Prabu Angling Darma

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

fairy tale transformation hopeful Ages 8-14 4885 words 22 min read
Cover: Prabu Angling Darma
Original Story 4885 words · 22 min read

Prabu Angling Darma

ahulu kala ada sebuah kerajaan yang subur dan makmur, yaitu kerajaan Malawapati.

Rakyatnya hidup sejahtera berkat rajanya yang bijaksana, yaitu Prabu Angling Darma

Selain bijaksana, Prabu Angling Darma juga dikenal sangat sakti dan gagah perkasa.

Beliau memiliki seorang patih beynama Raden Batik Madrim. Kesaktian dan kegagahannya

hampir menyamai Prabu Angling Darma. Tidak sedikit orang yang datang dari negara atau

daerah lain untuk mengembara dan berdagang di Malawapati.

Suatu ketika Prabu Angling Darma sedang dalam perjalanan pulang dari pertapaannya.

Tiba-tiba terihat olehnya seekor ular naga yang sedang berkasih-kasihan dengan seekor ular

tampar. Sang Prabu mengetahui bahwa ular naga betina tersebut adalah istri sahabatnya, yaitu

Naga Pertala. Ular tampar yang kurang ajar dan berani berbuat demikian terhadap istri

sahabatnya hendak dibunuhnya. Dibidiknya ular tampar itu oleh Angling Darma, tetapi

malang panahnya justru mengenai Naga Gini, ular naga istri sahabatnya. Naga Gini

mengancam akan mengadukan kejadian tersebut kepada suaminya, yaitu Naga Pertala.

Angling Darma tidak gentar sedikit pun terhadap ancaman itu. Setelah Naga Gini pergi,

Angling Darma meneruskan perjalanannya.

Dalam perjalanannya, Prabu Angling Darma dicegat oleh raksasa yang sangat buas.

Tiba-tiba raksasa itu langsung menyerang dan menerkam Prabu Angling Darma, tetapi

Angling Darma dapat mengelak sehingga raksasa itu jatuh tersungkur. Dalam satu

kesempatan, Prabu Angling Darma berhasil menangkap raksasa itu dan kemudian

membantingnya ke tanah. Kepala si raksasa terkena batu karang sehingga tewas seketika.

Prabu Angling Darma pun melanjutkan kembali perjalanannya.

Setelah berhari-hari berjalan, Prabu Angling Darma tiba kembali di negaranya, kerajaan

Malawapati. Di depan istana, beliau disambut oleh Patih Batik Madrim. Diceritakanlah

kepada Batik Madrim semua peristiwa yang dialaminya, termasuk dengan Naga Gini.

"Patih, aku baru saja membuat kesalahan. Bermaksud mau menolong sahabat malah

"Ada apa gerangan Gusti Prabu, tampaknya gelisah?”

"Aku tadi melihat seekor naga sedang berkasih-kasihan dengan seekor ular tampar. Aku

tahu ular naga itu adalah istri sahabatku sendiri, Naga Partala. Aku tidak terima maka aku

bidik ular tampar itu. Tetapi sayang bidikanku kurang tepat, anak panah justru mengenai

Naga Gini, Dia marah dan mengancam akan mengadukan kejadian itu kepada suaminya.”

"Lalu apa yang harus saya lakukan Gusti Prabu?”

”Aku merasa akan ada kesalahpahaman. Oleh karena itu perintahkan seluruh prajurit

Untuk berjaga-j: ika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Perintahkan mereka untuk menjaga

tempat-tempat yang penting di dalam istana kerajaan.”

"Perintah Gusti Prabu akan segera saya laksanakan.”

Setelah mendapat perintah langsung dari Prabu Angling Darma, Patih Batik Madrim

segera keluar istana. Dalam waktu yang singkat patih sudah memerintahkan prajuritnya agar

167

menjaga semua tempat penting di dalam keraton. Patih turun langsung dalam upaya

penjagaan tersebut.

Malam harinya ketika berkeliling untuk mengecek prajuritnya yang sedang bertugas,

Patih Batik mendapati kenyataan banyak prajuritnya yang tertidur. Dia menduga mereka

terkena pengaruh aji sirep. Tiba-tiba salah seorang pengawal berlari-lari menghadap Batik

Madrim dan melaporkan adanya kekisruhan di dalam istana. Tanpa pikir panjang, Patih Batik

Madrim langsung menghadap Prabu Angling Darma dan melaporkan kejadian yang ada di

lapangan. Sang Prabu rupanya sudah menduga hal ini akan terjadi sehingga segera

memerintahkan Patih Batik untuk mengatasi keadaan dan mengusir para penyusup.

Istana Malawapati ternyata sedang diserang oleh pasukan bala tentara raksasa. Prabu

Angling Darma berkeyakinan musuh yang datang itu bukanlah Naga Pertala karena dia tidak

mempunyai bala tentara raksasa. Rakyat Malawapati lari ketakutan karena negaranya diserbu

oleh prajurit-prajurit raksasa. Dengan ganasnya prajurit raksasa terus membunuh dan

membakar rumah rakyat Malawapati. Dengan bersenjatakan tombak, pedang, gada, dan

tamsir, prajurit-prajurit Malawapati berusaha melawan serbuar'Bala tentara raksasa tersebut.

Dalam kecamuk peperangan tiba-tiba muncul seorang perempuan yang berparas elok

diiringi oleh Jebih kurang empat puluh orang emban menemui Batik Madrim. Putri elok itu

mengatakan hendak menyerahkan diri kepada Prabu Angling Darma. Patih Batik Madrim

curiga bahwa perempuan cantik itu hanya penjelmaan. Dia menduga putri cantik itu adalah

Naga Pertala yang sedang menyamar. Dengan cerdik Patih Batik mengatakan bahwa dia

sendirilah Prabu Angling Darma dan memerintahkan putri tersebut untuk berlutut.

Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba hilanglah perempuan elok tersebut dan muncullah

sosok sebenarnya yaitu seorang raksasa yang bernama Kala Werdati. Kala Werdati adalah

raja di negara Baka, keturunannya Kala Srenggi yang dulu dibunuh oleh Arjuna, nenek

moyang Prabu Angling Darma. Sekarang Kala Werdati datang untuk membalas dendam.

