Rara Kembang Sore
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Rara Kembang Sore
ada zaman dahulu, seorang pemuda tampan bernama Pangeran Lembu Peteng dari
kerajaan Majapahit jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore yang cantik jelita.
Rupanya, kecantikan Roro Kembang Sore tidak hanya memikat hati Pangeran Lembu
ternyata lebih memilih Pangeran Lembu Peteng daripada Adipati Kalang. Penolakan itu
membuat Adipati Kalang murka sehingga berencana membunuh Pangeran Lembu Peteng.
sore itu mendadak berubah oleh kedatangan Adipati Kalang dan Kiai Kasanbesari.
”Ah..di sini rupanya kalian!” kata Adipati Kalang mengejutkan Pangeran Lembu Peteng
dan Rara Kembang Sore.
Pangeran Lembu Peteng dan Rara Kembang Sore serentak berdiri dan berbalik badan
melihat ke arah datangnya suara. Sejenak Pangeran Lembu Peteng terkejut karena tidak
menyangka Adipati Kalang akan mencari dan menemukan mereka. Rara Kembang Sore yang
tangannya memegang erat lengan Pangeran Lembu Peteng, pelan-pelan tubuhnya bergeser ke
belakang berlindung di balik badan Pangeran Lembo Peteng.
”Tidak usah pura-pura tidak tahu, Lembu Peteng! Apa kau tidak sadar apa yang sudah
kau lakukan?” bentak Adipati Kalang.
”Memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga Adipati begitu marah padaku?”
Pangeran Lembu Peteng balik
”Bukankah Rara Kembang Sore sudah menolakmu, Adipati. Seorang ksatria harus
menerima kekalahan dengan lapang dada,” kata Pangeran Lembu Peteng.
"Apa katamu? Heh, kau mau mengajari Adipati? Berani... beraninya...!” kata Kiai Kasan
"Kurang ajar!” bentak Adipati Kalang sambil mencabut kerisnya.
Dua orang yang telah bersekongkol membunuh Pangeran Lembu Peteng itu bersama-
Majapahit itu tewas dalam pertarungan tersebut.
Setelah menyaksikan kematian kekasihnya, dengan sedikit ilmu yang dimiliki, Rara
musuh bebuyutan Pangeran Lembu Peteng itu tidak berhasil menemukan jejak Rara
149
Kembang Sore. Rara Kembang Sore melarikan diri ke Gunung Cilik. Selepas kepergian
Pangeran Lambu Peteng, Rara Kembang Sore memutuskan menjadi seorang pertapa di
Gunung Cilik.
Setelah sekian lama bertapa, Rara Kembang Sore kemudian mengubah namanya
menjadi Resi Winadi. Seiring waktu, nama Resi Winadi semakin dikenal luas. Resi Winadi
dikenal sebagai seorang pertapa sakti yang mampu mengobati berbagai macam penyakit.
Lebih dari itu, Resi Winadi juga dikenal sebagai pembuat keris dan keris buatannya terkenal
hingga ke kota raja.
Pada suatu kesempatan, Resi Winadi menyuruh abdinya, Sarwo dan Sarwono, pergi ke
Kadipaten Betak.
”Sarwo dan Sarwono!” Rara kembang Sore memanggil dua abdinya untuk menghadap.
"Hamba, Resi. Ada apa Resi memanggil kami?" tanya Sarwo dan Sarwono hampir
bersamaan. Mereka duduk bersimpuh di depan Resi Winadi, siap menerima dan menjalankan
perintah. 2
"Aku punya tugas untuk kalian berdua, abdiku yang setia. Tugas ini tidak ringan, tapi
aku percaya kalian akan melaksanakannya dengan baik."
”Tugas apakah gerangan, Resi?”
"Pergilah kalian berdua menghadap Adipati Kalang dan tunjukkan keris ini kepadanya"
"Hanya itu, Resi? Ta.ta...pi.. untuk apa?"
”Tidak hanya itu, Sarwo! Ajaklah Adipati Kalang mengadu kesaktian kerisnya dengan
keris buatanku ini?”
"Ooo begitu. Caranya bagaimana, Resi?”
”Katakan bahwa keris harus ditancapkan ke batang pohon beringin. Keris siapa yang
mampu merontokkan daun dan menumbangkan batang pohon beringin tersebut sesaat setelah
ditancapi keris, dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya.”
“Setelah itu, bagaimana?" tanya Sarwono,
“Katakan pada Adipati Kalang bahwa taruhannya adalah apabila keris Resi Winadi yang
kalah maka Resi Winadi menyatakan tunduk dan siap menjadi budak Pangeran Kalang.
