Pemberontakan Arya Gledek
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Pemberontakan Arya Gledek
Ikisah, menurut cerita para orang tua, suatu hari daerah Puger tiba-tiba diserang oleh
segerombolan perampok yang dipimpin oleh Arya Gledek dengan panglima
perangnya Abdurrasid. Kedatangannya yang tiba-tiba tersebut membuat Patih Puger
yang bemama Reksonegoro tidak sempat minta bantuan kepada Ki Kertonegoro di
Bondowoso. Penduduk desa banyak yang menyerah. Alun-alun Puger sudah dikuasai
pemberontak dan penduduk diperintahkan bersorak-sorai sebagai tanda kemenangan.
Pendopo pun sudah dikepung. Patih Puger merasa bingung karena jumlah pasukannya kalah
banyak dibandingkan dengan jumlah pasukan pemberontak. Jika menyerah, ia merasa malu
dan jika lari takut terbunuh. Tanpa disadarinya, ia sudah dikepung oleh pemberontak dengan
pedang terhunus.
"Jangan melawan atau melapor, pedang ini akan memenggal kepalamu!”
“Ba.,.aa...iklah, saya tidak akan melawan atau melapor kepada Ki Kertonegoro,” kata
Patih Puger berpura-pura menyerah dan mengikuti kemauan musuh dengan harapan akan
dilepaskan.
Akhirnya, ia pun dilepaskan. Kesempatan ini digunakan oleh Patih Puger untuk menulis
surat kepada Ki Kertonegoro secara diam-diam. Ia memberitahukan bahwa Kadipaten Puger
telah dikuasai musuh dan semua mantrinya telah menyerah sebelum melakukan perlawanan
karena jumlah musuh lebih banyak dari pasukannya, Di samping itu, keesokan paginya
musuh yang dipimpin oleh Arya Gledek dan Abdurrasid akan berangkat menuju Bondowoso.
Selesai menulis surat, Patih Puger diam-diam menemui telik sandinya untuk mengirim
surat tersebut ke Bondowoso. Katanya, “Paman tolong sampaikan surat ini kepada Ki Patih
Kertonegoro di Bondowoso. Hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh pihak sekutu.”
“Baiklah Tuanku, perintah Tuanku segera hamba laksanakan.”
Tidak beberapa lama kemudian sampailah surat itu ke tangan Ki Kertonegoro. Setelah
membaca surat itu wajahnya merah padam menahan marah.
”Bedebah kau Arya Gledek! Tunggu pembalasanku!” katanya sambil mengepalkan
tangan.
Ki Kertonegoro segera mengumpulkan para mantri dan prajurit untuk merundingkan
cara menumpas pemberontakan Arya Gledek, Di hadapan para abdinya, ia berkata dengan
lantang, “Wahai Paman sekalian, daerah Puger sudah dikuasai oleh sekutu Arya Gledek.
Bahkan, besok mereka akan menyerbu kemari. Kita akan menerima kedatangannya dengan
cara kita sendiri. Untuk itu, mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya.”
Para abdi pun merasa berang dan marah karena daerah kekuasaan Bondowoso sudah
direbut oleh Arya Gledek. Dengan suara lantang, mereka pun menjawab, "Setujuuuuu! Kita
harus rebut kembali wilayah kita!”
Mereka mengepalkan tangan dan mengacungkan senjata ke atas sebagai tanda bahwa
mereka siap menghadapi musuh. Semua pasukan dengan senjata di tangan segera
meninggalkan kota menuju perbatasan Desa Sumberpandan. Di desa itu mereka berhenti.
“Karena hari sudah larit malam, sebaiknya kita beristirahat dulu. Besok, pagi-pagi
sekali kita lanjutkan perjalanan”
“Baik, Ki Patih.”
Ketika mereka selesai mendirikan kemah, tiba-tiba datang utusan Ki Patih Arya
Gledek. Utusan diterima oleh Ki Patih Kertonegoro.
"Sembah bakti Tuanku, hamba menyampaikan surat dan memberitahukan bahwa Arya
Gledek besok pagi akan menuju Besuki dengan tujuan menata agama warga Besuki karena
telah terjadi pertentangan agama di sana. Untuk itu, sebelum menuju Besuki, beliau akan
singgah di Bondowoso. Semoga Tuanku bersedia menyambutnya dengan jamuan bagi
menteri dan pasukannya.”