Dalam pertempuran itu, Batik Madrim bukanlah tandingan raksasa-raksasa itu. Dengan

berani Batik Madrim menyerbu dan menerjang bala tentara raksasa itu sehingga banyak yang

tewas terkena terjangan Batik Madrim. Kala Werdati sangat marah melihat tentaranya

diamuk oleh Batik Madrim. Dengan sigap dia maju dan menantang Patih Batik Madrim.

Mereka bertarung habis-habisan, saling menendang dan memukul. Tetapi, Kala Werdati

rupanya juga bukan tandingan Patih Batik. Hanya dalam waktu singkat Kala Werdati berhasil

dibunuh oleh Patih Batik Madrim. Melihat pemimpinnya tewas, kekuatan raksasa-raksasa itu

semakin lemah sehingga dalam waktu sekejap seluruh pasukan raksasa tersebut berhasil

dibunuh.

Di tempat lain, di dalam sebuah gua, Naga Gini menceritakan semua kejadian yang

dialami saat terkena panah Prabu Angling Darma. Tentu dia tidak mau menceritakan kejadian

perselingkuhannya dengan ular tampar. Tujuannya adalah untuk menghasut suaminya agar

mau menyerang Angling Darma. Naga Gini mengatakan bahwa Prabu Angling Darma

hendak membunuhnya. Termakan oleh hasutan Naga Gini, Naga Pertala menjadi sangat

gusar dan berniat membalaskan sakit hati istrinya. Tanpa banyak bicara, Naga Pertala keluar

dari keratonnya terbang di atas lautan diiringi suaranya yang menakutkan menuju negara

Malawapati.

Pada waktu itu di istana Malawapati, permaisuri Angling Darma, Dewi Hambarwati,

bertanya kepada Prabu Angling Darma.

”Apa yang sedang Gusti pikirkan? Mengapa Gusti Prabu tampak muram?”

168

"Aku gelisah karena telah melakukan kesalahan yang tidak kusengaja. Aku khawatir

timbul kesalahpahaman.”

"Kalau boleh tahu, kesalahan apa gerangan yang telah Gusti lakukan?”

”Aku memergoki Naga Gini sedang berselingkuh dengan ular tampar. Karena Naga

Gini adalah istri sahabatku, aku tidak terima. Aku bidik ular tampar tapi celakanya yang

terkena panahku adalah Naga Gini.”

“Sudahlah Gusti tidak apa-apa. Gusti tidak sengaja dan tidak berniat untuk melukai Naga

Gini.

Pada saat percakapan itu berlangsung, Angling Darma dan permaisuri tidak menyadari

bahwa Naga Pertala sudah ada di belakang mereka. Naga Pertala mendengar semua isi

percakapan antara Prabu Angling Darma dan permaisurinya. Seketika itu dia keluar dari

persembunyiannya. Dia gembira karena urung melakukan kesalahan besar yaitu membunuh

sahabatnya sendiri yang tidak bersalah. Sebagai permohonan maafnya, dia mengajak Prabu

Angling Darma ke suatu tempat dan mengajarkan ilmu Nabi Sulaiman yaitu mengerti dan

mendengar bahasa semua makhluk yang ada di jagad raya. Setelah berhasil menguasai ilmu

Nabi Sulaiman, Naga Pertala mengembalikan Angling Darma ke Malawapati.

Sejak saat itu Prabu Angling Darma bisa mengerti bahasa binatang apa pun yang dia

dengar. Pada suatu malam saat sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Hambarwati, tiba-tiba

sang Prabu tertawa terpingkal-pingkal. Awalnya permaisuri merasa tersinggung tetapi setelah

dijelaskan bahwa prabu tertawa setelah mendengar percakapan dua ekor cicak di dalam

kamar, permaisuri bisa memahami. Bahkan akhirnya permaisuri minta diajari ilmu Nabi

Sulaiman itu. Tetapi permintaan istrinya dia tolak tanpa memberikan alasan yang jelas

sehingga Dewi Hambarwati merasa kesal dan marah.

Merasa kesal atas penolakan itu dan menganggap suaminya lebih mencintai Naga

Pertala daripada dirinya, ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup sehingga berniat

bunuh diri dengan cara bakar diri. Mengetahui niat buruk permaisurinya, Angling Darma

berusaha sekuat tenaga membujuk agar membatalkan niatnya, namun gagal, Karena cintanya

kepada Dewi Hambarwati, baginda Angling Darma tidak rela istrinya pergi sendiri sehingga

dia pun akan ikut bakar diri.

Meski sudah dicegah oleh Batik Madrim, Baginda Prabu Angling Darma dan permaisuri

tetap bertahan dengan keputusannya untuk melakukan bakar diri. Seluruh penghuni dan

prajurit di istana merasa kecewa dengan keputusan itu namun mereka tidak bisa berbuat

banyak. Akhirnya baginda memerintahkan Patih Batik Madrim untuk menyiapkan kayu-kayu

bakar dari hutan dan perintah untuk mengumpulkan kayu bakar itu diteruskan kepada

prajurit-prajurit istana. Maka berangkatlah sepasukan prajurit untuk mengumpulkan kayu

bakar di hutan.

Lalu Batik Madrim memberitahukan bahwa kayu bakar serta panggungnya telah selesai

dikerjakannya di alun-alun dan siap untuk digunakan. Dengan hati cemas baginda dan

permaisurinya berangkat menuju alun-alun untuk naik ke atas panggung. Kemudian

tumpukan kayu bakar yang telah disediakan di muka panggung itu dibakarnya. Seluruh rakyat

Malawapati menyaksikannya dengan penuh rasa khawatir. Dewi Hambarwati bersama-sama

Sri Baginda bersiap melompat ke dalamnya sambil menunggu apinya membesar.

