Sekepel

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

fairy tale overcoming the monster hopeful Ages 5-10 1595 words 7 min read
Cover: Sekepel
Original Story 1595 words · 7 min read

Sekepel

ada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang sangat miskin. Ia tinggal di sebuah

gubug reyot di pinggir hutan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mbok Randa,

demikian sebutan janda itu, berjualan daun-daunan dan buah-buahan hasil hutan.

Janda itu hanya ditemani anak perempuan semata wayangnya bernama Sekepel. Ia diberi

nama Sekepel karena tubuhnya hanya sekepalan tangan orang dewasa.

Setiap akan berangkat ke pasar, Mbok Randa selalu berpesan kepada Sekepel agar

berhati-hati terhadap kedatangan Yai Buto Ijo. Yai Buto Ijo adalah raksasa penghuni goa'di

hutan belantara dekat rumah Mbok Randa. Selama ini, sudah puluhan orang warga desa dan

puluhan binatang ternak raib dimakan raksasa itu.

“Nduk Sekepel...” kata Mbok Randa suatu hari.

“Ada apa, Mbok?" tanya Sekepel tak berkedip. Matanya yang bulat seperti kancing baju

yang paling kecil.

“Mbok sedih karena setiap hari harus meninggalkanmu sendirian.”

“Tidak apa-apa, Mbok.”

“Kata pakde penyabit rumput, Yai Buto Ijo terus berkeliaran mencari

mmangsa...bagaimana kalau dia sampai ke gubuk in...” Pandangan mata Mbok Randa

menerawang,

Sekepel tertegun sejenak, kemudian katanya, “Sudahlah Mbok, si Mbok jangan

bersedih."

“Iya, Nduk. Tapi, bagaimana kalau Yai Buto Ijo membawamu. Kamu anak Mbok satu-

satunya. Mbok bingung. Apa Mbok tidak usah pergi saja ya?” '

“Jangan, Mbok. Kalau Mbok tidak ke pasar, kita makan apa? Tenanglah Mbok, Sakepel

akan menjaga diri baik-baik. Mbok tak perlu cemas.”

“Bagaimana kau akan melawan raksasa, Nduk, sedangkan tubuhmu hanya sekepalan

tangan Mbok. Oh, Sekepel....”"

“Mbok kan selalu bilang bahwa hidup dan mati itu milik Gusti Akarya Jagad, Tuhan

Yang Maha Esa. Jadi, kita pasrah saja pada Yang Punya Hidup dan Mati ini, Mbok.”

“Oh anakku Sekepel...Mbok bangga menerima amanat Tuhan untuk membesarkan dan

merawatmu. Walaupun tubuhmu hanya segenggaman tangan, hatimu sungguh besar."

Mata Mbok Randa berkaca-kaca. Kedua tangannya membelai tubuh Sekepel yang

mengenakan baju dari kam perca. “Baiklah, Nduk. Mbok akan pasrah pada Gusti Akarya

Jagad untuk menjagamu. Tapi, kau juga harus hati-hati ya. Selagi Mbok ke pasar, kau jangan

pergi ke hutan. Tinggalah di rumah saja dan kunci pintunya dari dalam. Jika ada orang yang

tidak kau kenal datang, jangan dibukakan pintu ya. Mbok tidak akan lama di pasar,” kata

Mbok Randa memberi pesan.

Setiap kali hendak ke pasar, Mbok Randa tidak bosan-bosannya mengulang pesan itu

pada Sekepel. Sekepel selalu menuruti pesan mboknya hingga suatu hari Sekepel melanggar

pesan itu.

87

Ketika itu, Mbok Randa sedang ke pasar. Suasana di luar gubuk mendadak ramai oleh

suara orang berlarian lintang pukang sambil menjerit-jerit dan berteriak-teriak. Sekepel

mengintip dari balik anyaman bambu gubuknya yang sudah banyak berlubang. Ia ingin tahu

apa yang terjadi di luar dan mengapa terjadi keributan. Sekepel melihat penduduk

kampungnya berlarian dengan wajah: ketakutan. Dari anak-anak hingga orang tua

menunjukkan ekspresi wajah yang sama. Anak-anak menangis ketakutan dan orang-orang tua

tampak ketakutan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, sekepel pun melanggar pesan mboknya.

