Prabu Angling Darma
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Prabu Angling Darma
ahulu kala ada sebuah kerajaan yang subur dan makmur, yaitu kerajaan Malawapati.
Rakyatnya hidup sejahtera berkat rajanya yang bijaksana, yaitu Prabu Angling Darma
Selain bijaksana, Prabu Angling Darma juga dikenal sangat sakti dan gagah perkasa.
Beliau memiliki seorang patih beynama Raden Batik Madrim. Kesaktian dan kegagahannya
hampir menyamai Prabu Angling Darma. Tidak sedikit orang yang datang dari negara atau
daerah lain untuk mengembara dan berdagang di Malawapati.
Suatu ketika Prabu Angling Darma sedang dalam perjalanan pulang dari pertapaannya.
Tiba-tiba terihat olehnya seekor ular naga yang sedang berkasih-kasihan dengan seekor ular
tampar. Sang Prabu mengetahui bahwa ular naga betina tersebut adalah istri sahabatnya, yaitu
Naga Pertala. Ular tampar yang kurang ajar dan berani berbuat demikian terhadap istri
sahabatnya hendak dibunuhnya. Dibidiknya ular tampar itu oleh Angling Darma, tetapi
malang panahnya justru mengenai Naga Gini, ular naga istri sahabatnya. Naga Gini
mengancam akan mengadukan kejadian tersebut kepada suaminya, yaitu Naga Pertala.
Angling Darma tidak gentar sedikit pun terhadap ancaman itu. Setelah Naga Gini pergi,
Angling Darma meneruskan perjalanannya.
Dalam perjalanannya, Prabu Angling Darma dicegat oleh raksasa yang sangat buas.
Tiba-tiba raksasa itu langsung menyerang dan menerkam Prabu Angling Darma, tetapi
Angling Darma dapat mengelak sehingga raksasa itu jatuh tersungkur. Dalam satu
kesempatan, Prabu Angling Darma berhasil menangkap raksasa itu dan kemudian
membantingnya ke tanah. Kepala si raksasa terkena batu karang sehingga tewas seketika.
Prabu Angling Darma pun melanjutkan kembali perjalanannya.
Setelah berhari-hari berjalan, Prabu Angling Darma tiba kembali di negaranya, kerajaan
Malawapati. Di depan istana, beliau disambut oleh Patih Batik Madrim. Diceritakanlah
kepada Batik Madrim semua peristiwa yang dialaminya, termasuk dengan Naga Gini.
"Patih, aku baru saja membuat kesalahan. Bermaksud mau menolong sahabat malah
"Ada apa gerangan Gusti Prabu, tampaknya gelisah?”
"Aku tadi melihat seekor naga sedang berkasih-kasihan dengan seekor ular tampar. Aku
tahu ular naga itu adalah istri sahabatku sendiri, Naga Partala. Aku tidak terima maka aku
bidik ular tampar itu. Tetapi sayang bidikanku kurang tepat, anak panah justru mengenai
Naga Gini, Dia marah dan mengancam akan mengadukan kejadian itu kepada suaminya.”
"Lalu apa yang harus saya lakukan Gusti Prabu?”
”Aku merasa akan ada kesalahpahaman. Oleh karena itu perintahkan seluruh prajurit
Untuk berjaga-j: ika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Perintahkan mereka untuk menjaga
tempat-tempat yang penting di dalam istana kerajaan.”
"Perintah Gusti Prabu akan segera saya laksanakan.”
Setelah mendapat perintah langsung dari Prabu Angling Darma, Patih Batik Madrim
segera keluar istana. Dalam waktu yang singkat patih sudah memerintahkan prajuritnya agar
167
menjaga semua tempat penting di dalam keraton. Patih turun langsung dalam upaya
penjagaan tersebut.
Malam harinya ketika berkeliling untuk mengecek prajuritnya yang sedang bertugas,
Patih Batik mendapati kenyataan banyak prajuritnya yang tertidur. Dia menduga mereka
terkena pengaruh aji sirep. Tiba-tiba salah seorang pengawal berlari-lari menghadap Batik
Madrim dan melaporkan adanya kekisruhan di dalam istana. Tanpa pikir panjang, Patih Batik
Madrim langsung menghadap Prabu Angling Darma dan melaporkan kejadian yang ada di
lapangan. Sang Prabu rupanya sudah menduga hal ini akan terjadi sehingga segera
memerintahkan Patih Batik untuk mengatasi keadaan dan mengusir para penyusup.
Istana Malawapati ternyata sedang diserang oleh pasukan bala tentara raksasa. Prabu
Angling Darma berkeyakinan musuh yang datang itu bukanlah Naga Pertala karena dia tidak
mempunyai bala tentara raksasa. Rakyat Malawapati lari ketakutan karena negaranya diserbu
oleh prajurit-prajurit raksasa. Dengan ganasnya prajurit raksasa terus membunuh dan
membakar rumah rakyat Malawapati. Dengan bersenjatakan tombak, pedang, gada, dan
tamsir, prajurit-prajurit Malawapati berusaha melawan serbuar'Bala tentara raksasa tersebut.
Dalam kecamuk peperangan tiba-tiba muncul seorang perempuan yang berparas elok
diiringi oleh Jebih kurang empat puluh orang emban menemui Batik Madrim. Putri elok itu
mengatakan hendak menyerahkan diri kepada Prabu Angling Darma. Patih Batik Madrim
curiga bahwa perempuan cantik itu hanya penjelmaan. Dia menduga putri cantik itu adalah
Naga Pertala yang sedang menyamar. Dengan cerdik Patih Batik mengatakan bahwa dia
sendirilah Prabu Angling Darma dan memerintahkan putri tersebut untuk berlutut.
Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba hilanglah perempuan elok tersebut dan muncullah
sosok sebenarnya yaitu seorang raksasa yang bernama Kala Werdati. Kala Werdati adalah
raja di negara Baka, keturunannya Kala Srenggi yang dulu dibunuh oleh Arjuna, nenek
moyang Prabu Angling Darma. Sekarang Kala Werdati datang untuk membalas dendam.