Tanpa diduga dari bawah panggung tiba-tiba muncul sepasang kambing. Karena

Baginda Prabu memuliki ilmu Nabi Sulaiman, Baginda tahu apa yang sedang kambing-

kambing bicarakan. Ternyata mereka juga sepasang suami istri dan si kambing betina juga

169

berniat melakukan upaya bakar diri. Itu dilakukan karena permintaan si kambing betina untuk

mendapat janur pajangan panggung tidak dikabulkan oleh si kambing jantan. Hanya saja

kambing jantan tidak berniat untuk ikut bakar diri seperti baginda Angling Darma yang akan

ikut bakar diri bersama permaisurinya. Sejurus kemudian kambing betina melompat ke dalam

kobaran api tanpa bisa dicegah. Sejatinya kedua kambing tersebut adalah penjelmaan dewa

yang hendak menyadarkan Prabu Angling Darma.

Setelah melihat dan mendengar peristiwa itu Prabu Angling Darma mulai berpikir,

“seekor binatang berkaki empat saja memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi serta tidak

larut dalam kesedihan, mengapa aku yang punya otak dan dihormati rakyat Malawapati

malah tidak bisa berpikir panjang dan tidak punya cita-cita,” pikimya dalam hati. Maka

setelah menyadari kesalahannya Prabu melepaskan pelukan Dewi Hambarwati. Dengan cepat

Dewi Hambarwati melompat terjun ke dalam kobaran api yang sedang menyala sehingga

meninggal seketika itu juga. Setelah melihat permaisuri meninggal, baginda pun tak urung

menyesali perbuatan istrinya. Dia bersumpah tidak akan mencari istri lagi setelah ditinggal

mati Dewi Hambarwati.

Alkisah maka tersebutlah di kahyangan bidadari Dewi Uma dan Dewi Ratih beserta

empat puluh bidadari yang lainnya sedang berunding. Kemudian Dewi Ratih segera

melayang di angkasa turun ke dunia hendak menggoda keteguhan Prabu Angling Darma

yang bersumpah tidak akan menikah lagi jika tidak dengan Dewi Hambarwati,

Selama tujuh hari tujuh malam Baginda Angling Darma tinggal di atas panggung lupa

makan dan lupa tidur. Akhirnya Dewi Ratih tiba dan berdiri di belakang Prabu Angling

Darma. Alangkah terkejutnya baginda ketika melihat ada seorang perempuan cantik yang

wajahnya sangat mirip dengan Dewi Hambarwati. Prabu Angling Darma hendak

memeluknya dan kemudian berniat untuk memperistrinya. Tetapi, kemudian Dewi Ratih tiba-

tiba lenyap disusul munculnya suara yang mengutuk Angling Darma yang tidak bisa

memegang sumpahnya sendiri. Beliau dikutuk oleh para dewa selama delapan tahun akan

hidup terlunta-lunta,

Menyadari apa yang baru saja terjadi, Prabu Angling Darma terkejut. Dia sangat sedih

ketika mendengar kutukan Dewi Ratih. Kesedihannya semakin bertambah saat tiba-tiba jalan

menuju istana berubah menjadi hutan belukar. Dengan hati sedih baginda pergi meninggalkan

tempat itu. Dalam hatinya baginda bermaksud hendak mencari jalan kematian, Baginda terus

saja berjalan tanpa arah dan tujuan.

Setelah beberapa minggu berjalan akhirnya baginda tiba di sebuah negeri asing.

Ternyata negeri itu sangat besar serta keadaan rumahnya bagus-bagus. Baginda merasa heran

karena negeri yang besar itu tidak berpenduduk. Tiba-tiba dari arah belakang baginda

mendengar ada sesuatu yang jatuh. Tatkala dilihat oleh baginda tampaklah seorang nenek

keluar dari sebuah rumah. Ketika diawasi benar-benar nyatalah bahwa nenek itu matanya

buta, telinganya tuli, dan mulutnya bisu. Prabu Angling Darma merasa iba pada nenek itu.

Lalu baginda membaca doa dan memohon kepada dewa agar si nenek itu disembuhkan dari

semua cacatnya. Sungguh ajaib, si nenek tiba-tiba sembuh. Kemudian Prabu Angling Darma

diberitahu si nenek bahwa negerinya itu bernama Malaya Kusumah. Dahulunya sangat ramai,

tetapi belakangan sepi karena diserang dan dirampok oleh tentara raksasa dari negara Baka,

yaitu Kala Werdati.

Prabu Angling Darma tiba di istana Malaya Kusuma. Di pintu gerbang istana Prabu

Angling Darma disambut dengan serangan tombak oleh seorang penjaga raksasa. Karena

serangan-serangannya selalu dapat dielakkan raksasa menjadi marah dan lebih ganas. Tetapi

penjaga itu rupanya bukan tandingan Prabu Angling Darma. Dengan tidak membuang tempo

lagi raksasa dipukul dengan dahsyatnya sehingga tewas seketika.

Prabu Angling Darma masuk ke dalam istana. Tiba-tiba muncul tiga orang raksasa dari

dalam istana. Perkelahian tidak terhindarkan. Angling Darma melontarkan pukulan bertubi-

tubi ke arah tiga raksasa itu. Pukulan Angling Darma bagaikan petir yang menyambar dengan

dahsyatnya sehingga ketiga raksasa itu menemui ajalnya. .

Seorang putri Dewi Widati ketika itu melihat Angling Darma. "Siapa gerangan satria

yang tampan dan gagah itu? Dari mana dan apa maksudnya dia datang ke sini?” gumam

Dewi Widati yang sangat terperanjat melihat penjaganya sudah mati semua,

Tatkala mengetahui bahwa satria itu adalah Prabu Angling Darma, Dewi Widati

menyerangnya untuk membalas dendam karena ayahnya dibunuh Angling Darma. Tatkala

Dewi Widati hampir habis tenaganya datanglah dua orang saudaranya yaitu Dewi Widata dan

Dewi Witarsih hendak menolongnya. Walau demikian, ketiga putri cantik itu bukan

tandingan Prabu Angling Darma, bahkan dia tidak melawan saat diserang oleh ketiganya.

