Terjadinya Telaga Sarangan
by Balai Bahasa Surabaya · from Cerita Rakyat Jawa Timur
Original Story
Terjadinya Telaga Sarangan
ada zaman dahulu kala, di lereng Gunung Lawu bagian timur, hiduplah sepasang
suami istri bernama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka tinggal di sebuah pondok kecil
terbuat dari anyaman bambu beratapkan dedaunan. Mereka hanya tinggal berdua
karena selama bertahun-tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak pun. Tempat tinggal
mereka juga sangat terpencil, sangat jauh dari permukiman warga. Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka menanam umbi-umbian di sekitar pondok. Sayuran
dan buah-buahan didapat dengan mudah di hutan sekitar. Kadang-kadang, Kiai Pasir berburu
binatang untuk lauk. Daging binatang dikeringkan sehingga dapat disimpan untuk waktu
lama. Kadang-kadang saja, Kiai Pasir pergi ke pasar desa yang terdekat untuk menukar
barang yang tidak ada di lereng gunung, seperti garam dan beras. Barang-barang dari gunung
yang laku ditukar dengan bahan makanan adalah kayu bakar. Untuk itu, Kiai Pasir rajin
mengumpulkan kayu bakar, baik yang berupa ranting-ranting maupun kayu belah.
Pada suatu hari, Kiai Pasir pergi ke hutan untuk menebang pohon. Batangnya akan
digunakan untuk mengganti tiang pondoknya yang sudah dimakan rayap, sedangkan ranting-
rantingnya akan dikeringkan untuk kayu bakar. Pagi-pagi sekali setelah menyantap ubi bakar,
ia pamit pada istrinya hendak ke hutan yang agak jauh dari pondoknya. Ia membawa kapak
dan air minum di dalam wadah bambu. Istrinya melepas kepergian Kiai Pasir di depan
pondok dengan pesan untuk pulang sebelum hari gelap.
Tiba di tengah hutan, Kiai Pasir mencari-cari pohon yang cukup besar dan berbatang
lurus supaya kuat dijadikan tiang. Pohon-pohon di hutan itu besar-besar ukurannya. Padahal,
Kiai Pasir hendak menebang yang berukuran sedang supaya ia kuat memikulnya pulang ke
pondok. Tidak lama kemudian, ia pun menemukan pohon yang sesuai dengan keinginannya.
Karena semak belukar di sekitar pohon itu sangat lebat, Kiai Pasir pun terlebih dahulu
membersihkannya agar ia mudah mengayunkan kapaknya ke pangkal pohon. Saat ia sedang
menyibak dan membersihkan semak itu, dilihatnya ada sebutir telur berukuran cukup besar
tergeletak di atas tumpukan dedaunan seperti sarang. Kiai Pasir teringat istrinya yang tentu
akan sangat senang mendapat telur untuk santapan. Apalagi, mereka jarang sekali dapat
makan telur. Tanpa berpikir lagi, diambilnya telur itu kemudian dimasukan ke dalam wadah
bambu yang sudah kosong.
Ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan semak belukar di bawah pohon. Pekerjaan
itu memakan waktu yang cukup lama karena semak belukar tumbuh sangat lebat dan tinggi.
Matahari sudah mulai bergeser ke barat saat Kiai Pasir hendak mulai mengayunkan
kapaknya. Karena takut kemalaman di perjalanan, Kiai Pasir berhenti menebang meskipun
pohonnya belum roboh. Ia segera berkemas dan berniat akan melanjutkannya esok hari. Ia
berpikir, besok pasti akan lebih mudah dan cepat tumbang pohonnya karena sudah tidak perlu
lagi membersihkan semak belukar.
123
Nyai Pasir sudah menanti dengan cemas di depan pondok karena hari mulai gelap.
Alangkah senangnya ketika dilihat Kiai Pasir pulang dengan selamat, apalagi saat suaminya
menyerahkan wadah bambu.
"Apa ini?" tanya Nyai Pasir.
“Buka saja, Nyai, nanti kau akan tahu," jawab Kiai Pasir sambil meletakan kapaknya di
sudut luar pondok.