Dalam pertempuran itu, Batik Madrim bukanlah tandingan raksasa-raksasa itu. Dengan
berani Batik Madrim menyerbu dan menerjang bala tentara raksasa itu sehingga banyak yang
tewas terkena terjangan Batik Madrim. Kala Werdati sangat marah melihat tentaranya
diamuk oleh Batik Madrim. Dengan sigap dia maju dan menantang Patih Batik Madrim.
Mereka bertarung habis-habisan, saling menendang dan memukul. Tetapi, Kala Werdati
rupanya juga bukan tandingan Patih Batik. Hanya dalam waktu singkat Kala Werdati berhasil
dibunuh oleh Patih Batik Madrim. Melihat pemimpinnya tewas, kekuatan raksasa-raksasa itu
semakin lemah sehingga dalam waktu sekejap seluruh pasukan raksasa tersebut berhasil
dibunuh.
Di tempat lain, di dalam sebuah gua, Naga Gini menceritakan semua kejadian yang
dialami saat terkena panah Prabu Angling Darma. Tentu dia tidak mau menceritakan kejadian
perselingkuhannya dengan ular tampar. Tujuannya adalah untuk menghasut suaminya agar
mau menyerang Angling Darma. Naga Gini mengatakan bahwa Prabu Angling Darma
hendak membunuhnya. Termakan oleh hasutan Naga Gini, Naga Pertala menjadi sangat
gusar dan berniat membalaskan sakit hati istrinya. Tanpa banyak bicara, Naga Pertala keluar
dari keratonnya terbang di atas lautan diiringi suaranya yang menakutkan menuju negara
Malawapati.
Pada waktu itu di istana Malawapati, permaisuri Angling Darma, Dewi Hambarwati,
bertanya kepada Prabu Angling Darma.
”Apa yang sedang Gusti pikirkan? Mengapa Gusti Prabu tampak muram?”
168
"Aku gelisah karena telah melakukan kesalahan yang tidak kusengaja. Aku khawatir
timbul kesalahpahaman.”
"Kalau boleh tahu, kesalahan apa gerangan yang telah Gusti lakukan?”
”Aku memergoki Naga Gini sedang berselingkuh dengan ular tampar. Karena Naga
Gini adalah istri sahabatku, aku tidak terima. Aku bidik ular tampar tapi celakanya yang
terkena panahku adalah Naga Gini.”
“Sudahlah Gusti tidak apa-apa. Gusti tidak sengaja dan tidak berniat untuk melukai Naga
Gini.
Pada saat percakapan itu berlangsung, Angling Darma dan permaisuri tidak menyadari
bahwa Naga Pertala sudah ada di belakang mereka. Naga Pertala mendengar semua isi
percakapan antara Prabu Angling Darma dan permaisurinya. Seketika itu dia keluar dari
persembunyiannya. Dia gembira karena urung melakukan kesalahan besar yaitu membunuh
sahabatnya sendiri yang tidak bersalah. Sebagai permohonan maafnya, dia mengajak Prabu
Angling Darma ke suatu tempat dan mengajarkan ilmu Nabi Sulaiman yaitu mengerti dan
mendengar bahasa semua makhluk yang ada di jagad raya. Setelah berhasil menguasai ilmu
Nabi Sulaiman, Naga Pertala mengembalikan Angling Darma ke Malawapati.
Sejak saat itu Prabu Angling Darma bisa mengerti bahasa binatang apa pun yang dia
dengar. Pada suatu malam saat sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Hambarwati, tiba-tiba
sang Prabu tertawa terpingkal-pingkal. Awalnya permaisuri merasa tersinggung tetapi setelah
dijelaskan bahwa prabu tertawa setelah mendengar percakapan dua ekor cicak di dalam
kamar, permaisuri bisa memahami. Bahkan akhirnya permaisuri minta diajari ilmu Nabi
Sulaiman itu. Tetapi permintaan istrinya dia tolak tanpa memberikan alasan yang jelas
sehingga Dewi Hambarwati merasa kesal dan marah.
Merasa kesal atas penolakan itu dan menganggap suaminya lebih mencintai Naga
Pertala daripada dirinya, ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup sehingga berniat
bunuh diri dengan cara bakar diri. Mengetahui niat buruk permaisurinya, Angling Darma
berusaha sekuat tenaga membujuk agar membatalkan niatnya, namun gagal, Karena cintanya
kepada Dewi Hambarwati, baginda Angling Darma tidak rela istrinya pergi sendiri sehingga
dia pun akan ikut bakar diri.
Meski sudah dicegah oleh Batik Madrim, Baginda Prabu Angling Darma dan permaisuri
tetap bertahan dengan keputusannya untuk melakukan bakar diri. Seluruh penghuni dan
prajurit di istana merasa kecewa dengan keputusan itu namun mereka tidak bisa berbuat
banyak. Akhirnya baginda memerintahkan Patih Batik Madrim untuk menyiapkan kayu-kayu
bakar dari hutan dan perintah untuk mengumpulkan kayu bakar itu diteruskan kepada
prajurit-prajurit istana. Maka berangkatlah sepasukan prajurit untuk mengumpulkan kayu
bakar di hutan.
Lalu Batik Madrim memberitahukan bahwa kayu bakar serta panggungnya telah selesai
dikerjakannya di alun-alun dan siap untuk digunakan. Dengan hati cemas baginda dan
permaisurinya berangkat menuju alun-alun untuk naik ke atas panggung. Kemudian
tumpukan kayu bakar yang telah disediakan di muka panggung itu dibakarnya. Seluruh rakyat
Malawapati menyaksikannya dengan penuh rasa khawatir. Dewi Hambarwati bersama-sama
Sri Baginda bersiap melompat ke dalamnya sambil menunggu apinya membesar.