Karena letih menyerang dan sadar bahwa tidak mungkin melawan Prabu Angling

Darma, mereka berhenti menyerang. Bahkan, terlihat ada perubahan besar. Mereka justru

tertarik pada ketampanan dan kesaktian Baginda Angling Darma. Alih-alih memukul, mereka

justru berusaha memeluknya, Semenjak kejadian itu, mereka bertiga menjadi istri Prabu

Angling Darma.

Pada suatu pagi, ketiga permaisuri Angling Darma sudah tidak ada dalam istana. Setelah

dicari-cari tidak berhasil diketemukan, beliau mengucapkan azimatnya dan tidak lama

kemudian beliau berubah menjadi seekor burung gagak putih. Gagak putih tersebut terbang

mencari istri-istrinya di sekeliling istana. Di sebuah hutan belukar, gagak putih melihat asap

mengepul dan banyak sekali burung gagak hitam berada di situ. Kemudian dia mendekati

tempat itu. Alangkah terkejutnya gagak putih ketika melihat istri-istrinya sedang makan

daging manusia. Saat diberi jantung, gagak putih menerima pemberian itu tapi tidak langsung

dimakan. Jantung itu dibawa pulang ke istana dan kemudian dimasukkan ke dalam kotak

kapur istri-istrinya. Lekas gagak putih menjelma kembali menjadi Angling Darma dan

kembali ke kamar pura-pura masih tidur.

Tidak lama kemudian, ketiga permaisurinya itu datang. Mereka menuju ke kamar hias

masing-masing untuk berdandan. Mereka keheranan melihat sebuah jantung manusia di

dalam kotak kapur mereka, Untuk mengetahui siapa yang menaruhnya di situ mereka bertiga

pergi ke tempat yang agak sunyi untuk membicarakannya. Akhirnya mereka bertiga

sependapat bahwa yang melakukan itu tak lain adalah Angling Darma sendiri. Karena merasa

ketahuan mereka berniat untuk menenung dan mengubah Angling Darma.

Mereka pergi mencari daun pohon kamal. Setelah ketemu, dipetiknya dua lembar, Daun

yang satu ditulis surat rajah, sedang yang lainnya digambari. Kemudian mereka memuja dan

memohon kepada setan. Daun tersebut berusaha ditancapkan ke kepala Angling Darma yang

berpura-pura tidur. Mereka pun berhasil menancapkan daun tersebut ke kepala Angling

Darma. Saat Angling Darma berusaha mencabutnya, daun-daun itu malah menancap kian

dalam. Tidak lama kemudian Angling Darma berubah menjadi seekor belibis putih. Namun

demikian, dia tidak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya,

Sesampainya di luar, dia terbang ke angkasa dan hinggap di tepi sebuah kolam di mana

dia bisa bercermin. Dia sangat terperanjat ketika melihat dirinya di air kolam. Kini dia baru

tahu kalau sekarang dirinya berubah menjadi seekor belibis putih berjambul. Dengan

perasaan hancur, belibis putih itu terbang tak tentu arah. Melihat hal tersebut, ketiga

permaisuri itu sangat menyesal. Prabu Angling Darma sang raja Malawapati menjelma

menjadi seekor belibis putih dan kesengsaraan sang baginda terus berlangsung selama

delapan tahun.

Tersebutlah seorang anak yang bernama Jaka sedang menggembala kerbau, Belibis

putih melihat melihat anak itu dan kemudian mendekatinya. Jaka pun melihat belibis putih

dan berusaha menangkapnya. Maka, dipasanglah sebuah perangkap. Angling Darma masuk

karena Jaka mirip rupanya dengan pelayannya. Pada waktu itu Jaka dan pamannya sangat

terkejut mendengar Belibis Putih dapat berbicara yang mengatakan agar jangan dimasukkan

dalam sangkar. Maka dilepaskanlah kembali Belibis Putih dan mulai saat itu Belibis Putih

tinggal bersama Jaka.

Tersebutlah dua ekor burung gagak. Yang jantan mengatakan bahwa di bawah pohon itu

terdapat emas dan permata. Belibis putih yang kebetulan berada di dekatnya mendengar

percakapan itu maka diberitahukanlah kepada Jaka. Kemudian Jaka dan pamannya menggali

tanah di bawah pohon yang ditunjukkan oleh Belibis Putih. Benar apa yang ditunjukkan

Belibis Putih. Mereka menjadi kaya, punya banyak emas, rumah besar, sawah ladang, dan

kerbau.

Empat tahun telah lewat, selama itu pula Belibis Putih masih mengalami kehidupan yang

pahit getir. Pada suatu malam Belibis Putih bermimpi bertemu dengan dewa. Dijelaskan

keadaannya memang sebuah kutukan dari dewa, tetapi dia diminta tidak usah khawatir. Suatu

saat kelak Angling Darma akan bertemu kembali dengan Dewi Hambarwati yang sukmanya

telah masuk ke dalam badan Dewi Retno Srenggono, putri raja Bojonegoro.

Di sebuah desa bernama Wonosari, seorang perempuan bernama Nyi Bermani sedang

hamil tiga bulan. Ia ingin makan anak tawon yang sedang bermadu, maka dicarikanlah oleh

suaminya. Ketika itu hari sudah gelap. Konon di sebuah pohon beringin tinggal genderuwo

yang jahat. la tahu keadaan Nyi Bermani yang sedang hamil, maka timbullah pikiran

jahatnya. Genderuwo itu menjelma menjadi Bermana palsu. Ia tahu Bermana asli sedang

pergi mencari anak tawon. Dengan membawa bumbung berisi madu dan beberapa rumah

tawon, ia datang kepada Nyi Bermani yang menyambutnya dengan riang.

Akan tetapi baru saja pintu ditutup Nyi Bermani dengar orang mengetuk pintu. Setelah

pintu dibuka, Nyi Bermani terkejut bukan kepalang karena suaminya ada dua. Ia bingung

mana suaminya yang asli, dua-duanya sama. Akhirnya dua orang Bermana itu bertempur.

Siapa yang menang berhak memiliki Nyi Bermani. Dengan bengis Bermana asli

menerjangnya dan terjadilah perkelahian yang sengit. Karena sama-sama sakti maka tidak ada

yang kalah atau menang. Maka oleh Nyi Bermani mereka dipisah dan akan diajukan pada

raja untuk minta keputusan. Maka keesokan barinya mereka bersama-sama menghadap

baginda. Diceritakan semuanya apa yang telah terjadi, tetapi baginda tidak dapat

memutuskannya.

