Terjadinya Telaga Sarangan

by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur

folk tale origin story solemn Ages 8-14 1270 words 6 min read
Cover: Terjadinya Telaga Sarangan
Original Story 1270 words · 6 min read

Terjadinya Telaga Sarangan

ada zaman dahulu kala, di lereng Gunung Lawu bagian timur, hiduplah sepasang

suami istri bernama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka tinggal di sebuah pondok kecil

terbuat dari anyaman bambu beratapkan dedaunan. Mereka hanya tinggal berdua

karena selama bertahun-tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak pun. Tempat tinggal

mereka juga sangat terpencil, sangat jauh dari permukiman warga. Untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka menanam umbi-umbian di sekitar pondok. Sayuran

dan buah-buahan didapat dengan mudah di hutan sekitar. Kadang-kadang, Kiai Pasir berburu

binatang untuk lauk. Daging binatang dikeringkan sehingga dapat disimpan untuk waktu

lama. Kadang-kadang saja, Kiai Pasir pergi ke pasar desa yang terdekat untuk menukar

barang yang tidak ada di lereng gunung, seperti garam dan beras. Barang-barang dari gunung

yang laku ditukar dengan bahan makanan adalah kayu bakar. Untuk itu, Kiai Pasir rajin

mengumpulkan kayu bakar, baik yang berupa ranting-ranting maupun kayu belah.

Pada suatu hari, Kiai Pasir pergi ke hutan untuk menebang pohon. Batangnya akan

digunakan untuk mengganti tiang pondoknya yang sudah dimakan rayap, sedangkan ranting-

rantingnya akan dikeringkan untuk kayu bakar. Pagi-pagi sekali setelah menyantap ubi bakar,

ia pamit pada istrinya hendak ke hutan yang agak jauh dari pondoknya. Ia membawa kapak

dan air minum di dalam wadah bambu. Istrinya melepas kepergian Kiai Pasir di depan

pondok dengan pesan untuk pulang sebelum hari gelap.

Tiba di tengah hutan, Kiai Pasir mencari-cari pohon yang cukup besar dan berbatang

lurus supaya kuat dijadikan tiang. Pohon-pohon di hutan itu besar-besar ukurannya. Padahal,

Kiai Pasir hendak menebang yang berukuran sedang supaya ia kuat memikulnya pulang ke

pondok. Tidak lama kemudian, ia pun menemukan pohon yang sesuai dengan keinginannya.

Karena semak belukar di sekitar pohon itu sangat lebat, Kiai Pasir pun terlebih dahulu

membersihkannya agar ia mudah mengayunkan kapaknya ke pangkal pohon. Saat ia sedang

menyibak dan membersihkan semak itu, dilihatnya ada sebutir telur berukuran cukup besar

tergeletak di atas tumpukan dedaunan seperti sarang. Kiai Pasir teringat istrinya yang tentu

akan sangat senang mendapat telur untuk santapan. Apalagi, mereka jarang sekali dapat

makan telur. Tanpa berpikir lagi, diambilnya telur itu kemudian dimasukan ke dalam wadah

bambu yang sudah kosong.

Ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan semak belukar di bawah pohon. Pekerjaan

itu memakan waktu yang cukup lama karena semak belukar tumbuh sangat lebat dan tinggi.

Matahari sudah mulai bergeser ke barat saat Kiai Pasir hendak mulai mengayunkan

kapaknya. Karena takut kemalaman di perjalanan, Kiai Pasir berhenti menebang meskipun

pohonnya belum roboh. Ia segera berkemas dan berniat akan melanjutkannya esok hari. Ia

berpikir, besok pasti akan lebih mudah dan cepat tumbang pohonnya karena sudah tidak perlu

lagi membersihkan semak belukar.

123

Nyai Pasir sudah menanti dengan cemas di depan pondok karena hari mulai gelap.

Alangkah senangnya ketika dilihat Kiai Pasir pulang dengan selamat, apalagi saat suaminya

menyerahkan wadah bambu.

"Apa ini?" tanya Nyai Pasir.

“Buka saja, Nyai, nanti kau akan tahu," jawab Kiai Pasir sambil meletakan kapaknya di

sudut luar pondok.

”"Wooowww, besar sekali telur ini. Kau dapat di mana, Ki?" tanya istrinya girang Seraya

mengeluarkan telur itu dari wadah bambu.

“Di bawah pohon. Sudah lama kita tidak makan telur,” kata Kiai Pasir dengan wajah

gembira pula. Ia membayangkan lezatnya telur itu setelah'direbus.