Pelan-pelan dia membuka pintu gubuknya dan berlari mengejar seorang kakek tua yang

sedang berlari sambil membawa temaknya.

“Wak...Wak...Ada apa, Wak?" tanya Sekepel.

“Anu...Eh, Nduk, cepat bersembunyi. Cepat....cepat....”"

“Tapi...ada apa, Wak? Kenapa harus bersembunyi?”

“Yai Buto Ijo, Nduk. Nyai Buto Ijo...cepat sembunyi...kalau tidak, kau akan dimakan!”

kata kakek itu sambil berlari ke arah lubang di belakang gundukan tanah yang rimbun oleh

pohonan.

Sekepel bimbang hatinya. Sudah lama dia mendengar cerita tentang Yai Buto Ijo yang

membuat resah warga. Bahkan, kini mereka berlari ketakutan. Sekepel ingin melakukan

sesuatu untuk menyelamatkan warga desa dari ancaman raksasa Ia berusaha keras

memikirkan caranya sambil melihat orang-orang yang terus berlarian menjauh dari pinggiran

hutan. Tiba-tiba Sekepel tersenyum sendirian. Ia telah menemukan akal untuk menghadapi

raksasa itu. Ia tak akan lari seperti yang lain.

Sekepel segera menyongsong kedatangan raksasa “berbadan hijau. Ia tidak kesulitan

karena raksasa itu sedang mencari-cari santapan di kandang-kandang temak yang

ditinggalkan pemiliknya.

”Oooiii, Oooiii, heeeiii Yai Buto Ijo..!” teriak Sekepel.

”Ggrrh...!” Raksasa itu menggeram ganas, bau mulutnya yang anyir memenuhi seluruh

desa.

"Oooiii Yai Buto Ijo! Aku Sekepel dari desa ini. Jangan kaumakan ternak-temak itu,

kasihan yang punya,” kata Sekepel berusaha teriak kencang agar terdengar oleh Yai Buto Ijo.

“Ho...ho...ho...! Kau, slilit...apa kau bilang, Sekepel? Kau melarangku makan ternak ini?

Ha ha ha ha ha...kalau begitu kau saja yang kumakan ya... Ggrrh...! Ggrmh...! Ggmh...!

Ggrrrh...!” Raksasa bernama Yai Buto Ijo menggeram memperlihatkan taring-taringnya yang

runcing dan bengis.

"Iya...iya Yai Buto Ijo. Kaumakan aku saja. Jangan ganggu ternak-ternak warga, kasihan

“Ggrah...! 'Ggmb..! Ggmb...! Ggm..! Apa kau bilang, Sekepel? Slilir

sepertimu...Ggrmh...! Ggrmh...! Ggrmh...! Ggmmh...! Tidak akan membuatku kenyang."

”Tubuhku memang kecil, tapi dagingku sangat enak."

"Ggrmh...! Ggroh...! Ggrrh...! Ggrmh...! Hhhwwwuuuussss...coba...,” kata Yai Buto Ijo

sambil meraih Sekepel dengan cepat.

Sebelum jari-jari tangan Yai Buto Ijo menyentuhnya, Sekepel menghindar secepat kilat.

Tubuhnya yang kecil memudahkannya berkelit dan melesat di sela-sela jari jemari Yai Buto

Tjo.

88

"Eeeeciiiiiiittttttt, tunggu dulu.” Setelah terlepas, Sekepel lantas mengajukan syarat.

"Kau boleh memakan tubuhku asalkan kau bisa menemukanku dalam permainan petak

umpet. Bagaimana?" tanya Sekepel memberanikan diri.

"Ggmb...! Ggmb..! Ggmh..! Ggmh..!Ggrmh..! Ggmb..! Gemb..! Gemh..!

Ho...ho...ho..! Kalau hanya itu syaratnya....kecil! Dasar slilit, aku pasti akan menyantapmu.

.! Ggmh..! Ggmb..! Ggmh...! Ggmb...! Ggmh...! Ggmb...! Aku

Permainan pun dimulai Sekepel bergegas ke pengapit atau bagian dari dipan bambu.