Belibis Putih mengetahui peristiwa tersebut. Kepada Paman Jaka ia memberitahukan

bagaimana cara memutuskan perkara ini. Kemudian ia menyuruhnya untuk menghadap

Baginda.

Esok harinya Paman Jaka menghadap baginda untuk menjadi hakim. Dengan gembira

'baginda mengizinkannya. Paman Jaka mengatakan siapa yang mampu masuk ke dalam kendi

maka dialah Bermana yang asli. Sudah tentu Bermana asli berkeberatan sedangkan Bermana

172

yang palsu tidak. Sesaat kemudian tiba-tiba Bermana palsu merubah diri menjadi asap dan

terus masuk ke dalam kendi. Secepat kilat kendi ditutup dengan sebuah benda oleh Paman

Jaka dan dia mengatakan pada Baginda bahwa yang bisa masuk ke dalam kendi itu

sebenamyalah yang palsu karena mustahil bagi manusia dapat mengubah sifatnya. Baginda

berterima kasih kepada Paman Jaka dan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya baginda

mengangkat Paman Jaka menjadi patih ke-11 dengan gelar Patih Jaksanegara. Sebagai tanda

terima kasih, Bermana dan istrinya menyembah Patih Jaksanegara.

Pada suatu hari Belibis Putih bertanya kepada Jaka apa dia selama itu pernah melihat

putri yang tercantik di kota. Dijawabnya pernah yaitu pada waktu Jaka mengantarkan bibi

Demang ke keputrian. Maka keesokan harinya Belibis Putih terbang menuju ke keraton

Bojonegoro yang pada waktu itu diperintah oleh Prabu Darmowisesa. Baginda Raja

mempunyai anak tunggal yaitu Dewi Srengganawati. Dia seorang putri yang sangat cantik

dan tinggal di sebuah keputren yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang sangat indah.

Kemudian Belibis Putih turun dan hinggap di sebuah pohon cemara yang

memungkinkan dia melihat Dewi Srengganawati. Ketika itu sang dewi sedang berjalan-jalan

dengan para embannya. Di bawah pohon cempaka sang putri beristirahat dan duduk di sebuah

bangku. Dari atas pohon ia melihat betapa cantik putri itu, ia merasa kagum dan tertarik

padanya karena serupa benar dengan istrinya almarhum.

Lalu Belibis Putih membaca mantera pengasihan, kemudian memetik sekuntum bunga

cempaka dan dilemparkannya di atas pangkuan sang dewi. Karena putri tetap tidak melihat ke

atas, maka belibis putih hendak menjatuhkan bunga lagi. Kali ini berhasil, sang putri melihat

ke atas dan dilihatnya seekor belibis putih sedang bertengger di atas pohon. Putri lalu

memerintahkan para emban untuk menangkapnya hidup-hidup. Karena emban bilang kalau

berhasil akan dipotong dagingnya, maka Belibis Putih menjawab dan mempersilakan untuk

menangkapnya, Mendengar Belibis Putih bisa bicara maka putri dan semua embannya

menjadi sangat heran. Pada kesempatan itu Belibis Putih segera terbang kembali pulang. Sang

Putri menangis menyesali kepergian Belibis Putih.

Segera sang Putri melaporkan kejadian itu kepada ayahandanya di keraton dan menangis

ingin ditangkapkan Belibis Putih itu untuk dijadikan kawannya sehari-hari. Patih Jaksanegara

ditugasi raja untuk menangkap burung tersebut. Dalam tugas itu Patih Jaksanegara bingung

dan sedih. la memutuskan esok harinya pergi ke Wonosari menemui Jaka.

Esok harinya Patih Jaksanegara pergi ke Desa Wanasari ke rumah Jaka. Ia

mengutarakan maksud kedatangannya kepada patih. Alangkah cemas hati Jaka

mendengarnya sehingga diputuskan bahwa mereka akan pergi ke tempat lain karena enggan

melepaskan Belibis Putih yang telah banyak berjasa itu.

Setelah di istana baginda menerima penyerahan Belibis Putih itu, dia merasa amat

girang. Baginda raja menanyai Belibis Putih asal mulanya dapat bicara. Dijawab oleh Belibis

Putih bahwa ia adalah piaraan Prabu Angling Darma, Raja Malawapati yang kini sedang

dicari di mana-mana setelah beliau meninggalkan kerajaannya. Kepergian Baginda Angling

Darma itu karena ditinggal mati istrinya yang dia cintai.

Dewi Srengganawati datang menghadap ayahandanya untuk menerima Belibis Putih

yang kemudian dibawa ke keputrian untuk dipelihara sebaik-baiknya. Pada suatu malam

Belibis Putih yang duduk di atas pangkuan Dewi Srengganawati dan diikuti oleh para emban

ingin berteka-teki. Apabila sang Dewi dapat menebaknya, Belibis Putih berjanji akan berbakti

dan setia kepadanya.

173

Pada suatu hari Belibis Putih akan dimandikan di taman agar bulunya menjadi semakin

bagus, Niat tadi disetujui oleh Belibis Putih. Mereka berdua pergi ke taman pemandian,

sedangkan para bujangan menunggu di luar. Atas permintaan Belibis Putih, pertama-tama

dicabutlah jambul belibis dan seketika itu juga Belibis Putih berubah menjadi seorang ksatria

yang cakap dan gagah. Dewi Retna sangat terperanjat dengan kejadian yang tak disangka-

sangka itu dan dikiranya semula adalah setan atau iblis. Maka oleh Angling Darma sekalipun

singkat diceritakanlah kisah masa lalunya pada sang Dewi. Maka sehabis mandi putri

mengajak Baginda Angling Darma menghadap pada ayahandanya di keraton tetapi menurut

dia masih belum waktunya. Biarlah kalau siang hari dia menjadi belibis putih dan kalau

malam saja dia menjadi manusia kembali.

