Terjadinya Telaga Ranu Grati
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Terjadinya Telaga Ranu Grati
Ikisah, pada zaman dahulu kala ada sebuah desa bernama Ranu Klindungan. Desa itu
dikelilingi hutan lebat karena pada waktu itu belum banyak daerah permukiman
penduduk. Tanah Jawa masih berupa hutan belantara. Desa Klindungan itu aman,
tenteram, dan damai. Tanahnya yang subur menghasilkan banyak bahan makanan untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari, seperti padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-mayur. Ikan
untuk lauk dapat mereka peroleh di sungai-sungai yang ada di sekitar desa. Adapun daging
untuk lauk pauk mereka dapatkan dengan cara berburu binatang, seperti kelinci, rusa, dan
ayam hutan. Dengan keadaan seperti itu, Desa Ranu Klindungan menjadi desa yang makmur
karena kebutuhan hidupnya telah dicukupi oleh alam. Sebagai perwujudan rasa syukur, setiap
tahun masyarakat Desa Ranu Klindungan selalu mengadakan selamatan desa. Sesuai dengan
adat yang berlaku pada desa tersebut, upacara selamatan desa selalu menggunakan daging.
Daging diperoleh dengan cara berburu di dalam hutan.
Pada suatu hari Ki Wongsopati menemui Ki Demang Ranu Klindungan untuk
mengingatkan Ki Demang agar segera mengadakan upacara selamatan desa karena tahun itu
mereka belum melaksanakan tradisi desa itu. Ki Wongsopati khawatir Ki Demang
Klindungan lupa. Ki Demang Klindungan adalah kepala desa, sedangkan Ki Wongsopati
adalah tetua desa atau penasihat desa karena kebijaksanaan dan ilmunya. Setelah disepakati
hari yang ditentukan, Ki Demang Klindungan segera mengumumkan pelaksanaan hari
upacara selamatan desa itu. Sebagaimana biasa, untuk keperluan upacara digunakan daging
binatang.
Oleh karena itu, keesokan harinya, hampir seluruh laki-laki warga Desa Ranu
Klindungan itu pergi ke hutan untuk berburu, tidak terkecuali seorang kakek buta bernama Ki
Kerti. Dengan berbekal sebuah pisau, Ki Kerti berjalan mengikuti warga desa lainnya masuk
ke dalam hutan. Karena buta, tidak lama kemudian Ki Kerti pun tertinggal dan terpisah dari
rombongan. Merasa tak mampu lagi melanjutkan perjalanan ke dalam hutan yang kian lebat
dan banyak penghalang semak belukar, Ki Kerti memutuskan berhenti saja menunggu warga
yang lain pulang agar tidak semakin tersesat. Dengan meraba-raba tempat sekelilingnya, Ki
Kerti merasakan ada sebuah batang pohon rebah di tanah. Ia pun segera duduk untuk melepas
lelah. Belum lagi enak duduknya, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.
”Kek, aku tahu Kakek tidak dapat melihat."
“Si...si...apa kau?” tanya Ki Rati sambil tangannya menggapai-gapai.
"Tidak penting siapa aku, Kek. Apakah Kakek ingin dapat melihat?” tanya suara itu lagi.
”Ten...ten...tentu saja ingin. Alangkah senangnya dapat melihat. Ta...ta..pi bagaimana
bisa. Kakek sudah begini sejak lahir.”
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Kek. Aku dapat membantu Kakek asalkan
Kakek berjanji tidak akan menceritakan keberadaanku ini pada siapa pun. Aku sedang
bertapa, tidak ingin terganggu."
51
"Ba...ba...baiklah. Ka...ka...kakek berjanji,” kata Ki Reti masih tergagap karena terkejut
dan hampir tidak memercayai pendengarannya. Tangannya tetap menggapai-gapai, tetapi
tidak ada apa pun di depannya,
“Kakek membawa pisau, kan? Coba goreskan pisau itu ke tempat yang Kakek duduki.
Oleskan cairan yang keluar dari goresan itu ke mata Kakek.”
Setengah tidak percaya, Ki Reti meraba-raba tempat yang diduduki kemudian
menggoreskan pisaunya, Seperti kata suara itu, dari goresan itu terasa ada cairan kental yang
keluar. Dengan cepat, Ki Reti mengoleskan cairan itu. Mata Ki Reti tiba-tiba dapat melihat.
Seketika pandangannya mengitari tempat itu. Alangkah terkejut saat mendekati dan menyibak
dedaunan di atas batang yang diduduki itu karena ternyata adalah tubuh seekor ular yang
sangat besar. Kepalanya terlindung di balik rimbun pepohonan yang rebah. Ki Kerti pun
segera menjauh.