”Sekepel..!” Yai Buto Ijo memanggil.

”Kuk!” jawab Sekepel singkat.

”Sekepel..!” panggil raksasa itu lagi.

”Kuk!” hanya itu jawaban Sekepel.

Akhirnya tidak terasa permainan itu berlangsung sampai sore. Yai Buto (jo pun

menyerah kalah.

Baiklah Sekepel, aku mengaku kalah hari ini. Ggrrh...!” raksasa itu terlihat loyo tak bertenaga.

”He...he..he..! Yai Buto Ijo matanya dua tidak tahu saya...” Sekepel bersenandung

mengejek.

"Tadi kau sembunyi di mana, Sekepel? Ggrmh...! Ggrmh...! Ggmh...! Ggmmh...! Slilit

sepertimu...Ggrmh...! Ggrmb...! Ggrmh...! Ggrmb...!?!" tanya Yai Buto Ijo heran.

"Ha ha ha ha....kau tidak tahu ya. Tadi aku bersembunyi di pengapit dipan.” Sekepel

menjelaskan,

“Ggmnh...! Ggrmh...! Ggomb..! Ggrmh...! Apa kau bilang, Sekepel? Kau memang slilit

.Ggr...! ..! Ggmh...! Ggrmh...! Baiklah Sekepel, kamu boleh senang karena aku

kalah hari ini. Tetapi tidak untuk besok pagi.” Raksasa itu mencoba mengancam. Tanpa

melihat ke arah Sekepel, ia kembali ke goa dalam hutan belantara.

Malamnya, Sekepel menceritakan kejadian yang dialaminya sepanjang siang itu kepada .

Mbok Randa. .

“Aduh anakku, Sekepel. Kenapa kamu melanggar pesan Mbok?"

”Tapi....Mbok, kasihan orang-orang. Sekepel kan ingin membantu mereka."

"Tya, Mbok mengerti maksud baikmu. Mbok senang kamu peduli pada penderitaan

orang lain. Tapi....raksasa itu bukan lawanmu, Nduk!"

"Mbok tenang saja. Yai Buto Ijo itu hanya besar tubuhnya, tapi belum tentu banyak

akalnya. Buktinya tadi, Sekepel bisa mengalahkannya!"”

”Aduh, Sekepel. Bagaimana ini. Mbok takut. Yai Buto Ijo itu sangat licik. Ja tidak segan

melukai orang yang dianggap musuhnya.” Mbok Randa gelisah.

"Mbok jangan khawatir! Aku akan tetap berhati-hati.” Sekepel kembali menenangkan

mboknya.

Malam beranjak terus. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit hitam. Cahayanya

bak mutiara yang berkilauan. Suasana sunyi senyap, hanya sesekali terdengar suara binatang

hutan mengaum atau suara jangkrik berderik. Di dalam gubuk bambunya yang reyot, Mbok

Randa tidur lelap bersama Sekepel. Sekepel tidur di antara lipatan ketiak mboknya yang

hangat. Sepanjang malam itu tidak terjadi apa-apa sehingga Mbok Randa dan Sekepel serta

penduduk kampung pinggiran hutan itu bisa beristirahat dengan tenang.

89

Keesokan harinya raksasa itu segera menghampiri rumah Mbok Randa. Ia penasaran

karena telah dikalahkan seorang anak kerdil.

“Ggmmh..! Ggmh...! Ggmh..! Ggmh..!Ggmb..! Ggmb..! Ggmb..! Ggmb..!

Gem... .! Ggmmb.. ! Gem. Ayo kta mula lagi obak delikan. Gmtih,. 1” raksasa itu berkacak

pinggang di depan halaman gubuk Mbok Randa. Dengan ujung jempol kakinya, raksasa itu

sebenarnya dapat menghancurkan gubuk Mbok Randa beserta isinya.

“Baik Yai Buto Ijo. Siapa takut?!” kata Sekepel ringan.

Permainan dilanjutkan. Raksasa itu segera menuju pengapit dipan, tetapi ia tidak

menemukan Sekepel di sana. Seharian penuh mencari, akhirnya ia dihinggapi keputusasaan.