Dengan menyembunyikan rasa marah, Ki Patih Kertanegoro pun menjawab, "Baiklah
Paman, sampaikan salamku kepada Arya Gledek. Katakan bahwa kami akan menerima
kedatangannya di Bondowoso dengan senang hati.”
Demnkianlah pesan dan isi surat yang dijawab kembali oleh Bupati Bondowoso. Utusan
Arya Gledek pun mohon diri kembali ke Puger.
Sekembalinya utusan Arya Gledek ke Puger, sebagai orang yang telah menguasai surat-
menyurat dan berpengalaman cukup lama membabat hutan belantara sebelum menjadi
Bondowoso, Ki Patih Kertonegoro mengamati kembali kedua isi surat tersebut. Ia merasa
perlu waspada dan hati-hati.
Ki Patih Kertonegoro menyuruh pasukannya membuat medan untuk” bertempur
menghadapi lawan dan atas keputusannya, perang dilakukan di Sentong. Ia memberi tahu
Patih Besuki bahwa Puger sudah jatuh ke tangan musuh dan besok pagi musuh akan menuju
Besuki. Selanjutnya, Ki Patih Kertonegoro membalas kembali surat Arya Gledek dengan
bahasa yang halus dan sopan bahwa kedatangan Arya Gledek sangat dinantikannya. Jika
tidak dipahami benar-benar, isi surat itu memberi kesan bahwa Patih Kertonegoro telah
menyerah. Surat yang telah diberikan kepada Arya Gledek itu berbunyi sebagai berikut.
Kedatangan Arya Gledek sangat kami tunggu-tunggu di Bondowoso dan jangan khawatir
kami telah menyediakan jamuan makan serta tempat peristirahatan secukupnya
sebagaimana layaknya tuan rumah menyambut tamu, hanya tinggal memotong lembu dan
kambingnya saja. Hanya permintaan Ki Patih Kertonegoro, jika Arya Gledek hendak datang,
sebaiknya persenjataan diletakkan sebagai tanda hati yang suci dan bebas dari rasa
prasangka.
Di Kadipaten Puger, setelah membaca surat itu, Arya Gledek pun merasa lega hatinya.
”Bagus...bagus...,” katanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apakah Ki Patih Kertonegoro bersedia menerima kedatangan kita?” tanya seorang
pengikut Arya Gledek.
”Benar...benar. Dan..tidak hanya itu Inilah perang tanpa perlawanan...
ha...ha...ha...ha.... Ini tanda bahwa Patih Bondowoso itu telah menyerah. Buktinya ia
bersedia menjamin dan menyediakan jamuan makan untuk pasukanku,” katanya dengan
wajah gembira dan percaya diri.
"Ternyata mereka sangat penakut ha ha ha,” kata pengikut Arya Gledek sambil tertawa
mengejek.
2s
Alkisah di Kadipaten Besuki, Ki Patih Besuki menerima surat dari Ki Kertonegoro lalu
membacanya sambil bergumam, "Hm...hm...hm. .,bagaimana mungkin Patih Puger dengan
pasukan andalan yang begitu kuat semudah itu menyerah kepada pemberontak yang tidak lain
adalah bawahannya sendiri. Mereka tidak melakukan perlawanan? Apa hanya ingin mencari
selamat?”
Demikianlah yang ada dalam pikiran Ki Patih Besuki. Akan tetapi, akhirnya Patih
Besuki menyadarinya alasan-alasan yang disampaikan dalam surat tersebut. Ia pun berserah
diri, semua diserahkan pada kehendak Tuhan kalau memang pemberontak sampai
menginjakkan kakinya di Kadipaten Besuki.
Kedatangan Arya Gledek dan pasukannya di perbatasan Kadipaten Bondowoso
disambut meriah oleh pasukan Patih Kertonegoro.
"Salam. Terima kasih. Terima kasih. Sambutannya yang sangat mengesankan,”
demikian kata Arya Gledek kepada Ki Patih Kertonegoro yang menyambutnya dengan
senyum ramah.