Tanpa diduga dari bawah panggung tiba-tiba muncul sepasang kambing. Karena
Baginda Prabu memuliki ilmu Nabi Sulaiman, Baginda tahu apa yang sedang kambing-
kambing bicarakan. Ternyata mereka juga sepasang suami istri dan si kambing betina juga
169
berniat melakukan upaya bakar diri. Itu dilakukan karena permintaan si kambing betina untuk
mendapat janur pajangan panggung tidak dikabulkan oleh si kambing jantan. Hanya saja
kambing jantan tidak berniat untuk ikut bakar diri seperti baginda Angling Darma yang akan
ikut bakar diri bersama permaisurinya. Sejurus kemudian kambing betina melompat ke dalam
kobaran api tanpa bisa dicegah. Sejatinya kedua kambing tersebut adalah penjelmaan dewa
yang hendak menyadarkan Prabu Angling Darma.
Setelah melihat dan mendengar peristiwa itu Prabu Angling Darma mulai berpikir,
“seekor binatang berkaki empat saja memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi serta tidak
larut dalam kesedihan, mengapa aku yang punya otak dan dihormati rakyat Malawapati
malah tidak bisa berpikir panjang dan tidak punya cita-cita,” pikimya dalam hati. Maka
setelah menyadari kesalahannya Prabu melepaskan pelukan Dewi Hambarwati. Dengan cepat
Dewi Hambarwati melompat terjun ke dalam kobaran api yang sedang menyala sehingga
meninggal seketika itu juga. Setelah melihat permaisuri meninggal, baginda pun tak urung
menyesali perbuatan istrinya. Dia bersumpah tidak akan mencari istri lagi setelah ditinggal
mati Dewi Hambarwati.
Alkisah maka tersebutlah di kahyangan bidadari Dewi Uma dan Dewi Ratih beserta
empat puluh bidadari yang lainnya sedang berunding. Kemudian Dewi Ratih segera
melayang di angkasa turun ke dunia hendak menggoda keteguhan Prabu Angling Darma
yang bersumpah tidak akan menikah lagi jika tidak dengan Dewi Hambarwati,
Selama tujuh hari tujuh malam Baginda Angling Darma tinggal di atas panggung lupa
makan dan lupa tidur. Akhirnya Dewi Ratih tiba dan berdiri di belakang Prabu Angling
Darma. Alangkah terkejutnya baginda ketika melihat ada seorang perempuan cantik yang
wajahnya sangat mirip dengan Dewi Hambarwati. Prabu Angling Darma hendak
memeluknya dan kemudian berniat untuk memperistrinya. Tetapi, kemudian Dewi Ratih tiba-
tiba lenyap disusul munculnya suara yang mengutuk Angling Darma yang tidak bisa
memegang sumpahnya sendiri. Beliau dikutuk oleh para dewa selama delapan tahun akan
hidup terlunta-lunta,
Menyadari apa yang baru saja terjadi, Prabu Angling Darma terkejut. Dia sangat sedih
ketika mendengar kutukan Dewi Ratih. Kesedihannya semakin bertambah saat tiba-tiba jalan
menuju istana berubah menjadi hutan belukar. Dengan hati sedih baginda pergi meninggalkan
tempat itu. Dalam hatinya baginda bermaksud hendak mencari jalan kematian, Baginda terus
saja berjalan tanpa arah dan tujuan.
Setelah beberapa minggu berjalan akhirnya baginda tiba di sebuah negeri asing.
Ternyata negeri itu sangat besar serta keadaan rumahnya bagus-bagus. Baginda merasa heran
karena negeri yang besar itu tidak berpenduduk. Tiba-tiba dari arah belakang baginda
mendengar ada sesuatu yang jatuh. Tatkala dilihat oleh baginda tampaklah seorang nenek
keluar dari sebuah rumah. Ketika diawasi benar-benar nyatalah bahwa nenek itu matanya
buta, telinganya tuli, dan mulutnya bisu. Prabu Angling Darma merasa iba pada nenek itu.
Lalu baginda membaca doa dan memohon kepada dewa agar si nenek itu disembuhkan dari
semua cacatnya. Sungguh ajaib, si nenek tiba-tiba sembuh. Kemudian Prabu Angling Darma
diberitahu si nenek bahwa negerinya itu bernama Malaya Kusumah. Dahulunya sangat ramai,
tetapi belakangan sepi karena diserang dan dirampok oleh tentara raksasa dari negara Baka,
yaitu Kala Werdati.
Prabu Angling Darma tiba di istana Malaya Kusuma. Di pintu gerbang istana Prabu
Angling Darma disambut dengan serangan tombak oleh seorang penjaga raksasa. Karena
serangan-serangannya selalu dapat dielakkan raksasa menjadi marah dan lebih ganas. Tetapi
penjaga itu rupanya bukan tandingan Prabu Angling Darma. Dengan tidak membuang tempo
lagi raksasa dipukul dengan dahsyatnya sehingga tewas seketika.
Prabu Angling Darma masuk ke dalam istana. Tiba-tiba muncul tiga orang raksasa dari
dalam istana. Perkelahian tidak terhindarkan. Angling Darma melontarkan pukulan bertubi-
tubi ke arah tiga raksasa itu. Pukulan Angling Darma bagaikan petir yang menyambar dengan
dahsyatnya sehingga ketiga raksasa itu menemui ajalnya. .
Seorang putri Dewi Widati ketika itu melihat Angling Darma. "Siapa gerangan satria
yang tampan dan gagah itu? Dari mana dan apa maksudnya dia datang ke sini?” gumam
Dewi Widati yang sangat terperanjat melihat penjaganya sudah mati semua,
Tatkala mengetahui bahwa satria itu adalah Prabu Angling Darma, Dewi Widati
menyerangnya untuk membalas dendam karena ayahnya dibunuh Angling Darma. Tatkala
Dewi Widati hampir habis tenaganya datanglah dua orang saudaranya yaitu Dewi Widata dan
Dewi Witarsih hendak menolongnya. Walau demikian, ketiga putri cantik itu bukan
tandingan Prabu Angling Darma, bahkan dia tidak melawan saat diserang oleh ketiganya.