Keadaan seperti ini berlangsung beberapa waktu lamanya, Pada suatu ketika di keraton,

Prabu Darmowisesa sedang asyik bercakap-cakap dengan permaisurinya. Beliau merasakan,

Dewi Srengganawati sudah agak lama tidak datang menghadap. Beliau khawatir akan

kesehatannya. Maka istrinya diminta'untuk mendatangi istana keputren.

Sang Dewi sedang bermain-main dengan Belibis Putih saat ibunya datang berkunjung.

Ibunya menanyakan kesehatan putrinya karena dia melihat putrinya agak pucat. Betapa

terkejutnya dia saat mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung. Dia tidak mau bercerita

siapa yang menjalin hubungan rahasia dengannya meskipun ibundanya terus mendesak.

Meskipun malu pada ibundanya, dia tetap bungkam. Dengan perasaan hancur permaisuri

meninggalkannya dan menceritakan hal itu kepada baginda. Baginda sangat murka

mendengar berita yang sangat memalukan itu.

Segera setelah mendengar berita tersebut Baginda Raja mengumpulkan semua emban

dan bujang di pendapa istana. Mereka ditanya satu per satu siapa lelaki yang sering masuk ke

keputren. Bahkan baginda berjanji akan memberi hadiah jika ada yang dapat menunjukkan

siapa laki-laki itu. Tetapi, jika ketahuan ada di antara mereka yang sengaja menyembunyikan

laki-laki itu maka hukumannya adalah penggal leher. Tetapi sekalipun ada hadiah dan

ancaman yang cukup menakutkan tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkan atau

melihat lelaki masuk keputren. Mereka disuruh pulang kembali dan baginda merasa bingung

dan kesal hatinya. Selanjutnya prajurit-prajurit dikumpulkan di pendapa. Dijelaskan pada

mereka bahwa keputren telah disusupi seorang laki-laki tanpa diketahui oleh para penjaga.

Maka Baginda memerintahkan untuk menjaga istana dengan ketat.

Siang malam setelah kejadian itu, sekeliling taman sari dan keputren dijaga ketat oleh

prajurit-prajurit pilihan. Sementara itu di keputren, Dewi Ratna seperti biasanya sedang

berkasih-kasihan dengan Baginda Angling Darma. Baginda ingin menggunakan aji sirepnya.

Prajurit-prajurit yang terkena aji sirep itu tidak ada yang tahan sehingga semuanya tertidur

dengan nyenyaknya. Kemudian Angling Darma memulas muka mereka dan ada juga yang

dicukur rambutnya. Keesokan harinya saat mereka bangun mereka sungguh terkejut

bercampur heran setelah mendapati adanya perubahan di wajah dan rambut mereka. Mereka

tidak tahu siapa yang telah berbuat demikian.

Baginda sangat marah ketika diberi laporan tentang kejadian itu dan berkesimpulan

bahwa penjagaan kurang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Prajurit dianggap teledor dan

tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, buktinya mereka diapa-apakan oleh seseorang

mereka tidak tahu. Oleh karena kejadian itu Baginda memerintahkan penjagaan besok

malamnya lebih diperkuat.

174

Seperti biasa, Angling Darma ingin menguji para prajurit penjaga dalam menjalankan

tugasnya. Kali ini Baginda Angling Darma ingin menakut-nakuti para prajurit. Dia

menciptakan awan hitam yang tebal, dengan suara guntur yang menggelegar. Mereka

menjadi ketakutan, panik, disangkanya ada musuh datang menyerang. Dalam keadaan gelap

gulita itu mereka bertempur dengan kawannya sendiri sehingga banyak menimbulkan korban

di kalangan prajurit sendiri. Setelah mengetahui banyaknya korban berjatuhan, Angling

Darma merasa menyesal karena dia bermaksud hanya ingin menguji para prajurit itu.

Batik Madrim telah meninggalkan negara Malawapati mencari rajanya, sedangkan

pemerintahan diserahkan kepada Raden Wijanarka. Beliau merantau ke beberapa negeri

tetapi tidak dapat menemukan di mana Baginda Angling Darma selama ini. Tersebutlah Patih

Batik Madrim suatu ketika tiba di sebuah hutan di wilayah negara Bojonegoro. Dengan tak

disangka-sangka Patih Batik Madrim berjumpa dengan Patih Jaksanegara dari Bojonegoro.

Diceritakan olehnya kejadian di Bojonegoro pada Batik Madrim dan akhirnya minta

pertolongan dia untuk menangkap "maling aguna”, Setelah dibicarakan tentang hadiahnya,

tawaran itu diterima Batik Madrim. Dan pada hari itu juga mereka terus berangkat ke

Bojonegoro.

Setiba di Bojonegoro mereka diterima dengan gembira oleh Baginda Darmawisesa.

Batik Madrim berpendapat terlebih dahulu harus diperiksa semua binatang piaraan yang ada

di keraton. Sebab diperkirakan si penjahat mempunyai kesaktian menjelma menjadi hewan.

setelah terbukti tidak ada Batik Madrim mohon diperkenankan memeriksa situasi dalam

keraton. Malam itu Batik Madrim menggunakan ilmu pengusutannya yang tinggi itu. Beliau

yakin bahwa malam itu orang yang dicari berada di keputren maka pengusutan ditangguhkan

sampai esok paginya.

Keesokan harinya Patih Jaksanegara memanggil putri untuk menghadap raja. Saat itu

Batik Madrim telah mengetahui bahwa orang yang dicari itu telah menjelma menjadi belibis

putih yang sedang dipelihara oleh putri. Maka Batik Madrim berusaha memintanya dari sang

putri. Belibis putih merasa heran kenapa Batik Madrim tidak mengenalinya padahal dia

sebenarnya adalah rajanya. Akhirnya belibis putih berbisik kepada sang putri supaya

diberikan saja sebab dia akan berpindah ke subang sang putri. Dan benar belibis putih

diserahkan kepada ayahandanya. Ketika diserahkan, belibis putih sudah tidak bernyawa lagi

karena Angling Darma sudah berpindah ke subang sang putri. Subang ini pun akhirnya juga

diminta dan Angling Darma berbisik kembali kepada sang putri supaya menyerahkan

subangnya sebab ia akan pindah ke kalung putri. Maka sang Dewi mengambil subangnya dan

menyerahkannya. Kalung juga akhirnya diminta dan Angling Darma pindah ke cincin putri.