”"Wooowww, besar sekali telur ini. Kau dapat di mana, Ki?" tanya istrinya girang Seraya
mengeluarkan telur itu dari wadah bambu.
“Di bawah pohon. Sudah lama kita tidak makan telur,” kata Kiai Pasir dengan wajah
gembira pula. Ia membayangkan lezatnya telur itu setelah'direbus.
"Sebentar Ki...sepertinya ini bukan telur ayam hutan. Telur ayam hutan tidak akan
sebesar ini," kata Nyai Pasir tiba-tiba menjadi cemas.
“Sudahlah, Nyai...mungkin saja ayam hutannya besar, jadi telurnya juga besar,” kata
Kiai Pasir sambil masuk ke dalam pondok.
"Kalau telur ular bagaimana? Induknya pasti akan mencari,” kata Nyai Pasir lagi.
"Aku tidak melihat ular di sana, Nyai. Itu rezeki kita hari ini. Sudah...sudah tak usah
berpikir macam-macam, siapkan saja makananku, Aku sudah lapar.”
"Tidak menunggu kurebuskan telur ini dulu?” tanya Nyai Pasir.
"Telumya buat sarapan besok saja, untuk menambah tenaga. Besok aku harus
melanjutkan menebang pohon," jawab Kiai Pasir.
Nyai Pasir tidak bertanya lagi. Ia segera masuk ke pondok dan menyalakan perapian
untuk menjerang air, menuruti kata suaminya. Kiai Pasir menyalakan dian sebagai
penerangan karena di dalam pondoknya sudah gelap. Sambil menunggu airnya mendidih,
Nyai Pasir menyiapkan ubi rebus dan sayur di atas meja bambu. Kiai Pasir pergi ke pancuran
di belakang pondok untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian Kiai Pasir sudah duduk
menghadap meja menunggu Nyai Pasir untuk makan bersama.
Keesokan harinya Kiai Pasir bangun lebih pagi karena akan melanjutkan menebang
pohon. Saat Kiai Pasir menyiapkan peralatan di samping pondok, Nyai Pasir menghidangkan
minuman, ubi rebus, sayur, dan telur rebus.
“Ki, sarapan sudah siap,” kata Nyai Pasir memanggil suaminya.
"Ya, sebentar,” jawab Kiai Pasir.
Kiai Pasir masuk ke dalam pondok dengan wajah gembira karena membayangkan
lezatnya telur rebus. Sudah lama mereka tidak menyantap hidangan berprotein itu. Nyai Pasir
membelah telur itu menjadi dua, yang satu diberikan kepada Kiai Pasir dan satunya disantap
sendiri.
”Hhhmmmm, enak sekali Nyai. Mudah-mudahan tenagaku bertambah hari ini,” kata
Kiai Pasir.
“Iya Ki, rasanya lebih lezat dari telur ayam yang pernah kita makan,” kata Nyai Pasir
membenarkan suaminya.
Selesai bersantap, Kiai Pasir berangkat ke hutan dengan membawa peralatan seperti
biasanya. Nyai Pasir mengantarkan hingga ke halaman pondok. Setelah suaminya tidak
tampak, Nyai Pasir kembali ke pondok untuk membereskan peralatan makan dan
mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sementara itu, Kiai Pasir bergegas menyusuri jalan
yang telah dilaluinya kemarin karena ingin segera mencapai hutan. Dalam perjalanan itu, Kiai
Pasir merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa sehat dan segar ketika meninggalkan
124
pondok, tetapi kini badanya terasa panas dan sakit yang tidak terkirakan. Tak kuasa
melanjutkan perjalanan, ia pun berhenti dan meletakkan seluruh peralatan yang dibawanya.
Sekujur tubuhnya seperti ditarik-tarik, kulitnya bergerak-gerak membentuk tonjolan-tonjolan
yang makin lama makin besar dan terasa sangat gatal. Semakin lama rasa gatal itu semakin
tidak tertahankan. Ia pun cepat berguling-guling ke tanah dengan harapan rasa gatalnya akan
hilang. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasa gatal semakin menjadi dan tubuhnya
serasa kian membengkak dan memanjang.
“Apa yang terjadi denganku?” gumam Kiai Pasir.
Tidak lama kemudian tubuhnya sudah berubah. menjadi ular naga yang sangat besar.