”Kek, jangan takut. Namaku Joko Baru. Sebelum pergi, ingatlah janji Kakek.”
“Ba...ba...baik, Joko Baru. Terima kasih. Aku pergi,” kata Kakek seraya berlari karena
takut.
Sesampai di desa, orang-orang pun terkejut melihat Ki Kerti yang sudah terkenal buta
sejak lahir ternyata dapat melihat. Karena gembiranya, Ki Kerti lupa pada janjinya. Ia
menceritakan semua yang dialaminya kepada Ki Demang Ranu Klindungan. Ki Demang
sangat senang mendengar ada ular besar, pikirnya bisa dijadikan santapan pesta.
"Ki, di mana ular itu?” tanya Ki Demang Ranu Klindungan tidak sabar.
"Di hutan sebelah Timur, Ki Demang. Dekat pohon besar yang roboh,” kata Ki Reti
sambil menunjuk ke arah hutan di sebelah timur desa.
Setelah berkata itu, mata Ki Reti tiba-tiba mengatup kembali. Ki Reti merasakan dunia
sekelilingnya gelap kembali. Ia mengucek-ucek matanya, tetapi, tetap saja tidak dapat
membuka, apalagi melihat. Ki Reti teringat janjinya pada Joko Baru. Ia sadar telah
mengingkari janjinya, tetapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Ki Demang bertanya
kepada Ki Reti mengapa menjadi buta kembali. Ki Reti pun menceritakan bahwa ia sudah
melanggar janjinya kepada Joko Baru. Mendengar hal tersebut, Ki Demang Ranu Klindungan
marah. Ia segera memerintahkan seluruh warga yang sedang berburu kembali untuk
membunuh Joko Baru dan menjadikan dagingnya sebagai sajian pesta.
Warga desa pun beramai-ramai membunuh dan memotong-motong tubuh ular Joko
Baru. Mereka sangat senang karena tidak perlu berburu berhari-hari di dalam hutan sudah
mendapatkan daging yang sangat banyak. Untuk pertama kalinya mereka akan selamatan dan
pesta besar.
Pada hari selamatan desa, seluruh warga desa berkumpul di pendapa desa. Ki
Wongsopati mernimpin doa bersama. Setelah itu, dengan dipimpin Ki Demang Ranu
Klindungan seluruh warga yang berkumpul di pendapa desa itu menyantap hidangan berupa
hasil-hasil pertanian dan perkebunan warga. Tidak lupa daging hidangan pun diserbu warga.
Mereka benar-benar pesta besar dengan hidangan utama daging ular Joko Baru.
Tanpa diketahui Ki Demang Klindungan, Ki Wongsopati, dan warga Desa Klindungan,
berita dibunuhnya Joko Baru sampai ke telinga Kiai Syeh Begawan Nyampo. Kiai Syeh
Begawan Nyampo adalah ayah Joko Baru. Walaupun berujud ular, Kiai Syeh Begawan
Nyampo tetap menyayangi anaknya yang sedang disuruhnya bertapa itu. Kiai Syeh Begawan
Nyampo yang tinggal di Pulau Bawean pun segera berangkat ke tanah Jawa untuk
mengambil daging anaknya agar dapat dikuburkan secara layak di Bawean.
s2
Sesampai di Desa Ranu Klindungan, Kiai Syekh Begawan Nyampo melihat warga desa
masih berpesta pora. Begawan Nyampo sangat sedih. Ia berjalan mengelilingi desa untuk
mencari tahu. Di pinggiran desa, ia melihat ada seorang janda tua sedang duduk termangu di
depan gubuknya. Janda itu bernama Nyai Le. Begawan Nyampo pun mendekat.
”Saya melihat semua warga di sini ikut pesta. Mengapa Nenek malah termangu di
rumah?” sapa Begawan Nyampo. :
”Ob...oh...Kiai, mangga...mangga..saya takut,” jawab Nyai Le terkejut karena
mendadak ada orang bertamu ke rumahnya. Ia pun tergopoh-gopoh menyilakan tamunya
untuk masuk. "Saya tak mau ikut makan daging ular. Mereka sudah membunuh ular yang
sangat besar. Padahal, ular itu sudah menyembuhkan Ki Kerti. Kasihan,” kata Nyai Le setelah
tamunya duduk.
"Ketahuilah Nyai, ular itu bernama Joko Baru. Ia putraku yang kusuruh bertapa supaya
dapat berubah menjadi manusia seutuhnya,” kata Begawan Nyampo menahan sedih.
"Putra Kiai, benarkah? Sudah kuduga, tentulah bukan ular biasa,” jawab Nyai Le
terkejut.