"Sebentar Ki...sepertinya ini bukan telur ayam hutan. Telur ayam hutan tidak akan

sebesar ini," kata Nyai Pasir tiba-tiba menjadi cemas.

“Sudahlah, Nyai...mungkin saja ayam hutannya besar, jadi telurnya juga besar,” kata

Kiai Pasir sambil masuk ke dalam pondok.

"Kalau telur ular bagaimana? Induknya pasti akan mencari,” kata Nyai Pasir lagi.

"Aku tidak melihat ular di sana, Nyai. Itu rezeki kita hari ini. Sudah...sudah tak usah

berpikir macam-macam, siapkan saja makananku, Aku sudah lapar.”

"Tidak menunggu kurebuskan telur ini dulu?” tanya Nyai Pasir.

"Telumya buat sarapan besok saja, untuk menambah tenaga. Besok aku harus

melanjutkan menebang pohon," jawab Kiai Pasir.

Nyai Pasir tidak bertanya lagi. Ia segera masuk ke pondok dan menyalakan perapian

untuk menjerang air, menuruti kata suaminya. Kiai Pasir menyalakan dian sebagai

penerangan karena di dalam pondoknya sudah gelap. Sambil menunggu airnya mendidih,

Nyai Pasir menyiapkan ubi rebus dan sayur di atas meja bambu. Kiai Pasir pergi ke pancuran

di belakang pondok untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian Kiai Pasir sudah duduk

menghadap meja menunggu Nyai Pasir untuk makan bersama.

Keesokan harinya Kiai Pasir bangun lebih pagi karena akan melanjutkan menebang

pohon. Saat Kiai Pasir menyiapkan peralatan di samping pondok, Nyai Pasir menghidangkan

minuman, ubi rebus, sayur, dan telur rebus.

“Ki, sarapan sudah siap,” kata Nyai Pasir memanggil suaminya.

"Ya, sebentar,” jawab Kiai Pasir.

Kiai Pasir masuk ke dalam pondok dengan wajah gembira karena membayangkan

lezatnya telur rebus. Sudah lama mereka tidak menyantap hidangan berprotein itu. Nyai Pasir

membelah telur itu menjadi dua, yang satu diberikan kepada Kiai Pasir dan satunya disantap

sendiri.

”Hhhmmmm, enak sekali Nyai. Mudah-mudahan tenagaku bertambah hari ini,” kata

Kiai Pasir.

“Iya Ki, rasanya lebih lezat dari telur ayam yang pernah kita makan,” kata Nyai Pasir

membenarkan suaminya.

Selesai bersantap, Kiai Pasir berangkat ke hutan dengan membawa peralatan seperti

biasanya. Nyai Pasir mengantarkan hingga ke halaman pondok. Setelah suaminya tidak

tampak, Nyai Pasir kembali ke pondok untuk membereskan peralatan makan dan

mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sementara itu, Kiai Pasir bergegas menyusuri jalan

yang telah dilaluinya kemarin karena ingin segera mencapai hutan. Dalam perjalanan itu, Kiai

Pasir merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa sehat dan segar ketika meninggalkan

124

pondok, tetapi kini badanya terasa panas dan sakit yang tidak terkirakan. Tak kuasa

melanjutkan perjalanan, ia pun berhenti dan meletakkan seluruh peralatan yang dibawanya.

Sekujur tubuhnya seperti ditarik-tarik, kulitnya bergerak-gerak membentuk tonjolan-tonjolan

yang makin lama makin besar dan terasa sangat gatal. Semakin lama rasa gatal itu semakin

tidak tertahankan. Ia pun cepat berguling-guling ke tanah dengan harapan rasa gatalnya akan

hilang. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasa gatal semakin menjadi dan tubuhnya

serasa kian membengkak dan memanjang.

“Apa yang terjadi denganku?” gumam Kiai Pasir.

Tidak lama kemudian tubuhnya sudah berubah. menjadi ular naga yang sangat besar.

Ular jelmaan Kiai Pasir itu terus berguling-guling di tanah menuju arah pondoknya untuk

melihat keadaan Nyai Pasir. Tempat sepanjang ular naga berguling menjadi cekung dan

makin lama makin luas.

Tanpa diketahui Kiai Pasir, di pondoknya, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama.

Setelah suaminya pergi, Nyai Pasir merasakan tubuhnya sangat panas, sakit, dan gatal-gatal.