Ki Patih Kertonegoro mempersilakan tamunya masuk melalui jembatan yang sudah
dihiasi janur dan bunga-bunga layaknya menyambut kedatangan tamu agung.
Sambutan yang begitu hangat dan kekeluargaan itu membuat Arya Gledek dan
pasukannya terlena. Arya Gledek tidak bisa membaca suasana dan siasat peperangan yang
tengah dilakukan oleh Ki Patih Kertonegoro. Padahal, tiang-tiang pancang jembatan itu sudah
dilonggarkan sebagai taktik agar siapa pun yang melewatinya akan jatuh ke dalam jurang. Di
samping itu, dibuatkan pula barak tempat peristirahatan di sebelah utara sungai dan dihiasai
janur, bunga-bunga, serta dilengkapi gamelan sebagai hiburan mengingat pasukan Arya
Gledek yang kelelahan karena perjalanan jauh, Untuk keamanan tamu, di sebelah utara sungai
disiapkan pasukan keamanan dengan seragam dan senjata lengkap. Akan tetapi, di sebelah
selatan sungai distapkan pula pasukan penyamar yang telah terlatih di tempat-tempat strategis
untuk memukul habis pasukan Arya Gledek.
Pasukan Arya Gledek disambut bunyi gamelan mendayu-dayu, sedangkan pasukan di
sebelah utara terus mendesak ke tebing sungai di sebelah utara. Pasukan Arya Gledek
terperangkap melewati jembatan dan karena penuh sesak oleh pasukan Arya Gledek,
jembatan pun ambruk. Pasukan kuda pun terjatuh ke dalam jurang sungai yang cukup dalam.
Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh pasukan Patih Kertonegoro untuk membinasakan
musuh-musuhnya. Pertempuran pun tidak dapat dihindari. Perang tanding adu ketangkasan
memainkan pedang dan parang berlangsung sengit. Pasukan penyamar memukul dari sebelah
selatan sungai, sedangkan pasukan dari utara terus mendekat ke tebing sungai sebelah utara.
Pasukan Arya Gledek pun sulit melakukan perlawanan karena mendapat serangan secara
mendadak hingga mereka pun terdesak mundur. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh
tentara Ki Kertonegoro untuk memukul habis pasukan Arya Gledek. Dengan membabi buta,
mereka pun terus mengejar. Yang melawan dibunuh, yang menyerah ditahan. Panglima
perang Abdurrasid dipenggal lehernya. Pasukan Bondowoso terus mengejar sisa-sisa
pemberontak yang melarikan diri. Arya Gledek pun tertangkap, kemudian dieksekusi.
Sebagai wujud kemenangan melawan pemberontak Arya Gledek, rakyat Bondowoso
mengarak kepala Abdurrasid dan Arya Gledek ke lapangan Desa Mandar dan diletakkan di
tiang pancang untuk dipertontonkan kepada masyarakat bahwa pemberontak telah berhasil
dikalahkan.
ri
Meskipun demikian, pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Arya Gledek tidak berhenti.
Ki Patih Kertonegoro memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar.
“Kita harus menghabisi sisa-sisa pasukan Ki Arya Gledek supaya kelak tidak ada
pemberontakan lagi.”
Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Patih Puger yang berpura-pura
menyerah itu. Patih Puger menghaturkan sembah kepada Ki Patih Kertonegoro.
“Maafkan atas keteledoran hamba sehingga Puger sampai jatuh ke tangan
pemberontak.”
“Ki Patih Puger, terimalah hadiah dariku...” kata Ki Patih Kertonegoro sambil
menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Ki Bawean.
Melihat kemarahan Ki Patih Kertonegoro, Ki Patih Puger dengan cepat berlutut sambil
menyembah dan mohon ampun serta mengutarakan alasan yang sebenarnya dirinya
menyerah kepada Arya Gledek. Mendengar alasan yang diutarakan Patih Puger, kemarahan
Ki Patih Kertonegoro sedikit-demi sedikit reda dan Ki Patih Puger pun dimaafkan. Akhirnya
Ki Patih Puger dan pasukan Ki Patih Kertonegoro melanjutkan pengejaran terhadap
pemberontak dengan menyisir wilayah Puger untuk membebaskan mereka yang ditawan dan
membawa pasukan pemberontak yang menyerah ke Bondowoso agar dapat diadili. Mereka
akan diserahkan ke Residen Besuki untuk menjalani pengadilan lebih lanjut. Pemberontak
yang melawan diputuskan dibuang ke Banjarmasin.