Gemb..! Ggmb..! Ggmb..! Ggmh..!

Sekepel pun Lam keluar dari pesembinyian sambil bersenandung, "Yai Buto Ijo

matanya dua tidak tahu saya.”

”Sekepel, tadi kamu bersembunyi di mana?!” Yai Buto Ijo menatap geram.

“Di dekat genuk!” (istilah yang dipakai di Jombang untuk menyebut tempayan besar dari

tembikar)

“Baiklah Sekepel, kali ini aku masih bisa kamu kalahkan. Tapi tidak untuk besok pagi."

Raksasa itu pulang dengan langkah gontai. —

Seperti hari sebelumnya, raksasa itu kembali menemui Sekepel. Permainan pun

dilanjutkan.

Malang tak dapat ditolak mujur pun tak dapat diraih. Di hari ketiga, permainan delikan

ini berhasil dimenangkan Yai Buto Ijo. Sekepel berhasil ditemukan Yai Buto Ijo. Itu artinya

Sekepel harus siap menjadi santapan raksasa,

Ho...ho...ho...! Bukan ukuran badanmu yang membuatku kenyang. Tapi kemenanganku

dalam obak delikan itu yang harus dirayakan. Bagaimana Sekepel, apa kamu sudah siap!?”

tanya Yai Buto Ijo.

“Yai Buto Ijo, aku siap kamu telan kapan pun. Hari ini pun kamu boleh menelanku.”

Sekepel berkata cukup tenang. Di balik ketenangannya itu, ternyata ia memiliki rencana.

”Ggmb...! Ggmb..! Ggrmh...! Ggmh..!Ggmb..! Ggmh..! Ggmh..! Ggmt...!

Ggrmh...! Ggrmh...! Ggrmh...! Ggmh...! Ggrrb...! Ggroh...! Ggrmh...! Ggrreh...!Ho...ho...ho..!

Bersiaplah Sekepel..!" dengan sekali tegukan tubuh Sekepel lenyap di kegelapan perut

raksasa,

Tetapi apa yang diperbuat Sekepel di dalam perut raksasa Yai Buto Ijo? Ternyata

Sekepel segera mengeluarkan pisau dapur milik Mboknya yang sudah diasahnya berhari-hari.

Dengan pisau itulah Sekepel merobek-robek perut Yai Buto Ijo. Akhirnya raksasa itu tewas

mengenaskan,

Seisi desa bersuka cita menyambut kemenangan Sekepel. Atas ide para tetua kampung,

akhirnya daging Yai Buto Ijo dimasak menggunakan bumbu yang cukup lezat. Masakan itu

segera diantar ke tempat persembunyian Nyai Buto Ijo atau istri Yai Buto Ijo. Konon dengan

jalan itu Nyai Buto Ijo dapat dikalahkan.

Singkat cerita Nyai Buto Ijo makan daging suaminya dengan sangat lahap.

90

Sekepel segera memimpin nyanyian diikuti seluruh penduduk desa, "Nyai Buto Ijo

matanya dua memakan daging suaminya..!" Nyanyian itu terus diulang-ulang.

Mendengar nyanyian penduduk desa yang dipimpin Sekepel serta merta tubuh Nyai

Buto Ijo limbung dan jatuh tersungkur di pintu goa menimbulkan ledakan cukup keras. Nyai

Buto Ijo mati menyusul suaminya.

Pesta pun digelar warga desa sebagai wujud rasa syukur atas perjuangan Sekepel. Desa

itu kembali hidup tenang dan damai.

»


Story DNA

Moral

Even the smallest and most vulnerable can overcome great evil through courage and cleverness.

Plot Summary

A tiny girl named Sekepel lives with her poor mother, constantly warned about the man-eating giant Yai Buto Ijo. When the giant attacks their village, Sekepel bravely confronts him, challenging him to a game of hide-and-seek. After winning two rounds, she is eventually found and swallowed by the giant. However, Sekepel uses a hidden knife to cut her way out, killing Yai Buto Ijo. The villagers celebrate, and Sekepel then leads them in tricking Yai Buto Ijo's wife, Nyai Buto Ijo, into unwittingly eating her husband's flesh, leading to her demise and bringing peace to the village.