Sebaliknya, apabila keris Adipati Kalang yang kalah maka Adipati Kalang harus menghadap
Resi Winadi di Gunung Cilik dengan cara jalan jongkok. Adipati Kalang tidak diperbolehkan
memandang wajah Resi Winadi sebelum diperintahkan memandang olehnya."
”Ooooohhh.”
"Apakah kalian sanggup?”
"Sanggup, sanggup!”
“Kalau begitu, segeralah kalian berangkat.”
”Kami mohon diri, Resi.”
“Baiklah. Tapi ingat, kalian jangan penah kembali sebelum berhasil membawa Adipati
Kalang ke gunung ini.”
Meskipun tidak memahami maksud perintah Resi Winadi, sebagai cantrik yang setia,
Sarwo dan Sarwono tetap berangkat menjalankan perintah itu. Di sepanjang jalan mereka
terus menduga ada apa gerangan junjungannya itu ingin mengadu kesaktian kerisnya dengan
pusaka Adipati Kalang. Selama mereka menjadi cantriknya, Resi Winadi tidak pemah
menyebut-nyebut atau bercerita tentang Adipati Kalang.
"Kakang, apa ya maksud Resi ingin mengadu kesaktian dengan Adipati?" tanya Sarwo
pada Sarwono.
150
"Entahlah, dik. Aku juga tidak tahu," jawab Sarwono.
"Apakah Kakang tidak merasa aneh?” tanya Sarwo lagi.
"Sudahlah, dik. Kita jalankan saja perintah Resi. Mungkin nanti Resi akan memberi tahu
kita kalau kita sudah kembali. Baiknya kita percepat langkah kita saja, biar lekas sampai,”
kata Sarwono.
”Kau Benar, Kakang.”
Mereka berdua berjalan setengah lari sehingga lekas sampai di kota kadipaten. Sampai di
Kadipaten Betak, cantrik Sarwo dan Sarwono segera memohon diri untuk menghadap
Adipati Kalang. Seorang abdi menyilakan Sarwo dan Sarwono menunggu di pendopo. Tidak
lama kemudian Adipati Kalang keluar diringi oleh seorang patihnya.
”Siapa kalian dan ada maksud apa ingin bertemu denganku?” tanya Adipati Kalang
sambil melihat dengan tatapan tajam ke arah Sarwo dan Sarwono.
”Ampun Tuan Adipati. Hamba Sarwono dan ini adik hamba, Sarwo. Kami dari Gunung
Cilik membawa pesan Resi Winadi.”
"Meskipun aku tidak mengenal Resi Winadi, katakan saja apa pesannya."
"Ampun Tuan Adipati, Resi Winadi ingin mengadu kesaktian pusakanya dengan pusaka
Kanjeng Adipati.”
”Apa? Mengadu kesaktian pusakaku?”
Adipati Kalang merasa tertantang karena dia selama ini menganggap keris pusakanyalah
yang paling sakti. Adipati menyuruh Sarwono untuk menjelaskan seluruh pesan Resi Winadi.
Setelah dijelaskan semuanya, Sang Adipati menanggapi dan menyetujuinya.
Segera setelah disepakati, masing-masing membawa senjata pusaka ke alun-alun untuk
diadu kekuatannya. Pusaka Kadipaten Betak dicoba terlebih dahulu ke pohon beringin yang
tumbuh di tengah alun-alun, tetapi tidak terjadi apa pun. Giliran berikutnya adalah pusaka
Gunung Cilik. Setelah ditikamkan, pohon beringin pun langsung rontok daunnya dan
tumbang batang pohonnya.
Adipati Kalang mengakui kekalahannya dan ingin sekali memiliki pusaka tersebut.
Sarwo dan Sarwono tidak keberatan asalkan Adipati Kalang bersedia menyetujui
persyaratannya seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Diantar oleh cantrik Sarwo dan
Sarwono dan diikuti oleh beberapa orang prajurit pengawalnya, berangkatlah Adipati Kalang
ke Gunung Cilik.
Nun di kejauhan, dari puncak Gunung Cilik terlihat ada tiga orang tengah menuju
padepokan Resi Winadi. Tiga orang itu tidak lain adalah Adipati Kalang, Cantrik Sarwo, dan
Cantrik Sarwono. Adipati Kalang berjalan dengan cara jongkok, sedangkan Cantrik Sarwo
dan Sarwono berjalan biasa. Setelah sampai di padepokan, Adipati Kalang disambut oleh
Resi Winadi. Namun, seperti syarat yang telah diberikan, Adipati Kalang tidak diperkenankan
melihat wajah sang Resi.