”Saya akan menghadap Ki Demang untuk minta daging anakku kalau masih sisa agar
dapat saya kuburkan dengan layak. Nyai, terima kasih sudah mau menerima saya. Nyai
punya lesung?"
”Ada, Kiai. Untuk apa ya?"
"Setelah saya pergi, Nyai, duduklah di dalam lesung itu. Nanti Nyai akan selamat.”
“Ta...ta...pi kema...?”
Belum lagi selesai pertanyaan Nyai Le, Begawan Nyampo sudah tidak terlihat. Nyai Le
segera mengambil lesungnya yang terletak di belakang rumah. Sesuai dengan pesan
Begawan Nyampo, ia pun duduk bersila di dalam lesung itu. Kebetulan seluruh warga desa
masih berpesta pora di pendapa desa sehingga tidak ada yang menertawvakannya.
Begawan Nyampo yang sudah sampai di tempat pesta segera mencari Ki Demang Ranu
Klindungan. Ia pun menceritakan maksudnya ingin meminta sedikit daging anaknya. Ia sudah
ikhlas anaknya menjadi santapan warga desa, tetapi ingin meminta sisa dagingnya agar dapat
dikuburkan. Jangankan diberi daging ular itu, Begawan Nyampo malah mendapat cemooh
dan hinaan dari orang-orang yang sudah dimabukkan oleh berbagai makanan. Tidak sedikit
warga desa yang berusaha mengusir dan melukai Begawan Nyampo. Melihat keadaan warga
desa yang sudah lupa diri itu, Begawan Nyampo tidak tinggal diam.
"Dengarkan saya, hai orang-orang Ranu Klindungan. Saya akan meninggalkan desa ini
jika kalian bisa mengalahkan saya. Marilah kita bertarung di lapangan,” kata Begawan
Nyampo dengan suara lantang dan berat menahan marah.
“Hai, kau menantang kami? Siapa takut! Mari...mari...kita kalahkan orang gila ini,”
jawab Ki Demang Ranu Klindungan dengan marah.
Orang-orang pun segera mengikuti perintah Ki Demang. Mereka beramai-ramai menuju
lapangan. Begawan Nyampo kemudian menancapkan sebatang lidi di tengah tanah lapang itu
disaksikan warga Desa Klindungan yang merendahkannya.
”Jika ada di antara kalian yang dapat mencabut lidi ini, saya akan segera pergi dari sini.
Siapa berani, silakan maju,” kata Begawan Nyampo.
”Ha...ha...ha...ha...dasar orang gila! Cuma lidi begitu, apa susahnya,” kata seorang warga
yang bertubuh besar sambil maju ke arah lidi.
53
Dengan wajah dan gerak tubuh mengejek, lelaki itu pun mencabut batang lidi yang
menancap di tengah lapangan. Batang lidi itu tidak bergerak sedikit pun. Berkali-kali dicoba
tetap tidak berhasil meskipun segenap tenaganya sudah dikerahkan. Dengan malu dan marah,
ia kembali ke tepi lapangan.
Demikianlah, satu per satu warga desa mencoba mencabut lidi itu. Tidak ada satu orang
pun yang berhasil. Jangankan tercabut, lidi itu tidak bergeser barang satu senti pun. Ki
Demang Ranu Klindungan marah karena merasa malu dan dipermainkan oleh Begawan
Nyampo. Apalagi, saat Begawan Nyampo menyilakannya untuk mencabutnya sendiri karena
seluruh warganya sudah mencoba dan tidak berhasil.
"Kurang ajar. Kau menantangku rupanya. Cuma ini yang kau punya. Ayo tancapkan
lidimu yang lain, biar kucabuti semua,” katanya dengan sombong untuk menutupi rasa malu
dan takutnya. Ia menyadari bahwa Begawan Nyampo bukan orang sembarangan, tetapi sudah
terlanjur malu untuk mengakuinya.
"Silakan, kalau Ki Demang dapat mencabut itu nanti saya pasang lidi yang lain," jawab
Begawan Nyampo dengan ringan.
"Kurang ajar!”
Ki Demang Ranu Klindungan segera mencabut lidi itu dengan marah. Berkali-kali
mencoba, tetap saja gagal hingga akhirnya terkapar tidak berdaya. Begawan Nyampo
kemudian mendekati batang lidi disaksikan seluruh warga desa yang penasaran. Dengan
mudah, batang lidi itu tercabut oleh tangan Begawan Nyampo.