Batik Madrim terus mengejarnya. Ketika cincin juga diminta maka berbisiklah Angling

Darma kepada sang putri supaya jangan diberikan. Tetapi jika cincin juga diminta supaya

dibanting di atas batu. Maka benar pada saat cincin diminta, cincin itu dibanting ke batu

seperti yang dibisikkan Angling Darma. Cincin itu lalu menghilang menjadi seekor katak.

Tetapi Batik Madrim tidak kalah saktinya, ia lalu mengubah dirinya menjadi seekor

burung dara. Katak diserang dan dipatuknya ternyata katak tak tahan. Lalu ia menggunakan

kesaktiannya dan menjadi seekor burung alap-alap. Dengan ganas sekali burung dara

dihantamnya. Tatkala burung alap-alap akan membinasakannya burung dara menghilang

untuk kemudian menjelma kembali menjadi seekor kucing hutan yang buas. Dengan

ganasnya burung alap-alap diserang. Karena diserang, burung alap-alap menjadi marah dan

kemudian menjelma menjadi macan putih. Kucing hutan menjadi kelabakan diserang

175

harimau putih maka ia mengubah dirinya menjadi seekor harimau besar dan kemudian

menyerang macan putih. Perkelahian tersebut demikian hebatnya sehingga tidak ada yany

kalah ataupun menang. Akhirnya Angling Darma menciptakan awan hitam yang sangat

panas tetapi Batik Madrim tidak kehilangan akal. Lalu ia menciptakan angin topan yang

sangat hebat. Dengan dahsyatnya, awan hitam yang menakutkan itu diserang oleh angin

topan sehingga menjadi berdntakan.

Angling Darma menjadi sangat marah karena ilmu kesaktiannya dapat dikalahkan.

Beliau lalu menciptakan api neraka yang sangat panas. Dengan suara gemuruh laksana guntur

api neraka menyerang Batik Madrim. Keadaan cuaca di sekitarnya menjadi panas. Rakyat

Bojonegoro menjadi kacau balau. Mereka lari ketakutan karena tidak tahan panasnya.

Kemudian Batik Madrim naik ke angkasa dan berkata meskipun yang dicarinya berubah

menjadi apa pun, dia tidak takut atau gentar. Angling Darma lalu menantangnya, Hai Batik

Madrim kalau kau benar-benar sakti marilah kita bertanding satu lawan satu di dalam api ini,

coba susullah saya.” Tetapi ternyata Batik Madrim tidak bisa masuk dalam api tersebut,

karena tidak kuat menahan panasnya. Ia mendengar tantangan ifp dan merasa mengenal suara

tersebut.

Prabu Darmowisesa dan Angling Kusuma, anak Angling Darma, sangat girang atas

kedatangan Angling Darma (palsu). Sebaliknya, Dewi Srengganawati mendapatkan firasat

yang tidak enak seolah-olah ia bukan suaminya. Maka tatkala Batik Madrim akan masuk,

ternyata pintunya ditutup. Diketuknya dan dipanggil berkali-kali tetapi Dewi Ratna tidak

bersedia membukanya. Beliau tahu itu bukan suaminya. Hanya dijawab bahwa sang dewi

masih bersemedi. Bisa bertemu, jika nanti ada seekor kambing dapat mengalahkan seekor

gajah tandanya sang dewi sudah habis bersuci. Maka patih disuruh Batik Madrim

mengumpulkan binatang-binatang buas dalam suatu kandang di alun-alun.

Sementara itu, merak putih yang tersesat jalannya akhirnya telah sampai juga di

Bojonegoro. Ia menjumpai istrinya yang kebetulan duduk di keputren. Dewi Ratna terkejut,

tetapi kemudian menubruk dan memeluk merak putih. Sang Dewi tidak dapat melupakan

Tidak lama kemudian dari atas pohon beringin merak putih melihat seekor kambing

sedang bertanding dengan seekor gajah yang diperbuat oleh Batik Madrim. Beribu-ribu

penonton bersorak-sorai tatkala gajah itu dapat dikalahkan oleh seekor kambing. Tiba-tiba

Batik Madrim melihat merak putih. Dengan gemas ia perintahkan tentaranya melepaskan

anak panahnya. Dalam sekejap mata merak putih tewas dan jatuh ke tanah. Tetapi

berbarengan dengan itu terbanglah seekor burung betet hijau menuju ke keputren dan segera

hinggap di atas pangkuan Dewi Srengganawati.

Setelah Baginda Angling Darma dikenali lagi oleh istrinya, beliau minta istrinya

membantu siasat selanjutnya. Tidak lama kemudian, datanglah Batik Madrim dengan badan

wadaknya sang Prabu Angling Darma sambil menuntun kambingnya yang telah

mengalahkan seekor gajah. Dituturkan kemudian bahwa sang dewi masih ingin melihat

apakah kambingnya itu dapat memanjat pohon cempaka. Segera sukma Batik Madrim keluar

dan pindah ke badan kambing lagi. Di saat itu pulalah sukma Angling Darma keluar dari

badannya burung betet. Sukma tersebut segera masuk ke badannya yang asli. Dengan girang

beliau dipeluk oleh Sang Dewi Retno Srengganawati.

Akan tetapi, tiba-tiba ia diserang kambing dengan buasnya. Angling Darma mengelak,

tanduk kambing dipegangnya dan kedua kaki depannya dimasukkan ke dalam tanah. Sudah

176

layak seandainya Batik Madrim dibunuh, tetapi Angling Darma mengampuninya. Batik

Madrim disuruh pergi mencari badan wadaknya sendiri, kemudian diperintah terus pulang ke

Malawapati, sedangkan Baginda Angling Darma akan menyusul. Dengan perasaan sedih

campur malu, Batik Madrim pergi untuk menjalankan perintah Prabu Angling Darma.