Setelah sisa-sisa pasukan pemberontak Arya Gledek berhasil ditumpas, rakyat
dikumpulkan di alun-alun Bondowoso. Dengan disaksikan rakyat Bondowoso, kepala Arya
Gledek dan Abdulrrasid ditanam di tengah alun-alun dengan upacara resmi. Ki Ronggo
memberikan sambutan.
“Wahai rakyatku sekalian, hari ini kita telah berhasil menumpas para pemberontak yang
akan mengacaukan Kadipaten Bondowoso. Kita telah menang melawan orang-orang yang
akan memaksakan kehendaknya. Ini adalah pengalaman dan pelajaran berharga untuk kita'
semua. Barang siapa mengancam, berkata sombong, berbuat melanggar perintah agama, dan
hendak mengganggu serta menggulingkan pemerintahan Bondowoso yang sah, maka ia akan
bernasib sama seperti Arya Gledak dan Abdurrasid.”
Semenjak kemenangan itu, kehidupan masyarakat Bondowoso aman dan sejahtera
karena tidak ada lagi yang berani melakukan pemberontakan. Wilayah Puger pun dilepaskan
menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.
ASAL-USUL SUMUR GUMULING
ada zaman dahulu, di daerah Ambulu, Jember, ada dua kadipaten yang saling
berdekatan, yaitu Kadipaten Kotablater dan Kadipaten Puger. Adipati Kotablater
mempunyai dua orang putra, yang laki-laki berwajah sangat tampan bernama Aryo
Blater dan yang perempuan berwajah cantik bemama Dewi Purbasari.
Dua kadipaten yang bertetangga itu kemudian terlibat perang karena Adipati Puger, yang
marah karena lamarannya kepada Dewi Purbasari ditolak oleh Adipati Kotablater, membunuh
utusan Kadipaten Kotablater yang mengantarkan surat penolakan. Adipati Kotablater
menolak lamaran Adipati Puger karena Adipati Puger sudah terlalu tua dan lebih pantas
menjadi ayah Dewi Purbasari, Di samping itu. Dewi Purbasari juga sudah dilamar dan akan
diambil menantu oleh raja Majapahit. Adipati Puger yang kasar, emosional, dan tidak
bijaksana itu tidak puas hanya membunuh utusan Kadipaten Kotablater. Ia kemudian
mengumpulkan prajuritnya dan mengobarkan perang terhadap Kadipaten Kotablater. Yel yel
perlawanan pun terdengar membahana. Kemudian mereka berangkat menuju Kadipaten
Kotablater dengan satu tujuan, yaitu menghancurkan. Oleh karena itu, sepanjang perjalanan
mereka merampok, membunuh, memperkosa, dan menganiaya siapa saja yang mereka
jumpai. Lumbung-lumbung padi dibakar, saluran air dirusak, dan desa-desa mereka porak
poranda sehingga penduduk lari menyelamatkan diri.
Orang-orang desa di Kadipaten Kotablater yang belum mereka lalui berlarian
meninggalkan rumah-rumah menuju ibukota. Mereka mencari perlindungan kepada adipati.
Melihat keadaan seperti itu, Adipati Kotablater tidak tinggal diam. la pun menyiapkan
pasukannya untuk melakukan perlawanan. Demang Wirosantika disuruh membawa sebagian
rakyat Kotablater mengungsi ke Lumajang dan melapor kepada raja Majapahit. Untuk
menghadapi Adipati Puger, ia akan turun tangan sendiri.
Dalam perang tanding antara dua adipati itu, Adipati Kotablater terkena tombak di
dadanya dan jatuh tersungkur meninggal seketika. Putra Adipati Kotablater yang bernama
Aryo Blater sangat marah mendengar ayahnya meninggal dan kadipatennya
diporakporandakan. Ia memimpin langsung prajurit kadipaten untuk membalasnya. Aryo
Blater dan para prajuritnya menyerang prajurit Kadipaten Puger yang dalam keadaan lengah
karena sedang dimabuk kemenangan, berpesta pora, minum-minuman keras sampai mabuk,
dan akhirnya tertidur pulas. Pasukan Kadipaten Puger pun dibuat kalang kabut dan banyak
yang terbunuh, bahkan Adipati Puger terluka oleh senjata Aryo Blater. Ia segera dibawa lari
ke Puger.