Karena letih menyerang dan sadar bahwa tidak mungkin melawan Prabu Angling
Darma, mereka berhenti menyerang. Bahkan, terlihat ada perubahan besar. Mereka justru
tertarik pada ketampanan dan kesaktian Baginda Angling Darma. Alih-alih memukul, mereka
justru berusaha memeluknya, Semenjak kejadian itu, mereka bertiga menjadi istri Prabu
Angling Darma.
Pada suatu pagi, ketiga permaisuri Angling Darma sudah tidak ada dalam istana. Setelah
dicari-cari tidak berhasil diketemukan, beliau mengucapkan azimatnya dan tidak lama
kemudian beliau berubah menjadi seekor burung gagak putih. Gagak putih tersebut terbang
mencari istri-istrinya di sekeliling istana. Di sebuah hutan belukar, gagak putih melihat asap
mengepul dan banyak sekali burung gagak hitam berada di situ. Kemudian dia mendekati
tempat itu. Alangkah terkejutnya gagak putih ketika melihat istri-istrinya sedang makan
daging manusia. Saat diberi jantung, gagak putih menerima pemberian itu tapi tidak langsung
dimakan. Jantung itu dibawa pulang ke istana dan kemudian dimasukkan ke dalam kotak
kapur istri-istrinya. Lekas gagak putih menjelma kembali menjadi Angling Darma dan
kembali ke kamar pura-pura masih tidur.
Tidak lama kemudian, ketiga permaisurinya itu datang. Mereka menuju ke kamar hias
masing-masing untuk berdandan. Mereka keheranan melihat sebuah jantung manusia di
dalam kotak kapur mereka, Untuk mengetahui siapa yang menaruhnya di situ mereka bertiga
pergi ke tempat yang agak sunyi untuk membicarakannya. Akhirnya mereka bertiga
sependapat bahwa yang melakukan itu tak lain adalah Angling Darma sendiri. Karena merasa
ketahuan mereka berniat untuk menenung dan mengubah Angling Darma.
Mereka pergi mencari daun pohon kamal. Setelah ketemu, dipetiknya dua lembar, Daun
yang satu ditulis surat rajah, sedang yang lainnya digambari. Kemudian mereka memuja dan
memohon kepada setan. Daun tersebut berusaha ditancapkan ke kepala Angling Darma yang
berpura-pura tidur. Mereka pun berhasil menancapkan daun tersebut ke kepala Angling
Darma. Saat Angling Darma berusaha mencabutnya, daun-daun itu malah menancap kian
dalam. Tidak lama kemudian Angling Darma berubah menjadi seekor belibis putih. Namun
demikian, dia tidak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya,
Sesampainya di luar, dia terbang ke angkasa dan hinggap di tepi sebuah kolam di mana
dia bisa bercermin. Dia sangat terperanjat ketika melihat dirinya di air kolam. Kini dia baru
tahu kalau sekarang dirinya berubah menjadi seekor belibis putih berjambul. Dengan
perasaan hancur, belibis putih itu terbang tak tentu arah. Melihat hal tersebut, ketiga
permaisuri itu sangat menyesal. Prabu Angling Darma sang raja Malawapati menjelma
menjadi seekor belibis putih dan kesengsaraan sang baginda terus berlangsung selama
delapan tahun.
Tersebutlah seorang anak yang bernama Jaka sedang menggembala kerbau, Belibis
putih melihat melihat anak itu dan kemudian mendekatinya. Jaka pun melihat belibis putih
dan berusaha menangkapnya. Maka, dipasanglah sebuah perangkap. Angling Darma masuk
karena Jaka mirip rupanya dengan pelayannya. Pada waktu itu Jaka dan pamannya sangat
terkejut mendengar Belibis Putih dapat berbicara yang mengatakan agar jangan dimasukkan
dalam sangkar. Maka dilepaskanlah kembali Belibis Putih dan mulai saat itu Belibis Putih
tinggal bersama Jaka.
Tersebutlah dua ekor burung gagak. Yang jantan mengatakan bahwa di bawah pohon itu
terdapat emas dan permata. Belibis putih yang kebetulan berada di dekatnya mendengar
percakapan itu maka diberitahukanlah kepada Jaka. Kemudian Jaka dan pamannya menggali
tanah di bawah pohon yang ditunjukkan oleh Belibis Putih. Benar apa yang ditunjukkan
Belibis Putih. Mereka menjadi kaya, punya banyak emas, rumah besar, sawah ladang, dan
kerbau.
Empat tahun telah lewat, selama itu pula Belibis Putih masih mengalami kehidupan yang
pahit getir. Pada suatu malam Belibis Putih bermimpi bertemu dengan dewa. Dijelaskan
keadaannya memang sebuah kutukan dari dewa, tetapi dia diminta tidak usah khawatir. Suatu
saat kelak Angling Darma akan bertemu kembali dengan Dewi Hambarwati yang sukmanya
telah masuk ke dalam badan Dewi Retno Srenggono, putri raja Bojonegoro.
Di sebuah desa bernama Wonosari, seorang perempuan bernama Nyi Bermani sedang
hamil tiga bulan. Ia ingin makan anak tawon yang sedang bermadu, maka dicarikanlah oleh
suaminya. Ketika itu hari sudah gelap. Konon di sebuah pohon beringin tinggal genderuwo
yang jahat. la tahu keadaan Nyi Bermani yang sedang hamil, maka timbullah pikiran
jahatnya. Genderuwo itu menjelma menjadi Bermana palsu. Ia tahu Bermana asli sedang
pergi mencari anak tawon. Dengan membawa bumbung berisi madu dan beberapa rumah
tawon, ia datang kepada Nyi Bermani yang menyambutnya dengan riang.
