menjadi pikiranku Paman,” jawab Aryo Blater. “Mereka seperti air di daun

talas, tidak punya pendirian. Kemana angin bertiup, ke sanalah ia condong.”

Aryo Blater berjalan mondar-mandir gelisah seakan-akan memikirkan sesuatu. Matanya

diarahkan ke wilayah sekitar seperti mencari-cari sesuatu. Tidak lama kemudian wajahnya

tampak gembira.

“Ah...ah.... Aku melihat sumur, Paman," dengan riangnya Aryo Blater berteriak kepada

pengawalnya, “mari kita ke sana Paman.”

“Sumur? Di mana Raden? Paman tidak melihatnya.”

“Itu...itu...di dekat rumah paling ujung.”

“Itu hanya gerumbul semak, Raden. Kalau ada sumur tentu semak-semaknya tidak akan

setinggi itu. Raden istirahat saja supaya tidak semakin haus.”

“Tidak, Paman. Aku yakin kalau itu sumur. Biar kucoba melihatnya. Biar Paman tunggu

di sini saja.”

Dugaannya benar. Ia segera berteriak memanggil para prajuritnya. Setibanya di sumur

tersebut, mereka kebingungan karena tidak ada timbanya.

“Ternyata dugaan Raden benar. Kita tidak akan kehausan lagi,” kata pembantunya.

“Tapi, Raden, bagaimana kita mengambil airnya, sedang di sini tidak ada timba,” kata

seorang prajurit.

“Iya, bagaimana ya?”

2

“Mungkin timbanya disembunyikan, coba kita pinjam.”

“Bukan disembunyikan. Lihat..sumur ini memang sudah lama tidak dipakai.

Rumputnya saja hampir menutupi sumur."

“Kalau begitu, airnya pasti kotor.”

“Yaaah, sama saja kita akan kehausan.”

“Sudahlah, kita kembali beristirahat saja. Menghemat tenaga.”

“Benar, tidak ada gunanya kita menunggu di sini.”

Komentar para pembantu dan prajuritnya itu didengar oleh Aryo Blater. Ia tidak ingin

mengecewakan mereka yang sudah dengan setia membela kadipaten dan tetap setia

mengikutinya meskipun dirinya kalah. Aryo Blater pun segera duduk bersila di pelataran

sumur. Para prajurit pengiringnya mundur dengan perasaan heran, tetapi mereka tidak jadi

meninggalkan tempat itu. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu.

Aryo Blater memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh agar dapat menggunakan

kembali kesaktiannya. Atas izin Tuhan, Aryo Blater dapat menggulung sumur itu hingga

airnya mencapai permukaan. Para prajuritnya bersorak gembira dan dengan cepat

menghampiri permukaan sumur itu untuk minum sepuas-puasnya. Rasa haus segera dapat

terobati,

“Wahai, Paman sekalian, berkat pertolongan Tuhan, sumur ini berhasil aku gulingkan,

Sumur ini juga sudah membantu kita menghilangkan rasa haus dan memberikan semangat

baru kepada kita. Oleh karena itu, aku akan memberi nama Sumur Gumuling dan sumur ini

kelak akan memberi berkat kepada siapa saja yang minum airnya.”

“Terima kasih, Raden. Kami akan mengingatnya,” kata para pengikut Aryo Blater

dengan hormat. Mereka merasa memiliki kepercayaan diri lagi karena pemimpin mereka

ternyata masih memiliki kesaktian.

Beberapa penduduk Sumberrejo, yang diam-diam menyaksikan apa yang dilakukan

Aryo Blater itu dari balik dinding bambu rumahnya, merasa kagum dan senang. Sumur yang

dianggap tidak berguna karena airnya terlalu dalam itu, kini dapat digulingkan sehingga

aimya dapat dimanfaatkan. Mereka kagum pada kesaktian Aryo Blater. Penduduk pun

dengan cepat mendengar berita itu dan berbondong-bondong mendatangi sumur itu, termasuk

orang-orang yang telah mengusir Aryo Blater. Mereka akhirnya minta maaf dan menyatakan

kembali kesetiaannya pada Kadipaten Kotablater.

Setelah merasa cukup istirahat, rombongan Aryo Blater pun meninggalkan Desa

Sumberrejo dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kadipaten. Aryo Blater sangat

cemas memikirkan adiknya, Dewi Purbasari. Tanpa sepengetahuan Aryo Blater, Dewi

Purbasari telah mengakhiri hidupnya dengan keris ayahnya. la memilih mati daripada

tertangkap dan dibawa ke Kadipaten Puger.

22


Story DNA

Moral

Cunning and strategic thinking can overcome superior force, but loyalty is a fragile thing in times of conflict.

Plot Summary

Arya Gledek and his forces swiftly conquer Puger, prompting Patih Reksonegoro to secretly alert Ki Kertonegoro of Bondowoso. Ki Kertonegoro, enraged, devises a cunning trap, inviting Arya Gledek for a 'welcome' while preparing a booby-trapped bridge and hidden forces. Arya Gledek, overconfident, falls into the ambush, leading to his defeat and execution. Meanwhile, Aryo Blater, son of a defeated ruler, flees with loyal soldiers, facing thirst and betrayal from villagers. Through prayer and his magical power, Aryo Blater makes a deep well's water rise, revitalizing his men and regaining villagers' loyalty, though he later learns of his sister's tragic suicide.