Themes

courageresourcefulnessprotection of communitythe power of the weak

Emotional Arc

fear to triumph

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate
Techniques: repetition of monster's growl, hero's taunting song

Narrative Elements

Conflict: person vs supernatural
Ending: moral justice
Magic: man-eating giant (Yai Buto Ijo), giant's wife (Nyai Buto Ijo)
Sekepel's small size (symbolizing the power of the weak)the hidden knife (symbolizing preparedness and hidden strength)

Cultural Context

Origin: Indonesian (specifically Balai Bahasa Surabaya, suggesting Javanese/East Javanese influence)
Era: timeless fairy tale

The story reflects traditional Indonesian village life, the importance of community, and common folklore figures like the 'Buto Ijo' giant, often depicted as a fearsome but sometimes outwitted antagonist.

Plot Beats (15)

  1. Mbok Randa, a poor widow, lives with her tiny daughter Sekepel, constantly warning her about the dangerous giant Yai Buto Ijo.
  2. One day, while Mbok Randa is at the market, Yai Buto Ijo attacks the village, causing widespread panic.
  3. Sekepel, despite her mother's warnings, leaves her house to confront the giant and protect her community.
  4. Sekepel challenges Yai Buto Ijo to a game of hide-and-seek, offering herself as food if he wins, to save the village's livestock.
  5. Sekepel wins the first day by hiding in a bamboo bed frame, taunting the giant.
  6. Sekepel wins the second day by hiding near a large earthenware jar, further frustrating Yai Buto Ijo.
  7. Sekepel tells her mother about her encounters, reassuring her despite her mother's fears.
  8. On the third day, Yai Buto Ijo finally finds Sekepel and prepares to swallow her whole.
  9. Sekepel, having a plan, calmly allows herself to be swallowed by the giant.
  10. Inside Yai Buto Ijo's stomach, Sekepel uses a sharpened kitchen knife to cut her way out, killing the giant.
  11. The villagers rejoice and, on the advice of elders, cook Yai Buto Ijo's flesh.
  12. They deliver the cooked flesh to Nyai Buto Ijo, Yai Buto Ijo's wife, who devours it unknowingly.
  13. Sekepel leads the villagers in a taunting song, revealing to Nyai Buto Ijo that she has eaten her husband.
  14. Nyai Buto Ijo collapses and dies upon realizing the truth, bringing an end to the giant threat.
  15. The village celebrates Sekepel's heroism and lives in peace.

Characters

👤

Sekepel

human child female

Extremely small, her entire body is only the size of an adult's fist. Despite her diminutive size, she is agile and quick. Her overall build is tiny and compact.

Attire: Simple, patched clothing made from 'kain perca' (fabric scraps), indicating extreme poverty. This would be a basic, loose-fitting garment, perhaps a simple tunic or dress, in muted, earthy tones from various fabric remnants.

Wants: To protect her mother and the villagers from Yai Buto Ijo, and to ensure their safety and well-being.

Flaw: Her extremely small physical size makes her vulnerable to larger threats, though she often turns this into an advantage.

Sekepel transforms from a dutiful child who obeys her mother's warnings into a courageous hero who defies expectations and saves her entire village through her intelligence and bravery. She learns to trust her own ingenuity.

Her incredibly tiny stature, no bigger than an adult's fist, making her appear doll-like next to normal humans.

Brave, clever, compassionate, determined, and resourceful. She shows great concern for her community and is willing to face danger for others.

👤

Mbok Randa

human adult female

A poor widow, her body likely shows signs of hardship and labor from selling forest produce. Her build would be slender due to poverty, but her hands might be calloused from work. Height is average for an Indonesian woman.

Attire: Very simple, worn traditional Indonesian peasant clothing, such as a faded batik sarong and a plain, loose-fitting kebaya or blouse made of coarse cotton, in muted colors. Her clothes would show signs of mending.

Wants: To provide for herself and Sekepel, and to keep her only daughter safe from harm.