Walaupun masih muda, Aryo Blater sangat pandai dalam hal taktik perang. Ketika
pasukan Kotablater tercerai berai, ia pun mampu menyatukan kembali dalam waktu yang
singkat dan dapat melumpuhkan pasukan Puger. Atas kemenangan itu, pasukan Kotablater
bersemangat kembali menghadapi musuhnya. Mereka bertekad akan membalas perbuatan
prajurit Kadipaten Puger.
Kekalahan di pihak Adipati Puger pun tidak membuat mereka jera. Setelah sembuh dari
lukanya, Adipati Puger kembali menyerang pasukan Kadipaten Kotablater dengan membawa
pasukan berlipat ganda. Serangan Adipati Puger membuat pasukan Kotablater yang dipimpin
oleh Aryo Blater kewalahan karena jumlah pasukannya kalah banyak. Pasukan Kotablater
tercerai berai melarikan diri, termasuk Aryo Blater.
Dengan sembunyi-sembunyi, Aryo Blater menyusup ke desa-desa agar tidak diketahui
oleh Adipati Puger dan pasukannya. Setelah berjalan berhari-hari, sampailah ia di sebuah desa
bemama Desa Sumberrgjo, Desa itu masih termasuk wilayah Kadipaten Kotablater meskipun
jauh dari ibukota kadipaten. Karena berada di pedalaman, bukan jalur yang dilalui oleh
prajurit Puger, desa itu relatif masih aman. Rumah-rumah masih berdiri tegak, hanya
suasananya yang terlihat sepi. Mungkin mereka mendengar ada pembakaran dan perusakan
yang dilakukan oleh prajurit Puger sehingga mereka memulih bersembunyi di dalam rumah.
Rumah-rumah jadi tampak tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa ekor ayam mematuk-
matuk tanah di jalanan.
Sambil menahan dahaga, Aryo Blater berjalan mengelilingi desa berharap menemukan
warga yang dapat dimintai tolong. Akan tetapi, desa itu benar-benar seperti desa mati, rumah-
rumah tertutup rapat pintu dan jendelanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sudah
tidak sanggup menahan dahaganya, Aryo Blater pun menyelinap masuk ke rumah salah
seorang penduduk.
“Kulanuwun...permisi...apa di dalam ada orang?”
Aryo Blater melongok-longok ke dalam rumah, terlihat sangat sepi. Ia pun mengulangi
salamnya sambil terus masuk.
“Kulanuwun...permssi..."
Tiba-tiba muncul seorang lelaki setengah baya dari dalam sebuah bilik. Tatapan matanya
penuh curiga dan rasa tidak senang,
“Siapakah engkau berani masuk rumah orang?” tanya penduduk tersebut.
“Maafkan aku, Paman. Aku sudah keliling desa ini, tapi tak ada satu pun orang di luar."
“Mereka ketakutan karena ada peperangan. Engkau siapa?”
“Aku Aryo Blater, putra Adipati Kotablater," kata Aryo Blater berharap penduduk itu
akan membantunya karena ia merupakan anak penguasa wilayah itu. “Aku minta bantuanmu,
Paman. Aku haus, aku minta seteguk air," kata Arya Blater sambil menahan dahaga.
“Aku tidak punya air, pergilah dari sini. Aku takut kepada Gusti Adipati Puger dan anak
buahnya. Kalau engkau masih di sini, aku dan keluargaku akan dibunuhnya.”
“Apakah pasukan Puger sudah sampai kemari, Bukankah desa ini masih wilayah
Kadipaten Kotablater?"
“Tapi Kadipaten Kotablater sudah kalah, sekarang kami ikut Kadipaten Puger, Kami
dilarang membantu siapa pun yang berasal dari Kadipaten Kotablater, Kami tidak mau mati
sia-sia, Pergilah."
“Baiklah, Paman. Saya tidak ingin menyusahkan Paman.”