Karena tidak tahan menahan sakit dan gatal, Nyai Pasir juga rebah dan berguling-guling di

tanah. Tubuhnya kian memanjang dan membesar hingga berubah menjadi ular naga yang

sangat besar. Ular naga jelmaan Nyai Pasir itu berguling-guling terus ke luar halaman pondok

ke arah perginya Kiai Pasir. Tempat bergulingnya ular naga Nyai Pasir itu juga membentuk

cekungan yang kian luas dan dalam.

"Apa yang terjadi denganku. Apakah suamiku juga berubah?” gumam Nyai Pasir sambil

terus berguling.

Nyi Pasir teringat telur yang dibawa pulang suaminya. Dugaannya bahwa telur itu

adalah telur ular mungkin benar. Ia merasa menyesal telah memakan telur itu. Tetapi, nasi

sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan

semula.

Naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir akhirnya bertemu. Mereka berada di tengah-

tengah cekungan yang luas bekas mereka berguling. Tak kuasa mereka menahan air mata

karena menyesal telah memakan telur yang bukan miliknya. Rasa gatal pun tak kunjung

hilang hingga mereka terus berguling-guling menyebabkan cekungan di tengah kian lama

kian dalani. Tiba-tiba cekungan terdalam itu menyemburkan air yang sangat deras hingga

dalam waktu yang tidak terlalu lama, cekungan besar dan luas itu penuh terisi air dan menjadi

telaga yang sangat besar, Ular naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir hilang bersamaan

dengan berubahnya cekungan itu menjadi telaga.

Penduduk sekitar yang mengetahui peristiwa terbentuknya telaga itu menamainya

Telaga Pasir, diambil dari nama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Lambat laut masyarakat

menyebutnya dengan Telaga Sarangan karena telaga itu berada di Desa Sarangan.

125


Story DNA

Moral

Taking what is not yours, especially from nature, can lead to unforeseen and irreversible consequences.

Plot Summary

Kiai Pasir and Nyai Pasir, a childless couple living simply on Mount Lawu, find a large, mysterious egg in the forest. Despite Nyai Pasir's unease, they eat the egg, finding it delicious. Soon after, both experience intense pain and transform into giant naga (serpent-dragons). They meet in a growing depression caused by their thrashing, filled with regret over their actions. Their tears and movements deepen the depression, which then erupts with water, forming Telaga Sarangan, and the naga disappear forever.

Themes

consequences of actionsrespect for naturefatetransformation

Emotional Arc

contentment to regret and sorrow

Writing Style

Voice: third person omniscient
Pacing: moderate
Descriptive: moderate

Narrative Elements

Conflict: person vs supernatural
Ending: tragic
Magic: transformation into naga, spontaneous formation of a lake
the giant egg (symbol of temptation and forbidden fruit)the naga (symbol of transformation and consequence)the lake (symbol of a permanent change and a memorial)

Cultural Context

Origin: Indonesian (Javanese)
Era: timeless fairy tale

This is a local legend explaining the origin of Telaga Sarangan, a real lake in East Java, Indonesia, near Mount Lawu. Such origin stories are common in Indonesian folklore.

Plot Beats (13)

  1. Kiai Pasir and Nyai Pasir live a simple life on Mount Lawu, childless and isolated, subsisting on what they gather and hunt.
  2. Kiai Pasir goes to the forest to cut wood for their hut.
  3. While clearing brush, Kiai Pasir finds a very large egg, which he takes home for his wife, thinking it a rare treat.
  4. Nyai Pasir is delighted but expresses a premonition that it might be a snake's egg, which Kiai Pasir dismisses.
  5. The couple eats the egg for breakfast the next morning, finding it unusually delicious and feeling energized.
  6. On his way back to the forest, Kiai Pasir feels an intense heat, pain, and itching, and his body begins to swell and change.
  7. Kiai Pasir transforms into a giant naga (serpent-dragon) and rolls towards his home.
  8. Simultaneously, Nyai Pasir experiences the same symptoms and also transforms into a giant naga, rolling towards where Kiai Pasir went.
  9. The two naga, formerly Kiai Pasir and Nyai Pasir, meet in the large depression created by their rolling.
  10. They recognize each other and weep with regret over eating the egg, realizing it was a snake's egg.
  11. Their continuous thrashing and tears deepen the depression, which suddenly erupts with water.
  12. The depression fills rapidly, forming a large lake, and the naga disappear into its depths.
  13. Local villagers name the lake Telaga Pasir, after the couple, which later becomes known as Telaga Sarangan, after the village.

Characters

👤

Kiai Pasir

human adult male

A man of average height and sturdy build, accustomed to physical labor in the forest. His skin is likely tanned from years of outdoor work. Before his transformation, he would have had the typical physical features of a Javanese man from the Lawu mountain region.