Themes

cunning vs. brute forceloyalty and betrayalresilience in adversityleadership and strategy

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: brisk
Descriptive: moderate
Techniques: rule of three (e.g., three attempts to find water), dramatic irony (Arya Gledek's overconfidence)

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: bittersweet
Magic: Aryo Blater's ability to make well water rise through prayer and 'kesaktian'
the booby-trapped bridge (deception, strategic warfare)the well (resilience, divine intervention, leadership)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

The story reflects traditional Javanese political structures, warfare, and spiritual beliefs, including the concept of 'kesaktian' (supernatural power/potency) associated with leaders.

Plot Beats (14)

  1. Arya Gledek and Abdurrasid suddenly attack and conquer Puger, forcing Patih Reksonegoro to surrender.
  2. Patih Reksonegoro secretly writes to Ki Kertonegoro of Bondowoso, informing him of the invasion and Arya Gledek's imminent attack on Bondowoso.
  3. Ki Kertonegoro receives the letter, becomes enraged, and gathers his troops to prepare for battle, planning a strategic ambush.
  4. Arya Gledek sends an envoy to Bondowoso, announcing his arrival and intention to pass through on his way to Besuki, expecting a welcome.
  5. Ki Kertonegoro sends a deceptive reply, inviting Arya Gledek for a grand welcome, while secretly preparing a booby-trapped bridge and hidden forces.
  6. Arya Gledek, overconfident and believing Ki Kertonegoro has surrendered, leads his forces across the booby-trapped bridge.
  7. The bridge collapses, trapping Arya Gledek's forces, who are then ambushed and defeated by Ki Kertonegoro's hidden army.
  8. Arya Gledek and Abdurrasid are captured and subsequently executed, ending the rebellion.
  9. Aryo Blater, son of the defeated Adipati Kotablater, flees with his remaining loyal soldiers, suffering from thirst and hunger.
  10. Villagers, fearing the new rulers of Puger, refuse to help Aryo Blater and his men, showing their changed loyalty.
  11. Aryo Blater, desperate, finds a deep, unused well but lacks a bucket.
  12. Aryo Blater prays and uses his magical powers to make the well water rise to the surface, quenching his men's thirst.
  13. Witnessing this, the villagers who had previously refused help are impressed and reaffirm their loyalty to Aryo Blater.
  14. Aryo Blater continues his journey, but learns that his sister, Purbasari, committed suicide to avoid capture by Puger's forces.

Characters

👤

Arya Gledek

human adult male

None explicitly mentioned, but implied to be a strong leader of robbers.

Attire: Implied to be typical attire for a leader of robbers or a warrior of the era.

A leader of a band of robbers, perhaps with a distinctive weapon or banner.

Ruthless, ambitious, overconfident, cunning.

👤

Patih Reksonegoro

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Traditional attire for a Patih (regent) of the era, likely formal and indicative of his status.

A Patih in traditional Javanese attire, holding a letter or scroll.

Cautious, strategic, resourceful, initially fearful but quick-thinking.

👤

Abdurrasid

human adult male

None explicitly mentioned.

Attire: Implied to be warrior attire as a panglima perang (commander).

A warrior standing beside Arya Gledek.

Loyal to Arya Gledek, a military leader.

👤

Ki Kertonegoro

human adult male

None explicitly mentioned, but his face turns 'red with anger'.

Attire: Traditional attire for a Patih (regent) of the era, likely formal and indicative of his status.

A Patih with a stern expression, clenching his fist.

Brave, strategic, intelligent, easily angered but composed.

👤

Aryo Blater

human young adult male

None explicitly mentioned, but capable of performing a magical feat.

Attire: Implied to be the attire of a Raden (prince) or noble, possibly travel-worn.

A young noble sitting cross-legged, praying beside a well, or a well with water miraculously rising to the surface.

Resilient, determined, compassionate, spiritual, possesses magical abilities.

👤

Purbasari

human young adult female

None explicitly mentioned.

Attire: Implied to be the attire of a princess or noblewoman.

A young woman holding a keris (dagger).

Loyal, desperate, self-sacrificing.

Locations

Alun-alun Puger (Puger Town Square)

outdoor

The town square of Puger, currently controlled by rebels.

Mood: tense, conquered, celebratory (for rebels)

Arya Gledek's rebels take control and force the villagers to celebrate their victory.

town square rebels cheering crowds

Pendopo (Patih Puger's Hall)

indoor

The main hall of Patih Puger's residence, currently surrounded by rebels.

Mood: tense, besieged, uncertain

Patih Puger is cornered and forced to pretend to surrender to Arya Gledek's forces.

pendopo rebels surrounding drawn swords

Perbatasan Desa Sumberpandan (Sumberpandan Village Border)

outdoor night

The border area of Sumberpandan village, where Ki Kertonegoro's troops set up camp for the night.

Mood: anticipatory, strategic, resting

Ki Kertonegoro's army halts their march to rest before confronting Arya Gledek.

village border camps resting soldiers

Pinggir Desa Sumberrejo (Outskirts of Sumberrejo Village)

outdoor day hot, sunny

The edge of Sumberrejo village, where Aryo Blater and his remaining soldiers rest under a tamarind tree.

Mood: desperate, weary, hopeful (for water)

Aryo Blater and his men, exhausted and thirsty, seek refuge and water after being rejected by the villagers.

village outskirts tamarind tree thirsty soldiers hot sun

Sumur Gumuling (The Rolling Well)

outdoor day hot, sunny

An old, neglected well near the furthest house in Sumberrejo village, almost covered by tall bushes, with no bucket.

Mood: miraculous, hopeful, sacred

Aryo Blater uses his magic to make the well water rise to the surface, providing relief and hope to his men and earning the villagers' respect.

old well tall bushes no bucket water rising to surface