Dari lubang lidi itu keluar air yang memancar sangat deras dan semakin lama semakin
besar. Sebelum masyarakat desa itu menyadari apa yang terjadi, air sudah berada di mana-
mana. Mereka berteriak-teriak berlarian ingin menyelamatkan diri. Ada yang memanggil-
manggil anaknya, suaminya, atau istrinya. Tidak sedikit pula yang memanggil Begawan
Nyampo untuk meminta pertolongan. Akan tetapi, semua itu sudah terlambat. Penyesalan
mereka seakan tidak ada gunanya karena tidak lama kemudian, Desa Ranu Klindungan sudah
berubah menjadi telaga.
Nyai Le turun dari lesung mendarat di pinggiran hutan yang lebih tinggi. Sejauh
matanya memandang ke arah desa yang dilihat hanya air. Tidak terlihat atap-atap rumah,
apalagi penduduk desa. Semuanya tenggelam. Desanya telah berubah menjadi telaga.
54
ASAL USUL COBANRONDO
ada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang lelaki
bernama Raden Kusuma dan yang perempuan bernama Dewi Anjarwati. Dewi
Anjarwati berasal dari daerah di sekitar Gunung Kawi, sedangkan Raden Kusuma
berasal dari Gunung Anjasmara. Ketika pasangan tersebut akhirnya menikah, seperti pada
masyarakat Jawa pada umumnya, pesta pernikahan diselenggarakan di tempat mempelai
perempuan yaitu di Gunung Kawi. Pesta yang digelar berlangsung sangat meriah dengan
menghadirkan beberapa macam pertunjukkan dan permainan yang digemari masyarakat
setempat.
Layaknya pengantin baru lainnya, kehidupan rumah tangga Raden Kusuma dan Dewi
Anjarwati berlangsung sangat menyenangkan. Mereka merasa menjadi pasangan yang paling
berbahagia di bumi ini. Hari-hari mereka lewati dengan suka cita, bercengkerama, tanpa
sedikit pun terbersit perselisihan.
Begitulah, selain berkuda, kadang-kadang mereka juga pergi ke telaga untuk sekadar
menikmati bening dan sejuknya air telaga.
“Aku selalu menyukai suasana seperti ini, Dinda,” kata Raden Kusuma ketika mereka
berada di tepi telaga. “Lihatlah, betapa riangnya ikan-ikan itu berenang.”
“Aih, lucunya... mereka saling berkejaran. Indah sekali warna ikan-ikan itu,” Dewi
Anjarwati menimpali. Raden Kusuma mengangguk tanda mengiyakan.
Tidak jarang pula mereka berdua pergi ke pusat keramaian atau pasar untuk berbelanja
dan menyapa orang-orang yang mereka temui. Sering mereka mengamati betapa kehidupan
masyarakat di sini terjalin dalam rasa saling menghormati dan mengasihi. Beberapa lelaki
pandai besi terlihat tekun mengerjakan pesanan alat-alat pertanian. Panasnya hawa yang
keluar dari tungku pembakaran tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus menempa
besi-besi agar semua pesanan segera dapat mereka selesaikan. Di sudut lain, ibu-ibu dan
remaja putri terlihat asyik menganyam beberapa peralatan dapur seperti kukusan,
pendaringan, dan sebagainya untuk dijual. Beberapa orang yang lain terdengar menawarkan
makanan dan minuman.
Semua orang yang ditemui mengagumi ketampanan Raden Kusuma dan kecantikan
Dewi Anjarwati. Selain itu, orang-orang tersebut juga memuji keramahan pasangan tersebut.
Sebaliknya, Raden Kusuma dan Dewi Anjarwati juga menikmati kehidupan mereka di
tengah-tengah masyarakat Gunung Kawi yang damai, tenteram, dan bersahaja.
Hingga pada suatu saat, ketika hitungan hari menginjak selapanan atau tiga puluh lima
hari sejak pesta pernikahan digelar, tebersit keinginan Dewi Anjarwati untuk pergi dan
berkunjung ke Gunung Anjasmara, tempat tinggal Raden Kusuma.
“Kanda, entah mengapa, tiba-tiba aku ingin bertemu dengan Ramanda dan Ibunda di
Anjasmara,” kata Dewi Anjarwati pada suatu sore. Agak terkejut Raden Kusuma mendengar
pernyataan istrinya itu.
55
“Bukankah belum saatnya untuk itu?" tanya Raden Kusuma setelah menata hatinya.
“Usia pernikahan kita baru menginjak selapanan, Dinda. Aku ragu, Ramanda dan Ibunda di
sini menyetujuinya.”
“Ah Kanda, Aku benar-benar menginginkannya. Kalau Ramanda dan Ibunda tidak
berkenan, akan kucoba untuk membujuknya.” Raden Kusuma menghela nafas. Ia benar-
benar yakin kalau mertuanya tidak akan menyetujuinya.