Aryo Blater pun pindah ke rumah yang ada di sebelahnya berharap mendapat
pertolongan. Di sini, ia juga mendapat jawaban yang hampir sama. Dari pintu ke pintu, Aryo
Blater meminta bantuan sambil berharap masih ada yang menghargainya sebagai putra
Adipati Kotablater, tetapi tampaknya warga lebih takut pada prajurit Puger. Tidak ada
seorang pun penduduk Desa Sumberrejo yang berani memberinya makanan dan minuman.
20
“Raden, sudahlah, kita tinggalkan desa ini saja,” kata seorang pembantunya memberi
saran.
“Tapi apakah Paman tidak haus? Kita sudah berjalan berhari-hari tanpa makan dan
minum yang cukup. Kasihan para prajurit."
“Benar Raden, tapi mereka tidak mungkin mau membantu kita. Sia-sia saja kita
berlama-lama di sini. Jangan-jangan nanti malah mereka melaporkan keberadaan kita ke
prajurit Puger,”
“Ah, Paman benar. Mari kita keluar dari desa ini.”
Dengan perasaan sedih, Aryo Blater meninggalkan Desa Sumberrejo. Ia dan para
prajuritnya yang tersisa tiba di pinggir desa tersebut. Sambil beristirahat dan berteduh, ia
duduk di bawah pohon asam. Matahari semakin terik dan rasa haus di kerongkongannya
semakin tidak tertahankan, begitu pula pengikutnya. Mereka berusaha untuk tetap semangat
demi membela wilayahnya. Apalagi mereka yakin bahwa tidak lama lagi pasukan Majapahit
akan datang untuk membantu. Majapahit tidak akan mau kehilangan gudang beras yang ada
di Kadipaten Puger kalau sampai kadipaten itu memisahkan diri.
Pikiran Aryo Blater semakin terbang melayang kian kemari. Tiba-tiba ia teringat kepada
adiknya, Purbasari. “Bagaimana nasib Purbasari? Kasihan dia. Semoga ia selamat,” gumam
Aryo Blater. Tiba-tiba ia bangkit dengan geramnya.
“Kurang ajar. Kurang ajar!” teriaknya geram sambil mengepalkan tangan membuat para
pembantu dan prajuritnya terbangun.
“Ada apa, Raden?” tanya seorang pembantunya.
“Penduduk Desa Sumberrejo, Paman. Ternyata pengikut Adipati Puger, mereka
bermuka dua." F1
“Hamba juga tidak mengira kalau mereka telah menjadi pengikut Adipati Puger Gusti,
Desa ini sebelumnya cukup setia pada Kanjeng Adipati. Mereka tidak pernah terlambat
membayar upeti,” kata salah seorang pengiring Aryo Blater.
“Itulah yang menjadi pikiranku Paman,” jawab Aryo Blater. “Mereka seperti air di daun
talas, tidak punya pendirian. Kemana angin bertiup, ke sanalah ia condong.”
Aryo Blater berjalan mondar-mandir gelisah seakan-akan memikirkan sesuatu. Matanya
diarahkan ke wilayah sekitar seperti mencari-cari sesuatu. Tidak lama kemudian wajahnya
tampak gembira.
“Ah...ah.... Aku melihat sumur, Paman," dengan riangnya Aryo Blater berteriak kepada
pengawalnya, “mari kita ke sana Paman.”
“Sumur? Di mana Raden? Paman tidak melihatnya.”
“Itu...itu...di dekat rumah paling ujung.”
“Itu hanya gerumbul semak, Raden. Kalau ada sumur tentu semak-semaknya tidak akan
setinggi itu. Raden istirahat saja supaya tidak semakin haus.”
“Tidak, Paman. Aku yakin kalau itu sumur. Biar kucoba melihatnya. Biar Paman tunggu
di sini saja.”
Dugaannya benar. Ia segera berteriak memanggil para prajuritnya. Setibanya di sumur
tersebut, mereka kebingungan karena tidak ada timbanya.
“Ternyata dugaan Raden benar. Kita tidak akan kehausan lagi,” kata pembantunya.
“Tapi, Raden, bagaimana kita mengambil airnya, sedang di sini tidak ada timba,” kata
seorang prajurit.
“Iya, bagaimana ya?”