177


Story DNA

Moral

Even unintentional actions can have far-reaching consequences, and true wisdom involves understanding and empathy.

Plot Summary

Prabu Angling Darma, a wise king, accidentally injures Naga Gini, leading to a misunderstanding with her husband, Naga Pertala. After resolving this, Angling Darma gains the ability to understand animal language, but his wife dies when he reveals this secret. Cursed by giants, he transforms into various animals, losing his kingdom and identity. His loyal Patih Batik Madrim searches for him, leading to a magical shapeshifting confrontation where Angling Darma regains his human form and ultimately his throne.

Themes

justice and retributionloyalty and betrayalwisdom and follythe power of knowledge

Emotional Arc

suffering to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: brisk
Descriptive: moderate
Techniques: rule of three, magical transformations

Narrative Elements

Conflict: person vs person
Ending: happy
Magic: talking animals, shapeshifting/transformation, magical weapons, supernatural beings (giants, naga), magical curses, mind control/sleep spells
the white duck (Angling Darma's cursed form)the ring/earring (objects used for transformation)the language of animals (wisdom/burden)

Cultural Context

Origin: Javanese (Indonesian)
Era: timeless fairy tale

The story of Angling Darma is a prominent part of Javanese folklore and wayang kulit (shadow puppet) performances, often conveying moral and ethical lessons within a Hindu-Buddhist influenced cultural framework.

Plot Beats (13)

  1. Prabu Angling Darma, a wise king, accidentally injures Naga Gini, wife of his friend Naga Pertala, while trying to kill her lover.
  2. Naga Gini falsely accuses Angling Darma to her husband, Naga Pertala, who prepares for revenge.
  3. Malawapati is attacked by Kala Werdati, a giant seeking revenge for his ancestor's death, but is defeated by Patih Batik Madrim.
  4. Naga Pertala overhears Angling Darma's confession to his wife, realizes his mistake, and teaches Angling Darma the language of animals as an apology.
  5. Angling Darma's wife, Dewi Hambarwati, dies after he reveals his secret of understanding animal language, a secret he was forbidden to share.
  6. Angling Darma is cursed by two female giants, transformed into a white duck, and loses his kingdom.
  7. Angling Darma, as a white duck, travels to Bojonegoro and encounters his son and a false Angling Darma.
  8. Patih Batik Madrim, searching for his king, arrives in Bojonegoro and is tasked with finding a 'cunning thief' (Angling Darma in disguise).
  9. Batik Madrim identifies Angling Darma (as a white duck) and pursues him through a series of animal transformations.
  10. Angling Darma, in the form of a parrot, lands on his wife Dewi Srengganawati's lap, revealing his true identity.
  11. Batik Madrim, possessing the body of a goat, challenges a giant elephant, proving his loyalty to the false Angling Darma.
  12. Dewi Srengganawati tricks Batik Madrim into leaving the goat's body, allowing Angling Darma to reclaim his original form.
  13. Angling Darma confronts Batik Madrim, who is still in the goat's body, and forgives him, sending him back to Malawapati.

Characters

👤

Prabu Angling Darma

human adult male

Strong and powerful, capable of great feats of strength and magic.

Attire: Regal attire befitting a king, possibly with elements of a warrior.

A king with a powerful aura, often depicted with a bow and arrow or in various animal forms.

Wise, powerful, just, prone to making mistakes but ultimately good-hearted.

👤

Raden Batik Madrim

human adult male

Nearly as powerful and strong as Prabu Angling Darma.

Attire: Attire of a patih (prime minister), possibly with warrior elements.

A loyal prime minister, often seen in a stance of readiness or combat, capable of shapeshifting.

Loyal, brave, cunning, powerful, determined.

✦

Naga Gini

magical creature adult female

A female naga (dragon/serpent).

Attire: None, as a naga.

A large, powerful female serpent.

Deceptive, vengeful, prone to infidelity.

✦

Naga Pertala

magical creature adult male

A male naga (dragon/serpent).

Attire: None, as a naga.

A large, powerful male serpent.

Unknown, but implied to be a friend of Prabu Angling Darma.

✦

Kala Werdati

magical creature adult male

A fierce giant (raksasa).

Attire: None, as a giant, or simple, crude attire.

A towering, monstrous giant with a menacing expression.

Vengeful, aggressive, powerful.

👤

Dewi Retno Srengganawati

human adult female

Beautiful and regal.

Attire: Regal attire befitting a queen.

A queen with a discerning gaze, often seen embracing a white peacock or green parrot.

Intuitive, loyal, loving, intelligent.

Locations

Kerajaan Malawapati

outdoor Implied pleasant, as it's prosperous

A fertile and prosperous kingdom, home to Prabu Angling Darma. It is a place where people live in peace and prosperity.

Mood: Peaceful, prosperous, later chaotic and fearful during the attack

The initial setting of the story and later the site of the raksasa attack.

fertile land prosperous people royal palace houses

Jalan Pulang dari Pertapaan

transitional day unspecified

A path or road leading back from Prabu Angling Darma's hermitage. It is where he encounters the snakes and the giant.

Mood: Eventful, dangerous

Prabu Angling Darma encounters Naga Gini and a wild giant.

path snakes giant rock

Istana Kerajaan Malawapati

indoor night unspecified

The royal palace within the kingdom, with important places that need guarding. It becomes a battleground during the raksasa attack.

Mood: Tense, chaotic, under siege

Patih Batik Madrim guards the palace, and it is attacked by raksasas.

palace walls important rooms guards intruders

Gua

indoor unspecified unspecified

A cave where Naga Gini recounts her story to her husband, Naga Pertala.

Mood: Secretive, tense

Naga Gini manipulates Naga Pertala against Angling Darma.

cave entrance dark interior

Alun-alun Bojonegoro

outdoor day unspecified

A town square in Bojonegoro where a large crowd gathers to watch a fight between a goat and an elephant. It is also where Batik Madrim sets up a cage for wild animals.

Mood: Excited, chaotic, public spectacle

Batik Madrim orchestrates a spectacle to lure Angling Darma, and Angling Darma (as a white peacock) witnesses it.

large crowd cage goat elephant banyan tree