“Baiklah Dinda, cobalah berbicara kepada Rama dan Ibu. Aku sendiri sebetulnya juga
sudah rindu pada orang tuaku,” ucap Raden Kusuma mencoba memantapkan hati istrinya.
Rupanya orang tua Dewi Anjarwati benar-benar tidak menyetujui keinginan putrinya itu.
Bagi mereka, sepasang pengantin baru belum boleh bepergian jauh selama usia pernikahan
belum atau baru mencapai selapanan. Orang tua Dewi Anjarwati menginginkan anaknya
tinggal lebih lama lagi di Gunung Kawi.
“Tinggallah di sini barang sebentar lagi, Anakku,” tutur Ibunya.
Aan."
“Ibu takut, mala petaka akan datang jika kalian tetap pergi. Usia pernikahan kalian baru
mencapai selapanan. Tinggallah di sini sebentar lagi,” sang Ibu menegaskan kembali
penolakannya.
“Biarlah Dewata yang melindungi kami. Lagi pula, masih ada para pengawal yang akan
mengantarkan. Aku tidak sedikit pun ragu, Ibu,” Dewi Anjarwati merajuk.
“Kau tidak mengerti, Anakku...," desah ibunya khawatir.
“Kami akan berangkat besok pagi, Ibu. Kami mohon doa restu Ayahanda dan Ibunda,”
Keesokan harinya, dengan siap menanggung segala risiko akibat tidak menurut pada
perintah orang tuanya, Dewi Anjarwati pergi bersama Raden Kusuma ditemani oleh beberapa
pengawalnya.
Setelah berhari-hari menuruni lembah dan menaiki bukit, sampailah Dewi Anjarwati dan
Raden Kusuma di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Tiba-tiba rombongan
kecil itu dikejutkan oleh kedatangan seorang laki-laki yang tidak mereka kenal dan tidak
mereka ketahui dari mana asal-usulnya. Laki-laki itu berdiri di tengah jalan yang hendak
dilalui rombongan Raden Kusuma. Melihat gelagat yang kurang bagus itu, Raden Kusuma
segera memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti. Suasana hening sejenak.
“Kisanak, kalau aku boleh tahu, siapakah Kisanak dan dari mana Kisanak berasal? Apa
keperluanmu?” Raden Kusuma membuka percakapan.
Orang tersebut tidak segera menjawab pertanyaan Raden Kusuma. Ia hanya tersenyum
sinis, bersedekap, sambil matanya terus-menerus memandang ke arah Dewi Anjarwati.
“Cantik sekali istrimu, hai orang asing,” tiba-tiba laki-laki itu menjawab tanpa menoleh
sedikit pun ke arah Raden Kusuma. Terkejut Raden Kusuma mendapat jawaban yang tidak
sepantasnya tersebut.
“Kisanak, apa maumu?” Raden Kusuma mencoba bersabar meladeni tingkah laku orang
itu.
“Aku bukan siapa-siapa dan tidak berasal dari mana pun. Aku hanya senang melihat
istrimu ha ha ha,” jawab laki-laki itu sambil tertawa.
Mendengar jawaban itu, Raden Kusuma menyebutnya sebagai Joko Lelono yang berarti
orang yang mengembara tanpa arah dan tujuan yang jelas. Joko Lelono ternyata merasa '
tertarik melihat kecantikan Dewi Anjarwati.
56
“Aku sedang tidak berminat untuk menjelaskan kepadamu. Saat ini aku hanya tertarik
kepada wanita itu,” lanjut laki-laki itu sembari menunjuk ke arah Dewi-Anjarwati. “Berapa
kuda yang kau inginkan sebagai ganti istrimu ini?”
Habis sudah kesabaran Raden Kusuma saat meridengar jawaban tersebut. Ia merasa
bahwa Joko Lelono sudah bersikap tidak patut terhadap dirinya. Tahulah ia bahwa Joko
Lelono berusaha merebut Dewi Anjarwati dari tangannya—Saat itu Raden Kusuma
memutuskan bahwa ia harus melindungi istri sekaligus harga dirinya. Ia bermaksud
menantang laki-laki yang tidak tahu adat tersebut. :
“Apa boleh buat. Kau menantangku. Akan kuberi pelajaran kepada orang berperangai
buruk sepertimu,” geram Raden Kusuma.
“Kanda,” Dewi Anjarwati mericoba mencegah suaminya meladeni niat buruk laki-laki
itu.
“ “Dinda, laki-laki ini telah menginjak-injak harga diriku. Aku tidak rela dia hidup lebih
lama lagi.”