Akan tetapi baru saja pintu ditutup Nyi Bermani dengar orang mengetuk pintu. Setelah
pintu dibuka, Nyi Bermani terkejut bukan kepalang karena suaminya ada dua. Ia bingung
mana suaminya yang asli, dua-duanya sama. Akhirnya dua orang Bermana itu bertempur.
Siapa yang menang berhak memiliki Nyi Bermani. Dengan bengis Bermana asli
menerjangnya dan terjadilah perkelahian yang sengit. Karena sama-sama sakti maka tidak ada
yang kalah atau menang. Maka oleh Nyi Bermani mereka dipisah dan akan diajukan pada
raja untuk minta keputusan. Maka keesokan barinya mereka bersama-sama menghadap
baginda. Diceritakan semuanya apa yang telah terjadi, tetapi baginda tidak dapat
memutuskannya.
Belibis Putih mengetahui peristiwa tersebut. Kepada Paman Jaka ia memberitahukan
bagaimana cara memutuskan perkara ini. Kemudian ia menyuruhnya untuk menghadap
Baginda.
Esok harinya Paman Jaka menghadap baginda untuk menjadi hakim. Dengan gembira
'baginda mengizinkannya. Paman Jaka mengatakan siapa yang mampu masuk ke dalam kendi
maka dialah Bermana yang asli. Sudah tentu Bermana asli berkeberatan sedangkan Bermana
172
yang palsu tidak. Sesaat kemudian tiba-tiba Bermana palsu merubah diri menjadi asap dan
terus masuk ke dalam kendi. Secepat kilat kendi ditutup dengan sebuah benda oleh Paman
Jaka dan dia mengatakan pada Baginda bahwa yang bisa masuk ke dalam kendi itu
sebenamyalah yang palsu karena mustahil bagi manusia dapat mengubah sifatnya. Baginda
berterima kasih kepada Paman Jaka dan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya baginda
mengangkat Paman Jaka menjadi patih ke-11 dengan gelar Patih Jaksanegara. Sebagai tanda
terima kasih, Bermana dan istrinya menyembah Patih Jaksanegara.
Pada suatu hari Belibis Putih bertanya kepada Jaka apa dia selama itu pernah melihat
putri yang tercantik di kota. Dijawabnya pernah yaitu pada waktu Jaka mengantarkan bibi
Demang ke keputrian. Maka keesokan harinya Belibis Putih terbang menuju ke keraton
Bojonegoro yang pada waktu itu diperintah oleh Prabu Darmowisesa. Baginda Raja
mempunyai anak tunggal yaitu Dewi Srengganawati. Dia seorang putri yang sangat cantik
dan tinggal di sebuah keputren yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang sangat indah.
Kemudian Belibis Putih turun dan hinggap di sebuah pohon cemara yang
memungkinkan dia melihat Dewi Srengganawati. Ketika itu sang dewi sedang berjalan-jalan
dengan para embannya. Di bawah pohon cempaka sang putri beristirahat dan duduk di sebuah
bangku. Dari atas pohon ia melihat betapa cantik putri itu, ia merasa kagum dan tertarik
padanya karena serupa benar dengan istrinya almarhum.
Lalu Belibis Putih membaca mantera pengasihan, kemudian memetik sekuntum bunga
cempaka dan dilemparkannya di atas pangkuan sang dewi. Karena putri tetap tidak melihat ke
atas, maka belibis putih hendak menjatuhkan bunga lagi. Kali ini berhasil, sang putri melihat
ke atas dan dilihatnya seekor belibis putih sedang bertengger di atas pohon. Putri lalu
memerintahkan para emban untuk menangkapnya hidup-hidup. Karena emban bilang kalau
berhasil akan dipotong dagingnya, maka Belibis Putih menjawab dan mempersilakan untuk
menangkapnya, Mendengar Belibis Putih bisa bicara maka putri dan semua embannya
menjadi sangat heran. Pada kesempatan itu Belibis Putih segera terbang kembali pulang. Sang
Putri menangis menyesali kepergian Belibis Putih.
Segera sang Putri melaporkan kejadian itu kepada ayahandanya di keraton dan menangis
ingin ditangkapkan Belibis Putih itu untuk dijadikan kawannya sehari-hari. Patih Jaksanegara
ditugasi raja untuk menangkap burung tersebut. Dalam tugas itu Patih Jaksanegara bingung
dan sedih. la memutuskan esok harinya pergi ke Wonosari menemui Jaka.
Esok harinya Patih Jaksanegara pergi ke Desa Wanasari ke rumah Jaka. Ia
mengutarakan maksud kedatangannya kepada patih. Alangkah cemas hati Jaka
mendengarnya sehingga diputuskan bahwa mereka akan pergi ke tempat lain karena enggan
melepaskan Belibis Putih yang telah banyak berjasa itu.
Setelah di istana baginda menerima penyerahan Belibis Putih itu, dia merasa amat
girang. Baginda raja menanyai Belibis Putih asal mulanya dapat bicara. Dijawab oleh Belibis
Putih bahwa ia adalah piaraan Prabu Angling Darma, Raja Malawapati yang kini sedang
dicari di mana-mana setelah beliau meninggalkan kerajaannya. Kepergian Baginda Angling
Darma itu karena ditinggal mati istrinya yang dia cintai.
Dewi Srengganawati datang menghadap ayahandanya untuk menerima Belibis Putih
yang kemudian dibawa ke keputrian untuk dipelihara sebaik-baiknya. Pada suatu malam
Belibis Putih yang duduk di atas pangkuan Dewi Srengganawati dan diikuti oleh para emban
ingin berteka-teki. Apabila sang Dewi dapat menebaknya, Belibis Putih berjanji akan berbakti
dan setia kepadanya.