Flaw: Her overwhelming fear for Sekepel's safety often makes her anxious and hesitant.

She begins as a fearful and overprotective mother, but by the end, she finds pride and relief in Sekepel's bravery, though her worries likely persist.

Her worried expression and the simple, patched traditional Indonesian peasant clothing she wears.

Loving, worried, protective, devout, and hardworking. She is deeply concerned for Sekepel's safety and relies on faith to cope with her difficult life.

✦

Yai Buto Ijo

magical creature ageless male

A massive, green-bodied giant, implied to be incredibly strong and destructive. His size is so immense that he can destroy a hut with his toe. His body is likely muscular and imposing.

Attire: No specific clothing is mentioned, implying he might wear minimal attire or simply be covered by his green skin. If any, it would be rudimentary, perhaps a loincloth or simple wrap made of rough material, reflecting his wild nature.

Wants: To satisfy his hunger by eating villagers and livestock, and to assert his dominance over the forest and its inhabitants.

Flaw: His arrogance, lack of intelligence, and inability to find Sekepel due to her small size and clever hiding spots. He is easily outsmarted.

He begins as a terrifying, unchallenged predator but is repeatedly humiliated and outsmarted by Sekepel. His arrogance leads to his downfall and death.

His massive, green-skinned body with sharp fangs and a perpetually angry, growling expression.

Cruel, gluttonous, arrogant, easily frustrated, and initially overconfident. He is a predator who enjoys terrorizing villagers and eating their livestock.

✦

Nyai Buto Ijo

magical creature ageless female

A female giant, implied to be similar in size and appearance to Yai Buto Ijo, but female. Her body would be large and imposing. She is described as having two eyes.

Attire: No specific clothing is mentioned, but she would likely wear rudimentary attire, perhaps a simple, large wrap or dress made of rough material, reflecting her wild nature.

Wants: To satisfy her hunger.

Flaw: Her gluttony and gullibility, which lead her to unknowingly consume her husband's flesh and then die from the shock of the revelation.

She is introduced as a secondary threat and quickly defeated through a clever trick, dying after unknowingly eating her husband's flesh.

Her massive, green-skinned body, similar to her husband, but with feminine features, collapsing dramatically at the mouth of her cave.

Gluttonous, easily tricked, and likely as cruel as her husband. Her primary action is to consume the meat given to her without question.

Locations

Mbok Randa's Dilapidated Hut

indoor Implied tropical climate, likely warm and humid.

A very poor, rickety hut made of woven bamboo, with many holes in its walls. It's located at the edge of a dense forest.

Mood: Humble, precarious, but also a place of warmth and familial love, despite the constant threat of Yai Buto Ijo.

Sekepel lives here with her mother; it's where Mbok Randa gives warnings, Sekepel sleeps, and Yai Buto Ijo confronts Sekepel on the second and third day.

woven bamboo walls with holes dilapidated structure small size bamboo sleeping mat (dipan bambu) kitchen knife large earthenware jar (genuk)

The Forest Edge and Village Outskirts

transitional daytime Implied tropical climate, likely warm and humid.

The area where the dense forest meets the village, characterized by scattered livestock pens and a path where villagers flee in terror. It's a place of sudden chaos and confrontation.

Mood: Initially peaceful, then abruptly chaotic, fearful, and tense due to the raksasa's presence.

Villagers flee from Yai Buto Ijo here, and Sekepel confronts the raksasa for the first time, initiating their game of hide-and-seek.

dense tropical forest village path livestock pens (empty or abandoned) fleeing villagers gundukan tanah (mound of earth) with dense trees

Yai Buto Ijo's Cave in the Deep Forest

indoor night Implied tropical climate, likely humid.

A dark, ominous cave deep within the dense, wild forest, serving as the raksasa's lair. It's a place of fear and danger.

Mood: Eerie, dangerous, foreboding, and later, a place of grim celebration.

Yai Buto Ijo retreats here after his defeats. Later, Nyai Buto Ijo consumes her husband's flesh here and is ultimately defeated at its entrance.

dark cave entrance dense jungle vegetation around the entrance rocky interior Nyai Buto Ijo (female raksasa)