Sebelum perkelahian berlangsung, Raden Kusuma sempat berpesan kepada para
pengiringnya untuk segera membawa Dewi Anjarwati pergi dan bersembunyi dari kejaran
Joko Lelono ke suatu tempat yang ada air terjunnya atau coban.
“Paman hulubalang, bawalah istriku pergi dari tempat ini,” perintah Raden Kusuma
kepada para pengiringnya.
“Baik, Raden," kata para pengiring hampir bersamaan.
“Pergilah ke arah utara menyusuri sungai. Di sana Paman akan menjumpai sebuah
coban. Tunggulah aku di tempat itu, sebentar lagi aku akan menyusul,” ujar Raden Kusuma
sambil berusaha menghalau kudanya agar menjauh darinya.
“Dinda, tunggulah aku di coban itu. Tak lama lagi akan aku bereskan orang ini,"
lanjutnya berusaha meyakinkan istrinya.
Sepeninggal rombongan itu, segera terjadi perkelahian yang seru antara Raden Kusuma
dan Joko Lelono. Rupa-rupanya, kedua lelaki itu mempunyai kekuatan dan kesaktian yang
berimbang. Saling serang dan menghindar mewamai pertarungan panjang itu. Bunyi
dentingan pedang dan erangan keduanya mengoyak kesunyian hutan. Beberapa pohon
tumbang terkena sabetan pedang. Tanah terasa bergetar dan berdentam saat keduanya terlibat
pergumulan seru dan saling banting.
Di tempat lain, Dewi Anjarwati beserta para pengawalnya telah sampai di coban yang
dimaksud oleh Raden Kusuma. Tempat itu ternyata tidak begitu jauh dari ajang perkelahian
antara Raden Kusuma dan Joko Lelono. Di tempat itu memang terdapat air terjun yang
mengalir dari sebuah tebing yang cukup tinggi. Deburan air yang menimpa batu-batu besar di
bawahnya, seolah berpacu dengan degup jantung Dewi Anjarwati yang tidak henti-hentinya
menangis, mengkhawatirkan keadaan suaminya tercinta. Di saat seperti itu, Dewi Anjarwati
teringat pesan ibundanya.
“Maafkan aku, Ibu. Dewata, lindungilah kami dari mara bahaya ini,” isakaya lirih.
Sementara itu, pertarungan antara Raden Kusuma dengan Joko Lelond masih
berlangsung meskipun sudah tidak seseru pada awalnya. Kedua. orang tersebut sudah terlihat
lelah dan berantakan dengan beberapa luka akibat sabetan pedang lawan. Tidak lama setelah
itu, suasana di tempat perkelahian itu berangsur-angsur hening. Hanya bau anyir darah yang
menyergap udara di sekitarnya, Akhir dari pertarungan itu, ternyata keduanya tewas. Tubuh
mereka terbujur di atas tanah dan ranting-ranting pohon yang porak poranda.
57
Setelah kematian Raden Kusuma, Dewi Anjarwati menjadi seorang janda atau dalam
bahasa Jawa disebut randa. Karena tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya bertarung
adalah sebuah coban, maka tempat tersebut dikenal dengan nama Cobanranda sampai
sekarang. Batu yang terletak di bawah air terjun tersebut, diyakini sebagai batu yang diduduki
oleh Dewi Anjarwati saat bersembunyi bersama para pengawalnya.
58
Story DNA
Moral
Breaking promises and acting out of greed can lead to dire consequences, and disrespecting elders' advice can bring misfortune.
Plot Summary
The prosperous village of Ranu Klindungan prepares for its annual feast. A blind elder, Ki Kerti, gains his sight from a talking snake, Joko Baru, after promising secrecy. Ki Kerti breaks his promise, losing his sight, and the greedy village head, Ki Demang, orders Joko Baru killed for the feast. Joko Baru's father, a powerful sage named Begawan Nyampo, arrives, warns a kind widow, Nyai Le, to take shelter, and then curses the village, causing a massive flood that forms Telaga Ranu Grati, drowning everyone but Nyai Le. Separately, the story concludes with the origin of Cobanranda waterfall, where Dewi Anjarwati becomes a widow after her husband, Raden Kusuma, dies fighting an antagonist.
Themes
Emotional Arc
prosperity to tragedy
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
The story reflects traditional Javanese village life, social hierarchy, and spiritual beliefs, including the concept of powerful sages and the consequences of violating sacred trusts or promises.
Plot Beats (15)
- The prosperous village of Ranu Klindungan plans its annual selamatan, requiring a hunting trip.
- Ki Kerti, a blind elder, gets lost during the hunt and encounters Joko Baru, a giant snake, who grants him sight in exchange for a promise of secrecy.
- Ki Kerti, overjoyed, breaks his promise and tells Ki Demang about Joko Baru, immediately losing his sight again.