Attire: Simple, practical attire suitable for a peasant living in a remote area of Java. He would wear a dark, possibly indigo-dyed, cotton or linen shirt (baju) and loose-fitting trousers (celana). Perhaps a sarong tied around his waist for additional utility. His clothes would be worn but clean, reflecting his humble lifestyle.

Wants: To sustain his simple life with Nyai Pasir, provide food and shelter, and maintain their home.

Flaw: Dismissive of potential dangers or warnings (e.g., about the egg's origin), leading to unforeseen consequences.

Transforms from a human man into a giant Naga (dragon-snake) after consuming a mysterious egg, leading to the creation of Telaga Sarangan. He experiences regret and sorrow for his actions.

His transformation into a massive, scaly Naga, leaving a deep furrow in the earth as he rolls.

Hardworking, simple, content, somewhat dismissive of worries, and practical. He is driven by the need to provide for himself and his wife.

👤

Nyai Pasir

human adult female

A woman of average height and slender build, accustomed to household chores and light farming. Her skin is likely fair compared to her husband's, but still healthy from outdoor living. Before her transformation, she would have had the typical physical features of a Javanese woman from the Lawu mountain region.

Attire: Simple, modest attire typical of a Javanese peasant woman. She would wear a dark, possibly batik-patterned, cotton or linen kebaya (blouse) and a long, dark sarong (kain) wrapped around her waist, reaching her ankles. Her clothing would be practical for daily tasks.

Wants: To care for her husband, maintain their home, and ensure their safety and well-being.

Flaw: Her anxiety, though often justified, can make her seem overly cautious. She ultimately succumbs to the same fate as her husband despite her initial misgivings.

Transforms from a human woman into a giant Naga (dragon-snake) after consuming a mysterious egg, mirroring her husband's fate. She experiences regret and sorrow for her actions.

Her transformation into a massive, scaly Naga, leaving a deep furrow in the earth as she rolls.

Caring, observant, cautious, and somewhat anxious. She is attuned to potential dangers and worries about her husband's well-being.

✦

The Giant Egg

magical creature (unhatched) ageless non-human

A single, unusually large egg, much bigger than any chicken or jungle fowl egg. Its shell is smooth and likely a pale, earthy color, perhaps with subtle patterns. It appears to be a normal egg, but its size is its most distinguishing feature.

Wants: N/A

Flaw: Can be consumed, leading to its magical properties being transferred.

Discovered, brought home, cooked, and consumed by Kiai Pasir and Nyai Pasir, leading to their transformation.

Its unusually large size compared to typical bird eggs.

Inert, but carries a powerful, transformative magic.

Locations

Pondok Kiai dan Nyai Pasir

indoor Implied tropical climate, as it's at the foot of a mountain with dense forest.

A small, secluded hut made of woven bamboo with a roof of leaves, far from other settlements. It has a simple interior with a bamboo table and a hearth for cooking. A dian (oil lamp) provides light.

Mood: Humble, solitary, domestic, initially peaceful but later filled with anxiety.

Kiai and Nyai Pasir live here, share meals, and Nyai Pasir experiences her transformation into a naga here.

woven bamboo walls leaf roof bamboo table hearth/perapian dian (oil lamp) cooking utensils ubi bakar (roasted sweet potatoes)

Hutan Lereng Gunung Lawu

outdoor morning to afternoon Tropical, likely humid, with sunlight filtering through a dense canopy.

A dense, tropical forest on the eastern slopes of Mount Lawu, characterized by large, straight-trunked trees and very thick undergrowth and bushes. The ground is covered with fallen leaves.

Mood: Wild, untamed, initially productive for sustenance, later becomes a place of mysterious transformation.

Kiai Pasir finds the mysterious egg here and later transforms into a giant naga, rolling through the forest.

large, straight trees thick semak belukar (bushes/undergrowth) fallen leaves on the ground kapak (axe) bamboo water container large egg

Cekungan Bekas Gulungan Naga (Calon Telaga Sarangan)

outdoor day Implied tropical, possibly during or after rain given the sudden gush of water.

A vast, deep depression in the earth, formed by the continuous rolling of the two giant naga. The ground is churned and disturbed, eventually becoming a large basin that rapidly fills with gushing water.

Mood: Dramatic, tragic, transformative, awe-inspiring.

Both Kiai and Nyai Pasir, transformed into naga, meet here, continue rolling in agony and regret, and their actions cause the depression to fill with water, forming Telaga Sarangan.

vast, deep depression in the earth churned soil gushing water rising water level disappearing naga