173
Pada suatu hari Belibis Putih akan dimandikan di taman agar bulunya menjadi semakin
bagus, Niat tadi disetujui oleh Belibis Putih. Mereka berdua pergi ke taman pemandian,
sedangkan para bujangan menunggu di luar. Atas permintaan Belibis Putih, pertama-tama
dicabutlah jambul belibis dan seketika itu juga Belibis Putih berubah menjadi seorang ksatria
yang cakap dan gagah. Dewi Retna sangat terperanjat dengan kejadian yang tak disangka-
sangka itu dan dikiranya semula adalah setan atau iblis. Maka oleh Angling Darma sekalipun
singkat diceritakanlah kisah masa lalunya pada sang Dewi. Maka sehabis mandi putri
mengajak Baginda Angling Darma menghadap pada ayahandanya di keraton tetapi menurut
dia masih belum waktunya. Biarlah kalau siang hari dia menjadi belibis putih dan kalau
malam saja dia menjadi manusia kembali.
Keadaan seperti ini berlangsung beberapa waktu lamanya, Pada suatu ketika di keraton,
Prabu Darmowisesa sedang asyik bercakap-cakap dengan permaisurinya. Beliau merasakan,
Dewi Srengganawati sudah agak lama tidak datang menghadap. Beliau khawatir akan
kesehatannya. Maka istrinya diminta'untuk mendatangi istana keputren.
Sang Dewi sedang bermain-main dengan Belibis Putih saat ibunya datang berkunjung.
Ibunya menanyakan kesehatan putrinya karena dia melihat putrinya agak pucat. Betapa
terkejutnya dia saat mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung. Dia tidak mau bercerita
siapa yang menjalin hubungan rahasia dengannya meskipun ibundanya terus mendesak.
Meskipun malu pada ibundanya, dia tetap bungkam. Dengan perasaan hancur permaisuri
meninggalkannya dan menceritakan hal itu kepada baginda. Baginda sangat murka
mendengar berita yang sangat memalukan itu.
Segera setelah mendengar berita tersebut Baginda Raja mengumpulkan semua emban
dan bujang di pendapa istana. Mereka ditanya satu per satu siapa lelaki yang sering masuk ke
keputren. Bahkan baginda berjanji akan memberi hadiah jika ada yang dapat menunjukkan
siapa laki-laki itu. Tetapi, jika ketahuan ada di antara mereka yang sengaja menyembunyikan
laki-laki itu maka hukumannya adalah penggal leher. Tetapi sekalipun ada hadiah dan
ancaman yang cukup menakutkan tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkan atau
melihat lelaki masuk keputren. Mereka disuruh pulang kembali dan baginda merasa bingung
dan kesal hatinya. Selanjutnya prajurit-prajurit dikumpulkan di pendapa. Dijelaskan pada
mereka bahwa keputren telah disusupi seorang laki-laki tanpa diketahui oleh para penjaga.
Maka Baginda memerintahkan untuk menjaga istana dengan ketat.
Siang malam setelah kejadian itu, sekeliling taman sari dan keputren dijaga ketat oleh
prajurit-prajurit pilihan. Sementara itu di keputren, Dewi Ratna seperti biasanya sedang
berkasih-kasihan dengan Baginda Angling Darma. Baginda ingin menggunakan aji sirepnya.
Prajurit-prajurit yang terkena aji sirep itu tidak ada yang tahan sehingga semuanya tertidur
dengan nyenyaknya. Kemudian Angling Darma memulas muka mereka dan ada juga yang
dicukur rambutnya. Keesokan harinya saat mereka bangun mereka sungguh terkejut
bercampur heran setelah mendapati adanya perubahan di wajah dan rambut mereka. Mereka
tidak tahu siapa yang telah berbuat demikian.
Baginda sangat marah ketika diberi laporan tentang kejadian itu dan berkesimpulan
bahwa penjagaan kurang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Prajurit dianggap teledor dan
tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, buktinya mereka diapa-apakan oleh seseorang
mereka tidak tahu. Oleh karena kejadian itu Baginda memerintahkan penjagaan besok
malamnya lebih diperkuat.
174
Seperti biasa, Angling Darma ingin menguji para prajurit penjaga dalam menjalankan
tugasnya. Kali ini Baginda Angling Darma ingin menakut-nakuti para prajurit. Dia
menciptakan awan hitam yang tebal, dengan suara guntur yang menggelegar. Mereka
menjadi ketakutan, panik, disangkanya ada musuh datang menyerang. Dalam keadaan gelap
gulita itu mereka bertempur dengan kawannya sendiri sehingga banyak menimbulkan korban
di kalangan prajurit sendiri. Setelah mengetahui banyaknya korban berjatuhan, Angling
Darma merasa menyesal karena dia bermaksud hanya ingin menguji para prajurit itu.
Batik Madrim telah meninggalkan negara Malawapati mencari rajanya, sedangkan
pemerintahan diserahkan kepada Raden Wijanarka. Beliau merantau ke beberapa negeri
tetapi tidak dapat menemukan di mana Baginda Angling Darma selama ini. Tersebutlah Patih
Batik Madrim suatu ketika tiba di sebuah hutan di wilayah negara Bojonegoro. Dengan tak
disangka-sangka Patih Batik Madrim berjumpa dengan Patih Jaksanegara dari Bojonegoro.
Diceritakan olehnya kejadian di Bojonegoro pada Batik Madrim dan akhirnya minta
pertolongan dia untuk menangkap "maling aguna”, Setelah dibicarakan tentang hadiahnya,
tawaran itu diterima Batik Madrim. Dan pada hari itu juga mereka terus berangkat ke
Bojonegoro.
Setiba di Bojonegoro mereka diterima dengan gembira oleh Baginda Darmawisesa.
Batik Madrim berpendapat terlebih dahulu harus diperiksa semua binatang piaraan yang ada
di keraton. Sebab diperkirakan si penjahat mempunyai kesaktian menjelma menjadi hewan.
setelah terbukti tidak ada Batik Madrim mohon diperkenankan memeriksa situasi dalam
keraton. Malam itu Batik Madrim menggunakan ilmu pengusutannya yang tinggi itu. Beliau
yakin bahwa malam itu orang yang dicari berada di keputren maka pengusutan ditangguhkan
sampai esok paginya.