2
“Mungkin timbanya disembunyikan, coba kita pinjam.”
“Bukan disembunyikan. Lihat..sumur ini memang sudah lama tidak dipakai.
Rumputnya saja hampir menutupi sumur."
“Kalau begitu, airnya pasti kotor.”
“Yaaah, sama saja kita akan kehausan.”
“Sudahlah, kita kembali beristirahat saja. Menghemat tenaga.”
“Benar, tidak ada gunanya kita menunggu di sini.”
Komentar para pembantu dan prajuritnya itu didengar oleh Aryo Blater. Ia tidak ingin
mengecewakan mereka yang sudah dengan setia membela kadipaten dan tetap setia
mengikutinya meskipun dirinya kalah. Aryo Blater pun segera duduk bersila di pelataran
sumur. Para prajurit pengiringnya mundur dengan perasaan heran, tetapi mereka tidak jadi
meninggalkan tempat itu. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu.
Aryo Blater memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh agar dapat menggunakan
kembali kesaktiannya. Atas izin Tuhan, Aryo Blater dapat menggulung sumur itu hingga
airnya mencapai permukaan. Para prajuritnya bersorak gembira dan dengan cepat
menghampiri permukaan sumur itu untuk minum sepuas-puasnya. Rasa haus segera dapat
terobati,
“Wahai, Paman sekalian, berkat pertolongan Tuhan, sumur ini berhasil aku gulingkan,
Sumur ini juga sudah membantu kita menghilangkan rasa haus dan memberikan semangat
baru kepada kita. Oleh karena itu, aku akan memberi nama Sumur Gumuling dan sumur ini
kelak akan memberi berkat kepada siapa saja yang minum airnya.”
“Terima kasih, Raden. Kami akan mengingatnya,” kata para pengikut Aryo Blater
dengan hormat. Mereka merasa memiliki kepercayaan diri lagi karena pemimpin mereka
ternyata masih memiliki kesaktian.
Beberapa penduduk Sumberrejo, yang diam-diam menyaksikan apa yang dilakukan
Aryo Blater itu dari balik dinding bambu rumahnya, merasa kagum dan senang. Sumur yang
dianggap tidak berguna karena airnya terlalu dalam itu, kini dapat digulingkan sehingga
aimya dapat dimanfaatkan. Mereka kagum pada kesaktian Aryo Blater. Penduduk pun
dengan cepat mendengar berita itu dan berbondong-bondong mendatangi sumur itu, termasuk
orang-orang yang telah mengusir Aryo Blater. Mereka akhirnya minta maaf dan menyatakan
kembali kesetiaannya pada Kadipaten Kotablater.
Setelah merasa cukup istirahat, rombongan Aryo Blater pun meninggalkan Desa
Sumberrejo dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kadipaten. Aryo Blater sangat
cemas memikirkan adiknya, Dewi Purbasari. Tanpa sepengetahuan Aryo Blater, Dewi
Purbasari telah mengakhiri hidupnya dengan keris ayahnya. la memilih mati daripada
tertangkap dan dibawa ke Kadipaten Puger.
22
Story DNA
Moral
Cunning and strategic thinking can overcome superior force, but loyalty is a fragile thing in times of conflict.
Plot Summary
Arya Gledek and his forces swiftly conquer Puger, prompting Patih Reksonegoro to secretly alert Ki Kertonegoro of Bondowoso. Ki Kertonegoro, enraged, devises a cunning trap, inviting Arya Gledek for a 'welcome' while preparing a booby-trapped bridge and hidden forces. Arya Gledek, overconfident, falls into the ambush, leading to his defeat and execution. Meanwhile, Aryo Blater, son of a defeated ruler, flees with loyal soldiers, facing thirst and betrayal from villagers. Through prayer and his magical power, Aryo Blater makes a deep well's water rise, revitalizing his men and regaining villagers' loyalty, though he later learns of his sister's tragic suicide.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story reflects traditional Javanese political structures, warfare, and spiritual beliefs, including the concept of 'kesaktian' (supernatural power/potency) associated with leaders.
Plot Beats (14)
- Arya Gledek and Abdurrasid suddenly attack and conquer Puger, forcing Patih Reksonegoro to surrender.