Setelah jarak mereka begitu dekat, hingga beberapa waktu lamanya Adipati Kalang
terlihat menyembah Resi Winadi. Setelah cukup lama Resi Winadi menyuruh Adipati Kalang
untuk menengadah, melihat wajah sang Resi. Betapa kagetnya Adipati Kalang setelah tahu
siapa jati diri Resi Winadi yang tidak lain adalah Rara Kembang Sore.
"Ah, kau rupanya Rara Kembang Sore,” seru Adipati Kalang terkejut, marah, dan malu.
“Benar, Adipati. Kau masih ingat aku?”
"Kau...kau masih hidup?”
"Seperti yang Adipati lihat. Apakah Adipati menyesal tidak membunuhku juga saat itu?”
151
”Kau...kau...apa maksud semua ini?”
"Adipati pikir apa maksudku? Apakah Adipati masih ingat Pangeran Lembu Peteng?”
kata Rara Kembang Sore penuh kemenangan.
”Ya...Adipati dendam Pangeran Lembu Peteng. Aku sedang membayar kematian
Lembu Peteng, kekasihku,"
Adipati Kalang benar-benar dipermalukan oleh Rara Kembang Sore. Ia sana sekali
tidak menyangka bahwa Rara Kembang Sore masih hidup, apalagi menjadi seorang Resi
yang sakti. Wibawanya sebagai seorang adipati dan sebagai seorang laki-laki seketika hancur
oleh kekalahannya dalam menghadapi Rara Kembang Sore. Ia menyesali kesombongan dan
keserakahannya di masa lalu. Akan tetapi, semua itu kini seperti tidak ada gunanya lagi.
Semua kejahatannya di masa lalu terbongkar. Ia tidak hanya akan kehilangan jabatan
adipatinya, tetapi akan dipermalukan di depan rakyatnya. Saksi kejahatannya di masa lalu kini
ada di hadapannya dan kesaktiannya lebih tinggi. Ia tidak mungkin dapat menghabisinya
seperti dulu ia membunuh Lembu Peteng. Kini, nasibnya benar-benar di ujung tanduk. Di
ujung keris dan diujung lidah Rara Kembang Sore.
”Ampun, Rara Kembang Sore. Aku mengaku bersalah,” kata Adipati Kalang sambil
berlutut memohon dan menahan rasa malunya di hadapan cantrik Rara Kembang Sore.
”Ampun? Hah! Semudah itukah kau akan menghapus kejahatanmu?”
”Tolonglah, tolonglah...aku akan menebus kesalahanku.”
"Bagaimana caranya? Apakah kau bisa menghidupkan Pangeran Lembu Peteng? Apa
kau bisa?”
...ti...tidak. Tapi, kau...ambillah seluruh harta kekayaanku...ambillah... .”"
"Kau...kau.,.kau pikir nyawa Pangeran Lembu Peteng bisa kautukar dengan harta. Tidak,
Adipati! Aku akan melaporkanmu pada raja. Biar seluruh rakyat tahu, Sa sebenarnya
dirimu,” kata Rara Kembang Sore dengan marah.
Meskipun Adipati Kalang berlutut dan memohon ampun berkali kali, Rara Kembang
Sore tidak luluh. Sebagai manusia, Rara Kembang Sore memaafkan perbuatan Adipati
Kalang. Tetapi, kejahatannya tetap harus dilaporkan dan diberi hukuman sesuai dengan aturan
yang berlaku.
Dari pertemuan Adipati Kalang dan Resi Winadi, Sarwo dan Sarwono akhirnya tahu
bahwa Resi Winadi adalah Rara Kembang Sore yang sangat terkenal. Mereka juga akhirnya
tahu mengapa Resi Winadi menyuruhnya mengadu kesaktian kerisnya dengan pusaka
Adipati Kalang. Hal itu dilakukan Rara Kembang Sore sebagai balasan atas tindakan Adipati
Kalang yang telah membunuh Pangeran Lembu Peteng.
152
Story DNA
Moral
Even if forgiveness is granted personally, justice must still be served for crimes committed.
Plot Summary
Rara Kembang Sore's beloved, Pangeran Lembu Peteng, is murdered by the jealous Adipati Kalang. Rara Kembang Sore escapes and transforms into the powerful hermit Resi Winadi, meticulously planning her revenge. She challenges Adipati Kalang to a humiliating keris duel, which he loses, forcing him to crawl to her hermitage. Upon revealing her true identity, Rara Kembang Sore confronts a shocked and humiliated Adipati Kalang, refusing his pleas for forgiveness and vowing to report his crime to the king for official justice.
Themes
Emotional Arc
suffering to triumph
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story references the Majapahit kingdom, suggesting a setting rooted in ancient Javanese history and mythology, where keris held significant cultural and spiritual importance.
Plot Beats (15)
- Pangeran Lembu Peteng and Rara Kembang Sore are in love, but Adipati Kalang also wants Rara Kembang Sore.