Ular jelmaan Kiai Pasir itu terus berguling-guling di tanah menuju arah pondoknya untuk
melihat keadaan Nyai Pasir. Tempat sepanjang ular naga berguling menjadi cekung dan
makin lama makin luas.
Tanpa diketahui Kiai Pasir, di pondoknya, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama.
Setelah suaminya pergi, Nyai Pasir merasakan tubuhnya sangat panas, sakit, dan gatal-gatal.
Karena tidak tahan menahan sakit dan gatal, Nyai Pasir juga rebah dan berguling-guling di
tanah. Tubuhnya kian memanjang dan membesar hingga berubah menjadi ular naga yang
sangat besar. Ular naga jelmaan Nyai Pasir itu berguling-guling terus ke luar halaman pondok
ke arah perginya Kiai Pasir. Tempat bergulingnya ular naga Nyai Pasir itu juga membentuk
cekungan yang kian luas dan dalam.
"Apa yang terjadi denganku. Apakah suamiku juga berubah?” gumam Nyai Pasir sambil
terus berguling.
Nyi Pasir teringat telur yang dibawa pulang suaminya. Dugaannya bahwa telur itu
adalah telur ular mungkin benar. Ia merasa menyesal telah memakan telur itu. Tetapi, nasi
sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan
semula.
Naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir akhirnya bertemu. Mereka berada di tengah-
tengah cekungan yang luas bekas mereka berguling. Tak kuasa mereka menahan air mata
karena menyesal telah memakan telur yang bukan miliknya. Rasa gatal pun tak kunjung
hilang hingga mereka terus berguling-guling menyebabkan cekungan di tengah kian lama
kian dalani. Tiba-tiba cekungan terdalam itu menyemburkan air yang sangat deras hingga
dalam waktu yang tidak terlalu lama, cekungan besar dan luas itu penuh terisi air dan menjadi
telaga yang sangat besar, Ular naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir hilang bersamaan
dengan berubahnya cekungan itu menjadi telaga.
Penduduk sekitar yang mengetahui peristiwa terbentuknya telaga itu menamainya
Telaga Pasir, diambil dari nama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Lambat laut masyarakat
menyebutnya dengan Telaga Sarangan karena telaga itu berada di Desa Sarangan.
125
Story DNA
Moral
Taking what is not yours, especially from nature, can lead to unforeseen and irreversible consequences.
Plot Summary
Kiai Pasir and Nyai Pasir, a childless couple living simply on Mount Lawu, find a large, mysterious egg in the forest. Despite Nyai Pasir's unease, they eat the egg, finding it delicious. Soon after, both experience intense pain and transform into giant naga (serpent-dragons). They meet in a growing depression caused by their thrashing, filled with regret over their actions. Their tears and movements deepen the depression, which then erupts with water, forming Telaga Sarangan, and the naga disappear forever.
Themes
Emotional Arc
contentment to regret and sorrow
Writing Style
Narrative Elements
Cultural Context
This is a local legend explaining the origin of Telaga Sarangan, a real lake in East Java, Indonesia, near Mount Lawu. Such origin stories are common in Indonesian folklore.
Plot Beats (13)
- Kiai Pasir and Nyai Pasir live a simple life on Mount Lawu, childless and isolated, subsisting on what they gather and hunt.
- Kiai Pasir goes to the forest to cut wood for their hut.
- While clearing brush, Kiai Pasir finds a very large egg, which he takes home for his wife, thinking it a rare treat.
- Nyai Pasir is delighted but expresses a premonition that it might be a snake's egg, which Kiai Pasir dismisses.
- The couple eats the egg for breakfast the next morning, finding it unusually delicious and feeling energized.
- On his way back to the forest, Kiai Pasir feels an intense heat, pain, and itching, and his body begins to swell and change.
- Kiai Pasir transforms into a giant naga (serpent-dragon) and rolls towards his home.
- Simultaneously, Nyai Pasir experiences the same symptoms and also transforms into a giant naga, rolling towards where Kiai Pasir went.
- The two naga, formerly Kiai Pasir and Nyai Pasir, meet in the large depression created by their rolling.