- Ki Demang, seeing an opportunity for a grand feast, orders the villagers to kill Joko Baru.
- The villagers kill Joko Baru and celebrate with a massive feast.
- Joko Baru's father, Begawan Nyampo, a powerful sage, learns of his son's death and travels to Ranu Klindungan.
- Begawan Nyampo finds the villagers feasting and, saddened, encounters Nyai Le, a kind widow who refused to eat the snake meat.
- Begawan Nyampo reveals Joko Baru was his son, a human-in-training, and instructs Nyai Le to sit in her mortar for safety.
- Begawan Nyampo curses the village, causing a massive flood that submerges the entire village, forming Telaga Ranu Grati.
- Only Nyai Le survives, floating safely in her mortar.
- Later, Raden Kusuma and Dewi Anjarwati marry and travel against their parents' advice.
- They encounter Joko Lelono, who desires Dewi Anjarwati, leading to a fierce battle between him and Raden Kusuma.
- Raden Kusuma instructs his guards to take Dewi Anjarwati to a waterfall (coban) to wait.
- Both Raden Kusuma and Joko Lelono die in their battle.
- Dewi Anjarwati becomes a widow (randa) at the waterfall, which is then named Cobanranda.
Characters
Ki Demang Ranu Klindungan
A man of average height and sturdy build, reflecting a life of leadership and physical activity in a rural Indonesian village. His skin is likely tanned from working outdoors.
Attire: Wears traditional Javanese village attire, such as a dark batik sarong (kain batik) wrapped around his waist, a simple, long-sleeved dark cotton shirt (baju koko or similar), and possibly a blangkon (traditional Javanese head covering) indicating his status as village head. His clothing is practical but well-maintained.
Wants: To ensure the prosperity and well-being of his village, Ranu Klindungan, and to uphold its traditions, even if it means making questionable decisions.
Flaw: Impulsiveness and a lack of foresight. His desire for immediate gain (the large amount of meat) overrides caution and respect for promises, leading to negative consequences.
He remains largely unchanged, driven by his initial motivations, but his actions lead to the village's downfall.
Authoritative, decisive, somewhat impulsive, and pragmatic. He is quick to act on information, especially if it benefits the village, but can also be short-sighted and prone to anger.
Ki Wongsopati
An elderly Javanese man, perhaps slightly stooped with age but still possessing a dignified presence. His build is lean, indicative of a life of wisdom rather than physical labor.
Attire: Dressed in traditional Javanese elder attire, likely a more refined batik sarong, a simple but well-made dark or muted colored long-sleeved shirt, and possibly a traditional Javanese jacket (beskap) for formal occasions, though in the story he is in a village setting. His clothing is modest but speaks of respectability.
Wants: To ensure the spiritual harmony and traditional practices of Ranu Klindungan village are maintained, believing in the importance of gratitude and respect for nature.
Flaw: His wisdom is not always heeded by those in power, making him somewhat powerless to prevent impending doom.
He remains consistent in his role as a wise elder, observing the events unfold with concern.
Wise, cautious, traditional, and spiritual. He acts as the moral compass of the village, emphasizing adherence to customs and spiritual well-being.
Ki Kerti
An elderly Javanese man, frail and thin, with the physical characteristics of someone who has been blind since birth. His movements are cautious and guided by touch.
Attire: Wears simple, worn peasant clothing typical of rural Java: a plain, light-colored cotton shirt, a dark sarong, and perhaps a simple headcloth (udeng) to keep his hair tidy. His clothes are practical and show signs of age and wear.
Wants: His primary motivation is to regain his eyesight, a lifelong dream. After gaining it, his motivation shifts to sharing his incredible experience.
Flaw: His excitement and fear make him forget his sacred promise, leading to dire consequences for himself and others.
He experiences a miraculous transformation by gaining sight, only to lose it again due to his broken promise, learning a harsh lesson about trust and consequences.
Vulnerable, hopeful, grateful, but also easily overwhelmed by joy and fear, leading him to forget his promises. He is simple-hearted.
Joko Baru
An enormous, ancient snake, described as 'sangat besar' (very large). Its scales are likely dark, perhaps a deep green or brown, blending with the forest floor. Its body is thick and powerful, capable of supporting a human's weight when coiled.
Attire: None, as it is a snake. Its 'clothing' is its natural skin and scales.
Wants: To complete its meditation (bertapa) undisturbed and to maintain its secret existence. It seeks justice when its trust is broken.
Flaw: Its vulnerability lies in its trust in humans to keep their word, which ultimately leads to its demise.