- Patih Reksonegoro secretly writes to Ki Kertonegoro of Bondowoso, informing him of the invasion and Arya Gledek's imminent attack on Bondowoso.
- Ki Kertonegoro receives the letter, becomes enraged, and gathers his troops to prepare for battle, planning a strategic ambush.
- Arya Gledek sends an envoy to Bondowoso, announcing his arrival and intention to pass through on his way to Besuki, expecting a welcome.
- Ki Kertonegoro sends a deceptive reply, inviting Arya Gledek for a grand welcome, while secretly preparing a booby-trapped bridge and hidden forces.
- Arya Gledek, overconfident and believing Ki Kertonegoro has surrendered, leads his forces across the booby-trapped bridge.
- The bridge collapses, trapping Arya Gledek's forces, who are then ambushed and defeated by Ki Kertonegoro's hidden army.
- Arya Gledek and Abdurrasid are captured and subsequently executed, ending the rebellion.
- Aryo Blater, son of the defeated Adipati Kotablater, flees with his remaining loyal soldiers, suffering from thirst and hunger.
- Villagers, fearing the new rulers of Puger, refuse to help Aryo Blater and his men, showing their changed loyalty.
- Aryo Blater, desperate, finds a deep, unused well but lacks a bucket.
- Aryo Blater prays and uses his magical powers to make the well water rise to the surface, quenching his men's thirst.
- Witnessing this, the villagers who had previously refused help are impressed and reaffirm their loyalty to Aryo Blater.
- Aryo Blater continues his journey, but learns that his sister, Purbasari, committed suicide to avoid capture by Puger's forces.
Characters
Arya Gledek
None explicitly mentioned, but implied to be a strong leader of robbers.
Attire: Implied to be typical attire for a leader of robbers or a warrior of the era.
Ruthless, ambitious, overconfident, cunning.
Patih Reksonegoro
None explicitly mentioned.
Attire: Traditional attire for a Patih (regent) of the era, likely formal and indicative of his status.
Cautious, strategic, resourceful, initially fearful but quick-thinking.
Abdurrasid
None explicitly mentioned.
Attire: Implied to be warrior attire as a panglima perang (commander).
Loyal to Arya Gledek, a military leader.
Ki Kertonegoro
None explicitly mentioned, but his face turns 'red with anger'.
Attire: Traditional attire for a Patih (regent) of the era, likely formal and indicative of his status.
Brave, strategic, intelligent, easily angered but composed.
Aryo Blater
None explicitly mentioned, but capable of performing a magical feat.
Attire: Implied to be the attire of a Raden (prince) or noble, possibly travel-worn.
Resilient, determined, compassionate, spiritual, possesses magical abilities.
Purbasari
None explicitly mentioned.
Attire: Implied to be the attire of a princess or noblewoman.
Loyal, desperate, self-sacrificing.
Locations
Alun-alun Puger (Puger Town Square)
The town square of Puger, currently controlled by rebels.
Mood: tense, conquered, celebratory (for rebels)
Arya Gledek's rebels take control and force the villagers to celebrate their victory.
Pendopo (Patih Puger's Hall)
The main hall of Patih Puger's residence, currently surrounded by rebels.
Mood: tense, besieged, uncertain
Patih Puger is cornered and forced to pretend to surrender to Arya Gledek's forces.
Perbatasan Desa Sumberpandan (Sumberpandan Village Border)
The border area of Sumberpandan village, where Ki Kertonegoro's troops set up camp for the night.
Mood: anticipatory, strategic, resting
Ki Kertonegoro's army halts their march to rest before confronting Arya Gledek.
Pinggir Desa Sumberrejo (Outskirts of Sumberrejo Village)
The edge of Sumberrejo village, where Aryo Blater and his remaining soldiers rest under a tamarind tree.
Mood: desperate, weary, hopeful (for water)
Aryo Blater and his men, exhausted and thirsty, seek refuge and water after being rejected by the villagers.
Sumur Gumuling (The Rolling Well)
An old, neglected well near the furthest house in Sumberrejo village, almost covered by tall bushes, with no bucket.
Mood: miraculous, hopeful, sacred
Aryo Blater uses his magic to make the well water rise to the surface, providing relief and hope to his men and earning the villagers' respect.