- They recognize each other and weep with regret over eating the egg, realizing it was a snake's egg.
- Their continuous thrashing and tears deepen the depression, which suddenly erupts with water.
- The depression fills rapidly, forming a large lake, and the naga disappear into its depths.
- Local villagers name the lake Telaga Pasir, after the couple, which later becomes known as Telaga Sarangan, after the village.
Characters
Kiai Pasir
A man of average height and sturdy build, accustomed to physical labor in the forest. His skin is likely tanned from years of outdoor work. Before his transformation, he would have had the typical physical features of a Javanese man from the Lawu mountain region.
Attire: Simple, practical attire suitable for a peasant living in a remote area of Java. He would wear a dark, possibly indigo-dyed, cotton or linen shirt (baju) and loose-fitting trousers (celana). Perhaps a sarong tied around his waist for additional utility. His clothes would be worn but clean, reflecting his humble lifestyle.
Wants: To sustain his simple life with Nyai Pasir, provide food and shelter, and maintain their home.
Flaw: Dismissive of potential dangers or warnings (e.g., about the egg's origin), leading to unforeseen consequences.
Transforms from a human man into a giant Naga (dragon-snake) after consuming a mysterious egg, leading to the creation of Telaga Sarangan. He experiences regret and sorrow for his actions.
Hardworking, simple, content, somewhat dismissive of worries, and practical. He is driven by the need to provide for himself and his wife.
Nyai Pasir
A woman of average height and slender build, accustomed to household chores and light farming. Her skin is likely fair compared to her husband's, but still healthy from outdoor living. Before her transformation, she would have had the typical physical features of a Javanese woman from the Lawu mountain region.
Attire: Simple, modest attire typical of a Javanese peasant woman. She would wear a dark, possibly batik-patterned, cotton or linen kebaya (blouse) and a long, dark sarong (kain) wrapped around her waist, reaching her ankles. Her clothing would be practical for daily tasks.
Wants: To care for her husband, maintain their home, and ensure their safety and well-being.
Flaw: Her anxiety, though often justified, can make her seem overly cautious. She ultimately succumbs to the same fate as her husband despite her initial misgivings.
Transforms from a human woman into a giant Naga (dragon-snake) after consuming a mysterious egg, mirroring her husband's fate. She experiences regret and sorrow for her actions.
Caring, observant, cautious, and somewhat anxious. She is attuned to potential dangers and worries about her husband's well-being.
The Giant Egg
A single, unusually large egg, much bigger than any chicken or jungle fowl egg. Its shell is smooth and likely a pale, earthy color, perhaps with subtle patterns. It appears to be a normal egg, but its size is its most distinguishing feature.
Wants: N/A
Flaw: Can be consumed, leading to its magical properties being transferred.
Discovered, brought home, cooked, and consumed by Kiai Pasir and Nyai Pasir, leading to their transformation.
Inert, but carries a powerful, transformative magic.
Locations
Pondok Kiai dan Nyai Pasir
A small, secluded hut made of woven bamboo with a roof of leaves, far from other settlements. It has a simple interior with a bamboo table and a hearth for cooking. A dian (oil lamp) provides light.
Mood: Humble, solitary, domestic, initially peaceful but later filled with anxiety.
Kiai and Nyai Pasir live here, share meals, and Nyai Pasir experiences her transformation into a naga here.
Hutan Lereng Gunung Lawu
A dense, tropical forest on the eastern slopes of Mount Lawu, characterized by large, straight-trunked trees and very thick undergrowth and bushes. The ground is covered with fallen leaves.
Mood: Wild, untamed, initially productive for sustenance, later becomes a place of mysterious transformation.
Kiai Pasir finds the mysterious egg here and later transforms into a giant naga, rolling through the forest.
Cekungan Bekas Gulungan Naga (Calon Telaga Sarangan)
A vast, deep depression in the earth, formed by the continuous rolling of the two giant naga. The ground is churned and disturbed, eventually becoming a large basin that rapidly fills with gushing water.
Mood: Dramatic, tragic, transformative, awe-inspiring.
Both Kiai and Nyai Pasir, transformed into naga, meet here, continue rolling in agony and regret, and their actions cause the depression to fill with water, forming Telaga Sarangan.