- Rara Kembang Sore rejects Adipati Kalang, who, in a rage, murders Pangeran Lembu Peteng with the help of Kiai Kasanbesari.
- Rara Kembang Sore, witnessing her lover's death, uses her limited magic to escape Adipati Kalang and becomes a hermit named Resi Winadi on Gunung Cilik.
- Resi Winadi gains fame as a powerful healer and keris maker, known even in the royal city.
- Resi Winadi instructs her servants, Sarwo and Sarwono, to challenge Adipati Kalang to a keris duel, with specific conditions for victory and defeat.
- The conditions include the loser walking to Gunung Cilik on their knees and not looking at Resi Winadi until permitted, with the winner's keris being able to fell a banyan tree.
- Sarwo and Sarwono deliver the challenge to Adipati Kalang, who, despite not knowing Resi Winadi, accepts due to his pride in his own keris.
- Adipati Kalang's keris fails to fell the banyan tree, while Resi Winadi's keris succeeds, forcing Adipati Kalang to accept defeat and fulfill the humiliating journey.
- Adipati Kalang, accompanied by Sarwo and Sarwono, travels to Gunung Cilik on his knees.
- Upon arrival, Adipati Kalang bows before Resi Winadi, still forbidden to look at her face.
- Resi Winadi finally permits Adipati Kalang to look up, revealing herself as Rara Kembang Sore.
- Rara Kembang Sore confronts Adipati Kalang, reminding him of Pangeran Lembu Peteng's murder and revealing her elaborate plan for revenge.
- Adipati Kalang is utterly humiliated and begs for forgiveness, offering his wealth as atonement.
- Rara Kembang Sore rejects his pleas, stating that Pangeran Lembu Peteng's life cannot be bought and that she will report Adipati Kalang to the king for his crimes.
- Sarwo and Sarwono finally understand Resi Winadi's true identity and the motive behind the keris challenge.
Characters
Rara Kembang Sore
Beautiful and enchanting
Attire: Initially, likely traditional Javanese noble attire; later, simple ascetic robes as Resi Winadi.
Resilient, intelligent, vengeful, strategic, powerful.
Pangeran Lembu Peteng
Handsome prince from Majapahit kingdom.
Attire: Traditional Javanese princely attire, likely with rich fabrics and accessories.
Brave, loving, somewhat naive.
Adipati Kalang
None explicitly stated, but implied to be a powerful and imposing figure.
Attire: Traditional Javanese noble attire, befitting an Adipati (Duke), likely with a keris.
Arrogant, vengeful, greedy, easily angered, overconfident, ultimately humiliated.
Kiai Kasanbesari
None explicitly stated.
Attire: Traditional Javanese attire, possibly indicating a spiritual or scholarly role, or simply a loyal follower of Adipati Kalang.
Loyal, aggressive, subservient to Adipati Kalang.
Sarwo
None explicitly stated.
Attire: Simple cantrik (disciple/servant) attire, likely practical for travel.
Loyal, obedient, curious, slightly less confident than Sarwono.
Sarwono
None explicitly stated.
Attire: Simple cantrik (disciple/servant) attire, likely practical for travel.
Loyal, obedient, pragmatic, slightly more assertive than Sarwo.
Locations
A secluded spot (implied)
A place where Pangeran Lembu Peteng and Rara Kembang Sore were together, likely romantic and private, before being interrupted.
Mood: Romantic and peaceful, suddenly turning tense and dangerous.
Pangeran Lembu Peteng and Rara Kembang Sore are confronted by Adipati Kalang and Kiai Kasanbesari, leading to Pangeran Lembu Peteng's death.
Gunung Cilik (Small Mountain)
A mountain where Rara Kembang Sore flees and becomes a hermit. Later, it becomes the location of Resi Winadi's hermitage/padepokan.
Mood: Secluded, spiritual, a place of transformation and power.
Rara Kembang Sore transforms into Resi Winadi here. Later, Adipati Kalang is brought here to face Resi Winadi and realize her true identity.
Kadipaten Betak (Betak Duchy)
The residence of Adipati Kalang, specifically the pendopo (open pavilion) where guests are received.
Mood: Formal, authoritative, initially unwelcoming to the cantriks.
Sarwo and Sarwono deliver Resi Winadi's challenge to Adipati Kalang here.
Alun-alun (Town Square) of Kadipaten Betak
A large open public space in the center of the duchy, featuring a prominent banyan tree.
Mood: Public, ceremonial, a place for demonstrations of power.
The keris (dagger) duel between Adipati Kalang's and Resi Winadi's weapons takes place here, with Resi Winadi's keris proving superior by felling the banyan tree.