Keesokan harinya Patih Jaksanegara memanggil putri untuk menghadap raja. Saat itu
Batik Madrim telah mengetahui bahwa orang yang dicari itu telah menjelma menjadi belibis
putih yang sedang dipelihara oleh putri. Maka Batik Madrim berusaha memintanya dari sang
putri. Belibis putih merasa heran kenapa Batik Madrim tidak mengenalinya padahal dia
sebenarnya adalah rajanya. Akhirnya belibis putih berbisik kepada sang putri supaya
diberikan saja sebab dia akan berpindah ke subang sang putri. Dan benar belibis putih
diserahkan kepada ayahandanya. Ketika diserahkan, belibis putih sudah tidak bernyawa lagi
karena Angling Darma sudah berpindah ke subang sang putri. Subang ini pun akhirnya juga
diminta dan Angling Darma berbisik kembali kepada sang putri supaya menyerahkan
subangnya sebab ia akan pindah ke kalung putri. Maka sang Dewi mengambil subangnya dan
menyerahkannya. Kalung juga akhirnya diminta dan Angling Darma pindah ke cincin putri.
Batik Madrim terus mengejarnya. Ketika cincin juga diminta maka berbisiklah Angling
Darma kepada sang putri supaya jangan diberikan. Tetapi jika cincin juga diminta supaya
dibanting di atas batu. Maka benar pada saat cincin diminta, cincin itu dibanting ke batu
seperti yang dibisikkan Angling Darma. Cincin itu lalu menghilang menjadi seekor katak.
Tetapi Batik Madrim tidak kalah saktinya, ia lalu mengubah dirinya menjadi seekor
burung dara. Katak diserang dan dipatuknya ternyata katak tak tahan. Lalu ia menggunakan
kesaktiannya dan menjadi seekor burung alap-alap. Dengan ganas sekali burung dara
dihantamnya. Tatkala burung alap-alap akan membinasakannya burung dara menghilang
untuk kemudian menjelma kembali menjadi seekor kucing hutan yang buas. Dengan
ganasnya burung alap-alap diserang. Karena diserang, burung alap-alap menjadi marah dan
kemudian menjelma menjadi macan putih. Kucing hutan menjadi kelabakan diserang
175
harimau putih maka ia mengubah dirinya menjadi seekor harimau besar dan kemudian
menyerang macan putih. Perkelahian tersebut demikian hebatnya sehingga tidak ada yany
kalah ataupun menang. Akhirnya Angling Darma menciptakan awan hitam yang sangat
panas tetapi Batik Madrim tidak kehilangan akal. Lalu ia menciptakan angin topan yang
sangat hebat. Dengan dahsyatnya, awan hitam yang menakutkan itu diserang oleh angin
topan sehingga menjadi berdntakan.
Angling Darma menjadi sangat marah karena ilmu kesaktiannya dapat dikalahkan.
Beliau lalu menciptakan api neraka yang sangat panas. Dengan suara gemuruh laksana guntur
api neraka menyerang Batik Madrim. Keadaan cuaca di sekitarnya menjadi panas. Rakyat
Bojonegoro menjadi kacau balau. Mereka lari ketakutan karena tidak tahan panasnya.
Kemudian Batik Madrim naik ke angkasa dan berkata meskipun yang dicarinya berubah
menjadi apa pun, dia tidak takut atau gentar. Angling Darma lalu menantangnya, Hai Batik
Madrim kalau kau benar-benar sakti marilah kita bertanding satu lawan satu di dalam api ini,
coba susullah saya.” Tetapi ternyata Batik Madrim tidak bisa masuk dalam api tersebut,
karena tidak kuat menahan panasnya. Ia mendengar tantangan ifp dan merasa mengenal suara
tersebut.
Prabu Darmowisesa dan Angling Kusuma, anak Angling Darma, sangat girang atas
kedatangan Angling Darma (palsu). Sebaliknya, Dewi Srengganawati mendapatkan firasat
yang tidak enak seolah-olah ia bukan suaminya. Maka tatkala Batik Madrim akan masuk,
ternyata pintunya ditutup. Diketuknya dan dipanggil berkali-kali tetapi Dewi Ratna tidak
bersedia membukanya. Beliau tahu itu bukan suaminya. Hanya dijawab bahwa sang dewi
masih bersemedi. Bisa bertemu, jika nanti ada seekor kambing dapat mengalahkan seekor
gajah tandanya sang dewi sudah habis bersuci. Maka patih disuruh Batik Madrim
mengumpulkan binatang-binatang buas dalam suatu kandang di alun-alun.
Sementara itu, merak putih yang tersesat jalannya akhirnya telah sampai juga di
Bojonegoro. Ia menjumpai istrinya yang kebetulan duduk di keputren. Dewi Ratna terkejut,
tetapi kemudian menubruk dan memeluk merak putih. Sang Dewi tidak dapat melupakan
Tidak lama kemudian dari atas pohon beringin merak putih melihat seekor kambing
sedang bertanding dengan seekor gajah yang diperbuat oleh Batik Madrim. Beribu-ribu
penonton bersorak-sorai tatkala gajah itu dapat dikalahkan oleh seekor kambing. Tiba-tiba
Batik Madrim melihat merak putih. Dengan gemas ia perintahkan tentaranya melepaskan
anak panahnya. Dalam sekejap mata merak putih tewas dan jatuh ke tanah. Tetapi
berbarengan dengan itu terbanglah seekor burung betet hijau menuju ke keputren dan segera
hinggap di atas pangkuan Dewi Srengganawati.