Initially a benevolent, albeit mysterious, figure who grants a wish, it becomes a victim of human greed and betrayal, leading to its violent death and subsequent transformation into a source of disaster.
Mysterious, powerful, wise, and vengeful. It offers help but demands a strict promise, and punishes betrayal swiftly and severely.
Dewi Anjarwati
A beautiful young Javanese woman, graceful and slender, befitting a princess. Her skin is smooth and likely of a light, warm tone, indicative of nobility.
Attire: Wears elegant Javanese court attire, such as a finely woven batik kemben (bodice wrap) or kebaya (blouse) made of silk or fine cotton, paired with a matching batik sarong (kain batik) in rich colors like deep red, gold, or emerald green. Her clothing is adorned with subtle embroidery or patterns. She might wear delicate gold jewelry.
Wants: To return home with her husband and to protect her marriage and honor. Later, her motivation is to await her husband's return and mourn his loss.
Flaw: Her determination to return home quickly leads her to disregard her mother's ominous warnings, placing herself and her husband in danger.
She transforms from a hopeful newlywed to a grieving widow, forever marked by the tragedy and becoming the namesake of Cobanranda.
Devoted, loving, determined, and somewhat headstrong. She is deeply loyal to her husband but also capable of making her own decisions, even against her mother's advice.
Raden Kusuma
A handsome and strong young Javanese man, with a noble bearing and athletic build, befitting a prince or warrior. His skin is likely tanned from travel and outdoor activities.
Attire: Wears traditional Javanese noble attire suitable for travel, such as a dark, fitted jacket (beskap) over a simple inner shirt, a patterned batik sarong (kain batik) or trousers, and possibly a keris (traditional dagger) tucked into his waistband. His clothing is practical yet refined, made of sturdy but fine fabrics.
Wants: To protect his wife and his honor from insult and harm, and to return home safely after their wedding.
Flaw: His pride and quick temper make him engage in a dangerous duel, despite his wife's pleas, ultimately leading to his death.
He faces a challenge to his honor and dies defending his wife, becoming a tragic hero.
Brave, protective, honorable, and easily provoked when his honor or his wife's safety is threatened. He is devoted to Dewi Anjarwati.
Joko Lelono
A mysterious Javanese man of unknown origin, likely of strong build from his wandering lifestyle. His appearance is unkempt but powerful, suggesting a wild, untamed nature.
Attire: Wears simple, practical, and somewhat worn Javanese clothing, possibly a dark, loose-fitting shirt and trousers, or a simple sarong, suitable for a wanderer. His clothes are not of noble quality but are functional. He might have a weapon visible.
Wants: Driven by lust for Dewi Anjarwati and a desire to assert his dominance and power.
Flaw: His arrogance and disrespect for others' honor lead him into a fatal confrontation.
He remains consistent in his antagonistic role, driven by lust and arrogance, and dies in a duel, achieving no personal growth.
Arrogant, lustful, provocative, and disrespectful. He is a wanderer with no clear purpose other than his immediate desires, and he challenges authority and social norms.
Locations
Desa Ranu Klindungan
A peaceful and prosperous village surrounded by dense, primeval Javanese forest. The fertile land yields rice, corn, tubers, and vegetables. Rivers provide fish, and the forest offers game like rabbits, deer, and jungle fowl. Traditional Javanese houses (rumah adat Jawa) with wooden structures and possibly thatched or tiled roofs would be present, clustered around a central pendapa.
Mood: Prosperous, communal, traditional, later fearful and chaotic.
The initial setting of the story, where the villagers live, hold their annual selamatan, and where Ki Kerti returns after gaining sight.
Hutan Lebat (Dense Forest)
A thick, primeval Javanese jungle, difficult to navigate with dense undergrowth and fallen trees. It is the hunting ground for the villagers and the secluded spot where Joko Baru, a giant snake, is undergoing ascetic meditation (bertapa).
Mood: Mysterious, wild, secluded, later dangerous and foreboding.
Ki Kerti gets lost here, encounters Joko Baru, and regains his sight. Later, the villagers hunt and kill Joko Baru here.
Pendapa Desa
The central community pavilion of the village, an open-sided traditional Javanese structure with a large roof and wooden pillars. It serves as the gathering place for important village events and feasts.
Mood: Communal, festive, later celebratory but with underlying tension.
The villagers gather here for the annual selamatan, feasting on the meat of Joko Baru.
Coban (Waterfall)
A secluded waterfall flowing from a high cliff, with large rocks at its base. It is located in a wild, forested area, not far from the site of Raden Kusuma's battle.
Mood: Secluded, anxious, dramatic, later mournful.
Dewi Anjarwati and her guards hide here while Raden Kusuma fights Joko Lelono. It is later named Cobanranda.