Setelah Baginda Angling Darma dikenali lagi oleh istrinya, beliau minta istrinya
membantu siasat selanjutnya. Tidak lama kemudian, datanglah Batik Madrim dengan badan
wadaknya sang Prabu Angling Darma sambil menuntun kambingnya yang telah
mengalahkan seekor gajah. Dituturkan kemudian bahwa sang dewi masih ingin melihat
apakah kambingnya itu dapat memanjat pohon cempaka. Segera sukma Batik Madrim keluar
dan pindah ke badan kambing lagi. Di saat itu pulalah sukma Angling Darma keluar dari
badannya burung betet. Sukma tersebut segera masuk ke badannya yang asli. Dengan girang
beliau dipeluk oleh Sang Dewi Retno Srengganawati.
Akan tetapi, tiba-tiba ia diserang kambing dengan buasnya. Angling Darma mengelak,
tanduk kambing dipegangnya dan kedua kaki depannya dimasukkan ke dalam tanah. Sudah
176
layak seandainya Batik Madrim dibunuh, tetapi Angling Darma mengampuninya. Batik
Madrim disuruh pergi mencari badan wadaknya sendiri, kemudian diperintah terus pulang ke
Malawapati, sedangkan Baginda Angling Darma akan menyusul. Dengan perasaan sedih
campur malu, Batik Madrim pergi untuk menjalankan perintah Prabu Angling Darma.
177
Story DNA
Moral
Even unintentional actions can have far-reaching consequences, and true wisdom involves understanding and empathy.
Plot Summary
Prabu Angling Darma, a wise king, accidentally injures Naga Gini, leading to a misunderstanding with her husband, Naga Pertala. After resolving this, Angling Darma gains the ability to understand animal language, but his wife dies when he reveals this secret. Cursed by giants, he transforms into various animals, losing his kingdom and identity. His loyal Patih Batik Madrim searches for him, leading to a magical shapeshifting confrontation where Angling Darma regains his human form and ultimately his throne.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story of Angling Darma is a prominent part of Javanese folklore and wayang kulit (shadow puppet) performances, often conveying moral and ethical lessons within a Hindu-Buddhist influenced cultural framework.
Plot Beats (13)
- Prabu Angling Darma, a wise king, accidentally injures Naga Gini, wife of his friend Naga Pertala, while trying to kill her lover.
- Naga Gini falsely accuses Angling Darma to her husband, Naga Pertala, who prepares for revenge.
- Malawapati is attacked by Kala Werdati, a giant seeking revenge for his ancestor's death, but is defeated by Patih Batik Madrim.
- Naga Pertala overhears Angling Darma's confession to his wife, realizes his mistake, and teaches Angling Darma the language of animals as an apology.
- Angling Darma's wife, Dewi Hambarwati, dies after he reveals his secret of understanding animal language, a secret he was forbidden to share.
- Angling Darma is cursed by two female giants, transformed into a white duck, and loses his kingdom.
- Angling Darma, as a white duck, travels to Bojonegoro and encounters his son and a false Angling Darma.
- Patih Batik Madrim, searching for his king, arrives in Bojonegoro and is tasked with finding a 'cunning thief' (Angling Darma in disguise).
- Batik Madrim identifies Angling Darma (as a white duck) and pursues him through a series of animal transformations.
- Angling Darma, in the form of a parrot, lands on his wife Dewi Srengganawati's lap, revealing his true identity.
- Batik Madrim, possessing the body of a goat, challenges a giant elephant, proving his loyalty to the false Angling Darma.
- Dewi Srengganawati tricks Batik Madrim into leaving the goat's body, allowing Angling Darma to reclaim his original form.
- Angling Darma confronts Batik Madrim, who is still in the goat's body, and forgives him, sending him back to Malawapati.
Characters
Prabu Angling Darma
Strong and powerful, capable of great feats of strength and magic.
Attire: Regal attire befitting a king, possibly with elements of a warrior.
Wise, powerful, just, prone to making mistakes but ultimately good-hearted.
Raden Batik Madrim
Nearly as powerful and strong as Prabu Angling Darma.
Attire: Attire of a patih (prime minister), possibly with warrior elements.
Loyal, brave, cunning, powerful, determined.
Naga Gini
A female naga (dragon/serpent).
Attire: None, as a naga.
Deceptive, vengeful, prone to infidelity.
Naga Pertala
A male naga (dragon/serpent).
Attire: None, as a naga.
Unknown, but implied to be a friend of Prabu Angling Darma.
Kala Werdati
A fierce giant (raksasa).
Attire: None, as a giant, or simple, crude attire.
Vengeful, aggressive, powerful.
Dewi Retno Srengganawati
Beautiful and regal.
Attire: Regal attire befitting a queen.
Intuitive, loyal, loving, intelligent.
Locations
Kerajaan Malawapati
A fertile and prosperous kingdom, home to Prabu Angling Darma. It is a place where people live in peace and prosperity.
Mood: Peaceful, prosperous, later chaotic and fearful during the attack
The initial setting of the story and later the site of the raksasa attack.
Jalan Pulang dari Pertapaan
A path or road leading back from Prabu Angling Darma's hermitage. It is where he encounters the snakes and the giant.
Mood: Eventful, dangerous
Prabu Angling Darma encounters Naga Gini and a wild giant.
Istana Kerajaan Malawapati
The royal palace within the kingdom, with important places that need guarding. It becomes a battleground during the raksasa attack.
Mood: Tense, chaotic, under siege
Patih Batik Madrim guards the palace, and it is attacked by raksasas.
Gua
A cave where Naga Gini recounts her story to her husband, Naga Pertala.
Mood: Secretive, tense
Naga Gini manipulates Naga Pertala against Angling Darma.
Alun-alun Bojonegoro
A town square in Bojonegoro where a large crowd gathers to watch a fight between a goat and an elephant. It is also where Batik Madrim sets up a cage for wild animals.
Mood: Excited, chaotic, public spectacle
Batik Madrim orchestrates a spectacle to lure Angling Darma, and Angling Darma (as a white peacock) witnesses it.